Investigating the Relationships Among ERP Systems Success Dimensions “A Structural Equation Model”

Oleh : Awliya Rohmah Shinto K.A. Wahyu Ediningtyas

04 1143 003 04 1143 025 04 1143 048

Sistem ERP adalah sistem informasi yang paling terintegrasi yang melintasi berbagai organisasi serta berbagai area fungsional. . logistics. supply chain. produksi. HRD. Atau dengan kata lain sistem ERP digunakan untuk mengelola seluruh aktifitas perusahaan termasuk keuangan. produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. dll. dimana diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi. marketing.

yang saling berkaitan dengan model keberhasilan SI (Gambar 1) yang telah menjadi kerangka kerja yang paling dominan untuk menilai keberhasilan sistem IT di tingkat mikro.Pengukuran keberhasilan Sistem TI dalam suatu organisasi • • • Selama tiga dekade terakhir. mengevaluasi nilai dan keberhasilan sistem IT untuk organisasi telah terjadi berulang kali dan berbagai pendekatan penilaian telah dilakukan Dengan demikian. mungkin kebanyakan pendekatan penilaian keberhasilan Sistem Informasi (SI) untuk mengklarifikasi "Variabel dependen. DeLone dan McLean (D & M) [10] mengembangkan. . model multidimensional." Sebagai tanggapan.

Setiap model pengukuran keberhasilan ERP harus mencakup dimensi yang terkait dengan WI karena sistem ERP sering diadopsi untuk meningkatkan efisiensi lintas fungsional operasi. Implementasi ERP termasuk teknologi. Di sini. manajerial dan strategis dalam suatu organisasi. and Organizational Impact (OI). "workgroup" mengacu pada sub-unit dan / atau departemen fungsional organisasi.   Sistem ERP berbeda dengan sistem TI. operasional. Sebuah versi dari kelanjutan model pengukuran keberhasilan ERP diusulkan oleh Ifinedo diilustrasikan pada Figure 2. Dimensi Keberhasilan dalam mempertahankan ERP menurut model Gable dan rekan adalah: System Quality (SQ). Information Quality (IQ). Figure 2 : ERP Systems Success Measurement Models . Peneliti harus memperhitungkan karakteristik spesifik dari sistem TI dan dapat mengevaluasi keberhasilannya. Oleh karena itu sangat penting pengukuran kerangka atau model yang akan digunakan untuk mengevaluasi atau mengukur keberhasilan sistem tersebut.     Melalui tinjauan literatur dan studi kasus. Ifinedo mengusulkan model pengukuran keberhasilan sistem ERP menyertakan Workgroup Impact (WI) yang belum masuk dalam model Gable et al. Individual Impact (II). mengingat bahwa Sistem ERP adalah sistem yang berbeda dengan sistem TI.

beberapa persamaan yang menonjol yang melihat antara ketika mereka membangun model "usefulness" dan yang digunakan dalam studi ini adalah Individual Impact (II) . Workgroup mengacu pada sub-unit dan / atau departemen fungsional dari organisasi Terdapat hubungan positif antara System Quality (SQ) dan usefulness/ faedahnya. Setelah memeriksa langkah-langkah yang digunakan untuk mengukur item ini dalam kedua studi.Setiap pengukuran keberhasilan model ERP harus mencakup dimensi yang berhubungan dengan WI karena sistem ERP yang sering diadopsi untuk meningkatkan efisiensi operasi lintas-fungsional.

dengan menggunakan analisis regresi berganda. Demikian pula. literatur sebelumnya juga menunjukkan bahwa jika Kualitas Informasi meningkat maka akan menyebabkan peningkatan faedah SI bagi individu.381) dan antara kemampuan sistem dan faedah yang dirasakan (β = 0. termasuk Rai et al. menemukan bahwa : Kualitas Informasi.. Oleh karena itu hipotesis bahwa: H1 : Peningkatan Kualitas Sistem akan menyebabkan peningkatan individual impact H2 : Peningkatan Kualitas Informasi akan menyebabkan peningkatan individual impact . Seddon dan Kiew menemukan bahwa peningkatan Kualitas Informasi menyebabkan "faedah/usefullness“ dari suatu SI yang dinilai dari perspektif individu.354). Memang. Baik dalam tes empiris dari model D & M dan alternatif model pengukuran keberhasilan SI yang diusulkan oleh peneliti lain. Calisir dan Calisir menunjukkan adanya koefisien dari jalur (path) yang signifikan yang dapat dirasa kemudahan penggunaannya dan faedahnya/usefullness (β = 0. secara positif berhubungan dengan usefullness (faedah yang dirasakan).Dalam konteks sistem ERP.

Impact H4 : Peningkatan individual impact akan menyebabkan peningkatan Work Group Impact. dan bahwa ketika isu tentang evaluasi SI berhasil menggabungkan atau mengakomodasi analisis pada tingkat sub-unit. ada kemungkinan bahwa dampak untuk workgroup atau sub-unit yang menjadi milik individual juga akan tinggi Berdasarkan diskusi singkat berikut hipotesis yang dapat dirumuskan: H3 : Peningkatan individual impact akan menyebabkan peningkatan Work Group. ketika efek yang timbul dari penggunaan SI menjadi tinggi secara individu. Ceteris paribus.Pengaruh Individu & Sub-Unit atau Work Group dalam Model Pengukuran Evaluasi Keberhasilan Myers et al. hasil pencarian untuk literatur dalam membangun hubungan . berpendapat bahwa individu-individu dalam organisasi tergolong sub-unit. .yang positif atau sebaliknya .antara individual impact dan sub-unit atau Workgroup Impact tidak berhasil. Namun. H5 : Peningkatan Workgroup Dampak akan menyebabkan peningkatan Work Group Impact. wawasan yang berguna mungkin muncul.

Kuesioner menggunakan skala 1 – 7 (Likert-type scale) yang mana: 1 = strongly disagree dan 7 = strongly agree.Data collection Penelitian ini dilakukan di Finlandia dan Estonia – dua negara yang berteknologi maju. Unit analisis dari penelitian ini adalah di tingkat perusahaan. Key Informants adalah individu yang memiliki akses informasi dari organisasi. Respon yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari survei direktori perusahaan. 20]. . Untuk memastikan validitas data dan keandalan survei mengunakan yaitu 2 dari Fakultas IS. Perusahaan yang dipilih oleh peneliti adalah kemampuan untuk mendapatkan alamat kontak individu yang bisa digambarkan sebagai ”Key Informants" dalam perusahaan. 1 dari konsultan ERP dan 1 dari level user managerial ERP. Negara Eropa dengan rekor adopsi ERP[15.

7%) bisnis manajer Jabatan mereka termasuk kepala executive officer. farmasi. dan bisnis gudang. . Penelitian menerima 62 respon individu: 39 dari Finlandia dan 23 dari Estonia. Data diklasifikasikan menurut pekerjaan terdiri: 20(32. dan manajer keuangan.5%) untuk Estonia 44 dikombinasikan untuk kedua negara (9. Dari 62 responden.9% memiliki SAP didalam organisasi. 25(40%) menengah. 33.5%).6% memiliki Scala 8.Nova. 9.5% memiliki Movex. 14.5%) untuk Finlandia 15 perusahaan (12. pengolahan makanan. TI perusahaan.The Sample Sample : 29 perusahaan (8. jasa keuangan. dan 22 (36%) perusahaan besar. ritel. chief information officer.9% sisanya Concorde. chief akuntan. Sampel diklasifikasikan oleh ukuran perusahaan(Laukkanen) yaitu 15 (24%) perusahaan kecil. dll Tanggapan diterima dari berbagai industri termasuk manufaktur. IT manager.3%) TI profesional / manajer 42 (67.1% memiliki Hansa 33.

1. – R2 menunjukkan persentase varians konstruk dalam model sedangkan koefisien jalur menunjukkan kekuatan hubungan antara konstruksi • • • . variabel yang diamati) dan langkah-langkah yang mendasari untuk membangun masing-masing konstruksi. Model pengukuran ini terdiri dari hubungan antara faktor-faktor kepentingan (yaitu. pengukuran ini memberikan informasi tentang seberapa baik model teoritis memprediksi jalur hipotesis atau hubungannya.Pendekatan ini lebih disukai karena kemampuannya untuk mengakomodasi sampel dengan ukuran kecil. PLS mengakui dua komponen dari model kasual: model pengukuran dan model struktural. Software PLS menyediakan beberapa korelasi kuadrat (R2) untuk setiap konstruk endogen dalam model dan koefisien jalur/path. 2. Dalam model struktural. Hal ini menunjukkan validitas konstruk instrumen penelitian (yaitu seberapa baik instrumen mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur. PLS (Partial Least Squares) .• Sebuah pemodelan persamaan struktural atau disebut teknik Structural Equation Modeling (SEM) digunakan untuk menguji hubungan antara konstruksi.

.

Dua konstruksi mencapai 31% pada variasi Individual Impact.39 dan 0. internal loasing. semua konstruksi menjelaskan 19% dari varians dalam model struktural. 2. Item yang loading. Gambar di atas (figure 4) menunjukkan koefisien path dan ukuran nilai R2.  Hal ini dapat dilihat bahwa System Quality (SQ) dan Information Quality (IQ) memiliki hubungan yang kuat dengan dimensi (II) Individual Impact dengan masing masing koefisien path (β) dari 0. 7. 2. hubungan antara Individual Impact dan Organizational Impact lemah (β = 0.049). dan Alpha Cronbach dari langkah-langkah konstruksi telah memadai untuk penelitian ini(silakan lihat detail di Lampiran).56). 1.7 Semua path signifikan pada tingkat p = 0. dan bandingkan dengan nilai yang direkomendasikan dari 0. 5.27. 3.55). Ada juga hubungan yang kuat antara Individual Impact dan Workgroup Impact (WI) (β = 0. Dimensi Organizational Impact memiliki hubungan yang signifikan dengan between Individual Impact (β = 0. Demikian pula.Menilai Model Pengukuran dan Model Struktural 1. Reliabilitas konstruk. 8. 6. Secara bersama-sama. (Nilai-nilai yang diperoleh telah memadai untuk penelitian ini). Uji signifikansi dari seluruh path dilakukan dengan menggunakan prosedur bootstrap resampling dengan 200 resamples. Selanjutnya.05 dengan pengecualian : path Individual Impact dan Organizational Impact. 4. ditunjukkan di Lampiran. . II bersama dimensi lain sebesar 31% dari variasi untuk membangun WI. reliabilitas komposit dan Alpha Cronbach dari konstruksi.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Sampel tidak acak. Kurangnya dukungan untuk hipotesis ini berkaitan dengan pengaruh kontekstual. heterogenitas yaitu sampel dan desain instrumen. Meskipun ukuran sampel dari 62 secara statistik cukup untuk dianalisis. Untuk membahas hubungan antara dimensi dalam setiap kerangka kerja untuk menilai atau mengukur keberhasilan sistem ERP dalam organisasi.masing organisasi . ukuran sampel yang lebih besar akan menghasilkan hasil yang lebih baik.   Hipotesis : Analisis data didukung empat dari lima hipotesis yang dirumuskan dengan pengecualian H4.  Tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk menguji hubungan timbal balik antara dimensi dalam diperpanjang keberhasilan model sistem ERP. yang meneliti jalur antara individual impact dan workgroup impact . juga dapat menjadi bias ketika seorang informan tunggal mempresentasikan pandangan rata-rata untuk masing.   .

dan organizational impact About The Future :  Peneliti ERP mungkin bertanya “mengapa hubungan langsung antara individual group dan organizational impact tidak memiliki landasan. . Untuk itu.Manfaat penelitian ini :  Hypothesized paths antara dimensi keberhasilan ERP tampaknya memiliki prediksi yang memadai untuk model ini. termasuk ERP dan CRM (Customer Relationship Management) serta dalam pengaturan lainnya.    Analisis data penelitian menunjukkan bahwa Quality System. setidaknya dalam konteks sistem ERP. juga terdapat hubungan antara information quality dengan individual impact. berkaitan dengan sifat dan hubungan antara dimensi keberhasilan sistem ERP  Studi ini menawarkan wawasan yang berguna untuk kedua praktisi ERP dan IS yang berkaitan dengan hubungan antara dimensi keberhasilan untuk Sistem ERP. Analisis data yang digunakan dalam studi yang akan dilakukan dengan menggunakan Model Keberhasilan D&M IS.  Ini bermanfaat untuk studi masa depan yang hendak membangun dan mengkonfirmasi sifat dari aliran ini. sementara ketepatan alasannya ditentukan oleh workgroup impact. dalam konteks sistem ERP. penelitian ini menawarkan wawasan yang berguna bagi praktisi ERP dan peneliti SI. berhubungan positif dengan individual impact. yang nantinya akan diakui dalam sistem perusahaan lainnya.  Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara dimensi individual impact dan Workgroup impact. Sistem IT menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan SI. yang menyimpulkan bahwa individual impact dan workgroup impact tidak berhubungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful