Created by Evietan Fina

evie

DAFTAR ISI DAFTAR ISI 1 BAB I PENDAHULUAN 2 BAB II PEMBAHASAN 3 A.Pengertian Apoptosis 3 B.Ciri – ciri morfologi dari Apoptosis 4 C.Mekanisme Apoptosis 5 D.Faktor yang mempengaruhi terjadinya apoptosis 10 E.Protein yang berperan pada apoptosis 11 F.Fungsi Apoptosis 11 G.Perbedaan Apoptosis dan Nekrosis 12 BAB III KESIMPULAN 15 DAFTAR PUSTAKA 16   BAB I PENDAHULUAN Sel-sel dalam tubuh bisa diibaratkan dengan daun pada sebatang pohon. Ada saatnya daun menjadi kering dan mati, lalu digantikan dengan daun yang baru. Begitu pula dengan sel-sel dalam tubuh. Mungkin kita tidak tahu kalau tubuh kita setiap saat berganti. Proses pertumbuhan pada dasarnya bukanlah pengembangan sel atau pertambahan sel, tapi penggantian sel. Kecuali sel otak, sel lain di tubuh kita sekarang sudah sepenuhnya berbeda dengan sel yang kita miliki saat bayi. Semua sel waktu kita bayi sudah mati dan digantikan dengan sel-sel baru seiring bertambahnya waktu. Kematian sel ini adalah hal yang wajar. Jika tidak, kita akan merasa kesulitan dengan tidak berfungsinya sel, katakanlah sel kaki, karena ia sudah terlalu tua. Biologi menyebut kematian sel sebagai apoptosis. Asal tahu saja, dalam tubuh kita, jutaan bahkan miliaran sel mati setiap hari. Apoptosis sudah terprogram secara genetik pada inti sel sendiri. Seperti halnya manusia, sel juga akhirnya tua dan mati. Apoptosis mendasar bagi pertumbuhan normal, fungsi sistem kekebalan tubuh dan pencegahan kanker. kanker sendiri adalah pertumbuhan sel yang terus menerus. Jika sel ini tidak mati, maka kita bisa terkena kanker. Tapi selama ini para ilmuan tidak mampu mengamati langsung saat-saat sekaratnya sel. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan teknologi mikroskop. Bukan berarti mikroskop tidak mampu melihatnya, hanya saja, mikroskop tidak mampu melihat semuanya, depan belakang kiri kanan atau isi tubuh sel saat ia sekarat. Mampu mengamati secara total adalah penting bagi ilmuan karena hal ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai perubahan struktur sel mahluk hidup. BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian Apoptosis Apoptosis (dari bahasa Yunani apo = "dari" dan ptosis = "jatuh") adalah mekanisme biologi yang merupakan salah satu jenis kematian sel terprogram(PCD = programmed cell death) terjadi pada organisme multiseluler. Apoptosis digunakan oleh organisme multisel untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. istilah apoptosis pertama kali dikemukakan oleh Kerr Wyllie dan Currie pada 1972. ''Apoptosis merupakan fungsi vital pada kehidupan. Apoptosis adalah salah satu jenis utama dari kematian sel terprogram yang melibatkan serangkaian acara biokimia menyebabkan karakteristik morfologi sel tertentu dan akhirnya kematian sel. Karakteristik morfologi sel sel yang mengalami apoptosis termasuk blebbing, perubahan pada membran sel seperti hilangnya asimetri membran dan lampiran, penyusutan sel, fragmentasi nukleus, kondensasi kromatin, fragmentasi DNA dan kromosom. Contoh nyata dari keuntungan apoptosis adalah pemisahan jari pada embrio.Apoptosis yang dialami oleh sel-sel yang terletak di antara jari menyebabkan masing-masing jari menjadi terpisah satu sama lain.Bila sel kehilangan kemampuan melakukan apoptosis maka sel tersebut dapat membelah secara tak terbatas dan akhirnya menjadi kanker. Apoptosis adalah proses penting selama perkembangan normal. Hal ini juga terlibat dalam penuaan dan berbagai penyakit AIDS, penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson. B.Ciri – ciri morfologi dari Apoptosis 1. Sel terlihat membulat. Hal itu terjadi karena struktur protein yang menyusun cytoskeleton mengalami pemotongan oleh peptidase yang dikenal sebagai caspase. Caspase diaktivasi oleh mekanisme sel itu sendiri. 2. Kromatin mengalami degradasi awal dan kondensasi. 3. Kromatin mengalami kondensasi lebih lanjut dan membentuk potongan-potongan padat pada membran inti. 4. Membran inti terbelah-belah dan DNA yang berada didalamnya terpotong-potong. Selubung nukleus menjadi terputus-putus dan DNA di dalamnya terpecah dalam suatu proses yang disebut sebagai karyorrhexis. Istirahat inti menjadi beberapa badan kromatin diskrit atau unit nucleosomal karena degradasi DNA. 5. Lapisan dalam dari membran sel, yaitu lapisan lipid fosfatidilserina akan mencuat keluar dan dikenali oleh fagosit, dan kemudian sel mengalami fagositosis, atau Sel pecah menjadi beberapa bagian yang disebut badan apoptosis, yang kemudian difagositosis. C.Mekanisme Apoptosis Mekanisme apoptosis dapat diringkas sebagai berikut: Gambar 1 caspases. Perbandingan aktif dan tidak aktif antara caspases baru yang dihasilkan. Selama apoptosis, sel dibunuh oleh protease caspases. Lebih dari 10 caspases telah diidentifikasi. Beberapa dari mereka (misalnya, caspase 8 dan 10) yang terlibat dalam inisiasi apoptosis, yang lain (caspase 3, 6, dan 7) melaksanakan urutan kematian dengan menghancurkan protein penting dalam sel. 1. Aktivasi oleh sinyal-sinyal tertentu memulai caspases (Gambar 2). 2. Aktivasi dapat memotong caspases aktif pada situs tertentu. 3. Dengan aktivitas protease caspases melaksanakan degradasi protein seluler Gambar 2. Coupling dari 8 caspase atau 10 pada reseptor kematian. • Kematian reseptor: Fas/CD95, DR4/DR5, DR3, dan TNFR (Tumor Necrosis Factor Receptor) • Adaptor: FADD (Fas-terkait kematian protein domain) dan TRADD (TNFR terkait kematian protein domain). • Aktivasi: Pengikatan ligan kematian (FasL/CD95L, TRAIL/APO-2L, APO-3L dan TNF) trimerization menginduksi reseptor mereka, yang kemudian merekrut adapter dan mengaktifkan caspases. • Catatan: TRADD terlibat hanya dalam kopling antara caspases dan DR3 atau TNFR. Adaptor ini juga dapat merekrut protein lain untuk menghambat apoptosis melalui jalur  B-NF. Seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas, berbagai ligan kematian (FasL/CD95L, TRAIL, APO-3L dan TNF) dapat menginduksi apoptosis. Adalah wajar untuk melihat apakah mereka dapat membunuh sel kanker tanpa mempengaruhi sel-sel normal. Apoptosis diatur secara genetik, bersifat aktif, ditandai dengan adanya kondensasi chromatin, fragmentasi sel dan pagositosis sel tersebut oleh sel tetangganya, serta merupakan proses penting dalam pengaturan homeostasis normal, proses ini menghasilkan keseimbangan dalam jumlah sel jaringan tertentu melalui eliminasi sel yang rusak dan proliferasi fisiologis dan dengan demikian memelihara agar fungsi jaringan normal. Secara kronologis tahapan yang terjadi adalah yang pertama fragmentasi DNA, selanjutnya penyusutan dari sitoplasma, perubahan pada membran, yang terakhir kematian sel tanpa lisis atau tanpa merusak kematian sel tetangga Mekanisme terjadinya Apoptosis adalah akibat dikatifkannya beberapa sinyal yang mencetuskan kematian, berkisar dari kurangnya faktor atau hormon pertumbuhan, sampai interaksi Ligand –reseptor positif dan agent-agent lesi spesifik sebagai tambahan ada koordinasi tapi sering pula ada hubungan yang berlawanan antara pertumbuhan sel dan apoptosis sebenarnya. 1. Peran aktivitas.Mekanisme terjadinya apopotosis untuk tiap sel berbeda-beda. Aktivasi mekanisme apoptosis untuk tiap sel tertentu disebabkan oleh aktivitas yang berbeda-beda pula. 2. Kadar ion kalsium Apabila terjadi aktivitas stimulus terhadap sel dan aktivitas apoptosis , akan terjadi peningkatan kadar ion Ca++ didalam inti sel. Ion Ca++ ini mengaktifkan enzim Kalsium dependen Nuklear Indo Nuklease yang terdiri dari Endonoklease, Protease Transglutaminase. 3. Reseptor Makrofag. Proses Fagositosis terhadap apoptotic bodies atau sel lain ditentukan oleh reseptor yang ada di permukaan makrofag atau sel fagosit tersebut: contoh sel makrofag yang mengandung viktonektin reseptor, suatu beta 3 integrin, memudahkan fagositas apoptotic netropil. 4. Regulasi genetik Beberapa gen bila distimulasi akan menyebabkan apoptosis, seperti Heta shock protein dan proto onkogen. Tetapi stimulasi gen ini tidak berhubungan langsung dengan proses mulainya apoptosis . Fragmentasi inti DNA yang cepat dan teratur sudah sejak lama dianggap pertanda utama dari apoptosis. Sinyal apoptosis dapat berasal dari luar maupun dari dalam sel. Dari luar sel, sinyal apoptosis dibawa oleh Sel T, yaitu protein Fas atau sinyal kematian lainnya misalnya protein Tumor Necrosis Factor (TNF). Bila protein-protein tersebut berikatan dengan masing-masing reseptornya, maka proses apoptosis dimulai. Sinyal apoptosis tersebut ditangkap oleh death domain yang teraktivasi oleh kehadiran Fas dan TNF. Sebelum dilanjutkan, apoptosis diyakinkan kembali untuk diteruskan atau dihambat melalui mekanisme seleksi oleh protein FLIP (Flice/caspase-8 inhibitory protein). Ekspresi yang berlebihan dari FLIP, akan menyebabkan proses apoptosis terhenti. FLIP inilah sebagai penyeleksi awal dan memastikan apakah sel layak atau tidak. Model penghambatan apoptosis melalui mekanisme FLIP terjadi pada apoptosis ekstrinsik yaitu mekanisme apoptosis dengan sinyal kematian berasal dari luar sel. Bila ekspresi FLIP rendah, maka sinyal kematian akan diteruskan oleh mediator apoptosis selanjutnya yaitu caspase-8. Lingkungan sekitar dapat mempengaruhi kondisi sel. Beberapa protein dapat terekspresi pada kondisi lingkungan yang ekstrem. Protein Bax, yang merupakan anggota keluarga protein BCL-2, merupakan protein pembawa sinyal apoptosis dari dalam sel. Ekspresi yang berlebihan dari Bax dalam sitoplasma, dapat menyebabkan membran mitokondria berlubang. Mitokondria adalah organ sel yang berfungsi sebagai tempat pembangkit energi sel. Rusaknya membran mitokondria menyebabkan sel kehilangan energi dan salah satu protein terpenting di dalamnya, yaitu cytochrome c lepas menuju sitoplasma. Kerja protein tersebut harus mendapat izin terlebih dahulu dari protein BCL-2. Bila tidak mengantongi izin, maka ekspresi protein BCL-2 akan meningkat dan mendesak keberadaan protein Bax sehingga apoptosis tidak terjadi. Kehadiran cytochrome c di dalam sitoplasma dapat menyebabkan teraktivasinya protein Apaf-1, yang nantinya bersama-sama dengan caspase-9 akan melanjutkan perjalan akhir dari sinyal kematian. Mekanisme tersebut merupakan bagian dari jalur apoptosis intrinsik, yang dilihat dari asal sinyal kematian yaitu dari dalam sel. Perjalanan akhir sinyal apoptosis, akan dieksekusi oleh salah satu anggota keluarga protein caspase, yaitu caspase-3. Bila sinyal apoptosis sudah mencapai caspase-3, maka kepastian dari apoptosis sudah final. Caspase-3 akan memotong-motong protein histon yang berfungsi mengikat rangkaian DNA, menjadi beberapa bagian. Salah satu ciri khas dari sel yang mengalami apoptosis yaitu bentuk sel menjadi bulatan-bulatan kecil. Berbeda dengan kematian sel akibat nekrosis yang berbentuk tidak beraturan, bentuk bulatan-bulatan kecil ini dimaksudkan untuk memudahkan dan meringankan tugas makrofage yang berfungsi sebagai pencerna sel yang mati akibat apoptosis dan diangkut menuju sistem pembuangan ( Gambar Proses Apoptosis) D.Faktor yang mempengaruhi terjadinya apoptosis Proses apoptosis dikendalikan oleh beragam sinyal sel , yang mungkin berasal induser) baik (ekstrasel ekstrinsik atau intra seluler (induser intrinsik). sinyal Ekstraseluler mungkin termasuk racun , hormon , faktor pertumbuhan , nitrat oksida atau sitokin , yang baik harus melintasi membran plasma. Sinyal ini dapat positif (misalnya, memicu) atau negatif (yaitu, menindas, menghambat, atau mengurangi) terhadap apoptosis (Binding dan selanjutnya memicu apoptosis oleh suatu molekul yang disebut induksi positif, sedangkan represi aktif atau penghambatan apoptosis oleh suatu molekul yang disebut negatif induction.) 1. Sinyal di dalam sel (intrinsik), Apoptosis yang disebabkan oleh sinyal intrinsik mungkin akibat kurangnya gizi yang cukup kepada sel atau kerusakan DNA dalam nukleus 2. Sinyal di luar sel (ekstrinsik) apoptosis ekstrinsik dapat terjadi sebagai tanggapan terhadap virus, atau pengobatan seperti kemoterapi. Kadang-kadang sel inisiat apoptosis dalam upaya untuk melawan virus, seperti HIV E.Protein yang berperan pada apoptosis BAD (BCL-2 Antagonist of Cell Death ) termasuk salah satu protein dari golongan BCL-2. Semua protein yang termasuk dalam golongan BCL-2 berfungsi mengatur kematian sel, berupa anti-apoptosis atau mencegah kematian sel dan berupa pro-apoptosis atau memudahkan terjadinya kematian sel. Sedangkan BAD dalam menjalankan fungsi ini, ia berfungsi khusus sebagai pro-apoptosis. Protein-protein yang berperan dalam pro-apoptosis dikelompokkan lagi menjadi 2 berdasarkan domain penyusunnya yakni, 1. pro-apoptosis dengan penyusun domain BH1-BH2-BH3 dan 2. pro-apoptosis dengan penyusun domain BH3 saja, sedangkan BAD termasuk salah satu protein pro-apoptosis dengan penyusun BH3 saja. BAD ternyata memiliki nama lain yakni BBC2, BBC6, 3BCL2L8, dan Bcl2-L-8. ia terletak di kromosom ke-11 pada lengan panjang dan terletak di lokus 13.1. Dari tiga milyar pasangan basa suatu genom, basa-basa penyusun BAD terletak pada urutan basa ke 63.793.878 sampai 63.808.740, sehingga BAD memiliki 14.863 basa penyusunnya. BAD memiliki 168 asam amino dengan berat sekitar 18 Kda, memiliki 5 ekson. BAD dikatakan berfungsi aktif saat ia membentuk heterodimer dengan beberapa protein diantaranya dengan BCL-2 dan BCL-xL, saat aktif BAD berada di sitoplasma, dengan adanya bentuk heterodimer ini BAD mencegah kerja dari pasangannya (BCL-2 dan BCL-xL) untuk terjadinya proses anti –apoptosis. Dan BAD dikatakan tidak aktif ketika proses fosforilasi terjadi pada heterodimer sehingga BAD terlepas dari pasangannya (BCL-2 dan BCL-xL) sehingga terjadilah proses anti-apoptosis yang diperankan oleh pasangannya yakni BCL-2 dan BCL-xL yang terlepas dari BAD. Saat tidak aktif, BAD berada di membran luar mitokondria. F.Fungsi Apoptosis 1. Sebagai respon stress atau kerusakan DNA 2. Sebagai upaya menjaga kestabilan jumlah sel 3. Mekanisme penghancuran sel-sel yang tidak berguna 4. Sebagai bagian dari pertumbuhan 5. Regulasi sitem Imun.Untuk melindungi kita dari penyakit-penyakit berbahaya Salah satu penyakit itu adalah kanker. Sel kanker biasanya telah termutasi materi genetiknya. Kelainan pada materi genetik ini memicu sel untuk melakukan apoptosis. Salah satu contohnya terjadi pada sel kulit kita. Sel kulit berfungsi menjadi pasukan baris depan perlindungan kita dari radiasi ultraviolet. Secara otomatis sel kulit menjadi sel pertama yang akan rusak materi genetiknya bila kita terpapar radiasi ultraviolet. Untungnya saat kerusakan materi genetik terjadi pada sel kulit terdeteksi, secara otomatis sel kulit itu terprogram secara internal untuk melakukan apoptosis. Bayangkan bila tidak ada mekanisme ini sedangkan setiap hari kita terpapar ultraviolet pasti kemungkinan kita terkena kanker kulit dan kanker lainnya akan sangat meningkat (Tomas 2009). Ribuan sel kulit setiap hari mati demi tubuh kita hidup sehat aman dari kanker kulit. 6. apoptosis diperlukan dalam perkembangan organisma seperti pada metamorfosis dan pembentukan organ tertentu, misalnya menghilangkan selaput antara jari-jemari. G.Perbedaan Apoptosis dan Nekrosis Apoptosis adalah kematian sel per sel, apoptosis pada umumnya berlangsung seumur hidup dan bersifat menguntungkan bagi tubuh, sedangkan nekrosis melibatkan sekelompok sel dan merupakan kematian sel yang disebabkan oleh kerusakan sel secara akut 1. Membran sel yang mengalami apoptosis akan mengalami penonjolan-penonjolan ke luar tanpa disertai hilangnya integritas membran. . Sel yang mengalami apoptosis lisosomnya utuh, Dengan mikroskop akan terlihat kromatin sel yang mengalami apoptosis terlihat bertambah kompak dan membentuk massa padat. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis mengalami kehilangan integritas membran. 2. Sel yang mengalami apoptosis terlihat menciut, dan akan membentuk badan apoptosis. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis akan terlihat membengkak untuk kemudian mengalami lisis dan terjadi kebocoran lisosom.. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis kromatinnya bergerombol dan terjadi agregasi. 3. Sel yang mengalami apoptosis biasanya akan dimakan oleh sel yang berdekatan atau berbatasan langsung denganya dan beberapa makrofag. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis akan dimakan oleh makrofag. 4. Secara biokimia, apoptosis terjadi sebagai respon dari dalam sel, yang mungkin merupakan proses yang fisiologis. Sedangkan nekrosis terjadi karena trauma nonfisiologis. 5. Pada proses apoptosis terjadi aktivasi enzym spesifik untuk transduksi signal dan eksekusi. Sedangkan pada proses nekrosis, enzym-enzym yang terlibat dalam proses apoptosis mengalami perubahan atau inaktivasi. 6. Secara metabolis proses terjadinya apoptosis dapat diamati sedangkan nekrosis tidak. 7. Pada proses apoptosis dapat pula terjadi sintesis makromolekul baru, sedangkan pada nekrosis tidak disertai proses sintesis makromolekul baru. 8. Pada apoptosis terjadi DNA fragmentasi non random sehingga jika DNA yang diekstrak dari sel yang mengalami apoptosis di elektroporesis dengan agarose akan terlihat gambaran seperti tangga (DNA ladder). Sedangkan pada nekrosis, fragmentasi terjadi secara random sehingga pada agarose setelah elektrophoresis akan terlihat menyebar tidak jelas sepanjang alurnya (DNA smear). 9. Salah satu cara untuk mengamati keberadaan fragmen DNA di dalam sel yang mengalami apoptosis adalah dengan menggunakan Uji Tunel. Meskipun begitu, uji Tunel tidak dapat membedakan apoptosis dengan nekrosis. BAB III KESIMPULAN • Apoptosis adalah bentuk diatur ketat kematian sel, juga disebut kematian sel terprogram. Secara morfologi, hal ini ditandai dengan kondensasi kromatin dan penyusutan sel pada tahap awal.Kemudian fragmen nukleus dan sitoplasma, membentuk badan-badan apoptosis yang terikat membran yang dapat ditelan oleh fagosit • Nekrosis adalah bentuk kematian sel dimana sel akan membengkak dan pecah. Isi intraseluler dirilis dapat merusak sel-sel di sekitarnya dan sering menyebabkan peradangan. • Proses apoptosis dipengaruhi oleh dua macam pensinyalan yaitu: 1. Sinyal di dalam sel (intrinsik) dan 2. Sinyal di luar sel (ekstrinsik) • Ciri- cirri dari apoptosis 1. Sel terlihat membulat. 2. Kromatin mengalami degradasi awal dan kondensasi. 3. Kromatin mengalami kondensasi lebih lanjut dan membentuk potongan-potongan padat pada membran inti. 4. Membran inti terbelah-belah dan DNA yang berada didalamnya terpotong-potong. Selubung nukleus menjadi terputus-putus dan DNA di dalamnya terpecah 5. Lapisan dalam dari membran sel, yaitu lapisan lipid fosfatidilserina akan mencuat keluar dan dikenali oleh fagosit • Fungsi Apoptosis 1. Sebagai respon stress atau kerusakan DNA 2. Sebagai upaya menjaga kestabilan jumlah sel 3. Mekanisme penghancuran sel-sel yang tidak berguna 4. Sebagai bagian dari pertumbuhan 5. Regulasi sitem Imun DAFTAR PUSTAKA Becker,W.H Kleinsmith, L.J, Hardin,J.(2006) The Word of The Cell(6th ed). San Francisco: Benjamin Cummings. Alberts,B, Johnson, A Lewis, J, Raff, M, Roberts, K,Walter,P (2005) Molecular Biology of the Cell(5th ed). Philadelphia: Garkand Publishing. Alberts, Bruce et al. 2002. Molecular Biology of the Cell, 4th edition. Garland Campbell,A,Neil,Reece,J.B,2000. Biologi Jilid 1&3 Edisi ke lima. Erlangga. Jakarta http://www.google.co.id/mekanisme_apoptosis http://www.google.co.idmanfaat+apoptosis http:// www.apoptosis/_ Cell Death.htm