Filaria


Cacing Filaria merupakan famili Filariidae, Cacing dewasa hidup di dalam tubuh vertebrata menghasilkan mikrofilaria. Penyakitnya disebut filariasis tersebar di daerah beriklim panas. Gejala-penyakit disebabkan oleh cacing dewasa dan larva (mikrofilaria). Mikrofilaria terdapat di darah atau kulit dan merupakan stadium infektif pada serangga sebagai vektor. Cacing filaria merupakan parasit pada manusia dan hewan.

Parasit yang hidup pada saluran limfe adalah :  Wuchereria bancrofti,
 

Brugia malayi Brugia timori

   

Filaria di atas menyebabkan kaki gajah (elefantiasis) dan komplikasi pada saluran limfatik. Loa-loa menyebabkan Calabar swelling dan alergi, Onchocerca volvulus menyebabkan kebutaan dan kelainan kulit Mansonella streptocerca menyebabkan lesi pada kulit. Dan dua spesies yang lain yakni Mansonella pertans dan Mansonella ozzardi tidak menunjukan gejala klinis (asimtomatis).

Mikrofilaria dalam darah tepi pada siang dan malam hari dalam jumlah yang tidak berbeda banyak. Cacing betina bersifat vivipar. Mikrofilaria terdapat di darah tepi pada waktu-waktu tertentu. Pada siang hari. chyluria atau di bawah epitel kulit. . cairan limfe. mempunyai periodisitas. menghasilkan mikrofilaria terdapat di darah. Bila mikrofilaria di darah tepi pada malam hari disebut periodik nokturna.         Cacing dewasa hidup di saluran dan kelenjar limfe. disebut periodik diurnal Di darah tepi secara tidak teratur mikrofilaria bersifat non-priodik. Bila jumlah lebih banyak pada siang hari disebut sub-periodik diurnal. di jaringan ikat di bawah kulit atau di rongga-rongga tubuh. cairan hidrokel.

Onchocerca volvulus pada gorilla.      .Hospes reservoir Penularan filariasis melalui vektor serangga strain Brugia malayi mempunyai hospes reservoir kera pemakan daun di Malaysia dan bersifat zoonosis. Loa loa juga ditemukan pada kera. Mansonella pertans dan Mansonella streptocerca telah dilaporkan pada simpanse.

menjadi larva stadium 4 (L-4) dan menjadi dewasa. larva mengalami 2 kali pergantian kulit (molting). Larva keluar dari probosis masuk melalui gigitan ke dalam tubuh hospes. larva mengalami dua kali pergantian kulit dari larva stadium 1 (L-1) menjadi larva stadium 2 (L-2) dan larva stadium 3 (L-3) sebagai larva infektif. .Siklus hidup Filaria       Parasit filaria ditularkan oleh nyamuk. Di tubuh hospes. menembus dinding lambung dan bersarang pada otot toraks. lalat pengisap darah . mikrofilaria masuk ke lambung. Di tubuh serangga. Serangga yang mengandung larva infektif menularkan parasit waktu menghisap darah. sengkenit. Di tubuh serangga.

.Wuchereria bancrofti       Cacing ini tersebar di daerah beriklim panas dan hidup pada tubuh manusia. Parasit ini tersebar di perkotaan (urban type) atau di pedesaan (rural type). Vektornya adalah nyamuk Culex. Aedes. Mikrofilarianya bersifat periodik nokturna. Di daerah Pasifik bersifat subperiodik diurnal di Thailand bersifat subperiodik nokturna. Filariasis di perkotaan disebarkan nyamuk Culex. yang perindukannya pada air got (polluted water). Anopheles dan Mansonia.

1 mm dan ekornya melengkung ke arah ventral.3 mm Cacing jantan berukuran 40 X 0.24 – 0. Cacing betina berukuran 80 – 100 X 0. Bentuknya halus seperti benang dan warnanya putih susu. .Morfologi Wucheria banchrofti      Cacing dewasa hidup di dalam saluran dan kelenjar limfe.

Mikrofilaria Mikrofilaria (dari atas ke bawah) Wuchereria bancrofti. Brugia malayi. Brugia timori .

epiteloid. Infiltrasi sel eosinofil. limfosit . saluran limfe tertekan dari dalam dan luar. mengakibatkan terjepit dan matinya cacing di saluran limfe Saluran limfe membesar. atresi atau dilatasi. penyumbatan (obstruksi) kelenjar limfe. edema dan penumpukan fibrin.Patogenesis dan gejala klinis       Cacing filaria menimbulkan reaksi retikulo-endotelial. terdapat (ekstravasasi). histiosit. menimbulkan obliterasi endolimfatik. disertai bentuk saluran yang berliku-liku terjadi aliran balik ke kulit (dermal back flow). sehingga kelenjar ini dilewati (by-pass) Perubahan saluran limphe dapat berbentuk obstruksi. . sel datia. Dinding endotel menebal. Perubahan terjadi pada peri-limfatik.

fibrosis dan obliterasi total saluran limfe. Jalannya penyakit filariasis dapat dibagi :     Masa inkubasi biologi Masa paten tanpa gejala Stadium akut Stadium menahun . dan zat mukoid yang dikeluarkan cacing betina. Cacing dewasa yang mati menimbulkan kalsifikasi.   Gejala disebabkan oleh cairan yang dikeluarkan larva (moulting fluid).

sampai terdapat mikrofilaria dalam darah. sampai timbul peradangan.    Masa inkubasi biologi masuknya L3 ke dalam tubuh. masa ini dapat berlangsung seumur hidup tanpa sadar mengandung parasit filaria. masa inkubasi berlangsung satu tahun dan tidak disertai gejala klinis. Masa paten tanpa gejala dari terdapatnya mikrofilaria di darah. Bagi penduduk di daerah endemik. Bagi penduduk di daerah endemik. .

. Gejala lain yang timbul pada filariasis adalah hipereosinofilia (2090%).Stadium akut         demam. penyakit filariasis dipengaruhi oleh faktor toleransi. Gejala berupa demam. limfangitis dan limfadenitis. penderita mengandung mikrofilaria di darahnya merasa tidak sakit. pembesaran kelenjar limfe terasa nyeri dan panas. limfedema dan elefantiasis. pembesaran kelenjar limfe dan tidak ditemukan mikrofilaria Gejala paru tidak selalu menyertai sindroma klinik sehingga memakai istilah occult filariasis untuk sindroma tropikal eosinofilia. Stadium akut beralih ke stadium menahun gejala hidrokel. Pada pendatang yang tidak mempunyai kekebalan. Di daerah endemik. jatuh sakit setelah beberapa minggu di daerah endemik dengan gejala filariasis. batuk dengan sesak nafas. chyluria.

alat kelamin luar pria dan wanita dan payudara. Cacing dewasa dapat ditemukan pada biopsi kelenjar limfe. Tanda-tanda lain berupa limfedema. disertai lymfadenitis di inguinal dan demam. Gejala peradangan ini timbul setelah bekerja berat. hidrokel dan chyluria. seluruh lengan.     Gejala klinis yang khas berupa lymfangitis di pangkal paha menurun ke distal. . Elefantiasis pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai.

00 (pagi). Diagnosis pasti ditegakkan dari pemeriksaan darah. . Waktu pengambilan darah untuk mendeteksi infeksi W. Mikrofilaria ditemukan dari cairan hidrocel atau chyluria). cairan hidrocel atau cairan chyluria. Sampel darah diambil 15 menit .00 (malam) .4. Cara konsentrasi metode Knott. B.Diagnosis            Memperhatikan riwayat penyakit dan gejala klinis Memeriksa biopsi kelenjar limfe Memeriksa darah. saponin 2% atau asam cuka 2%) dan diperiksa secara langsung (direct smear) diwarnai dengan Giemsa. Darah vena 1 ml ditambah 10 ml formalin 2% untuk hemolisa (dapat diganti air. bancrofti.1 jam setelah pengobatan. malayi dan B. timori periodik nokturna pada pukul 22. Tes provokasi untuk menginduksi mikrofilaria ke darah tepi menggunakan DEC dosis tunggal.

. Hasil pengobatan yang baik bila dilakukan stadium awal. sebanyak 12 dosis Ivermektin dosis 400 μg/kg BB/ hari. Ivermektin dapat membunuh mikrofilaria Untuk kontrol filariasis WHO menganjurkan dosis tunggal. ivermektin (400 μg/kg BB) dikombinasi dengan DEC (6 mg/kg BB) atau menggunakan DEC pada garam.Pengobatan       Obat dietilkarbamasin (Hetrasan) dosis 6 mg/kg berat badan perhari. Persenyawaan Arsen dapat membunuh atau membuat steril cacing betina. bila mencapai stadium kronis pengobatan disertai dengan tindakan pembedahan.

 Cacing jantan 13. Brugia malayi hanya terdapat di Asia dan penyebarannya terutama di pedesaan (rural). Morfologi cacing dewasa  Hidup dalam saluran dan kelenjar limfe. .08 mm dan ekornya melengkung ke arah ventral.Brugia malayi   Penyakitnya disebut Malayan filariasis. Distribusi geografi.13 – 0.17 mm.  Cacing betina berukuran 43.5 – 23.3 X 0.5 – 55 X 0.07 – 0.

patah . susunannya tidak teratur dan pada ekornya terdapat dua buah inti tambahan. Panjang kepala dua kali lebar kepala. Sarung mikrofilaria berwarna merah jambu (dengan Giemsa) Lekuk tubuhnya biasanya tajam dan patah. Inti berkelompok.Mikrofilaria Brugia malayi Morphologi     Panjang 177 – 230 mikron.

Tipe periodik nokturna tersebar di daerah ra wa-rawa di persawahan. anjing. Tipe subperiodik nokturna terdapat di daerah rawa-rawa yang penuh dengan hutan. Vektor utamanya nyamuk Mansonia. Kalimantan dan di Jawa.Mikrofilaria         Sifat periodik nokturna atau sub-periodik nokturna. Terdapat di Sulawesi dan Pulau Buru. kera dan hewan lainnya. Vektor nya adalah Anopheles barbirostris. Di Indonesia terdapat di Sumatra. Parasit ini hidup pada manusia dan hewan pada kucing. .

Siklus hidup Brugia malayi .

Gejala klinis      Gejala demam. limfadenitis menjadi abses dengan fistula sembuh dengan pembentukan jaringan parut. limfangitis dan limfadenitis. Diagnosis dan Pengobatan Sama dengan Wuchereria bancrofti. Gejala trias timbul periodik. . Gejala urogenital tidak terdapat pada penyakit ini elefantiasis mengenai tungkai bawah. setelah bekerja berat dan berlangsung sampai satu minggu. di bawah lutut atau kadang-kadang mengenai lengan bawah atau di bawah siku.

malayi dan letak lebih berjauhan Mikrofilaria bersifat periodik nokturna.Mikrofilaria berukuran 265 – 323 mikron. Rote.Sheath pucat Cephalic space Pjg 3 x lebar . Cacing dewasa hidup di saluran dan kelenjar limfe.Brugia timori           Terdapat di Indonesia di Pulau Timor. Flores. malayi. Gejala klinis mirip dengan B. Allor dan Timor Leste. . Mikrofilarianya menyerupai mikrofilaria B. malayi Lekuk tubuhnya patah-patah dan susunan intinya tidak teratur . Vektor utamanya adalah Anopheles barbirostris.Pada ujung ekor terdpt inti tambahan 2 buah < dp B.

malayi   Sarung tidak mengambil zat warna pada pengecatan Giemsa. malayi . Ukurannya lebih panjang dibandingkan dengan mikrofilaria B.Mikrofilaria Mikrofilaria Brugia timori(Lensa obyetif 40X)   Panjang kepala tiga kali lebar kepala Ekornya mempunyai 2 inti tambahan letaknya lebih berjauhan bila dibandingkan dengan B.

Timor Leste India dan Asia Tenggara * Innenkörper (inner body). daerah dengan inti kurang padat .timori Brugia malayi Rata-rata panjang 220 µm panjang : lebar = 2 :1 Brugia timori 310 µm panjang : lebar = 3 : 1 Cephalic space Selubung (sheath) Inti terminal Rata-rata panjang (Innenkörper)* Distribusi geografi berwarna pink (Giemsa) 4-5 inti tunggal 31 µm berwarna pink pucat 5 – 8 inti tunggal 60 µm Nusa Tenggara Timur.Perbedaan morfologi mikrofilaria Brugia malayi dengan B.

Cacing betina berukuran 50 -70 X 0. Mikrofilaria bersifat periodik. mempunyai selubung.35 – 043 mm. Mikrofilaria berukuran 250 – 300 X 6-8.Loa loa           Terdapat di Afrika Barat sekitar sungai Kongo. Gejala disebabkan oleh cacing dewasa berupa pembengkakan tanpa batas nyata (Calabar swelling) yang dapat berpindah tempat. panjang kepala sama dengan lebar kepala susunan intinya teratur sampai pada ujung ekor. Cacing dewasa di jaringan ikat di bawah kulit. cacing dewasa terdapat di bawah konjungtiva mata menyebabkan gangguan pada mata.5 mikron.5 mm Cacing jantan berukuran 30 -34 X 0. disebut cacing mata (eye worm) .diurna Vektornya lalat Chrysops dimidiata dan Chrysops silacea.

013 – 0. dapat menyebabkan kelainan mata yang dapat berakhir dengan kebutaan .04 cm jantan berukuran 1. S.callidum di Amerika Selatan.2 X 0. metalicum dan S. Cacing dewasa hidup di simpai jaringan ikat di bawah kulit. Gejala klinis berupa tumor di bawah kulit .Onchocerca volvulus                Penyakitnya onkosersiasis atau onkoserkosis. Cacing betina berukuran 13. neavi di Afrika S.021 cm. Mikrofilarianya dapat menyebabkan perasaan gatal. Mikrofilaria tidak mempunyai selubung di bawah epitel kulit. ukuran 150 – 237 X 5 – 7 mikron. Panjang kepala sama dengan lebar kepala Inti teratur dan ujung ekor tidak terdapat inti tambahan Vektor Simulium damnosum dan S.9 – 4. didapat di Afrika dan Amerika Selatan. oncraceum.027 – 0. di Guatemala dan Mexiko pada umumnya di kepala. Di Afika 95% tumor ini terletak bukan di kepala.5 – 50 X 0.

intinya teratur . non-periodik berukuran 200 X 4.         . Gejala klinis biasanya tidak ada (asimtomatis). Cacing dewasa di rongga abdomen. Vektornya Culicoides austoni dan Culicoides grahami. Mikrofilaria tidak mempunyai sarung.5 mikron. pleura dan perikardium. Cacing betina berukuran 7—80 X 0.Dipetalonema (Acanthochoilenema) pertans Terdapat di Afrika dan Amerika Selatan.ekornya berisi 2 baris inti sampai ujung.06 mm.12 mm jantan 45 X 0.

.Dipetalonema (Acanthochelonema) streptocerca Penyebarannya di Afrika Cacing hidup di jaringan di bawah kulit Mikrofilaria berukuran 230 -250 x 2.  Gejala klinis berupa pruritus dan makula yang hipopigmentasi pada kulit. mikrofilaria bentuknya lurus kecuali ekornya melengkung bentuknya seperti tongkat.5 – 5 mikron  Tidak mempunyai sarung terdapat di bawah kulit. Panjang kepala sama dengan lebar kepala dan inti teratur.  Setelah sediaan darah difiksasi.  Pada ujung ekor inti lonjong dan mengisi seluruh ekor.  Vektornya Culicoides grahami.

non-periodik dan mirip dengan mikrofilaria Dipetalonema pertans tetapi ujung ekornya tidak mengandung inti. Gejala klinis biasanya tidak ada (asimtomatis)       . yang jantan berukuran 38 X 0.Mansonella ozzardi Terdapat di Amerika Selatan Cacing dewasa hidup di dalam rongga badan.22 mm. Vektornya Simulium amazonicum dan Culicoides furens.21-0. Mikrofilaria tidak mempunyai sarung. Cacing betina berukuran 65-81 X 0.25 mm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful