PEMILU DAN SISTEM PEMILU

DEMOKRASI

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Dalam khasanah ilmu politik, secara umum dapat kita katakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana formulasi kebijakan, secara langsung atau tidak langsung, amat ditentukan oleh suara terbanyak dari warga masyarakat yang memiliki hak memilih dan dipilih, melalui wadah pembentukan suaranya dalam keadaan bebas dan tanpa paksaan. Dalam rangka mewujudkan demokrasi tersebut, Henry B. Mayo mengemukaan nilai-nilai sebagai berikut: Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga (institutionalized peaceful settlement of conflict) Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah (peaceful change in a changing society) Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur (orderly succession of rulers) Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum (minimum of coercion) Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman (diversity) Menjamin tegaknya keadilan.

Menurut Affan Gaffar, sejumlah ilmuwan politik merumuskan parameter atau indikator-indikator terlaksananya demokrasi pada sebuah negara jika memenuhi beberapa unsur antara lain:
1. 2.

3.
4. 5.

Akuntabilitas Rotasi Kekuasaan Rekruitmen politik yang terbuka Pemilihan umum Menikmati hak-hak dasar Dalam suatu negara demokratis pemilihan umum biasanya dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan. Setiap warga negara yang sudah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih serta mempunyai kebebasan untuk menggunakan haknya tersebut sesuai dengan kehendak hati nuraninya. Dalam hal ini mereka mempunyai kebebasan untuk menentukan partai dan atau calon mana yang akan didukungnya tanpa ada rasa takut atau paksaan dari orang lain.Para pemilih juga bebas mengikuti segala macam aktivitas pemilihan umum, seperti kegiatan kampanye dan menyaksikan penghitungan suara.

PENGERTIAN PEMILIHAN UMUM (PEMILU)

 

Secara universal pemilihan umum adalah lembaga sekaligus proses politik yang memungkinkan terbentuknya pemerintahan perwakilan. Pemilu adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Menurut Dahl merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern. Pemilu merupakan salah satu usaha untuk mempengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan kegiatan lain-lain. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik.

Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara. Setelah pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai.Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.

ALASAN PENTINGNYA DEMOKRASI DALAM BAGI KEHIDUPAN DEMOKRASI

Melalui pemilu memungkinkan suatu komunitas politik melakukan transfer kekuasaan secara damai. Melalui pemilu akan tercipta pelembagaan konflik. Przeworski mencatat bahwa demokrasi merupakan hasil kontingen dari konflik.

TUJUAN PEMILU
Menurut Ramlan Surbakti: 1. Sebagai mekanisme untuk menyeleksi para pemimpin pemerintahan dan alternatif kebijakan umum 2. Pemilihan umum merupakan mekanisme untuk memindahkan konflik kepentingan dari masyarakat kepada badan-badan perwakilan rakyat agar integrasi masyarakat tetap terjamin 3. Sebagai sarana mobilisasi dan atau/ menggalang dukungan rakyat terhadap negara dan pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses politik.

FUNGSI PEMILIHAN UMUM

1. 2. 3. 4.

Pemilu adalah sebuah mekanisme politik untuk mengartikulasi aspirasi dan kepentingan warga negara. Setidaknya ada empat fungsi pemilu yang terpenting; Legitimasi politik, Terciptanya perwakilan politik Sirkulasi elit politik Pendidikan politik

FUNGSI LEGITIMASI
Ada tiga alasan mengapa pemilu bisa menjadi sarana legitimasi politik:  Melalui pemilu pemerintah bisa meyakinkan atau setidaknya memperbaharui kesepakatan-kesepakatan politik dengan rakyat  Melalui pemilu pemerintah dapat mempengaruhi perilaku rakyat atau warganegara (pemilu bisa jadi alat kooptasi pemerintah untuk meningkatkan respon rakyat terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuatnya  Pemerintah dapat mengandalkan kesepakatan dengan rakyat dibandingkan dengan paksaan (Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat, dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah dan program serta kebijakan yang dihasilkan Hanna F. Pitkin membagi dua tipe perwakilan:  Tipe delegasi atau utusan yaitu wakil yang memperoleh mandat dari rakyat, sehingga merasa terikat dengan aspirasi dan kepentingan rakyat  Tipe independen, yaitu wakil yang tidak terikat pada aspirasi dan kepentingan rakyat pemilih.

FUNGSI PERWAKILAN POLITIK

Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat, dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah dan program serta kebijakan yang dihasilkan . Pemilu merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakil yang dapat dipercaya dalam pemerintahan dan lembaga legislatif

FUNGSI SIRKULASI ELIT
Keterkaitan pemilu dengan sirkulasi elit didasarkan pada asumsi bahwa elit berasal dari dan bertugas mewakili rakyat luas.  Pemilu merupakan jalur dan sarana langsung untuk mendapatkan posisi sebagai elit penguasa Kolabinska mengembangkan tiga tipologi sirkulasi elit:  Elit yang berasal dari segmen elit penguasa itu sendiri- jadi hanya berganti kedudukan sebagai penguasa.  Elit yang berasal dari warga non elit yang direkrut atau mendapatkan posisi sebagai elit penguasa  Elit baru yang memenangkan pertarungan dengan elit penguasa, kemudian menggantikan yang kalah

FUNGSI PENDIDIKAN POLITIK

Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik rakyat yang bersifat langsung, terbuka dan massal. Pemilu diharapkan dapat mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi.

SISTEM PEMILIHAN UMUM

Sistem Pemilu adalah seperangkat metode yang mengatur warga negara memilih para wakilnya. Sistem pemilihan ini bisa berupa seperangkat metode untuk mentransfer suara pemilih ke dalam suatu kursi di lembaga legislatif atau parlemen. Sistem pemilihan ini pada dasarnya berkaitan dengan cara pemberian suara, penghitungan suara dan pembagian kursi.

SISTEM PEMILIHAN UMUM

MAYORITAS/ PLURALITAS (DISTRIK) SISTEM REPRESENTATIVE PROPORSIONAL (PERWAKILAN BERIMBANG) SISTEM SEMI-PROPORSIONAL

Sistem Mayoritas/Pluralitas (Majoritarian/ Plurality)

Untuk dapat terpilih dalam suatu daerah pemilihan (distrik), seorang kandidat atau beberapa orang kandidat harus memenangkan jumlah tertinggi dari suara yang sah, atau dalam beberapa varian, Mayoritas dari suara yang sah dalam distrik tersebut. Sistem ini meliputi:
   

First Past The Post (FPTP) Block Vote dan Party Block Vote Alternative Vote (AV) Dua Putaran (Two Round)

First Past The Post (FPTP)

Sistem tipe ini secara menonjol diterapkan di Inggris dan daerah-daerah bekas jajahannya. Sistem ini didasarkan pada ‘distrik-distrik wakil tunggal’ – satu wakil dipilih dari setiap daerah pemilihan. Pemenang di setiap daerah pemilihan merupakan kandidat yang mendapatkan suara terbanyak.

Block Vote dan Party Block Vote

Sistem-sistem Block Vote diterapkan di Bermuda, Maldives, Kuwait, Mauritius dan Palestina, sementara sistem Party Block Vote diterapkan di Djibouti, Lebanon, Tunisia dan Senegal, dan untuk sebagian besar distrik di Singapura. Block Vote merupakan bentuk FPTP dalam distrik wakil majemuk. Biasanya,pemilih dapat memilih sebanyak kandidat yang ada. Maka, apabila ada 5 wakil yang harus dipilih, tiap-tiap pemilih dapat memilih sampai lima kandidat. Kandidat pemenang di setiap distrik adalah pemenang suara tertinggi n, dimana n adalah jumlah kursi untuk dipilih.

Alternative Vote (Preferential Voting atau AV)

Diterapkan di Australia, dan di Nauru dalam bentuk yang telah dimodifikasi.Sistem ini juga pernah diterapkan di Fiji, hanya sekali, pada tahun 1999, danjuga di Papua Nugini dari tahun 1964 sampai 1975, ketika masih berada dibawah administrasi Australia. Pada sistem full preferential voting, para pemilih harus mengurutkan semua kandidat sesuai urutan preferensi mereka (1,2,3,4, dan seterusnya).

Pada sistem optional preferential voting, para pemilih memiliki pilihan untuk menandai hanya satu kandidat atau memilih mengurutkan beberapa atau semua kandidat. Pada sistem ‘ticket voting’ pemilih memilih sebuah partai politik, dan preferensi pemilih akan sama dengan urutan preferensi yang telah ditentukan partai yangbersangkutan, yang diumumkan oleh semua partai politik kepada pelaksana pemilu sebelum hari pemilihan. Pemenangnya adalah kandidat dengan perolehan 50% + 1 dari suara sah yang ada di distrik yang bersangkutan. Apabila ketentuan ini tidak tercapai dari preferensi pertama para pemilih, maka kandidat dengan jumlah pilihan pertama yang terendah akan disingkirkan, dan pilihan kedua yang ditandai di kertas suara kandidat tersebut dibagikan ke kandidat lainnya. Proses eliminasi kandidat dengan jumlah suara terendah dan membagikan kertas suaranya kepada kandidat lain yang tertinggal, dimana kepada mereka pemilih telah menentukan pilihan berikutnya, berlanjut sampai seorang kandidat memperoleh 50% + 1 total suara.

Sistem Representasi Proporsional (RP)

 

Sistem ini meliputi: Representasi Proporsional Daftar (List Proportional Representation) Mixed Member Proportional (MMP) Single Transferable Vote (STV)

Representasi Proporsional Daftar (RP Daftar)
  1.

2.

Sejumlah bentuk RP Daftar diterapkan di sekitar 70 negara. Semua bentuk RP Karakteristik umum sebagai berikut: Partai memberikan daftar kandidat yang sama jumlahnya dengan kursi yang tersedia di daerah pemilihan Para pemilih memilih untuk satu partai. Jumlah kursi yang diperoleh tiap-tiap partai ditentukan oleh dan secara langsung berkaitan dengan proporsi jumlah suara yang diperolehnya di daerah pemilihan yang bersangkutan.

Mixed Member Proportional (MMP)
 

 

Diterapkan di Jerman, Selandia Baru, Mexico, Bolivia, Italia, dan lain-lain. Pemilih mendapatkan dua surat suara yang berbeda, atau satu surat suara yang terdiri dari dua sistem pemilihan: satu untuk pilihan partai (biasanya secara nasional), yang lain untuk kandidat di daerah pemilihan mereka (distrik lokal). Dimungkinkan adanya rasio yang berbeda-beda dari kursi representasi proporsional terhadap kursi daerah pemilihan – biasanya, antara 25 % - 50 % kursi merupakan kursi representasi proporsional. Bagian tiap-tiap partai dari keseluruhan jumlah kursi dalam badan legislatif secara langsung ditentukan berdasarkan proporsi suara pemilihan RP. Ketentuan khusus mungkin dibutuhkan, termasuk jumlah parlemen yang fleksibel, untuk menangani situasi dimana kursi yang dimenangkan sebuah partai dari distrik melebihi jumlah kursi yang diperolehnya dari persentase suara RP.

Sistem Semi-Proporsional

Dalam sistem ini, partai politik yang tidak mendapat dukungan suara terbanyak masih dapat memperoleh perwakilan. Namun sistem ini tidak dirancang untuk memberikan alokasi perwakilan sesuai dengan prosentase suara yang diperoleh partai politik seperti sistem RP.

Alasan pentingnya pembahasan sistem Pemilu dlm Sistem Pemerintahan Demokratis
  

Sistem pemilihan memiliki konsekuensi-konsekuensi terhadap tingkat proporsionalitas hasil pemilihan. Sistem pemilihan mempunyai pengaruh pada jenis kabinet satu partai atau koalisi antar partai Sistem pemilihan mempunyai dampak pada sistem kepartaian, khususnya berkaitan dengan jumlah partai politik di dalam sistem kepartaian Sistem pemilu memiliki pengaruh pada akuntabilitas pemerintahan, khususnya akuntabilitas para wakil terhadap pemilihnya


Sistem pemilu mempunyai dampak pada tingkat kohesi partai politik. Sistem pemilihan berpengaruh pada bentuk dan tingkat partisipasi politik warga. Sistem pemilihan adalah elemen demokrasi yang lebih mudah untuk dimanipulasikan dibandingkan dengan elemen demokrasi lainnya, oleh karena itu untuk mengubah wajah demokrasi negaranya bisa melalui sistem pemilihannya Sistem pemilihan dapat dimanipulasi yang tidak demokratis dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu pemilu yang dinilai oleh kebanyakan orang dinilai sebagai tolok ukur demokrasi dalam banyak hal tidak bisa menjadi parameter yang akurat. Khususnya di negara berkembang.

Pemilu yang kompetitif bisa dibangun atas tiga komponen Berikut

Adanya hak pilih universal bagi orang dewasa tanpa membedakan jenis kelamin, ras, suku, agama, etnis, faham, keturunan, kekayaan dll. Adanya proses pemilihan yang adil. Seperti adanya jaminan kerahasiaan, jaminan penghitungan suara yang terbuka, tidak ada kecurangan dalam proses pemilihan, tidak adanya kekerasan, tidak adanya intimidasi khususnya pada proses pemilihan atau pencoblosan. Adanya hak – khususnya bagi partai politik – untuk mengorganisasi dan mengajukan kandidat sehingga para pemilih mempunyai banyak pilihan untuk memilih di antara para calo yang berbeda secara kelompok maupun programnya.

TERIMA KASIH