-Tutsi

-

Sarnengsih

Fitria Diumayani Anwar

-Anita
-Feni

Julia
Rizona

Betriana Ghea

-Firnaliza -Rahma -Namia

-Mutia
-Dola -Novi

Farina

Ackti Indra Sari

 Pengkajian

fisik keperawatan pada bayi baru lahir merupakan pengkajian fisik yang di lakukan oleh perawat untuk menilai status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru lahir, kemudian 24 jam setelah lahir dan pada waktu pulang dari rumah sakit

Adapun tujuan pengkajian yang dilakukan adalah :  Untuk mendeteksi kelainan-kelainan. - sesegera mungkin sesudah persalinan - Pemeriksaan harus difokuskan pada anomali kegenital dan masalah-masalah patofisiologi - Pemeriksaan dilakukan lebih rinci dan dilakukan dalam 24 jam setelah bayi lahir.
 Untuk

mendeteksi segera kelainan dan dapat menjelaskan pada keluarga.

 - - - Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan adalah: Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan Cuci dan keringkan tangan . buka bagian yang akan diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh . pakai sarung tangan Pastikan pencahayaan baik Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat.

Alat-alat yang dibutuhkan dalam pengkajian antara lain:  kapas  senter  termometer  stetoskop  selimut bayi  bengkok  timbangan bayi  pita ukur/metlin  pengukur panjang badan .

faktor ibu (maternal). dan neonatal. sosial. Cuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir. 2.1. 4.faktor perinatal. intranatal. Susun alat. keringkan dengan handuk bersih Memakai sarung tangan Letakkan bayi pada tempat yang rata . Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan pemeriksaan Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik. 5. faktor lingkungan. 3.

Ukur lingkar dada ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu) .Setelah itu mulai dilakukan pengkajian pada bayi dengan cara : 7. Penimbangan berat badan Letakkan kain atau kertas pelindung dan atur skala penimbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Ukur lingkar kepala Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari kepala kembali lagi ke dahi. Ukur panjang badan dari kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan. 9. Pengukuran panjang badan Letakkan bayi di tempat yang datar. 10. Hasil timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus bayi 8. Alat ukur harus terbuat dari bahan yang tidak lentur.

apakah ukuran dan tampilannya normal.. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior. Fontanel anterior harus diraba. hal ini terjadi karena adanya trisomi 21. sefal hematoma. fontanela yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus. hal ini diakibatkan peningkatan tekanan intakranial. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm. Kepala .Raba sepanjang garis sutura dan fontanel . Jika fontanel menonjol. sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak. -Perhatikan ukuran dan ketegangannya. . caput suksedaneum. sedangkan yang cekung dapat tejadi akibat dehidrasi. Perhatikan adanya kelainan kongenital .Periksa adanya tauma kelahiran misalnya.11.moulding yang buruk atau hidrosefalus.

posisi atau letak mata. Katarak kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina.12. Mata       Goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi terbuka. Pupil harus tampak bulat. Periksa jumlah. Periksa adanya sekret pada mata. mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea. 13. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down . Perhatikan juga kelainan wajah akibat trauma lahir seperti laserasi. Periksa adanya trauma seperti palpebra. paresi N.fasialis. perdarahan konjungtiva atau retina.Perhatikan kelainan wajah yang khas seperti sindrom down. Wajah Wajah harus tampak simetris. Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna. Periksa adanya glaukoma kongenital.

Bayi harus bernapas dengan hidung. Ketidaksimetrisan bibir menunjukkan adanya palsi wajah. bibir harus berbentuk dan simetris. terutama pada persambungan antara palatum keras dan lunak Perhatikan adanya bercak putih pada gusi atau palatum Periksa lidah apakah membesar atau sering bergerak. hal ini kemungkinan adanya sifilis kongenital Periksa adanya pernapasan cuping hidung.14. jika cuping hidung mengembang menunjukkan adanya gangguan pernapasan 15. Bayi dengan edema otak atau tekanan intrakranial meninggi seringkali lidahnya keluar masuk (tanda foote) . fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring Periksa adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah . adanya gigi atau ranula (kista lunak yang berasal dari dasar mulut) Periksa keutuhan langit-langit. jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas akarena atresia koana bilateral.5 cm. pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2. Hidung     Kaji bentuk dan lebar hidung. Mulut      Perhatikan mulut bayi. Mulut yang kecil menunjukkan mikrognatia Periksa adanya bibir sumbing.

Pergerakannya harus baik. . tulang rawan sudah matang Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagian atas Perhatikan letak daun telinga.16. Periksa adanya pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis Adanya lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (Pierre-robin) Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal 17. Telinga     Periksa dan pastikan jumlah. Leher      Leher bayi biasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pad fleksus brakhialis Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan. bentuk dan posisinya. Pada bayi cukup bulan.

garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormaltas kromosom. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili Telapak tangan harus dapat terbuka. paresis diafragma atau hernia diafragmatika. Periksa jumlah jari. seperti trisomi 21 Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan 20. Klavikula  Raba seluruh klavikula untuk memastikan keutuhannya terutama pada bayi yang lahir dengan presentasi bokong atau distosia bahu. Periksa kemungkinan adanya fraktur 19.18. Pernapasan yang normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks. periksa dengan cara meluruskan kedua lengan ke bawah Kedua lengan harus bebas bergerak. Tangan     Kedua lengan harus sama panjang. Pada bayi cukup bulan. puting susu sudah terbentuk dengan baik dan tampak simetris . Dada   Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas.

jika sampai 48 jam belum keluar kemungkinan adanya mekonium plug syndrom. Genetalia      Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1.3 cm. omfalokel atau ductus omfaloentriskus persisten 22. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosisPeriksa adanya hipospadia dan epispadia Skrortum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia minora Lubang uretra terpisah dengan lubang vagina 23. megakolon atau obstruksi saluran pencernaan . Kaji adanya pembengkakan Jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika Abdomen yang membuncit kemungkinan karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis.21. kaji posisinya. Anus dan rectum  Periksa adanya kelainan atresia ani. Abdomen     Abdomen harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada saat bernapas. Periksa posisi lubang uretra. Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama.

. pembengkakan. Tungkai Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. lesung atau bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abdormalitas medula spinalis atau kolumna vertebra. Spinal Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi. Periksa adanya polidaktili atau sidaktili pada jari kaki 25. Periksa panjang kedua kaki dengan meluruskan keduanya dan bandingkan Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas.24. cari adanya tanda-tanda abnormalitas seperti spina bifida.

jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan 27. Rapikan bayi 29.26.Kulit  Perhatikan kondisi kulit bayi. Ø Periksa adanya ruam dan bercak atau tanda lahir Ø Periksa adanya pembekakan Ø Perhatinan adanya vernik kaseosa Ø Perhatikan adanya lanugo. Lakukan pendokumentasian tindakan dan hasil pemeriksaan . Bereskan alat 30. jelaskan pada ibu atau kelurga tentang hasil pemeriksaan 28.

Penilaian awal 1. Jantung. Apgar score ditemukan oleh Dr. . warna. frek. Apgar Score  Apgar Score merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel (pernafasan. Virginia Apgar (1950). pucat/biru? 2. Nilai kondisi bayi Apakah bayi menangis kuat/bernapas tanpa kesulitan? Apakah bayi bergerak dengan aktif/lemas? Apakah warna kulit bayi merah muda . tonus otot & iritabilitas reflek).

urutan pengukuran pasien mengikuti arah dari kepala sampai kaki. Fungsi utama pendekatan sistematik ini adalah memberikan pedoman umum dalam mengkaji setiap daerah tubuh untuk meminimalkan adanya bagian yang terlewatkan dalam pemeriksaan.Urutan Pemeriksaan  Biasanya. .

bagi anak penggunaan manset yang terlalu ketat pada lengan. probe dalam telingan dan mulut. . Pemeriksaan fisik harus dilakukan semenyenangkan mungkin. dan mendengarkan pada dadanya dengan keping logam yang dingin dapat dianggap sangat menyiksa.Persiapan Anak  Walaupun pemeriksaan fisik terdiri atas prosedur yang tidak menyakitkan. penekanan abdomen.

dengan tumit. Agar lebih akurat gunakan stadiometer. Tinggi tinggi dinyatakan sebagai pengukuran yang dilakukan ketika anak berdiri tegak.pantat dan bagian belakang bahu menyentuh dinding.Pengukuran pertumbuhan a. Pemeriksaan Fisik .1. minta anak. melepas sepatu. pastikan punggung anak menempel pada dinding atau permukaan datar lain. .dengan kepala pada garis tengah dan garis pandang sejajar dengan langit-langit atau lantai.berdiri setegak dan setinggi mungkin.

c.5 cm.1 cm kerena grafik persentil hanya berskala 0. Berat badan Berat badan diukur dengan timbangn yang sesuai.b. . Lingkar Kepala Lakukan pengukuran lebih dari satu kali pada titik di atas alis mata untuk mendapatkan hasil pengukuran yang lebih supaya hasil pengukuran benar-benar akurat gunakan alat pengukur dengan skala yang lebih kecil 0.

2. Pernafasan  Hitung frekuensi pernafasan dengan cara seperti pada pasien dewasa. Tekanan Darah  Alat ukur metode pengukuran TD yang paling umum menggunakan auskultasi dan sfingmomanometer air raksa atau aneroid. . Nadi  agar keakuratan lebih tinggi ukur frekuensi denyut apikal ketika anak sedang tidur catat perilaku anak bersamaan dengan frekuensi jantung.aksila. Pengukuran Fisiologis Suhu  rute oral.suhu normal tubuh adalah 37 C(96 F)melalui rute oral.rektal.kulit atau membran timpani.

dan tipe pergerakan tubuh menandakan adanya kelainan fungsi tubuh dan keadaan mental  Perhatikan hygiene anak ( bau tubuh. sikap. prilaku.  Perhatikan mimik atau ekspresi wajah dan penampilan  Observasi postur. respon terhadap stimulus dan tingkat kesadaran . leher. kuku. stress. rambut. Penampilan Umum Penampilan umum anak merupakan kesan subjektif dan kumulatif penampilan fisik anak. permintaan. status nutrisi. posisi.3. gigi. interaksi dengan orangtua dan perawat. kaki dan pakaian)  Perhatikan penampilan umum termasuk kesan secara keseluruhan untuk menandakan nutrisi  Amati prilaku anak ( aktivitas. kepribadian. interaksi dengan orang lain. serta kemampuan bicara. postur tubuh dan perkembangan.

Catat adanya titik-titik kebotakan atau penipisan rambut. tekstur. kulit akan tetap bertahan ketika ditarik selama beberapa detik sebelum kembali ke abdomen. kulit bersisik. massa. distribusi. Inspeksi rambut dan kulit kepala untuk mengetahui kebersihan secara umum. agak halus. Pengkajian Kulit  Inspeksi Warna kulit. Catat adanya perbedaan suhu.  Turgor jaringan/tingkat elastisitas kulit dengan cara menarik kulit abdomen antara telunjuk dan ibu jari. Periksa apakah ada lesi. dan kualitas kuku  . Inspeksi warna.  Suhu. adanya kutu atau tungau.   Struktur Asesorius Inspeksi dapat dilakukan ketika kulit sedang diperiksa atau ketika mengkaji kulit kepala dan ekstremitas. menariknya menjadi satu dan lepaskan dengan cepat. Jaringan yang elastic akan kembali normal dengan cepat.  palpasi Tekstur kulit anak yang masih kecil sangat halus. dan tidak berminyak atau lembap. atau jaringan parut.4. rasakan setiap bagian tubuh secara simetris dan bandingkan bagian tubuh atas dengan bawah. tekstur. Pada anak dengan turgor kulit yang buruk. Inspeksi warna. tanda-tanda trauma seperti ekimosis. dan elastisitas rambut. kualitas. bentuk.

5. Catat ukuran. .  Palpasi nadi aksila dengan cara lengan relaks pada sisi tubuh tetapi agak abduksi . Pengkajian Kelenjar Limfe  Palpasi kelenjar dengan menggunakan bagian distal jari dan secara lembut namun tegas. mobilitas. angkat kepala anak sediikit ke atas tetapi tanpa meregangkann otot sternokleidomastoideus atau trapezius. tekan dengan gerakan melingkar sepanjang letak normal kelenjar tersebut. juga laporan orang tua tentang adanya perubahan pembesaran kelenjar. Selama pengkajian kepala dan leher. dan nyeri tekan. suhu.

Evaluasi rentang gerak dengan meminta anak yang lebih besar untuk melihat ke setiap arah atau secara manual lakukan pada anak yang lebih kecil.6.  Observasi kesimetrisan. pergerakan dan penampilan umum wajah. Minta anak untuk mengeksresikan wajahnya untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan atau mengetahui derajat paralisis. Pengkajian KEPALA DAN LEHER  Observasi bentuk dan simetris kepala secara umum. . Inspeksi ukuran leher dan palpasi leher untuk mengetahui struktur yang berhubungan.

kelopak mata harus ada dekat iris. Ketika mata terbuka.Peradangan .Inspeksi konjungtiva. . 7.Kebersihan . Catat pengeluaran air mata yang berlebih. dan pergerakan pupil . bentuk. Ketika mata tertutup. kelopak mata harus menutupi kornea dan sklera.Inspeksi penempatan kelopak yang tepat pada mata. Mata : .kornea - Bandingkan ukuran. Inspeksi kondisi sklera.

Pengkajian telinga Inspeksi permukaan kulit di sekitar telinga untuk mengetahui adanya lubang kecil. . tonjolan tambahan kulit. Pengkajian hidung  Bandingkan penempatan dan kesegarisannya (simetris).Struktur . atau sinus. yang menandakan kesulitan dalam bernafas. Catat lokasi hidung .Cairan serta Tanda peradangan 9. Observasi alae nasi apakah ada tanda-tanda pernafasan cuping hidung. Kaji juga hygiene telinga. adanya deviasi pada salah satu sisi dan asimetris pada ukurannya secara keseluruhan dan diameter dari nares.8.

Tempatkan spatel lidah disepanjang sisi lidah.  Bila diperlukan gunakan spatel. . dan mengatakan ahh yang dapat menekan lidah untuk melihat secara penuh bagian belakang mulut. Pengkajian Mulut dan tenggorokkan  Minta anak membuka mulutnya lebar-lebar. menggerakan lidah kearah yang berbeda untuk visualisasi penuh. Untuk melihat mukosa mulut minta anak menggunakan jarinya untuk menggerakan bibir dan pipi bagian luar ke salah satu sisi. bukan pada daerah tengah belakang yang dapat merangasang reflek muntahKaji kesemetrisan pada saat anak bicara atau menangis.10.

dan catat rentang kedua pengukuran tersebut.Resonansi.Sputum. bentuk. Kaji Batuk. 11. perkembangan payudara. lakukan dengan dua pengukuran. pergerakan. yang pertama selama inspirasi dan kedua selama ekspirasi. - - Dada : Inspeks dada untuk mengetahui ukuran. Agar keakuratnya tinggi.dan Bunyi napas tambahan . dan adanya gambaran tulang pada dada yang dibentuk oleh sternum dan tulang iga Ukur ukuran dada dengan cara menempatkan pita pengukur disekeliling rangka dada pada garis putting. kesismetrisan. Bunyi napas.

Anak harus duduk selama prosedur ini dan jika kooperatif.Setiap sisi dada diperkusi dengan urutan yang sesuai untuk membandingkan bunyinya.12. .Evaluasi pergerakan pernapasan dengan meletakan kedua telapak tangan mendatar pada bagian punggung atau dada ke dua ibu jari berada pada garis tengah sepanjang pinggir iga bagian bawah paru. Auskultasi melibatkan penggunaan stetoskop untuk mengevaluasi suara nafas. . Inspeksi paru terutama meliputi observasi pergerakan pernafasan . Pengkajian paru .

Pengkajian Jantung  Inspeksi paling baik dilakukan pada anak yang duduk dalam posisi semi fowler. impuls jantung paling lateral yang dapat berhubungan dengan apeks  Auskultasi bunyi jantung .13. bandingkan kedua sisi rangka dada satu sama lain  Lakukan palpasi untuk menetukan lokasi impuls apical. Perhatikan dinding dada anterior dari suatu sudut.

. seperti kista.14. . kemudian palpasi.Auskultasi bunyi peristaltis atau bising usus. dengan lembut tempatkan tangan pada kulit dan rasakan setiap kuadran.palpasi superficial . perhatikan adanya area yang terasa nyeri. tonus otot. Bising usung dapat distimulasi dengan cara menggetarkan permukaan abdomen dengan kuku jari tangan .Inspeksi konter abdomen dengan anak pada posisi tegak dengan telentang . Pengkajian Abdomen Pemeriksaan abdomen meliputi inpspeksi. dan lesi superficial. diikuti dengan auskultasi.

. anak perempuan Pemeriksaan genitalia perempuan terbatas pada inspeksi dan palpasi struktur eksterna . dan skrotum. Anak laki-laki .Distribusi rambut juga harus diperhatikan. inflamasi.) . tanda-tanda pembengkakan. atau ketidakteraturan lainnya. Pada remaja. inspeksi genetalia dapat dilakuakan pada bagian akhir pemeriksaan. perpisium.Catat penampilan eksterna glans dan dan bagian penis. lesi kulit. meatus uretra.Lokasi Meatus uretra diinpeksi secara hati-hati dan apakah ada tanda-tanda keluaran.15. Pengkajian Genetalia Pemeriksaan Genetalia lebih nyaman dilakukan mengiringi pengkajian abdomen pada saat masih dalam posisi masih telentang. (ukuran.

perhatikan ketidaksimtrisan bahu dna pinggul. Pengkajian Anus  Inspeksi penampilan umum. 2. Observasi dari belakang. kondisi kulit. observasi dari samping. Perhatikan kepadatan Bokong lipatan gluteal simetris. Kontraksi cepat sfingter anal eksterna. tahi lalat. 17. terutama sepanjang spina apakah ada kumpulan rambut. tidak ada protusi rektum. atau pemucatan . dengan anak membungkuk kedepan sehingga punggung paralel dengan lantai. perhatikan adanya ketidaksimetrisan atau tonjolan rangka iga.16. Reflek anal: munculkan dengan mengerutkan atau meregangkan area perianal dengan perlahan. Pengkajian Punggung dan Ekstremitas Spina  Kelengkungan umum spina diperhatikan.  Inspeksi bagian punggung.dengan anak pada posisi berdiri tegak dan hanya mengenakan pakaian dalam. 1.

tonus. nyeri tekan. yang harus sama pada setiap ekstremitas. Lokasi yang umum untuk memeriksa tonus otot adalah otot bisep lengan. walaupun kaki normalnya lebih dingin dari pada tangan. Sendi  Evaluasi sendi untuk mengetahui rentang geraknya.  Inspeksi kesimetrisan panjang dan ukuran masing-masing ekstremitas  Hitung jumlah jari tangan dan kaki untuk memastikan jumlahnya normal. . Anak biasanya bersedia untuk menunjukan ototnya dengan cara mengepalkan tangannya. Tanda-tandanya selalu kemerahan. Adanya jari tambahan (polidaktili) atau fusi jari (sindaktili).  Inspeksi suhu dan warna lengan dan kaki. Kaji bentuk tulang. dan kekuatan otot. Otot  Perhatikan kesimetrisan dan kualitas perkembangan otot.Ekstremitas. dan pembengkakan. Palpasi sendi apah ada rasa panas.

Refleks tendon yang paling umum adalah hentakan lutut atau refleks patela (refleks quadrisep).18. Refleks tendon dalam merupakan refleks peregangan dari suatu otot.Jika anak mudah takut dengan peralatan. Pengkajian neurologis  Refleks Pemeriksaan refleks dilakukan dengan menggunakan palu refleks . . gunakan tangan atau jari anda.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful