 Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya

terdiri dari hidrogen dan karbon. Hidrokarbon banyak ditemukan di dalam minyak bumi, gas alam dan batubara.  Intoksikasi hidrokarbon biasanya terjadi karena anak menelan hasil penyulingan minyak bumi, seperti bensin, minyak tanah, pengencer cat dan hidrokarbon terhalogenasi (misalnya karbon tetraklorida yang banyak ditemukan di dalam larutan dan pencair drycleaning atau etilen diklorida).

Hidrokarbon juga diekskresikan lewat urine . Aspirasi umumnya terjadi akibat penderita batuk atau muntah. aspirat dapat segera menyebar secara luas pada paru. edema paru. Efek toksis terpenting dari hidrokarbon adalah pneumonitis     aspirasi. kelenjar adrenal. Namun efek sistemik tersebut jarang karena tidak diabsorbsi dalam jumlah banyak pada saluran pencernaan. Akibat viskositas yang rendah dan tekanan permukaan. dan menurunkan jumlah surfactan sehingga memicu terjadinya perdarahan. serta alveoli. karditis. ataupun kolaps pada paru Selain itu. merusak epithel jalan napas. dan abnormalitas eritrosit. ginjal. jumlah 1 ml/kg BB hidokarbon dapat menyebabkan depresi CNS ringan – sedang. kerusakan hepar. Penyebaran melalui penetrasi pada membran mukosa.

 pathway .

methanol  Minyak : Minyak tanah atau destilat minyak 2. gigitan ular  Sianosis : Nitrit. organofosfat  Alkohol : Ethanol. cyanida. jamur  Purpura : Aspirin. barbiturat  Kering : Anticholinergik  Bulla : Barbiturat. fosfor. fosfor. besi. carbonmonoksida  Ikterus : Acetaminofen. isopropyl alcohol. carbontetrachlorida. Kulit:  Kemerahan : Co.warfarin. asam borax. acetyl salicylic acid  Coal gas : Carbon monoksida  Buah per : Chloralhidrat  Bawang putih : Arsen. nitrat. LSD. organofosfat.fenacetin.1. anticholinergik  Berkeringat : Amfetamin. thalium. cocain. Bau:Aceton : Methanol. benzocain .

fenothiazin. cocain.3. theofilin  Arithmia: Anticholinergik. amfetamin. fenothiazin. carbonmonoksida.  Hipotensi : Sedatif hipnotik. ethchlorvynol. fenothiazin  Hiperthermia : Anticholinergik. carbonmonoksida. narkotika. cokain. fenothiazin. cyanida. salisilat. organofosfat. clonidin.clonidin. simpatomimetik. Tekanan darah  Hipertensi : Simpatomimetik.  Tachikardia: Anticholinergik. alkohol. amfetamin. beta- blocker 5. amfetamin . 4. ethanol. theofilin. Suhu tubuh:  Hipothermia : Sedatif hipnotik. beta-blocker . beta-blocker. sedatif hipnotik. Nadi  Bradikardia: Digitalis. aspirin. organofosfat.

Respirasi:  Depressi : Alkohol. Selaput lendir  Kering : Anticholinergik  Salivasi : Organofosfat. paraquat  Lakrimasi : Kaustik. carbonmonoksida  Kussmaull : Methanol. ethyliene glycol. narkotika. organofosfat. barbiturat. carbamat  Lesi mulut : Bahan korosif. gas irritan 7. salisilat  Oedema paru : Salisilat.6. simpatomimetik . sedatif hipnotik  Tachipnea : Salisilat. amfetamin. narkotika.

fenothiazin. fenothiazin. propoxyphene. diazepam. Narkotika. organofosfat  Kelemahan. organofosfat nyeri perut . carbamazepim. lithium. tembaga. logam berat 9.fenothiazin.methanol. jamur.lSD. sedative hipnotik. antihistamin. cocain. fenothiazin. simpatomimetik. glutethimid. flourida. cocain. Susunan syaraf pusat  Kejang : Amfetamin.simpatomimetik. diare : Besi.rigiditas : Anticholinergik. salisilat. logam berat. carbonmonoksida.jamur. barbiturat.strichnyn  Mioklonus. alkohol.  Buta.  Midriasis : Anticholinergik. camfer. paralise : Organofosfat. anti depressi trisiklik. isoniazid. heroin.atropi optik : Methanol  Fasikulasi : Organofosfat  Nistagmus : Difenilhidantoin.haloperidol  Delirium/psikosis : Anticholinergik. barbiturat. ethanol. metaqualon  Koma : Alkohol. salisilat. fosfat. ethanol  Hipertoni : Anticholinergik. carbonmonoksida. carbamat. organofosfat.8. anticholinergik. marijuana.  Miosis : Narkotika ( kecuali demerol dan lomotil ). logam berat.cocain.organofosfat (stadium lanjut).fenothiazin. Saluran pencernaan:  Muntah.

dapat menyebabkan kerusakan       permanen Inhalasi : iritasi. sakit kepala. pusing. menyebabkan rash  Absorbsi kulit : jarang  Kontak mata : iritasi. Pada manusia tidak ada data yang tercatat Sistem reproduksi : tidak ada data yang tercatat . Kontak kulit : kering. dermatitis. pusing. intoksikasi Efek pada paparan kronis hidrokarbon : Secara umum : kulit pecah-pecah. mengantuk. mengantuk. dan abnormalitas eritrosit Karsinogenik : terlihat pada studi eksperimental pada tikus. dapat iritasi. kerusakan hepar/kelenjar adrenal/ginjal. intoksikasi Ingesti : sakit kepala.

esophagus dan ulkus pada mukosa Gejala fibriasi ventrikel. tetapi akibat aspirasi trakeobronkial Pada intoksikasi minyak tanah yang berat dapat pula dilihat kelainan pada urin berupa albuminuria. lambung dan usus      halus dan dapat menyebabkan perasaan terbakar pada mulut. walaupun jarang terjadi. Gejala pada susunan syaraf pusat berupa mengantuk atau koma yang terjadi segera setelah terminum minyak tanah. Gejala pada paru berupa bronkopneumonia. tenggorokan. esophagus. norepinefrin). Bronkopneumonia ini bukan disebabkan oleh minyak tanah yang di absorbs melalui oral atau ekskresi minyak tanah melalui paru. Fibriasi ventrikel ini disebabkan karena minyak tanah menyebabkan sensitifasi jantung terhadap katekolamin eksogen dan endogen (epinefrin. Gejala iritatif terhadap faring. Kematian biasanya timbul sebagai akibat asfiksia .

telor mentah atau norit). minyak tanah.  Pembilasan sampai 20 X. larutan norit. klisma (air sabun atau gliserin). susu. kepala dan bahu lebih rendah. . Bilas Usus Besar : bilas dengan pencahar.  Pasang NGT dan bilas dengan : air. Bilas lambung :  Pasien telungkup. atau pemberian air garam atau sirup ipekak. Mencegah/menghentikan penyerapan racun a) Racun melalui mulut (ditelan/tertelan) 1) Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air. kesadaran menurun dan penderita kejang. Natrium bicarbonat 5 %.  Kontraindikasi: cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan zat korosif (asam/basa kuat. rata-rata volume 250 cc. atau asam asetat 5 %.  Kontraindikasi : keracunan zat korosif & kejang. bensin).1. 2) Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam) dengan cara : Dimuntahkan :  Bisa dilakukan dengan cara mekanik (menekan reflek muntah di tenggorokan).

3-0. jaga agar denyut arteri bagian distal masih teraba dan lepas tiap 15 menit selama 1 menit 2) Beri epinefrin 1/1000 dosis : 0. 3) Hati-hati: penolong jangan sampai terkontaminasi. jangan menggunakan metode mouth to mouth. 5) Pernafasan buatan penting untuk mengeluarkan udara beracun yang terhisap. Racun melalui inhalasi 4) Pindahkan penderita ke tempat aman dengan udara yang segar.a) Racun melalui melalui kulit atau mata 1) Pakaian yang terkena racun dilepas 2) Cuci/bilas bagian yang terkena dengan air dan sabun atau zat penetralisir (asam cuka/bicnat encer). 3) Beri kompres dingin di tempat suntikan .4 mg subkutan/im. b) Racun melalui suntikan 1) Pasang torniquet proximal tempat suntikan.

Diuretic: lasix. Gangguan sistem susunan saraf pusat : 1) Kejang : beri diazepam atau fenobarbital 2) Odem otak : beri manitol atau dexametason. Mengeluarkan racun yang telah diserap Dilakukan dengan cara : a. Pengobatan simptomatis / mengatasi gejala a. Transfusi exchange 3. manitol b. . Dialisa c.2. Gangguan sistem pernafasan dan sirkulasi : RJP b.

 Prognostic Score : Prognostic Score = (poin dari panas) + (poin dari malnutrisi) + (poin dari distress pernapasan) + (poin dari gejala neurologis) Interpretasi : Skor minimum = 0 Skor maksimum = 10 Skor > 4 berhubungan dengan lamanya MRS dan komplikasi Skor > 8 berhubungan dengan peningkatan resiko kematian skor < 7 mengindikasikan anak akan selamat. .

agama. perubahan kulit. tanaman.A. umur biasanya sering terjadi pada     anak usia prasekolah sampai usia sekolah yaitu pada usia 1 – 4 tahun. dan tanda-tanda neurologis. kapan. . Pengkajian  Identitas klien (nama. dan seberapa banyak zat toksik yang telah masuk ke tubuh dan adanya bukti-bukti racun (wadah. jenis kelamin. tingkat kesadaran. suku bangsa / ras. nama orang tua dan alamat) Keluhan Utama Keluhan utama yaitu pada tanda-tanda vital. pendidikan. muntahan). bau napas. Riwayat penyakit sekarang Didapatkan riwayat yang cermat dan terperinci mengenai apa.

halusinasi. mual muntah. gerakan involunter. bengkak. penurunan tekanan darah. konfusi.        sianosis. bibir kering. perubahan warna merah. Pernapasan: muntah. konstipasi. ataksia. perubahan warna putih. diare. agitasi. syok GI: salivasi. takipnea. bradipnea. hematuria . pupil dilatasi. letargi. asidosis metabolik Membran mukosa: didapatkan bukti iritasi. pupil konstriksi. tersedak. hipertermia. bukti luka bakar. ketidakmampuan membersihkan sekret. Neuromuskular: kelemahan. berkeringat. batuk. nyeri abdomen Ginjal: oliguria. bradikardia. mengorok Integumen: kulit pucat. hipotermia. koma Kardiovaskular: aritmia. nyeri. peningkatan tekanan darah. kejang Perubahan sensori: ansietas. kemerahan. takikardia.

kesulitan dalam keterampilan koping menangani masalah pribadi. proses inflamasi.dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. . Koping keluarga tidak efektif (tidak mampu) berhubungan dengan kerentanan pribadi anggota keluarga. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan     hilangnya cairan tubuh secara tidak normal Resiko pola napas tidak efektif berhubungan dengan efek langsung toksisitas hidrokarbon. sosial. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kerentanan pribadi. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. prognosis. krisis situasi.

muntah dan perdarahan yang berlebihan dapat mengacu pada hipordemia. Rasional : Pemasukan peroral bergantung kepada pengembalian fungsi gastrointestinal. peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan cairan (dehindrasi/hipovolemia). c. • • • • • • • Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam diharapkan Tidak terjadi kekurangan cairan Kriteria evaluasi : Keseimbangan cairan adekuat  Tanda-tanda vital stabil  Turgor kulit stabil  Membran mukosa lembab  Pengeluaran urine normal 1 – 2 cc/kg BB/jam Intervensi : Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan. muntah. Ht) Rasional : Sebagai indikator/volume sirkulasi dengan kehilanan cairan. takikardia. Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur. Catat adanya mual. . Rasional : Dokumentasi yang akurat dapat membantu dalam mengidentifikasi pengeluran dan penggantian cairan. perdarahan Rasional : Mual. Rasional : Kulit dingain dan lembab.a. • Pantau studi laboratorium (Hb. Monitor suhu kulit. palpasi denyut perifer. Pantau tanda-tanda vital Rasional : Hipotensi. denyut yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk pengantian cairan tambahan. Kolaborasi dalam pemberian antiemetik Rasional : Antiemetik dapat menghilangkan mual/muntah yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pemasukan. Rasional : Cairan parenteral dibutuhkan untuk mendukung volume cairan /mencegah hipotensi. b. Berikan cairan parinteral dengan kolaborasi dengan tim medis.

Kriteria Evaluasi :  RR normal : 14 – 20 x/menit  Jalan napas bersih.  Tinggikan kepala tempat tidur Rasional : Menurunkan kemungkinan aspirasi. irama pernapasan & suara napas serta pola pernapasan Rasional : Efek hidrokarbon mendepresi SSP yang mungkin dapat mengakibatkan hilangnya kepatenan aliran udara atau depresi pernapasan.  Dorong untuk batuk/ nafas dalam Rasional : Memudahkan ekspansi paru & mobilisasi sekresi untuk mengurangi resiko atelektasis/pneumonia. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 30 menit diharapkan Pola napas klien kembali efektif b. sputum tidak ada c. diagfragma bagian bawah untuk untuk menigkatkan inflasi paru. pengkajian yang berulang kali sangat penting karena kadar toksisitas mungkin berubah-ubah secara drastis. Intervensi :  Pantau tingkat.  Auskultasi suara napas Rasional : Pasien beresiko atelektasis dihubungkan dengan hipoventilasi & pneumonia.  Berikan O2 jika dibutuhkan Rasional : Hipoksia mungkin terjadi akibat depresi pernapasan .a.

untuk bekerja.  Gunakan dukungan keluarga/teman sebaya untuk mendapatkan cara-cara koping.  Berikan informasi tentang efek meneguk hidrokarbon Rasional : Agar klien mengetahui efek samping yang berakibat fatal pada organ-organ vital bila menelan hidrokarbon . Rasional : Memberi informasi tentang derajar menyangkal. Intervensi :  Pastikan dengan apa pasien ingin disebut/dipanggil. tidak terjadi kerusakan perilaku adaptif dalam pemecahan masalah. b. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Koping individu efektif. Rasional : Dengnan pemahaman dan dukungan dari keluarga /teman sebaya dapat membantu menngkatkan kesadaran. Kriteria Evaluasi :  Klien mampu mengungkapkan kesadaran tentang penyalahgunaan bahan hidrokarbon.  Berikan umpan balik positif Rasional : Umpan balik yang positif perlu untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan kesadaran diri dalam perilaku  Pertahankan harapan pasti bahwa pasien ikut serta dalam terapi Rasional : Keikut sertaan dihubungkan dengan penerimaan kebutuhan terhadap bantuan. c.a.  Mampu menggunakan keterampilan koping dalam pemecahan masalah  Mampu melakukan hubungan /interaksi sosial. mengidentifikasi koping yang digunakan pada rencana perawatan saat ini  Tetap tidak bersikap tidak menghakimi Rasional : Konfrontasi menyebabkan peningkatan agitasi yang menurunkan keamanan pasien. Rasional : Menunjukkan penghargaan dan hormat  Tentukan pemahaman situasi saat ini & metode koping sebelumnya terhadap masalah kehidupan.

 Melakukanperubahan perilaku. mereka perlu untuk memutuskan untuk mengubah diri mereka.  Mampu mengidentifikasi perilaku koping tidak efektif. Rasional : Memberikan dasar informasi sebagai dasar perencanaan saat ini  Kaji tingkat situasi/fungsi saat ini dari anggota keluarga.  Tentukan pemahaman situasi saat ini dan metode sebelumnya dari koping dengan masalah kehidupan. c.  Mendukung terhadap program pengobatan & perawatan keluarga. potensial perubahan.  Berikan informasi faktual pada pasien dan keluarga tentang efek perilaku penalahgunaan zat pada keluarga dan apa yang diharapkan setelah pulang Rasional : Banyak orang atau pasien yang tidak sadar tentang sifat bahan insektisida  Dorong orang terdekat menyadari perasaan mereka sendiri dengan melihat situasi dengan perspektif dan objektivitas. individu ditolong dan tidak ingin merasa tidak tidak berdaya untuk menolong orang lain & megeluh perilaku yang sangat destruktif. Rasional : Bila anggota keluarga yang tergantung manjadi sadar tentang tindakan mereka sendiri yang secara terusmenerus ada masalah. b. Rasional : Mempengaruhi kemampuan individu untuk mengatasi situasi.Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Koping keluarga efektif. Kriteria Evaluasi : a. Rasional : Mampu adalah melakukan untuk pasien apa yang perlu untuk dirinya sendiri. . gali masing-masing peran anggota keluarga Rasional : Menentukan area untuk fokus. Bila meeka berubah pasien dapat menghadapi konsekuensi tindakan pasien sendiri dan dapat memilih untuk mendapatkan yang baik. Intervensi :  Kaji riwayat keluarga.  Mengungkapkan pengertian dinamika saling tergantung dan partisipasi dalam program individu dan keluarga.  Tentukan luasnya perilaku mampu yang dibuktikan oleh anggota keluarga gali dengan individu dan pasien.

. Rasional : Ansietas dapat mempengaruhi kemampuan mendegar dan mengasimilasi informasi. prognosis.  Berikan informasi tertulis dan verbal untuk indikasi. Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi. Rasional : Membantu pasien membuat pilihan berdasarkan informasi tentang masa depan yang bermanfaat untuk pendekatan terapi lain.  Pantau ulang kondisi & prognosis/ harapan masa depan. Rasional : Membantu dalam merencanakan perubahan jangka panjang yang perlu untuk mempertahankan status pantanan.  Kaji pengetahuan pasien tangtang situasi sendiri misalnya penyakit.  Berpartisipasi dalam program pengoabatan. kebutuhan pengobatan penggunaan hidrokarbon. c.  Perubahan perilaku untuk tidak melakukannya lagi. perubahan kebutuhan dalam gaya hidup. Kriteria Evaluasi :  Dapat mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya sendiri dan rencana pengobatan. Intervensi :  Sadari dan hadapi ansietas pasien dan anggota keluarga. b. Rasional : Belajar dapat ditingkatkan bila individu secara aktif terlibat. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan Pasien mempunyai pengetahuan tentang kondisi.a.  Berikan peran aktif untuk pasien dalam proses belajar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful