DEPTH CONVERSION AND DEPTH CONTOUR MAPS

{

Keberadaan jebakan hidrokarbon dapat diketahui dengan mengamati struktur horizon puncak reservoir. menandakan adanya perubahan karakter batuan . Pada peta seismik. puncak reservoir diindikasikan dengan perubahan warna maupun amplitudo.

. yang semakin lama semakin tebal menjadi pull-down effect di dasar lapisan kedua.Model seismik buatan menggunakan 50 Hz dominant Butterworth wavelet. Penurunan kecepatan pada lapisan kedua menghasilkan sag effect.

Hasil konversi waktu vs kedalaman secara vertikal pada migrasi seismik berdasarkan interpolasi kecepatan .

.

diperoleh nilai K lokal. Apabila digunakan satu well data. Nilai Zi berdasarkan interval adalah :  𝑍𝑖 = 𝑉0 𝐾+𝑍𝑖+1 𝑒 𝐾/2(𝑇𝑖−𝑇𝑖−1)) − 𝑉0 𝐾 . V0 konstan atau divariasikan secara horisontal. dengan rumus Vz = V0 + K x Z . hasilnya tidak stabil.Konversi time-depth vertikal diperoleh beberapa tahap Model kecepatan satu lapis untuk horizon target. Sedangkan apabila digunakan kecepatan interval kecepatan dari beberapa sumur.  Model kue lapis dengan kecepatan konstan (dikenal sebagai metode ‘stretching vertical’)  Model kue lapis perbedaan kecepatan secara lateral  Model kue lapis dengan kenaikan kecepatan sebagai fungsi kedalaman .

Ekstrapolasi yang melebihi batas dapat mengakibatkan eror.Metode Vo-K menggunakan regresi linear untuk menghitung interval velocity trend (garis merah) terhadap kedalaman. Titik-titik yang berada di jauh dari garis tren dapat diabaikan karena mengganggu penhitungan. . Fungsi harus berada pada rentang kecepatan tertentu. Biasanya kecepatan interval diplot pada midpoint depth.

Midpoint depth dan kecepatan interval digunakan untuk mengetahui trend kecepatan linear trend keceptan. Well regoinal menggambarkan efek kompaksi atau timbunan. .Data kecepatan pada well menghasikan trend V0-K menggunakan kecepatan di puncak dan dasar lapisan. Trend regional berdasarkan data sejumlah sumur.

misalnya silici-clastic memiliki N = 6. N adalah konstanta yang nilainya tergantung pada area dan litologi batuan. kecepatan bergantung pada umur batuan (Faust 1951. Sedangkan A merupakan variabel area. .     Pertambahan kecepatan secara linear sebagai fungsi waktu. dapat digunakan trend kecepatan stacking. contoh : adanya garam. 1953). Densitas sampel 3D dari data kecepatan rata-rata. Persamaan Faust dapat mencapai kedalaman hingga 200 m. Wellshoot berdasarkan interpolasi kurva T-Z. Kecepatan interval dikalibrasi yang dihasilkan dari kecepatan stacking menggunakan rumus Dix (Dix 1955). Untuk interpolasi. Metode ini tidak memberikan hasil yang realistis apabila terdapat perubahan yang ekstrim. karbonat memiliki N=3. Persamaan Faust V = A x Z1/N .

Kebanyakan metode dapat berfungsi dengan baik apabila terdapat data well yang cukup. burial history. terlebih apabila area bawah permukaan yang dipetakan memiliki subsidence history yang kompleks. rongga kelebihan tekanan. fluida dalam pori batuan. Data kecepatan memberi informasi mengenai litologi. hasilnya sangat terbatas.  .Metode time-depth konvensional yang hanya berdasarkan well data. Apabila dilakukan interpolasi atau ekstrapolasi secara berlebihan. dan temperatur. fasies deposisi.  . diperoleh hasil yang tidak realistis.

Metode seismic depth conversion merupakan metode paling baik untuk melihat struktur. Error map ini hanya cocok apabila digabungkan dengan well control point. Apabila target berada pada mode banyak lapis.  Metode ini digunakan untuk menghitung kecepatan rata-rata peta dari permukaan hingga horizon target. diperlukan sejumlah error map untuk memperoleh tingkat menengah. sehingga diperlukan koreksi. namun untuk menggambarkan area di sekitarnya terkadang salah.  .

2. Kecepatan stacking ditransformasikan dalam kecepatan interval dengan menggunakan rumus Dix. . ditentukan perbedaan antara base dengan titik lain. koreksi terpenting adalah menghitung dan mengaplikasikan agar diperoleh nilai yang masih di dalam rentang survey referensi (gambar 8).Tahap-tahap survey seismik untuk memperoleh peta kedalaman horison TWT target adalah : 1. Pada area overlap. Pada tiap survey. Diperoleh konversi kedalaman sementara untuk dibandingkan ketidaksesuaiannya dengan well (gambar 7) Survey menggunakan control point minimum yang dipilih sebagai referensi dan titik statis (base). Data kecepatan dan regional TWT grid telah diinterpetasi.

.

.Backinterpolation and rigorous geostatistical analysis in the overlap areas is at the basis of the harmonisation step in velocities from the different seismic surveys.

Efek time pull up pada time section. kenaikan waktu dibanding sebenarnya semakin tinggi. Semakin dalam. .

Bila ternyata cocok dengan kondisi geologis. dapat membantu untuk melakukan grid dengan metode yang lebih canggih. . bergantung pada metode konversi time-depth yang digunakan.Kedalaman sisa koreksi terkadang memperbaiki eror yang terjadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful