You are on page 1of 23

Stroke Hemoragik Batang Otak

Mirza Ariandi
Pembimbing: DR. dr. Imran, Sp.S

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA 2012

Pendahuluan
• 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi • Perdarahan intra serebral terhitung sekitar 10 - 15% dari seluruh stroke dan memiliki tingkat mortalitas lebih tinggi dari infark serebral • 80% di hemisfer otak dan 20% di batang otak dan serebelum. • Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat.

berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak sepintas. sehingga terjadi perdarahan di otak. Umumnya terjadi pada saat pasien melakukan aktivitas. Terjadi perdarahan dan penurunan kesadaran bersifat nyata . lebih dari 24 jam.Tinjauan Pustaka • World Health Organization (WHO) : gangguan fungsional otak fokal maupun global akut. tumor otak. stroke sekunder karena trauma maupun infeksi • Stroke Hemoragik yaitu pecahnya dinding pembuluh darah.

Anatomi Batang Otak .

batuk. Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas adalah medula oblongata. pernafasan. pons dan mesensefalon (otak tengah). beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.• Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung. menelan. • Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. bersin. • Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi aquedikus sylvius. . vasokonstriktor. pengeluaran air liur dan muntah.

Vaskularisasi Arteri Serebri .

parietalis dan frontalis korteks serebri. terus berjalan sampai setinggi otak tengah. menjadi arteri serebri anterior dan media. Dalam rongga kranium. kapsula interna. dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior .• Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum. setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang. termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis. korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri. Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. yaitu sirkulus Willisi • Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis. • Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis. • Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris.

aparatus koklearis dan organ-organ vestibular • ARAS (Ascending Reticular Activating System) Jaringan ini di batang otak juga berfungsi mengurus fungsi jantung dan pemapasan yang dijalankan melalui system saraf otonom.• Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini memperdarahi medula oblongata. Salah satu gejala yang dapat teIjadi pada kerusakan batang otak adalah koma (coma) . Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon. sebagian lobus oksipitalis dan temporalis. pons. Itulah sebabnya batang otak disebut sebagai bagian otak yang vital bagi hidup manusia. otak tengah dan sebagian diensefalon. serebelum. tetapi kerusakan akibat stroke yang mengenai batang otak dapat mematikan orang. • Kerusakan pada pusat kesadaran tertinggi memang sangat mengganggu dan dapat melumpuhkan.

[sensory]. CN VI .Trigeminal (Skin of face. CN IV. •Pupils: •Size: Pinpoint LOC: •Semi-coma "Akinetic Mute". [motor]. Hyperventilation. Movement: •Abnormal extensor.FUNGSI BATANG OTAK Brain Structure Brain Stem: •Midbrain Function Associated Signs and Symptoms Nerve pathway of cerebral hemispheres.Facial (Muscles of expression). CN IV . Cranial Nerves: CN V . •CN (Cranial Nerve) Deficits: CN III. [motor and sensory]. tongue. . [motor and sensory]. [motor]. Respiratory: •Apneustic (Abnormal respiration marked by sustained inhalation).Oculomotor (Related to eye movement).Abducens (Lateral rectus muscle of eye which rotates eye outward). CN VII. •Weber's: CN III palsy and ptosis (drooping) ipsalateral (same side of body). •Pons Respiratory Center. CN VII . Cranial Nerves: CN III . Reactivity: Sluggish to fixed. CN Deficits: CN VI. "Locked In" Syndrome.Acoustic (Internal auditory passage). muscle of mastication).Trochlear (Superior oblique muscle of the eye which rotates the eye down and out). •Pupils: •Size: Midposition to dilated. LOC (Loss of consciousness): Varies •Movement: Abnormal extensor ( muscle that extends a part). teeth. CN VIII . [motor]. Withdrawal. •Respiratory: Hyperventilating. Auditory and Visual reflex centers.

Reactivity: Fixed. Ataxic. vomit. Respiratory Center. the constricted openings from the mouth and the oral pharynx and the posterior third of tongue. heart. and •Abnormal breathing patterns. larynx. CN XI .Vagus (Pharynx. CN XII Hypoglossal (Intrinsic muscles of the tongue).Glossopharyneal (Muscles and mucous membranes of pharynx. [mixed]. control of the blood vessel walls) LOC: Comatose.FUNGSI BATANG OTAK •Medulla Oblongata •Movement: Ipsilateral (same side) plegia (paralysis). Gag. [motor]. Cardiac Center. CN Palsies (Inability to control movement): Cranial Nerves: Absent Cough. stomach). . [mixed].). lungs. swallow. gag. CN IX . [motor]. Clustered.Accessory (Rotation of the head and shoulder). Hiccups. CN X . Center •Respiratory: Centers for cough. •Pupils: Vasomotor (nerves having muscular •Size: Dilated.

FAKTOR RISIKO • Tidak dapat diubah : usia. . hematokrit meningkat. hyperurisemia dan dislidemia.penyakit jantung. diabetes mellitus. merokok. ras. riwayat keluarga. penyalahgunaan obat dan alkohol. bruit karotis asimtomatis. jenis kelamin pria. • Dapat diubah : hypertensi.

• Perdarahan intraserebral • Perdarahan subarachnoid Klasifikasi Stroke Hemoragik .

Etiologi Stroke Hemoragik • Perdarahan intraserebral primer (hipertensif) • Perdarahan intraserebral sekunder • Septik embolisme. myotik aneurisma. AVM • Penyakit inflamasi pada arteri dan vena • Trauma .

pasien beresiko tinggi untuk herniasi dan kompresi batang otak. Manifestasi Perdarahan Batang Otak . hemisensori atau kehilangan sensori dari semua empat anggota.• Pecahnya arteri basilaris dapat menyebabkan efek pada serebelum. apnea. hemiparesis atau quadriparesis. pons. dan medula oblongata. • Tanda-tanda lain dari keterlibatan cerebellar atau batang otak antara lain: ekstremitas ataksia. wajah ipsilateral dan kontralateral tubuh. Herniasi bisa menyebabkan penurunan cepat dalam tingkat kesadaran. dan kematian. mual dan muntah. gerakan mata yang mengakibatkan kelainan diplopia atau nistagmus. • Jika cerebellum yang terlibat. vertigo atau tinnitus. mesensefalon. kelemahan orofaringeal atau disfagia.

Pada pasien dengan GCS ≤8 sebaiknya dilakukan pemasangan endotracheal tube resusitasi serebro-kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan jaringan otak tidak meluas. • oksigen 2 L/menit dan cairan kristaloid/koloid • hindari pemberian cairan dekstrosa atau salin dalam H2O. APTT. . dilakukan analisis gas darah.Penatalaksanaan • • PENATALAKSANAAN STADIUM HIPERAKUT Tindakan pada stadium ini dilakukan di Instalasi Rawat Darurat dan merupakan tindakan meliputi jalan nafas. tekanan darah dan perfusi serebral. • jika hipoksia. elektrokardiografi. kimia darah (termasuk elektrolit). glukosa darah. protrombin time/INR. Dilakukan pemeriksaan CT scan otak. foto toraks. darah perifer lengkap dan jumlah trombosit.

• • • • • • • STADIUM AKUT Pada stadium ini.25-25 mg per oral. kaptopril 3 kali 6. Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma >30 mL. . menyangkut dampak stroke terhadap pasien dan keluarga serta tata cara perawatan pasien yang dapat dilakukan keluarga. dilakukan penanganan faktor faktor etiologik maupun penyulit. Juga dilakukan tindakan terapi fisik Penjelasan dan edukasi kepada keluarga pasien perlu.625-1. Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik >180 mmHg. Bila terdapat gagal jantung. dan keadaan klinis cenderung memburuk. MAP >130 mmHg. perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus. posisi kepala dinaikkan 300. pemberian manitol (lihat penanganan stroke iskemik). diastolik >120 mmHg. dan hiperventilasi (pCO2 20-35 mmHg). tekanan darah harus segera diturunkan dengan labetalol iv 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg. dan volume hematoma bertambah. Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat. posisi kepala dan dada di satu bidang.25 mg per 6 jam. enalapril iv 0.

2 mg tiap 6 jam . Hal tersebut dapat diatasi jika penurunan tekanan darah sekitar 20% dari MABP. semakin tinggi tekanan intrakranial semakin rendah perfusi sehingga disarankan tekanan intrakranial >70mmHg.5 – 10 μg/kg/min : 10-20 mg tiap 4-6 jam : 0. • Hipertensi Labetalol Esmolol Nitroprusside Hidralazine Enalapril : 5-100 mg/jam secara bolus berkala 10-40 mg atau 2-8 mg/min perdrip : Loading : 500 μg/kg. Maintenance : 50-200 μg/kg/min : 0. Medikamentosa Penambahan volume darah akan terjadi jika tidak dilakukan penanganan hipertensi.625-1.• Terapi khusus • A. Perfusi serebral dipengaruhi oleh tekanan intrakranial.

• Pertahankan tekanan perfusi serebral > 70mmHg .230mmHg atau Diastolik >105-140mmHg atau MABP ≥130mmHg dapat diberikan labetalol.Algoritme Penatalaksanaan Hipertensi Pada Perdarahan Intraserebral • Sistolik > 230mmHg atau Diastolik >140mmHg dapat diberikan nitroprusside • Sistolik > 180.esmolol.enalapril atau preparat intravena lainnya yang dapat dititrasi seperti diltiazem. lisinopril dan verapamil. • Sistolik < 180mmHg atau Diastolik <105mmHg hindari penggunaan antihipertensi.

Peningkatan Tekanan Intrakranial Pada Stroke Hemoragik Peningkatan tekanan intrakranial sebagai akibat adanya volume perdarahan dan terjadinya edema serebri diatasi dengan osmoterapi yang menggunakan manitol (0.5 g/kg tiap 4 jam) dan furosemid (10 mg tiap 2-8jam).benzodiazepine atau morfin dengan paralisis neuromuskular dapat menurunan tekanan intrakranial tetapi diperlukan pemantauan yang intensif.25-0. Penggunaan sedatif seperti propofol. . Pemantauan osmolaritas serum dan kadar natrium dilakukan tiap 2 kali sehari dengan target osmolaritas <310mOsm/L.

medula oblongata dan mesensefalon tidak dilakukan tindakan operatif. . • Tindakan operatif dapat dilakukan pada pasien dengan perdarahan serebelar dengan volume > 3cm3 dengan penurunanan nerulogis atau adanya penekanan batrang otak atau adanya hidrosefalus atau pada dewasa muda dengan perdarahan lobar yang sedang atau besar. • Perdarahan pada daerah pons. • Pemilihan pasien dengan perdarahan intraserebral yang memerlukan tindakan operatiff tergantung dari ukuran dan lokasi perdrahan dan defisit yang diakibatkan.Operatif • Tindakan operatif ditujukan untuk mengurangi efak massa serta mengurangi efek neurtoksik dari bekuan darah.

• • • • • Mengatur pola makan yang sehat 2 Melakukan olah raga yang teratur Menghentikan rokok Memelihara berat badan yang layak Perhatikan pemakaian kontrasepsi oral bagi yang beresiko tinggi • Penanganan stres dan beristirahat yang cukup • Pemeriksaan kesehatan teratur dan taat advis dokter dalam hal diet dan obat Pencegahan Stroke Hemoragik .

• Skor dari skala koma glasgow yang rendah berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk dan mortalitas yang lebih tinggi. • Adanya darah dalam ventrikel dan batang otak bisa meningkatkan resiko kematian dua kali lipat.• Prognosis bervariasi bergantung pada tingkap keparahan stroke dan lokasi serta ukuran dari perdarahan. • Pasien yang menggunakan antikoagulasi oral yang berhubungan dengan perdarahan intraserebral juga memiliki outcome fungsional yang buruk dan tingkat mortilitas yang tinggi. Prognosis . prognosis biasanya buruk dan outcome fungsionalnya juga sangat buruk dengan tingkat mortalitas yang tinggi. • Apabila terdapat volume darah yang besar dan pertumbuhan dari volume hematoma.