TEORI PENDUDUK

Aliran :
• Pesimis : memandang jumlah penduduk yang besar akan merugikan pembangunan • Optimis : memandang jumlah penduduk yang besar akan menguntungkan pembangunan • Netral : tidak kaitan antara penduduk dan pembangunan

Pesimis dasar : teori malthus • Penduduk jika tidak dikontrol akan berkembang mengikuti deret ukur dan bahan makan akan berkembang mengikuti deret hitung • Efeknya adalah munculnya kemiskinan .

dan kemiskinan Positive check sering juga disebut dengan mathusian solution . konflik.Preventive check : moral restraint atau penundaan usia kawin Positive check : jumlah penduduk akan berkurang karena kematian yang diakibatkan oleh wabah. perang.

Penundaan usia kawin bukan satusatunya cara untuk mengontrol jumlah penduduk 2.Kritik : 1.Tehnologi mampu mempengaruhi produktivitas Pertanyaan : siapa yang menguasai tehnologi ? .

Optimis Dasar : teori dari J. . Dalam jangka panjang jumlah penduduk yang besar justru menguntungkan pembangunan ekonomi.P. Simon Pada dasarnya persoalan yang muncul karena jumlah penduduk yang besar akan terjadi dalam jangka pendek.

Untuk memenuhinya dibutuhkan jumlah industri yang banyak dan diharapkan mampu menyerap tenaga kerja sebagai salah satu solusi terhadap munculnya kemiskinan .Logika : jumlah penduduk yang besar akan memunculkan demand yang besar terhadap produk industri.

Netral Dasar : Teori Marxis (Marx dan Engels) Kemiskinan tidak ada hubungannya dengan jumlah penduduk. akan tetapi karena kegagalan sistem kemasyarakatan yang dianut di suatu wilayah. Adanya hak individu dalam akumulasi modal (kapitalisme) menyebabkan terjadinya kesenjangan dan eksploitasi yang menyebabkan kemiskinan. Solusinya adalah diperlukannya suatu sistem yang mempu mendistribusikan kapital .

KERANGKA KONSEPTUAL Proses Struktur Sosekpol .

Perubahan Komposisi Penduduk Indonesia Tahun 1971 Tahun 1980 Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan 70-74 60-64 50-54 40-44 30-34 20-24 10-14 0-4 70-74 60-64 50-54 40-44 30-34 20-24 10-14 0-4 .

Tahun 1990 Laki-Laki 70-74 Perempuan Tahun 2000 Laki-Laki Perempuan 60-64 70-74 60-64 50-54 40-44 30-34 50-54 40-44 30-34 20-24 20-24 10-14 0-4 10-14 0-4 .

Tahun 2010 Laki-Laki 70-74 Perempuan Tahun 2020 Laki-Laki 70-74 Perempuan 60-64 60-64 50-54 50-54 40-44 40-44 30-34 30-34 20-24 20-24 10-14 10-14 0-4 0-4 .

000 1.000 4.055 3.680 4. Perkembangan Angka Kelahiran Total di Indonesia 1971-2000 6.605 5.000 3.000 2.200 4.000 5.344 .Gambar 1.802 2.326 2.000 0 SP 1971 SUPAS SP 1980 SUPAS SP1990 SUPAS SP2000 1976 1985 1995 5.

Gambar 2. Perkembangan Angka Kematian Bayi di Indonesia Menurut Sensus Penduduk 1971-2000 150 125 100 75 50 25 0 SP 1971 Total SP 1980 Laki-Laki SP 1990 Perempuan SP 2000 .

5 3 2.121 1.276 2.377 2.09 1.Gambar 3.177 1.27 2.383 2.072 1.373 2.5 0 3.5 1 0.5 2 1.089 2. Asumsi Perubahan TFR di DIY.742 2. NTT dan Indonesia Periode 2002-2022 3.375 Indonesia DIY NTT 2002 2007 2012 2017 2022 .472 2.124 2.428 1.

Asumsi Perubahan IMR di DIY.Gambar 4. NTB dan Indonesia Periode 2002-2022 70 60 50 40 30 20 10 0 66 36 26 18 15 9 Indonesia DIY NTB 2002 2007 2012 2017 2022 .

132 (000) 2.6 % 4.8 tahun 4294.7% 64.477.15 1 0-14 tahun 15-64 tahun 65+ tahun IMR Harapan hidup Jumlah kelahiran 30.7 70.5 (000) 26.Indikator demografi Indonesia Jumlah Penduduk TFR NRR Tahun 2000 Tahun 2010 205.7 % 40.8 67.3 % 25.0 % 68.06 233.4 (000) 2.7 (000) .33 1.6 % 5.1 tahun 4215.

5 (000) 73.7 % 0.0 (000) 1.5 % 15-64 tahun 65+ tahun IMR Harapan hidup Jumlah kelahiran 69.1 % 9.121.68 21.0 (000) .4 % 8.66 17.43 Tahun 2010 3.7 tahun 41.8 74.Indikator demografi DIY Jumlah Penduduk TFR Tahun 2000 3.38 NRR 0-14 tahun 0.0 tahun 36.4 % 11.439.2 73.1 (000) 1.9 % 18.

.Isu penting 1 : fertilitas • Apakah angka fertilitas menurun terus ? Sampai seberapa besar ? • Penurunan angka fertilitas biasanya akan disertai dengan peningkatan “unwantedness pregnancies” dan “atau unwanted birth” • Unwanted pregnancies merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya aborsi dan kematian maternal.

Agenda : • Pencapaian NRR=1 penting apabila zero growth masih menjadi orientasi kebijakan kependudukan • Persoalan akses dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi dan KB merupakan kata kunci. • Pertanyaannya adalah siapa yang bertanggung jawab ? .

Isu penting 2 : mortalitas • Ketika kematian bayi sudah mulai kurang dominan. pola penyakit mengalami pergeseran dari infeksi ke degeneratif • Faktanya ketika kematian bayi sudah cukup rendah. pola penyakit masih didominasi oleh penyakit infeksi • “Penyimpangan” dari teori transisi demografi dan epidemiologi. .

Agenda : • Fokus ke kesehatan reproduksi • Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan .

Isu penting 3 : komposisi penduduk • Komposisi penduduk cenderung mengarah ke “aging process” yang ditandai dengan semakin besarnya jumlah lansia • Kebijakan penyantunan dalam bentuk social security menjadi agenda penting .

Program penyantunan lansia • Economic support : – Siapa yang bertanggung jawab ? – Bagaimana prosedurnya ? – Seberapa besar ? • Support Sosial dan psikologi : – Bentuknya apa ? – Siapa yang bertanggungjawab ? – Sistemnya ? .

• Kesehatan : – Bentuk pelayanan kesehatan seperti apa ? – Siapa yang bertanggung jawab ? – Mekanismenya ? .

Beberapa aspek dalam kebijakan kependudukan • Menggunakan pendekatan “right based approach” • Meletakkan penduduk sebagai subyek dan sekaligus obyek pembangunan • Harus memperhatikan tiga interes secara seimbang : individu. dan negara • Harus merespon kondisi lokal dengan mengacu pada tujuan kebijakan nasional . masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful