Tipe-tipe kekuasaan
Weber (1985) membagi tiga tipe antara lain:
-
kekuasaan tradisional
adalah orde sosial yang bersandar pada kebiasaan kuno dengan mana status dan hak para pemimpin juga sangat ditentukan oleh adat kebiassan.
-
kekuasaan rasional-legal
yaitu bahwa semua peraturan ditulis dengan jelas dan diundangkan dengan tegas serta batas wewenang para pejabat penguasa ditentukan oleh aturan main.
Tipe ini di pecah lagi menjadi 4, yaitu rasional-tujuan (
zwekrational)
, rasional-nilai, tindakan efektif (emosional), dan tindakan manusia yang bersifat tradisional.
-
kekuasaan kharismatik
yaitu tipe keabsahannya berdasarkan pengakuan terhadap kualitas istimewa.
Bentuk-bentuk pelapisan kekuasaan
Mac Iver (dalam Syarbaini, dkk., 2002)
Ada tiga pola sistem pelapisan kekuasaan (piramida kekuasaan)
1.
Sistem pelapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisahan yang tegas dan kaku. Seperti kasta di Bali.
2.
Tipe oligarkis yang masih memiliki garis pemisah yang tegas, namun terbuka kesempatan bagi warga biasa untuk mendapatkan kekuasaan tertentu.
3.
Tipe demokratis, dengan garis pemisah yang sangat terbuka, siapapun bisa mendapatkan posisi dengan kemampuannya.
Distribusi kekuasaan
Menurut Andrain (dalam Surbakti, 1992)
Ada tiga model distribusi kekuasaan, yaitu
1.
Model elit yang memerintah (kekuasaan hanya dimiliki oleh sekelompok kecil masyarakat)
2.
Model pluralis (kekuasaan dimiliki oleh kelompok sosial dalam masyarakat dan berbagai lembaga dalam pemerintah)
3.
Model populis (kekuasaan dipegang oleh setiap individu atau rakyat secara kolektif)
Kekuasaan di Indonesia
Trias Politica
Badan Legislatif (membentuk Undang-undang)
Badan Eksekutif (melaksanakan Undang-undang)
Badan Yudikatif (mengawasi pelaksaan Undang-undang, memeriksa dan mengadilinya)
Di Indonesia ada beberapa organisasi negara, sebagai alat-alat perlengkapan negara atau lembaga-lembaga negara yang diatur dalam UUD 1945, yaitu sebagai berikut:
1.
MPR, lembaga tinggi negara yang sejajar dengan Presiden, DPR, DPD, MA, MK, BPK. Lembaga ini terdiri dari anggota DPR dan DPD.
2.
DPR, lembaga yang membentuk/menetapkan UU, dan men-sah-kan RUU menjadi UU.
3.
DPD, lembaga sebagai wakil pemerintahan daerah, berkewenangan mengajukan RUU dan ikut membahas RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah.
4.
BPK, lembaga yang berwewang dalam mengawasi dan memerikas APBN dan APBD, lalu menyampaikannya kepada DPR dan DPD.
5.
Presiden, sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.
6.
MA, lembaga yang berwenang dal bidang-bidang kehakiman.