You are on page 1of 37

PIMPINAN PERSALINAN

ROI HOLAN AMBARITA 0718011080
12/14/2012

1

PERSALINAN
 Proses  Proses

dinamik

fisiologis, namun berpotensi untuk menjadi patologis bagi Ibu dan atau Bayi

PIMPINAN PERSALINAN
12/14/2012

2

A. KALA I
 Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus

yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm).  Tanda-tanda kala I:  Penipisan dan pembukaan serviks  Kontraksi uterus, frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit  Keluarnya lendir bercampur darah (“show”) dari vagina
12/14/2012

3

Kontraksi Uterus

Keluar “Show”
12/14/2012

4

 Kala I dibagi menjadi fase laten dan fase aktif.  Fase laten: berlangsung hingga serviks

membuka kurang dari 4 cm, berlangsung sekitar 8 jam.  Fase aktif : pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Kontraksi pada fase aktif dianggap memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik.  Kecepatan pembukaan serviks rata-rata 1 cm per jam (nulipara) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm perjam (multipara).
12/14/2012

5

Fase aktif terbagi atas :  Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.  Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.  Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).

12/14/2012

6

Dilatasi Serviks

12/14/2012

7

 Selama persalinan berlangsung dilakukan pemantauan kondisi ibu dan janin.
 Hasil pemantauan dicatat dalam partograf.

 Hal-hal yang perlu dipantau: kemajuan persalinan, keadaan ibu, dan keadaan janin.
 His dikontrol tiap 30 menit pada fase aktif,

pemeriksaan dalam tiap 4 jam, dan pemeriksaan luar tiap 2 jam.  Keadaan ibu meliputi tanda vital, status kandung kemih, dan asupan makan, dikontrol tiap 4 jam.  Keadaan janin diperiksa dengan memeriksa DJJ tiap 30 menit
12/14/2012

8

 Dalam kala I pekerjaan dokter/bidan, atau penolong persalinan ialah mengawasi wanita in partu sebaik-baiknya dan melihat apakah semua persiapan untuk persalinan sudah dilakukan.  Pada kala I, apabila kepala janin telah masuk sebagian ke dalam pintu atas panggul serta ketuban belum pecah, wanita tersebut dapat duduk atau berjalan-jalan di sekitar kamar bersalin.  Dan dianjurkan ketika merasakan sakit pada his, sebaiknya berbaring ke sisi tempat punggung janin berada. Cara ini mempermudah turunnya kepala dan putaran paksi dalam.
9

12/14/2012

 Selain pemeriksaan luar seperti yang tersebut di

atas, pada kala I juga dapat di lakukan pemeriksaan dalam (pemeriksaan rektal dan per vaginam).  Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai : 1) Vagina, terutama dindingnya, apakah ada bagian menyempit. 2) Keadaan serta pembukaan serviks. 3) Kapasitas panggul. 4) Ada / tidaknya penghalang pada jalan lahir. 5) Sifat Fluor albus dan apakah ada alat yang sakit (Bartholinitis, Urethritis). 6) Pecah tidaknya ketuban; 7) Presentasi kepala janin; 8) Turunnya kepala dalam ruang panggul; 9) Penilaian besarnya kepala terhadap panggul; 10) Apakah partus telah mulai.  Dalam kala I wanita in partu dilarang mengedan, sebaiknya ia diberi klisma (enema) supaya rektumnya kosong.
12/14/2012

10

B. KALA II
 Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap. Berakhir pada        

saat bayi telah lahir lengkap. His menjadi lebih kuat, lebih sering (4-5 kali dalam 10 menit), lebih lama (40-50 detik), sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. Peristiwa penting: Bagian terbawah janin (pada persalinan normal: kepala) turun sampai dasar panggul (di Hodge III). Ibu timbul perasaan/refleks ingin mengejan yang makin berat. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik). Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar/hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi). Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam
12/14/2012

11

12/14/2012

12

Diagnosis Kala II
 Pembukaan serviks telah lengkap  Terlihatnya bagian kepala bayi pd introitus

vagina

12/14/2012

13

Fase kala II (Aderhold dan robert)
 Fase I : fase tenang,

mulai dari pembukaan lengkap sampai timbul keinginan untuk meneran  Fase II : fase peneranan, mulai dari timbulnya kekuatan untuk meneran sampai kepala crowning (lahirnya kepala)  Fase III : fase perineal, mulai sejak crowning kepala janin sampai lahirnya seluruh badan bayi
12/14/2012

14

Mengejan
 Sangat kuat dengan durasi 60-70 detik, 2-3

menit sekali  Sangat sakit dan akan berkurang bila meneran  Kontraksi mendorong kepala ke ruang panggul yang menimbulkan tekanan pada otot dasar panggul sehingga timbul reflak dorongan meneran
12/14/2012

15

C. KALA III (KALA URI)
 Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. Berakhir dengan   

lahirnya plasenta. Kala III merupakan periode paling kritis untuk mencegah perdarahan postpartum. Kelahiran plasenta: lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya: mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi/marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar/di atas pusat. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.
12/14/2012

16

 Untuk mengetahui apakah plasenta telah

lepas dari tempat implantasinya, dipakai beberapa perasat antara lain : 1. Perasat Kustner 2. Perasat Strassmann 3. Perasat Klein 4. Perasat Crede

12/14/2012

17

1. Perasat Kustner: tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri menekan daerah di atas simfisis. Bila tali pusat masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta belum lepas dari dinding uterus. Sebaliknya bila tetap atau tidak masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta lepas dari dinding uterus. 2. Perasat Strassmann: tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri mengetok-ngetok fundus uteri. Bila terasa getaran pada tali pusat yang diregangkan, berarti plasenta belum lepas dari dinding uterus. Sebaliknya bila tidak terasa getaran, berarti plasenta telah lepas dari dinding uterus.
12/14/2012

18

3. Perasat Klein: wanita tersebut disuruh mengedan. Tali pusat tampak turun ke bawah. Bila pengedanannya dihentikan dan tali pusat masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta belum lepas dari dinding uterus. 4. Perasat Crede: dengan cara memijat uterus seperti memeras jeruk agar supaya plasenta lepas dari dinding uterus. Cara ini hanya dapat dipergunakan bila terpaksa misalnya perdarahan. Perasat ini juga dapat mengakibatkan kecelakaan perdarahan postpartum dan sukar dikerjakan pada orang gemuk.
12/14/2012

19

D. KALA IV
 Yaitu sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan

observasi.  Sebelum meninggalkan wanita postpartum, harus diperhatikan beberapa hal, yaitu:  kontraksi uterus harus baik  tidak ada perdarahan dari vagina atau alat genital lainnya  plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap  kandung kemih harus kosong  luka-luka perineum terawat dengan baik dan tidak ada hematom  bayi dan ibu dalam keadaan baik.
12/14/2012

20

PIMPINAN PERSALINAN

12/14/2012

21

 Dalam pimpinan persalinan, ada yang disebut pimpinan persalinan biasa bagi calon ibu yang keadaan psikisnya kebanyakan masih

labil. Ada perasaan takut, cemas dan lain-lain.  Dari ini yang diharapkan calon ibu adalah penolong yang dapat dipercayai yang dapat memberikan bimbingan dan keterangan mengenai keadaannya.  Setelah semua dipersiapkan dan keadaan mengizinkan, maka dimulai pimpinan persalinan.
12/14/2012

22

A. PIMPINAN KALA I
 Dalam kala I kegiatan kita ialah: 1)Memeriksa pasien dengan teliti

2)Melakukan observasi yang cermat apakah segala sesuatunya berlangsung dengan baik 3)Mempertahankan pasien dan moril pasien  Dalam kala I terdapat pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam, pemeriksaan dalam merupakan pemeriksaan penting dalam persalinan.  Bahaya cara pemeriksaan dalam ialah bahaya toucher yaitu menyebabkan infeksi, maka waktu melakukan toucher kita harus berusaha memperkecil kemungkinan infeksi.
12/14/2012

23

 Adapun hal-hal yang diperhatikan pada pemeriksaan

dalam: 1) Keadaan perineum 2) Sistokel dan rektokel 3) Pengeluaran pervagina 4) Serviks 5) Ketuban 6) Presentasi, titik penunjuk, dan posisi 7) Turunnya kepala 8) Pemeriksaan panggul 9) Tumor jalan lahir  Dalam kala I pengawasan dilakukan setiap 3 jam. Semakin maju persalinan, pengawasan lebih sering.  Pekerjaan menolong dalam kala I mengawasi wanita in – partu sebaik-baiknya serta menanamkan semangat diri kepada wanita ini bahwa proses persalinan adalah fisiologis.
12/14/2012

24

B. PIMPINAN KALA II
 Dalam kala II penting untuk memperhatikan asepsis dan

anti sepsis. Kalau ketuban belum pecah harus dipecahkan. Supaya usaha mengejan efektif, pasien perlu dibimbing waktu mengejan. Mengejan hanya dibolehkan waktu his.  Persiapan penolong menghadapi lahirnya anak yaitu: Pasien kemudian dipersiapkan untuk kelahiran anak dengan memasang kain steril pada saat melahirkan kepala. Pada saat kepala tampak sebesar 6 – 8 cm, yaitu kira-kira waktu kepala akan keluar pintu, maka tangan kanan yang tertutup dengan kain steril mencari dagu anak pada perineum posterior dan dengan tangan ini ditolak ke depan, sedangkan tangan kiri menahan kepala untuk mengatur kecepatan lahirnya kepala.
12/14/2012

25

 Setelah kepala anak lahir, bahu biasanya lahir

secara spontan, mula-mula bahu belakang, kemudian bahu depan.  Kalau perlu membantu lahirnya bahu, maka kepala dipegang dengan 2 tangan, kepala ditarik ke bawah sampai bahu depan ada di bawah symphysis kemudian kepala ditarik ke atas untuk melahirkan bahu belakang.

12/14/2012

26

 Memimpin mengejan : 1) Mengejan bersifat refleksi dan akan terjadi dengan sendirinya, tetapi ada beberapa

penderita yang perlu bimbingan karena pengejanan tidak efektif. Untuk itu perlu diberi nasehat, bahwa mengejan hanya diperbolehkan sewaktu ada his dan pembukaan lengkap. 2) Pasien ditidurkan terlentang, kedua kaki difleksikan, kedua tangan memegang kaki atau memegang tepi tempat tidur sebelah atas. Bila keadaan janin kurang baik, penderita mengejan dalam posisi miring.
12/14/2012

27

 3) Pada permukaan his, penderita disuruh menarik nafas dalam, tutup mulut, mengejan sekuat-kuatnya dan selama mungkin. Bila his masih kuat, setelah menarik nafas pengejanan dapat diulangi lagi. Bila his tidak ada, penderita beristirahat, menunggu datangnya his berikutnya. 4) Bunyi jantung janin pada kala II ini harus diperiksa setiap 10 – 15 menit di antara dua his, bila ada kelainan bunyi jantung janin pemeriksaan dilakukan lebih sering. Nadi diawasi karena nadi yang cepat menunjukkan kelelahan, dan perlu dipikirkan apakah pengejanan masih dapat dilanjutkan.
12/14/2012

28

 Pada Kala II umumnya kepala janin telah masuk dalam ruang panggul. Bila kepala janin sampai di

dasar panggul, vulva mulai terbuka; rambut kepala kelihatan tiap his kepala lebih maju, anus terbuka, perineum meregang. Penolong harus menahan perineum dengan tangan kanan beralaskan kain kasa atau kain doek steril, supaya tidak terjadi robekan.  Pada Kala II ada 3 hal yang dapat dilakukan seperti : 1) Episiotomi 2) Perasat Ritgen
12/14/2012

29

C. PIMPINAN KALA III
 Pada Kala III tugas kita ialah : -Pengawasan terhadap perdarahan.

-Mencari tanda-tanda pelepasan plasenta dan kalau sudah lepas, kita segera melahirkannya.  Kalau tidak ada perdarahan dan konsistensi rahim keras, maka kita hanya melakukan pengawasan dengan meletakkan tangan pada fundus untuk mengetahui apakah fundus naik karena berisi darah atau konsistensi rahim berubah.  Pada kala III diminta pimpinan yang cermat, karena dalam kala III dapat terjadi perdarahan yang berbahaya.
12/14/2012

30

 Segera sesudah anak lahir, anak diurus dan tali pusat di klem. Biasanya, rahim yang telah menyelesaikan tugas berat mengeluarkan anak, akan beristirahat beberapa menit.  Dalam masa istirahat tugas penolong adalah : 1) Memeriksa keadaan si ibu tentang : Status lokalis obstetrik dengan cara palpasi fundus uteri dan konsistensinya.

Memeriksa keadaan vital ibu : tensi, nadi dan pernafasan. 2) Mengawasi pendarahan. 3) Mencari tanda-tanda pelepasan uri, kalau sudah lepas segera melahirkannya. 4) Menyuruh ibu mengedan. 5) Memberikan tekanan pada fundus uteri.
12/14/2012

31

 Pengawasan pada kala pelepasan dan

pengeluaran uri ini cukup penting, karena kelalaian dapat menyebabkan resiko perdarahan yang dapat membawa kematian.  Kala III terdiri atas 2 fase: 1) Fase pelepasan uri 2) Fase pengeluaran uri

12/14/2012

32

D. PIMPINAN KALA IV
 Pada kala IV tugas kita ialah : - Mengawasi perdarahan post partum.

- Menjahit robekan perineum. - Memeriksa bayi.  Setelah plasenta lahir hendaknya plasenta diperiksa dengan teliti apakah lengkap, caranya dengan meletakkan plasenta pada telapak tangan dan diamati apakah kotiledon dan ketuban lengkap.  Bila darah yang keluar melebihi 500 cc menandakan adanya perdarahan post partum.  Bila fundus uteri naik dan uterus mengembang, perlu dipikirkan perdarahan akibat atonia uteri.
12/14/2012

33

 Pada kala ini penolong tidak boleh meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa ulang dulu dan memperhatikan 7

pokok penting: 1) Kontraksi rahim : baik atau tidak, dapat diketahui dengan palpasi. 2) Perdarahan: ada atau tidak; banyak atau biasa. 3) Kandung kencing harus kosong. 4) Luka-luka : jahitannya baik atau tidak, ada pendarahan atau tidak. 5) Uri dan selaput ketuban harus lengkap. 6) Keadaan umum ibu. 7) Bayi dalam keadaan baik.
12/14/2012

34

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROGNOSIS PERSALINAN

 Umur Pasien

 Paritas
 Interval antara persalinan  Serviks yang kaku  Besarnya anak
12/14/2012

35

PROGNOSIS PERSALINAN
 Power   Passage

: - His - Tenaga mengedan : Panggul baik / sempit

 Passanger : - Berat bayi

- Posisi / Presentasi
: Ibu
12/14/2012

 Personal : Penolong  Psychis

36

12/14/2012

37