You are on page 1of 25

By: Kelompok 4

Bab I. Pendahuluan
A. Latar Belakang

1. Kompos merupakan salah satu contoh dari pupuk organik 2. Prosesnya berlangsung secara alami dengan memanfaatkan mikroorganisme indigenous dalam lingkungan tempat pengomposan 3. Kompos mempengaruhi sifat tanah, seperti sifat biologi, sifat kimia, dan sifat fisik tanah

4. Penggunaan pupuk anorganik secara terusmenerus tanpa tambahan pupuk organik dapat menguras bahan organik tanah dan menyebabkan degradasi kesuburan hayati tanah (Syafruddin, et al, 2008) 5. upaya untuk pemanfaatan kembali sampah organik

B. Tujuan Praktik
1. Mahasiswa mampu melakukan pemanfaatan sampah organik. 2. Mahasiswa mampu melakukan teknik pengomposan dengan baik dan benar. 3. Mahasiswa mampu mengetahui manfaat dari pembuatan kompos.

Bab II.Tinjauan Pustaka
A. Pengertian

Menurut Murbandono (2006) kompos adalah bahan organik yang telah mengalami proses pelapukan, karena adanya interaksi antara mikroorganisme yang bekerja di dalamnya, bahanbahan organik tersebut berupa dedaunan, rumput jerami, sisa-sisa ranting dan dahan.

B. Teknik Pengomposan dibedakan menjadi 2 yakni 1. pengomposan aerobik (mudah, murah, tidak membutuhkan kontrol yang terlalu sulit, dekomposisi dilakukan mikroorganisme dgn bantuan udara, paling banyak digunakan) 2. pengomposan anaerobik (memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik)

 Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari

mahluk hidup atau bahan organik dapat dikomposkan(Biomassa)  Ada bahan yang mudah dikomposkan(sampah dapur, daun-daunan dan rumput dari halaman), ada bahan yang agak mudah(kayu, batang, bambu), dan ada yang sulit dikomposkan(kayu, tulang, rambut dll)

 Ada empat hal yang diperlukan dalam membuat

kompos, yang sederhananya seperti ini: 1. bahan warna hijau (N) 2. Bahan warna coklat (C) 3. Kelembaban 4. Udara

c. Manfaat Kompos
 multivitamin untuk tanah pertanian
 kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang

sehat  memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah  meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.

Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek : - Aspek Ekonomi :  Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah.  Mengurangi volume/ukuran limbah.  Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya.

- Aspek Lingkungan :  Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah.  Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan. - Aspek bagi tanah/tanaman :  Meningkatkan kesuburan tanah.  Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah

 Meningkatkan kapasitas serap air tanah.
 Meningkatkan aktivitas mikroba tanah.  Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi,

dan jumlah panen).  Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman.  Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman.  Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah.

d. Sifat dan Karakteristik Kompos
 Karakteristik umum dimiliki kompos antara lain :

(1) menganduung unsur hara dalam jenis dan jumlah bervariasi tergantung bahan asal; (2) menyediakan unsur hara secara lambat (slow release) dan dalam jumlah terbatas; dan (3) mempunyai fungsi utama memperbaiki kesuburan dan kesehatan tanah.

Bab III. Prosedur Pembuatan
A. Alat dan Bahan Alat  Komposter (ember plastik volume 40 liter)  Pisau/golok  Skop  Balok kayu alas pemotong sampah  Tutup komposter yang telah diberi lubang di tengah-tengahnya dengan luas sama dengan luas alas pipa PVC  Pipa PVC ¼ inchi panjang @ 1,5 m

Bahan  Sampah organik dedaunan dan sisa makanan  Kotoran sapi kering/kompos  Kapur tohor  Air

B. Langkah Kerja
1.
2. 3. 4. 5. 6.

7.
8.

Melakukan pemotongan sampah organik dengan ukuran antara 2,5 – 7,5 cm sebanyak 3000 gram. Memasukkan sampah yang sudah dipotong ke dalam komposter sedalam 3000 gram. Memercikkan sampah dengan 250 ml air. Menaburkan dengan merata di atas sampah kotoran sapi kering/kompos sebanyak 300 gram. Menaburkan secara merata kapur tohor sebanyak 100 gram. Memasukkan pipa PVC dengan cara menancapkan kedalam sampah secara tegak lurus. Menutup komposter dengan tutup komposter yang telah diberi lubang di tengah-tengahnya dengan luas sama dengan luas alas pipa PVC. Melakukan pengadukan/pembalikan 1 minggu sekali

Memanen kompos yang sudah matang dengan kriteria : 1. Volume menjadi 1/3 bagian. 2. Warna seperti tanah. 3. Tidak berbau. 4. Fisik hancur. 5. Mengeringkan kompos dengan cara menganginnganginkan. 6. Melakukan penyinaran dan pengemasan. 7. Kompos siap digunakan.

Bab IV. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Pada minggu pertama pengadukan/pembalikan didapatkan hasil :  Volume belum berkurang menjadi 1/3 bagian.  Warna belum sepenuhnya berubah menjadi warna tanah.  Masih berbau tidak sedap.  Fisik belum sepenuhnya hancur.

 Pada minggu kedua pengadukan

Setelah dilakukan pengadukan masih berbau tidak sedap, volume sudah menyusut, fisik belum sepenuhnya hancur, warna kompos berubah menjadi coklat tua warna tanah.

B. Pembahasan
 Pada proses pengomposan bahan organik, strategi

untuk mempercepat proses pengomposan dilakukan dengan pencacahan bahan menjadi ukuran 2,5 sampai 7 cm, Penambahan kotoran sapi pada pengomposan dilakukan karena sebagai aktivator pengomposan. Bakteri pengurai lebih optimal untuk menguraikan 3000 gr bahan organik dan penambahan percikan air dilakukan untuk membasahi bahan agar tidak terlalu kering

Lanjutan.....
 . Penambahan kapur kohor dimaksudkan untuk

menjaga Ph kompos yang asam agar stabil karena selama proses pengomposan bakteri akan lebih optimal menguraikan pada Ph yang stabil. Pipa PVC yang diletakkan digunakan untuk mengalirkan gas yang dihasilkan dari hasil penguraian kompos. Pengadukan perlu dilakukan pada proses pengomposan untuk meratakan bahan yang belum terdegradasi oleh bakteri sehingga mempercepat proses pengommposan.

Bab V. Kesimpulan
 Berdasarkan praktikum pembuatan kompos, kami

menyimpulkan bahwa; 1. Kompos merupakan hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik.

2. Kompos berguna untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. 3. Kompos sendiri dapat dibuat dari bahan-bahan organik seperti kotoran ternak baik kotoran sapi, kambing, ayam, kuda, kerbau dan sebagainya, sisasisa pertanian seperti hasil pangksasn sisa tanaman (tanaman kacang-kacangan/legum), jerami padi, sampah kota, sampah rumah tangga, sampah pasar, hijau-hijauan, dan limbah industri.

4.Kompos yang telah matang ditandai dengan warnanya yang berubah menjadi coklat kehitaman menyerupai tanah, tidak berbau, teksturnya menyerupai tanah (remah), suhu pupuk mendekati suhu ruang dari kenaikan suhu yang terjadi sebelumnya dan kelembaban kompos matang sekitar 30 %.

Lampiran Foto
 Pengadukan minggu I