PROPOSAL SKRIPSI GW...

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembentukan sumber daya manusia. Melalui pendidikan, manusia memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman empirik yang sangat berguna bagi kehidupannya, serta dapat mengembangkan diri manusia sesuai dengan potensinya masing-masing. Sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab. Pendidikan nasional tersebut, perlu adanya peninjauan dari berbagai aspek yang mendukung usaha tersebut, terutama dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran akan berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa. Pembelajaran yang diwujudkan di sekolah dalam semua mata pelajaran memiliki tujuan dan karakteristik yang berbeda untuk semua mata pelajaran, seperti halnya dengan mata pelajaran matematika. Pembelajaran matematika bertujuan untuk menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional dan memberikan bekal pengajaran matematika yang cukup kepada siswa agar dapat melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi. Belajar matematika menuntut kegiatan latihan yang terus-menerus, sehingga siswa akan terbiasa untuk berpikir sebagai usaha pemecahan masalah yang memerlukan abstrak serta analisis situasi yang berdasar pada nalar. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang harus dikuasai oleh siswa dari mulai tingkat SD, SMP, sampai SMA. Hal ini dikarenakan metematika sebagai metode berpkir logis dan kritis, selain merupakan dasar dan pangkal tolak penemuan serta pengembangan cabang-cabang ilmu yang lain, juga merupakan landasan yang kuat bagi pengembangan teknologi. Selain itu, pelajaran matematika yang didapat oleh siswa dapat memecahkan permasalahan sehari-hari. Mengingat manfaat matematika tersebut, maka pembelajaran matematika harus didesain agar menarik minat siswa dan menumbuhkan dorongan untuk belajar sehingga mereka terkait dalam proses pembelajaran matematika dan memiliki sifat positif terhadap matematika. Kenyataan yang ada memperlihatkan banyak siswa yang memiliki pikiran dan sikap negatif terhadap matematika, seperti banyak siswa yang mengeluhkan bahwa pelajaran matematika membosankan, tidak menarik, dan bahkan menakutkan. Kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah, khususnya untuk pelajaran matematika. Rata-rata nilai matematika yang diperoleh siswa umumnya lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata nilai mata pelajaran yang lain. Mayoritas siswa yang tidak lulus ujian akhir juga dikarenakan buruknya nilai matematika, nilai matematika yang diperoleh siswa rata-rata jauh di bawah standar yang telah ditentukan. Penyebab mutu akademik yang rendah sering disebabkan karena pembelajaran matematika adalah alat yang siap pakai. Apabila pandangan ini diwujudkan dalam pembelajaran matematika, maka kegiatan pembelajaran akan cenderung berpusat pada guru (teacher oriented) karena biasanya guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Pada penbelajaran seperti ini, guru beranggapan bahwa siswa harus selalu diberitahu tanpa memberi kesempatan pada siswa untuk mencoba berpikir sendiri dan mengungkapkan pendapatnya. Hal ini meneyebabkan kurang efektifnya suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang kurang efektif akan mengurangi minat belajar siswa, minat siswa yang kurang tersebut tanpa disadari akan mempengaruhi kurangnya aktifitas belajar dan interaksi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran bukanlah sekedar menyampaikan informasi pada siswa, tetapi membutuhkan keterlibatan siswa secara mental dan fisik. Karena itu, suatu pengetahuan tidak akan bertahan lama jika proses belajar pada siswa hanya sekedar menerima informasi dari guru. Seharusnya guru harus lebih memberikan kepercayaan pada siswa untuk mengembangkan kemampuannya dan memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri. Guru sebagai pengelola proses belajar dan salah satu sumber belajar memang memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa. Sehingga guru harus menciptakan tantangan baru dalam belajar agar siswa antusias dan termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam mata pelajaran matematika yang saat ini masih dianggap sulit dengan penyajian yang masih membosankan dan cenderung monoton, semestinya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya. Peran guru berubah dari seorang validator (menyalahkan atau membenarkan) menjadi pembimbing yang menghargai sikap kontribusi (pekerjaan dan jawaban) siswa. Peran guru sebagai pembimbing dan fasilitator berusaha menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, guru juga perlu menimbulkan aktifitas siswa dalam berpikir maupun berbuat. Menurut Sudjana, salah satu ciri pembelajaran yang berhasil diantaranya dilihat dari kadar kegiatan siswa belajar, makin tinggi kegiatan siswa, maka tinggi pula peluang berhasilnya suatu pengajaran. Ini berarti guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi pendekatan dan metode yang banyak melibatkan keaktifan siswa dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. Berkaitan dengan hal tersebut diatas, peranan guru sebagai salah satu komponen pembelajaran sangat penting dalam menentukan keberhaslan pembelajaran. Untuk itu guru harus menentukan bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat. Salah satu metode yang dapat melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran adalah metode pembelajaran kelompok. Seseorang akan lebih baik melakukan tugasnya bila dikerjakan secara berkelompok. Pembelajaran kelompok merupakan metode pembelajaran dimana siswa tidak belajar secara klasikal, tetapi siswa dalam suatu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau belajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan belajar. Di sini siswa diharapkan dapat bekerjasama dalam kelompoknya untuk menyelesaikan suatu masalah atau tugas yang diberikan oleh guru. Dengan metode ini siswa akan memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan mendengarkan pendapat kelompok lainnya. Berbagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya bidang studi matematika, salah satunya guru harus dapat memahami siswa secara psikologis. Seperti diketahui bahwa siswa lebih suka dan sering bertanya kepada temannya daripada guru, dari titik ini guru dapat mengarahkan siswa untuk belajar secara kelompok dengan teman-temannya. Pembelajaran kelompok sejak dulu lebih diterapkan, namun guru kurang memonitor proses pembelajaran secara kelompok ini. Sehingga pembelajaran kelompok ini tidak berjalan dengan semestinya, bahkan pembelajaran berkelompok ini hanya didominasi oleh siswa-siswi yang pandai sehingga pembelajaran secara kelompok ini pun tidak membuahkan hasil yang optimal.. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu variasi dari metode pembelajaran, dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memilki tingkat kemampuan heterogen sehingga mereka saling membantu satu sama lain dalam kelompoknya. Dalam pembelajaran.kooperatif, siswa juga dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif. Ada beberapa macam tipe Cooperative Learning yang dapat diterapkan, salah satunya adalah Student Team-Achievement Division (STAD) (Pembagian Pencapaian Tim Siswa). Tipe ini memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerja secara individual serta bekerja sama dengan siswa yang lain dalam kelompoknya. Pelaksanaan tipe ini akan memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain dalam kelompoknya. Dengan tipe Student Team-Achievement Division (STAD) siswa dapat memahami materi yang diberikan guru secara keseluruhan, proses berpikir siswa dapat diketahui dan menuntut kemandirian serta kebersamaan siswa menyelesaikan permasalahan. Uraian diatas memperlihatkan kedua model pembelajaran tersebut dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Namun selama ini guru lebih menyukai menggunakan model pembelajaran konvensional metode kelompok untuk mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAM-ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA.” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Rendahnya rata-rata nilai mata pelajaran matematika di Indonesia, 2. Proses pembelajaran yang kurang efektif dalam mata pelajaran matematika berpengaruh pada hasil belajar siswa, 3. Model pembelajaran matematika konvensional metode kelompok kurang efektif berpengaruh terhadap hasil belajar matematika 4. Dalam metode pembelajaran kelompok yang digunakan masih memiliki kekurangan, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa yang tidak optimal. C. Pembatasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada masalah perbandingan hasil belajar metematika siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional metode kelompok dengan metode pembelajaran kooperatif.. D. Perumusan Masalah Penelitian ini dibatasi pada rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah pengaruh hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional metode kelompok? 2. Bagaimanakah pengaruh hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran Cooperative Learning tipe Student Team-Achievement Division (STAD)? 3. Apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode Cooperative Learning tipe Student Team-Achievement Division (STAD) lebih tinggi daripada hasil beljar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional metode kelompok? E. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh alternatif teknik pembelajaran yang cocok bagi siswa dan untuk mengetahui apakah pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Cooperative Learning tipe Student Team-Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa. F. Kegunaan Penelitian 1. Bagi Guru  Memberikan alternatif untuk menentukan metode pembelajaran yang sesuai dalam pembelajaran di kelas,  Menjadi salah satu usaha untuk memperbaiki sistem pembelajaran matematika siswa di kelas, sehingga hasil belajar matematika siswa meningkat. 2. Bagi Penulis Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan mengajar sebagai calon pendidik mata pelajaran matematika. 3. Bagi Pembaca Sebagai sumber informasi mengenai penerapan metode pembelajaran Cooperative Learning tipe Student Team-Achievement Division (STAD) bagi mahasiswa untuk kepentingan penelitian selanjutnya. BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS A. Landasan Teori 1. Pembelajaran Matematika a. Pengertian Matematika Istilah Mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), Mathematique (Prancis), Matematiceski (Rusia), atau Mathematik (Belanda), berasal dari bahasa Latin Mathematike yang diambil dari bahasa Yunani Mathematike yang berhubungan erat dengan sebuah kata yang mengandung arti belajar (berpikir), sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), matematika berarti ilmu bilangan, hubungan antar bilangan. Sehingga matematika seringkali dilukiskan sebagai suatu kumpulan sistem matematika yang setiap sistemnya memiliki struktur tersendiri dan bersifat deduktif. Penalaran deduktif bekerja atas dasar asumsi, yaitu kebenaran Logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga keterkaitan antar konsep atau pernyataan dalam metematika bersifat konsisten. James and james seperti dikutip Suherman mengungkapkan bahwa matematika adalah Ilmu tentang logika mengenai bentuk susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu sama lain dengan jumlah yang banyak dan terbagi kedalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Konsep-konsep matematika tersusun secara Hierarkis, terstruktur, logis dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai konsep yang paling kompleks. Selanjutnya beberapa ahlijuga berpendapat tentang definisi metematika, diantaranya yaitu: 1) Menurut Johnson dan Myklebust, matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. 2) Menurut Kline, matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif. 3) Menurut Reys, matematika merupakan telaah tentang pola hubungan suatu jalan atau pola berpikir suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. 4) Menurut Larner, matematika selain sebagai bahasa simbolis juga sebagai bahas universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan identitas. Matematika merupakan ilmu yang dipelajari disemua pendidikan, ada banyak alas an perlunya belajar matematika. Menurut Cockroft ada 6 (enam) alas an mengapa matematika perlu dipelajari, yaitu (1) Selalu digunakan dalam segi kehidupan; (2) Semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) Merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) Dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) Meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6) Memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang. b. Teori Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan tindakan atau perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Menurut Wiherington, belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola dari pada reaksi yang berupa kecakapan, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Sedangkan menurut Winkle definisi belajar adalah sebagai suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman keterampilan dan nilai sikap perubahan itu bersifat secara relative konstan dan berkas. Seperti dikutip Suryabrata, dari definisi Cronbach, Mc Geoh, Hilgard dan Stern, disimpulkan bahwa belajar terdapat hal-hal pokok sebagai berikut: (a) bahwa belajar itu membawa perubahan (b) bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru (c) bahwa perubahan itu terjadi dari usaha atau dengan sengaja. Menurut Biggs, belajar dibagi menjadi tiga rumusan, yaitu (a) kegiatan pengisian kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya, (b) institusional yaitu proses validasi terhadap penguasaan siswa atas materi yang telah ia pelajari, (c) proses memperoleh arti-arti pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar adalah lebih dari apa (pengetahuan) yang dipelajari siswa, siswa yang memperluas dimensi penge6tahuan itu sampai mencakup lingkungannya memberinya makna pada pengetahuan itu, menghasilkan atau memerankan pengetahuan yang diperluas (bersifat generatif), perihal know your way around (Brend Wilson, 1996). Sedangkan menurut Slameto, belajar adalah suatu proses usaaha yang dilakukan individu unutk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang abru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pembelajaran adalah suatu usaha dan proses yang dilakukan secara sadar dengan menagcu pada tujuan (pembentukan kompetensi) yang denagn sistematik dan terarah pada terwujudnya tingkah laku. Pembelajaran adalah pemerolehan pengetahuan suatu hal tentang atau keterampilan belajar pengalaman dan pengajaran. Sedangkan pengajaran adalah usaha menunjukkan atau membantu seseorang untuk belajar dan bagaimana melakukan sesuatu, memberi pengetahuan dan manfaat bagi seseorang menjadi mengerti. Dalam proses pembelajaran unsur belajar memegang peranan penting. Sedangkan pembelajaran adalah proses membimbing kegiatan belajar. Beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tentang belajar dan pembelajaran: a. Menurut pandangan Skinner Belajar adalah suatu perilaku, sehingga dalam belajar ditemuikan: (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pembelajar (2) respon si pembelajar (3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. b. Menurut pandangan Gagne Belajar merupakan kegiatan yang kompleks yang terdiri dari 3 (tiga) komponen penting, yaitu kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar. Selain itu belajar memilki 3 (tiga) tahap, yaitu (1) persiapan untuk belajar (2) pemerolehan dan unjuk perbuatan, dan (3) alih belajar. c. Menurut pandangan Piaget Belajar meliputi 3 (tiga) fase, yaitu (1) fase eksplorasi: siswa mempelajari gejala dengan bimbingan (2) fase pengenalan konsep: siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dengan gejala, dan (3) fase aplikasi konsep: siswa menggunakan konsep untuk meneliti lain lebih lanjut. Belajar memilki beberapa tahap atau fase yang harus dilalui, sehingga dari definisi yang telah ada berkembanglah beberapa teori belajar, yaitu: 1. Conditioning Simple conditioning atau teori contiguity menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respon dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau memadai. Melalui persinggungan (contiguity) stimulus dengan respon, stimulus tidak memadai untuk menimbulkan respon tadi akhirnya mampu menimbulkan respon. 2. Connectionism Stimulus-respon atau teori reinforcement yang dijelaskan oleh E.L Thorndike menekankan bahwa belajar terdiri atas pembentukan ikatan atau hubungan-hubungan anatar stimulus respon yang terbentuk melalui pengulangan. Pembentukan ikatan-ikatan ini dipenagaruhi oleh frekuensi, resensi, intem\nsitas dan kejelasan pengalaman, perasaan dan kapasitas individu, kesamaan situasi dan menghasilkan kepuasaan atau reinforcement yang merupakan dasar dalam teori conditioning. 3. Field theory Field theory menekankan keseluruhan dari bagian-bagian, bahwa bagian-bagian itu erat sekali berhubungan dan saling tergantung satu sama lain. Field theory yang terkenal adalah teori Gestalt, yang menekankan pada insight siswa yang kadang dirumuskan persepsi yang tiba-tiba terhadap hubungan di dalam keseluruhan situasi. c. Belajar Matematika Menurut Paham Kontruktivisme Menurut Steffe dan Kieren, beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan kontruktivisme diantaranya bahwa observasi dan mendengar aktivitas serta pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang sangat kuat dan petunjuk untuk mengajar, untuk kurikulum, untuk cara-cara dimana pertumbuhan pengetahuan siswa dapat dievaluasi. Suherman, dkk, mengemukakan kontruktivisme, aktivitas mungkin diwujudkan melalui tantangan masalah kerja dalam kelompok kecil dan diskusi kelas menggunakan apa yang biasa muncul dalam materi kurikulum kelas biasa. Pembelajaran kontruktivisme senantiasa ‘problem centered’ yaitu guru dan siswa terkait dalam pembicaraan yang memilki makna matematika. Cobb mendefinisikan bahwa belajar matematika merupakan proses yang didalamnya siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematikanya. Dalam pembelajaran kontruktivisme, terdapat 4 (empat) komponen kunci yang harus diperhatikan, yaitu: 1) Siswa membangun pemahamannya sendiri dari hasil belajarnya bukan karena disampaikan (diajarkan), 2) Pelajaran baru sangat tergantung pada pelajaran sebelumnya, 3) Belajar dapat ditingkatkan dengan interaksi sosial, 4) Penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan kebermaknaan proses pembelajaran. Jadi, dalam kelas kontruktivisme seorang guru tidak mengajarkan pada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan pemecahan masalah mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Guru berupaya mendorong siswa untuk saling tukar-menukar ide sampai persetujuan dicapai. Dalam hal ini peranan guru bukan pemberi jawaban akhir atas pertanyaan siswa, melainkan mengarahkan mereka untuk membentuk (mengkonstruksi) pengetahuan matematika sehingga diperoleh struktur matematika. Di dalam kelas kontruktivisme, para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antara satu dengan yang lainnya, berpikir secara kritis tentang cara terbaik unutk menyelesaikan setiap masalah. Evaluasi dalam pembelajaran metematika menggunakan pendekatan kontruktivisme terjadi sepanjang proses pembelajaran berlangsung (on going assessment). Dari awal samapi akhir guru memantau perkembangan siswa, pemahaman siswa terhadap suatu konsep matematika, ikut membentuk dan mengevaluasi proses konstruksi pengetahuan (matematika) yang dibuat oleh siswa. Bruner berpendapat bahwa belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur –struktur matematika itu. Pemahaman terhadap konsep dan strukstur suatu materfi menjadikan materi itu dipahami secara lebih komprehensif, peserta didik lebih udah mengingat materi itu bila yang dipelajari merupakan pola yang berstruktur. Dalam belajar matematika peserta didik harus berperan aktif. Peran aktif ini dapat terlaksana apabila menggunakan cara belajar yang sesuai, sehingga diharapkan dapat menyebabkan perkembangan potensi intelektualnya, rasa puasnya serta motivasinya. Ini berarti ganjaran diperoleh dari dalam. Menurut Bruner, belajar dari luar biasanya mengakibatkan belajar hafalan sehingga pengertian terhadap matematika yang dipelajari sangat minim. Konsep-konsep matematika dipelajari menurut tahap-tahap bertingkat seperti halnya dengan tahap periode perkembangan intelektualnya. Menurut Hudoyo, tahap-tahap itu adalah: a. Permainan Bebas (free play). Permainan bebas adalah tahap belajar yang terdiri dari aktifitas yang tidak terstruktur dan tidak diarahkan yang memungkinkan peserta didik mengadakan eksperimen dan memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur konsep yang dipelajari. b. Permainan yang menggunakan aturan (Games). Di dalam tahap ini peserta didik mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang berada dalam konsep itu, memprhatikan aturan-aturan tertentu yang terdapat dalam konsep (peristiwa-peristiwa). c. Permaianan mencari kesamaan sifat (searching for comnalities). Membantu peserta didik dalam permainan yang menggunakan aturan untuk dapat melihat kesamaan struktur denagn menstranlarasikan dari suatu permainan ke bentuk permainan yang lain, sedangkan sifat-sifat abstrak diwujudkan dalam permainan itu tetap tidak berubah dengan translasi itu. d. Permainan dengan representasi (Representation). Dalam tahap ini peserta didik mencari kesamaan sifat dari situasi yang serupa. e. Permainan dengan simbolisasi (Simbolization). Permainan dengan menggunakan simbol ini merupakan tahap belajar konsep dimana peserta didik perlu merumuskan representasi dari setiap konsep dengan menggunakan simbol matematika. f. Formalisasi (Formalization). Setelah peserta didik mempelajari suatu konsep dan struktur matematika yang saling berhubungan, peserta didik haruhs mengurut sifat-sifat itu untuk dapat merumuskan sifat-sifat baru. Belajar dari luar biasanya mengakibatkan belajar hafalan sehingga pengertian terhadap matematika yang dipelajari sangat minim. Oleh karena itu terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar matematika, yaitu: a. Peserta didik Kegagalan atau keberhasilan belajar sangat tergantung kepada peserta didik. Bagaimana sifat dan minat peserta didik terhadap matematika, bagaimana kemampuan dan kesiapan peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar matematika, bagaiamana kondisi fisiologi dan psikologis pada saat belajar matematika. Semua itu menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar matematika. b. Pengajar Faktor lain setelah peserta didik adalah pengajar. Apabila pengajar memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi matematika, menguasai materi dengan baik, memiliki pengalaman cukup, kepribadian yang disegani peserta didik dan memiliki motivasi yang selalu disalurkan kepada peserta didik, maka proses belajar matematika akan berjalan efektif karena mutu pengajaran yang tinggi, sehingga peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam belajar matematika. c. Sarana dan Prasarana Sarana yang baik diperlukan untuk menunjang proses belajar yang efektif, seperti buku paket, persediaan perpustakaan dan alat bantu belajar sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik. Selain sarana, diperlukan pula prasarana yang mapan seperti tata ruang yang bagus, sejuk, bersih, dan tempat duduk yang nyaman. Hal ini akan lebih memperlancar terjadinya proses belajar. d. Penilaian Penilaian merupakan tolak ukur bagaimana berlangsungnya proses pembelajaran. Dari hasil penilaian ini pendidik dapat melihat perubahan hasil belajar peserta didik. Tugas pendidk terhadap hasil penilaian ini adalah memberikan motivasi kepada peserta didik agar lebih meningkatkan hasil belajar matematika atau terus mempertahankan hasil yang telah diperoleh maksimal. Matematika merupakan pelajaran yang sangat penting dalam dunia pendidkan, karena mata pelajaran matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan bilangan simbol. Matematika juga merupakan dasar dalam menguasai pelajaran lain. Tujuan belajar matematika adalah mempersiapkan siswa agar lebih sanggup menghadapi perubahan kedepan melalui latihan atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis cermat, efektif, dan koefesien. Unutk mencapai hasil belajar matematika, ada 2 (dua) hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. Cara penyampaian belajar matematika Untuk menanamkan pemahaman akan konsep matematika perlu model pembelajaran yang baik. Matematika bukan pelajaran yang sulit asalkan metode pembelajaran sesuai, dan guru menguasai materi yang diajarkan agar tidak timbul kesalahpahaman persepsi dan bila proses belajar matematika terjadi dengan lancar dan disampaikan secara kontinu (bertahap dan berurutan) maka hasil belajar matematika lebih baik. 2. Batas kemampuan siswa dalam menerima pelajaran matematika. Dalam proses belajar mengajar, guru akan menghadapi siswa yang berbeda dalam penyerapan pelajaran, sehingga guru harus mengetahui apakah siswa tersebut termasuk kategori cepat, sedang atau lambat. d. Hasil Belajar Matematika Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Howard Kinsley membagi 3 (tiga) macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan (b) pengetahuan dan pengertian (c) sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi menjadi 5 (lima) kategori hasil belajar, yakni: 1). Informasi Verbal Kecakapan untuk mengkomuikasikan secara verbal pengetahuannya tentang fakta-fakta. Dengan kata lain individu mampu menyatakan secara professional apa yang telah dipelajari. Pengungkapan informasi yang telah disimpan di dalam ‘tempat penyimpanan ingatan’ itu juga dapat menggunakan ‘kunci’ verbal yang lain. Misalnya dengan menunjukkan diagram tertentu, siswa dapat ingat kembali pengertian fungsi. Informasi verbal ini diperoleh dengan lisan, membaca buku mendengar radio dan sebagainya. Fungsi yang dimaksud adalah: a. Prasyarat untuk belajar lebih lanjut, b. Kepraktisan dalam kehidupan sehari-hari dari individu, c. Pengetahuan yang terorganisasikan sehingga menjadi bentuk-bentuk yang saling berkaitan merupakan acuan berpikir. 2). Keterampilan intelektual Kapabilitas untuk membuat diskriminasi, menguasai konsep dan aturan serta memecahkan masalah. Kapabilitas tersebut merupakan kemampuan yang diperoleh manusia dengan belajar. Begitu sesuatu itu dipelajari, kapabilitas itu cepat muncul berulang kali dalam berbagai penampilan. Menurut Gagne keterampilan intelektual dibagi lagi menjadi 8 (delapan) sub-kategori yang urutannya berdasarkan kekomplekan operasi mentalnya. Kedelapan mental tersebut adalah: a). Belajar sinyal (signal learning). Belajar dengan sinyal adalah tanpa kesengajaan dan dihasilkan dari sejumlah stimulus ulangan atau stimulus tunggal yang akan menimbulkan suatu respon emosional di dalam individu yang bersangkutan. b). Belajar S-R (S-R learning). Belajar jenis ini adalah belajar disengaja dan secara fisik untuk merespon suatu sinyal. Belajar S-R menghendaki suatu stimulus yang datangnya dari luar yang menyebabkan otot-otot terangsang yang kemudian langsung menunggal antara stimulus dan respon. c). Belajar merangkai tingkah laku (chaining). Jenis belajar ini menunjukan lebih dari satu S-R yang dirangkaikan berurutan agar peserta didik dapat menyelesaikan tugas. d). Belajar asosiasi verbal (verbal chaining). Belajar asosiasi verbal terjadi pada waktu memberi suatu nama pada benda. e). Belajar diskriminasi (discrimination learning). Belajar diskriminasi untuk membedakan hubungan S-R agar dapat memahami bermacam-macam objek fisik dan konsep. Dengan demikian diharapkan siswa dapat menyebutkan antara simbol yang satu dengan yang lain. f). Belajar konsep (concept learning). Adalah belajar memahami kebersamaan sifat-sifat dari benda-benda konkrit atau peristiwa-peristiwa untuk dikelompokkan menjadi satu jenis. g). Belajar aturan (rule learning). Adalah belajar memahami aturan-aturan didasarkan atas konsep-konsep yang telah dipelajari. Seseorang mempelajari aturan memungkinkan orang tersebut mengikuti aturan itu dalam tingkah lakunya, menampilkan tingkah laku tertib menurut aturan, merespon sekumpulan hal dalam bentuk sekumpulan tingkah laku. h). Belajar memecahkan masalah (problem solving). Belajar memecahkan masalah ini merupakan tipe belajar yang menyangkut dua atau lebih aturan-aturan yang telahdipelajari siswa dimana aturan-aturan itu dikombinasikan agar menghasilkan suatu aturanyang tadinya belum diketahui siswa. Aturan baru inilah yang kemudian dipergunakan untuk memecahkan masalah. 3). Strategi Kognitif Strategi kognitif adalah kevakapan untuk mengelola dan mengembangkan poses berpikir dengan cara merekam, membuat analisis dan sintesis, mengendalikan tingkah laku peserta didik itu sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan, cara untuk proses belajar, termasuk retensi dan berpikir. 4). Sikap Sikap adalah kecendrungan untuk merespon secara ajeg terhadap stimulus, berdasarkan penilaian terhadap stimulus itu. Respon tersebut dapat positif (menerima) atau negatif (menolak) terhadap suatu objek tergantung kepada penilaian terhadap objek yang berharga atau tidak berharga. 5). Keterampialn motorik Keterampilan motorik adalah kecakapan yang mencerminkan oleh adanya kecepata, ketepatan dan kelancaran gerak otot-otot dan anggota badan. 2. Cooperative Learning Tipe Student Team-Achievement Division (STAD) a. Cooperative Learning Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai suatu tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan suatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Menurut Lie, pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesame siswa dalam tugas terstruktur. Falsafah yang mendasri pembelajaran kooperatif dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socius, yang menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama tidak akan ada individu, keluarga, organisasi atau sekolah. Pembelajaran kooperatif melibatkan lebih dari sekedar menempatkan siswa secara bersama dalam suatu kelompok kecil dan memberikan mereka tugas. Akan tetapi juga didalamnya melibatkan juga pemikiran dan perhatian penuh pada berbagai aspekdari proses kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk saling bekerja sama dan saling mambantu antar satu dengan yang lainnya dalam menyelesaikan atau mempelajari suatu pokok bahasan. Pelaksanaan prosedur pembelajaran kooperatif denagn benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang dinyatakan dalam tabel berikut ini: Tabel 1 Langkah-Langkah Cooperative Learning Fase Tingkah Laku Guru Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Fase 2 Menayajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan Fase 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar agar melakukan transisi secara efesien Fase 4 Membimbing kelompok belajar dan bekerja Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas Fase 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Fase 6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan hasil kelompok Kerjasama siswa dalam kegiatan belajar dapat memupuk keterampilan, mengadakan interaksi sosial dan menumbuhkan motivasi belajar siswa. Sehingga dalam kelompok pembelajaran kooperatif terdapat: a). Rasa saling ketergantungan positif, dimana kelompok kerja dibentuk sedemikian rupa sehingga masing-masing dari anggotanya memiliki tugas yang berbeda namun saling ketergantungan. b). Tanggung jawab perseorangan, unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama, dimana siswa akan memilki kewajiban memberikan informasi yang didapat kepada anggota kelompok lainnya. c). Tatap muka, pada pembelajaran kooperatif imteraksi tidak hanya berlangsung di dalam kelompok saja, namun juga dengan kelompok lainnya. Hasil pemikiran kelompok akan didiskusikan dengan kelompok lain dan siswa akan lebih menyempurnakan informasi yang didapatnya. d). Komunikasi antar anggota, unsur ini menghendaki agar siswa dibekali dengan berbagai keterampilan dalam berkomunikasi. Karena tidak semua siswa memilki keahlian dalam mendengarkan dan berbicara. Para siswa akan mempelajari hal lain selain materi yang akan dibahas, yaitu cara berkomunikasi sesama anggota sekelompok dan dengan kelompok lainnya. e). Evaluasi proses kelompok, evaluasi ini diadakan untuk lebih mengefektifkan kerjasama dalam kelompok dan mengetahui sejauh mana kerjasama itu telah berlangsung. Evaluasi diadakan tidak setiap kali ada kerja kelompok melainkan selang beberapa kali ada penbelajaran dengan pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, siswa harus mengetahui unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif, antara lain sbb: 1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan mereka “sehidup sepenanggungan bersama”. 2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalamnya kelompoknya, seperti milik mereka sendiri. 3. Siswa melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memilki tujuan yang sama. 4. Siswa harus membagi tugas dan tugas tersebut menjadi tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. 5. Siswa akan dikenakanevaluasi atau diberikan hadiah atau penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok. 6. siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. 7. Siswa akan diminta mempertangungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Unsur-unsur dasar pembelajaran koopertif tersebut diberitahukan kepada siswa dengan harapan agar siswa dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, sehingga menunjukkan sikap baik dalam proses belajar mengajar yang pada akhirnya kemampuan akademik atau hasil belajar siswa menjadi baik, sesuai dengan teori perkembangan yang mengasumsikan bahwa interaksi antar siswa disekitar tugas-tugas yang sesuai, meningkatkan penguasaan mereka terhadap konsep-konsep yang sulit. Walaupun dalam pembelajaran koopertif siswa dikelompokkan dalam suatu kelompok belajar, akan tetapi kelompok dalam pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan kelompok belajar konvensional yang selama ini diterapkna di sekolah-sekolah. Pembelajaran koopretif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kleompok, karena dalam pembelajaran kooperatif terdapat struktur dan dorongantugas yang bersifat kooperatif. Sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat efektif antar anggota kelompok. Guru dalam proses belajar mengajar perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berpikir maupun berbuat. Pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan cara berpikir siswa sehingga suatu masalah terselesaikan secara baik. Seseorang akan lebih baik melakukan tugasnya biasanya dilakukan secara berkelompok. Anggota kelompok yang berkemampuan lebih tinggi akan menjadi tutor bagi mereka yang berkemampuan rendah. Pembelajaran kooperatif dalam matematika dapat membantu siswa meningkatkansikap positif terhadap matematika. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai 3 tujuan yang penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keanekaragaman dan pengembangan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk menghargai gagasan temannya, menghilangkan sikap tidak peduli pada orang lain (ndividualistis). Kerjasama dengan kelompok juga menghasilkan harga diri (self-esteem) yang lebih tinggi dibandingkan dengan belajar secara individual. Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa kelebihan, diantaranya yaitu: 1. Mampu menumbuhkan kreativitas 2. Menambah gagasan 3. Menigkatkan kualitas gagasan 4. Menumbuhkan rasa senang yang merangsang siswa untuk aktif dalam kelompok 5. Membentuk kemurnian ungkapan dalam interaksi dan pemecah masalah kreatif. Untuk mengoptimalkan manfaat pembelajaran kooperatif, keangotaan dalam kelompok sebaiknya heterogen, yang memilki keanekaragaman gender, latar belakang sosial ekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis. Karena jika pembelajaran kooperatif tidak dikonstruksikan dengan baik dan tepat akan menimbulkan efek free rider, yaitu kondisi dimana beberapa anggota kelompok mengerjakan semua atau sebagian pekerjaan dalam pembelajaran, sedangkan anggota yang lain tidak melakukan aktivitas. b. Landasan Teori Belajar Cooperative Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelakajarn yang didasarkan pada paham kontruktivisme. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam model pembelajaran kontruktivistik. Pembelajaran kontruktivistik merupakan proses aktif dari pelajar untuk membangun pengetahuan, bukan hanya bersifat aktif mental tetapi juga keaktifan secara fisik dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahwa yang dipelajari dengan pengetahuan yang telah dimiliki pelajar dan ini berlangsung secara mental. Dengan demikian hakikat dari oembelajaran ini adalah membangun pengetahuan. Cara belajar mengajar di sekolah yang berdasarkan pada teori kontruktivisme adalah cara belajar yang menekankan murid dalam membentuk pengetahuannya. Suparno menyebutkan ciri-ciri belajar kontruktivisme adalah sebagai berikut: 1. Belajar membentuk makna 2. Belajar berarti mengkonstruksi terus-menerus 3. Belajar adalah mengembangkan pemikiran, bukan mengumpulkan fakta-fakta dan hafalannya 4. Belajar berarti menimbulkan situasi ketidakseimbangan 5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pembelajar dengan dunia fisik dan lingkungannya 6. Hasil belajar pembelajar tergantung pada apa yang telah dimiliki olehnya. Oleh karena itu pendekatan kontrukktivisme ini guru tidak lagi mengajar siswa apa yang harus dilakukan dan bagaimana dia melakukannya, akan tetpi guru memotivasi siswa dan memfasilitasinya agar mau secara aktif mengolah informasi. Karena pengetahuan dibentuk seacara individual maupun sosial, kelompok belajar dapat dikembangkan (Shymansky, 1992; Watts dan Pope, 1989). Von Glaserfeld (1989) menjelaskan bagaimana pengaruh kontruktivisme terhadap belajar dalam kelompok. Menurut dia, dalam kelompok belajar siswa harus mengungkapkan bagaimana ia melihat persoalan apa yang akan dibuatnyadenagn persoalan itu. Inilah salah satu jalan menciptakan refleksi yang menuntut keasadaran akan apa yang sedang dipikirkan dan dilakukan. Selanjutnya, ini akan memberikan kesempatan kepada seseoarang untuk secara aktif membuat abstraksi. Usaha menjelaskan sesuatu kepada kawan-kawan justru membantunya unutk melihat sesuatu dengan lebih jelas dan bahkan melihat inkonsistensi pandanagan mereka sendiri. Mengerti bahwa teman lainnya belum memiliki jawaban yang siap, akan meningkatkan keberanian siswa untuk mencoba dan mencari jalan. Sekaligus, jika ia menemukan jawaban, itu akan mendorong yang lain menemukannya juga. Ketidakkonsitensian dan kesalahan yang ditujukan oleh teman dianggap kurang meyakinkan dibandingkan bila ditunjukkan oleh guru. Ini akan meningkatkan harga diri mereka (Von Gleesrfold). Menurut Driver, dkk. (1994), kontruktivisme sosial menekankan bahwa belajar belajar dimasukkannya seseorang ke dalam dunia disimbolkan. Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi. Belajar merupakan proses masuknya seseorang ke dalam kultur-kultur orang terdidik. Dalam hal ini, pelajar tidak hanya memerlukan akses kepengalaman fisik, tetapi juga ko konsep-konsep dan model-model ilmu pengetahuan konvensional. Oleh sebab itu, guru berperan penting karena merekia menyediakan kesempatan yang cocok dan prasarana masyarakat ilmiah bagi siswa. Dalam konteks ini kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa berdialog dan berinteraksi dengan para ahli, dengan lembaga-lembaga penelitian, dengan sejarah penemuan ilmiah, dan dengan masyarakat pengguna hasil ilmiah akan sangat membantu dan merangsang mereka untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka. Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif memiliki beberapa teori yang mendasari, menurut Slavin ada dua kategori , yaitu teori motivasi dan teori kognitif. 1. Teori Motivasi Menurut teori motivasi yang diungkapkan Slavin, motivasi siswa pada pembelajaran kooperatif awalnya terletak pada bagaiman bentuk reward atau struktur pencapaian tujuan saat siswa melaksanakan kegiatan. Struktur tersebut terdiri atas tiga macam, yaitu: a. Kooperatif Tujuan tiap individu menyumbang tujuan individu lain. Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan berhasil jika siswa yang lain ikut terlibat. b. Kompetitif Tujuan individu membuat frustasi pencapaian individu lain. Siswa yakin mereka akan mencapai tujuan mereka jika siswa lain tidak dapat mencapai tujuan tersebut. c. Individualistik Tujuan tiap individu tidak memilki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Siswa yakin upaya mereka sendiriuntuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya denagn yang upaya siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut. Menurut pandangan teori motivasi, struktur tujuan kooperatif akan menciptakan suatu situasi dimana satu-satunya cara anggota kelompok dapat mencapai tujuan pribadi mereka sendiri hanya apabila kelompok tersebut itu berhasil. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pribadi mereka, setiap anggota kelompok mereka harus membantu teman kelompoknya agar berhasil. Di dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar dan bekrja di dalam kelompoknya, sehingga dapat terjadi ikatan sosial yang kuat antar anggota kelompok. Setiap anggota memberikan konstribusinya dalam mengerjakan tugas dalam kelompok tersebut. Hal ini menandakan kebutuhan siswa unutk diterima dan dihargai serta dapat mewujudkan diri sendiri, sehingga kondisi ini dapat dihargai serta dapat memotivasi siswa unutk lebih semangat dalam belajar. Motivasi terdiri dari dua kategori, yaitu: a) Motivasi ekstrensik, yaitu motivasi yang timbul karena adanya rangsangan dari luar, b) Motivasi intrinsic, yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang tersebut. Jadi teori motivasi tentang pembelajaran kooperatif lebih menekankan pada sejauh mana tujuan-tujuan kooperatif berpengaruh terhadap motivasi siswa dalam melaksanakan kerja akademik. Sehingga tujuan yang ingin dicapai akan lebih berhasil untuk meningkatkan proses pembelajaran yang lebih baik. 2. Teori Kognitif Teori kognitif menekankan pengaruh bekerja dalam suasana kebersamaan dan dalam kelompok itu sendiri. Teori kognitf dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu: a) Teori perkembangan Hal yang ingin dijelaskan dalam teori perkembangan adalah bahwa interaksi antar siswa disekitar tugas-tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya, dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang sulit. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Damon dan Muray yang mengatakan bahwa: “The fundamental assumption of the developmental theories is that interaction omong children around appropriate tasks increases their mastery of critical concepts.” b) Teori Elaborasi Kognitif Pandangan teori ini menyatakan bahwa agar informasi dapat disimpan dalam memori dan terkait dengan informasi yang sudah ada, maka siswa harus terlibat dalam beberapa kegiatan restruktur atau elabirasi kognitif atas sesuatu meteri. Hal ini seperti yang diungkapkan Wittrock bahwa: “Research in cognitive phychology has found that if information is to be retaired in the memory the learner must engage in some sort of cognitive restructuring or elaboration of the material.” (Di dalam psikologi kognitif telah ditemukan bahwa jika informasi yang telah tersimpan dalam ingatan dan selanjutnya dihubungkan dengan informasi yang baru, mak siswa harus melakukan perstrukturan kembali kognitifnya). Ketika siswa melakukan kembali pengetahuan yang telah ada sehingga siswa tersebut akan memperoleh pemahaman yang lebih baik. Pada pembelajaran kooperatif, di dalam kelompok akan terjadi proses tutorial diantara siswa. Dimana siswa yang lebih menguasai konsep atau materi pelajaran akan memberikan kepada siswa lain dalam kelompoknya. Ketika seorang siswa menjadi tutor, ia akan mentransfer pengetahuhannya kepada siswa yang lain, sehingga siswa tersebut akan memperoleh suatau pemahaman yang lebih baik daripada sebelumnya. Peningkatan pemahaman juga terjadi pada siswa yang diberikan penjelasan. Sehingga keduanya akan memperoleh pemahaman terhadap suatu materi. b. Tipe Student Team-Achievement Division (STAD) Terdapat beberapa tipe dalam pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan dan diteliti secara ekstensif, salah satunya adalah Student Team-Achievement Division (STAD). Dalam STAD , para siswa dibagi dalam tim belajar yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaiakan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendrir-sendiri, di mana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling bantu. STAD telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran yang ada, mulai dari matematika, bahasa, seni, sampai dengan ilmu sosial dan ilimu ilmiah lain, dan telah digunakan mulai dari sisa kelas 2 SD sampai dengan perguruan tinggi. Gagasan utama STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. STAD lebih merupakan metode umum dalam mengatur kelas ketimbang dengan metode komprehensif dalam mengajarkan mata pelajaran tertentu, guru menggunakan pelajaran mereka sendiri dan materi-materi lain. STAD terdiri dari lima komponen utama – presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. 3. Pembelajaran Konvensional Metode Kelompok Model pembelajaran konvensional merupakan suatu pembelajaran yang kegiatannya meliputi: 1. Guru menerangkan suatu konsep 2. Guru memberikan contoh soal dan penyelesaiannya 3. Guru memberikan soal-soal latihan 4. Siswa menyimak, mencatat dan mengerjakan tugas-tugas serta ulangan atau test yang diberikan guru. Selanjutnya Nasution memberikan cirri-ciri pembelajaran konvensional, yaitu: 1. Bahan pelajaran disajikan kepada kelompok tanpa memperhatikan siswa secara individual 2. Kegiatan pembelajaran umumnya berbentuk ceramah, tugas terulis, dan media lainnya menurut pertimbangan guru 3. Siswa bersifat pasif karena harus mendengarkan penjelasan guru 4. Dalam kecepatan belajar, siswa harus belajar menurut kecepatan umumnya yang ditentukan oleh kecepatan guru mengajar 5. Keberhasilan belajar umumnya dinilai oleh guru secara subjektif 6. Hanya sebagian kecil yang menguasai bahan pelajaran secara tuntas 7. Guru terutama berfungsi sebagai sumber informasi atau pengetahuan. Jadi pada pembelajaran konvensional yang diutamakan hasil bukan proses. Guru mendominasi kegiatan di kelas dan siswa dianggap sebagai penonton. Biasanya pembelajarannya dilakukan dengan menggunakan metode ekspositori dan drill (latihan). Metode ekspositori memberitahukan siswa konsep yang telah jadi atau siap pakai. Demikian juga dalam metode drill, dari waktu kewaktu soal yang diberikan adalah soal-soal dengan tipe yang sama dan tidak bervariasi sehingga soal-soal latihan tahun sebelumnya bias dipakai dan guru tidak perlu membuat latihan yang baru. Dengan menggunakan metode ini materi ini bias cepat selesai dan informasi yang diberikan lebih banyak daripada model lainnya, serta guru bias santai karena tidak usah membuat persiapan-persiapan pembelajaran yang rumit. Oleh karena itu, metode ini sering dipakai di sekolah-sekolah sampai saat ini. Pembelajaran kelompok merupakan metode pembelajaran dimana siswa dalam kelas dipandanf sebagai suatu kelompok atau dibagi dalam suatu kelompok. Menurut Robert L. Cilstrap dan William R. Martin keraj kelompok adalah kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar. Selain itu metode belajar kelompok dapat diartikan sebagai cara yang digunakan dua orang atau lebih dalam mencari atau meningkatkan kemampuan, keterampilan sikap, atau kemampuan pada umumnya yang dilakukan secara logis dan sistematis di dalam dan melalui kelompok. Keberhasilan kelompok ini menuntut kegiatan yang kooperatif dari beberapa individual tersebut. Pembelajatan kelompok lebih menekankan aktivitas belajar siswa secara bersama dalam kelompok sehingga mengembangkan hubungan sosial dalam pemevahan masalah belajar. Pengelompokkan siswa didasar pada: a) siswa sebagai individu memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain b)siswa sebagai mahluk sosial memiliki dorongan yang kuat untuk menampilkan kelebihannya dan memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain c) tidak semua masalah belajar dapat dipecahkan sendiri d) proses dan hasil belajar dari kerja kelompok lebih kaya dan komprehensif. Sebagai metode mengajar, pembelajaran kelompok dapai dipakai untuk mencapai bermacam-macam tujuan pengajaran. Pelaksanaan tergantung pada beberapa faktor, misalnya tujuan khusus yang akan dicapai, umur dan fasilitas pembelajaran di kelas. Bila berkelompok dan diberikan tugas yang sama masing-masing kelompok, maka banyak kemungkinan besar setiap siswa ikut serta menyelesaikan tugas tersebut. Pembelajaran kelompok memilki beberapa kelebihan yaitu: a. Dapat membina semangat kerjasama b. Mempercepat penyelesaian suatu tugas c. Adanya persaingan sehat d. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah e. Dapat memberikan kepada siswa unutk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah f. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi g. Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhan belajarnya h. Para siswa lebih aktif bergabungdalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi i. Dapat memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai pandapat orang lain, dimana mereka dapat saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama. B. Kerangka Berpikir Belajar merupakan suatu proses aktif, karena siswa harus mampu berpartisipasi aktif selama proses belajar. Belajar matematika merupakan belajar tentang ide-ide dan konsep-konsep abstrak. Untuk dapat memakainya diperlukan pemahaman yang baik tentang konsep-konsep yang terdapat dalam matematika. Pemahaman tersebut didapat jika berperan aktif dalam pembelajaran. Secara teori, dalam proses pembelajaran guru perlu menumbuhkan aktivitas siswa dalam berpikir maupun berbuat. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika siswa ikut berpartisipasi aktif. Salah satu metode yang dapat melibatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar yaitu melalui pemebelajaran kelompok. Metode pembelajaran kelompok adalah dengan metode pembelajaran dimana siswa tidak belajar secara klasikal, tetapi siswa belajar dalam-dalam kelompok kecil unutk mencapai tujuan belajar tertentu. Melalui pembelajaran kelompok siswa akan memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan mendengarkan pendapat anggota kelompok lainnya. Di sini siswa dituntut dapat bekerja sama didalam kelompoknya untuk menyelesaikan suatu masalh atau tugas yang diberikan oleh guru dan kemudian mengumpulkan hasil pekerjaan kelompoknya. Guru hanya berperan membimbing kelompok yang membutuhkan bimbingan. Guru lalu membahas soal-soal yang dianggap sulit dan tidak dapat diselesaikan dam kelompok. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian B. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen (penelitian semu), yaitu metode eksperimen yang tidak memungkinkan peneliti melakukan pengontrolan penuh terhadap variabel dan kondisi eksperimen. Penelitian dilakukan terhadap kelompok-kleompok yang homogen, terdiri atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah dengan perlakuan pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD dan kelompok kedua adalah dengan pembelajaran konvensional metode kelompok control pada penelitian ini. Untuk lebih jelasnya desain penelitian dinyatakan dalam tabel di bawah ini. Tabel 2 Desain Penelitian Kelas Perlakuan Test (R) E Cooperative Learning (XE) Hasil Belajar (Y) (R) P Konvensional (XP) Hasil Belajar (Y) Keterangan: E : Kelas Eksperimen P : Kelas Kontrol XE : Perlakuan yang dilakukan pada kelas eksperimen, yaitu penerapan pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD XP : Perlakuan yang dilakukan pada kelas control, yaitu pembelajaran kelompok konvensional Y : Tes akhir R : Penelitian subjek secara acak C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI pada SMK Malahayati tahun ajaran 2010/2011 yang terbagi dari 6 kelas. Sedangkan sample diambil dari populasi dengan teknik cluster random sampling yaitu pengambilan kelompok kelas yang terdiri dari kelas XI ak 1, XI ak 2, XI ak 3, XI komp, XI komp 2, dan XI komp 3. Setelah diundi didapatkan 2 kelas, yaitu kelas XI ak 2 dan XI ak 3. Sehingga didapat kelas XI ak 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI ak 3 sebagai kelas kontrol. D. Teknik Pengumpulan Data 1. Variabel yang diteliti a. Variabel bebas : Pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD b. Variabel terikat : hasil belajar matematika pada pokok bahasan Logika matematika. 2. Data penelitian Data penelitian ini diambil dari hasil belajar matematika pada kelas eksperimen dan kontrol yang diperoleh dari skor test formatif pada pokok bahasan Logika Matematika, dimana test yang dikerjakan oleh kedua kelas tersebut soalnya sama. E. Instrumen Penelitian a. Uji Coba Instrumen Sebelum instrumen digunakan, instrumen tersebut diuji cobakan terlebih dahulu. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar Logika matematika adalah tes obyektif 30 soal dengan 4 pilihan jawaban. Soal-soal tersebut mengacu pada aspek kognitif yaitu meliputi ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Skor untuk setiap soal adalah satu untuk jawaban benar dan nol untuk jawaban salah. Nilai akhir yang diperolah siswa adalah : Nilai akhir = (Jumlah jawaban benar : 30) x 100, Untuk mengetahui apakah 30 soal tersebut memenuhi syarat soal yang baik, maka dilakukan pengujian validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda. b. Uji Persyaratan Instrumen Instrumen terlebih dahulu diuji cobakan sebelum digunakan sehingga didapatkan instrument yang baik. Uji coba ini dimaksudkan untuk memperoleh validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda instrumen. 1. Pengujian validitas Validitas yang digunakan adalah validitas konstruksi, validitas isi, dan validitas instrument. Validitas konstruksi pada tes ini adalah tes sebelum diujicobakan, dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dosen. Validitas isi pada tes yang digunakan merupakan sampel yang mewakili kemampuan yang diukur. Dengan kata lain hasil tes dapat menunjukkan tercapainya tujuan instruksional khusus yang digunakan. Sedangkan validitas empiris yang ditentukan dengan validitas internal untuk mengukur kriteria tiap butir soal secera keseluruhan sebagai kriteria untuk menentukan validitas item atau butir. Jika skor butir dikotomi (missal 0,1) maka untuk menghitung koefesien korelasi antara skor butir dengan skor total instrument digunakan koefesien korelasi biseral, yaitu sbb: Keterangan: : koefesien korelasi biseral : rata-rata skor dari subjek ruang menjawab benar bagi item yang dicari validitasnya : rata-rata skor total : Proporsi siswa yang menjawab benar ( p = banyaknya siswa yang menjawab benar : Jumlah seluruh siswa) : Proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 – p) 2. Pengujian reliabilitas Reliabilitas instrumen penelitian dihitung dengan rumus KR-20 atau sbb: Keterangan: : reliabilitas instrument n : banyaknya butir soal yang valid : varians tes p : proporsi subjek yang menjawab soal dengan benar q : proporsi subjek yang menjawab soal dengan salah : Jumlah hasil perkalian p dan q 3. Pengujian taraf kesukaran Uji taraf kesukaran instrumen penelitian dihitung dengan menghitung indeks besarannya dengan rumus: Keterangan: P: Indeks kesukaran B : Jumah siswa yang menjawab soal tersebut dengan benar Js : Jumlah total peserta Klasifikasi: P = 0,00 – 0,29 (Sukar) P = 0,29 – 0,69 (Sedang) P = 0,70 – 1,00 (Mudah) Uji taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui soal-soal yang sukar, sedang dan mudah. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran. 4. Pengujian daya pembeda soal Pengujian daya pembeda soal digunakan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang pandai dengan siswa kurang pandai. Rumus yang digunakan dalam pengujian daya pembeda adalah sbb: Keterangan: : Indeks daya pembeda : Banyaknya peserta kel. atas : Banyaknya peserta kel. bawah : Banyaknya peserta kel. atas yang menjawab benar : Banyaknya peserta kel. bawah yang menjawab benar : Proporsi peserta kel. atas yang menjawab benar : Proporsi peserta kel. bawah yang menjawab benar Klasifikasi daya pembeda adalah sbb: D < 0,00 : Sangat jelek D = 0,00 – 0,19 : Jelek D = 0,20 – 0,39 : Cukup D = 0,40 - 0,69 : Baik D = 0,70 – 1,00 : Baik sekali F. Analisis Data 1. Menentukan Mean, Modus, dan Median a. Menentukan Mean 2. Penguji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas Uji normalitas data ini untuk mengetahui apakah sample yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Uji normal yang digunakan adalah uji Lilliefors, yaitu: L : maks , dimana: dan Keterangan: X = data tunggal = rata-rata data tunggal = Simpangan baku data tunggal b. Uji Homogenitas Uji Homogenitas dilakukan untuk melihat kehomogenan populasi. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Fisher, yaitu: , dimana 3. Pengujian Hipotesis Setelah dilakukan pengujian data dengan menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas, maka dilakukan uji hipotesis dengan uji t. rumus uji t yang dilakukan adalah: , dengan Keterangan: : rata-rata hasil belajar kelas eksperimen : rata-rata hasil belajar kelas kontrol : jumlah siswa kelas eksperimen : jumlah siswa kelas kontrol : varians kelas eksperimen : varians kelas kontrol G. Hipotesis Statistik Adapun hipotesis statistik yang akan diuji adalah sebagai berikut: Keterangan: = rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Cooperatve Learning tipe Student Team-Achievement Division. = rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran konvensional metode kelompok