Emmerich de Vattel

Gede Resnadiasa 10/296269/SP/23822

Sejarah
 Terlahir di Swiss pada

tahun 1714, Emerich de Vattel bekerja sebagai diplomat untuk raja di Kerajaan Saxony. Pada tahun 1758, ia menerbitkan sebuah buku panduan untuk negarawan dengan judul asli Le driot des gens (The Law of Nations).

The Law of Nations
Dalam buku yang ditulis oleh de Vattel ada beberapa pandangan yang diungkapkan dan menginspirasi sampai saat ini :
 Arti negara yang merupakan kumpulan dari individual yang

menyatukan kekuatan untuk mendapatkan keselamatan bersama dan kuntungan bagi mereka  Vattel kemudian mengartikan Law of Nations sebagai suatu pengetahuan atau ilmu yang mengajarkan tentang hak hidup dari bangsa atau negara dan kewajiban yang memiliki korespondensi terhadap hak-hak tersebut.  Negara sangat membutuhkan pengetahuan tentang kewajiban yang sudah melekat dalam dirinya, untuk membuat negara menghindari penyimpangan dari pelaksanaan kewajiban ini, dan juga bisa lebih memahami haknya atau apa yang dia terima secara hukum dari negara lain

Cont‟d
 Vattel

menulis bahwasannya semua negara memiliki hak untuk berperang (jus ad bellum). Hak ini, menurutnya, tidaklah tunduk pada kekuasaan yang lebih tinggi, karena „kedaulatan dari masyarakat merupakan sebuah efek alamiah dari organisasi sosial mereka‟. Vattel juga membatasi kegiatan-kegiatan yang boleh dilakukan saat berperang (jus ad bello). Berbeda dari pemikir Just War sebelumnya, Vattel membatasi perang pada garis cita-cita dan kemanusiaan, bukannya pada lingkup agama, sehingga ia menolak keras akan

Cont‟d
 Setuju dengan pendapat Grotius tentang perang antara

semua warga negara dari kedua belah pihak yang berselisih/berperang, tetapi tidak semua warga negara memiliki kontribusi langsung terhadap jalannya peperangan, Vattel memberi beberapa golongan yang masuk dalam non kombatan, yaotu : wanita, lansia, guru, anak-anak, pendeta.  Vattel membela hak negara untuk berperang (jus ad bellum) dan memperbanyak aturan berperang (jus ad bello), namun ia menggunakan prinsip sekulerisme. Karyanya hampa dengan kekristenan, pertimbangan moral diganti olehnya dengan pertimbangan praktis, sementara term teologi digantikan oleh ‘ideals and rights’  Tidak peduli sebuah negara berukuran besar maupun kecil, kuat maupun lemah, mereka tetap terhitung sebagai sebuah negara yang memiliki kedaulatan, sama halnya seperti manusia, walaupun dengan ukuran kecil

Of War
 Vattel

menolak pemikiran bahwa alasan penaklukan, perampasan kekayaan dan perbedaan agama sebagai just war.
untuk penyebab perang yang mendasar adalah adanya kehilangan atau luka yang didapat oleh negara yang diserang. Jadi, negara tersebut bisa menyerang balik dengan alasan ini.

 Kemudian

Citizenships
Dalam bukunya, de Vattel memiliki satu bab tentang warga negara yang memberikan ide-ide dasar tentang pemberian kewarganegaraan pada individu, adapun beberapa pandangannya adalah sebagai berikut :
 “The natives, or natural-born citizens, are those born

in the country, of parents who are citizens.” Hal ini memperlihatkan tentang warga negara yang ditentukan oleh kelahiran dan kewarganegaraan dari orang tuanya  Vattel kemudian membuat pandagannya bahwa masyarakat yang ada nantinya akan dgantikan oleh anak-anaknya yang seharusnya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, pendekatan yang cukup paternalistis

Cont‟d
Kemudian dibahas juga tentang naturalisasi kewarganegaraan dari orang asing menjadi warga negara satu negara
 “A nation, or the sovereign who represents it, may

grant to a foreigner the quality of citizen, by admitting him into the body of the political society.”

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful