BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 1

M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

BAB VI BAGIAN JALINAN
Bagian jalinan berhubungan dengan
aturan lalu lintas Indonesia yang
memberi jalan kepada yang kiri.
Bagian jalinan dibedakan atas :
1. Bagian jalinan tunggal
2. Bagian jalinan bundaran
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 2
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

Metode bagian jalinan berlaku untuk derajat
kejenuhan < 0.8 sd 0.9. Pada arus lalu lintas yang
lebih tinggi perilaku lalu lintas enjadi egresif dan
bagian jalinan terhalang oleh pengemudi yang
berebut masuk ie ruang batas area konflik.
Analisanya menggunakan metode empiris.
Bagian jalinan bundaran
Bagian jalinan tunggal
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 3
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

1. METODOLOGI
Kapasitas
Kapasitas bagian jalinan adalah kapasitas
padakondisi tertentu dengan
memperhitungkan pengaruh kondisi lapangan
sesungguhnya terhadap kapasitas.
RSU CS
W
W W
W
F F
L
W p
W C x x 1 x
3
1 x
W
W
1 x x 135
8 . 1
5 . 0
5 . 1
w
E
3 . 1
÷
|
|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
+ =
Lebar
jalinan
Lebar
masuk
rata-rata
Rasio
jalinan
Panjang
jalinan
Faktor
ukuran
kota
Faktor
rasio
kend. Tak
bermotor
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 4
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

Derajat Kejenuhan
Untuk bagian jalinan tunggal :


Untuk bagian jalinan bundaran :
C Q DS
smp
/ =
n ... 1 i ; ) (DS dari max
i
= = DS
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 5
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

Tundaan pada bagian jalinan (D)
D = DT + DG
Tundaan lalulintas
rata-rata bagian
jalinan
Tundaan geometrik rata-
rata bagian jalinan
DG = 4 detik
( ) DG Q DT Q D
masuk i i R
+ =
¿
/ x
Tundaan
bundaran
rata-rata
Arus total
lapangan
pada
bagian
jalinan i
Tundaan
lalulitas
rata-rata
pada
bagian
jalinan
Jumlah
arus total
yang
masuk
bundaran
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 6
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

Peluang antrian (QP)%
Ditentukan berdasarkan kurva antrian
empiris.
(QP)% dari max % = QP
Kecepatan tempuh pd bagian jalinan tunggal (V)
( ) ( )
5 . 0
0
1 1 x 5 . 0 x DS V V ÷ + =
Kecepatan arus bebas
V
0
= 43 x (1 – p
w
)/3
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 7
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

Waktu tempuh pd bagian jalinan tunggal (TT)
Dapat digabung dengan nilai tundaan dan
waktu tempuh dari metode untuk fasilitas
lainnya untuk mendapatkan waktu tempuh
sepanjang rute pada jaringan jalan.
V
L TT
W
6 . 3
x =
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 8
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

2. PANDUAN ANALISA BAGIAN JALINAN
Definisi Tipe Bundaran Standar
→ Semua bundaran dianggap mempunyai kereb dan trotoar
yang cukup, dan ditempatkan di daerah perkotaan dengan
hambatan samping sedang.

→ Semua gerakan membelok dianggap diperbolehkan.

→ Paling efektif jika digunakan untuk persimpangan antara
jalan dengan ukuran dan tingkat arus yang sama. Sangat sesuai
untuk persimpangan antara 2 lajur atau 4 lajur.

→ Mempunyai keuntungan untuk mengurangi kecepatan
semua kendaraan yang berpotongan hati-hati terhadap resiko
konflik dengan kendaraan lain.




BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 9
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

Pemilihan tipe bundaran
1. Umum ; digunakan pada daerah perkotaan dan pedalaman
bagi persimpangan antar jalan dengan arus lalu lintas
sedang.

2. Pertimbangan ekonomi; ditentukan berdasarkan analisa
biaya siklus hidup (BSH)

3. Perilaku lalulintas; derajat kejenuhan > 0.75 selama jam
puncak disarankan dihindari.

4. Pertimbangan keselamatan lalulintas; dengan tingkat
kecelakaan lalulintas 0.30 kecelakaan/juta kendaraan
masuk (lebih kecil dari simpang bersinyal,0.43; dan
simpang tidak bersinyal, 0.60)




BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 10
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

3. PROSEDUR PERHITUNGAN
Bagan Alir Analisa Bagian Jalinan
LANGKAH A : DATA MASUKAN
A.1 Kond. Geometrik; A.2 Kond. Lalulintas; A-3. Kond. Lingkungan
LANGKAH B : KAPASITAS
B.1 Geometri; B.2 Kapasitas dasar; B.3 Fak. Ukuran kota;
B.4 Fak. Lingkungan; B.5 Kapasitas
LANGKAH C : PERILAKU LALULINTAS
C.1 DS; C.2 Tundaan; C.3 Peluang antrian; C.4 Kecepatan tempuh;
C.5 Waktu tempuh; C.6 Penilaian perilaku ll
Keperluan penyesuaian anggapan mengenai rencana
Aakhir analisa
TIDAK
PERUBAHAN
YA
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 11
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

A.1 Kondisi Geometrik
→ Digambarkan pada formulir SWEAV-I atau RWEAV-I. Sketsa
memberikan informasi tentang kereb, lebar pendekat, lebar
jalinan, panjang jalinan dan lebar bahu.




A.2 Kondisi Lalulintas
→ Ditentukan menurut LHRT dengan faktor k yang sesuai.
Masukan tentang kondisi lalulintas diisi pada SWEAV-I dan
RWEAV- II.
→ Kolom 1, 3, dan 5 : arus lalu lintas untuk masing-masing
gerakan.
→ Kolom 2, 4, dan 6 : arus lalu lintas (emp)
→ Kolom 7 : arus total untuk masing-masing gerakan lalulintas
→ Kolom 8 : arus total untuk setiap gerakan lalulintas
→ Kolom 9 : ratio kendaraan tak bermotor





BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 12
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

A.3 Kondisi Lingkungan
→ Diberikan pada formulir SWEAV-II atau RWEAV-II. Kondisi
lingkungan mencakup ukurna kota, tipe lingkungan jalan dan
kelas hambatan samping




B.1 Parameter Geometrik Bagian Jalinan
→ Diberikan pada formulir SWEAV-II atau RWEAV-II.
→ Kolom 2, 3 : lebar efektif tiap pendekat
→ kolom 4 : lebar masuk rata-rata
→ kolom 5 ; lebar jalinan
→ kolom 6 : ratio lebar masuk rata-rata dan lebar jalinan
→ kolom 7 : panjang bagian jalinan
→ kolom 8 : ratio lebar jalinan dan panjang jalinan




BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 13
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

B.2 Kapasitas Dasar
→ Perhitungan kapasitas dasar untuk masing-masing bagian
jalinan diuraikan dari kolom 21,22,23,24,25 dengan
mempergunakan Gambar B-2:1, B-2:2, B-2:3, B-2:4. Kapasitas
dasar pada kolom 25 diperoleh dengan mengalikan 4 faktor
yang ada pada kolom 21 sd 24.




B.3 Faktor Penyesuaian Ukuran Kota
→ kolom 26 : faktor penyesuaian ukuran kota sesuai Tabel B-3:1




RSU CS
W
W W
W
F F
L
W p
W C x x 1 x
3
1 x
W
W
1 x x 135
8 . 1
5 . 0
5 . 1
w
E
3 . 1
÷
|
|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
+ =
BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 14
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

B.4 Faktor Penyesuaian Tipe Lingkungan
→ kolom 27 : faktor penyesuaian tipe lingkungan sesuai Tabel
B-4:1




B.5 Kapasitas
→ kolom 28 : berisi kapasitas jalinan masing-masing pendekat,
dimana C = C
0
x F
CS
x F
RSU




C.1 Derajat Kejenuhan
→ kolom 32 : berisi derajat kejenuhan bagian jalinan masing-
masing.





BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 15
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

C.2 Tundaan Bagian Jalinan Bundaran
→ kolom 33 : berisi tundaan lalu lintas bagian jalinan (DT)
dengan menggunakan Gambar C-2:1
→ kolom 34 baris 6 : berisi tundaan lalu lintas bundaran (DT
R
)
→ kolom 34 baris 7 : berisi tundaan bundaran (D
R
)






C.3 Peluang Antrian
→ Menggunakan hubungan empiris antara peluang antrian
dengan derajat kejenuhan
→ kolom 35 : berisi peluang antrian dengan menggunakan
Gambar C-3:1
→ kolom 35 baris 8 : berisi peluang antrian bundaran




BAB VI BAGIAN JALINAN VI - 16
M
.
K
.
R
e
k
a
y
a
s
a

L
a
l
u

L
i
n
t
a
s

(
2

S
K
S
)

D
o
s
e
n

P
e
n
g
a
s
u
h

:

Y
e
t
t
y

S
a
r
a
g
i

C.4 Kecepatan Tempuh
→ ditentukan dari dua langkah, yaitu kecepatan bebas (kolom
33) dan perkiraan kecepatan tempuh (kolom 34)
→ kolom 35 : berisi kecepatan tempuh dengan mengalikan isi
pada kolom 33 dan kolom 34.





C.5 Waktu Tempuh
→ Kolom 36 : berisi waktu tempuh bagian jalinan tunggal




C.6 Penilaian Perilaku Lalulintas
→ memperkirakan kapasitas dan perilaku lalu lintas berkaitan
dengan rencana geometrik jalan, lalu lintas dan lingkungan
→ kolom 37 : berisi sasaran yang dipilih.
→ kolom 38 : berisi penilaian tentang perhitungan