4/11/2013

CORE TEAM APBN 2009
P2JJ BALI
SPESIFIKASI TEKNIK JALAN NASIONAL
DIVISI 1 DIVISI 2 DIVISI 3 DIVISI 4 DIVISI 5
DIVISI 6 DIVISI 7 DIVISI 8 DIVISI 9 DIVISI 10
PT. PERENTJANA DJAJA
1
BAHAN
PELAKS
4/11/2013
Pada prinsipnya struktur isi dari Sepesifikasi Teknik
meliputi 5 (lima) hal yaitu :
1. Umum
- Uraian dan penjelasan umum mengenai ruang
lingkup pekerjaan dan, pekerjaan lain yang
terkait.
- Toleransi dimensi, kesiapan kerja, pengamanan,
jadwal kerja, kondisi tempat kerja, perbaikan
pekerjaan yang tidak memenuhi syarat, dll
2. Persyaratan
- Standar rujukan
- Persyaratan bahan
- Persyaratan kerja
3. Pelaksanaan
- Prosedur pelaksanaan dan metode pelaksanaan
- Pengendalian pelaksanaan
4. Pengendalian mutu
- Penerimaan bahan
- Jaminan mutu
5. Pengukuran dan pembayaran
- Metode dan cara pengukuran
- Dasar Pembayaran.
4/11/2013
DIVISI 1 : UMUM
4/11/2013
NO NO NO
YES YES YES
NO NO NO NO NO
YES YES YES YES YES
NO NO NO NO
NO NO
YES YES YES YES YES
YES NO
YES YES
NO
YES
NO NO
YES YES
NO
NO NO
YES YES
NO YES
GAMBAR : BAGAN ALIR PROSES PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN
START
KONTRAK
SPMK & SPL
PRECONSTRUCTION
MEETING
DIVISI 1 : UMUM
PELAKSANAAN
DIVISI 2 : DRAINASE DIVISI 3 : PEK. TANAH
DIVISI 4 : PEL.
PERKERASAN & BAHU
DIVISI 5 : PERKERASAN
BERBUTIR
DIVISI 6 : PERKERASAN
ASPAL
DIVISI 7 : PEKERJAAN
STRUKTUR
DIVISI 8 : PEKERJAAN
MINOR
DIVISI 9 : PEKERJAAN
HARIAN
DIVISI 10 : PEKERJAAN
PEMELIHARAAN
GALIAN SALURAN
PAS.
MORTAR
GORONG2
CHECK
GALIAN BIASA, GALIAN PADAS/ BATUAN, GALIAN PERKERASAN BERASPAL
CHECK CHECK CHECK CHECK
AGGREGAT B AGGREGAT B
CHECK
AGGREGAT A
CHECK
AGGREGAT A
MENUTUPPATCHING
CHECK
CHECK
CHECK
PRIME
COAT
TACK COAT
CHECK LAPISAN AC- BC
CHECK
CHECK
PASANGAN BATU &
PEKERJAAN BETON
CHECK
TACK COAT
CHECK
LAPISAN AC- WC
CHECK CHECK CHECK
CHECK
PROSESPEMBAYARAN
CHECK
FINAL
QUANTITY/ ADDENDUM
PHO
SELESAI
CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK
CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK
CHECK CHECK
CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK CHECK
CHECK CHECK CHECK
CHECK CHECK
CHECK
PENERAPAN SECARA TEPAT DIVISI 1
AKAN MENJAMIN TERCAPAINYA
MUTU YANG LEBIH BAIK
4/11/2013
1. 2 MOBILISASI
1. 3 KANTOR LAPANGAN DAN FASILITASNYA
1. 4 FASILITAS DAN PELAYANAN PENGUJIAN
1. 5 TRANSPORTASI DAN PENANGANAN
1. 6 PEMBAYARAN SERTIFIKAT BULANAN
1. 7 PEMBAYARAN SEMENTARA
1. 8 PEMELIHARAAN DAN PENGATURAN LALU - LINTAS
1. 9 REKAYASA LAPANGAN
1. 10 STANDAR RUJUKAN
1. 11 BAHAN DAN PENYIMPANAN
1. 12 JADWAL PELAKSANAAN
1. 13 PROSEDUR VARIASI
1. 14 PENUTUPAN KONTRAK
1. 15 DOKUMEN REKAMAN KONTRAK
1. 16 PEKERJAAN PEMBERSIHAN
1. 17 ASPEK LINGKUNGAN HIDUP
1. 18 RELOKASI UTILITAS DAN PELAYANAN YG ADA
DIVISI 1 : UMUM
4/11/2013
▲ ▲


▲ ▲
7 HARI DARI TGL KONTRAK
14 HARI DARI PCM
5
6
Fasilitas pengujian/pengendali mutu harus sudah
selesai terpasang dalam waktu selambat -
lambatnya 45 hari dari tanggal SPMK.
Dilaksanakan dengan ketentuan spek. 10.2
1
2
3
4
SELESAI DALAM WAKTU SELAMBAT - LAMBATNYA 60 HARI DARI TANGGAL SPMK
BASE CAMP
KONTRAKTOR
FASILITAS
PENGUJIAN
PENGUATAN
JALAN/JEMBATAN
PROGRAM
MOBILISASI
PRE
CONSTRUCTION
MEETING
KONTRAK
SPMK
SPL
21 HARI DARI TGL KONTRAK
DIAGRAM ALIR PEKERJAAN KONSTRUKSI JALAN
DIVISI 1 : UMUM
SEKSI 1.2 MOBILISASI
JADWAL
PELAKSANAAN
PERSONIL
PELAKSANA
PERALATAN
PELAKSANAAN
Lokasi Base Camp Kontraktor dengan detail yg
menujukkan lokasi kantor Kontraktor, bengkel,
gudang, laboratorium, peralatan, dll.
Jadwal pengiriman peralatan dari semua peralatan
yg tercantum dalam penawaran
Kepala pelaksana (GS) memenuhi jaminan
kualifikasi (sertifikat) menurut cakupan
pekerjaannya.
Jadwal pelaksanaan yang lengkap dan mendetail
4/11/2013
UMUM 60 hr
1. 2 MOBILISASI
45 hr
7 hr dari kontrak
21 hr dari
kontrak
LOKASI
ALAT KOMUNIKASI
MEJA RAPAT & KURSI
RAK UNTUK ARSIP
BENGKEL & GUDANG
USULAN MOB LAB DETAIL MOBILISASI LABORATORIUM & PERALATANNYA
USULAN PERS. LAB CV PERSONIL PENGUJIAN
JADWAL PENGUJIAN JADWAL PELAKSANAAN PENGUJIAN
FORMULIR PENGUJIAN FORMULIR STANDAR UNTUK PENGUJIAN
1. 4 FASILITAS
PELAYANAN &
PENGUJIAN
1. 3
BASE CAMP & FASILITAS
PENGUJIAN MUTU
RAPAT PRA PELAKSANAAN
DAN PROGRAM MOBILISASI
PROGRAM
MOBILISASI
KANTOR
LAPANGAN &
FASILITASNYA
4/11/2013
PERLINDUNGAN PEKERJAAN DARI LALU - LINTAS
PEKERJAAN JALAN/ JEMBATAN SEMENTARA
PENGATURAN SEMENTARA LALU - LINTAS
PEMELIHARAAN UTK KESELAMATAN LALU - LINTAS
30 hr KALENDER dr SPMK
SERTIFIKASI & JOB MIX
PENGADAAN BAHAN PERSETUJUAN LOKASI/ SUMBER BAHAN
CONTOH BAHAN
PENYIMPANAN BAHAN
JADWAL PELAKSANAAN DETAIL
JADWAL PELAKS. MINGGUAN SETIAP SENIN PAGI
RAPAT PEMBUKTIAN KETERLAMBATAN SK DIREJEN BM
1. 11 BAHAN &
PENYIMPANAN
1. 12 JADWAL
PELAKSANAAN
1. 9 REKAYASA
LAPANGAN
SURVEY UNTUK PENINJAUAN KEMBALI
RANCANGAN
PENGENDALIAN MUTU BAHAN
PEMELIHARAAN
& PENGATURAN
LALU - LINTAS
1. 8
4/11/2013
AIR PERMUKAAN & BAWAH TANAH
GANGGUAN THDP UTILITAS UMUM
PEMBERSIHAN AKHIR
RAMBU JALAN
SISA BAHAN BANGUNAN
PEMBERSIHAN AKHIR
1. 17 ASPEK
LINGKUNGAN
HIDUP
POLUSI SUARA
POLUSI UDARA
KELESTARIAN SUMBER BAHAN
1. 16 PEKERJAAN
PEMBERSIHAN
TEMPAT KERJA
SALURAN DRAINASE
RUMPUT PADA BAHU JALAN
4/11/2013
DIVISI 2 : DRAINASE
4/11/2013
No
DISKRIPSI SPESIFIKASI JALAN
JENIS PEK URAIAN
SEKSI
SPEK
URAIAN
1 DRAINASE
SELOKAN DAN
SALURAN AIR
2.1(1) GALIAN UNTUK
SELOKAN DAN
SALURAN AIR
2.2 PASANGAN BATU
DENGAN MORTAR
GORONG -
GORONG
2.3 GORONG – GORONG
DAN DRAINASE BETON
DARINASE
POROUS
2.4(1) URUGAN BERONGGA
2.4(2) DRAINASE DIBAWAH
PERMUKAAN
RUANG LINGKUP
4/11/2013
DISKRIPSI :
Selokan (side ditches) = selokan samping jalan sebagai
drainase
Saluran air (waterways) = jalan air, saluran irigasi, sungai.
LINGKUP PEKERJAAN :
Pekerjaan Galian untuk membuat :
1. Selokan baru (dengan memakai pasangan batu atau
tidak)
2. Relokasi atau perlindungan dari saluran/sungai yang
ada (akibat pekerjaan jalan menyebabkan terganggunya
aliran air yang sudah ada)
3. Perpanjangan selokan yang sudah ada, karena ada
penanganan pada ruas jalan yang sama (ditingkatkan
target lebih panjang).

1. SELOKAN DAN SALURAN AIR
4/11/2013
BAGAN ALIR PEKERJAAN SELOKAN DAN SALURAN AIR
NO
YES
YES
NO
YES
NO
YES
NO
YES
NO
YES
NO YES
MULAI
PELAKSANAAN SEKSI 1.9 : REKAYASA
LAPANGAN
Check
1
PERSETUJUAN GAMBAR & KUANTITAS
PELAKSANAAN
PENGAJUAN
REQUEST
PENGUKURAN
STAKING OUT
Check
3
PEKERJAAN
PENGALIHAN
SEMENTARA
Check
2
Check
4
PEKERJAAN GALIAN -
TIMBUNAN &
PENYELESAIAN
FORMASI
Check
5
PERBAIKAN
PEKERJAAN
Check
6
PENGUKURAN
PENERIMAAN
PEMBAYARAN
SELESAI
Monitoring
Pemeliharaan
Rutin Saluran
4/11/2013
KETENTUAN YANG DISYARATKAN DALAM PEMBUATAN SELOKAN
Selesai pembuatan
formasi selokan harus
dilaporkan Dir.Tek.
Sesuai dengan gambar
kerja yang sudah
disetujui Direksi Teknik
Pembuatan galian
selokan
3
Khusus selokan yang
dibuat di daerah
timbunan dan material
timbunan harus
persetujuan Direksi
Teknik
Khususnya untuk
selokan dengan
pasangan batu mortar
Keterangan
Harus memenuhi
ketentuan jenis material
yang kuat untuk dasar
selokan
Penggunaan
material timbunan
4
Dibolehkan dengan syarat
≤ 5 cm
Beda kedudukan
akhir alinemen dan
profil melintang
2
Dibolehkan dengan syarat
≤ 1 cm
Beda Ketinggian
akhir (peil) dari
dasar selokan
1
Ketentuan yang
disyaratkan
Diskripsi Kegiatan No
Selesai pembuatan
formasi selokan harus
dilaporkan Dir.Tek.
Sesuai dengan gambar
kerja yang sudah
disetujui Direksi Teknik
Pembuatan galian
selokan
3
Khusus selokan yang
dibuat di daerah
timbunan dan material
timbunan harus
persetujuan Direksi
Teknik
Khususnya untuk
selokan dengan
pasangan batu mortar
Keterangan
Harus memenuhi
ketentuan jenis material
yang kuat untuk dasar
selokan
Penggunaan
material timbunan
4
Dibolehkan dengan syarat
≤ 5 cm
Beda kedudukan
akhir alinemen dan
profil melintang
2
Dibolehkan dengan syarat
≤ 1 cm
Beda Ketinggian
akhir (peil) dari
dasar selokan
1
Ketentuan yang
disyaratkan
Diskripsi Kegiatan No
4/11/2013
YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PELAKSANAAN
A. PENETAPAN TITIK PENGUKURAN meliputi antara
lain : Lokasi, panjang, arah aliran, kelandaian,
lokasi lubang penampung dan selokan pembuang
ditandai dengan cermat.
B. PELAKSANAAN PEKERJAAN SELOKAN meliputi
antara lain : Penggalian, penimbunan, dan
pemangkasan  profil dan kelandaian sesuai
gambar rencana yang sudah disetujui oleh Direksi
Teknik.
4/11/2013
2. PASANGAN BATU DENGAN MORTAR
Kegiatan yang termasuk pasangan batu dengan
mortar antara lain :
1 Pelapisan sisi/dasar selokan
2 Saluran “apron” (lantai olak/catch basin)
3 Lobang masuk (catch pit)
4 Lobang sulingan (weep holes)
5 Pembuatan Bak Kontrol
6 Struktur saluran kecil lainnya
7 Perbaikan selokan/saluran lama yang rusak
8 Pembuatan saluran pelimpah dan tempat
cuci hewan.
4/11/2013
BAGAN ALIR PEKERJAAN PASANGAN BATU DENGAN MORTAR
NO NO
YES YES
YES
NO
YES
NO
YES
NO
YES
NO YES
MULAI
PELAKSANAAN SEKSI 1.9 : REKAYASA
LAPANGAN
Check
1
PELAKSANAAN SEKSI 1.11 : BAHAN
DAN PENYIMPANAN
PERSETUJUAN GAMBAR & KUANTITAS
PELAKSANAAN
PENGAJUAN
REQUEST
PENYIAPAN
LAHAN
Check
4
PENYIAPAN DAN
PENEMPATAN/ PEMASANGAN
BATU dan ADUKAN
Check
3
Check
5
PENGUKURAN
PENERIMAAN
PEMBAYARAN
SELESAI
Check
2
PERSETUJUAN BAHAN
PEKERJAAN
PERBAIKAN
Check
6
Monitoring
Pemeliharaan
Rutin Saluran
4/11/2013
PELAKSANAAN PASANGAN BATU DENGAN MORTAR
A. Penyiapan formasi atau pondasi
– Formasi disiapkan sesuai ketentuan seksi 2.1 Selokan dan saluran air
– Pondasi atau galian parit untuk tumit (cut – off – wall) sesuai ketentuan seksi 3.1.
Galian
B. Penyiapan Batu
– Batu harus dibersihkan dari bahan yang dapat mengurangi kelekatan dengan
adukan semen mortar,
– Sebelum di pasang, batu harus dibasahi seluruh permukaan dan diberikan waktu
yang cukup untuk penyerapan air sampai jenuh,
C. Pemasangan lapisan batu
– Landasan dari adukan semen minimum 3 cm,
– Batu harus tertanam kuat dan rongga di antara batu harus terisi dengan adukan,
rata dengan permukaan lapisan,
– Pekerjaan dimulai dari dasar lereng menuju ke atas dan permukaan segera
diselesaikan setelah pengerasan awal
– Permukaan akhir (finishing) dilakukan perawatan sesuai pasal 7.1
– Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan diratakan/
dirapikan  supaya darinase lancar
4/11/2013
Pengukuran dan pembayaran
A. PENGUKURAN UNTUK PEMBAYARAN
• Diukur dalam Meter Kubik,
• Untuk pelapisan selokan dan saluran air atau permukaan lain
volume nominal ditentukan dengan luas permukaan terekspos dan
tebal nominal lapisan,
• Tebal nominal adalah tebal terkecil dari : tebal menurut gambar,
tebal rata – rata aktual yang terpasang, dan 15 cm.
• Pekerjaan pasangan batu dengan mortar bukan untuk pelapisan,
volume nominal dihitung sebagai vol teoritis yang ditetapkan dari
garis & penampang ditentukan atau yang disetujui
• Galian selokan drainase/saluran air yang diberi pasangan batu
dengan mortar mengikuti seksi 2.1
• Landasan tembus air atau bahan penyaring berbutir mengikuti
seksi 2.4.4 Drainasi Porous,
• Tidak ada pembayaran terpisah untuk cetakan lubang atau pipa.
4/11/2013
B. DASAR PEMBAYARAN
Harga Satuan per satuan pembayaran
Kompensasi penuh atas :
1. Pengadaan dan pemasangan bahan –bahan
2. Penyiapan formasi dan pondasi
3. Pembuatan lobang sulingan
4. Pengeringan air
5. Penimbunan kembali
6. Pekerjaan akhir
7. Pekerjaan dan biaya lain untuk
penyelesaian pekerjaan.
4/11/2013
3. GORONG – GORONG & DRAINASE BETON
Cakupan pekerjaan gorong – gorong :
1. Perbaikan, perpanjangan, penggantian, dan
pembuatan :
• Gorong – gorong pipa beton bertulang,
• Pipa besi bergelombang,
• Gorong – gorong persegi,
• Gorong – gorong plat beton bertulang, termasuk :
a) tembok kepala (leneng)
b) Struktur lobang masuk dan keluar
c) pekerjaan perlindungan terhadap penggerusan
(kolam olak)
2. Drainase lapis beton dan pelat penutup
4/11/2013
BAGAN ALIR PEKERJAAN GORONG2 DAN DRAINASE BETON
NO NO
YES YES
Check 1
Data pengukuran
Metode perhitungan YES
Kelengkapan gambar
Kuantitas rencana NO
Check 2
Properties bahan
Jumlah bahan YES
Check 3
Gambar pelaksanaan
Kesiapan lokasi
Kesiapan bahan, peralatan dan tenaga
Rencana kuantitas
NO
YES
NO
YES
Check 4
Kesiapan lahan
Pemadatan dasar galian
Lantai kerja
Check 5
Kerataan pemasangan
Kesempurnaan sambungan NO
Elevasi
Check 6
Elevasi
Dimensi
Check 7
Toleransi yg diijinkan
Kerapihan penyelesaian
Penutupan galian pengalihan sementara
Pembuangan galian dan pembersihan NO
MULAI
PELAKSANAAN SEKSI 1.9 : REKAYASA
LAPANGAN
Check
1
PELAKSANAAN SEKSI 1.11 : BAHAN
DAN PENYIMPANAN
PERSETUJUAN GAMBAR & KUANTITAS
PELAKSANAAN
PENGAJUAN
REQUEST
PENYIAPAN
LAHAN
Check
4
PENEMPATAN/ PEMASANGAN
GORONG2 PIPA LOGAM
BERGELOMBANG
Check
3
Check
5
Check
2
PERSETUJUAN BAHAN
PENEMPATAN/ PEMASANGAN
GORONG 2 PIPA BETON
PENEMPATAN/ PEMASANG
PEMANJANGAN GORONG2 YG
ADA
PENEMPATAN/ PEMASANGAN
GORONG2 PERSEGI DAN PLAT
KEPALA GORONG -
GORONG
PENGALIHAN
SEMENTARA
Check
6
PENYELESAIAN
AKHIR
Check
7
PENGUKURAN
PENERIMAAN
PEMBAYARAN
SELESAI
Monitoring
Pemeliharaan
Rutin Gorong2
4/11/2013
4. DRAINASE POROUS
1. DEFINISI :
DRAINASE POROUS ADALAH BAHAN POROUS YANG DIPASANG DAN DIPADATKAN
DI BAGIAN BELAKANG ABUTMENT, TEMBOK SAYAP, TEMBOK PENAHAN TANAH,
PASANGAN BATU KOSONG DAN DINDING BRONJONG SERTA PADA DRAINASE
BAWAH PERMUKAAN JALAN, SALURAN BETON, GORONG – GORONG, SELIMUT
PASIR DAN DRAINASE VERTIKAL UNTUK PEKERJAAN STABILISASI, KANTUNG
LUBANG SULINGAN, PENYARING (FILTER) PADA KAKI LERENG DAN PEKERJAAN
LAIN YANG SERUPA.
2. TOLERANSI DIMENSI :
1 PROFILAKHIR TIDAK BOLEH BERBEDA LEBIH 2 CM DARI YANG DIRENCANAKAN.
2 ELEVASI DAN KELANDAIAN AKHIR UNTUK BAHAN LANDASAN TIDAK BOLEH BERBEDA LEBIH 1
CM DARI YANG DIRENCANAKAN.
3 TOLERANSI DIMENSI UNTUK BENTUK, DIAMETER, PANJANG DAN TEBAL DINIDING DARI PIPA
BERLUBANG BANYAK SESUAI DENGAN AASHTO M179-84.
4 KEMIRINGAN LERENG DRAINASE YANG DIBUAT DARI PIPA BERLUBANG BANYAK MINIMUM
HARUS 1 : 1000.
5 PERMUKAAN PONDASI UNTUK PENIMBUNAN KEMBALI BAHAN POROUS YANG DIGUNAKAN
SEBAGAI SELIMUT DRAINASE HARUS MEMILIKI LERENG MINIMUM 1 : 200
4/11/2013
4. DRAINASE POROUS
3. PENGAJUAN KESIAPAN KERJA  21 HARI SEBELUM PELAKSANAAN CONTOH
BAHAN FILTER (MINIMUM 50 KG) HARUS
DISERAHKAN KEPADA DIREKSI TEKNIK.
 CONTOH PIPA BERLUBANG BANYAK HARUS
DISERAHKAN KEPADA DIREKSI TEKNIK.
 PENCATATAN DAN PELAPORAN TERTULIS
KEPADA DIREKSI MENGENAI KESIAPAN DAN
SETELAH SELESAINYA PELAKSANAAN.
4. JADWAL KERJA PASAL 2.4.1 (7)
5. BAHAN PASAL 2.4.2 (1) s/d 2.4.2 (5)

6. PEMASANGAN BAHAN POROUS UNTUK
PENIMBUNAN KEMBALI
PASAL 2.4.3 (1)
7. PEMASANGAN BAHAN LANDASAN PASAL 2.4.3 (2)

8. PEMASANGAN ANYAMAN PENYARING PASAL 2.4.3 (3)

9. PEMASANGAN PIPA BERLUBANG BANYAK PASAL 2.4.3 (4)

10. PEMBUATAN LUBANG SULINGAN PASAL 2.4.3 (5)

4/11/2013
4. DRAINASE POROUS
NO NO
YES YES
YES
NO
YES
NO
MULAI
PELAKSANAAN SEKSI 1.9 : REKAYASA
LAPANGAN
Check
1
PELAKSANAAN SEKSI 1.11 : BAHAN
DAN PENYIMPANAN
PERSETUJUAN GAMBAR & KUANTITAS
PELAKSANAAN
PENGAJUAN
REQUEST
Check
3
Check
4
Check
2
PERSETUJUAN BAHAN
PEMBUATAN LUBANG SULINGAN
PENEMPATAN/ PEMASANGAN
MATERIAL POROUS
PENEMPATAN / PEMASANGAN
MATERIAL URUGAN
PENEMPATAN/ PEMASANGAN
ANYAMAN FILTER PLASTIK
Check
5
PENEMPATAN / PEMASANGAN
PIPA POROUS
Check
6
PEKERJAAN
PERBAIKAN
PENGUKURAN
PENERIMAAN
PEMBAYARAN
SELESAI
4/11/2013
5. KESIMPULAN DRAINASE
1. Maksud :
• Pengeringan air permukaan dan air tanah
2. Tujuan :
• Mencegah kehancuran konstruksi, dengan cara
merendahkan permukaan air dan membuang air
dari badan jalan
3. Fungsi :
• Mengalirkan air menjauhi jalan
• Mencegah air masuk ke jalan
• Mengalirkan ke tempat yang ditentukan.
4. Jenis :
• Drainase permukaan
• Drainase bawah tanah
• Drainase talud
• Drainase konstruksi perkerasan
4/11/2013
6. PEMELIHARAAN DRAINASE
1. Jenis Perawatan :
• Koreksi (Perbaikan) mengembalikan kondisi bangunan drainase
• Proteksi (perlindungan) mempertahankan kondisi bangunan
2. Perbaikan :
• Memperbaiki pasangan batu yang rusak
• Memperbaiki saluran yang tidak berfungsi
• Material yang porous diganti
• Tanah urugan yang rusak diperbaiki,
• Pipa O harus disesuaikan
• Saluran yang tersumbat dibersihkan
• Gorong – gorong yang rusak diganti
• Retak ringan pada pasangan batu diisi
4/11/2013
DIVISI 3 : PEKERJAAN TANAH
4/11/2013
PEKERJAAN TANAH ( DIVISI III ), Seksi 3.1
PEKERJAAN INI MELIPUTI :
1. GALIAN, yang terdiri dari
∞ Galian Biasa
∞ Galian Batu
∞ Galian Struktur
∞ Galian Perkerasan Beraspal
2. TIMBUNAN, yang terdiri dari
∞ Timbunan Biasa
∞ Timbunan Pilihan
∞ Timbunan Pilihan di atas rawa
∞ Timbunan Batu Pilihan
3. PENYIAPAN BADAN JALAN
4. PENGUPASAN PERMUKAAN PERKERASAN LAMA DAN
DICAMPUR KEMBALI
4/11/2013
PEKERJAAN TANAH
LINGKUP KEGIATAN
► PENYIAPAN TANAH DASAR MELIPUTI GALIAN, TIMBUNAN, DAN
PENYIAPAN BADAN JALAN,
► PENGUJIAN TANAH DASAR UNTUK MEMERIKSA KEKUATAN DAN
KECOCOKAN TANAH DASAR SEBAGAI MATERIAL PONDASI DI BAWAH
PERKERASAN JALAN, PIPA GORONG-GORONG DAN STRUKTUR LAINNYA,
► PENGENDALIAN PELAKSANAAN DENGAN PEMADATAN DAN ATAU CARA-
CARA LAIN UNTUK MENDAPATKAN STABILITAS TANAH DASAR ATAU
TANAH URUGAN SEHINGGA DIPEROLEH KEKUATAN TERBAIK YANG
MUNGKIN BISA DICAPAI
4/11/2013
3.1. GALIAN
 URAIAN
▪ PENGGALIAN, PENANGANAN, PEMBUANGAN / PENYIAPAN STOCK
TANAH.
▪ GALIAN UNTUK SELOKAN DAN SALURAN AIR, GALIAN PONDASI ( PIPA,
GORONG – GORONG ATAU STRUKTUR LAINNYA).
▪ GALIAN BIASA DAN GALIAN PADAS/BERBATU.
 TOLERANSI
▪ KELANDAIAN AKHIR, ARAH DAN FORMASI SESUDAH GALIAN MAX 2 CM
DI SETIAP TITIK.
 PELAPORAN
▪ REQUEST, GAMBAR KERJA, RENCANA VOLUME GALIAN, TENAGA DAN
PERALATAN YANG DIPAKAI, SERTA JEMINAN KESELAMATAN YANG
AKAN DI IMPLEMENTASIKAN UNTUK PEKERJAAN GALIAN YANG
MEMPUNYAI RESIKO.
 JAMINAN KESELAMATAN
▪ PIHAK KESATU, KEDUA, DAN PIHAKKETIGA.
 JADWAL KERJA
▪ DISESUAIKAN DENGAN BATASAN – BATASAN YANG ADA.
4/11/2013
MULAI
PENGAJUAN
REQUEST
PENGAMANAN PEK.
GALIAN
PERIKSA UTILITAS
BAWAH TANAH
PENGENDALIAN/ PENG
AMANAN LL
Check
PERLINDUNGAN
UTILITAS BAWAH
TANAH
Check
PELAKSANAAN
GALIAN
Check PERBAIKAN
PEMBUANGAN
SISA GALIAN
PENGUKURAN
PENERIMAAN
PEMBAYARAN
SELESAI
FLOW CHART PEKERJAAN GALIAN
4/11/2013
GALIAN BIASA, harus mencakup seluruh galian yang tidak
diklasifikasikan sebagai galian batu, galian struktur, galian
sumber bahan (borrow excavation) dan galian perkerasan
beraspal.
GALIAN BATU, harus mencakup galian bongkahan batu
dengan volume 1 meter kubik atau lebih dan seluruh batu
atau bahan lainnya yang menurut Direksi Pekerjaan adalah
tidak praktis menggali tanpa penggunaan alat bertekanan
udara atau pemboran dan peledakan. Galian ini tidak
termasuk galian yang menurut Direksi Pekerjaan dapat
dibongkar dengan penggaru (ripper) tunggal yang ditarik
oleh traktor dengan berat maksimum 15 ton dan tenaga
kuda neto maksimum sebesar 180 PK (Tenaga Kuda).
4/11/2013
GALIAN STRUKTUR, mencakup galian pada segala jenis
tanah dalam batas pekerjaan yang disebut atau ditunjukkan
dalam Gambar untuk Struktur. Setiap galian yang
didefinisikan sebagai Galian Biasa atau Galian Batu tidak
dapat dimasukkan dalam Galian Struktur. Galian Strustur
terbatas untuk galian lantai pondasi jembatan, tembok beton
penahan tanah, dan struktur pemikul beban lainnya selain
yang disebut dalam Spesifikasi ini.
GALIAN PERKERASAN BERASPAL, mencakup galian pada
perkerasan lama dan pembuangan bahan perkerasan
beraspal dengan maupun tanpa Cold Milling Machine
(mesin pengupas perkerasan beraspal tanpa pemanasan)
seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

4/11/2013
3.1. GALIAN
 PERBAIKAN GALIAN
▪ MEMENUHI TOLERANSI
▪ MATERIAL LEBIH HARUS DI BUANG
 UTILITAS BAWAH TANAH
▪ INFORMASI KEBERADAANNYA, MENJAGA FUNGSINYA, DAN
MEMPERBAIKI KERUSAKAN YANG TIMBUL AKIBAT PELAKSANAAN
PEKERJAAN GALIAN.
 PENGGUNAAN DAN PEMBUANGAN MATERIAL
▪ MATERIAL YANG MEMENUHI SYARAT DIGUNAKAN SECARA EFFEKTIF
UNTUK FORMASI TIMBUNAN ATAU URUGAN KEMBALI. MATERIAL
GALIAN LEBIH ATAU YANG MENGGANDUNG HUMUS HARUS DI BUANG
DI LUAR DAMIJA PADA LOKASI YG TELAH DISETUJUI DIREKSI. HASIL
BUANGAN HARUS DIRATAKAN .
 PROSEDUR PENGGALIAN
▪ PROSEDUR PENGGALIAN HARUS DILAKUKAN SESUAI DENGAN
ARAHAN HASIL AKHIR YG INGIN DICAPAI SERTA HARUS SESUAI
DENGAN STANDAR KESELAMATAN KERJA BAIK BAGI PIHAK KE SATU,
KEDUA MAUPUN PIHAK KE TIGA.
 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
▪ SEBAGIAN BESAR PEK. GALIAN TIDAK DIUKUR DAN DIBAYAR
MENURUT SEKSI INI.
4/11/2013
Nomor Mata
Pembayaran
Uraian Satuan
Pengukuran
3.1.(1)
3.1.(2)
3.1.(3)
3.1.(4)
3.1.(5)
3.1.(6)
3.1.(7)
3.1.(8)
3.1.(9)
Galian Biasa
Galian Batu
Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 M
Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 M
Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 M
Cofferdam, Penyokong, Pengaku dan
Pekerjaan yang berkaitan
Galian Perkerasan Beraspal dengan Cold
Milling Machine
Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold
Milling Machine
Biaya Tambahan untuk Pengangkutan
Bahan Hasil Galian dengen Jarak melebihi
5 km
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Lump Sum
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik per
Kilometer
Nomor Mata
Pembayaran
Uraian Satuan
Pengukuran
3.1.(1)
3.1.(2)
3.1.(3)
3.1.(4)
3.1.(5)
3.1.(6)
3.1.(7)
3.1.(8)
3.1.(9)
Galian Biasa
Galian Batu
Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 M
Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 M
Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 M
Cofferdam, Penyokong, Pengaku dan
Pekerjaan yang berkaitan
Galian Perkerasan Beraspal dengan Cold
Milling Machine
Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold
Milling Machine
Biaya Tambahan untuk Pengangkutan
Bahan Hasil Galian dengen Jarak melebihi
5 km
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Lump Sum
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik per
Kilometer
4/11/2013
3.2. URUGAN
MATERIAL
 SUMBER MATERIAL
▪ DARI SUMBER YG DISETUJUI
 URUGAN BIASA
▪ TIDAK MENGGUNAKAN BAHAN DENGAN KLASIFIKASI A – 7 – 6
ATAU CH (PLASTISITS TINGGI).
▪ NILAI CBR RENDAMAN MINIMUM 6 %
▪ TANAH EKSPANSIF DENGAN NILAI AKTIF (IP DIBAGI %
LEMPUNG) > 1,25 TIDAK BOLEH DIPAKAI.
 URUGAN PILIHAN
▪ BAHAN URUGAN DARI LOKASI YG TELAH DISETUJUI OLEH
DIREKSI
▪ NILAI CBR RENDAMAN MINIMUM 10 %.
▪ INDEK PLASTISITAS (IP) MAKSIMUM 6 %
4/11/2013
3.2. URUGAN
PEMASANGAN DAN PEMADATAN
 PENYIAPAN TEMPAT KERJA
▪ SELURUH BAHAN YANG TIDAK MEMENUHI HARUS DIBUANG
SESUAI DENGAN 3.1.1 DAN 3.1.2.
▪ TINGGI URUGAN 1M ATAU KURANG TANAH DASAR HARUS
DIPADATKAN.
▪ URUGAN PADA TEPI BUKIT, LERENG HARUS DIGALI
MEMBENTUK TERAS DENGAN LEBAR YANG CUKUP UNTUK
OPERASINYA ALAT PEMADAT.
 PENGHAMPARAN URUGAN
▪ PENGHAMPARAN BAHAN URUGAN DILAKUKAN LAPIS PER
LAPIS DENGAN TEBAL LAPISAN MAKSIMUM 24 CM UNTUK
MENDAPATKAN TEBAL PADAT SEKITAR 20 CM, SAMPAI
MENCAPAI KETINGGIAN URUGAN YANG DIRENCANAKAN.
4/11/2013
3.2. URUGAN
 PEMADATAN
▪ SETIAP LAPIS DIPADATKAN DENGAN PERALATAN YG SESUAI
▪ KADAR AIR SELAMAPEMADATAN HARUS DIJAGA DALAM
RENTANG – 3 % ATAU + 1 % DARI KADAR AIR OPTIMUM (OMC).
▪ PEMADATAN DILAKUKAN DARI TEPI LUAR KE ARAH SUMBU
JALAN.
▪ URUGAN YG TIDAK BISA DICAPAI DENGAN MESIN GILAS,
TEBAL HAMPARAN MAKSIMUM 15 CM (GEMBUR), DIPADATKAN
DENGAN STAMPER ATAU TIMBRIS DENGAN BERAT MINIMUM 10
KG.
 PENGENDALIAN MUTU
▪ MUTU BAHAN
▪ PERSAYARATAN KEPADATAN.
► LAPIS 30 CM DARI TOP SUB GRADE SYARAT
KEPADATANNYA 100 %. DAN LAPIS DI BAWAHNYA
DISYARATKAN 95 %.
4/11/2013
Nomor Mata
Pembayaran
Uraian Satuan
Pengukuran
3.2.(1)
3.2.(2)
3.2.(3)
3.2.(4)
3.2.(5)
3.2.(6)
Timbunan Biasa Dari Selain Galian Sumber
Bahan
Timbunan Pilihan
Timbunan Pilihan di atas Tanah Rawa
(diukur di atas bak truk)
Timbunan Batu dengan Manual
Timbunan Batu dengan Derek
Timbunan Batu dengan Derek
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Ton
Nomor Mata
Pembayaran
Uraian Satuan
Pengukuran
3.2.(1)
3.2.(2)
3.2.(3)
3.2.(4)
3.2.(5)
3.2.(6)
Timbunan Biasa Dari Selain Galian Sumber
Bahan
Timbunan Pilihan
Timbunan Pilihan di atas Tanah Rawa
(diukur di atas bak truk)
Timbunan Batu dengan Manual
Timbunan Batu dengan Derek
Timbunan Batu dengan Derek
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Meter Kubik
Ton
4/11/2013
PENYIAPAN TANAH DASAR
FLOW CHART PELAKSANAAN PEKERJAAN TIMBUNAN TANAH
Kepadatan lapangan
Nilai CBR permukaan
Elevasi timbunan
Kemiringan melintang
CCO/ADDE
NDUM
PERSETUJUAN
PI MPRO/PI MBAGPRO
PENGAJUAN REQUEST
I JI N KERJA
PELAKSANAAN
PEKERJAAN
Lokasi
Rencana Volume
FI NAL APPROVAL
Kebenaran gambar
FI ELD
ENGI NEERI NG
GAMBAR DAN
VOLUME
VOLUME <= KONTRAK
Soil properties
TRI AL COMPACTI ON
Kadar air, tebal lapisan
pemadatan, alat
pemadat, cara
pemadatan, dan jumlah
lintasan
VOLUME >
KONTRAK
QUARRY BAHAN
TI MBUNAN
TEST LAB UNTUK
"SOI L PROPERTI ES"
Mutu pekerjaan sebelumnya
Sistem drainase
Kesiapan tenaga
Kesiapan peralatan & bahan
CK-1
CK-2
CK-3
4/11/2013
PENYIAPAN TANAH DASAR
PERANAN DAN TUNTUTANNYA SEBAGAI BAGIAN KONSTRUKSI JALAN
 SEBAGAI “SUB GRADE” TANAH DASAR BERFUNGSI :
– SEBAGAI TEMPAT PERLETAKAN STRUKTUR PERKERASAN AGAR
STRUKTUR PERKERASAN STABIL,
– SEBAGAI LAPISAN UNTUK MELINDUNGI STRUKTUR PERKERASAN
DARI PENGARUH AIR KAPILER ATAU PENGARUH LAIN DARI
LAPISAN DI BAWAHNYA,
 OLEH KARENA ITU SEBAGAI “SUB GRADE” TANAH DASAR HARUS :
– KUAT (NILAI KEPADATAN 100%)
– STABIL
– NILAI CBR MINIMUM 5 % (RENDAMAN 6 %)
4/11/2013
PERMASALAHAN YG SERING DITEMUI
MENYANGKUT TANAH DASAR (“SUB GRADE”)
► PERUBAHAN BENTUK AKIBAT BEBAN LALU – LINTAS. TANAH DENGAN PLASTISITAS TINGGI AKAN
CENDERUNG MENGALAMI HAL TERSEBUT.  DAYA DUKUNG TANAH DASAR YANG DITUNJUKKAN
OLEH NILAI CBR, DAPAT MERUPAKAN INDIKASI DARI PERUBAHAN BENTUK YANG MUNGKIN
TERJADI.
► SIFAT KEMBANG – SUSUT AKIBAT PERUBAHAN KADAR AIR.  PEMADATAN PADA KADAR AIR
OPTIMUM SAMPAI MENCAPAI KEPADATAN TERTENTU DAN TERSEDIANYA DRAINASE YANG BAIK
DAPAT MENGURANGI PERUBAHAN VOLUME/BENTUK YANG MUNGKIN TERJADI.
► DAYA DUKUNG YANG TIDAK MERATA PADA LOKASI JALAN DENGAN JENIS TANAH YANG SANGAT
BERBEDA.  PENELITIAN DETAIL DAN SEGMENTASI JALAN PADA PROSES PERENCANAAN
BERDASARKAN SIFAT TANAH YANG BERLAINAN.
► DAYA DUKUNG YANG TIDAK MERATA AKIBAT PELAKSANAAN YANG KURANG BAIK 
PENGAWASAN YANG BAIK PADA PROSES PELAKSANAAN PEKERJAAN.
► PERBEDAAN PENURUNAN AKIBAT ADANYA LAPISAN TANAH LUNAK DI BAWAH “SUB GRADE”
AKAN MENGAKIBATKAN TERJADINYA PERUBAHAN BENTUK TETAP.  PENYELIDIKAN (TEST PIT).
► ADANYA DAERAH PATAHAN  PERLU DISAIN KHUSUS.
4/11/2013
► BAHAN (TANAH) YANG DIPAKAI MEMPUNYAI PROPERTIES YANG MEMENUHI KRITERIA SPESIFIKASI
 DIPERLUKAN PEMERIKSAAN BAHAN/TANAH
– TIDAK MENGGUNAKAN BAHAN KLASIFIKASI A 7 – 6 ATAU CH (PLASTISITAS TINGGI).
– NILAI CBR RENDAMAN MINIMUM 6 % PADA KEPADATAN STANDAR 100 %
– TANAH EKSPANSIF DENGAN NILAI AKTIF > 1,25► IP / % UKURAN LEMPUNG
► CARA ATAU METODE PELAKSANAAN YANG TEPAT  DIPERLUKAN PENGAWASAN SELAMA
PELAKSANAAN DAN UJI LAPANGAN UNTUK MEMERIKSA KUALITAS HASIL PELAKSANAAN
PENYIAPAN TANAH DASAR
SUPAYA KUAT, STABIL, MEMPUNYAI NILAI CBR
MINIMUM
>= 5 %, MAKA:
JADI YANG PENTING
ADALAH MUTU BAHAN
DAN CARA
PELAKSANAAN
4/11/2013
► KEKUATAN GESER
– MERUPAKAN SIFAT STRUKTURAL TANAH YANG UTAMA  KAPASITAS DAYA
DUKUNG DAN KEMIRINGAN LERENG.
► PEMAMPATAN DAN KONSOLIDASI
– PEMAMPATAN ATAU “COMPRESSION” DAN KONSOLIDASI UNTUK MENAKSIRKAN
BESARNYA PENURUNAN YANG TERJADI AKIBAT ADANYA BEBAN.
► PERMEABILITAS
– PENTING UNTUK MASALAH MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN DRAINASE
► PLASTISITAS
– KEMAMPUAN MENDAPATKAN REGANGAN YANG BESAR TANPA PECAH (RUFTURE)
 PI = LL - PL PI TINGGI SUKAR DIPADATKAN  MAKS 11%
► KEMBANG SUSUT
– PENYUSUTAN (SHRINKAGE) DAN PENGEMBANGAN (SWELL)
– ANGKA AKTIFITAS ≤ 1,25
PENYIAPAN TANAH DASAR
SIFAT – SIFAT TANAH YANG PENTING
Angka Aktifitas = PI / % ukuran Lempung
4/11/2013
PENYIAPAN TANAH DASAR
PEMERIKSAAN TANAH DASAR SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI JALAN
PB-0101-76 Kekuatan Tanah dengan Sondir Lapangan
PB-0102-76 CBR Lapangan Lapangan
PB-0103-76 Kepadatan Lapangan dengan Kerucut Pasir("Sand Cone") Lapangan
PB-0104-76 Kepadatan Lapangan dengan Balon Karet ("Rubber Balloon") Lapangan
PB-0105-76 Contoh Tanah Secara Kering Lapangan
PB-0106-76 Contoh Tanah Secara Basah Lapangan
PB-0107-76 Ukuran Butiran Tanah dengan Hidrometer Laboratorium
PB-0108-76 Berat Jenis Tanah Laboratorium
PB-0109-76 Batas Cair ("Liquid Limit") Laboratorium
PB-0110-76 Batas Plastis ("Plastic Limit") Laboratorium
PB-0111-76 Kepadatan Standar Laboratorium
PB-0112-76 Kepadatan Berat ("Modified") Laboratorium
PB-0113-76 CBR Laboratorium Laboratorium
PB-0114-76 Kekuatan Tekan Bebas ("Unconfined Compresive Strength") Laboratorium
PB-0115-76 Konsolidasi Laboratorium
PB-0116-76 Kekuatan Geser Langsung ("Direct Shear Test") Laboratorium
PB-0117-76 Kadar Air Tanah Laboratorium
NO.
PENGUJIAN
JENIS PENGUJIAN KET.
4/11/2013
PENYIAPAN BADAN JALAN
1. Pekerjaan ini mencakup penyiapan, penggaruan dan pemadatan
permukaan tanah dasar atau permukaan jalan kerikil lama, untuk
penghamparan Lapis Pondasi Agregat, Lapis Pondasi Jalan Tanpa
Penutup Aspal, Lapis Pondasi Semen Tanah atau Lapis Pondasi
Beraspal di daerah jalur lalu lintas (termasuk jalur tempat perhentian
dan persimpangan) yang tidak ditetapkan sebagai Pekerjaan
Pengembalian Kondisi. Menurut Seksi dari Spesifikasi ini pembayaran
tidak boleh dilakukan terhadap Pengembalian Kondisi Perkerasan
Lama yang diuraikan dalam Seksi 8.1 maupun Pengembalian Kondisi
Bahu Jalan Lama pada Jalan Berpenutup Aspal yang diuraikan Seksi
8.2.
2. Untuk jalan kerikil, pekerjaan dapat juga mencakup perataan berat
dengan motor grader untuk perbaikan bentuk dengan atau tanpa
penggaruan dan tanpa penambahan bahan baru.
3. Pekerjaan ini meliputi galian minor atau penggaruan serta pekerjaan
timbunan minor yang diikuti dengan pembentukan, pemadatan,
pengujian tanah atau bahan berbutir, dan pemeliharaan permukaan
yang disiapkan sampai bahan perkerasan ditempatkan diatasnya,
yang semuanya sesuai dengan Gambar dan Spesifikasi ini atau
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
4/11/2013
HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEKERJAAN INI
ADALAH :
1. Toleransi Dimensi
a. Ketinggian akhir setelah pemadatan tidak boleh lebih tinggi
atau lebih rendah 1 cm dari yang disyaratkan atau disetujui.
b. Seluruh permukaan akhir harus cukup halus dan rata serta
memiliki kelandaian yang cukup untuk menjamin berlakunya
aliran bebas dari air permukaan.
3. Pengajuan Kesiapan Kerja
a. Pengajuan yang berhubungan dengan Galian, Pasal 3.1.1.(4) dan
Timbunan Pasal 3.2.1.(5) harus dibuat masing-masing untuk
seluruh galian dan timbunan yang dilaksanakan untuk
Penyiapan Badan Jalan.
b. Kontraktor harus menyerahkan dalam bentuk tertulis kepada
Direksi Pekerjaan segera setelah selesainya suatu ruas pekerjaan
dan sebelum setiap persetujuan yang dapat diberikan untuk
penghamparan bahan lain di atas tanah dasar atau permukaan
jalan, berikut ini :
i) Hasil pengujian kepadatan seperti yang disyaratkan
dalamPasal 3.3.3.(2) di bawah ini
ii) Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data survei
yang menunjukkan bahwa toleransi permukaan yang
disyaratkan dalamPasal 3.3.1.(3) dipenuhi.
4/11/2013
BAHAN
TANAH DASAR DAPAT DIBENTUK DARI TIMBUNAN BIASA,
TIMBUNAN PILIHAN, LAPIS PONDASI AGREGAT ATAU
DRAINASE
POROUS, ATAU TANAH ASLI DI DAERAH GALIAN. BAHAN
YANG
DIGUNAKAN DALAM SETIAP HAL HARUSLAH SESUAI
DENGAN
YANG DIPERINTAHKAN DIREKSI PEKERJAAN DAN SIFAT-SIFAT
BAHAN YANG DISYARATKAN UNTUK BAHAN YANG
DIHAMPAR
DAN MEMBENTUK TANAH DASAR HARUSLAH SEPERTI YANG
DISYARATKAN DALAM SPESIFIKASI UNTUK BAHAN
TERSEBUT.
4/11/2013
PELAKSANAAN DARI PENYIAPAN BADAN JALAN
1. Penyiapan Tempat Kerja
∞Pekerjaan galian yang diperlukan untuk membentuk tanah dasar
harus dilaksanakan sesuai dengan Pasal 3.1.2 (1) dari spesifikasi
∞Seluruh Timbunan yang diperlukan harus dihampar sesuai
dengan Pasal 3.2.3 dari spesifikasi.
2. Pemadatan Tanah Dasar
∞Tanah dasar harus dipadatkan sesuai dengan ketentuan yang relevan
dari Pasal 3.2.3 (3) dari spesifikasi
∞Ketentuan pemadatan dan jaminan mutu untuk tanah dasar diberikan
dalamPasal 3.2.4 dari spesifikasi.
4/11/2013
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
1. Pengukuran Untuk Pembayaran
Daerah jalur lalu lintas lama yang mengalami kerusakan parah,
dimana operasi pengembalian kondisi yang disyaratkan dalam
seksi 8.1 atau seksi 8.2 dari spesifikasi ini dipandang tidak
sesuai, akan digolongkan sebagai daerah yang ditingkatkan dan
persiapan tanah dasar akan dibayar menurut seksi ini sebagai
daerah yang persiapan permukaan tanah dasarnya telah
diterima oleh Direksi Pekerjaan.
2. Dasar Pembayaran
Kuantitas dari pekerjaan Penyiapan Badan Jalan, diukur seperti
ketentuan di atas, akan dibayar per satuan pengukuran sesuai
dengan harga yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan
Harga untuk Mata Pembayaran seperti dalamspesifikasi.
4/11/2013
PENGUPASAN PERMUKAAN PERKERASAN LAMA DAN
DICAMPUR KEMBALI
BILAMANA REKONSTRUKSI PERKERASAN
DISYARATKAN DAN BILAMANA DIPERINTAHKAN
OLEH DIREKSI PEKERJAAN, PERMUKAAN ASPAL LAMA
DAN LAPIS PONDASI HARUS DIGARU SAMPAI
KEDALAMAN 15 CM DAN BAHAN-BAHAN TERSEBUT
DIHANCURKAN SEDEMIKIAN HINGGA SETELAH
PEMADATAN TIDAK TERDAPAT GUMPALAN ATAU
PARTIKEL TUNGGAL YANG LEBIH BESAR DARI 63 mm,
DAN FRAKSI YANG TERTAHAN 37,5 mm TIDAK
MELAMPAUI 25% DARI BERAT TOTAL.
4/11/2013
3. Pengajuan Kesiapan Kerja
a. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan suatu catatan
tertulis tentang lokasi, kondisi dan kuantitas setiap perkerasan
aspal lama yang rusak yang akan digaru dan dicampur kembali.
Pencatatan pengukuran harus dilakukan setelah seluruh bahan perkerasan
aspal telah digaru, dicampur kembali dan dipadatkan.
b. Kontraktor harus menyerahkan dalambentuk tertulis kepada Direksi
Pekerjaan segera setelah selesainya suatu ruas pekerjaan dan sebelum
setiap persetujuan yang dapat diberikan untuk penghamparan bahan
lain di atas permukaan formasi yang telah diselesaikan tersebut,
sebagai berikut :
i) Hasil pengujian kepadatan seperti yang disyaratkan
dalamPasal 3.4.2 di bawah ini.
ii) Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data survei
yang menunjukkan bahwa toleransi permukaan yang
disyaratkan dalamPasal 3.4.1.(3) dipenuhi.
4/11/2013
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
1. Pengukuran untuk Pembayaran
Kuantitas untuk Pengupasan Permukaan Aspal Lama dan
Pencampuran Kembali harus diukur sebagai jumlah meter persegi
formasi yang telah dipadatkan, selesai di lapangan dan diterima.
2. Dasar Pembayaran
Kuantitas yang diukur seperti di atas, akan dibayar persatuan
pengukuran sesuai dengan harga yang dimasukkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran seperti daftar dalam
spesifikasi.
4/11/2013
DIVISI 4 : PELEBARAN
PERKERASAN DAN BAHU
JALAN
4/11/2013
PELEBARAN PERKERASAN
 Penambahan lebar perkerasan lama
 Penggalian dan Pembuangan bahan yg ada
 Pemangkasan tepi jalur lalu lintas lama
 Penyiapan & Pemeliharaan kondisi formasi
tanah dasar
 Penghamparan dan Pemadatan bahan
4/11/2013
 Penentuan Pelebaran perkerasan 1 sisi atau 2
sisi dengan pertimbangan DMJ yang tersedia,
bangunan tetap dan lingkungan yang ada
termasuk pembebasan tanah (jika ada),
sehingga aman bagi pemakai jalan seperti
bahu jalan yang memenuhi standar teknis
4/11/2013
 Bila jalan lama tidak memenuhi ketentuan
minimum dari fungsi jalan tsb (arteri, kolektor
dan lokal), maka pelebaran harus
dilaksanakan dgn perbaikan alinyemen
sehingga sumbu jalan lebih lurus dan
lengkung pd tikungan maupun pd puncak
tanjakan dapat dikurangi
4/11/2013
PEKERJAAN LAIN YANG BERKAITAN
 Pemeliharaan dan Pengaturan lalu lintas
 Rekayasa lapangan
 Galian
 Penyiapan badan jalan
 Bahu jalan
 Lapis Pondasi Agregat
 Lapis Pondasi Semen tanah
 Prime dan Tack Coat
 BURTU dan BURDA
 Campuran Aspal Panas
 Lasbutag dan Latasir
 Campuran Aspal Dingin
4/11/2013
 Lapis Perata Penetrasi Mac Adam
 Penegembalian Kondisi Perkerasan lama
 Pengembalian Kodisi Bahu Jalan pada perkerasan
berpenutup aspal
 Pengembalian kondisi selokan Air, Galian,
Timbunan dan Penghijauan
4/11/2013
 Ketentuan yang disyaratkan untuk Lapis
Pondasi Agregat
 Ketentuan yang disyaratkan untuk Lapis
Pondasi Semen Tanah
 Ketentuan yang disyaratkan untuk Campuran
Aspal Panas

STANDAR RUJUKAN
4/11/2013
BAHAN YG DIGUNAKAN
 Menggunakan bahan timbunan
 Lapis Pondasi Agregat/lapis Pondasi
semen tanah
 Lapis beraspal

4/11/2013
PERSIAPAN FORMASI
 Lebar Galian dan Penggalian Bahan Yang Ada
untuk pelebaran dibuat sedemikian sehingga
mampu menyediakan ruang gerak yang cukup
untuk alat penggilas normal.

 Tepi perkerasan jalur lalu lintas yang terekspos
harus dipangkas sampai mencapai bahan yang
keras (sound), yang tidak lepas atau retak atau
ketidakstabilan lainnya

 Formasi galian pada lokasi Pelebaran Perkerasan
harus disiapkan, dipadatkan dan diuji
sebagaimana disyaratkan untuk Penyiapan Badan
Jalan dalam Seksi 3.3

4/11/2013
PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN
BAHAN PELEBARAN JALAN
Penghamparan dan Pemadatan Lapis Pondasi agregat

a) Ketentuan yg disyaratkan pada 5.1.3 diberlakukan,
kecuali bahwa frekuensi pengujian sehingga tdk
kurang dari lima pengujian plastis indek, gradasi, dan
satu pengujian kepadatan kering maximum pada
setiap 500 m
3
bahan

b) Pengendalian mutu kepadatan (SNI 03-2828-1992) utk
setiap 50m pekerjaan pelebaran pada setiap sisi dari
jalan (kalau 2 sisi)

4/11/2013
Memproduksi, Menghampar, Memadatkan dan
Pengujian Campuran Beraspal panas Pada
Pelebaran
a) Sebelum dihampar, Prime Coat yg sesuai harus
segera disemprotkan pada Lapis Pondasi yg
sudah disiapkan dan Tack Coat harus pada
permukaan vertikal dari tepi perkerasan lama
b) Pada pelebaran yg sempit, dihampar secara
manual dalam batas-batas temperatur seperti
penghamparan dengan mesin. Pemadatan harus
dilakukan dengan alat mekanis.
c) Pengujian kepadatan diuji dengan Core (inti) tidak
kurang 1 per 100 meter untuk ,masing-masing sisi
jalan diukur sepanjang sumbu jalan.
4/11/2013
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN.
 Penggalian bahan yang ada, penyiapan badan
jalan,pemasokan, penghamparan, pemadatan,
dan penyelesaian pekerjaan Pelebaran
Perkerasan,seluruhnya dibayar menurut
berbagai Mata Pembayaran yang digunakan
dalam Pekerjaan pelebaran perkerasan
4/11/2013
 Pekerjaan ini terdiri dari pemasokan,
penghamparan dan pemadatan bahu jalan
pada tanah dasar yg sudah disiapkan atau
permukaan lainnya yg disetujui dan pelaburan
(sealing) jika diperlukan, untuk pekerjaan bahu
jalan baru atau peningkatan sesuai dengan
garis, kelandaian serta dimensi sesuai gambar
atau atas perinah direksi.

BAHU JALAN
4/11/2013
PEKERJAAN LAIN YANG BERKAITAN
 Pemeliharaan dan Pengaturan lalu lintas
 Rekayasa lapangan
 Bahan dan penyimpanan
 Penyiapan Badan Jalan
 Lapis Pondasi Agregat
 Lapis Pondasi Semen Tanah
 Prime Coat dan Tack Coat Lapisan Aspal satu kali (BURTU) dan
Lapisan Aspal dua kali (BURDA)
 Pengembalian kondisi jalan lama
 Pengembalian kondisi Bahu Jalan Lama pada Jalan berpenutup Aspal
 Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, Bangkapja
dan Jembatan
 Pemeliharaan Jalan samping dan jembatan


4/11/2013
TOLERANSI DIMENSI
 Untuk bahu jalan semen tanah toleransi elevasi dan
kerataan harus sesuai 5.1.1(3)
 Untuk bahu jalan semen tanah, toleransi elevasi dan
kerataan yang disyaratkan dalam Pasal 5.4.1.(3), harus
berlaku.
 Untuk Bahu jalan tanpa laburan aspal, permukaan akhir
setelah dipapatkan tidak boleh berbeda lebih 1.5 cm di
bawah atau di atas elevasi rancangan pada setiap titik
 Permukaan bahu jalan, termasuk setiap pelaburan atau
perkerasan lainnya yg dihampar di atasnya, tidak boleh
lebih tinggi maupun lebih rendah 1.0 cm terhadap tepi jalur
lalu lintas yg bersebelahan
 Lereng melintang tidak boleh bervariasi labih dari 1.0 % dari
lereng melintang rencana

4/11/2013
PENGAJUAN KESIAPAN KERJA
CUACA YG DIIJINKAN UNTUK BEKERJA
PERBAIKAN PEKERJAAN YG TIDAK MEMENUHI PERSYARATAN
PENGEMBALIAN BENTUK SETELAH PENGUJIAN
PERSYARATAN BAHAN
PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN
SESUAI DENGAN KETENTUAN
UNTUK DIVISI 5
BAHAN BAHAN
  Ketentuan Ketentuan yg yg disyaratkan disyaratkan untuk untuk Lapis Lapis Pondasi Pondasi
Agregat Agregat, Lapis , Lapis Pondasi Pondasi Semen Semen Tanah Tanah, , Prime Prime
Coat, Tack Coat Coat, Tack Coat harus harus belaku belaku. . Umumnya Umumnya
Agregat Agregat Klas Klas A A harus harus digunakan digunakan di di bawah bawah
bahu bahu jalan jalan dengan dengan laburan laburan aspal aspal, , sedangkan sedangkan
Lapis Lapis pondasi pondasi agregat agregat Klas Klas B B digunakan digunakan di di
bawah bawah bahu bahu jalan jalan tanpa tanpa laburan laburan aspal aspal
4/11/2013
PELAKSANAAN DAN PEMADATAN
a) Persiapan lahan penghamparan bahu jalan,
termasuk galian, pencampuran gahan yg baru
dan lama, pemangkasan tepi perkerasan pada
jalur lalu lintas lama, dan penyiapan formasi
sebelum bahan dipasang, harus dilakukan
sesuai dengan pasal 8.1.3 dan 8.2 spesifikasi
b) Penghamparan dan pemadatan bahan bahu
jalan harus memenuhi ketentuan yang
disyaratkan untuk Lapis Pondasi Agregat,
Lapis Pondasi semen tanah, Prime coat dan
BURTU
4/11/2013
 Ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal
5.1.4.(1) untuk Lapis Pondasi Agregat, Pasal
5.4.7.(1) untuk Semen Untuk Lapis Pondasi
Semen Tanah; Lapis Pondasi Semen Tanah,
Pasal 6.1.7.(1) untuk Lapis Resap Pengikat,
Pasal 6.2.7.(1) untuk Bahan Aspal Untuk
Pekerjaan Pelaburan, dan Pasal 6.2.7.(3)
Agregat Penutup Burtu, berlaku pada Seksi
ini.
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
4/11/2013
DIVISI 5 : PERKERASAN BERBUTIR
4/11/2013
URAIAN :
Pekerjaan ini harus meliputi pemasokan, pemrosesan, pengangkutan,
penghamparan, pembasahan dan pemadatan agregat bergradasi di atas
permukaan yang telah disiapkan dan telah diterima sesuai dengan detil yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan, dan
memelihara lapis pondasi agegrat yang telah selesai sesuai yang disyaratkan.
Pemrosesan harus meliputi, bila perlu, pemecahan, pengayakan, pemisahan,
pencampuran dan operasi lainnya yang perlu untuk menghasilkan suatu bahan
yang memenuhi ketentuan dari Spesifikasi ini.
Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini
a) Pemeliharaan dan Pengaturan Lalu Lintas : Seksi 1.8
b) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9
c) Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11
d) Penyiapan Badan Jalan : Seksi 3.3
e) Pelebaran Perkerasan : Seksi 4.1
f) Bahu Jalan : Seksi 4.2
g) Pemeliharaan Jalan Samping dan Jembatan : Seksi 10.2
4/11/2013
TOLERANSI DIMENSI :
+ 0 cm
- 2 cm
+ 1 cm
- 1 cm
Bahu Jalan tanpa penutup aspal dengan Lapis Pondasi
Aggregat Klas B
Memenuhi pasal 4.2.1 (3)
BAHAN DAN LAPISAN PONDASI AGGREGAT
TOLERANSI TINGGI
PERMUKAAN
Lapis Pondasi Aggregat Klas B digunakan sebagai Lapis
Pondasi Bawah.
Permukaan Lapis Pondasi Aggregat Klas A untuk Lapis
Resap Pengikat atau Pelaburan (Perkerasan dan Bahu
KESIAPAN KERJA :
21 hari sebelum tanggal pelaksanaan, konraktor harus menyerahkan kepada
Direksi Teknik :Dua contoh masing-masing 50 kg bahan, satu disimpan
Pekerjaan sebagai rujukan selama Periode Kontrak.
Pernyataan perihal asal dan komposisi setiap untuk Lapis Pondasi Agregat,
bersama laboratorium yang membuktikan bahwa ditentukan dalam Pasal
5.1.2(5) terpenuhi.
1
2
4/11/2013
CUACA YG DI-IJINKAN :
Lapis Pondasi Agregat tidak boleh ditempatkan, dihampar, atau dipadatkan sewaktu
turun hujan, dan pemadatan tidak boleh dilakukan setelah hujan atau bila kadar air bahan
jadi tidak berada dalam rentang yang ditentukan dalam Pasal 5.1.3.(3).
PENGENDALIAN LALU - LINTAS :
Pengendalian Lalu Lintas harus memenuhi ketentuan Seksi 1.8 Pemeliharaan dan
Pengaturan Lalu Lintas.
4/11/2013
BAHAN :
1) Sumber Bahan
Bahan Lapis Pondasi Agregat harus dipilih dari sumber yang disetujui sesuai dengan
Seksi 1.11 Bahan dan Penyimpanan, dari Spesifikasi ini.
2) Kelas Lapis Pondasi Agregat
Terdapat dua kelas yang berbeda dari Lapis Pondasi Agregat yaitu Kelas A dan Kelas
B. Pada umumnya Lapis Pondasi Agregat Kelas A adalah mutu Lapis Pondasi Atas
untuk suatu lapisan di bawah lapisan beraspal, dan Lapis Pondasi Agregat Kelas B
adalah untuk Lapis Pondasi Bawah. Lapis Pondasi Agregat Kelas B boleh digunakan
untuk bahu jalan tanpa penutup aspal berdasarkan ketentuan tambahan dalam Seksi
4.2 dari Spesifikasi ini.
3) Fraksi Agregat Kasar
Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel atau
pecahan batu atau kerikil yang keras dan awet. Bahan yang pecah bila berulang-ulang
dibasahi dan dikeringkan tidak boleh digunakan.
Bilamana digunakan untuk Lapis Pondasi Agregat Kelas A maka untuk agregat kasar
yang berasal dari kerikil, tidak kurang dari 100 % berat agregat kasar ini harus
mempunyai paling sedikit satu bidang pecah.
Sedangkan untuk Lapis Pondasi Agregat kelas B agregat kasar yang berasal dari
kerikil, tidak kurang dari 50 % berat agregat kasar ini harus mempunyai paling sedikit
satu bidang pecah.
4/11/2013
BAHAN :
4) Fraksi Agregat Halus
Agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir alami atau batu
pecah halus dan partikel halus lainnya.
5) Sifat-sifat Bahan Yang Disyaratkan
Seluruh Lapis Pondasi Agregat harus bebas dari bahan organik dan gumpalan
lempung atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki dan setelah dipadatkan harus
memenuhi ketentuan gradasi (menggunakan pengayakan secara basah) yang diberikan
dalam Tabel 5.1.2.(1) dan memenuhi sifat-sifat yang diberikan dalam Tabel 5.1.2.(2)
Sifat - sifat Kelas A Kelas B Kelas A Kelas B
Abrasi dari Agregat Kasar (SNI 03-2417-1990) : 0 - 40% 0 - 40%
Indek Plastisitas (SNI-03-1966-1990) : 0 - 6 0 - 10
Hasil kali Indek Plastisitas dng. % Lolos Ayakan No.200 : Maks. 25
Batas Cair (SNI 03-1967-1990) : 0 - 25 0 - 35
Bagian Yang Lunak (SK SNI M-01-1994-03) : 0 - 5% 0 - 5%
CBR (SNI 03-1744-1989) : min. 90% min. 60%
GRADASI :
SESUAI DENGAN TABEL 5.2.1 (1) SPESIFIKASI TEKNIK
4/11/2013
Pencampuran Bahan Untuk Lapis Pondasi Agregat
Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dikerjakan di
lokasi instalasi pemecah batu atau pencampur yang disetujui, dengan menggunakan
pemasok mekanis yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari
komponen-komponen campuran dengan proporsi yang benar. Dalam keadaan apapun
tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan.
PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN :
1. PENYIAPAN FORMASI UNTUK LAPIS PONDASI AGGREGAT.
2. PENGHAMPARAN
3. PEMADATAN
4. PENGUJIAN
4/11/2013
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
1) Cara Pengukuran
a) Lapis Pondasi Agregat harus diukur sebagai jumlah meter kubik dari bahan
yang sudah dipadatkan, lengkap di tempat dan diterima. Volume yang diukur
harus didasarkan atas penampang melintang yang ditunjukkan pada Gambar
bila tebal yang diperlukan merata, dan pada penampang melintang yang
disetujui Direksi Pekerjaan bila tebal yang diperlukan tidak merata, dan
panjangnya diukur secara mendatar sepanjang sumbu jalan.
b) Pekerjaan penyiapan dan pemeliharaan tanah dasar yang baru atau
perkerasan lama dan bahu jalan lama dimana Lapis Pondasi Agregat akan
dihampar tidak diukur atau dibayar menurut Seksi ini, tetapi harus dibayar
terpisah dari harga penawaran yang sesuai untuk Penyiapan Badan Jalan dan
Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama atau Bahu Jalan yang ada menurut
Seksi 3.3, 8.1 dan 8.2 dari Spesifikasi ini.
2. Dasar Pembayaran
Kuantitas yang ditentukan, sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar pada Harga
Satuan Kontrak per satuan pengukuran untuk masing-masing Mata Pembayaran yang
terdaftar di bawah ini dan termasuk dalam Daftar Kuantitas dan Harga, yang harga serta
pembayarannya harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan, pemasokan,
pemadatan, penyelesaian akhir dan pengujian bahan, pemeliharan permukaan akibat
dilewati oleh lalu lintas, dan semua biaya lain-lain yang diperlukan atau lazim untuk
penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.
5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A Meter Kubik
5.1.(2) Lapis Pondasi Agregat Kelas B Meter Kubik
4/11/2013
NO NO
YES YES
YES
NO
YES
NO
YES
NO
YES
NO YES
MULAI
PELAKSANAAN SEKSI 1.9 : REKAYASA
LAPANGAN
Check
1
PELAKSANAAN SEKSI 1.11 : BAHAN
DAN PENYIMPANAN
PERSETUJUAN GAMBAR & KUANTITAS
PELAKSANAAN
PENGAJUAN
REQUEST
PENYIAPAN
LAHAN
Check
4
PENGHAMPARAN DAN
PEMADATAN DAN
PENGUJIAN
Check
3
Check
5
PENGUKURAN
PENERIMAAN
PEMBAYARAN
SELESAI
Check
2
PERSETUJUAN BAHAN
PEKERJAAN
PERBAIKAN
Check
6
Monitoring
Pemeliharaan
Rutin Saluran
FLOW CHART PELAKSANAAN PEKERJAAN AGGREGAT A & B
4/11/2013
DIVISI 6 : PERKERASAN ASPAL
4/11/2013
PEKERJAAN PERKERASAN ASPAL

1. LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
2. BURTU DAN BURDA
3. CAMPURAN ASPAL PANAS
4. LASBUTAG DAN LATASBUSIR
5. LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
UNSUR YANG DIPERLAJARI
JENIS
LAPISAN
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
SUB POKOK BAHASAN
1. MATERIAL & CAMPURAN
2. PERALATAN
3. PELAKSANAAN
4. PENGENDALIAN MUTU
4/11/2013
1. MATERIAL & CAMPURAN
a. Bahan baku aspal pen 60/70 atau pen 80/100 lengkap dengan
sertifikat
b. Lapis Resap Pengikat ( Prime Coat)
* aspal emulsi ( MS, SS ), tidak diencerkan
• AC pen 80/100 atau pen 60/70 diencerkan dg minyak
tanah 80 pph, ekivalen MC 30.
c. Lapis Perekat (Tack Coat)
* aspal emulsi ( RS ),atau diencerkan dengan air
perbandingan 1:1
* AC pen 60/70 atau 80/100 diencerkan dengan minyak
tanah 25 - 30 pph
MATERIAL DAN CAMPURAN
LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
JENIS
LAPISAN
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
4/11/2013
2. PERALATAN

a. umum
penyapu mekanis, kompresor, peralatan untuk memanaskan bahan aspal,
peralatan penyebar kelebihan aspal
b. Asphalt Distributor
- kendaraan beroda ban angin, bermesin penggerak sendiri
- sistem tangki aspal, pemanasan, pemompaan dan penyemprotan sesuai
ketentuan Institute of Petroleum Inggris
- bahan aspal panas dapat disemprotkan secara merata
- distributor dilengkapi batang semprot dengan minimum 24 nosel
c. Perlengkapan
- tachometer (pengukur kecepatan putaran)
- meteran tekanan, tongkat celup, termometer dll
- seluruh perlengkapan pengukur harus dikalibrasi
d. Grafik penyemprotan dan Buku petunjuk pelaksanaan
- grafik penyemprotan memperiihatkan hubungan antara kecepatan dan
jumlah takaran aspal serta kecepatan pompa dan nosel juga tinggi batang
semprot dari permukaan jalan.
e. Peralatan Penyemprot Aspal Tangan (Hand Sprayer)
- tangki aspal dengan pemanas
- pompa tekanan untuk menyemprot aspal keluar
- batang semprot dengan nose!
PERALATAN
LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. PELAKSANAAN

a. Umum
- Mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal
- Lapis Resap pengikat dihampar di atas permukaan tidak beraspal
(Pondasi agregat)
- Lapis Perekat di atas permukaan beraspal

b. Penyiapan permukaan
- Permukaan yang akan disemprot Lapis Resap Pengikat harus kering
atau mendekati kering; sedangkan untuk Lapis Perekat harus benar-
benar kering
- Tidak dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan turun hujan
- Kerusakan perkerasan yang ada harus diperbalki terlebih dahulu.
- Apabila dllaksanakan pada perkerasan baru, perkerasan tsb harus
sudah dikerjakan sepenuhnya.
- Debu dan kotoran lain harus dibersihkan terlebih dahulu dengan sikat
mekanis atau kompresor.
- Tonjolan benda-benda asing lain harus disingkirkan.
PELAKSANAAN 1
LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
UMUM & PENYIAPAN
PENGENDALIAN MUTU
TAKARAN & SUHU
PENYEMPROTAN
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. PELAKSANAAN (Lanjutan 1)

c. Takaran dan suhu pemakaian bahan
- Lapis Resap Pengikat: 0,4 -1,3 It per m
2
LPA
kelas A
- Lapis Perekat: permukaan baru 0,15 It/m2 aspa!
cair
0,20 It/m2 emulsi
0,40 It/m2 emulsi diencerkan
- Suhu penyemprotan
jenis aspal rentang suhu
aspal cair 50 pph ( MC 70 ) 70° ± 10° C
aspal cair 75 pph ( MC 30 ) 45° ± 10° C
aspal emulsi/emulsi diencerkan tidak dipanaskan
PELAKSANAAN 2
LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
UMUM & PENYIAPAN
PENGENDALIAN MUTU
TAKARAN & SUHU
PENYEMPROTAN
PELAKSANAAN
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. PELAKSANAAN (Lanjutan 2)

d. Pelaksanaan penyemprotan
- Masih dimungkinkan lalu lintas satu lajur
- Batas yang disemprot diukur dan ditandai
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang sisi lajur
yang bersebelahan
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan dilindungi dengan bahan yang
kedap
- Bahan aspal yang disemprot harus merata di seluruh permukaan
- Tempat yang disemprot prime coat yang menunjukkan bahan aspal
berlebih ditutup dengan bahan penyerap sesudah 4 jam
penyemprotan.
- Lapis berikutnya dihampar setelah prime coat meresap sepenuhnya,
lalu lintas dapat diijinkan lewat setelah 4 jam penghamparan.
- Bahan aspal yang berlebih dan tergenang pada Lapis Perekat
diratakan dengan alat pemadat roda karet atau sikat ijuk atau
penyapu karet
- Penghamparan lapis aspal berikut di atas tack coat dilakukan
sebelum kelengketan tack coat hilang
PELAKSANAAN 3
LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
UMUM & PENYIAPAN
PENGENDALIAN MUTU
TAKARAN & SUHU
PENYEMPROTAN
PELAKSANAAN
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PENGENDALIAN MUTU

a. Contoh aspal dan sertifikatnya pda setiap pengangkutan
b. 2 liter contoh aspal diambil dari distributor/asphalt sprayer saat
awal dan akhir penyemprotan
c. Distributor aspal diperiksa dan diuji
* sebelum pelaksanaan pekerjaan
* setiap 6 bulan atau penyemprotan 150.000 It
d. Pelapisan menutup seluruh permukaan yang disemprot, tanpa ada
bagian yang beralur atau kelebihan aspal.
e. Agregat penutup/ blotter harus mendapat persetujuan.
PENGENDALIAN MUTU
LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL
A. AGREGAT
a. Agregat Penutup
- kerikil rjecah atau batu pecah keras, awet, bersih
- keausan dengan mesin LA : maks 30%
kelekatan : min 95 %
- min 90% kerikil pecah (tertahan sar. 4,75 mm) punya 2
bidang pecah
b. agregat BURTU dan lapis pertama BURDA
- ukuran nominal : 13mm
- persen maksimum lewat sar. 4,75 :
2%
- ukuran terkecil rata-rata (ALD) : 6,4 - 9,5
c. agregat penutup kedua BURDA



- mengunci rongga-rongga
lapisan pertama
MATERIAL 1 AGREGAT LABURAN ASPAL SATU LAPIS ( BURTU) DAN
LABURAN ASPAL DUA LAPIS (BURDA)
ukuran
saringan
% berat lewat
9,5 mm 100
6,35 95-100
2,46 0-15
0,075 0-8
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
AGREGAT
ASPAL
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL (Lanjutan 1)

B. ASPAL
a. aspal semen pen 80/100 atau pen 60/70 diencerkan dengan
minjak tanah sesuai suhu udara perubahan minyak tanah suhu
penyemprot pen 80/100 pen 60/70





Bahan aspal tidak boleh dipanaskan pada suhu penyemprotan
lebih dari 10 jam
b. dalam hal tertentu dapat digunakan bahan anti pengelupas (anti-
stripping agent)
MATERIAL 2 ASPAL LABURAN ASPAL SATU LAPIS (BURTU) DAN LABURAN
ASPAL DUA LAPIS (BURDA)
20,0 11 13 157
22,5 9 11 162
25 7 9 167
27,5 5 7 172
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
AGREGAT
ASPAL
BURTU & BURJA
MATERIAL & CAMPURAN
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
2. PERALATAN

a. Distributor AspaI
tangki tersekat sempurna, penurunan suhu tidak
melampaui 2,5 C per jam
b. Alat Pemadat
roda karet, lebar tidak kurang dari 1,5 m, mempunyai
mesin penggerak sendiri
c. Alat Penghampar
- mesin penebar agregat dengan penggerak 4 roda
(four wheel drive belt spreader)
- truk penghampar (2 buah) ,
d. Sapu ijuk kasar dan sikat mekanis
PERALATAN ASPAL LABURAN ASPAL SATU LAPIS
(BURTU) DAN LABURAN ASPAL DUA LAPIS (BURDA)
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
BURTU & BURJA
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. PELAKSANAAN

A. UMUM
- mencakup pelaksanaan pekerjaan pelaburan aspal:
- laburan aspal satu lapis
- laburan aspal dua lapis setiap lapis diberi pengikat aspal, ditutup
butiran agregat
- umumnya dihampar di atas Lapis Pondasi Agregat Kelas A
berlapis resap pengikat / permukaan aspal lama
B. PEKERJAAN PERSIAPAN
1) kotoran dan bahan yang tidak dikehendaki pada permukaan
yang akan dilabur harus dibersihkan dengan alat penyapu
mekanik atau kompresor, permukaan haPus kering
2) lubang-lubang diperbaiki/ditamba!, tonjolan-tonjolan diratakan
3) permukaan jalan lama tanpa penutup aspal terlebih dahulu diberi
lapis resap pengikat secara merata dan dibiarkan kering
seluruhnya paling sedikit 48 jam.
PELAKSANAAN 1 ASPAL LABURAN ASPAL SATU LAPIS
(BURTU) DAN LABURAN ASPAL DUA LAPIS (BURDA)
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
UMUM & PERSIAPAN
BAHAN ASPAL
SEBAR, SAPU, GILAS
BURTU & BURJA
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. PELAKSANAAN (lanjutan 1)

C. PEMAKAIAN BAHAN ASPAL
1) takaran pemakaian aspal tergantung ukuran terkecil rata-rata
agregat penutup, komposisi aspal, kondisi dan tekstur
permukaan lama jenis dan lalulintas dan hasil percobaan
2) penyemprotan dilaksanakan merata. Distributor dioperasikan
sesuai grafik yang telah disetujui
3) suhu penyemprotan tidak boleh bervariasi melebihi 10 C dari
tabel di depan
4) terdapat bagian yang tumpang tindih sepanjang 20 cm
sepanjang sisi lajur yang bersebelahan
5) lokasi awal dan akhir penyemprotan dilindungi bahan yang
kedap
6) luas lokasi yang akan dilabur aspal diukur segera setelah
penyemprotan selesai
7) jumlah bahan aspal yang digunakan diukur dengan cara
memasukkan tongkat celup ke dalam tangki sebelum dan
sesudah pemakaian
PELAKSANAAN 2 ASPAL LABURAN ASPAL SATU LAPIS
(BURTU) DAN LABURAN ASPAL DUA LAPIS (BURDA)
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PENGENDALIAN MUTU
UMUM & PERSIAPAN
BAHAN ASPAL
SEBAR, SAPU, GILAS
PELAKSANAAN
BURTU & BURJA
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
PELAKSANAAN 3 ASPAL LABURAN ASPAL SATU LAPIS
(BURTU) DAN LABURAN ASPAL DUA LAPIS (BURDA)
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PENGENDALIAN MUTU
UMUM & PERSIAPAN
BAHAN ASPAL
SEBAR, SAPU, GILAS
PELAKSANAAN
BURTU & BURJA
JENIS
LAPISAN
3. PELAKSANAAN (lanjutan 2)
D. MENGHAMPAR AGREGAT PENUTUP
1) agregat dalam bak truk harus cukup jumlah untuk menutup
bidang yang akan ditebar
2) penghamparan harus dilaksanakan segera setelah
penyemprotan aspal dimulai, dan selesai dalam jangka 5 menit
terhitung sejak selesai penyemprotan, setiap tempat yang tidak
tertutup ditutup secara manual
3) BURTU atau lapisan pertama BURDA tidak boleh lebih tebal dari
satu batu
E. PENYAPUAN DAN PENGGILASAN
1) setelah hamparan agregat penutup diterima DP, hamparan
digilas dengan dua alat pemadat roda karet, sebanyak kira-kira 6
gilasan
2) permukaan jalan dibersihkan dari agregat yang berlebihan
3) sebelum menghampar lapis kedua BURDA permukaan
disemprot aspal dengan bahan aspal 0,6-0,8 l/m2
4/11/2013
4. PENGENDALIAN MUTU

a. contoh aspal dan sertifikat pada tiap pengangkutan aspal ke
lapangan
b. 2 liter aspal yang akan dihampar diambil dari distributor, saat
awal dan saat menjelang akhir
c. pengujian mutu bahan agregat, satu contoh tiap 75 m
3
agregat
d. Distributor aspal harus diperiksa dan diuji:
- sebelum mulai pekerjaan
- setiap 6 bulan atau 150000 liter
- kerusakan atau modifikasi
PENGENDALIAN MUTU ASPAL LABURAN ASPAL SATU LAPIS (BURTU) DAN LABURAN
ASPAL DUA LAPIS (BURDA)
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
BURTU & BURJA
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL
a. Aspal
- Jenis Pen 60/70, titik lembek minimum 48 C. Pengambilan contoh
dari truk tangki bagian atas tengah dan bawah.
- Nilai penetrasi benda uji tidak kurang 55 % dari sebelum dicampur.
b. Agregat
1) Umum :
- penyerapan air maks 3%
- berat jenis ag kasar dan halus tidak berbeda lebih dari 0,2%
2) Agregat kasar:
- tertahan saringan no.8, bersih.keras
- batu pecah atau kerikil pecah Partikel lewat saringan no. 200
maks. 1%
Ketentuan agregat kasar 1. Soundness test
2. Abrasi dg mesin Los Angeles
3. Kelekatan terhadap aspal
4. Partikel pipih dan lonjong
3) Agregat Halus :
- pasir atau batupecah lewat saringan no,8
- % maks. Pasir untuk Laston 15 %
- sand equivalent > 40 % Bahan Pengisi ( Filler)
- batu kapur, semen Portland, abu terbang, abu tanur semen dll
- kering, lewat saringan no. 200 > 75 % Gradasi gabungan (lihat
transparan )/ file lain
MATERIAL
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
TOLERANSI DIMENSI
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
2. PERALATAN
a. Asphalt Mixing Plant
b. Wheel Loader
c. Dump Truck :
- bak terbuat dari logam yang rapat bersih, disemprot
sedikit air sabun atau minyak bakar
- bak ditutup rapat untuk menjamin suhu campuran
d. Asphalt Finisher
Penghampar mekanis bermesin sendiri, mampu
menghampar, membentuk sesuai kelandaian dan
penampang melintang.
e. Three Wheel Roller
f. Pneumatic Tire Roller
g. Tandem Roller
Berat statis ketiga alat pemadat tidak kurang dari 6 ton
PERALATAN
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. TOLERANSI DIMENSI

a. Tebal Lapisan
- Dipantau dengan benda uji inti ( core ), 2 pada arah
melintang dengan jarak 200m. Toleransi tebal
3mm/tebal 3cm dan 5mm/ tebal lebih dari 3cm.
- Tebal aktual rata rata semua benda uji inti perruas
b. Kerataan Permukaan
- Diperiksa dengan mistar lurus panjang 3m
- Perbedaan tiap 2 titik pada setia penampang
melintang tidak melampaui 5 mm dari elevasi
- Ketidakrataan arah sumbu memanjang tidak boleh
melampaui 5mm.
TOLERANSI DIMENSI
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN
1. CAMPURAN
a. Komposisi campuran:
Campuran terdiri atas agregat dan aspal. Filler ditambahkan
apabila diperlukan.
b. Jenis Campuran :
- Latasir (Lapis Tipis Aspal Pasir) / Sand Sheet
- Lataston (Lapis Tipis Aspal Beton) ( L Aus, L Pondasi)/
HRS (Hot Rolled Sheet)
- Laston ( Lapis Aspal Beton ) :
- Lapis Aus / Wearing Cource ( AC / WC)
- Lapis Pengikat ( AC )
- Lapis Pondasi/Asphalt Treated Base ( ATB )
c. Kadar aspal dalam campuran
Persentase aspal aktual dalam agregat tergantung pada
penyerapan agregat yang digunakan. Pilih agregat dengan
penyerapan kecil ( kurang 3 % ).
d. Prosedure rancangan campuran - Pengujian yang diperlukan
agregat: analisa saringan, berat jenis dan penyerapan air

PELAKSANAAN 1
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
TOLERANSI DIMENSI
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (Lanjutan 1)

Pengujian campuran :
- berat jenis maksimum campuran, pengujian sifat-sifat Marshall,
dan kepadatan membal
- Pengujian percobaan campuran:
1. Gradasi agregat yang memenuhi gradasi gabungan
2. Perkiraan awa! kadar aspa! dengan rumus

Pb = 0,035(%CA)+0,045%(%FA)+0,18(% Filler) +K

Dimana
Pb = kadar aspal
CA = agregat kasar
FA = agregat ha I us
K konstanta sekitar 0,5-1,0 untuk AC dan 2,0-3,0 untuk
MRS

PELAKSANAAN 2
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (Lanjutan 2)

Pengujian campuran :
- Buat 5 benda uji dengan kadar aspal satu mendekati perkiraan, 2
diatas perkiraan dan 2 di bawah perkiraan.
- Setiap variasi kadar aspal diperiksa:
- berat isi
- stabilitas Marshall
- kelelehan
- rongga dalam agregat ( VMA )
- rongga terisi aspal ( VFB )
- rongga dalam campuran ( VIM )
- Kadar aspal optimum diperoleh :
- kadar aspal yang memberikan berat isi maksimum
- kadar aspal yang memberikan stabilitas maksimum
- masuk dalam rentang persyaratan kelelehan
- masuk dalam rentang persyaratan VMA
- masuk dalam rentang persyaratan VFB
- masuk dalam rentang persyaratan VIM
- Membuat Job MIX Formula dan penghamparan percobaan
- Ketentuan sifat-sifat campuran (transparent).

PELAKSANAAN 3
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (Lanjutan 3)
2. INSTALASI PENCAMPUR ASPAL
a. Umum
Instalasi Pencampur Aspal atau Asphalt Mixing Plant (AMP )
dapat berupa :
- batching plant ( sistem takaran )
- continuous ( sistem menerus )
Kapasitas harus memadai dan dipasang di lokasi yang
jauh dari permukiman.
b. Timbangan
- berupa jenis jam tanpa pegas dan merupakan produksi
standar
- timbangan untuk aspal harus memenuhi ketentuan untuk
agregat
c. Tangki aspal
Tangki aspal harus dilengkapi dengan pemanas yang dapat
dikendalikan dengan efektif.
d. Pemasok ( feeder )
Pemasok harus terpisah untuk masing-masing agregat
e. Alat pengering
Berputardan mampu mengeringkan dan memanaskan agregat
sampai suhu yang dipersyaratkan.
f. Ayakan (Saringan)
Mampu mengayak seluruh agregat sampai ukuran dan porsi
yang disyaratkan
PELAKSANAAN 4
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (Lanjutan 4)


2. INSTALASI PENCAMPUR ASPAL (lanjutan 1)
g. Penampung panas (Hot Bin) Kapasitas cukup, jumlah bin
minimum 3 bh, sehingga menjamin penyimpanan yang terpisah
untuk masing-masing fraksi. Tidak termasuk bahan pengisi h.
Unit pengendali aspal Jenis penimbangan dan jenis meteran
harus handal untuk memperoleh jumlah aspal yang tepat
i. Pengukur suhu
- thermometer berlapis baja, dipasang di tempat
mengalirnya pasokan aspal
- instalasi juga dilengkapi dengan thermometer
j. Pengumpul Debu (dust collector)
Instalasi Pencampur Aspal harus dilengkapi alat pengumpul
debuk. Pengendali waktu pencampuran AMP dilengkapi dengan
perlengkapan pengendali waktu pencampuran
l. Timbangan dan Rumah Timbangan. Disediakan untuk
menimbang truk bermuatan, dikirim ke tempat hamparan

PELAKSANAAN 5
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (Lanjutan 5)

3. PEMBUATAN CAMPURAN ASPAL
a. Penyiapan bahan aspa!
Aspal dipanaskan dengan suhu antara 140° C sampai 160° C
b. Penyiapan agregat
- Tiap fraksi disalurkan melafui pemasok dingin
- Agregat dipanaskan pada alat pengering, sebelum
dimasukkan alat pencampur
- Bila diperlukan filler ditambahkan dan ditakar secara
terpisah
c. Penyiapan pencampuran
- Agregat kering /panas dicampur di pencampur dengan
proporsi tiap fraksi yang tepat, waktu pencampuran kira-
kira 45 detik (batch plant).
- Suhu campuran saat keluar dari alat pencampur harus
memenuhi syarat.
d. Pengangkutan dan penyerahan di lapangan
- Campuran masuk ke alat penghampar dalam rentang suhu
135° C 150° C

PELAKSANAAN 6
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (Lanjutan 6)

4. PENGHAMPARAN
a. Penyiapan permukaan
- Permukaan yang rusak, tidak stabil harus diperbaiki
terlebih dahulu.
- Permukaan dibersihkan dari bahan lepas dengan sapu
mekanis dan dibantu manual bila perlu. Lapis perekat atau
lapis resap pengikat diterapkan spt di depan.
b. Penghamparan dan pembentukan
- Acuan tepi balok kayu dipasang sesuai garis dan
ketinggian
- Sepatu alat penghampar dipanaskan, campuran dihampar
dan diratakan sesuai kelandaian, elevasi dan bentuk
penampang melintang. Dimulai dari lajur paling rendah.
- Selama penghamparan dan pembentukan mesin fibrasi
dipanaskan.
- Kecepatan alat diatur hingga tidak menyebabkan retak
permukaan atau koyak.
PELAKSANAAN 7
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (Lanjutan 7)
4. PENGHAMPARAN (lanjutan 1)
c. Pemadatan
- Suhu campuran/hamparan selalu dipantau.
- Pemadatan awal dg pemadat roda baja, suhu 125-145C.
Pemadatan kedua dg pemadat roda karet, suhu 100-125C.
Pemadatan akhir dg pemadat roda baja, suhu > 95C.
- Pemadatan sejajar sumbu jalan ,dari tepi menuju arah
sumbu, kecuali superelevasi,dimulai dari yang rendah ke
arah tinggi. Lintasan yang berurutan harus tumpang
tindih.
- Kecepatan pemadat roda baja maksimum 4 km/jam, roda
karet maksimum 10 km/jam.
- Operasi penggilasan dilaksanakan secara menerus.
- Roda baja dibasahi secukupnya dan roda karet diminyaki
sedikit unutk mencegah lengket.
- Alat berat dan pemadat tidak diijinkan di atas permukaan
yg baru dikerjakan, sampai permukaan dingin.
- Tepi perkerasan dipangkas agar bergaris rapi.
d. Sambungan
- Sambungan memanjang diatur berada di pemisah
jalur/lajur. Sambungan melintang harus lurus dihampar
bertangga, pergeseran min 25 cm.
- Memasang campuran baru disebelah campuran padat, tepi
campuran padat dipotong tegak lurus.
PELAKSANAAN 8
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
TOLERANSI DIMENSI
ASPAL PANAS
JENIS
LAPISAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
CAMPURAN 1
CAMPURAN 2
CAMPURAN 3
INSTALASI CMP. 1
INSTALASI CMP. 2
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN 1
PENGHAMPARAN 2
4/11/2013
5. PENGENDALIAN MUTU

a. Ketentuan viskositas aspal dan suhu Campuran















PENGENDALIAN MUTU 1
CAMPURAN ASPAL PANAS
prosedur pelaksanaan
Viskosit
as
suhu camp.
1. Pencampuran b.u. Marshall 0,2 155
2. Pemadatan b.u Marshall 0,4 145
3 . Pencampuran maks di AMP
tidak
perlu
165
4. Pencampuran 0,2-0,5 145-155
5. Ke alat penghampar 0,5-1,0 130-150
6. Pemadatan awal 1-2 125-145
7. Pemadatan kedua 2-20 100-125
8. Pemadatan akhir <20 >95
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
TOLERANSI DIMENSI
VISKOSITAS
KEPADATAN
MUTU CAMPURAN
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
5. PENGENDALIAN MUTU (Lanjutan 1)

b. Kepadatan
- Keepadatan campuran aspal tidak boleh kurang dari 7%
Kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density) untuk
Laston dan 98% untuk campuran lainnya.
- Pengambilan dan pemadatan benda uji di laboratorium
sesuai AASHTO 168.

c. Jumlah pengambilan benda uji
- Pengambilan dilakukan di instalasi pencampur atau lokasi
penghamparan.
- Frekwensi minimum pengujian (lihat transparan )
- 6 cetakan Marshall dibuat tiap hari penghamparan,
dipadatkan pada suhu 145 C dengan 75 tumbukan masing-
masing permukaan, kepadatan rata-rata/Marshall Marian.
- Pengambilan benda uji dengan mesin bor diameter 4" atau
6", diperiksa ketebalan,kepadatan dan kadar aspal (
ekstraksi).
PENGENDALIAN MUTU 2
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
TOLERANSI DIMENSI
VISKOSITAS
KEPADATAN
MUTU CAMPURAN
ASPAL PANAS
PENGENDALIAN MUTU
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
5. PENGENDALIAN MUTU (Lanjutan 2)

d. Pengujian mutu campuran ( hasil dan catatan )
- Analisa saringan 2 contoh dari hot bin
- Suhu campuran saat pengambilan contoh di
AMP maupun di lokasi
- Kepadatan Marshall Marian dengan detil semua
benda uji yang diperiksa
- Kepadatan lapangan dan persentase terhadap
Kepadatan Campuran Kerja benda uji inti
- Stabilitas, kelelehan, Marshall Quotient paling
sedikit 2 contoh
- Kadar aspal hasil ekstraksi paling sedikit 2
contoh
- Rongga dalam campuran dan kepadatan membal
dihitung berdasar berat jenis maksimum
(AASHTO T 209-90 )
- Kadar aspal terserap agregat dihitung berdasar
berat jenis maksimum campuran
PENGENDALIAN MUTU 3
CAMPURAN ASPAL PANAS
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL & CAMPURAN
PERALATAN
PELAKSANAAN
TOLERANSI DIMENSI
VISKOSITAS
KEPADATAN
MUTU CAMPURAN
ASPAL PANAS
PENGENDALIAN MUTU
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL

Lasbutag : Lapis Asbuton Agregat
Latasbusir : Lapis Tipis Asbuton Pasir
a. Asbuton : kadar aspal > 15%








- kadar air asbuton maksimum 6 %
- tempat menumpuk asbuton harus rata, bersih
- penyimpanan diletakkan dalam lapisan-lapisan tidak lebih dari 30
cm dan tinggi tumpukan 2OO cm dg kelandaian 5%.
MATERIAL 1
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
35-100 0,600 mm
90-100 4.75 mm
100 12,7 mm
% lewat Ukuran
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
ASBUTOR
AGREGAT KASAR
AGREGAT HALUS
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL (lanjutan 1)

b. Agregat Kasar
- terdiri atas batu pecah atau kerikil pecah dengan gradasi ukuran
saringan (mm)
- bersih, keras, awet dan keausan maksimum 40%
- kelekatan minimum 95 % atau bila tidak memenuhi dapat
ditambahkan bahan aditif







MATERIAL 2
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
% lewat
19 100
12.7 30-100
9,5 0-55
4.75 0-10
0,075 0-1
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
ASBUTOR
AGREGAT KASAR
AGREGAT HALUS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL (lanjutan 2)


c. Agregat Halus

- terdiri atas satu atau beberapa jenis pasir atau batu pecah halus
atau kombinasinya dengan gradasai ukuran saringan (mm)













- nilai setara pasir minimum 50%
MATERIAL 3
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
ASBUTOR
AGREGAT KASAR
AGREGAT HALUS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
JENIS
LAPISAN

Ukuran saringan (mm)
% lewat
Lasbutag Latasbusir
9,5 100 100
4,75 98-100 72-100
2,36 93-100 72-100
0.600 76-100 25-100
0,075 0-8 0-8
4/11/2013
1. MATERIAL (lanjutan 3)

d. Filter atau bahan pengisi berasal dari mineral asbuton
e. Bahan Peremaja
- Minyak berat peremaja (minyak bumi, bunker oil, Long
Residu Aromatis dengan karakteristik tertentu).
- Aspal semen pen 60/70 atau 80/100
- Minyak pelunak (cutter): minyak tanah dengan sifat-sifat
tertentu.
f. Bahan tambah (aditif), anti pengelupasan
g. Precoat dengan aspal cair; kadar residu diperhitungkan
dalam kadar campuran

MATERIAL 2
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
ASBUTOR
AGREGAT KASAR
AGREGAT HALUS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
2. CAMPURAN

a. campuran pada dasarnya terdiri atas agregat kasar, agregat halus, Asbuton dan bahan
peremaja
b. Kadar aspal dalam campuran merupakan penjumlahan dari :
kadar bitumen asbuton
aspal semen
minyak berat peremaja Kadar aspal efektif tidak boleh kurang dari ketentuan yang
disyaratten c. Gradasi Mineral Asbuton
100% lewat saringan no. 100
d. Proporsi komponen fraksi-fraksi rancangan
 Agregat Kasar (CA) : % berat bahan tertahan saringan 2,36 mm
 Agregat Halus (FA) : % berat bahan lewat saringan 2,36 tertahan 0,075
 Filler : % berat bahan lewat saringan 0,075 mm
Fraksi-fraksi rancangan harus terletak dalam batas persyaratan yang ditentukan
e. Resep campuran kerja dan toleransi
 agregat gab. lewat 9,5 mm, tertahan 2.36 mm : 7% berat total agregat
 agregat gab. Lewat 2.36 mm, tertahan 0,15 mm : 6 % berat total agregat
 agregat gab. Lewat 0,15 mm, tertahan 0,075 mm : 3% berat total agregat
 agregat gab. Lewat 0,075 mm : 2,0% bert total ag
 total kadar aspal : 0,5 % berat total campuran
f. sifat-sifat campuran sesuai tabel 6.4.3.(2)
CAMPURAN
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. PERALATAN

a. Umum
- instalasi pencampur aspal jenis takaran
- instalasi pencampur beton jenis takaran kapasitas 500 kg
- beton molen kapasitas minimum 200 kg
b. Timbangan
- berat agregat (weigh hopper)
- timbangan bahan peremaja (weigh bucket)
c. Tangki pencampur dan penyimpan bahan peremaja
d. Pengeringan Asbuton
- drum pengering atau sinar matahari
e. Peralatan pengangkut
f. Peralatan penghampar
- alat penghampar mekanis
- alat penghampar manual
g. Peralatan pemadat
- alat pemadat roda baja bermesin sendiri terdiri atas alat
pemadat tiga roda dan alat pemadat dua roda" dan,
- alat pemadat roda karet bermesin sendiri, dilengkapi sikat
pembersih roda
- penyemprotan roda dengan air tidak diperkenankan
PERALATAN
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
LASBUTAG &
LASBUSIR
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN

1. PEMBUATAN CAMPURAN
a. penyiapan bahan peremaja
b. penyiapan Asbuton
- pemecahan
- pengayakan
- pengeringan
c. penyiapan agregat
d. penyiapan pencampuran:
- pencampuran secara normal
- precoating
e. pemeraman
- minimum 6 hari, tinggi tumpukan maks 2 m
PELAKSANAAN 1
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN
LASBUTAG &
LASBUSIR
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (lanjutan1)

2. PENGHAMPARAN CAMPURAN
a. penyiapan permukaan
- permukaan perkerasan lama dibersihkan, diberi tack coat
- permukaan yang rusak diperbaiki terlebih dahulu
b. penghamparan dan pengerjaan akhir
- pembentukan
- pelaksanaan setengah lebar jalan
- penghamparan dengan mesin
- penghamparan dengan tangan
- penguapan
c. pemadatan
- campuran dihampar, diratakan"
- penggilasan terdiri atas 3 operasi:
- penggilasan awal (breakdown) dan
- penggilasan kedua (utama ) waktu 1 jam
- penggilasan akhir/ penyelesaian dalam waktu 2 minggu
d. tatacara pemadatan dan sambungan-sambungan pada umumnya
sesuai campuran aspal panas
PELAKSANAAN 2
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
CAMPURAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
PEMBUATAN CAMP.
PENGHAMPARAN
PELAKSANAAN
LASBUTAG &
LASBUSIR
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
5. PENGENDALIAN MUTU

1. PEMERIKSAAN PERMUKAAN PERKERASAN
a. mistar lurus panjang 3m , untuk tegak lurus dan sejajar
sumbu jalan
b. pemeriksaan kerataan segera setelah pemadatan awal dan
setelah pemadatan akhir

2. KETENTUAN PEMADATAN
kepadatan rata-rata tiap kelompok dari 4 buah pengujian min
97% kepadatan Marshall ( dengan metode Sand Cone)

3. PENGAMBILAN CONTOH
setiap 100 ton produksi, sesuai pengujian campuran aspal panas
PENGENDALIAN MUTU
LASBUTAG DAN LATASBUSIR
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
CAMPURAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL

1. MATERIAL
a. Umum
* agregat pokok
* agregat pengunci
* agregat penutup
• aspal

b. agregat pokok dan pengunci
* abrasi ( keausan) : maks 40%
* kelekatan terhadap aspal : min 95%
* indeks kepipihan : maks 25%

MATERIAL 1
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
ASBUTOR
AGREGAT KASAR
AGREGAT HALUS
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL (lanjutan 1)


c. gradasi agregat pokok dan pengunci

MATERIAL 2
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
0-5 0-5 0-5 9,5
95-100 95-100 95-100 19
100 100 100 25
ag pengunci
- 19
0-5 0-5 0-5 25
0-15 - 0-15 38
35-70 95-100 35-70 50
95-100 100 90-100 63
100 - 100 75
- - 7-10 ag. Pokok
5-8 4-5 % lewa Ukuran (mm)
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
KUANT AGREGAT & ASPEL
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
ASBUTOR
AGREGAT KASAR
AGREGAT HALUS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
1. MATERIAL (lanjutan 2)


d. Aspal
- aspal semen pen 80/100 atau pen 60/70
- aspal emulsi CRS1 atau CRS2 ( MSHTO M208)
- aspal emulsi RS1 atau RS2 (MSHTO M140)
- aspal cair ( Rapid Curing) RC250 atau RC800
- aspal cair ( Medium Curing) MC250 atau MC800
MATERIAL 3
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
KUANT AGREGAT & ASPEL
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
ASBUTOR
AGREGAT KASAR
AGREGAT HALUS
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
2. KUANTITAS AGREGAT DAN ASPAL


KUALITAS AGREGAT
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
25 2,5 80 3,7
25 4,4 114 4,4
25 5,2 133 5,5
25 5,5 140 5,5
25 6,0 152 6,5
25 7,5 180 7,5
25 8,5 200 8,5
kg/m2 kg/m2 7-10 5-8 4-5 (cm)
ag.pengunci aspal residu ag. pokok(kg/m2) tebal lap.
aspal residu : bitumen tertinggal setelah semua bahan
Pelarut / pengemulsi menguap

RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
3. PERALATAN

a. penumpukan bahan
* dump truck
* loader
b. di lapangan
* mekanis
- penggilas tandem atau roda tiga ( 6-8 ton)
- penggilas roda karet 10-12 ton (jika diperlukan)
- distributor aspal atau hand sprayer
- truk penebar agregat
* manual
- sapu, sikat, sekop, gerobag dorong dll
- ketel aspal
- penggilas seperti cara mekanik

PERALATAN
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
PERATA PENETRASI
MAKADAM
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN

1. PERSIAPAN LAPANGAN
a. profil memanjang dan melintang
b. permukaan bersih, kerusakan diperbaiki
c. permukaan aspal lama diberi Lapis Perekat; lapis
Pondasi disemprot Lapis Resap Pengikat

PELAKSANAAN 1
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
PERSIAPAN LAP.
SUHU PENYEMPRT
METODE MEKANIS
METODE MANUAL
PERATA PENETRASI
MAKADAM
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (lanjutan 1)

2. PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN

a. Suhu Penyemprotan aspal

- pen 60/70 165-175
- pen 80/100 155-165
- Emulsi ruang, sesuai petunjuk pabrik
- RC/MC 250 80-90
- RC/MC 800 105-115

PELAKSANAAN 2
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
PERSIAPAN LAP.
SUHU PENYEMPRT
METODE MEKANIS
METODE MANUAL
PELAKSANAAN
PERATA PENETRASI
MAKADAM
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (lanjutan 2)

2. PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN

b. metode mekanis
- penghamparan dan pemadatan agregat pokok
* kuantitas agregat sesuai persyaratan
dan permukaan rata
* kecepatanpemadatan awal 3 km/jam
* pemadatan dalam arah memanjang,
mulai dari tepi luar ke arah sumbu
* lintasan tumpang tindih setengah lebar
roda
- penyemprotan aspal
* suhu dan takaran sesuai persyaratan
dan takaran
- penebaran dan pemadatan agregat pengunci
* agregat pengunci ditebar segera
sesudah penyemprotan
* rongga-rongga agregat pokok terisi
* pemadatan sampai agregat pengunci
tertanam dan terkunci
PELAKSANAAN 3
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
PERSIAPAN LAP.
SUHU PENYEMPRT
METODE MEKANIS
METODE MANUAL
PELAKSANAAN
PERATA PENETRASI
MAKADAM
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
4. PELAKSANAAN (lanjutan 3)

2. PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN

c. metode manual

- penghamparan dan pemadatan agregat
pokok
* penebaran dilakukan secara manual
* pemadatan sesuai metode mekanis
- penyemprotan aspal
* menggunakan penyemprot tangan
* takaran penyemprotan sesuai
persyaratan dan merata
- penebaran dan pemadatan agregat
pengunci
* dilaksanakan seperti agregat pokok
* takaran sesuai ketentuan
* pemadatan sesuai metode mekanis
PELAKSANAAN 4
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
PERSIAPAN LAP.
SUHU PENYEMPRT
METODE MEKANIS
METODE MANUAL
PELAKSANAAN
PERATA PENETRASI
MAKADAM
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
5. PENGENDALIAN MUTU

1. BAH AN DAN KECAKAPAN KERJA

a. penyimpanan tiap fraksi terpisah; kebersihan dijaga
b. penyimpanan aspal tidak terjadi kebocoran dan
kemasukan air
c. suhu pemanasan aspal sesuai ketentuan di depan
d. toleransi.tebal padat lapisan 1 cm
e. kerataan permukaan selama pemadatan
f. kerataan agregat pokok diukur dengan mistar lurus
panjang 3, punggung jalan yang ambles tidak lebih 8
mm
g. sambungan memanjang dan melintang

2. LALU LINTAS

lalu lintas lewat setelah 2-4 Jam setelah pek, selesai
PENGENDALIAN MUTU
LAPIS PERATA PENETRASI MAKADAM
RESAP PENGIKAT &
PEREKAT
BURTU & BURJA
ASPAL PANAS
LASBUTAG &
LASBUSIR
PERATA PENETRASI
MAKADAM
MATERIAL
KUANT AGREGAT & ASPEL
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PERALATAN
JENIS
LAPISAN
4/11/2013
DIVISI 7 : STRUKTUR
4/11/2013
RUANG LINGKUP
7.1 Beton
7.2 Beton Pratekan
7.3 Baja Tulangan
7.4 Baja Struktur
7.5 Pemasangan Jembatan Rangka Baja
7.6 Tiang Pancang
7.7 Pondasi Sumuran
7.8 Adukan Semen
7.9 Pasangan Batu
7.10 Pasangan Batu Kosong dan Bronjong
7.11 Sambungan Ekspansi
7.12 Perletakan
7.13 Sandaran
7.14 Papan Nama Jembatan
7.15 Pembongkaran Struktur
7.16 Perkerasan Jalan Beton
7.17 Wet Lean Concrete
4/11/2013
UMUM
PERSYARATAN
PELAKSANAAN
PENGENDALIAN MUTU
PENGUKURAN & PEMBAYARAN
4/11/2013
7.1. BETON
• Umum
Cakupan pekerjaan ini adalah pelaksanaan seluruh
– struktur beton bertulang,
– Beton tanpa tulangan,
– beton prategang,
– struktur beton pracetak,
– beton untuk struktur komposit
– Meliputi penyiapan tempat kerja untuk pengecoran beton,
pemeliharaan pondasi, pengadaan penutup beton, lantai
kerja, pemompaan dll.
4/11/2013
MUTU BETON
Mutu beton yang tercakup dalam spesifikasi teknik ini :
• Mutu tinggi 35-65 MPa atau K 400-800 kg/cm2 untuk
beton prategang seperti tiang pancang, gelagar, plat
• Mutu sedang 20 – < 35 MPa atau K 250 – < K 400 Kg/cm2
untuk beton bertulang, lantai beton jembatan rangka baja,
gelagar beton, diafragma, kerb beton pracetak, gorong-
gorong
• Mutu rendah 15-< 20 MPa atau K 175- < K 250 kg/cm2 untuk
struktur beton tanpa tulangan seperti siklop, trotoar,
pasangan batu kosong
• Mutu rendah 10-< 15 MPa atau K 125-< K 175 kg/cm2 untuk
lantai kerja, penimbunan kembali dengan beton
4/11/2013
7.1.2.
Persyaratan
• Standar rujukan
– SNI
– AASHTO
– ASTM
• Pekerjaan seksi lain yang terkait
– Ketentuan teknis, pasangan batu dengan mortar, gorong-
gorong, drainase porous
– Galian, timbunan
– Beton prategang, baja tulangan, asukan semen,
pembongkaran struktur
4/11/2013
Persyaratan Bahan
• Semen
– Jenis semen portland sesuai SNI
– Hanya satu merk dalam satu campuran
• Air
– Bersih, bebas dari bahan organik seperti minyak, garam,
asam, basa, gula
– Lolos pengujian sesuai AASHTO T 26
• Agregat
– Ketentuan gradasi agregat sesuai ketentuan
– Ukuran maksimum agregat kasar ¾ jarak bersih tulangan
– Sifat agregat harus bersih, kuat, keras dan berasal dari
pemecahan batu
– Bebas bahan organik
4/11/2013
Persyaratan bahan
• Batu untuk beton siklop
– Keras, awet, bebas dari retak, rongga dan kuat terhadap
cuaca
– Bersudut runcing, bebas dari kotoran, minyak dan bahan
lain yang mempengaruhi ikatan terhadap beton
• Bahan tambah
– Jumlah tidak lebih dari 5% dari berat semen atau sesuai
spesifikasi produk
– Sesuai dengan jenis penggunaannya dan klasifikasinya
– Bahan mineral seperti fly ash, pozzolan, mikro silika
sesuai ASTM C 608-94a
4/11/2013
Persyaratan
• Cakupan Jaminan Mutu
– Mutu bahan yang dipasok,
– proses pelaksanaan
– hasil akhir
• Toleransi untuk beton pracetak
– Toleransi dimensi untuk panjang < 6 m = 5 mm, untuk panjang > 6
m = 15 mm dan untuk balok, pelat lantai, kolom dinding 0 mm - <
10 mm
– Toleransi bentuk untuk persegi (selisih panjang diagonal) < 10
mm, kelurusan atau lengkungan untuk panjang < 3 m adalah 12
mm, untuk panjang 3 – 6 m = 15 mm dan untuk panjang > 6 m = 20
mm
Sesuai dengan
standar rujukan
dan persyaratan
4/11/2013
Pengajuan Kesiapan Kerja
– Kontraktor harus mengirimkan
contoh semua bahan yang akan
digunakan dan dilengkapi
dengan data pengujian seluruh
sifat bahan
– Kontraktor harus mengirimkan
rancangan campuran untuk
masing-masing mutu beton 30
hari sebelum dilaksanakan
untuk kemudian dilakukan
pembuatan trial mix dalam
langkah membuat job mix.
– Kontraktor menyerahkan
secara tertulis hasil pengujian
pengendalian mutu
4/11/2013
Pengajuan Kesiapan Kerja
– Untuk pengujian kuat tekan beton dengan umur 3 hari, 7
hari, 14 hari dan 28 hari setelah tanggal pencampuran,
yang kemudian dibandingkan dengan hasil trial mix agar
didapat jobmix yang sesuai dengan desain mix.
– Kontraktor mengirim detail gambar dan perhitungan rinci
untuk perancah yang digunakan
– Kontraktor harus memberitahu Direksi Pekerjaan minimal
24 jam sebelum dilakukan pencampuran, pengecoran
setiap jenis beton disertai metode pelaksanaannya,
kapasitas alat yang digunakan, personil, jadwal
pelaksanaan untuk mendapat persetujuan dari Direksi
Pekerjaan.
4/11/2013
Persyaratan Kerja
• Pencampuran dan penakaran
– Rancangan campuran
• Proporsi bahan dan berat sesuai SNI 03-2834-2000
• Pedoman awal rancangan campuran sesuai tabel
– Campuran percobaan
• Penyedia jasa harus membuat dan menguji campuran
percobaan sesuai SNI 03-2834-2000
• Disaksikan oleh Direksi pekerjaan
• Menggunakan jenis instalasi dan peralatan sesuai
lapangan
4/11/2013
Pedoman Awal
Rancangan campuran
260 - 225 0,70 19 - 35 K 125 10
305 – 265 0,60 19 - 35 K 175 15 Mutu
rendah
335 – 290 0,55 19 - 35 K 250 20
365 – 315 0,50 19 - 35 K 300 25
385 – 335 0,475 19 - 35 K 350 30 Mutu sedang
405 - 350 0,45 19 - 37 K 400 35
430 - 370 0,425 19 - 37 K 450 38
455 - 395 0,40 19 - 37 K 500 45
- - -
> K 600 > 50 Mutu tinggi
o’
bk (kg/cm2)
f’c (MPa)
Kadar semen
Minimum
(kg/m3)
Rasio
Air/semen
max
Thd berat
Ukuran agregat
(Max-mm)
Mutu beton
Jenis
beton
260 - 225 0,70 19 - 35 K 125 10
305 – 265 0,60 19 - 35 K 175 15 Mutu
rendah
335 – 290 0,55 19 - 35 K 250 20
365 – 315 0,50 19 - 35 K 300 25
385 – 335 0,475 19 - 35 K 350 30 Mutu sedang
405 - 350 0,45 19 - 37 K 400 35
430 - 370 0,425 19 - 37 K 450 38
455 - 395 0,40 19 - 37 K 500 45
- - -
> K 600 > 50 Mutu tinggi
o’
bk (kg/cm2)
f’c (MPa)
Kadar semen
Minimum
(kg/m3)
Rasio
Air/semen
max
Thd berat
Ukuran agregat
(Max-mm)
Mutu beton
Jenis
beton
4/11/2013
Pasta/
Perekat
SIFAT BAHAN
Semen
Sebagai
Bahan
Pengikat
Air
Media
pencampur
Bahan
Pengaku &
stabilitas
Bahan
Pengisi
Kasar Halus
Agregat
Bahan
Pengaku &
stabilitas
Bahan
Pengisi
Kasar Halus
Agregat
Bahan
Tambahan
Bahan
pengubah
Beton bersifat plastis pada awalnya dan kemudian berubah menjadi keras
4/11/2013
PENGARUH SIFAT BAHAN
• SEMEN
– Kualitas dan kecepatan pengerasan
• AGREGAT HALUS
– Gradasi, mempengaruhi kemudahan pengerjaan
– Kadar air, mempengaruhi perbandingan air semen
– Lumpur, mempengaruhi kekuatan
– Kebersihan, mempengaruhi kekuatan dan sifat awet beton
• AGREGAT KASAR
– Gradasi, mempengaruhi kekuatan
– Kadar air, mempengaruhi perbandingan air-semen
– Kebersihan, mempengaruhi kekuatan dan keawetan
• AIR
– Kuantitas mempengaruhi hampr semua sifat,
– Kualitas mempengaruhi pengerasan, kekuatan, sifat awet
4/11/2013
JENIS-JENIS PENGUJIAN
AGREGAT KASAR
• Analisa saringan (Gradasi)
• Berat jenis & penyerapan (sebagai dasar untuk
menghitung kuantitas beton)
• Abrasi
• Impact
• Crushing
• Kepipihan
• Lolos saringan #200
• Kadar lempung
• Soundness
4/11/2013
JENIS PENGUJIAN
AGREGAT HALUS
• Analisa saringan
• Berat jenis & penyerapan
• Berat isi
• Partikel ringan
• Soundness
• Organik impurities
• Alkali reaktif
4/11/2013
PELAKSANAAN
Pembetonan
Penyiapan tempat kerja
Apabila ada beton lama, maka harus dibongkar dulu
Untuk pekerjaan fondasi, harus sesuai dengan dimensi yang
disyaratkan dan adanya tempat di sekeliling tempat pekerjaan
yang stabil dan adanya jalan kerja sehingga pekerjaan dapat
dengan mudah diperiksa
Untuk fondasi langsung, beton tidak boleh dicor langsung di atas
tanah
Sebelum pengecoran, seluruh acuan, tulangan dan benda lain
yang harus berada di dalam beton harus sudah terpasanng dan
diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran
Galian harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan
sebelum pekerjaan beton dimulai
Pada waktu pengecoran, beton tidak boleh terkena air hujan,
atau panas matahari secara langsung, jadi harus pasang tenda
4/11/2013
PELAKSANAAN
Acuan
– Acuan tanah, harus dipastikan bahwa semua tebing dalam kondisi
stabil dan tidak ada tanah yang lepas
– Acuan kayu, baja pastikan semua sambungan tidak bocor dan kaku
sehingga posisinya tetap selama pengecoran, pemadatan dan
perawatan
– Acuan kayu yang permukaannya tidak diserut dapat digunakan
untuk bagian yang tidak ekspos
– Harus dapat dibongkar tanpa merusak permukaan struktur, perlu
diberi oil form
– Seluruh sudut acuan harus dibulatkan atau tidak ada sudut acuan
yang tajam
– Acuan dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar tanpa
merusak beton
4/11/2013
– Penyedia jasa memberitahu Direksi pekerjaan minimal 24 jam sebelum
pekerjaan dimulai dan meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan
tanggal serta waktu pencampuran dimulai atau adanya penundaan
pengecoran > 6 jam
– Penyedia jasa tidak boleh memulai pekerjaannya sebelum ada persetujuan
dari Direksi Pekerjaan secara tertulis
– Pengecoran tidak boleh dilaksanakan apabila, Direksi pekerjaan atau
wakilnya tidak menyaksikan, walau sudah ada persetujuan pengecoran
– Acuan harus diolesi minyak atau oilform sebelum pekerjaan pengecoran
dimulai
– Beton yang dicorkan tidak boleh berumur lebih dari 1 jam setelah
pencampuran, dan berdasarkan waktu pengerasan semen, apabila terjadi
maka campuran beton harus ditambah retarder
– Pengecoran harus berkesinambungan sampai lokasi sambungan
pelaksanaan
Pengecoran
4/11/2013
Pengecoran
– Pengecoran harus sedemikian sehingga tidak menimbulkan segregasi
– Untuk bagian yang rumit dan tulangan yang rapat beton harus dicor
dalam lapisan yang tidak lebih dari 15 cm. Untuk dinding tinggi boleh 30
cm
– Tinggi jatuh beton ke dalam cetakan tidak lebih dari 150 cm
– Kecepatan pengecoran harus sedemikian rupa sehingga beton masih
dalam kondisi plastis
– Beton lama yang akan disambung dengan beton baru harus dikasarkan,
dibersihkan dan dilapisi dengan bonding agent
– Perawatan beton dimulai 24 jam setelah pengecoran
– Apabila digunakan ready mix, perhatikan kapasitas, daya pemompaan,
kelecakan beton
4/11/2013
Pemadatan
• Harus menggunakan alat penggetar mekanis
• Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton
daari satu titik ke titik yang lain
• Pemadatan pada daerah antar tulangan harus hati-hati sehingga tulangan
tidak bergeser
• Waktu penggetaran harus dibatasi untuk mengihidari terjadinya segregasi
• Putaran alat penggetar minimum 5000/menit dengan berat efektif 0,25 kg
• Jarak antar alat pengetar 45 cm dan waktu penggetaran maksimum 15 detik
atau sampai permukaan beton mengkilap
• Alat penggetar harus vertikal hingga dapat penetrasi sampai 10 cm dari
dasar beton
• Pemadatan harus selesai sebelum terjadi pengikatan awal (initial setting)
4/11/2013
Pemadatan
• Jumlah alat penggetar mekanis:
2
3
4
5
6
>6
4
8
12
16
20
>20
Jumlah alat
Kecepatan pengecoran beton
(m3/jam)
2
3
4
5
6
>6
4
8
12
16
20
>20
Jumlah alat
Kecepatan pengecoran beton
(m3/jam)
4/11/2013
Pengerjaan Akhir
Pembongkaran Acuan
• Pembongkaran acuan minimal dilaksanakan 30 jam
setelah pengecoran
• Acuan yang ditopang dengan perancah (pelat,
balok, struktur lain) baru boleh dibongkar apabila
kekuatan beton sudah mencapai 85% terhadap
kekuatan rancangan
• Untuk beton ekspos dengan hiasan (tiang sandaran,
parapet) maka beton dapat dibongkar setelah 9
jam dan tidak lebih dari 30 jam
4/11/2013
Permukaan (Pengerj aan Akhir Biasa)
• Permukaan akhir harus dirapihkan setelah pembongkaran
acuan. Semua kawat atau logam yang digunakan untuk
memegang acuan harus dipotong paling tidak 2,5 cm di bawah
permukaan
• Tidak ada tonjolan akibat sambungan acuan
• Penambalan hanya boleh dilaksanakan pada bagian struktur
minor
• Akibat adanya keropos pada beton, maka harus dilakukan
perbaikan sesuai dengan pedoman perbaikan beton dengan
bahan polymer semen yang tidak menyusut
4/11/2013
• Untuk bagian atas pelat, trotoir yang horizontal harus digaru untuk
memberikan bentuk dan ketinggian sesuai perancangan sebelum
beton mengeras
• Permukaan horizontal harus dikasarkan sebelum selimut beton
mengeras
Perawatan dengan pembasahan
• Beton harus dilindungi terhadap pengeringan dini, temperatur tinggi
dan gangguan mekanis agar kehilangan kadar air yang terjadi
seminimal mungkin
• Beton dirawat setelah beton mulai mengeras dengan bahan penyerap
air yang jenuh dalam waktu minimal 3 hari
• Lalu lintas tidak diperbolehkan melewati permukaan beton tersebut
dalam 7 hari setelah beton dicor
• Untuk beton dengan kekuatan awal yang tinggi yang menggunakan
bahan tambahan harus dibasahi sampai kekuatannya mencapai 70%
dari kekuatan rancangan 28 hari
Permukaan (Pengerjaan Akhir Khusus)
4/11/2013
Tujuan perawatan
• Memperbaiki kualitas beton dan menjadikan beton lebih awet
terhadap agresi kimia
• Menjadikan beton lebih tahan terhadap aus karena lau lintas
dan lebih kedap air
• Reaksi kimia pada beton terjadi pada pengikatan dan
pengerasan beton tergantung pada pengadaan airnya,
sehingga perlu adanya jaminan bahwa air masih tertahan atau
jenuh untuk memungkinkan kelanjutan reaksi kimia
• Penguapan menyebabkan beton kehilangan air sehingga
terhenti proses hidrasi dengan konsekuensi berkurangnya
peningkatan kekuatan
• Penguapan menyebabkan penyusutan kering yang terlalu awal
dan cepat, sehingga berakibat timbulnya tegangan tarik yang
dapat menyebabkan retak.
4/11/2013
Pengendalian Mutu
• Penerimaan Bahan
– Sebelum digunakan dilakukan pemeriksaan sesuai dengan
ketentuan dengan bukti-bukti tertulis
• Pengawasan
– Adanya personil dengan keahlian khusus untuk melakukan
pengawasan
• Perencanaan campuran
– Ketentuan sifat-sifat campuran
– Penyesuaian campuran
– Pelaksanaan campuran
– Pengujian campuran
– Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi
ketentuan
4/11/2013
Sesuai dengan proporsi takaran campuran pada
job mix
Campuran yang tidak memenuhi ketentuan
“slump” yang diusulkan tidak boleh digunakan
kecuali untuk penggunaan terbatas
Apabila pengujian beton campuran uji (trial mix)
pada umur 7 hari < persyaratan maka beton
tidak boleh dijadikan job mix dan dicari
penyebabnya
Ketentuan
Sifat-sifat Campuran
4/11/2013
– Penyesuaian mudah dikerjakan (kelecakan atau
workability)
• Kadar semen tidak berubah
• Rasio air/semen tidak dinaikkan
• Tidak ada pengadukan kembali
• Diizinkan menggunakan bahan tambahan seizin Direksi
Pekerjaan
– Penyesuaian kekuatan
• Menambah kadar semen dan tidak lebih dari persyaratan
• Menggunakan bahan tambahan (additif)
– Penyesuaian untuk bahan-bahan baru
• Tidak diizinkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu secara
tertulis kepada Direksi Pekerjaan
• Akan dilakukan kembali pengujian campuran dengan bahan
yang baru tersebut
Penyesuaian Campuran
4/11/2013
BAHAN TAMBAH
• Bila perlu digunakan harus seizin Direksi Pekerjaan dengan
jenis dan takaran bahan tambah yang akan digunakan untuk
tujuan tertentu dengan bukti dari laboratorium
• Bila digunakan bahan tambah berupa fly ash, mikro silika atau
abu slag besi sebagai bahan tambah beton dengan semen
sebagai bahan utama, perlu adanya hasil pengujian terlebih
dulu
• Bahan tambah dicampurkan dalam beton pada saat
pengadukan beton dan hanya digunakan untuk meningkatkan
kinerja beton segar
4/11/2013
TAHAP PENGENDALIAN MUTU BETON
Sebelum
pelaksanaan
Pada saat
pelaksanaan
Setelah
pelaksanaan
Seleksi
material
Rancangan
campuran
Peralatan
-jumlah
-kondisi
Penakaran (berat,
volume)
Pencampuran
(homogenitas, kapasitas
mixer)
Transportasi (cara, alat,
travel time)
Penempatan (jenis
konstruksi, final setting)
Pemadatan (alat, cara,
waktu)
Finishing
Pembuatan contoh uji
Perawatan
(curing)
Cara,waktu
4/11/2013
PENGENDALIAN MUTU
PENGUJIAN KUAT TEKAN
• Pengujian untuk Kelecakan (Workability)
– Dengan menggunakan nilai slump untuk setiap pencampuran
beton
• Pengujian kuat tekan
– Setiap 10 m3 beton yang dipasok pada setiap hari harus ada 1
set (3 buah ) pengujian kuat tekan untuk setiap jenis mutu
beton pada 28 hari
– Pengujian merupakan uji tekan dengan sepasang benda uji
silinder diameter 150 mm dan tinggi 300 mm
– Mutu beton yang diterima apabila
• Rata-rata nilai hasil uji kuat tekan dari benda uji > (fc’ + k.S.r) di
mana S = nilai deviasi dan tidak ada satupun benda uji mempunyai
nilai < 0,85 fc’, k = 1,64 dan r = faktor koreksi untuk jumlah benda
uji < 30 buah
4/11/2013
PENGUJIAN DI LAPANGAN
• Pengambilan benda uji yang mewakili
• Menggunakan statistik sesuai dengan standar deviasi
• fc’= fcm – ( k.S).r
• Nilai k adalah 1,64 untuk jumlah benda uji 30 buah
• Jumlah benda uji 1 set (3 buah) setiap 10 m3 pada setiap jenis
struktur. Benda uji yang diuji adalah 2 buah, apabila dari 2 buah
benda uji tersebut terdapat perbedaan > 5%, maka benda uji ke-3
diuji, dan untuk perhitungan S digunakan 2 buah benda uji dengan
nilai terdekat
• Syarat tidak boleh ada satupun benda uji mempunyai nilai < 0,85 fc’,
dan
( )
1
1
2
.
÷
÷
=
¿
n
f f
S
n
m c ci
4/11/2013
• Bila syarat tersebut tidak terpenuhi maka diambil langkah-
langkah untuk meningkatkan kuat tekan beton
• Bila terjadi kuat tekan << maka harus dilakukan core drill
pada daerah yang diragukan sebanyak 3 buah
• Jika hasil dari 3 buah core drill rata-rata > 0,85 fc dan
tidak ada satupun < 0,75 fc maka secara struktural beton
dianggap baik
• Pengujian tambahan dapat dilakukan apabila diperlukan,
dengan alat impact echo, UPV, core drill dll.
Pengujian Kuat Tekan
4/11/2013
KONTROL PRODUKSI BETON
• Karakteristik komponen beton
• Kepadatan
• Berat jenis beton segar dan beton keras
• Kadar semen pada beton segar
• Kadar air pada beton segar
• Kadar udara beton segar
• Perbandingan air/semen
• Kekuatan tekan benda uji
• Sifat-sifat mekanik lainnya:
– Sifat rangkak dan susut, perubahan kekuatan
– Kadar klorida (keawetan), test absopsi air, kekedapan
4/11/2013
Perbaikan
 Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi
ketentuan:
 Tidak memenuhi toleransi dimensi
 Permukaan akhir yang tidak sesuai
 Sifat-sifat campuran yang tidak memenuhi persyaratan
 Maka harus dilakukan:
 Perubahan proporsi campuran untuk sisa pekerjaan
 Perkuatan atau pembongkaran menyeluruh atau sebagian
pekerjaan yang dipandang tidak memenuhi ketentuan
Adanya beda pendapat dalam mutu pekerjaan beton, keraguan
terhadap data pengujian, maka kontraktor dapat diminta untuk
melakukan pengujian tambahan
Perbaikan terhadap beton yang retak
4/11/2013
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
7.1.(1) Beton K500 Meter Kubik
7.1.(2) Beton K400 Meter Kubik
7.1.(3) Beton K350 Meter Kubik
7.1.(4) Beton K300 Meter Kubik
7.1.(5) Beton K250 Meter Kubik
7.1.(6) Beton K175 Meter Kubik
7.1.(7) Beton Siklop K175 Meter Kubik
7.1.(8) Beton K125 Meter Kubik
Nomor Mata
Pembayaran
Uraian
Satuan
Pengukuran
4/11/2013
7.2.1.
UMUM
Uraian
• fabrikasi struktur beton pratekan pracetak,
• bagian beton pratekan pracetak dari struktur komposit dan
• tiang pancang pracetak
• mencakup pembuatan, pengangkutan dan penyimpanan balok,
tiang pancang, pelat dan elemen struktur dari beton
pracetak, yang dibuat dengan cara pre-tension (penegangan
sebelum pengecoran) maupun post-tension (penegangan
setelah pengecoran)
7.2 BETON PRATEKAN
4/11/2013
7.2.2.
PERSYARATAN
• Standar rujukan
– SNI, AASHTO, ASTM
• Pekerjaan seksi lain yang berkaitan
– Beton, baja tulangan
• Toleransi
• Persyaratan bahan
• Persyaratan kerja
4/11/2013
Toleransi
Untuk gelagar dan lantai
 Dimensi – 0,06% arah memanjang
 Bentuk – Lebar < 6m = 3mm; > 6 m = 5 mm; tinggi
total 5 mm
 Rongga – vertikal = 10 mm; melintang = 5 mm
 Ketidaksikuan – < 4 m = 5 mm; > 4m = 15 mm
 Lendutan – 20 mm
 Kelengkungan – 0,06% dari panjang
 Puntir – 5 mm/ meter
 Kabel – lubang kabel 2 mm dan selimut kabel 5 mm
4/11/2013
TOLERANSI
Untuk tiang pancang
• Toleransi dimensi
– Dimensi penampang ± 6 mm
– Panjang total ± 25 mm
– Penyimpangan dari garis lurus 1 mm per m’ panjang
– Ketidak sikuan pangkal 2 mm dalam lebar
– Selimut tulangan (termasuk kabel) + 5 mm, - 3 mm
– Lubang keluar kabel dalam acuan dan pelat ± 2 mm
– Kabel pada umumnya ± 1,5 mm
• Sepatu tiang dan penghubung sambungan pra fabrikasi
• Panjang cetakan sesuai dengan panjang tiang
4/11/2013
Persyaratan Bahan
• Beton
– Sesuai dengan seksi 7.1.
• Acuan
– Harus cukup kuat, tidak melendut, kedap air
– Pada sambungan harus dipasang seal agar tidak bocor
– Ujung acuan ditumpulkan
– Pembentukan rongga harus sedemikian untuk mencegah
masuknya adukan pasta semen
– Acuan dipasang setelah tulangan terpasang
– Toleransi sesuai dengan ketentuan
– Acuan harus bersih sebelum pengecoran beton
4/11/2013
• Grouting
– Rasio air semen maksimum 0,45
– Boleh menggunakan bahan tambah untuk peningkatan
kinerja
– Sebelum grouting baja prategang harus tersisa 3 cm dari
tepi luar baji, angkur
– Selongsong harus bersih dan kering
– Campuran grouting dicorkan secara menerus sampai penuh
– Bekas acuan angkur, setelah selesai grouting harus
ditutup dengan adukan dengan tebal selimut minimum 3
cm
– Setelah pelaksanaan grouting, tidak boleh terjadi
deformasi tambahan pada struktur selama 3 hari dari
selesainya pekerjaan grouting berakhir
Persyaratan Bahan
4/11/2013
 Baja tulangan
 Sesuai seksi 7.3.
 Baja prategang
 Strand terdiri dari 7 wire dengan kuat leleh minimum 160
kg/mm2 dan kekuatan batas minimum 190 kg/mm2
 Wire tidak boleh disambung
 Kuat tarik tinggi harus bebas tegangan yang
diregangkan secara dingin sebesar 91 kg/mm2
 Sifat fisik setelah peregangan dingin:
 Kekuatan batas tarik minimum 100 kg/mm2
 Kekuatan leleh minimum 910 kg/mm2
 Modulus elastisitas minimum 25*10
6
kg/cm2
 Elongation minimum rata2 terhadap 20 batang 4%
 Toleransi diameter + 0,76 mm dan – 0,25 mm
Persyaratan Bahan
4/11/2013
Persyaratan Bahan
 Baja prategang

 Pemasokan
 Dipasok dalam gulungan
 Gulungan untuk wire diamater 1,5 m
 Gulungan untuk strand diameter 0,75 m
 Stress bas dalam bentuk ikatan
 Kondisi baik, tidak tertekuk atau bengkok, bersih dari karat
dan bahan lepas, minyak, gemuk, cat atau lumpur

 Pemberian tanda
 Disimpan dalam kelompok menurut ukuran dan panjangnya,
diikat, diberi label
 Label berisi informasi spek teknis, no. sertifikat sesuai hasil
pengujian
4/11/2013
Persyaratan Bahan
 Penyimpanan
 Disimpan dibawah atap dan tidak langsung terkena tanah
 Stress bar diberi ganjal
 Identitas pada wire, strand dan stress bar harus tetap ada
selama penyimpanan

 Pengangkuran
 Kekuatan angkur minimal 95% kuat tarik minimum baja
prategang
 Dapat memberikan penyebaran tegangan yang merata
 Alat pengangkuran sesuai dengan cara penegangan
 Angkur dilengkapi dengan selongsong atau penghubung lain
yang cocok dalam pelaksanaan grouting
4/11/2013
Persyaratan Bahan
 Selongsong
 Untuk sistem post tension, digunakan selongsong bergelombang
 Ujung selongsong harus sedemikian rupa sehingga bagian ujung
kabel bebas bergerak
 Selongsong bebas dari retak, belah
 Mempunyai lubang udara
 Kuat menahan tekanan sebesar 4 bar
 Untuk sistem eksternal stressing kabel dilindungi dengan HDPT,
tahan korosi dan stabil

 Pekerjaan lain-lain
 Alir pembilas selongsong harus mengandung kapur sirih (kalsium
oksida) atau kapur tohor (kalsium hidro-oksida) sebanyak 12
gram/liter
4/11/2013
Persyaratan Kerja
 Sistem Prategang
 Sesuai dengan rancangan yang dipilih oleh
penyedia jasa (hasil detail design)
 Gaya prategang efektif sesuai dengan hasil
rancangan

 Kesiapan kerja
4/11/2013
Kesiapan Kerja
 Rincian sistim, peralatan dan bahan.

 Meliputi metode dan urutan penegangan, rincian
lengkap untuk baja pra-tegang, perkakas
penjangkaran, jenis selongsong dan setiap data
relatif lainnya untuk operasi pra-tegang.

 Rincian tersebut harus menunjukkan setiap susunan
dari baja tulangan yang bukan pra-tegang seperti
yang ditunjukkan dalam Gambar.
4/11/2013
Pelaksanaan
 Unit Beton prategang
 Pelaksanaan unit prategang sistem pratarik
 Pelaksanaan unit prategang sistem pasca tarik
 Penanganan, pengangkutan dan
penyimpanan unit beton pracetak
 Pelaksanaan unit beton pracetak segmental
 Pemasangan unit beton beton prategang
4/11/2013
Unit beton Prategang
 Umum dalam
pelaksanaan
 Tempat pencetakan
 Acuan
 Perlengkapan prategang
 Perakitan kabel
prategang
 Selimut beton
 Pengecoran beton
 perawatan
 Penegangan kabel
 Umum
 Penegangan kabel
 Keselamatan kerja
 Peralatan
 Data yang harus dicatat
 Umum
 Kabel untuk sistem pra tarik
 Kabel untuk sistem pasca
tarik

4/11/2013
Pelaksanaan unit prategang sistem
pratarik
 Landasan gaya prategang
 Penempatan kabel
 Dongkrak hidrolis
 Alat potong baja prategang
 Bripak
 Besarnya gaya penegangan yang dikehendaki
 Prosedur penegangan
 Pemindahan daya prategang
 Persetujuan
 Ketentuan kekuatan beton
 Prosedur
 Masuknya kabel yang diijinkan
4/11/2013
Pelaksanaan unit prategang sistem
pasca tarik
 Persetujuan
 Landasan unit prategang
 Penempatan angkur
 Penempatan kabel
 Kekuatan beton yang diperlukan
 Besarnya gaya prategang yang diperlukan
 Prosedur penarikan kabel
 Umum
 Penarikan kabel dengan 2 dongkrak
 Penegangan dengan 1 dongkrak
 Lubang grouting
 Grouting dan penyelesaian akhir setelah pemberian gaya
prategang
4/11/2013
Penanganan, pengangkutan dan
penyimpanan unit beton pracetak
 Pemberian tanda unit-unit beton pracetak
 Untuk identifikasi unit
 Pada tiang pancang diberi tanda dimensi dan panjang
 Penanganan dan pengangkutan
 Pengangkutan dalam posisi tegak
 Unit yang rusak akibat penanganan harus diganti
 Cara pengangkutan dan penanganan harus disetujui Direksi
 Penyimpanan
 Dipasang penyangga dengan jarak maksimum 20% ukuran
panjang unit
 Baja prategang
4/11/2013
Pelaksanaan unit beton
pracetak segmental
 Uraian
 Unit beton yang difabrikasi
 Perakitan segmen pracetak
 Persetujuan perakitan 4 minggu sebelum tanggal dimulai perakitan
segmen
 Penyangga segmen harus kuat
 Sambungan beton
 Harus mempunyai kekuatan minimal sama dengan mutu beton
 Bentuk pada sambungan harus baik
 Pengecoran ceruk angkur
 Sesuai dengan gambar rencana
 Kerusakan unit
 Kerusakan seperti retak, mengelupas atau deformasi harus disisihkan
untuk diperiksa lebih lanjut
4/11/2013
Pemasangan unit beton prategang
 Tumpuan untuk unit yang diletakkan di atas
bantalan karet
 Harus terletak pada posisi as bantalan karet
 Hubungan antara bantalan karet dengan unit beton
prategang terletak penuh

 Pengaturan posisi unit
 Menjamin kestabilan gelagar pada waktu berdiri
sendiri dan pada waktu pengaturan
 Dibuat perkuatan
4/11/2013
PENGENDALIAN MUTU
 Umum
 Data pengujian harus diserahkan
 Penerimaan bahan
 Hasil penerimaan dibuktikan dengan tertulis
 Pengawasan
 Tenaga ahli sesuai dengan sistem penegangan
 Banda uji
 Rakitan angkur
 Penerimaan unit-unit
 Penerimaan sebelumnya
4/11/2013
Pengukuran dan Pembayaran
 Pengukuran
 Unit beton pracetak
 Jumlah aktual unit furnished
 Pekerjaan cor langsung di lapangan dengan sistem
pasca tarik
 Sesuai seksi 7.1. dan 7.3
 Unit yang ditolak
 Tidak diukur
 Dasar pembayaran
 Unit beton pracetak
 Furnished
 Material on site
 Beton cor di tempat dengan sistem pasca tarik
 Sesuai seksi 7.1. dan 7.3.
4/11/2013
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
7.2.(1) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 16 meter Buah
7.2.(2) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 20 meter Buah
7.2.(3) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 22 meter Buah
7.2.(4) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 25 meter Buah
7.2.(5) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 28 meter Buah
7.2.(6) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 30 meter Buah
7.2.(7) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 31 meter Buah
7.2.(8) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 35 meter Buah
7.2.(9) Baja Prategang Kilogram
7.2.(10) Pelat Berongga (Hollow Slab) Pracetak bentang 21 meter Buah
7.2.(11) Beton Diafragma K350 termasuk pekerjaan penegangan
seterlah pengecoran (post-tensioning)
Meter Kubik
Mata
Pembayaran
Uraian
Satuan
Pengukuran
4/11/2013
Umum
• Uraian
– Mencakup pengadaan dan pemasangan
baja tulangan sesuai dengan spesifikasi
• Penerbitan detail pelaksanaan
– Detail pelaksanaan baja tulangan yang
tidak termasuk dalam dokumen kontrak
pada saat pelelangan akan diterbitkan
oleh Direksi pekerjaan setelah
peninjauan lapangan
7.3 BAJA TULANGAN
4/11/2013
Persyaratan
• Standar rujukan
– SNI, AASHTO, ACI, AWS
• Pekerjaan seksi lain yang berkaitan
– Ketentuan teknis dan beton
• Toleransi
– Sesuai ACI 315
– Mempunyai selimut beton:
• 3,5 cm untuk beton yang tidak terekspos
• 7,5 cm untuk beton yang terendam/tertanam
• Persyaratan bahan
• Persyaratan kerja
4/11/2013
Persyaratan Bahan
• Baja tulangan
– BJ 24 – baja lunak – fs’ = 2400 kg/cm2
– BJ 32 – baja sedang – fs’= 3200 kg/cm2
– BJ 39 – baja keras – fs’ = 3900 kg/cm2
– BJ 48 – baja keras – fs’ = 4800 kg/cm2
• Tumpuan untuk tulangan
– Mutu beton untuk tumpuan > fc’ 20 Mpa
• Pengikat untuk tulangan
– Kawat pengikat dari baja lunak
4/11/2013
Persyaratan Kerja
• Perlindungan terhadap korosi struktur beton
– Campuran beton dapat ditambah bahan tambah untuk
mencegah korosi
– Selimut beton
• Beton cor di atas tanah – 70 mm
• Beton yang berhubungan dengan tanah
– D 19 s/d D 56 - 50 mm
– < D 16  40 mm
• Beton yang tidak langsung berhubungan dengan tanah
– Pelat, dinding dengan D 44 – 56  40 mm
– < D 36  25 mm
– Balok, kolom tulangan utama  40 mm
– Struktur cangkang, pelat > D 19  25 mm dan < D16  20 mm
• Pengajuan kesiapan kerja
4/11/2013
PENGAJUAN KESIAPAN KERJA
Siapkan semua jenis ukuran baja tulangan sesuai
dengan gambar rencana
Siapkan semua diagram tulangan beserta
pembengkokan
Siapkan data baja tulangan (dimensi dan berat)
Apabila ada penggantian dimensi laporkan pada
pengawas
Siapkan fasilitas pemotongan dan pembengkokan
Baja tulangan dalam bundel diberi tanda
Siapkan pengujian baja tulangan yang digunakan
4/11/2013
Pelaksanaan
 Penyimpanan dan penanganan
 Tulangan diberi label untuk identifikasi yang menunjukkan ukuran
batang, panjang dan informasi lainnya
 Ditangani dan disimpan untuk mencegah distorsi, kontaminasi, korosi
atau kerusakan
 Pembengkokan
 Dibengkokkan dengan cara dingin sesuai ACI 315
 Diemeter > 20 mm dibengkokkan dengan mesin pembengkok
 Penempatan dan pengikatan
 Baja tulangan harus bersih, ditempatkan dengan selimut beton
sesuai ketentuan
 Diikat kuat pada posisinya, panjang penyaluiran 40 diameter
 Tidak boleh dilas kecuali atas persetujuan Direksi pekerjaan
 Simpul kawat membelakangi permukaan beton
 Baja tulangan yang terekspos cukup lama harus dilindungi
4/11/2013
PELAKSANAAN
Mutu, dimensi dan bentuk sesuai dengan gambar
rencana
Toleransi
Tidak boleh dilakukan pembengkokan ulang
Apabila akan dilakukan pengelasan, usulkan pada Direksi
Pastikan perancah, acuan sudah disetujui Direksi
Material bersih
Overlap sesuai dimensi
Tidak bergeser
Selimut beton sesuai
4/11/2013
Pengukuran dan Pembayaran
 Pengukuran
 Diukur dalam kilogram sesuai dengan diameter terpasang
 Penjepit, pengikat atau bahan lain tidak diukur untuk pembayaran
 Baja tulangan untuk gorong-gorong pipa beton dibayar secara terpisah
pada divisi 2

 Pembayaran
 Kompensasi penuh terhadap pemasokan, pembuatan, pemasangan
termasuk pekerja, perkakas, pengujian dan pelengkap lainnya
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
7.3.(1) Baja Tulangan U24 Polos Kilogram
7.3.(2) Baja Tulangan U32 Polos Kilogram
7.3.(3) Baja Tulangan U32 Ulir Kilogram
7.3.(4) Baja Tulangan U39 Ulir Kilogram
7.3.(5) Baja Tulangan U48 Ulir Kilogram
7.3.(6) Anyaman Kawat Yang Dilas Kilogram
Mata
Pembayaran
Uraian
Satuan
Pengukuran
4/11/2013
Umum
• Uraian
– Mencakup pekerjaan struktur baja
komposit
– Pelaksanaan struktur baja baru,
pelebaran dan perbaikan struktur
– Penyediaan, fabrikasi, pemasangan,
galvanisasi dan pengecatan
– Baja termasuk baut sambung, paku
keling, pengelasan dll
7.4 BAJA STRUKTUR
4/11/2013
Persyaratan
 Standar rujukan
 SNI, AASHTO, ASTM, AWS
 Pekerjaan seksi lain yang berkaitan
 Beton, baja tulangan, siar muai, landasan
 Toleransi
 Persyaratan bahan
 Persyaratan kerja
4/11/2013
Toleransi
 Diameter lubang
 Lubang pada elemen utama + 1,2 mm dan – 0,4 mm
 Lubang pada elemen sekunder + 1,8 mm dan -0,4 mm
 Alinyemen lubang
 Elemen utama (di bengkel) ± 0,4 mm
 Elemen sekunder di lapangan ± 0,6 mm
 Gelagar
 Camber 0,2 mm per meter panjang balok atau 6 mm
 Penyimpangan lateral as ke as landasan 0,1 mm
 Penyimpangan lateral web dan as flens max 3 mm
 Batang sambungan geser
 Penyimpangan max terhadap garis lurus terhadap flens ke
segala arah panjang/1000 atau 3mm
 Permukaan yang dikerjakan dengan mesin
 Penyimpangan bidang kontak 0,25 mm
4/11/2013
Persyaratan Bahan
 Penyimpanan
 Harus dilindungi terhadap korosi dan bersih
 Baja struktur
 Sesuai dengan design mutunya
 Baut, mur dan ring
 Sesuai ASTM A 307, grade A
 Mengunakan baja mutu tinggi
 Komposisi kimia sesuai ketentuan
 Paku penghubung geser yang dilas
 Sesuqi ketentuan
 Bahan untuk pengelasan
 sertifikat
4/11/2013
LAPISAN PELINDUNG
o Cat
o Cek persyaratan gambar rencana
o Cek jenis cat yang digunakan serta ketebalannya
o Digunakan untuk struktur jembatan pada daerah yang bebas polusi

o Galvanis
o Cek ketebalan galvanis yang disyaratkan
4/11/2013
Pelaksanaan
 Fabrikasi
 Umum
 Pemotongan
 Lubang untuk baut
 Baut tidak terbenam
 Baut pas dan silinder
 Baut geser mutu tinggi
 Pengaku
 Sambungan dengan baut standar
 Baut geser mutu tinggi
 Umum
 Penyelesaian permukaan bidang
kontak
 Baut tarik
 Pengelasan
 Pengecatan dan galvanisasi
 pengangkutan
 Pemasangan jembatan baja
 Umum
 Tahap pekerjaan
 Pengaturan lalu lintas
 Peralatan dan perancah
 Perakitan pekerjaan baja
 Yang disediakan oleh penyedia jasa
 Yang disediakan oleh pemilik
 Komponen struktur baja
 Komponen yang disediakan pemilik
 Peluncuran
 Kantilever
 perancah
 Pemeriksaan, pengumpulan,
pengangkutan dan pengiriman

4/11/2013
PEKERJAAN PERSIAPAN
 Pastikan kontraktor sudah mempunyai semua data
terkait seperti:
 Gambar denah struktur baja
 Detail sambungan ÷ baut, las
 Detail dimensi ÷ plat, profil, baut

 Jadwal pelaksanaan
 Program kerja
 Prosedur pelaksanaan
4/11/2013
PELAKSANAAN
 FABRIKASI
 Kesiapan material, alat
 Pemotongan sesuai dimensi, perlu diperhatikan keakuratan
ukuran
 Lubang baut, perhatikan dimensi lubang dan jarak harus
sesuai dengan gambar dan toleransi yang diizinkan
 Pengelasan profil, perlu diperhatikan tebal las, panjang las,
serta bahan las yang digunakan
 Perlu percobaan perakitan untuk pembuatan struktur
jembatan baja secara utuh, sebelum dikirim ke lokasi
4/11/2013
BAUT GESER MUTU TINGGI
 Sudut kemiringan permukaan bidang kontak dengan
kepala baut dan mur < 1:20 terhadap bidang tegak
lurus sumbu baut

 Alat pengencang (torsi momen) harus dikalibrasi
sebelum digunakan

 Kekencangan alat pengencang disesuaikan dengan
dimensi baut (diameter baut), dan mutunya.
4/11/2013
PENGANGKUTAN & PERAKITAN
PENGANGKUTAN
Pastikan semua elemen ada kode
Pastikan jumlah komponen sudah sesuai dengan gambar
Pastikan cara pengangkutan

PERAKITAN
Pastikan manual perakitan
Pastikan jumlah komponen sesuai
Pastikan jumlah baut sesuai
4/11/2013
Penyelesaian rangka baja
Pastikan sistem pemasangan – perancah atau
kantilever
Pastikan camber setelah semua komponen
terpasang – sesuai dengan manual ?
Pastikan semua sambungan telah dikencangkan
dengan kekencangan 100%
Pastikan tulangan untuk lantai tersedia
Pastikan mutu beton terpasang harus K-350
Pastikan jenis expansion joint sesuai
Pastikan jenis lapisan permukaan menggunakan
sesuai spesifikasi
4/11/2013
Pengendalian Mutu
 Penerimaan bahan
 Pengendalian mutu
 Penanganan dan penyimpanan
 Perbaikan terhadap komponen jembatan yang tidak memenuhi
ketentuan
 Penggantian komponen yang hilang atau rusak berat
 Perbaikan komponen yang agak rusak
 Pelurusan bahan yang agak bengkok
 Perbaikan hasil pngelasan yang retak
 Perbaikan lapisan permukaan yang rusak
4/11/2013
 Pemeliharaan komponen jembatan yang telah
diterima

 Pemasokan bahan lantai kayu

 Pengendalian mutu pelaksanaan struktur baja
 Pekerjaan sipil
 Penentuan titik pengukuran dan pekerjaan sementara
 Pemasangan landasan
 Perakitan komponen baja
 Prosedur pemasangan
Pengendalian Mutu
4/11/2013
PENGENDALIAN MUTU
 Sambungan baut
 Cek kekuatan baut
 Cek dimensi baut
 Cek kuat tarik baut
 Ring (washer)
 Jenis washer, kekuatannya serta dimensi
 Ulir
 Panjang ulir dibandingkan dengan ukuran pelat yang akan disambung
 Kekencangan
 Sesuaikan dengan jenis, mutu serta dimensi baut
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
7.4.(1) Baja Struktur, Titik Leleh 2500 kg/cm2, Kilogram
penyediaan dan pemasangan.
7.4.(2) Baja Struktur, Titik Leleh 2800 kg/cm2, Kilogram
penyediaan dan pemasangan.
7.4.(3) Baja Struktur, Titik Leleh 3500 kg/cm2, Kilogram
penyediaan dan pemasangan.
Mata
Pembayaran
Uraian
Satuan
Pengukuran
4/11/2013
7.6 TIANG PANCANG
Umum
• Uraian
– Mencakup tiang pancang yang disediakan dan
dipancangkan
– Jenis tiang pancang:
• Tiang kayu – crucuk
• Tiang baja profil
• Tiang pipa baja
• Tiang beton bertulang pracetak
• Tiang beton prategang pracetak
• Tiang bor beton cor langsung di tempat
4/11/2013
Persyaratan
 Standar rujukan
 SNI, AASHTO, ASTM

 Toleransi
 Lokasi tiang pancang tidak boleh melampaui 75 mm dalam
segala arah
 Kemiringan tiang pancang, penyimpangan max arah vertikal
20 mm per meter
 Kelengkungan max 1% dari panjang tiang
 Kelengkungan lateral 0,7%o panjang total tiang
 Diameter lubang tiang bor +0 sampai +5% dari diameter
nominal
4/11/2013
Persyaratan Kerja
Pengajuan Kesiapan Kerja
Pastikan sudah ada gambar kerja
Buat program pemancangan
Buat perhitungan rancangan,
Rumus pemancangan
Alat pancang
Buat metoda penyambungan tiang
Usulan pengujian tiang
Contoh, data tiang pancang yang akan digunakan

4/11/2013
Pelaksanaan
Tiang pancang beton pracetak
 Umum
 Selimut beton min 40 mm dan yang terekspos air laut 50 mm
 Penyambungan
 Metode penyambungan harus disetujui Direksi Pekerjaan
 Perpanjangan tiang pancang
 Baja tulangannya dengan overlap 40 x diameter
 Baja spiral 2 x lingkaran penuh
 Mutu beton minimum fc’ 35 MPa
 Sepatu tiang pancang
 Disesuaikan dengan kondisi tanah
 Pembuatan dan perawatan
 sesuai dengan spesifikasi bahan beton dan baja tulangan
 Dalam proses pengangkatan tiang harus ditahan pada ¼ panjangnya
 Tiang diberi tanda waktu pengecoran, panjang pada daerah dekat
kepala tiang
4/11/2013
PELAKSANAAN
Tiang pancang percobaan
Apabila diperlukan dan sesuai kontrak atau atas perintah Direksi
Panjang tiang
Berdasarkan hasil uji tiang atau gambar rencana
Tiang utuh
Untuk tiang beton pracetak
Pemancangan tiang
Diberi tanda selama penetrasi
Lokasi sesuai gambar rencana
Kepala tiang dilindungi
Alat pancang harus sesuai
Dilaksanakan sampai kedalaman yang disyaratkan
4/11/2013
Tiang pancang baja
 Umum
 Bila diisi dengan beton mutu fc’ 20 MPa
 Perlindungan terhadap korosi
 Kepala tiang
 Perpanjang tiang pancang
 Sepatu tiang pancang
 Pemancangan
4/11/2013
Pemancangan
 Umum
 Alat pancang harus sesuai dengan jenis dan berat tiang yang
dipancang
 Penghantar tiang pancang (leads)
 Letaknya harus bebas untuk palu dan penghantar dan diperkaku
selama pemancangan
 Bantalan topi tiang pancang panjang (followers)
 Tiang pancang yang naik
 Akibat adanya pemancangan yang terlalu dekat
 Harus dipancang kembali atau diuji
 Pemancangan dengan water jet
 Tiang pancang yang cacat
 Catatan kalendering
 Rumus dinamis untuk perkiraan kapasitas tiang pancang
4/11/2013
PENCATATAN DATA
No. tiang
Posisi
Jenis dan ukuran
Panjang aktual
Tanggal pemancangan
Jumlah pukulan setiap 50
cm penetrasi


Energi pukulan
Perpanjangan
Panjang potongan
Rumus dinamis
pemancangan seperti Hiley,
Janbu
Cek kedalaman tiang

4/11/2013
PONDASI TIANG PANCANG
 Rumus daya dukung tiang berdasarkan kalendering
sangat banyak , mungkin mendekati 500 rumus
 Biasanya setiap alat pancang yang dipergunakan
mempunyai rumus tersendiri
 Hiley -







Dimana :
Ru = Daya dukung batas dari tiang dalam tanah
eh = efisiensi daari pemukulan palu; e = 1 untuk palu disel dan e = 0,75 untuk jenis drop hammer
Eh= Tingkat enersi palu (nilai dari pabrik) = W H
C1 = tekanan sementara yang diijinkan untuk kepala tiang dan poer; C2=tekanan sementara yang diijinkan untuk deformasi
elastis tiang dan C3 = tekanan sementara yang diijinkan untuk gempa di lapangan (m)
s = Penetrasi tiang untuk pukulan palu terakhir
W = Berat tiang
w = Berat palu
n = Koefisien restitusi / pengembalian
H = tinggi jatuh palu (m), H = 2H” untuk palu disel (H’=tinggi jatuh ram)
Faktor keamanan = 3
( )
w W
w n W
C C C s
E e
R
h h
u
+
+
+ + +
=
2
3 2 1
2
1
.
4/11/2013
RUMUS PEMANCANGAN TIANG
R
e E
s z
u
h h
=
+
.
ENGINEERING NEWS-RECORD (ENR)
R
e E
s
e E L
A E
u
h h
h h
=
+
.
. .
. . 2
DANISH
R
e E
s z
W n w
W w
u
h h
=
+
+
+
.
2 MODIFIED ENR
F.K. = 6
F.K. = 6
F.K.= 3-6
4/11/2013
RUMUS PEMANCANGAN T.P.
A = Luas penampang tiang
C1,C2,C3 = Koefisien dalam persamaan Hiley
eh = Efisiensi pemukulan palu (<1)
E = Modulus Young dari tiang
Eh = Tingkat enersi palu (nilai dari pabrik)
L = Panjang tiang
n = Koefisien restitusi / pengembalian
Ru = Daya dukung batas dari tiang dalam tanah
s = Penetrasi tiang untuk 10 pukulan terakhir
w = Berat tiang
W = Berat palu
z = 0,1 untul palu dengan tenaga uap dan 1 untuk drop hammer
4/11/2013
Fundasi Tiang Bor
 Persiapan
 Lokasi titik bor
 Hasil penyelidikan tanah
 Jenis alat bor dan diameternya
 Metode pengeboran
 Pembuatan tulangan sesuai dengan gambar rencana

 Pelaksanaan
 Pengeboran sampai kedalaman yang disyaratkan, tetapi harus ada
kepastian sudah mencapai tanah keras
 Pemasangan tulangan, dan dipasang dalam kondisi bersih
 Pembuatan beton dengan mutu sesuai persyaratan
 Pengecoran beton (tinggi jatuh atau langsung dengan pemompaan –
W/C ratio)
 Waktu pengecoran dan syarat pendukung lainnya
4/11/2013
7.7 PONDASI SUMURAN
PELAKSANAAN
Unit beton pracetak dicetak pada landasan
pengecoran
Tidak boleh diangkut sebelum berumur 14 hari atau
mencapai 85% dari kuat tekan
Tidak boleh diturunkan sebelum sambungan
berumur 24 jam
Penurunan sumuran disesuaikan dengan kondisi
tanah
Dinding sumuran diturunkan dengan gravitasi
(akibat berat sendiri)
Dasar sumuran diberi beton
4/11/2013
PELAKSANAAN
Sumuran diisi dengan mutu beton K-250 sampai 1
m di bawah poer bangunan bawah
Bagian atas sumuran tidak boleh lebih tinggi
daripada dasar poer
Baja tulangan dari sumuran harus dimasukkan
dalam poer 40 x diameter

4/11/2013
Fundasi Sumuran
 Persiapan
 Lokasi fundasi (staking out)
 Pembuatan cincin sumuran (sebelum mempunyai kekuatan 85% fc’ tidak boleh
dipasang)
 Alat untuk penggalian (manual atau konvensional, alat besar)
 Pompa, apabila diperlukan untuk menjaga kestabilan tinggi air tanah

 Pelaksanaan
 Penurunan cincin sumuran
 Penggalian dengan cara gravitasi
 Pengecoran beton kedap air dengan fc’ 20 MPa
 Pengecoran beton siklop (volume batu besar 1/3 dan volume beton fc’ 15 MPa
2/3)
 Stek tulangan pada bagian teratas cincin sumuran dan bagian beton kedap air
sebagai penghubung antara poer dan fundasi
4/11/2013
7.8 ADUKAN SEMEN
CAMPURAN
Adukan semen
Untuk pengerjaan akhir atau perbaikan akhir
Adukan untuk pasangan
Pencampuran
Mempunyai kekentalan yang tidak lebih dari 70% berat semen
yang digunakan
Boleh diaduk kembali dalam waktu 30 menit setelah pengadukan
awal
Adukan yang telah lewat 45 menit harus dibuang
Pemasangan
Permukaan bersih dan lembab
Tebal adukan maksimum 1,5 cm
4/11/2013
7.9 PASANGAN BATU
BAHAN
Batu
Bersih, keras, tanpa bagian tipis atau retak
Bentuk rata, lancip atau lonjong
Lebar > 1,5 x tebal
Adukan
Drainase porous
4/11/2013
PELAKSANAAN
Persiapan pondasi
Bila diperlukan landasan yang permeable perlu disyaratkan
Pemasangan batu
Landasan adukan minimal tebal 3 cm
Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan
muka yang tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari
batu yang terpasang
Penempatan adukan
Sebelum dipasang, permukaan batu harus bersih dan dibasahi
Tebal landasan adukan antara 2 – 5 cm
Ketentuan lubang sulingan dan dilatasi
Lubang diletakkan pada setiap 2 m dengan diameter 5 cm
Dilatasi setiap 20 dengan dilatasi 30 mm
Pekerjaan akhir pasangan batu
Hasil akhir permukaan harus sesuai dengan persyaratan
4/11/2013
7.11 SIAR MUAI
(Expansion joint)
 Sambungan siar muai
 Tergantung pada jenis pergerakan struktur
 Dapat menahan perubahan temperatur
 Tanah terhadap cuaca, fleksibel, dapat menahan beban dinamis
kendaraan, nyaman

 Jenis sambuangan siar muai
 Sambungan siar muai terbuka
 Berbentuk pelat, baja siku, baja bergerigi
 Tahan terhadap karat/terlindung terhadap korosi
 Sambungan dengan baja dan baut angkur
 Sambungan siar muai tertutup
 Terbuat dari bahan neoprene, aspal karet
 Tahan terhadap cuaca, fleksibel, dapat menahan nenahan dinamis, nyaman
4/11/2013
 Bahan
 Rubberized bitumen binder
 Campuran bitumen, polymer, filler dan surface active agent
 Single size agregat
 Dengan kekerasan setara dengan basalt, gristone, gabbro atau kelompok
granit
 Bersih, berbentuk kubus (cubical) ukuran 14 mm-20 mm
 Tahan terhadap termperatur sampai 150 derajat Celcius
 Pelat baja
 Dapat menahan dampak pemuaian akibat panas pada saat pelaksanaan
 Tebal dan lebar sesuai dengan ukuran celah sambungan
 Angkur
 Ketebalan tergantung pada lebar celah sambungan dan
besarnya pergerakan dan minimum tebal 75 mm dan lebar 40 cm
SIAR MUAI
jenis asphaltic plug
4/11/2013
 Mortar
 Epoxy resin mortar dengan flexural strength 5 MPa
 Diberi CFRP untuk menahan geser
 Joint sealant rubber
 Mempunyai elongation > 300%
 Aging test dengan variasi tensile strength 20%
 Hardness < 10 Hs
 Hubungan antara rubber dengan mortar dengan perekat yang
mempunyai elongation > 100% dan tensile strength > 5MPa
 Bahan dasar sambungan
 Joint priming compound sesuai spesifikasi pabrik
SIAR MUAI
jenis penutup karet neoprene
4/11/2013
Sambungan Siar Muai Tipe
Khusus
 Untuk jenis pergerakan struktur yang cukup
besar
 Bahan tergantung pada
 Pergerakan struktur
 Ukuran celah sambungan
 Tingkat kepentingan struktur

4/11/2013
7.12 LANDASAN
 Pergerakan jembatan pada umumnya diakibatkan oleh:
 Muai dan susut yang disebabkan oleh temperatur
 Lendutan akibat beban
 Pergerakan tanah
 Gaya sentrifugal, longitudinal akibat kendaraan
 Kombinasi semua gaya tersebut di atas
 Untuk menahan pergerakan tersebut diperlukan landasan
yang bersifat :
 Awet
 Mudah pemeliharaan
 Mudah pemasangan/penggantian
 Murah
4/11/2013
LANDASAN
 Landasan adalah sistem keseluruhan dari suatu bagian jembatan
yang meneruskan gaya, meredam getaran dari bangunan atas ke
bangunan bawah
 Landasan terdiri atas bantalan (karet, logam lain-lain), dudukan
bantalan (adukan mortar atau lain-lain)
 Bantalan adalah bagian struktur dari landasan yang meredam
getaran dan menyalurkan beban dari bangunan atas ke bangunan
bawah
 Bantalan dapat terbuat dari bahan karet (alam atau sintetis), logam,
bahan lainnya
 Jenis bantalan bermacam-macam sesuai dengan keperluannya
(jenis sendi, rol, pot atau lainnya)
4/11/2013
BANTALAN KARET
JENIS BAHAN
 Karet alam
 Karet sintetis
 Campuran karet alam dan sintetis

KERUSAKAN
 Penggunaan bahan aditif dan filler yang berlebihan dalam
bahan karet
 Komposisi kimia, reaksi kimia >> retak, permukaan
menggelembung, hilangnya elastisitas
 Pengaruh ozone
4/11/2013
BAHAN BANTALAN KARET
 Bahan harus cukup keras yaitu mempunyai hardness 55
± 5 duro
 Untuk bantalan karet dengan ketebalan > 1”,
menggunakan laminasi antara pelat baja dengan karet
 Perlu uji kelekatan (geser) antara pelat baja dengan karet
 Perlu aging test bahan karet sesuai ASTM 573, dimana
pemuluran sampai putus 50%, perubahan kuat tarik max
15%, kekerasan max 10 Hs.
 Bahan polymer dalam campuran karet tidak boleh lebih
dari 60% terhadap volume total bantalan
 Tebal pelat baja minimum adalah 1/16”
 Ujung-ujung pelat baja tertanam tidak tajam
4/11/2013
PENGUJIAN BANTALAN KARET
 Dilaksanakan oleh laboratorium terakreditasi atau diakui
 Pengujian overload dilakukan untuk semua bantalan karet
 Pengujian geser dilaksanakan terhadap 10% dari
bantalan karet yang diuji
 Bahan harus diuji untuk mengetahui komposisi, hardness,
pelapukan dll.

Mutu bantalan harus:
 Secara visual tidak boleh ada yang cacat (benjol,
gelembung, sobek)
 Sesuai dengan spesifikasi dan desain
4/11/2013
7.13 SANDARAN
 Termasuk penyediaan, fabrikasi dan pemasangan
sandaran baja

 Didalamnya termasuk galvanisasi atau pengecatan,
tiang sandaran, pelat dasar, baut angker dsb

 Toleransi
 diameter lubang + 1 mm s/d -0,4 mm
 Tiang sandaran tegak < 3 mm/m’ tinggi
 Railing segaris dalam rentang 3 mm
 Tampak halus dan seragam dalam posisi akhir
4/11/2013
BAHAN SANDARAN
 Baja rol dengan tegangan leleh 2800 kg/cm2
 Baut penahan berbentuk U diameter 25 mm
(ASTM A307) dan diproteksi

 Persyaratan kerja
 Sesuai gambar rencana
 Ada sertifikat pabrik yang menunjukkan mutu baja,
pengelasan
4/11/2013
PELAKSANAAN SANDARAN
 Di fabrikasi
 Pengelasan dilaksanakan oleh tenaga trampil
bersertifikat
 Galvanisasi sesuai AASHTO M111-04, kecuali
telah mempunyai tebal minimum 80 mikron
 Pemasangan sesuai seksi 7.4.
4/11/2013
7.14 PAPAN NAMA JEMBATAN
 Ukuran minimal 40 x 60 cm2
 Bahan marmer dengan lambang PU
 Toleransi ± 10 cm
 Letak sesuai dengan ketentuan dan dipasang pada
parapet
 Isi tulisan :
 Nomor jembatan
 Nama jembatan
 Lokasi
 Data teknis
 Tahun pembangunan
4/11/2013
7.15 PEMBONGKARAN
STRUKTUR
 Pembongkaran dilaksanakan tanpa menimbulkan
kerusakan pada bagian struktur lainnya

 Pembuangan bahan bongkaran tidak menimbulkan
dampak lingkungan dan hambatan lainnya

 Bahan bongkaran yang berupa bahan yang masih dapat
digunakan adalah milik Pemilik dan harus diamankan

 Bongkaran bangunan bawah struktur lama jembatan
dibongkar sampai kedalaman – 30 cm di bawan dasar
sungai dan rongga ditimbun kembali

4/11/2013
DIVISI 8 :
KONDISI DAN PEKERJAAN
MINOR
4/11/2013
 Uraian

Pekerjaan yang tercakup dalam Seksi ini harus meliputi pengembalian
kondisi perkerasan yang telah rusak sedemikian rupa sehingga terjadi
lubang-lubang besar, tepi jalan banyak yang rusak atau terjadi keriting
(corrugation) pada permukaan perkerasan dengan ke dalam lebih dari 3
cm, terjadi retak-retak lebar, retak struktural atau retak kecil yang
menjalar,atau menunjukkan bukti bahwa tanah dasarnya melemah seperti
jembul atau deformasi yang besar. Tujuan pengembalian kondisi ini harus
menjamin bahwa :
a) Lokasi perkerasan yang tidak ditentukan untuk pelapisan kembali,
dapat dipelihara dengan mudah dan rutin menurut Seksi 10.1 dari
Spesifikasi ini.
b) Pada lokasi yang diproyeksikan memerlukan pelapisan kembali,
keuntungan pemakai jalan harus dipelihara sampai pelapisan
kembali tersebut dilaksanakan.
c) Semua lokasi yang akan dilapis kembali harus mempunyai
struktur yang utuh (sound).
4/11/2013
 Penentuan Lokasi Yang Memerlukan Pengembalian
Kondisi.

Lokasi perkerasan yang memerlukan pengembalian kondisi akan
ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan berdasarkan pengamatan
visual yang dilaksanakan selama survei lapangan awal oleh
Kontraktor pada permulaan Periode Mobilisasi menurut
ketentuan dari Seksi 1.9 dari Spesifikasi ini. Semua lokasi yang
menunjukkan indikasi kerusakan dari lapisan bawah harus
ditandai untuk digali dan direkonstruksi. Detil aktual baik cara
maupun luas pekerjaan pengembalian kondisi untuk setiap lokasi
yang telah ditetapkan akan diterbitkan secara tertulis oleh Direksi
Pekerjaan setelah hasil survei lapangan memberikan sejumlah
detil kondisi perkerasan lama. Perintah tertulis dari Direksi
Pekerjaan juga akan menyebutkan waktu yang pantas untuk
penyelesaian pekerjaan pengembalian kondisi ini.
4/11/2013
 Klasifikasi Pekerjaan Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama

Perbaikan pada perkerasan dan pekerjaan peningkatan yang tercakup dalam
Seksi dari Spesifikasi ini adalah :
a) Perbaikan lubang dan penambalan (kerusakan pada lokasi yang
memerlukan penggalian dan rekonstruksi perkerasan atau lapisan
tanah dasar) masing-masing dengan luas lebih dari 40 cm x 40 cm
dan dengan total volume setelah penggalian kurang dari 10 meter
kubik perkilometer.
b) Pelaburan aspal pada perkerasan yang tidak kedap atau retak
bilamana luas pelaburan yang diperlukan antara 10 % dan 30 % dari
setiap 100 meter panjang perkerasan berpenutup aspal pada proyek
itu dan luas tiap pelaburan aspal tidak melampaui 40 meter persegi.
c) Pelaburan aspal (sealing) pada retak yang lebar yang memerlukan
penanganan yang khusus.
d) Perataan setempat (spot levelling) pada perkerasan berpenutup
aspal yang ambles, dimana jumlah bahan yang diperlukan tidak lebih
dari 10 meter kubik dalam tiap kilometer panjang.
e) Perbaikan tepi perkerasan termasuk restorasi lebar perkerasan
berpenutup aspal
4/11/2013
 BAHAN

Bahan harus memenuhi ketentu yang
disyaratkan syarat dalam Seksi 5.1, 6.1 dan 6.3
dari Spesifikasi ini, sesuai dengan bahan yang
digunakan.
 PELAKSANAAN

Direksi Pekerjaan akan menentukan
lokasi yang memerlukan pengembalian
kondisi dan batas-batas lokasi
pengembalian kondisi tersebut, dan
Kontraktor harus menandai lokasi yang
dimaksud. Tanda cat harus dipakai pada
perkerasan berpenutup aspal dan tanda
patok siku harus dipakai untuk lokasi
perkerasan tanpa penutup aspal.
4/11/2013
 Dasar Pembayaran

Kuantitas yang disahkan untuk bahan agregat dan/atau aspal yang
digunakan dalam pekerjaan pengembalian kondisi yang telah
dikerjakan dan diukur seperti di atas, harus dibayar Harga Kontrak
per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di
bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana
harga dan pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi
penuh untuk penyediaan semua pekerja,perkakas, peralatan, bahan
dan semua pekerjaan lainnya atau biaya untuk menyelesaikan
berbagai jenis pekerjaan pengembalian kondisi sampai diterima
Direksi Pekerjaan sebagaimana yang diuraikan dalam Seksi ini.
4/11/2013
DIVISI 9 :
PEKERJAAN HARIAN
251
DIVISI 9
PEKERJAAN HARIAN


URAIAN

Pekerjaan ini mencakup operasi-operasi yang disetujui oleh Direksi
Pekerjaan yang semula tidak diperkirakan (atau disediakan dalam Daftar
Kuantitas dari Divisi 1 sampai 8) tetapi diperlukan selama pelaksanaan
pekerjaan untuk penyelesaian Pekerjaan yang memenuhi ketentuan.
Operasi-operasi yang dilaksanakan menurut Pekerjaan Harian dapat
terdiri dari pekerjaan jenis apapun sebagaimana yang ditunjukkan atau
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, dan dapat mencakup pekerjaan
tambahan dari drainase, galian, timbunan, stabilisasi, pengujian,
pengembalian (restitution) perkerasan lama ke bentuk semula, pelapisan
ulang, struktur atau pekerjaan lainnya.
252
 PELAKSANAAN PEKERJAAN HARIAN

1)Perintah Pekerjaan Harian
a) Pekerjaan Harian dapat diminta (requested) secara tertulis oleh Kontraktor
maupun diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Dalam kedua hal tersebut,
pekerjaan tidak boleh dimulai sebelum diterbitkan suatu Perintah Pekerjaan
Harian oleh Direksi Pekerjaan, dan jika perlu, setelah suatu Variasi
(Pekerjaan Tambah/Kurang) yang ditandatangani.
b) Untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan dimana Harga Satuan Pekerjaan
Harian sudah dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, perintah ini
akan menguraikan batas dan sifat dari pekerjaan yang diperlukan dengan
lampiran Gambar atau Dokumen Kontrak yang telah direvisi untuk
menentukan detil pekerjaan, dan akan menentukan metode untuk
menetapkan harga akhir dari Pekerjaan yang diperintahkan.
c) Untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan dimana diperlukan persetujuan
terlebih dahulu atas Harga Satuan Pekerjaan Harian yang baru atau
tambahan, maka perintah ini akan dirujuk silang ke, dan akan disertai
dengan Variasi (Pekerjaan Tambah/Kurang) mencakup Harga Satuan baru
atau tambahan yang disetujui.
253
2) Kinerja Pekerjaan Yang Dilaksanakan Berdasarkan
Pekerjaan Harian

Semua operasi Pekerjaan Harian harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan dari Seksi yang bersangkutan dari
Spesifikasi ini berlaku untuk penempatan bahan dan
penyelesaianakhir,pengu-jian, mutu dan pemeliharaan
pekerjaan dan perbaikan atas pekerjaanyang tidak
memenuhi ketentuan. Bilamana suatu pekerjaan yang
diperlukan dilaksanakan dalam Pekerjaan Harian tetapi tidak
disyaratkan pada seksi manapun dari Spesifikasi ini,
pekerjaan harus dilaksanakan sebagaimana diperintahkan
dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
254
 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

 Pengukuran dan Pembayaran Untuk Pekerja

Pengukuran pekerja untuk pembayaran menurut Pekerjaan Harian harus
dilakukan menurut jam kerja aktual dari penggunaan pekerja yang disahkan
pada Harga Satuan untuk berbagai jenis pekerja yang dimasukkan oleh
Kontraktor dalam Daftar dan Kuantitas dan Harga, dimana harga dan
pembayaran itu haruslah merupakan kompensasi penuh untuk biaya-biaya
berikut ini :
a) Upah pekerja, pajak, bonus, asuransi, tunjangan hari libur, akomodasi
dan fasilitas kesejahteraan, pengobatan, seluruh tunjangan serta biaya
lainnya yang diuraikan dalam "Peraturan Tenaga Kerja Indonesia",
Petunjuk Untuk Penanaman Modal Asing, yang diterbitkan oleh Biro Hukum,
Departemen TenagaKerja;
b) Penggunaan dan pemeliharaan perkakas tangan;
c) Biaya transportasi ke dan dari lokasi pekerjaan yang dilaksanakan;
d) Seluruh biaya administrasi dan keuangan yang bersangkutan,
pengawasan di luar mandor, dan biaya pelengkap lainnya serta biaya umum
(over head) yang diperlukan untuk memobilisasi pekerja ke lokasi pekerjaan;
e) Laba.
255
 Pengukuran Pembayaran Untuk Bahan

Kuantitas Pekerjaan Harian yang diukur untuk pembayaran haruslah
kuantitas bahan yang aktual digunakan dalam Pekerjaan Harian
sebagaimana yang dibuktikan dengan kwitansi pemasok dan catatan
pekerjaan harian yang telah disetujui.
 Untuk bahan “khusus” (tidak terdapat dalam Harga Satuan Dasar yang
tercantum dalam Penawaran) yang telah digunakan dalam Pekerjaan
Harian, pembayaran harus berdasarkan harga netto yang dibayarkan oleh
Kontraktor untuk bahan-bahan yang didatangkan ke lapangan,
sebagaimana tertulis dalam faktur tagihan dari pemasok, di mana harga
tersebut harus ditambah sebesar 15 persen dari jumlah harga bahan yang
bersangkutan. Pembayaran yang demikian harusdianggap sebagai
kompensasi penuh untuk penyediaan bahan, termasuk biaya-biaya
berikut ini :
i) Pengadaan dan pengiriman ke lapangan;
ii) Penerima di lapangan, pembongkaran, pemeriksaan,
penyimpanan, peng-ujian,perlindungan dan penanganan
secara umum;
iii) Pembuangan bahan sisa;
iv) Biaya administrasi dan akuntan dan semua biaya umum
lainnya yang bersangkutan;
v) laba.
256
Pembayaran semua bahan yang telah digunakan dalam
Pekerjaan Harian, harus diambilkan dari seluruh
anggaran yang telah ditetapkan untuk Pekerjaan Harian
menurut Divisi 9 dari Daftar Kuantitas dan Harga atau,
menurut pendapat Direksi Pekerjaan, harus dari Mata
Pembayaran lain dalam Divisi 2 sampai 8 di mana
terdapat kelebihan anggaran. Dalam setiap hal, suatu
Variasi (pekerjaan tambah/kurang) yang telah
ditandatangani akan diperlukan sebelum pembayaran
bahan yang digunakan dalam Pekerjaan Harian yang
disetujui.
4/11/2013
DIVISI 10 :
PEKERJAAN
PEMELIHARAAN RUTIN
258
DIVISI 10
PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN

 Uraian

Pekerjaan yang tercakup dalam Seksi ini harus meliputi pekerjaan
pemeliharaan rutin untuk menjamin agar perkerasan, bahu jalan, drainase
dan perlengkapan jalan lama selalu dipelihara setiap saat dalam kondisi
pelayanan yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

 Klasfikasi Pekerjaan Pemeliharaan Rutin
a)Perkerasan
i) Perkerasan Berpenutup Aspal
ii) Perkerasan Tanpa Penutup Aspal
b) Bahu Jalan
c) Drainase
d) Perlengkapan Jalan
e) Jembatan

4/11/2013


PEMELIHARAAN RUTIN PERKERASAN

1) Lokasi Tempat-tempat Yang Memerlukan Pemeliharaan Rutin
Tempat-tempat perkerasan lama yang memerlukan pemeliharaan
rutin harus dirancang oleh Direksi Pekerjaan dengan cara
pemeriksaan visual.
Metode dan besarnya pekerjaan perbaikan harus sebagaimana yang
diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan, yang juga akan
menentukan waktu penyelesaian yang beralasan.

2) Perkerasan Berpenutup Aspal
Pemeliharaan rutin pada perkerasan berpenutup aspal harus
mencakup Laburan Aspal (BURAS) pada permukaan retak, yang
luasnya tak melebihi 10 % dari setiap 100 m panjang, pengisian dan
penambalan lubang-lubang kecil (pembongkaran dan pengembalian
kondisi) yang berukuran tidak melebihi 40 cm x 40 cm. Semua ruas
perkerasan yang secara struktural dianggap tidak utuh (unsound) oleh
Direksi Pekerjaan harus dibongkar dan diperbaiki.

4/11/2013

3) Perkerasan Tanpa Penutup Aspal
Pemeliharaan rutin pada Perkerasan Tanpa Penutup Aspal pada
umumnya harus terdiri atas operasi perataan ringan dengan motor
grader untuk memperbaiki permukaan jalan yang terdapat lubang-
lubang kecil dan keriting (corrugation).


 PEMELIHARAAN RUTIN BAHU JALAN

Semua bahu jalan lama yang termasuk daerah kerja harus selalu
diperiksa oleh Kontraktor selama Periode Kontrak untuk
penyesuaian dengan kondisi standar yang disyaratkan dalam
Spesifikasi ini dan dalam Gambar. Setiap lokasi bahu jalan yang
dipandang memerlukan pemeliharaan rutin, dalam segala hal
harus dilaporkan kepada Direksi Pekerjaan, yang kemudian akan
mengeluarkan perintah yang sesuai untuk jenis tindakan
pemeliharaan yang diperlukan.
4/11/2013
 PEMELIHARAAN RUTIN SELOKAN, SALURAN AIR, GALIAN DAN
TIMBUNAN

1) Pemeliharaan selokan dan saluran air sementara maupun permanen harus
dijadwalkan sedemikian rupa sehingga aliran air yang lancar dapat dijaga
selama Periode Kontrak, termasuk Periode Pemeliharaan.
2) Selokan dan saluran air lama maupun yang baru dibuat harus dijaga agar
bebas dari semua bahan yang lepas, sampah, endapan dan pertumbuhan
tanaman yang tidak dikehendaki yang mungkin akan menghalangi aliran air
permukaan. Pemeliharaan semacam itu harus dilaksanakan secara teratur
berdasarkan rutinitas dan segera setelah aliran permukaan akibat hujan lebat
telah berhenti mengalir.
3) Selama periode hujan lebat, Kontraktor harus menyediakan regu
pemeliharaan yang akan berpatroli di lapangan dan mencatat setiap sistem
drainase yang kurang berfungsi akibat penyumbatan atau karena hal lain.
Setiap kelainan pada drainase dicatat pada saat tersebut, seperti luapan air,
kekurangan kapasitas, erosi, alinyemen struktur drainase yang kurang tepat
atau rancangan lainnya yang kurang cocok, harus dilaporkan kepada Direksi
Pekerjaan, dan Direksi Pekerjaan akan mengeluarkan perintah yang sesuai
dengan langkah yang harus diambil.
4/11/2013
 PEMELIHARAAN RUTIN PERLENGKAPAN JALAN

1) Kontraktor harus juga mengecat kembali setiap rambu jalan di
mana kondisi cat pada rambu tersebut telah rusak dan kata-kata
pada rambu tersebut tidak jelas terbaca.
2) Kontraktor harus juga melaksanakan perbaikan pada setiap
rambu jalan, bagian rel pengaman dengan panjang kurang dari 10
meter, pagar pengarah, patok kilometer atau perlengkapan jalan
yang lain yang rusak, sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.
 PEMELIHARAAN RUTIN JEMBATAN

a) Pekerjaan pemeliharaan rutin untuk jembatan harus berlaku untuk semua
jembatan yang ada sepanjang Kontrak, tanpa memandang ukuran atau jenis
jembatan, dan pada prinsipnya harus meliputi pemeriksanaan secara teratur
terhadap komponen utama struktur, penyiapan laporan detil pemeriksaan dan
pembersihan rutin tempat-tempat yang mudah rusak jika dibiarkan.
b) Pemeriksaan dan operasi pembersihan untuk pemeliharaan rutin jembatan
harus dilaksanakan dalam interval waktu yang teratur selama Periode Kontrak.
Pemeriksaan terhadap daerah aliran sungai harus dilaksanakan setelah
hujanlebat yang mengakibatkan banjir dan demikian pula setelah air banjir surut.
4/11/2013
 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

a) Pekerjaan pemeliharaan rutin yang diuraikan dalam Pasal di atas harus
dibayar dari harga lump sum dalam Kontrak untuk Mata Pembayaran yang
terdaftar dibawah dan dalam Daftar Kuantitas, dimana harga tersebut
harus mencakup semua kompensasi Kontraktor untuk penyediaan semua
bahan, pekerja,peralatan, perkakas dan keperluan lainnya yang perlu atau
lazim untuk pekerjaan pemeliharaan rutin perkerasan, bahu jalan,
drainase, perlengkapan jalan dan jembatan sampai diterima oleh Direksi
Pekerjaan.
b) Dengan syarat diterbitkannya pengesahan tertulis setiap bulan dari
Direksi Pekerjaan atas kinerja Kontraktor yang memenuhi ketentuan dalam
pelaksanaansemua operasi pemeliharaan rutin yang diperlukan, maka
Mata Pembayaran lump sum harus dibayarkan kepada Kontraktor dengan
angsuran bulanan berikut ini :

Lump Sum
Bulan ke 1 sampai dengan 3 = --------------
8
5 x Lump Sum
Bulan berikutnya = -------------------------------------------------
8 x (Masa Kontrak dalam bulan - 3)