Bara E.

Brahmantika 10/297296/SP/239654 Teori Politik Internasional Jurusan Ilmu Hubungan Internasional 2012

Christian Realism
Reinhold Niebuhr on Moral Man and Immoral Society

Reinhold Niebuhr : Background
 Bernama Lengkap Karl Paul Reinhold Niebuhr. Seorang theolog dari Amerika, dan juga pemikir dan komentator politik dan kebijakan publik  Seorang Pendeta beraliran kiri pada awalnya, lalu beralih dari teologi Liberalisme pada aliran NeoOrtodox  Dikenal sebagai pelopor dari prespektif Chritian Realism, sebagai reaksi dari pemikiran Utopis dari Social gospel, dan para Idealist dan Romaticism.  Menulis dua buku yang terkenal, “Moral Man and Immoral Society” dan “ The Children of Light and Children of Darkness “

On “ Moral Man and Immoral Society”
 Beberapa konsepsi yang dibahas oleh Neibuhr dalam bukunya melalui kacamata Prespektof Christian Realism  Konsep Sifat Dasar Manusia

 Konsep Moralitas dalam kehidupan Individu dan dalam Masyarakat
 Konsep Force dan Power  Konsep Justice  Konsep Negara dan Politik Internasional

Sifat Dasar Manusia
 Neibuhr melihat manusia, sebagai makhluk yang memiliki hasrat keegoisan (self-fish) namun juga memiliki sisi rasional dan moral (unselfish)  Pada satu sisi, manusia diberikan anugerah sekaligus kutukan berupa imajinasi tanpa batas. Namun imajinasi inilah sumber segala keegoisan, dimana memperbesar kerakusan manusia untuk mendapatkan sesuatu lebih dari apa yang dibutuhkan

 Namun disisi lain, amnusia juga secara alami, memiliki hasrat (impulse) yang membuat manusia memperhatikan kebutuhan manusia lainnya.

Niebuhr on Humanity
 “Human society will never escape the problem of the equitable distribution of the physical and cultural goods which provide for the preservation and fulfillment of human life. “

 “Man is endowed by nature with organic relations to his fellowmen; and natural impulse prompts him to consider the needs of others even when they compete with his own. “

Moralitas: Individu dan Masyarakat
 Bermoral dalam pandangan Niebuhr diartikan sebagai sebuah sifat atau kemampuan manusia untuk memintingkan kepentingan umum atas kepentingan pribadi

 Rasionalitas dan Kemampuan untuk merefleksi diri akan sangat menentukan moralitas dari seseorang, semakin rasional maka semakin bermoral lah ia.
 Rasionalitas mendorong manusia untuk menciptakan perdamaian dengan menegakkan keadilan, bersimpati, dan menahan ego, menjadikan mereka manusia yang bermoral

Moralitas: Individu dan Masyarakat
 Dorongan rasionalitas dan moralitas dalam unit-unit individu menjadi subordinasi dari hasrat egoisme ketika individu-individu membentuk kelompok yang besar  Dikarenakan sulit untuk menyatukan nilai nilai moral yang berbeda dalam kelompok masyrakat yang besar. Kelompok besar juga cenderung tidak reflektif dan mementingkan hasrat utama yaitu „will to survive‟ dan “will to power”

 Ide-ide moralitas dan rasionalitas individu sulit mempenetrasi masayrakat sehingga individu cenderung menerima penilaian moral masyarakat

Moralitas: Individu dan Masyarakat
 Berkelompoknya individu individu justru tidak menciptakan kekuatan moralitas sosial namun justru menciptakan egoisme kolektif

 Sehingga walau dalam hubungan intra komunitas masih adanya keteraturan dan hirarki, dalam hubungan antar komunitas yang masing-masing memiliki egoisme akhirnya menciptakan konflik dan anarkisme

Niebuhr on Morality
 “It is fair, therefore, to assume that growing rationality is a guarantee of man's growing morality.”  “The force of reason makes for justice, not only by placing inner restraints upon the desires of the self in the interest of social harmony, but by judging the claims and assertions of individuals from the perspective of the intelligence of the total community. “  “The larger the group the more certainly will it express itself selfishly in the total human community. It will be more powerful and therefore more able to defy any social restraints which might be devised. “

Konsep Kekuatan dan Kekerasan
 Kekuatan bagi Niebuhr masih lah sangat tradisional, yaitu memfokuskan pada kekuatan militer dan ekonomi untuk mendominasi  Niebuhr melihat kekuatan juga sebagai suatu hal yang berbahaya namun dibutuhkan, dapat membutakan penghlihatan moral, dan juga melemahkan tujuan moralitas  Keterbatasan manusia untuk menyatukan visi dan imajinasi setiap orang akhirnya membuat “force” menjadi hal yang penting untuk menjaga kekohesifan sosial

Kekuatan dan Kekerasan…
 Niebuhr melihat adanya kecenderungan bahwa kekuatan yang digunakan tanpa moralitas untuk menciptakan perdamaian sering kali justru menjadi menghancur perdamaian itu sendiri  Dimana perdamaian yang didasari dengan kekerasan hanya akan bertahan sebentar karena itu didasari dengan pengakomodasian/pengekangan konflik kepentingan, bukan berdasarkan rasionalitas ataupun moralitas

Kekuatan dan Kekerasan…
 Jadi menurut Niebuhr, selama masyarkat belum mampu mengatur dirinya dengan rasionalitas dan moralitas tanpa penggunaan kekerasan, maka selamanya manusia akan ada dalam keadaan “state of war” , dimana konflik akan selalu tercipta.  Sehingga dalam kedepannya, perdamian baru akan tercipta apabila adanya strategi sosial dimana moralitas dan koersifitas digunakan dalam proporsi yang sesuai.

Niebuhr on Power and Coersion
 “Since the increasing complexity of society makes it impossible to bring all those who are in charge of its intricate techniques and processes, and who are therefore in possession of social power, under complete control, it will always be necessary to rely partly upon the honesty and self-restraint of those who are not socially restrained. But here again, it will never be possible to insure moral antidotes sufficiently potent to destroy the deleterious effects of the poison of power upon character. “

Niebuhr on Power and Coercion
 “All social co-operation on a larger scale than the most intimate social group requires a measure of coercion. While no state can maintain its unity purely by coercion neither can it preserve itself without coercion. “  “Politics will to the end of history,be an area where conscience and power meet, where the ethical and coercive factors of human life will interpenetrate and work out their tentative and uneasy compromises. “

Konsep Keadilan
 Bagi Niebuhr, ketidak merataannya keadilan merupakan sumber utama konflik di dunia ini  Keadilan menurutnya adalah keadaan dimana setiap negara memiliki akses informasi dan pengetahuan yang sama untuk saling mengerti kepentingan negara lain, sehingga menciptakan pemahaman yang berimbang

 Ketidak adilan terjadi karena setiap negara memiliki interest yang berbeda-beda. Ada perbedaan hasrat dan keuntungan yang ingin diraih oleh tiap orang.

Konsep Keadilan
 Keadilan dapat ditegakkan dengan memperluas dan memperbaiki kualitas dari rasionalitas dan moralitas dari tiap tiap individu.

 Disinilah agama memiliki peran penting, agama dapat menciptakan simpati, memperluas pengetahuan tentang moralitas, dan membantu individu individu untuk mengerti konsep keadilan dan berpikir rasional

Niebuhr on Justice
 “Unfortunately the conquest of nature, and the consequent increase in nature's beneficences to man, have not eased, but rather accentuated, the problem of justice. “  “If it is true that the nations are too selfish and morally too obtuse and self-righteous to make the attainment of international justice without the use of force possible, the question arises whether there is a possibility of escape from the endless round of force avenging ancient wrongs and creating new ones “

Konsep Bangsa dan Politik Internasional
 Bangsa bagi Niebuhr merupakan masyarakat territorial, yang mana kekohesifan kekuatannya berasal dari sentimen kebangsaan dan otoritas negara  Menurut niebuhr, bangsa tidak melakukan kontak langsung dengan bangsa lain, tapi dengan melewati sistem internasional, sehingga tidak terbentuk hubungan yang etikal, seperti hubungan langsung antar indicidu. Ini lah yang menjadi sumber utama mengapa negara menjadi sangat „selfish‟

Konsep Bangsa dan Politik Internasional
 Kebutuhan untuk menggunakan kekuatan dalam menjaga persatuan nasional, dan keegosian eksploitasi kekuatan untuk memaksa yang digunakan oleh sebagain kecil kelompok yang menguasai negara akhirnya menambah keegosian negara.  Bangsa juga memiliki karakter moral yang berupa hipokrasi dan juga penipuan terhadap diri sendiri.

Konsep Bangsa dan Politik Internasional
 Hubungan natar negara dengan isfat dasar negara yang hipokrit dan egois akan sulit dilandasi dengan moralitas, sehingga kekuatan dan politik adalan hal yang dapat dijadikan landasan hubungan antara dua negara

 Sifat keegosian negara dalam mendapatkan kepentingan nasionalnya, menjadikan kerjasama atas dasar etika sulit dilakukan, kerjasama hanya dilakukan dalam kerangka untung dan rugi, dan konflik kepentingan kerap terjadi karena hal ini  Interdependensi justru akhirnya menambah permasalahan, dan demokratisasi tidak akan selalu membawa perdamaian.

Konsep Bangsa dan Politik Internasional
 Organisasi Internasional menjadi tidak effektif dalam menghilangkan konflik, karena OI menjadi media baru untuk mendominasi negara lainnya. Selain itu OI tidak memiliki mekanisme yang mampu menegakkan keadilan dan moralitas untuk menekan agresifitas negara  perubahan negara dari will to survive menjadi will to power menjadi salah satu alasan mengapa negara menjadi sangat kompetitif dan akhirnya menjadikan sistem internasional menjadi sistem yang anarki

Niebuhr on Nations and International System
 ”The will-to-power of competing national groups is the cause if the international anarchy, which the moral sense of mankind has thus far vainly striven to overcome”  “Try as he will, man seems incapable of forming an international community, with power and prestige great enough to bring social restraint upon collective egoism “  “The selfishness of nations is proverbial “

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful