POSMODERNISME DALAM NOVEL GENERATION X: TALES FOR ACCELERATED CULTURE DAN BILANGAN FU: KAJIAN ANALISIS WACANA KRITIS

DIKERJAKAN OLEH: NURUL NAYLA AZMI
107009015/LNG

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang  kesusasteraan merupakan tulisan yang baik atau bagus secara keseluruhan, baik dari segi bahasa, bentuk ataupun isi.  Novel merupakan salah satu jenis karya sastra  Novel ”menyajikan kehidupan” dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra terkadang juga ”meniru” alam dan dunia subjektif manusia  Perkembangan manusia linear dengan perkembangan novel yang “menyajikan kehidupan” manusia

era globalisasi pemikiran manusia telah berkembang pesat dan memasuki Pasca Modern atau yang secara umum dikenal dengan istilah posmodernisme. posmodernisme berasal dari bahasa inggris dengan kata modern yang mendapat imbuhan post- dan – isme Awalan Post- merujuk pada pengertian setelah yang diikuti dengan modernisme (Walau berbeda dibeberapa pandangan) Akhiran –isme merujuk pada sistem pemikiran ataupun ide-ide tertentu yang dalam hal ini tentunya bertentangan dengan ide-ide yang terdapat pada periode sebelumnya yakni modernisme. Dalam penelitian ini terdapat dua buah novel yang menjadi objek kajian yakni novel Generation X: Tales For Accelerated Culture (1991) karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu (2008) karya Ayu Utami.

Kedua novel dipilih karena kedua novel tersebut sangat populer dibicarakan jika bersinggungan dengan posmodernisme. Novel Generation X: Tales For Accelerated Culture karya Douglas Coupland yang diterbitkan pertama kali oleh Kanada (St. Martin Press) lalu meluas ke seluruh Eropa namun peneliti melakukan penelitian dengan tinggal di Palm Springs, California selama beberapa waktu dan menjadikannya sebagai setting dari novel ini. Novel ini menjadi sangat populer dan dibicarakan secara massal di seluruh Eropa dan istilah-istilah yang ada dalam novel ini digunakan sejak beredar sampai sekarang seperti McJobs atau Generation X (generasi X). Novel ini menggambarkan kehidupan globalisasi dan pengaruh negatif kehidupan modern di Amerika dan Kanada

Keduanya memiliki kesamaan yang erat dalam segi bentuk seperti tokoh utama dalam kedua novel berjumlah 3orang. karya ini dianggap mengandung wacana posmodernisme karena estetika yang bertolak belakang dengan karya modern yang universal dengan penggunaan istilah yang terbilang vulgar seperti vagina atau air mani. dua diantaranya pria dan satu wanita.    Novel kedua yakni Bilangan Fu karya Ayu Utami yang juga merupakan salah satu novel posmodernisme populer di Indonesia. Novelnya memiliki sub-bab dengan judul dan tema berbeda masing-masing dan memiliki ilustrasi gambar . Novel ini menjadi kontroversi karena mendeskontruksi dan mengkritisi secara kritis sisi spiritual dan fenomena modernisme pada tradisi tradisional di Indonesia Selain itu.

Peneliti merasa tertarik dengan gambaran posmodernisme yang “memberontak” pada kehidupan masyarakat modern Penelitian ini membahas mengenai posmodernisme sebagai wacana yang dianalisis pada kedua objek penelitian dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analisis (CDA) .   Berangkat dari iidentiknya kemiripan novel. penulis tertarik mengatahui posmodernisme lebih lanjut pada kedua novel tanpa berusaha memperbandingkannya.

1. Bagaimanakah posmodernisme pada Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami? 2. 2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah wacana posmodernisme yang berdasarkan konsep simulakra dan hiperrealitas Bauidrillard dalam novel Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami? .

2. Mendeskripsikan posmodernisme yang terdapat pada Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami.3 Tujuan Penelitian 1. Menemukan dan menganalisis wacana posmodernisme yang berdasarkan konsep simulakra dan hiperrealitas Bauidrillard dalam novel Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami .1.

1.4 Batasan Masalah   Penelitian ini hanya berfokus pada wacana posmodernisme dalam novel Generation X: Tales for Accelerated Culture dan Bilangan Fu dengan menganalisisnya menggunakan CDA Fairclough Penelitian ini tidak membahas mengenai persamaan dan perbedaan yang ada pada kedua novel karena kajian ini bukanlah kajian sastra bandingan .

.5 Manfaat Penelitian   Manfaat teoritis: memperkaya kajian wacana sastra dengan model analisis yang dilakukan secara kritis untuk menemukan wacana posmodernisme yang terdapat di dalamnya.1. Manfaat praktis penelitian ini adalah sebagai acuan yang dapat digunakan oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang tertarik dengan kajian analisis wacana kritis.

1 Kajian Pustaka  Disertasi dengan judul Desakralisasi Nilainilai Spiritualisme Jawa dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami (Kajian Sosiologi Sastra) karya Eista Swesti dari Universitas Yogyakarta. KONSEP DAN LANDASAN TEORI 2.BAB II KAJIAN PUSTAKA.  Skripsi dengan judul Alienation in Novel Generation X: The Tale of Accelerated Culture by Douglas Cupland yang disusun oleh Reza Fahlevi dari Universitas Sumatera Utara .

. Jurnal internasional yang ditulis oleh Frauke Hatchman dari universitas Nebraska Generation X and Generation Golf: What Advertisers Need to Know When Targeting German and American Thirty Somethings.

.1 NOVEL   Abrams (1981:119) novel merupakan ragam tulisan yang merupakan bagian dari prosa fiksi. 2 Konsep 2.2. novel merupakan bentuk yang paling dekat dengan kehidupan manusia dikarenakan novel yang mempunyai stuktur-struktur intrinsik padu yang menjadikan novel semakin terasa nyata dalam merekam pengalaman kemanusiaan.2.

Dunia imajinasi itu lahir dari sebuah pandangan pengarang terhadap dunia dan ia akan mengungkapkan pandangan tersebut pada karyanya.    karya sastra termasuk novel merupakan sebuah dunia imajinasi. . Pengarang kedua novel objek penelitian menyampaikan pandangan mengenai posmodernisme dalam teks novel sebagai bentuk kritik sosial secara tidak langsung. Inilah sebuah wacana yang tersembunyi di dalam karyanya dan lewat karyanya tersebutlah seorang pengarang berkomunikasi dengan pembacanya.

penggambaran fenomena masyarakat modern dikritik secara kritis dan disandingkan kembali dengan pemikiran tradisional lalu dideskontruksi kembali sehingga terlihat pemikiran yang berada di tengah keduanya yakni pandangan posmodernisme. . Pada kedua novel ini.

2. Penolakan.2 Posmodernisme    Istilah ini dipakai pertama kali pada dunia seni yakni arsitektur. Lyotard merumuskanposmodernisme sebagai suatu periode yang mana segala sesuatu itu didelegitimasikan dengan konsep Grand Narrative yakni metanarasi. rupa dan lainnya yang berkembang menjadi tren dan gerakan kultural. musik seni.2. pemberontakan dan kritik (antitesis) terhadap kerangka berpikir modern yang universal .

bahkan pengarang disebut sebagai anonimitas adalah konsep dasar posmodernisme.  Dalam karya sastra (novel) posmodernisme terlihat sangat bertolak belakang dari karya modernisme yang mengusung universalitas dan mencolok dalam estetika. Ratna (2007: 94) Hilangnya batas pembaca dan penikmat. . hilangnya batas antara budaya massa dan budaya tinggi. antara seni populer dan seni elit. campur tangan pembaca sebagai penikmat sekaligus memberi makna.

Simulakra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung.2. .3 Landasan Teori   Teori yang digunakan adalah teori dari Jean Baudrillard mengenai posmodernisme yang dibagi pada dua konsep yakni hiperrealitas dan simulakra.

3. 2. Baudrillard membagi simulakra pada tiga tingkatan yakni: Simulakra yang berlangsung semenjak era Renaisans hingga permulaan Revolusi Industri (representasi dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan) Simulakra yang berlangsung seiring dengan perkembangan era industrialisasi (representasi dari relasi logika sebagai unsur kehidupan) simulakra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi (silang-sengkarut tanda. 1. citra dan kode budaya) .

sinetron. Doraemon atau Mickey Mouse merupakan contoh dari simulasi yang pada masa sekarang dijadikan sebagai acuan dan dianggap sebagai bagian dari realitas nyata. iklan televisi.  Boneka Barbie dan Ken. tokoh Rambo. Hiperrealitas merupakan terma yang digunakan untuk menggambarkan situasi yang mana seseorang terjebak pada ”dunia simulasi” sehingga tak bisa lagi membedakan yang mana kenyataan buatan dan asli . drama korea. telenovela.

 penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial.1 Metode Penelitian  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.  metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. .

2 Data dan Sumber Data 3. .3. 1 Data  Data dalam penelitian ini adalah kutipan yang berasal dari dua novel yang menjadi objek penelitian yakni novel Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami.2.

2 Sumber Data  Data primer adalah data pokok yang berupa kutipan dari kedua novel yang menjadi objek penelitian yakni Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami.2.3. .

 data sekunder merupakan data yang didapatkan dari berbagai karya ilmiah. buku. jurnal dan bentuk lainnya yang dapat mendukung proses analisis data .

Langkah-langkah yang dilakukan dalam teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan teknik pustaka. dan catat. 2.3 Teknik Pengumpulan Data   1. catatan dan referensi pendukung lain yang menjadi sumber data sekunder . simak. Langkah-langkah yang dilakukan adalah: Membaca dan menyimak secara menyeluruh kedua novel secara berulang Mencatat data berupa kutipan dari kedua novel yang merupakan sumber data primer Membaca semua kajian pustaka. 3.3.

analisis tekstual atau textual (level mikro) yakni tahap deskripsi teks secara linguistik yakni dengan menggunakan semiotika Ferdinand de Saussare yakni penanda dan petanda 2. analisis praktik sosiokultural atau sociocultural practice yakni tahap eksplanasi (penjelasan)  .3 Teknik Analisis Data analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Fairclough.3. analisis praktik wacana atau discourse practice yakni tahap penafsiran 3.  Faiclough membagi teks pada 3 dimensi yakni: 1.

.BAB IV ANALISIS POSMODERNISME DALAM NOVEL GENERATION X: TALES FOR ACCELERATED CULTURE KARYA DOUGLAS COUPLAND 4. pemberontak dan frustasi.1 Novel Generation X: Tale For Accelerated Culture dan Gambaran Posmodernisme  Novel ini menggambarkan persaingan antara dua generasi dalam masyarakat Amerika Serikat yakni Baby Boomers (lahir sekitar tahun 1960-an) dan Generation X (lahir sekitar tahun 1990-an).  Baby Boomers merupakan generasi yang dianggap memegang tonggak ekonomi Amerika yang sukses dan Generation X dianggap generasi slacker (pemalas).

cocksure and pleased with how friski and complete his look. Aku dulu merasa senang dan tersanjung dan tidak merasa kekuatan untuk cemas sedikit pun bahwa para produsen perhiasan gaya hidup di dunia Barat telah menjadikanku sebagai target pemasaran yang paling mereka perlukan” (hal. 18) “Sebenarnya aku dulu adalah salah satu dari kelompok orang yang mengendarai mobil sport melewati daerah pusat finansial setiap pagi dengan atap mobil yang diturunkan dan topi baseball di kepala.18) .” (pg. I was both thrilled and flattered and achieved small thrill of power to think that most manufacturers of life-style accecories in Western world considered me their most desirable target market. terlihat keras dan puas dengan lincah dan betapa sempurna ia kelihatannya.  “I was actually one of those putzes you see driving a sport car down to the financial district every morning with the roof down and a baskeball cap on his head.

atap mobil terbuka dan topi baseball di kepala. .  Dalam kutipan tersebut mempunyai penanda dan petanda berupa lambang-lambang benda yakni mobil sport. Benda-benda tersebut merupakan aksesoris penanda gaya hidup yang dipakai oleh Yuppie (Young Urban Professional) Petanda-petanda di atas dapat diinterpretasi sebagai salah satu wacana posmodernisme yang mana terdapat kritik terhadap tanda kesuksesan modernisme pada kalangan karyawan yang terlihat dari penggunaan barang-barang mewah yang dirasakan oleh Generasi X sebagai sesuatu yang melelahkan karena fungsi mereka ternyata hanya sebagai target market atau pasar dari suatu produk saja. daerah pusat finansial.

2 Hiperrealitas dan Simulakra dalam Novel Generation X: Tale For Accelerated Culture 4.1 Hiperrealitas  Dalam novel ini.4.2.  Misalnya. Coupland menjabarkan kritik terhadap masyarakat yang terjebak pada realitas nyata dan semu yang tergambar pada tiap-tiap tokohnya. Andy sebagai narator ketika ia menggambarkan suasana dari salah satu bagian dari Palm Springs yakni West Village: .

West Palm Springs Village is a true rarity. 14) . The mood is vaguely reminesent of Vietnam war movie set. nilai modern seakan menghilang dan menyimpan suasana sepi untuk jiwa hangat sedikit bagi jiwa yang pemberontak dan rumah yang selalu berpindah-pindah. who gives us cautious eyes upon our arrival through the town’s welcoming sentry-an abandoned texaco gasoline stations surrounded by a chain link fence and lines of dead and blackened Washingtonia Palms that seem to have agent-oranged. yang memberikan kita pemandangan ke arah gapura penyambut.  “In era when nearly all real estate is coveted and developed. a modern ruin and almost deserted save for a few hearty souls in airstream straillers and mobile homes. sebuah pom bensin yang ditinggalkan tanpa penjaga yang dikelilingi oleh pagar dan batasan akhir dan pohon Palem Washington yang mulai berubah warna menjadi orange. Suasana yang mengingatkan kita samar-samar sebuah film dengan latar perang Vietnam.” (hal. West Palm Springs Village merupakan suatu tempat yang benar-benar langka.“ (pg. 14) “Pada masa ketika hampir semua real estate didambakan dan dikembangkan.

Pom bensin yang ditinggal tanpa penjaga dan pohon Palem Washington yang mulai berubah warna menjadi orange yang dilihatnya pada dunia nyata diaggap sebagai penanda (signifier) yang membawa Andy pada realita yang ada pada latar film perang Vietnam yang menjadi petanda (signified). Kesenjangan realita nyata dan buatan pada tokoh Andy membuatnya tak dapat membedakan yang mana realita nyata yang dilihatnya langsung dan mana yang berupa imaji buatan sajian televisi. Kutipan tersebut dapat diinterpretasi sebagai wujud dari hiperrealita yang dialami Andy. ia memiliki kecenderungan untuk membandingkan sesuatu yang dilihat dengan tayangan televisi. .    Cara Andy mendeskripsikan tempat tersebut dengan membandingkannya dengan suasana sebuah film dengan latar perang vietnam merupakan wujud dari Andy yang terperangkap dalam sebuah hiperrealitas. Ia membandingkan dunia yang nyata yakni sebuah tempat yang bernama West Palm Springs Villange dengan suasana sebuah dunia imaji yang menjadi latar sebuah film.

radio dan internet.2. jika disesuaikan dengan ketiga rumusan simulakra Baudrillard.  Dalam novel Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland. .2 Simulakra  masa globalisasi sekarang ini.  Coupland membuat sub-bab khusus dalam novel ini untuk menggambarkan simulacra ini dengan judul subbab Adventure Without a Risk is Disneyland (Petualangan tanpa resiko di Disneyland). citra atau simbol-simbol tertentu pada media seperti televisi.4. juga terdapat penceritaan mengenai mekanisme simulasi yakni bagaimana manusia dijebak dalam ruang realitas yang dianggapnya nyata padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa melalui penyajian tanda. masa kini berada pada simulakra ketiga yakni simulakra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi.

Tokoh rekaan yang merupakan simulasi ini dengan mudah dikenali dalam kehidupan dan merata dari kalangan anak kecil hingga dewasa. Snow White dan lainlain. Donal Duck.   Dunia simulasi yang dibahas dalam novel ini adalah Disneyland yang merupakan dunia buatan dari perusahaan Walt Disney yang memproduksi tokoh-tokoh kartun yang terkenal di seluruh sunia seperti Mickey Mouse. Cinderella. . Disneyland sendiri merupakan sebuah dunia simulasi yang menjadikan simulasi yang awalnya dalam bentuk kartun menjadi nyata sehingga menjadi tempat berlibur dambaan anak-anak dan orang dewasa dalma rangka perwujudan nyata dunia fantasi akan tokoh kartun pujaan.

154). walaupun sebenarnya aku merasa sangat pusing setelah berpesta dengan Alan dan teman-temannya tadi malam. I even manage to arrive down in Soho early –only to discover that the restaurant had closed down. Bisakah kau percaya? 5 hari setelah natal.” . Aku berusaha untuk sampai di Soho lebih dulu-hanya untuk menemukan kenyataan bahwa restorannya sudah lama ditutup. Unbelieveable. Dan setiap orang terlihat begitu puas dengan diri mereka sendiri (hal. Finally we were going to meet down in Soho for lunch. Every one has an IQ of 110 but lords it up likes 140 and every second person on the street is Japanese and carrying out Andy wharhol and Roy Licteins prints that worth their weight in uranium. inspite of the fact that i feel like a pig-bag after partying with Allan and his buddies the night before. Akhirnya kami berencana akan bertemu di Doho untuk makan siang.” (pg. Tak dapat dipercaya! Aku telah lama menyusun rencana untuk bertemu tapi ia selalu saja membatalkannya.  “Today. “Hari ini. dengan pengecualian penjunjungnya berpotongan rambut dan cindera mata yang lebih baik. Andy. exept with better haircuts and souvenirs. And every one looks so pleased with them selves. Andy. Can you believe it? Five days after cristmast. Kau tidak akan percaya seperti apa Soho sekarang. I’d made all these plans to meet before but he kept breaking them. they’re ruining everything. Tempat ini seperti taman bermain Disney saja. 154). the knob. Setiap orang memiliki IQ 110 tapi berlagak seakan 140 dan hampir setiap orang kedua yang terlihat di jalan adalah orang Jepang dan mengenakan kaos bergambar Andy wharhol dan Roy Licteins yang membuat berat badan mereka terlihat seperti terkontaminasi uranium. You wouldn’t believe Soho now. It’s like a theme park. Bloody condos.

Ia membandingkan pengunjung pusat perbelanjaan Soho (penanda) dengan pengunjung Disneyland (penanda) yang mengalami hiperrealitas (petanda).   Pada kutipan tersebut Claire bermaksud untuk menekankan arah pembicaraannya dengan mendeskripsikan serta memberikan perbandingan. . Namun entah menapa banyak orang yang menyukainya. Terlihat bahwa masyarakat ini telah terjebak pada kebutaan realita yang ada di televisi dan berusaha menerapkannya dalam dunia nyata untuk menjadi gaya hidup yang dianggap membawa kesenangan dan kebahagiaan yang sebenarnya adalah semu. Hal ini dapat diinterpretasi sebagai kerangka berpikir Claire yang posmodernisme dimana ia menyadari hakekat dari Disneyland yang berbeda dengan masyarakat modern yang pasti menikmati hadirnya Disneyland sebagai suatu tempat hiburan yang menyenangkan. Dunia pop yang disimbolkan lewat Andy wharhol and Roy Licteins yang merupakan legenda budaya pop tahun 1960-an yang populer melaui TV. internet atau pun film teraplikasi menjadi nyata lewat gaya hidup dengan kaos dan potongan rambut yang serupa.

1 Novel Bilangan Fu dan Gambaran Posmodernisme  Novel Bilangan Fu merupakan novel petualangan tiga orang tokoh utama dalam rangka menyelamatkan perbukitan Gamping karena menyadari pentingnya perbukitan tersebut pada sejarah Jawa  Mereka pun harus berhadapan dengan berbagai kemelut dari kurangnya pengetahuan masyarakat desa Perbukitan Gamping dan kepentingan perusahaan tambang  Tokoh Parang Jati merupakan tokoh dengan ide posmodernisme yang sangat kental yang mempengaruhi tokoh-tokoh utama lain yakni Sandhi Yuda dan Marja. Ia mengkritisi secara kompleks mengenai permasalahan yang ada di perbukitan Gamping dan memperjuangkan keberlangsungannya yang mengusik beberapa “kalangan” yang mana ia berakhir dengan menghilang secara misteris ketika ia dibawa oleh dua perwira TNI . Ia memiliki pengetahuan mumpuni mengenai peranan perbukitan Gamping dalam kesejarahan Jawa yang terlupakan. pengertian terhadap karakteristik masyarakat desa yang tradisional dan masyarakat kota yang modern.BAB V ANALISIS POSMODERNISME DALAM NOVEL BILANGAN FU KARYA AYU UTAMI 5. kepntingan kapitalis dan peranan militer.

Jati menjelaskan bahwa kacamata modern sangat bertolak belakang dengan kacamata tradisional. Pertanyaanku mengandung kerangka berpikir modern. Aku sesungguhnya agak tersinggung.  ”kamu jangan memakai kacamata modern untuk menilai kepercayaan tradisional. mengandung sebuah kerangka pikir. Inilah salah satu wacana posmodernisme yang digambarkan oleh Ayu. (hal. Setiap pertanyaan menurut dia. Hal ini dapat diinterpretasi sebagai upaya penggambaran wacana posmodernisme. ”Azas manfaat”. Tapi aku ingin mendengarkan ia juga. . memang sering dipakai orang sebagai dalih untuk sikap opurtunis. 133) Kutipan di atas berisi beberapa penanda yakni azas manfaat yang merupakan petanda dari kerangka berpikir modern. ”Salah satu ciri kerangka pikir modren adalah azas manfaat. dong” katanya. Jati menghadapkan kerangka berpikir tradisional dan modern sebagai dasar kerangka berpikir posmodernisme yang berdiri diantaranya. Istilah ini.

5. Ayu menyajikan kritiknya pada fenomena ini secara keras lewat karakter Yuda yang sangat membenci tipikal orang-orang yang terjebak pada realitas semu ini.2. 1 Hiperrealitas   Hiperrealita merupakan salah satu hal yang paling dibahas oleh Ayu Utami dalam novel Bilang Fu yakni masyarakat Indonesia (baik kota maupun desa) yang terjebak pada realitas semu yang diakibatkan oleh televisi.2 Hiperrealitas dan Simulakra dalam Novel Bilangan Fu 5. .

. Kau tahu bagaimana televisi memborbardir kita dengan jeritan hahahihi kakakkikik pembawa acara maupun kuntilanak (apa beda keduanya?).” (hal. Ketika remaja aku telah mencoba menonton televisi. rintihan perempuan sinetron (sebagian dari mereka akan menjadi kuntilanak juga. khotbah para dai yang akan membebaskan para kuntilanak ini dari dendam pribadi sehingga bertobatlah mereka dan lapanglah jalan bagi mereka ke alam baka. mereka sungguh-sungguh bisa tertawa jika pembawa acara memerintahkan mereka untuk tertawa. ya Tuhan. Ia hanya memerintahkan penonton untuk tertawa. Percayalah. ibu rumah tangga. Kuntilanak lagi! Suara-suara demikian ini kok membius para pembantu. yang berselang-seling dengan hahahihi kakakikik iklan yang diulang tiga kali. apalagi lucu. Kedua-duanya menampakkan adegan kebodohan yang sama mengerikan. pasien dalam antrian.” “Dan. baik dari depan ataupun belakang. Orang-orang yang menghadap televisi itu juga sungguh-sungguh bermuka sedih jika diperintahkan berduka oleh televisi. Dan mereka menurut. budak kantor. bahkan tukang copet yang sedang cuti. setelah diperkosa. hanya dalam sinetron. 25). dihamili dan dibunuh-untunglah. atau semoga. sekretaris petugas kasir bank. penjaga toko. pembawa acara itu sama sekali tidak melucu. Maka aku berhenti menonton televisi.  “Dialah yang membuat televisi menyala. (demikianlah cara kuntilanak diproduksi).

   penanda-penanda berikut yakni: rintihan perempuan sinetron. Ayu mengkritisi secara kritis pola pikir masyarakat yang terjebak oleh televisi yang memang nyata terlihat secara nyata bagaimana masyarakat memiliki pengetahuan yang sama dan merata melalui sosok kuntilanak sesuai dengan simulasi yang dilakukan oleh Televisi yang menyajikan tayangan horor. hanya dalam sinetron). yang berselang-seling dengan hahahihi kakakikik iklan yang diulang tiga kali yang merupakan petanda dari hiperrealitas. Masyarakat terjebak pada ilusi kuntilanak dan merasa takut karenanya padahal belum tentu mereka pernah melihat kuntilanak secara langsung. . khotbah para dai yang akan membebaskan para kuntilanak ini dari dendam pribadi sehingga bertobatlah mereka dan lapanglah jalan bagi mereka ke alam baka. sebagian dari mereka akan menjadi kuntilanak juga (setelah diperkosa. Berdasarkan penanda dan petanda di atas. Televisi telah mempengaruhi masyarakat untuk mempercayai hal yang tidak dilihatnya secara nyata melainkan hanya dilihatnya dari televisi saja dan masyarakat tersebut bahkan tidak menyadarinya. dihamili dan dibunuhuntunglah. atau semoga.

1 Simulakra   Dalam Bilangan Fu. Taruhan kedua. anakmu doyan sinetron dan pergi ke mal.. atau ’sayang’.2.22) . Taruhan ketiga.. Ayu menggambarkan simulasi yang paling efektif dan merata pada masayarakat kota ataupun desa adalah melalui media televisi. Kalian akan segera punya anak. Tapi dengan ’mama atau papa’. kalian tak lagi memanggil satu sama lain dengan nama. ”Taruhan pertama.” (hal.4.

punya anak. pergi ke mal yang merupakan penanda dari simulakra yang diciptakan oleh televisi yang dalam hal ini sinetron. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diinterpretasi bahwa televisi menyajikan rentetan ilusi mengenai tahapan pernikahan yang disajikan sinetron yang lalu diaplikasikan oleh kebanyakan anggota masyarakat secara nyata. Hal ini memang terlihat sebagai fenomena dimana pada masa ini kebanyakan pasangan memanggil satu sama lain dengan panggilan “sayang” atau “yang” untuk mewujudkan ilusi pasangan serasi dan bahagia ala sinetron.  Kutipan di atas mempunyai beberapa petanda yakni pertama. mama atau papa. . kedua. ketiga. doyan sinetron.

. Kedua novel yang menjadi objek penelitian merupakan novel yang masing-masing mengandung representasi dari konsep posmodernisme sebagai antitesis dan kritik terhadap nilai-nilai modernisme.1 Simpulan 1. Wacana posmodernisme yang berdasarkan konsep simulakra dan hiperrealitas Baudrillard dalam novel Generation X: Tales for Accelerated Culture karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami juga ditemukan dalam kedua novel. Pada kedua novel yang menjadi objek penelitian. Sementara Dalam novel Bilangan Fu. 2.BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. kedua pengarang melakukan penggambaran mengenai pengaruh negatif modernisme dan pemberontakan tokoh utama terhadap kerangka berpikir modernisme. masyarakat kota dan desa mengalami simulakra lewat media Televisi dalam hal ini Sinetron dan tayangan horor sehingga masyarakat mengalami hiperrealitas. Simulakra dalam Generation X: Tales for Accelerated Culture dideskripsikan lewat teknologi yang dalam hal ini televisi atau media lainnya seperti MTV atau Disneyland sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat barat sehingga mengalami hiperrealita.

2 Saran    Posmodernisme merupakan sebuah gerakan kuntural yang merubah pola pemikiran dan kesadaran yang dapat menjebatani modernisme dan tradisional sehingga posmodernisme merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dalam berbagai bentuk aplikasi wacana posmodernisme tersebut baik dari seni. . fenomena sosial dan lainnya. Untuk itu. pemikiran posmodernisme hendaknya dapat diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Memandang segala sesuatu secara kritis dan tidak memaksakan kebenaran merupakan hakekat dari posmodernisme yang menjaga harmonisme dalam setiap aspek kehidupan.5.

THANK YOU FOR YOUR ATTENTIONS* * .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful