You are on page 1of 15

Dyah Nuning Erawati, SP.

, MP

definisi
 Adaptasi plantet dari lingkungan yang terkendali (dalam

botol) kedalam lingkungan luar

 Adaptasi klimatis dari organisme hidup

yang dipindahkan dari lingkungan lama kedalam lingkungan yang baru
 Adaptasi bertahap kesiapan planlet dalam

menerima perubahan dari kondisi lingkungan tumbuh pada media perbanyakan in vitro kepada kondisi lingkungan tumbuh di lapang

Tahapan kritis
 Perbedaan yang sangat tajam terutama dari faktor kelembaban

dan intensitas cahaya antara lingkungan di dalam botol dan di luar botol

 Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu

dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.  Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Tahapan kritis
 Lingkungan kultur in vitro meliputi kelembaban yang

tinggi, bebas pathogen, suplai hara yang optimal, intensitas cahaya rendah dan suplai sukrosa dan media cair atau gel.
 Tanaman yang dihasilkan dengan kultur in vitro

beradaptasi pada kondisi tersebut. Ketika terekspos pada lingkungan luar, tanaman kecil ini harus dapat beradaptasi pada lingkungan yang baru. Jika transisinya terlalu keras, tanaman akan mati.

Planlet in vitro
 Daun yang dihasilkan dalam kondisi kelembaban tinggi/transpirasi

rendah, cenderung memiliki kutikula lapis lilin yang tipis dan jaringan mesofil yang lebih terbuka.  Sinar dengan intensitas rendah mengakibatkan jumlah klorofil berkurang. Juga diperkirakan bahwa proses fotosintesis dihambat oleh adanya sukrosa pada media.  Ekspos setahap demi setahap pada kondisi normal akan membuat adaptasi morfologi dan fisiologi yang membaik, yaitu hardening – off. Pengaruh gradual ini dapat dicapai dengan memodifikasi kondisi kultur sebelum transplanting, dengan cara mengontrol llingkungan selama periode transplanting.

Adaptasi Planlet
 Kelembaban in vitro relatif dapat dikurangi dengan cara

melonggarkan tutup wadah ini vitro atau dengan meningkatkan konsentrasi agar.  Pengurangan level sukrosa dan peningkatan intensitas cahaya selama beberapa minggu sebelum transplanting akan mengaktifkan sintesa klorofil dan aktifitas fotosintesis.  Perubahan serupa mungkin terjadi pada system perakaran. Selain ini, morfologi akar mungkin dipengaruhi oleh tipe hormon yang digunakan atau pH media.

Tahapan Aklimatisasi
1. Persiapan Media Tanam Bahan dan wadah tanam yang telah dipilih disiapkan terlebih dulu dan disterilkan 2. Pengeluaran Plantet & Pencucian Planlet dikeluarkan dari dalam botol secara hati2 & membersihkan sisa agar yang melekat dengan air yang mengalir. Sisa agar akan meningkatkan resiko terserang jamur atau bakteri. 3. Sterilisasi Planlet Perendaman dengan pestisida yang sesuai atau zpt/pupuk majemuk sebagai persiapan nutrisi

4. Penanaman
Penanaman bisa dilakukan langsung kedalam pot tunggal atau di persemaian terlebih dahulu tergantung tujuan dan planlet yang digunakan. Hasil penanaman disimpan pada rak yang teduh dengan intensitas sinar matahari 20-25%. 5. Pemeliharaan Penyiraman & pemupukan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pembukaan sungkup/naungan dilakukan bertahap sampai tanaman siap untuk dibuka sepenuhnya.

Seleksi planlet
Plantlet dikelompokan berdasarkan ukurannya untuk memperoleh bibit yang seragam. • Sebelum ditanam plantlet sebaiknya diseleksi dulu berdasarkan kelengkapan organ, warna, pertumbuhan, dan ukuran. • Plantlet yang baik adalah yang organnya lengkap, mempunyai pucuk dan akar, warna pucuknya hijau kuat artinya tidak tembus pandang dan pertumbuhan akar bagus.

Planlet tampak sehat dan tidak berjamur, ukuran planlet seragam, berdaun hijau segar, dan tidak ada yang menguning. • Planlet tumbuh normal, tidak kerdil, komposisi daun dan akar seimbang,

Seleksi Planlet
 Layak  Tidak layak

 MOSS SPHAGNUM

Media Tanam

Termasuk golongan Bryophyta dengan struktur lebih remah dan mampu mengikat air dengan baik sehingga melancarkan areasi dan drainase. Bersifat tdk mudah lapuk meski disiram terus dan terpapar sinar matahari namun harganya relatif mahal.  SABUT KELAPA Sebaiknya dari buah tua dengan serat yg kuat, dipotong2 & diurai agar tdk terlalu padat. Mudah & murah tetapi gampang lapuk serta mempunyai daya serap & daya simpan air yg cukup tinggi shg tdk sesuai untuk dataran tinggi. Mengandung racun (tanin) shg hrs dicuci & disteril terlebih dahulu

 PAKIS & BATUBATA

Pakis ada 2 macam, yaitu berwarna coklat dan berwarna hitam. Pakis hitam lebih tua, lebih kering, lebih padat strukturnya shg sukar menyerap air. Pakis coklat lebih muda, lebih lunak shg lebih mudah menyerap air. Kelemahannya struktur sangat remah shg mudah lapuk.Media pakis biasanya dilengkapi dengan batubata untuk menahan serapan air.
 ARANG KAYU & ARANG BATOK KELAPA

Bersifat sulit mengikat air shg sesuai untuk dataran tinggi.Arang batok kelapa berfungsi sbg penawar (buffer) zat tertentu yg tdk menguntungkan tanaman, shg sering dicampur dalam media agar untuk mengatasi browning

Arang Sekam
Arang sekam sangat baik sekali terhadap proses aklimatisasi karena mempunyai kisaran pH yang netral, remah, dan dapat mengikat air dengan cukup baik, sehingga udara bisa masuk kedalam media dan akar sehingga dapat menyerap udara dengan baik.

Pemakaian arang sekam harus diganti jika sudah terdapat nematoda-nematoda serta mikroorganisme yang dapat mengganggu proses pertumbuhan.

Lapang
 In vitro  In vivo