PRESENTASI KASUS ILEUS OBSTRUKTIF

TOBIAS REINALDO TOTI 11-2009-150

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap Tempat/Tanggal Lahir Umur Status perkawinan Tn. L Yogyakarta, 17 Agustus 1970 40 Tahun Sudah Menikah

Pekerjaan
Alamat Jenis kelamin Suku bangsa Agama Pendidikan

Swasta
Yogyakarta, Jawa Tengah Laki-Laki Indonesia Kristen SMA

ANAMNESIS Keluhan utama

Nyeri perut

Riwayat Penyakit Sekarang

OS datang ke RS diantar keluarganya karena sejak 2 hari SMRS OS mengeluh muntah-muntah, demam, perut kembung, sering nyeri perut yang kadang-kadang hilang tapi timbul lagi, BAK sedikit, tidak bisa buang angin dan tidak bisa BAB.

.Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat operasi apendiktomi 5 tahun yang lalu saat pasien berumur 35 tahun.

RIWAYAT KELUARGA  Tidak diketahui .

ANAMNESIS SISTEM Kulit (-) Bisul (-) Kuku Kepala (-) Trauma (-) Sinkop Mata (-) Nyeri (-) Sekret (-) Rambut (-) Kuning/ Ikterus (+) Kering (+) Turgor menurun (-) Sakit kepala (-) Nyeri pada sinus (-) rahang bawah bengkak (-) Kuning/ Ikterus (-) Radang (-) Gangguan penglihatan (-) Ketajaman penglihatan .

Telinga (-) Nyeri (-) Sekret (-) Tinitus (-) Gangguan pendengaran (-) Kehilangan pendengaran Hidung (-) Trauma (-) Nyeri (-) Sekret (-) Epistaksis (-) Gejala penyumbatan (-) Gangguan penciuman (-) Pilek Mulut (+) Bibir kering (-) Gusi (+) Lidah kering (-) Gangguan pengecap (-) Selaput (-) Stomatitis .

Tenggorokan (-) Nyeri tenggorokan (-) bengkak dan bernanah Leher (-) Benjolan (-) bengkak dan bernanah Dada (Jantung/ Paru) (-) Nyeri dada (-) Sesak nafas (-) Batuk (-) Perubahan suara (-) Nyeri leher (-) Berdebar (-) Batuk darah (-) Ortopnoe .

Abdomen (Lambung/ Usus) (+) Rasa kembung (-) Mual (+) Muntah (-) Perut membesar (-) Wasir (-) Mencret (-) Sukar menelan (-) Tinja berwarna dempul (-) Benjolan (+) Nyeri perut (-) Nyeri ulu hati (-) Tinja berwarna ter (-) Tinja darah (-) Muntah darah Saluran kemih/ alat kelamin (-) Disuria (-) Stranguria (+) Oliguria (-) Polakisuria (-) Hematuria (-) Kencing batu (-) Ngompol (-) Kencing nanah (-) Kolik (-) Anuria (-) Retensi urin (-) Kencing menetes (-) Penyakit prostat .

Saraf dan otot (-) Anastesi (-) Parastesi (-) Kejang (-) Afasia (-) Sukar mengingat (-) Ataksia (-) Pingsan (-) Kedutan (-) Gangguan bicara (disartri) (-) Otot lemah (-) Amnesia (-) Hipo/ hiper-esthesi (-) Pusing Ekstremitas (-) Bengkak (-) Deformitas (-) Nyeri sendi (-) Sianosis Berat badan Berat badan rata–rata (Kg): 50 Kg .

PEMERIKSAAN JASMANI Pemeriksaan Umum  Tinggi badan : 160 cm  Berat badan : 50 kg  IMT : 20  Tekanan darah : 100/80 mmHg  Nadi : 80 x/ menit  Suhu : 38 0C  Pernafasan (Frekuensi dan tipe) : 20x/ menit . torakoabdominal  Keadaan gizi : baik  Kesadaran : CM  Sianosis : tidak ada  Udema umum : tidak ada  Habitus : atletikus  Cara berjalan : baik  Mobilitas (Aktif/ Pasif) : pasif  Umur menurut taksiran pemeriksa: sesuai dengan usia sebenarnya .

 Aspek Kejiwaan Tingkah laku : wajar Alam perasaan: biasa Proses pikir : wajar .

Kulit Warna Jaringan parut Pertumbuhan rambut Suhu raba Keringat Lapisan lemak Effloresensi Pigmentasi Pembuluh darah Lembab/ kering Turgor Ikterus Edema Lain–lain : : : : : : : : : : : : : : sawo matang tidak ada merata teraba hangat Umum (+) Setempat (-) merata tidak ada tidak ada teraba pulsasi kering menurun tidak ada tidak ada tidak ada .

Kelenjar getah bening Submandibula : tidak teraba membesar Supraklavikula : tidak teraba membesar Lipat paha : tidak teraba membesar Kepala Ekspresi wajah Rambut Leher Ketiak : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : normotim : hitam. merata Simetri muka : simetris Pembuluh darah temporal : teraba pulsasi Mata Exophtalmus : tidak ada Kelopak : normal Konjungtiva : normal Sklera : ikterik -/Lapangan penglihatan : normal Deviatio konjungae : tidak ada Enophtalmus : tidak ada Lensa : normal Visus : normal Gerakan mata : normal Tekanan bola mata: normal Nystagmus : tidak ada .

/-/+/+ -/- Cairan Penyumbatan Selaput pendengaran : -/: -/: utuh : Kering : normal : normal : tidak hiperemis : Kering Tonsil Bau pernafasan Trismus Selaput lendir : T1-T1 tenang : normal : normal : normal .Telinga Tuli Perdarahan Lubang Serumen Mulut Bibir Langit – langit Gigi geligi Faring Lidah : : : : .

Leher Tekanan vena Jugularis (JVP) : normal Kelenjar Tiroid : tidak teraba membesar Kelenjar Limfe : tidak teraba membesar Dada Bentuk Pembuluh darah Buah dada : simetris : tidak tampak : normal .

Ronki (-) .Fremitus taktil simetris .Tidak ada penonjolan iga .Suara napas vesikuler .Wheezing (-) .Suara napas vesikuler .Fremitus taktil simetris Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru .PARU-PARU Inspeksi Kiri Kanan Palpasi Kiri Depan Simetris saat statis dan dinamis Retraksi sela iga (-) Simetris saat statis dan dinamis Retraksi sela iga (-) .Suara napas vesikuler .Wheezing (-) .Tidak ada penonjolan iga .Ronki (-) .Suara napas vesikuler .Wheezing (-) .Ronki (-) Auskultasi Kiri Kanan .Ronki (-) Belakang Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis Fremitus taktil simetris Kanan Fremitus taktil simetris Perkusi Kiri Kanan Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru .Wheezing (-) .

Murmur (-).Murmur (-).T1 > T2 reguler murni .P2 > P1 reguler murni . Gallop (-) .A2 > A1 reguler murni . Gallop (-) Batas atas jantung Auskultasi Katup aorta Katup pulmonal Katup mitral Katup trikuspid .Murmur (-).JANTUNG Inpeksi Palpasi Perkusi Ictus cordis tidak tampak Ictus cordis teraba pada sela iga V linea midclavicula kiri Batas kanan jantung Batas kiri jantung Sela iga V linea sternalis kanan Sela iga V 1 linea midclavicula kiri Sela iga 2 linea parasternal kiri .M1 > M2 reguler murni . Gallop (-) . Gallop (-) .Murmur (-).

PEMBULUH DARAH Arteri Temporalis Arteri Karotis Arteri Brakhialis Arteri Radialis Arteri Femoralis Arteri Poplitea Arteri Tibialis Posterior Arteri Dorsalis pedis : Teraba pulsasi : Teraba pulsasi : Teraba pulsasi : Teraba pulsasi : Teraba pulsasi : Teraba pulsasi : Teraba pulsasi : Teraba pulsasi .

Nyeri tekan (-). metallic sound (-) .Nyeri ketok costovertebral (-) . nyeri lepas (-) Hipertimpani diseluruh lapang abdomen Peristaltik (+) meningkat.Ballotement (-) .distensi (+).lain Perkusi Auskultasi Tidak teraba membesar .Cembung .ABDOMEN Inspeksi Palpasi . darm countur (+) Dinding perut Nyeri tekan (+) seluruh kwadran abdomen Hati Tidak teraba membesar Limpa Ginjal Lain.

EKSTREMITAS Lengan Otot Sendi Tonus Massa Kanan Normotonus Tidak teraba massa Tidak bengkak. nyeri gerak (-) Kiri Normotonus Tidak teraba massa Tidak bengkak. nyeri gerak (-) aktif +4 Tidak ada - Tidak ada Tidak ada Normotonus Tidak teraba massa Tidak bengkak. nyeri gerak (-) aktif +4 Tidak ada - . nyeri gerak (-) Gerakan Kekuatan Lain–lain Tungkai dan kaki Luka Varises Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Edema Lain–lain Aktif +4 - Aktif +4 - Tidak ada Tidak ada Normotonus Tidak teraba massa Tidak bengkak.

REFLEKS Kanan Kiri + + + + + + + Refleks Tendon Bisep Trisep Patela Achiles Kremaster Refleks Kulit + + + + + + + Refleks Patologis - - .

limpa dan ginjal tidak teraba membesar.STATUS LOKALIS Regio abdomen    Inspeksi : Abdomen cembung. Hati. Tidak teraba massa. Perkusi : Hipertimpani diseluruh lapang abdomen . darm countur (+) Palpasi : Nyeri tekan (+) seluruh kwadran abdomen. distensi (+). Defence muscular (-).

 Colok dubur (atas indikasi) tidak ditemukan kelainan Alat kelamin (atas indikasi) tidak ditemukan kelainan  .

sering nyeri perut yang kadang-kadang hilang tapi timbul lagi. BAK sedikit. demam. Pada pemeriksaaan fisik abdomen terhadap os ditemukan :  Inspeksi : Abdomen cembung. Tidak teraba massa.RINGKASAN (RESUME) ANAMNESIS  Tn. Sejak 2 hari SMRS OS mengeluh muntah-muntah. bibir kering. Defence muscular (-). darm countur (+)  Palpasi : Nyeri tekan (+) seluruh kwadran abdomen. perut kembung. tidak bisa buang angin dan tidak bisa BAB. metallic sound (-) . Hati. distensi (+). turgor kulit menurun. lidah kering. Kulit kering. L datang kerumah sakit diantar oleh keluarganya. Riwayat operasi apendiktomi 5 tahun yang lalu saat pasien berumur 35 tahun.  Perkusi : Hipertimpani diseluruh lapang abdomen  Auskultasi : Peristaltik (+) meningkat. limpa dan ginjal tidak teraba membesar.

lidah kering. Ileus obstruktif Dasar diagnosa : pada anamnesis ditemukan adanya gejala muntah-muntah. Ileus paralitik Dasar diagnosa : pada anamnesis ditemukan adanya gejala muntah-muntah. sering nyeri perut yang kadang-kadang hilang tapi timbul lagi.DIAGNOSIS KERJA DAN DASAR DIAGNOSIS 1. BAK sedikit. sering nyeri perut yang DIAGNOSIS BANDING DAN DASAR DIAGNOSIS BANDING  . demam. tidak bisa buang angin dan tidak bisa BAB. demam. nyeri tekan (+) seluruh kwadran abdomen. perut kembung. Kulit kering. distensi (+). hipertimpani diseluruh lapang abdomen dan peristaltik (+) meningkat. darm countur(+). turgor kulit menurun. bibir kering Pada pemeriksaan fisik abdomen ditemukan adanya abdomen cembung. perut kembung.

PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN   Pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit Foto rontgen abdomen 3 posisi .

Farmakologis  Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit/asam basa  Antibiotik spektrum luas untuk bakteri aerob dan aerob sebagai profilaksis  Analgesik apabila nyeri  Antiemetik untuk mengurangi gejala mual dan muntah 3.RENCANA PENGELOLAHAN 1. Non Farmakologis:  Pasien dipuasakan  Dekompresi usus dengan memasang nasogastric tube (NGT)  Pasang Kateter urin untuk menghitung balance cairan 2. Operasi  Saran Operasi Laparotomi .

PROGNOSIS ad vitam  ad fungsionam  ad sanasionam  : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam .

TINJAUAN PUSTAKA ILEUS OBSTRUKTIF .

DEFINISI  Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus. .

3. 6. 7. 10. Adhesi Hernia inkarserata Neoplasma Intususepsi usus halus Penyakit Crohn Volvulus Batu empedu yang masuk ke ileus Benda asing Divertikulum Meckel Fibrosis kistik . 8. 5. 2. 4. 9.ETIOLOGI 1.

penyakit Hirschprung. atresia. Ileus mekonium. divertikulum Meckel. penyakit Crohn (jarang). adhesi (paling sering). divertikulitis (umumnya di kolon sigmoid). ulkus. volvulus di sigmoid atau sekum.Tabel 1. volvulus. Atresia. fekalit. benda asing. intususepsi Neonatus . Penyebab ileus obstruktif Lokasi Kolon Penyebab Tumor (umumnya di kolon kiri). volvulus. tumor. adhesi Duodenum Dewasa Neonatus Jejenum dan ileum Dewasa Hernia. Kanker di duodenum atau kanker kepala pankreas.

Hernia Oklusi Mesentrial Volvulus Adhesi Tumor Invaginasi .

Penyebab Perdarahan & Obstruksi Usus Halus .

Ileus obstruktif strangulasi 3. terbagi atas: 1. Ileus obstruktif usus besar yaitu obstruksi  . Ileus obstruktif usus halus yaitu obstruksi tinggi dimana obstruksinya mengenai usus halus 2. Ileus obstruktif sederhana 2.KLASIFIKASI Ileus obstruktif dibagi lagi menjadi tiga jenis dasar: 1. Ileus obstruktif jenis gelung tertutup  Ileus obstruktif berdasarkan letak sumbatannya.

PATOFISIOLOGI Ileus obstruktif Akumulasi gas dan cairan di dalam lumen sebelah proksimal dari letak obstruksi Distensi Proliferasi bakteri yang berlangsung cepat Kehilangan H2O Dan elektrolit Tekanan intralumen ↑ Iskemia dinding usus Volume ECF ↓ Kehilangan cairan menuju ruang peritoneum Pelepasan bakteri dan toksin dari usus yang nekrotik ke dalam peritoneum dan sirkulasi sistemik Peritonitis septikemia Syok hipovolemik .

Tabel 2. Perbedaan ileus obstruktif simple dan strangulate Simple Nyeri Abdomen Muntah Distensi Abdomen Kolik + + Strangulata Menetap + + Obstipasi Peristaltik Lekosit KU memburuk + +/meningkat N/naik Lambat + +/Menurun Naik Cepat .

Tabel 3. Perbedaan Ileus obstruktif usus halus dan usus besar Usus Halus Usus Besar Nyeri Abdomen +++ + Muntah Muntah Feculen +++ - + ++ Distensi Abdomen + +++ Dehidrasi Cepat Lambat .

Nyeri Kolik  Obstruksi usus halus: kolik dirasakan disekitar umbilikus  Obstruksi kolon: kolik dirasakan disekitar suprapubik 2. Konstipasi : defekasi dan flatus tidak ada 5. Mual & muntah  Stenosis Pilorus : encer dan asam. Kram perut . Perut kembung (distensi) 4.DIAGNOSIS Anamnesis Gejala Utama : 1.  Obstruksi usus halus : berwarna kehijauan  Obstruksi kolon : onset muntah lama 3.

dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung.Pemeriksaan Fisik  Inspeksi Perut distensi. Pada invaginasi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. bising usus bernada tinggi. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya  Palpasi Kadang teraba massa seperti pada tumor. invaginasi. hernia  Perkusi Hipertimpani  Auskultasi Hiperperistaltik. .femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang. Benjolan pada regio inguinal.

    Pemeriksaan laboratorium Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi. penebalan valvulae coniventes yang memberi gambaran fish bone appearance. Pemeriksaan radiologi Foto rontgen abdomen 3 posisi Beberapa tanda radiologik yang khas untuk obstruksi ileus adalah : Pengumpulan gas dalam lumen usus yang melebar. beberapa air fluid level memberikan gambaran huruf U terbalik . Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit dan analisa gas darah. Pengumpulan cairan dengan gambaran khas step ladder dan air fluid level. Pada obstruksi yang cukup lama.

Ileus obstruksi .Gambar 5.

PENATALAKSANAAN 1. dan kontraindikasi ileus paralitik. breathing and circulation. Dekompresi dengan nasogastric tube.        Konservatif/ Resusitasi Penderita dirawat di rumah sakit & dipuasakan. Penderita dipuasakan (tidak makan & minum) sampai krisisnya teratasi. Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan. Intravenous fluids and electrolyte. Biasanya minimal 3 hari Kontrol status airway. Lavement jika ileus obstruksi. .

2. Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi. Pintas usus 3.  Antiemetik untuk mengurangi gejala mual muntah. . Lisis pita lekat atau reposisi hernia 2. Operatif  Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi selama laparotomi: 1. Farmakologis  Antibiotik spektrum luas untuk bakteri anaerob dan aerob sebagai profilaksis.  Analgesik apabila nyeri. 3. Reseksi dengan anastomosis 4.

Pneumonia aspirasi dari proses muntah 8. Meninggal . Gangguan elektrolit 9. Nekrosis usus 2. Sepsis 4. Perforasi usus 3. Syok-dehidrasi 5.KOMPLIKASI 1. Abses 6. Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi 7.

PROGNOSIS    Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat segera dilakukan. Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat. . Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%.

Obstruksi usus besar memiliki gejala obstipasi dan distensi abdomen. appendisitis akut.DIAGNOSA BANDING    Ileus paralitik memiliki gejala nyeri yang lebih ringan namun konstan dan difus. Pada foto akan tampak gambaran terjadinya dilatasi kolon sampai pada letak sumbatan. Ileus yang disebabkan proses inflamasi akut (misalnya appendisitis) memiliki tanda dan gejala dari penyebab primer ileus tersebut. dan pankreatitis akut dapat menyerupai obstruksi usus halus sederhana. Strangulasi dapat dikacaukan oleh pankreatitis hemoragik dan oklusi vaskuler mesenterik . Gastroenteritis akut. Kolik dan muntah lebih jarang terjadi. juga terjadi distensi abdomen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful