You are on page 1of 25

LATAR BELAKANG

 Malaria

merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah utama di Kabupaten Kepulauan Selayar.  Penyebaran penyakit ini terbentang luas dari daratan Kepulauan Selayar bagian utara sampai gugusan pulaupulau di bagian selatan.

LANJUTAN
 Berdasarkan

World Malaria Report 2010, ditemukan 225 juta kasus malaria dan diperkirakan terdapat 781.000 kematian pada tahun 2009. Sebagian besar kematian terjadi pada anak-anak yang tinggal di Afrika, dimana seorang anak meninggal setiap 45 detik oleh penyakit malaria (WHO, 2011a).

LANJUTAN

Di Asia Tenggara, malaria merupakan masalah utama dimana 10 dari 11 negaranya merupakan daerah endemis malaria. Sejak tahun 2000-2010, kasus malaria di Asia Tenggara mencapai 2,3 juta – 3,08 juta dan kematian antara 2.4236.978 per tahun (WHO, 2011 b). World Malaria Report (2010) mengemukakan bahwa angka kasus tertinggi adalah di India (1.495.817) diikuti oleh Myanmar (420.808) dan Indonesia (229.819), sedangkan jumlah kasus terendah adalah Bhutan (520), diikuti oleh Sri Lanka (684) dan Nepal (4.075). Demikian pula, kasus kematian tertinggi terdapat di India (1023) diikuti oleh Myanmar (788) dan Indonesia (432) dan jumlah kematian terendah adalah Sri Lanka (0) diikuti oleh Bhutan (2) dan Nepal (6). Annual Parasite Incidence (API) tertinggi per 1000 penduduk beresiko malaria adalah Timor Leste, (41,9 API), diikuti oleh Myanmar (11,2 API) dan Indonesia (2,0 API).

LANJUTAN

Angka kesakitan malaria dalam kurun waktu 2000-2008 di Indonesia menunjukkan kecenderungan menurun. Pada tahun 2000 angka kesakitan malaria sebesar 0,81 per 1000 penduduk terus turun hingga 0,15 per 1000 penduduk pada tahun 2004. Angka ini meningkat menjadi 0,19 pada tahun 2006, untuk kemudian turun hingga berada pada angka 0,16 per 1000 penduduk pada tahun 2007 dan 2008. Kecenderungan penurunan juga ditunjukkan oleh AMI. Pada periode tahun 2000-2004 AMI cenderung menurun dari 31,09 menjadi 21,2 per 1000 penduduk. Angka ini naik pada tahun 2005 menjadi 24,75 dan kemudian terus mengalami penurunan sampai pada tahun 2008 menjadi 16,82 per 1000 penduduk (Depkes RI, 2009).

LANJUTAN

Pada tahun 2008 jumlah penderita Malaria klinis sebanyak 10.724 kasus dengan jumlah positif sebanyak 2.382 kasus (12,98 %). Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Kab. Selayar (22,24 0/00), Bulukumba (8,80 0/00), Pinrang (2,87 0/00), Pangkep (2,81 0/00), dan Enrekang sebesar 2,06 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang di konfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Kab. Bulukumba (4,27), Selayar (2,59), dan Luwu Timur sebesar 0,34 per 1000 penduduk (Profil Kesehatan Sulsel, 2008). Tahun 2009 jumlah penderita malaria klinis mengalami peningkatan menjadi 13.788 kasus dengan jumlah positif sebanyak 3.568. Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Kab. Bulukumba (21,78 0/00), Selayar (15,17 0/00), Pangkep (5,51 0/00), dan Tator sebesar 3,36 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di di Kab. Bulukumba (8,19), Selayar (0,76), Luwu Utara (0,39), dan Tator sebesar 0,27 (Profil Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, 2009). Tahun 2010 jumlah penderita malaria klinis mengalami peningkatan menjadi 26.384 kasus dengan jumlah positif sebanyak 4.547. Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Kab. Kepulauan Selayar (24,94 0/00), Bulukumba (18,47 0/00), Pare-pare (8,61 0/00), dan Luwu Utara sebesar 8,20 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Kab. Bulukumba (4,82), Selayar (2,97), dan Luwu Utara sebesar (2,31), dan Enrekang (1,30) per 1000 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, 2010).

LANJUTAN

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar, pada tahun 2009, penderita malaria klinis berjumlah 2.951 kasus dan jumlah positif sebanyak 191 orang. Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Pasilambena (59,5 0/ ), Pasimarannu (54,6 0/ ), Lowa (37,4 0/ ), dan Barugaia sebesar 32,2 per 1000 00 00 00 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Buki (6,24), Barugaia (3,20), Pasimasunggu (2,75) dan Lowa sebesar 1,38 per 1000 penduduk. Pada tahun 2010, penderita malaria klinis berjumlah 3.939 kasus atau 431 kasus per 1000 orang penduduk. Sementara, jumlah penderita positif malaria sendiri, mencapai angka 431 kasus atau 3,55 per 1000 orang penduduk. Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Desa Lowa (89,47 0/00), Putabangun (75,06) Bonto Lempangan (74,48 0/00), Lantibongan (65,39 0/00), dan Appatanah sebesar 64,63 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Desa Lantibongan (29,72), Lowa (27,82), dan Maharayya sebesar 8,29 per 1000 penduduk. Pada tahun 2011 (data januari - November 2011) angka malaria klinis berjumlah 2.540 kasus dan yang positif sebanyak 261 orang. Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Desa Nyiur Indah (141,55), Lantibongan (75,04 0/00), Bontosunggu (59,78) dan Lowa sebesar 50,38 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Desa Nyiur Indah (77,33), Lembang Matene (27,70), Pulo Madu (23,47), Lantibongan (20,80), dan Lowa sebesar 15,04 per 1000 penduduk.

LANJUTAN
Manajemen pengendalian malaria harus berorientasi kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat.  Pencegahan malaria adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi kejadian malaria sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pencegahan malaria bermaksud agar manusia (host) terhindar dari vektor (nyamuk Anopheles) yang mengandung plasmodium (agent) seperti penggunaan kelambu dan obat anti nyamuk bakar.

LANJUTAN
Upaya pencegahan dilakukan untuk meminimalkan jumlah kontak manusia dengan nyamuk melalui pemakain kelambu.  Penelitian sebelumnya telah melihat adanya hubungan antara penggunaan kelambu dengan kelambu poles dengan kejadian malaria seperti penelitian yang dilakukan oleh Sulistyo (2001) menunjukkan bahwa responden yang selama tidur tidak menggunakan kelambu mempunyai risiko terkena malaria 2,91 kali dibandingkan dengan yang selama tidur menggunakan kelambu.

LANJUTAN
 Penelitian

yang melihat keefektifan penggunaan obat nyamuk sebagai salah satu metode pengendalian nyamuk, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Vijay Kumar & Ramaiah (2008) mencatat bahwa penggunaan tindakan-tindakan perlindungan pribadi terhadap nyamuk (termasuk obat nyamuk) menurunkan prevalensi Wuchereria bancrofti microfilaraemia di India.

RUMUSAN MASALAH
 Bagaimana

efektifitas penggunaan kelambu dan obat anti nyamuk bakar terhadap penurunan angka kejadian Malaria di desa Lantibongan Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun 2012?

TUJUAN
Untuk

mengetahui efektifitas penggunaan kelambu dan obat anti nyamuk bakar terhadap penurunan angka kejadian malaria di Desa Lantibongan Kecamatan Bontosikuyu Kab. Kepulauan Selayar.

MANFAAT PENELITIAN
 Informasi  Bahan

(Pemerintah dan Masyarakat)

rujukan untuk penelitian selanjutnya pengetahuan tentang upaya

 Wawasan

pengendalian kejadian malaria.

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Penyakit Malaria  Tinjauan Umum Epidemiologi Penyakit Malaria  Tinjauan Umum tentang Timbal (Pb)  Tinjauan Umum tentang Kerang Marcia Hiantina dan Akumulasi Timbal (Pb) pada Kerang  Tinjauan Umum tentang Timbal (Pb) pada Urin Manusia  Tinjauan Umum tentang Efek Timbal (Pb) terhadap Kesehatan

KERANGKA KONSEP
 Dasar

Pemikiran Variabel yang diteliti

manusia di wilayah pesisir  logam Pb dapat berada pada perairan  Logam Pb pada air  akumulasi Pb pada kerang  Konsumsi kerang  Logam Pb dapat berada pada tubuh dan urin manusia
 Aktifitas

LANJUTAN

Pola Pikir Variabel yang Diteliti Air Laut SS

Kerang

Konsentrasi Pb TSS

Urin
Ket : SS TSS

= Sesuai Standar = Tidak Sesuai Standar

DEFINISI OPERASIONAL
Air Laut  sampel air laut yang diambil di tiga titik yang telah ditentukan.  Kerang Marcia Hiantina  organisme air yang biasa dikonsumsi oleh manusia, berwarna agak kecoklatan, memiliki cangkang yang tebal dan bernapas dengan insang yang terdapat dalam rongga mantelnya, yang diambil di tiga titik yang telah ditentukan.  Urin nelayan kerang  air seni orang yang mencari, menangkap, dan mengkonsumsi kerang Marcia Hiantina yang berasal dari tiga titik yang telah ditentukan.

KRITERIA OBJEKTIF
 Air

Laut

standar  ≤ 0,05 mg/l  Tidak sesuai standar > 0,05 mg/l
 Sesuai

 Kerang

standar  ≤ 2,0 mg/kg  Tidak sesuai standar  > 2,0 mg/kg
 Sesuai

 Urin

Nelayan Kerang

standar  < 0,15 mg/l  Tidak sesuai standar  ≥ 0,15 mg/l
 Sesuai

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian  observasional dengan menggunakan pendekatan deskriptif dengan pengujian laboratorium untuk mengetahui gambaran kandungan timbal (Pb)  hasilnya dibandingkan dengan standar baku mutu  Waktu dan Lokasi Penelitian Waktu  Januari-Februari 2010 Lokasi Penelitian  Wilayah Pesisir Kota Makassar

LANJUTAN

Populasi dan Sampel  Populasi  Semua : air laut, jenis kerang dan nelayan yang mencari kerang di Wilayah Pesisir Kota Makassar  Sampel : (Purpossive sampling)  6 botol Winkler air laut yang diambil di 3 titik yang telah ditentukan.  15 ekor (diameter 5 cm) dan 30 ekor (diameter 3 cm) kerang Marcia hiantina yang diambil di tiga titik yang telah ditentukan  beberapa orang nelayan kerang yang mencari kerang di 3 titik yang telah ditentukan.

LANJUTAN
 Tekhnik

Pengambilan Sampel

 Cara

Pengambilan sampel

Air Laut  grab sampling  saat pasang dan surut terendah air laut.  Kerang  saat surut terendah air laut  Urin Nelayan  urin 24 jam
 Letak

Titik Pengambilan Sampel

Titik 1  perkampungan Nelayan  Titik 2  sekitar PT. IKI Makassar  Titik 3  sekitar CCC Makassar

LANJUTAN
Metode Pemeriksaan  Spetrofotometri Serapan Atom (SSA)  Pengumpulan Data
 

Primer : hasil pemeriksaan laborarotium  Sekunder : buku-buku, jurnal, artikel, dan internet

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan sampel laboratorium dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan alat bantu komputer  Dianalisis secara deskriptif  standar baku mutu

Penyajian Data  tabel dan histogram stlh itu diuraikan dalam bentuk desktriptif.

KRITERIA SAMPEL URIN ≥ 20 tahun  Menangkap Kerang di Wilayah Pesisir Kota Makassar  Mengkonsumsi hasil tangkapan kerang  Ditemui di lokasi penelitian pada saat pengambilan sampel kerang  Bersedia diwawancarai dan diambil sampel urinnya.
 Umur

PETA LOKASI PENELITIAN

KET :

= TITIK PENGAMBILAN SAMPEL