SEBUAH RINGKASAN

whisnu.t
1

a world view that defines.” (Guba in Denzim and Lincoln 1994.. pp..which shapes what we see and how we understand it” (Babbie 2005..... for its holder.... the nature of the ‘world’. a set of basic belief (or metaphysics) that deals with ultimates or first principles.107) 2 .32-56) “.PARADIGMA DALAM ILMU SOSIAL Paradigma?? “is fundamental model or scheme that organizes our view of something.. p..

.. is a whole system 0f thinking Social science is a multiparadigm science 3 .Kuhn (1970) Paradigm is a basic orientation to theory and research.

as though each were a researcher enggaged in an iquiry Seeks to discover what functions the many elements of society perform for the whole system Draws attention to the oppression of women in most societies.PARADIGMA ILMU SOSIAL BABBIE (2005) PARADIGM POSITIVISTIC CONFLICT SYMBOLIC INTERACTIONIST ETHNOMETHODOLOGY STRUCTURAL FUNCIONALIST DISTINCTNESS Assumes we can scientifically discover the rules governing social life Focuses on the attempt of one person or group to dominate others and to avoid being dominated Examines how weshare meanings and social patterns are developed in the course of social interactions Focuses on the ways people make sense out of life in the process of living it. highlight how previous images of social reality have often come from and reinforced the experiences of men Have challenged the long standing belief in an objective reality that abides by rational rules. They point out that it is possible to agree on an “intersubjective” reality FEMINIST CONTEMPORARY 4 .

interpretivism.Kinloch (1977): Organic paradigm. modern conflict theory. and social-psychological paradigm Crotty (1994): Positivism. interpretive paradigm and functionalist paradigm 5 . structure functionalism. feminism and postmodernism Burrel and Morgan (1979): Radical humanist paradigm. critical inquiry. social behaviorism. radical structuralist paradigm. conflict paradigm.

and constructivism Dedy N.Guba and Lincoln (1994): Positivism. Hidayat (2005): Positivism & Postpositivism. post-positivism.al. critical theories and constructivism 6 . critical theories et.

scaling • sampling • questionaire • participant observation • interview • focus group • case study • history life Constructivism Interpretivism: • symbolic interactionism • phenomenology • hermeneutics • ethnography • phenomenological research • grounded theory • heuristic inquiry Subjectivism (and their variants) Critical inquiry • action research • discourse analysis • comparative analysis •Document analysis • interpretative methods • content analysis 7 .EPISTEMOLOGY – PERSPEKTIF TEORITIKAL – METODOLOGI – METODE (Crotty. 1998) EPISTEMOLOGY Objectivism THEORETICAL PERSPECTIVE Positivism (and post positivism) METHODOLOGY • experimental research • survey research METHODS • measurement.

etika dan pilihan moral peneliti dalam penelitian How should the iquirer to judge and choose values. ethics and moral standard? 8 What is the nature of “reality” What is the nature of the relationship between the inquirer and the knowable? How should the inquirer go about finding out knowledge? .DIMENSI – DIMENSI PARADIGMA (Guba 1990) ONTOLOGY Asumsi tentang realitas EPISTEMOLOGY Asumsi tentang hubungan antara peneliti dan yang diteliti METHODOLOGY Asumsi metodologis tentang bagaimana peneliti memperoleh pengetahuan AXIOLOGY Asumsi yang berkaitan dengan posisi pemilihan nilai.

PERBEDAAN ONTOLOGIS KLASIK Critical realism: KONSTRUKTIVIS Relativism: KRITIS Historical realism: Ada realitas yang “real” yang sudah diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal. walaupun kebenaran pengetahuan tsb mungkin hanya bisa diperoleh secara probabilistik Realitas merupakan konstruksi sosial dan kebenaran suatu realitas bersifat relatif. berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial Realitas yang teramati merupakan realitas “semu” (virtual reality) yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial. budaya dan ekonomi politik 9 .

PERBEDAAN EPISTEMOLOGIS KLASIK Dualist/objectivist: KONSTRUKTIVIS Transactionalist/subjectivist: KRITIS Transactionalist/subjectivist: Ada realitas obyektif. Peneliti harus sejauh mungkin membuat jarak dengan obyek penelitian Pemahaman suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi peneliti dengan yang diteliti Hubungan peneliti dengan yang diteliti selalu dijembatani nilainilai tertentu. sebagai suatu realitas yang eksternal di luar diri peneliti. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value mediated findings 10 .

ekonomi dan politik Wholeness: sejauh mana studi yang dilakukan bersifat holistic. reliability and validity (external and internal) Menekankan empati dan interaksi dialektis antara penelitiresponden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode-metode kualitatif seperti participant observation Kriteria kualitas penelitian Authenticity dan reflectivity: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang dihayati oleh para pelaku sosial Mengutamakan analisis komprehensif. sosial.PERBEDAAN METODOLOGIS KLASIK Interventionist KONSTRUKTIVIS Reflective/Dialectical KRITIS Participative Pengujian hipotesis dalam struktur hypothetico-deductive method melalui lab eksperimen atau survey eksplanatif dengan analisis kuantitatif Kriteria kualitas penelitian Objectivity. kontekstual dan multi-level analysis yang bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktivis/partisipan dalam proses transformasi sosial Kriteria kualitas penelitian Historical situatedness: sejauh mana penelitian memperhatikan konteks historis. terhindar dari analisis partial 11 . budaya.

fasilitator yang menjembatani keragaman subyektifitas pelaku sosial KRITIS Activist • Nilai etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari penelitian •Peneliti menempatkan diri sebagai transformative intellectual. emansipasi dan social empowerment 12 . advokat dan aktifis •Tujuan penelitian: eksplanasi.transformasi.PERBEDAAN AKSIOLOGIS KLASIK Observer • Nilai etika dan pilihan moral harus berada di luar proses penelitian • Peneliti berperan sebagai disinterested scientist KONSTRUKTIVIS Facilitator • Nilai etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari penelitian • Peneliti sebagai passionate participant. prediksi dan kontrol atas realitas • Tujuan penelitian: rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dan yang diteliti •Tujuan penelitian: kritik sosial.

PERBANDINGAN KRITERIA PENILAIAN KUALITAS PENELITIAN YANG DIPERGUNAKAN PARADIGMA KLASIK. DAN KONSTRUKTIVIS PARADIGMA KLASIK INTERNAL VALIDITY EXTERNAL VALIDITY RELIABILITY Isomorphism of findings Generalizability Stability/consistency of measurement Distanced – neutral observer (for post-positivism: probabilistic and inter subjectivity OBJECTIVITY 13 . KRITIS.

e that it takes account of the social. ethnic. political.PARADIGMA KRITIS HISTORICAL SITUATEDNESS OF THE INQUIRY WHOLENESS i. cultural. and gender antecedents of the studied situtation The extent to which the inquiry takes account the wider social total within which the subject of the inquiry located PARADIGMA TRUSTWORTHINESS • credibility (paralelling internal KONSTRUKTIVIS validity) • transferability (paralelling external validity) • confirmability (“objectivity”) AUTHENTICITY • ontological authenticity (enlarges personal construction) • educative authenticity (leads to improved understanding of others) • catalytic authenticity (stimulates to action) • tactical authenticity (empower action) 14 .

g inter-subjectivity kesimpulan (e. reliability and validity assessment.g sample agreement.g interval variabel. significance etc Analisis data dimulai setelah proses pengumpulan data Analisis data dilakukan sepanjang proses penelitian Memiliki teknik-teknik standar pengukuran dan analisis data (hypothesis testing.etc) Belum/tidak memiliki teknik-teknik standar yang diakui bersama 15 . kekuatan korelasi antar variabel.PERBEDAAN ANALISIS KUANTITATIF DAN KUALITATIF (Neumann. dsb) KUALITATIF Klasifikasi fenomena sosial (nominal dan ordinal tanpa pengukuran korelasi statistik) Kriteria kuantitatif dalam pengambilan Kriteria kualitatif (e. 1997) KUANTITATIF Klasifikasi dan kuantifikasi fenomena sosial (e. face validity) representativeness.

dst) . Lingkup/klaim temuan 6. Konsepsi tentang realitas sosial 7.PERBEDAAN ANALISIS KUANTITATIF DAN KUALITATIF (Bryman. Hubungan teori/konsep dengan data empirik 4. Strategi penelitian 5. Kedudukan suatu penelitian kualitatif 2. atau komunitas saja. Hubungan peneliti dan yang diteliti 3. Analisa data Studi awal Jauh (peneliti-obyek penelitian) outsider Confirmatory data empirik untuk memberi konfirmasi teori Berstruktur Nomothetic mencari “the truth” Statis dan eksternal QUALITATIVE “reflective” Penggalian interpretasi subyek Dekat (empati) insider Emergent (atau exploratory): teori dimunculkan atas dasar empirik Tidak berstruktur Ideographic mencari “a truth” Prosesual dan realitas merupakan produk konstruksi sosial Multi level analysis (mengaitkan analisis pada level-level yang berbeda) 16 Single level analysis (level individu saja. 1988) QUANTITATIVE “objective” 1.

yang spesifik. Pendekatan nomothetic: berusaha memperoleh temuan-temuan yang berlaku umum. konteks waktu dan sejarah. baik untuk semua konteks sosial. ataupun tempat  Pendekatan ideographic: menempatkan temuan penelitian dalam konteks sosial-budaya serta konteks waktu dan konteks historis. dimana penelitian telah dilakukan 17 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful