HUKUM KESEHATAN

JOKO SUTRISNO,S.Kep,Ns,M.kes
www.jjokosutrisno@ymail.com

 Dari kata HUKUM dan KESEHATAN
 HUKUM mempunyai setidaknya 10 arti  KESEHATAN mempunyai beberapa aspek
 Aspek SDM  Aspek SARANA PELAYANAN KESEHATAN  Aspek pengertian sehat dari TEORI EKOLOGI dan sehat DALAM DEFINISI UU www.jjokosutrisno@ymail.com KESEHATAN

HUKUM
 SETIDAKNYA ADA 10 ARTI
          1. disiplin, yaitu sistem ajaran tentang kenyataan yang ideal dan yang riil; 2. il-peng 3. Tata hukum, yaitu hukum positif 4. Keputusan pejabat 5. Petugas 6. Proses pemerintahan 7. Sikap tindak yang teratur 8. Kaidah 9. Jalinan nilai-nilai 10. seni
www.jjokosutrisno@ymail.com

HUKUM
 BIASANYA ARTI HUKUM ADALAH
 Tata hukum, yaitu hukum positif

 ARTINYA:

 BAHWA HUKUM ADALAH ATURAN TERTULIS YANG DIBUAT OLEH PENGUASA (LEGISLATIF DAN EKFEKUTIF; PIMPINAN, ATASAN, DEKAN, KEPALA BAGIAN, DOSEN, DLL)

www.jjokosutrisno@ymail.com

HUKUM
 HUKUM DIADAKAN UNTUK KESEJAHTARAAN MANUSIA.
 MANUSIA YANG SELALU MELAKUKAN HUBUNGAN DENGAN MANUSIA LAINNYA –-LALULINTAS SOSIAL- , MAKA MEMERLUKAN ATURAN ADANYA ATURAN, UNTUK MENCEGAH TERJADI PENINDASAN PADA SI-LEMAH.

www.jjokosutrisno@ymail.com

KESEHATAN
 SEHAT ATAU KESEHATAN BERMAKNA:  1. EKOLOGIK

 2. UU NO 23 TH 1992 (WHO)

 KESEIMBANGAN ANTARA HOST, AGENT DAN ENVIRONMENT  KONDISI SEHAT BADAN, JIWA, SOSIAL, YANG MEMUNGKINKAN SETIAP ORANG UNTUK HIDUP PRODUKTIF SECARA SOSIAL DAN EKONOMIS

www.jjokosutrisno@ymail.com

MODEL FIMENSO
FISIK

SOSIAL

MENTAL

www.jjokosutrisno@ymail.com

KESEHATAN
    FISIK, MENTAL, SOSIAL MEMUNGKINKAN HIDUP PRODUKTIF

 HOST = FIMENSO  AGENT = PENYEBAB UTAMA  ENVIRONMENT = LINGKUNGAN / KONDISI PENDUKUNG

www.jjokosutrisno@ymail.com

HUKUM KESEHATAN

ADALAH
SEGALA ATURAN YANG TERKAIT PENGERTIAN DAN USAHA UNTUK MENCAPAI SEHAT.
www.jjokosutrisno@ymail.com

BIDANG HUKES
 KESEHATAN DAPAT DICAPAI DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK
  
 

 SDM
    
     

SDM SARANA HOST; AGENT; ENVIRONMENT METODE (SISTEM KESEHATAN) EKONOMI

DOKTER PERAWAT BIDAN LABORAN DLL
RUMAH SAKIT PUSKESMAS LAB POLIKLINIK DOKTER PRATIK DLL

 SARANA

www.jjokosutrisno@ymail.com

BIDANG HUKES
 SDM
            DOKTER KESEHATAN DAPAT PERAWAT DICAPAI DENGAN BIDAN MEMPERHATIKAN LABORAN ASPEK  SDM DLL
 METODE (SISTEM RUMAH SAKIT KESEHATAN) PUSKESMAS  EKONOMI LAB POLIKLINIK DOKTER PRATIK DLL
www.jjokosutrisno@ymail.com

HUKUM KEDOKTERAN

 SARANA  SARANA

HUKUM PERUMAHSAKITAN

tujuan hukum
 Mengatur pergaulan hidup secara damai  Perdamaian dipertahankan melalui hukum  Dilakukan dengan cara melindungi kepentingan manusia tertentu, kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta, dll dari yang merugikannya  Kedamaian itu terbentuk salah satunya dengan terwujudnya keadilan.
www.jjokosutrisno@ymail.com

keadilan
 Keadilan tidak sama dengan persamarataan.  Keadilan tidak berarti bahwa tiap-tiap orang memperoleh bagian yang sama.  Aristoteles membagi ada keadilan distributif dan keadilan komutatif.
www.jjokosutrisno@ymail.com

KEADILAN DISTRIBUTIF
 Keadilan distributif adalah keadilan yang diberikan pada tiap orang menurut jatah jasanya. Dia tidak menuntut tiap orang mendapat bagian yang sama.  Umunya terjadi antara negara dengan warganya  Contoh
 Tiap warga negara berhak menjadi presiden, tapi tidak mungkin setiap warga dapat jadi presiden. www.jjokosutrisno@ymail.com

Keadilan komutatif
 Keadilan komutatif adalah keadilan yang memberikan semua orang sama banyaknya dengan tidak mengingat jasa perseorangan  Terjadi banyak pada hubungan perorangan (umunya ada pada aturan khusus)  Contoh  Aturan jual beli  Kontrak terapetik.
www.jjokosutrisno@ymail.com

Hukum „ini‟ buatan manusia
 Tapi, demikian perlu dimengerti bahwa „hukum adalah buatan manusia‟, sehingga demikian hukum adalah tidak sempurna

www.jjokosutrisno@ymail.com

Pembagian Hukum
 Berdasar isi, aturan umum dan 2
 1. aturan umum  2. aturan khusus

www.jjokosutrisno@ymail.com

ATURAN UMUM
 Aturan Umum :
 Adalah aturan yang diberlakukan untuk semua orang tanpa perlu memperhatikan pihak-pihak yg terkait dengan masalah yang ada.

 Pemerintah sebagai pengatur secara sepihak mengatur warga negara agar tercipta lalulintas sosial yang teratur, aman, dll.
www.jjokosutrisno@ymail.com

ATURAN UMUM
 Contoh
 Pengendara dijalan umum harus ada disebelah kiri.  Jika lampu merah maka harus berhenti  Orang dilarang mencuri  Orang dilarang membunuh
www.jjokosutrisno@ymail.com

ATURAN KHUSUS
 PEMERINTAH MEMBUAT ATURAN, DENGAN MANA ATURAN ITU DAPAT DIPAKAI JUGA BOLEH TIDAK DIPAKAI OLEH PARA PIHAK YANG BERTIKAI.  ATURAN TERSEBUT MENGATUR HUBUNGAN ANTAR WARGA (BADAN HUKUM)
www.jjokosutrisno@ymail.com

ATURAN KHUSUS
 JIKA PARA PIHAK YANG BERPERKARA DAPAT SECARA MANDIRI MENYELESAIKAN MASALAHNYA MAKA, PEMERITAH AKAN DIAM SAJA.  TAPI JIKA TIDAK ADA PENYELESAIAN, MAKA PEMERINTAH WAJIB MENYEDIAKAN LEMBAGA YANG DAPAT MEMBANTU MENYELESAIKAN MASALAH MEREKA  CONTOH  JUAL BELI  HUTANG PIUTANG  KONTRAK TERAPETIK

www.jjokosutrisno@ymail.com

ISI HUKUM
 ATURAN UMUM
 = publik  Aspek administratif dan aspek pidana  Dari itu kita mengenal istilah  HUKUM ADMINISTRASI  HUKUM PIDANA

 ATURAN KHUSUS
 = sipil  Perdata  Dari aturan khusus tersebut kita kenal istilah  HUKUM PERDATA

www.jjokosutrisno@ymail.com

HUKUM KEDOKTERAN

ADALAH
SEGALA ATURAN YANG TERKAIT PROFESI DOKTER.
www.jjokosutrisno@ymail.com

 JADI HUKUM KEDOKTERAN TIDAK HANYA UNDANG-UNDANG PRAKTIK KEDOKTERAN  TAPI, SEGALA ATURAN YANG TERKAIT DENGAN PROFESI DOKTER  JADI, HUKUM KEDOKTERAN DAPAT BERISI
 ASPEK ADMINISTRASI  ASPEK PIDANA  ASPEK PEDATA

www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek administrasi Yang dimaksud adalah

 Hukum administrasi kedokteran  Sebagian besar dari hukum kedokteran adalah hukum administrasi.  Seperti administrasi pemerintahan, atau administrasi kantor, maka adalah hukum kedokteran itu sebenarnya administrasi kedokteran.
www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek administrasi
 Berisi tatacara pelayanan yang baik agar pasien terlayani dengan baik.  Posisi dokter dalam hal tersebut adalah abdi negara, dimana dokter (sebagai pegawai negara) melayani masyarakat (warga negara)  Tindak tanduk dokter dalam memberi pelayanan ditata sebagaimana tatanan administrasi (yaitu administrasi kedokteran)
www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek administrasi
 Bentuk hukum administrasi kedokteran adalah adanya peraturan yang berbentuk STANDART-STANDART  Seperti:
 SOP (standart operasional prosedur)  Standart pelayanan medik  Standart medik
www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek administrasi
 Seorang dokter yang memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standart tersebut dapat diaggap malpraktik, dan diberi sanksi.  Sanksinya dapat berupa
 Sanksi pidana (denda dana atau kurungan penjara)  Sanksi administrasi (skorsing, dicabut ijin praktiknya, dll)
www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek perdata
 Berangkat dari pola pelayanan (dari pemerintah) kesehatan (kedokteran) dari dokter ke pasien, yang nir laba, kemudian menuju pada pelayanan partikelir dokter kepada pasien dalam praktik pribadinya.  Disini dokter praktik untuk mendapat uang.
www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek perdata
 pasien datang ke dokter bersedia membayar jasa dokter.  Maka, pelayanan tidak lagi hanya aspek administratif; tidak dapat dihindari muncul disini suatu nilai seperti jual beli.  Muncul aspek perdata, yang dikategorikan sebagai hubungan ikatan. Ikatan mana disebut sebagai kontrak terapetik, yang merupakan aspek perdata.
www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek perdata
 Ikatan terjadi tidak hanya karena pasien datang ke dokter praktik saja.  Ikatan dapat terjadi karena:
 Ius contractu : terjadinya ikatan karena adanya saling persetujuan dari para pihak untuk melakukan kontrak. Jika disini adalah dokter dengan pasien maka disebut kontrak terapetik
www.jjokosutrisno@ymail.com

 Ius contractu  Ius delicto

Aspek perdata
 Ius delicto ; terjadinya ikatan karena diatur oleh hukum. Pada para pihak tidak ada kebebasan untuk terjadinya ikatan itu. Hukum mengatur, jika sesorang melibatkan dirinya pada permasalahan orang lain, maka dia bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut sampai ada pihak lain yang mau mengambil alih tanggung jawab tersebut.  Pada pokoknya dua bentuk ikatan itu disebut sebagai kontrak terapetik.
www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek perdata
 Akibat dari adanya kontrak terapetik maka muncul hak dan kewajiban dari dokter dan pasien.  Para pihak harus memenuhi prestasinya (kewajibannya) tidak disebut sebagi wanprestasi

www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek perdata
 Tuntutan dapat terjadi –dilakukan- dari para pihak jika ada dari mereka yang melakukan wanprestasi  Tuntunan yang terjadi berkembang karena  Tuntutan yang disampikan dapat berupa
 Aspek perdata  Tidak menutup kemungkinan aspek pidana  Kelalaian  wanprestasi

www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek pidana
 sanksi pidana pada hukum kedokteran dapat muncul karena
 Melanggar aspek administrasi yang diberi sanksi pidana  Melakukan kesalahan sebagai tindak pidana  Mengalami kelalaian berat. –gross negligence, culpa www.jjokosutrisno@ymail.com lata-.

Aspek pidana
 Sanksi pidana pada profesi dokter sangat sukar terjadi, karena latar belakang profesi dokter adalah pelayanan kesehatan yang sarat dengan nilai luhur

www.jjokosutrisno@ymail.com

Aspek pidana
 Aspek pidana yang terjadi dalam proses peradilan kasus hukum kedokteran memerlukan saksi ahli dari kalangan profesi untuk dapat menilai akan bebar-benar adanya kesalahan, kelalaian, atau pelanggaran yang diduga ada.
www.jjokosutrisno@ymail.com

www.jjokosutrisno@ymail.com

www.jjokosutrisno@ymail.com

MALPRAKTIK MAL = JELEK = PRAKTIK YANG JELEK

www.jjokosutrisno@ymail.com

MALPRAKTIK MAL = JELEK = PRAKTIK YANG JELEK

www.jjokosutrisno@ymail.com

BLACK’S LAW DICTIONARY

MALPRACTICE
 PROFESSIONAL MISCONDUCT OR UNREASONABLE LACK OF SKILL.  FAILURE OF ONE RENDERING PROFESSIONAL SERVICES TOARTINYA : EXERCISE THAT DEGREE OF SKILL AND LEARNING COMMONLY APPLIED UNDER ALL THE CIRCUMSTANCES IN THE COMMUNITY BY THE LALAI MENGAKIBATKAN AVERAGE PRUDENT REPUTABLE MEMBER OF THE PROFESSION WITH KERUGIAN INJURY, LOSS OR CEDERA/ THE RESULT OF DAMAGE TO THE RECIPIENT OF THOSE SERVICES OR TO THOSE ENTITLED TO RELY UPON THEM.

www.jjokosutrisno@ymail.com

MEDICAL MALPRACTICE
 Medical malpractice involves the physician’s failure to conform to the standard of care for treatment of the patient’s condition, or lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the patient.
www.jjokosutrisno@ymail.com

World Medical Association, 1992

PENGERTIAN MALPRAKTIK

 KATA MALPRAKTIK TIDAK ADA DALAM PERATURAN PER-UU-AN DI INDONESIA  Pasal 55 ayat (1) UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan : “setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan”.
www.jjokosutrisno@ymail.com

 Pasal 50 UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran : “dokter dan dokter gigi berhak memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional”.
JADI, ……

MALPRAKTIK BILA “KESALAHAN”, “KELALAIAN”, “TAK SESUAI STANDAR PROFESI”, “TAK SESUAI STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL” ????
www.jjokosutrisno@ymail.com

MALPRAKTEK
 “INTENTIONAL” (secara sadar)
 PROFESSIONAL MISCONDUCTS

 NEGLIGENCE
 MALFEASANCE, MISFEASANCE, NONFEASANCE

 LACK OF SKILL
 DI BAWAH STANDAR KOMPETENSI  DI LUAR KOMPETENSI
www.jjokosutrisno@ymail.com

PROFESSIONAL MISCONDUCT
 PELANGGARAN DISIPLIN PROFESI

 PIDANA UMUM:

 PELANGGARAN STANDAR SECARA SENGAJA (DELIBERATE VIOLATION)  PELANGGARAN PERILAKU PROFESI  PEMBOHONGAN (FRAUD / MISREPRESENTASI)  KETERANGAN PALSU  PENAHANAN PASIEN  BUKA RAHASIA KEDOKTERAN TANPA HAK  ABORSI ILEGAL  EUTHANASIA  PENYERANGAN SEKSUAL
www.jjokosutrisno@ymail.com

LACK OF SKILL
 KOMPETENSI KURANG ATAU DI LUAR KOMPETENSI / KEWENANGAN
 SERING MENJADI PENYEBAB ERROR ATAU KELALAIAN  SERING DIKAITKAN DENGAN KOMPETENSI INSTITUSI  KADANG DAPAT DIBENARKAN PADA SITUASI-KONDISI LOKAL TERTENTU (LOCALITY RULE, LIMITED RESOURCES)

 TUNTUTAN DAPAT BERUPA KELALAIAN
www.jjokosutrisno@ymail.com

KELALAIAN MEDIK

 JENIS MALPRAKTIK TERSERING  BUKAN KESENGAJAAN  TIDAK MELAKUKAN YG SEHARUSNYA DILAKUKAN, MELAKUKAN YG SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN OLEH ORANG2 YG SEKUALIFIKASI PADA SITUASI DAN KONDISI YG IDENTIK
www.jjokosutrisno@ymail.com

SYARAT KELALAIAN (4D)
 DUTY (Duty of care)
 KEWAJIBAN PROFESI  KEWAJIBAN AKIBAT KONTRAK DG PASIEN

 DERELICTION / BREACH OF DUTY
 PELANGGARAN KEWAJIBAN TSB

 DAMAGES
 CEDERA, MATI ATAU KERUGIAN

 DIRECT CAUSALSHIP
 HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT, SETIDAKNYA PROXIMATE CAUSE
www.jjokosutrisno@ymail.com

www.jjokosutrisno@ymail.com

NEAR MISS

ERRORS
VIOLATION

Adalah tindakan yg dapat mencederai pasien, tetapi tidak mengakibatkan cedera karena faktor kebetulan, pencegahan atau mitigasi
Setiap cedera yang lebih disebabkan oleh manajemen medis drpd akibat penyakitnya

ADVERSE EVENTS
UNPREVENTABLE ACCEPTABLE RISKS UNFORESEEABLE RISKS
www.jjokosutrisno@ymail.com

DISEASE / COMPLICATION

Adverse events
New York Utah-Colorado Australia (QAHCS) UK Denmark New Zealand Canada Indonesia 1984 1992 1992 1999 1998 1998 2001 ??? 30.195 14.565 14.179 1.014 1.097 6.579 3.720 ??? 3.8 % 3.2 % 16.6 % 11.7 % 9.0 % 12.9 % 7.5 %

www.jjokosutrisno@ymail.com

Iwan Dwiprahasto, 2005

Table 1 – Results of retrospective case record reviews
(Revised)

Study
California

Year
1975

No Hosp
24

No Case
20864

AE %
4.6

Preventable AE %
0.78

PrevAE % of AE
16.9

NY State
Utah-Colo Australia UK Denmark New Zea Canada France
Average

1984
1992 1993 1999 2000 2000 2002 2002

51
28 31 2 17 3 20 7
20

30121
14700 14179 1014 1097 1326 3745 778
9758

3.8
2.9 16.6 10.8 9.0 10.7 7.5 14.5
8.9

0.95
0.93 8.4 5.2 3.6 4.3 2.8 4.0
3.4

25.0
32.1 38.5 48.1 40.0 40.2 37.3 27.6
38.2

www.jjokosutrisno@ymail.com Stuart Emslie :International Perspectives on Patient Safety, National Audit Office, England, 2005

NICO L

NICO L

(Schellekens, W : Patient Safety Conference, www.jjokosutrisno@ymail.com European Union Presidency Luxembourg, 4 – 5 April 2005)

CEDERA DAN MATI
 Rata-rata 8,9% pasien yg dirawat inap memperoleh cedera/mati akibat KTD  Dari seluruh pasien cedera akibat KTD, sebanyak 13,6% meninggal. (Ekstrapolasi: kematian mendekati 100.000 pasien/ tahun di USA)  Hanya 9 dari 1000 dokter yg lalai dituntut, tetapi 13 dari 10.000 dokter yg tidak lalai juga dituntut  Hanya 20% kasus tuntutan kelalaian dapat dibuktikan oleh penuntut
www.jjokosutrisno@ymail.com

MALPRAKTIK vs BAD OUTCOME
UNDERLYING DISEASE PERJALANAN PENYAKIT DAN KOMPLIKASI

NO ERROR

ACCEPTABLE RISKS UNFORESEEABLE RISKS

ADVERSE EVENTS (Kejadian yg tak diharapkan)
PREVENTABLE PREVENTABLE ADVERSE EVENTS ADVERSE EVENTS NEGLIGENT ADVERSE EVENTS
(KELALAIAN MEDIS) + DAMAGE + CAUSAL

LATENT ERRORS

ACTIVE ERRORS
(Error of planning & error of execution)

DUTY + BREACH OF DUTY
www.jjokosutrisno@ymail.com

JADI, MALPRAKTIK:
 DINILAI BUKAN DARI “HASIL” PERBUATANNYA, MELAINKAN DARI “PROSES” PERBUATANNYA.  Dugaan adanya malpraktik kedokteran harus ditelusuri dan dianalisis terlebih dahulu untuk dapat dipastikan ada atau tidaknya malpraktik, kecuali apabila faktanya sudah membuktikan bahwa telah terdapat kelalaian – yaitu pada res ipsa loquitur (the thing speaks for itself)
www.jjokosutrisno@ymail.com

PEMBUKTIAN MALPRAKTIK MEDIS
HARUS MENGGUNAKAN ALAT BUKTI YG SAH

www.jjokosutrisno@ymail.com

PEMBUKTIAN PERILAKU SALAH
 MEMBUKTIKAN PERILAKU SALAH YG MELANGGAR HUKUM
 PIDANA ATAUPUN PERDATA  MIS. MEMBOHONG, MENGGELAPKAN, KETERANGAN PALSU, PELECEHAN, DOUBLE BILLING, PENCEMARAN NAMA BAIK, DLL  TIDAK SELALU MUDAH, TERUTAMA APABILA DI BIDANG “KLINIS”
www.jjokosutrisno@ymail.com

PEMBUKTIAN P.M.H.
 CUKUP MEMBUKTIKAN ADANYA P.M.H., TANPA HARUS ADA MEMBUKTIKAN KE-4 UNSUR KELALAIAN (KERUGIAN DLL)
 MELAKUKAN TINDAKAN TANPA INFORMED CONSENT  SALAH ORANG / SALAH KANAN-KIRI / SALAH ORGAN  PRODUCT LIABILITY
www.jjokosutrisno@ymail.com

PEMBUKTIAN PELANGGARAN JANJI

 BUKTIKAN BAHWA BENAR TELAH TERJADI PERJANJIAN YANG DILANGGAR ATAU TIDAK TERPENUHI  DAPAT BERUPA “JANJI UPAYA TERTENTU” ATAUPUN “JANJI HASIL”  PERJANJIAN MUDAH DIBUKTIKAN APABILA TERTULIS  IKLAN BUKAN TERMASUK PERJANJIAN, TETAPI BILA TELAH MENGAKIBATKAN KEPUTUSAN YG “SALAH” DAPAT DITUNTUTKAN

www.jjokosutrisno@ymail.com

PEMBUKTIAN KELALAIAN
 UMUMNYA SUKAR  BUKTIKAN ADANYA KE-4 CIRI KELALAIAN (Duty, Dereliction of duty, Damages, Direct causation)  BUKTIKAN ADANYA “RES IPSA LOQUITUR” : FAKTA SUDAH MEMBUKTIKAN ADANYA KELALAIAN
 MISALNYA : TERTINGGALNYA GUNTING ATAU KASA DI DALAM LUKA OPERASI

www.jjokosutrisno@ymail.com

CARA PEMBUKTIAN

 MEMBANDINGKAN ANTARA “APA YG DIKERJAKAN” (DAS SEIN) DENGAN “APA YG SEHARUSNYA DIKERJAKAN” (DAS SOLLEN).  MEMBANDINGKAN ANTARA REKAM MEDIS, DOKUMEN/CATATAN, KESAKSIAN, PETUNJUK (BARANG BUKTI) DENGAN STANDAR / KESAKSIAN AHLI / PEDOMAN

www.jjokosutrisno@ymail.com

ADANYA KEWAJIBAN
 ADANYA KEWAJIBAN PROFESI
 KODE ETIK, DISIPLIN PROFESI, BYLAWS DAN ATURAN SARYANKES LAIN

 ADANYA KEWAJIBAN HUKUM
 ADMINISTRATIF, PIDANA DAN PERDATA

 ADANYA KEWAJIBAN AKIBAT PERJANJIAN / KONTRAK TERAPEUTIK
 ISU: KAPAN MULAI TERJADINYA?
Pada umumnya dokter sulit membela diri dengan www.jjokosutrisno@ymail.com cara memungkiri adanya kewajiban

ADANYA PELANGGARAN KEWAJIBAN
 MEMBUKTIKAN ADANYA PELANGGARAN ATAS KEWAJIBAN-KEWAJIBAN TSB
 ISU:
 SERING TERDAPAT LEBIH DARI SATU KEWAJIBAN YG DAPAT BERTENTANGAN  SERING TERDAPAT LEBIH DARI SATU STANDAR / PEDOMAN, ATAU COMMON PRACTICE  SERING TERDAPAT SITUASI YG AKIBATKAN PELANGGARAN YG TERPAKSA  DAPAT DIBENARKAN  DAPAT DIMAAFKAN

www.jjokosutrisno@ymail.com

ADANYA CEDERA / KERUGIAN
 SERINGKALI SULIT MEMBUKTIKAN ADANYA HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT ANTARA PELANGGARAN KEWAJIBAN DENGAN KERUGIAN / CEDERA / MATI.
 TIDAK DILAKUKAN AUTOPSI ATAU PEMERIKSAAN KHUSUS UNTUK ITU  KAUSA UMUMNYA MULTI-FAKTORIAL  ADA PEMBELAAN: REMOTENESS OF DAMAGES www.jjokosutrisno@ymail.com

KERUGIAN
 Kerugian immateriel (general damages, non pecuniary losses)
 Sakit dan penderitaan  Kehilangan kesenangan/kenikmatan (amenities)  Kecederaan fisik dan / atau psikiatris

 Kerugian materiel (special damages, pecuniary losses) :
 Kerugian akibat kehilangan kesempatan  Kerugian nyata :
 Biaya yang telah dikeluarkan hingga saat penggugatan  Biaya yang akan dikeluarkan sesudah saat www.jjokosutrisno@ymail.com penggugatan

ADANYA HUBUNGAN KAUSAL
 TIDAK BISA MENGGUNAKAN STRICT LIABILITY KARENA BUKAN PRODUK  BUT FOR TEST  BISA GUNAKAN TEORI RELEVAN UNTUK MENEMUKAN KAUSA YG PROXIMATE (tidak perlu sebab pasti)  DIRECTNESS VS REMOTENESS  FORESEEABLE VS UNFORESEEABLE
It is an accepted principle that in most medical negligence cases, proof of causation requires the testimony of an expert witness because the nature of the inquiry is such that jurors are not competent to draw their own conclusions from the evidence without the aid www.jjokosutrisno@ymail.com of such expert testimony

FORESEEABILITY
 Menguji apakah kejadian tersebut sebagai akibat dari risiko yang foreseeable (dapat dibayangkan sebelumnya) atau tidak.
 BERDASARKAN CARA KEJADIANNYA
 Varian dari risiko yg foreseeable dianggap foreseeable

 BERDASARKAN JENIS CEDERA
 Remote apabila bukan dari jenis yg sama dengan yg foreseeable

 BERDASARKAN LUAS / KEPARAHAN CEDERA www.jjokosutrisno@ymail.com
 Eggshell skull rule

WMA:

 “An injury occurring in the course of

medical treatment which could not be foreseen and was not the result of the lack of skill or knowledge on the part of the treating physician is untoward result, for which the physician should not bear any liability”

www.jjokosutrisno@ymail.com

KELALAIAN MEDIS = PIDANA ?
Pasal 359-360 KUHP

 HANYA YG CULPA LATA:
 KELALAIAN:
 Harus ada KEWAJIBAN YG DILANGGAR  Harus ada DAMAGE (cedera / kerugian) yang DISEBABKAN oleh pelanggaran tsb

 DAMAGE tersebut FORESEEABLE  AKIBAT KETIDAKHATIHATIAN YG NYATA (Tidak terdapat faktor pemaaf atau faktor pembenar)
VAN HAMEL

www.jjokosutrisno@ymail.com Di banyak negara terdapat kewajiban direview Medical Panel dulu

AJR 2002; 179: 331-335

 Responsible physician have nothing to fear from the criminal law … for a physician will not be held criminally liable for the death of a patient if that death is the result of a good-faith error of judgment or an inadvertent mistake (adverse events = KTD)  When physicians intentionally or recklessly disregard their patients’ safety, they properly face criminal www.jjokosutrisno@ymail.com Eisenberg RL, Berlin L, 2002 prosecution

PEMBELAAN
 BUKTIKAN SALAH SATU UNSUR KELALAIAN TIDAK ADA  CARI PEMBENAR:
 MEDICAL RISKS:  ACCEPTABILITY, UNFORESEEABILITY, ADVERSE EVENTS  PERJALANAN PENYAKIT / KOMPLIKASI

 CARI PEMAAF:
 TEKANAN SITUASI-KONDISI  LIMITED RESOURCES  KONTRIBUSI PASIEN
www.jjokosutrisno@ymail.com

CEDERA, MATI DAN TUNTUTAN
 Rata-rata 8,9% pasien yg dirawat inap (3,2-16,6%) memperoleh cedera/mati akibat KTD, yang 38,2% nya akibat medical error.  Dari seluruh pasien cedera akibat KTD, sebanyak 13,6% meninggal. (Ekstrapolasi 1984: kematian mendekati 100.000 pasien/ tahun di USA)  Hanya 9 dari 1000 dokter yg lalai dituntut, tetapi 13 dari 10.000 dokter yg tidak lalai juga dituntut  Hanya 20% tuntutan yang terbukti
www.jjokosutrisno@ymail.com

Statistik USA

KESIMPULAN
 PENGADILAN ADALAH SALAH SATU PILIHAN BAGI ORANG YANG INGIN MENUNTUT DOKTER  PENGADILAN MEMBERIKAN PELUANG “PENYELESAIAN SENGKETA”, YANG TIDAK TERSEDIA DI MAJELIS ETIK DAN DISIPLIN PROFESI  PEMBUKTIAN MALPRAKTIK MASIH SULIT DILAKUKAN OLEH NON-DOKTER
www.jjokosutrisno@ymail.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful