PENATALAKSANAAN NYERI KANKER MELALUI PENDEKATAN “ WHO ANALGESIC LADDER ”

DESAK PUTU YULI KURNIATI
PEMBIMBING DR MADE WIRYANA, SP. AN, KIC
BAGIAN/SMF ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR - 2005

PENDAHULUAN
WHO :
– 2/3 PENDERITA KANKER  MENINGGAL – DALAM PERJALANAN PENYAKITNYA 45-100% MENGALAMI NYERI
PENDERITAAN PENANGGULANGAN NYERI  PRIORITAS

PENDAHULUAN
EASTERN COOPERATIVE ONCOLOGY GROUP (ECOG)
– 86% PASIEN TIDAK MENDAPAT PENANGANAN NYERI DENGAN BAIK 51% MENDAPAT PENANGANAN NYERI YANG BAIK

PENDAHULUAN PROSEDUR PENANGGULANGAN NYERI KANKER (WHO) – MULTI DISIPLIN – “WHO ANALGESIC LADDER” – 80-90% NYERI KANKER TERTANGGULANGI DENGAN BAIK .

Disebut ganas karena menimbulkan kerusakan jaringan sekitarnya . yang sama sekali tidak bermanfaat. yang menyertai kerusakan jaringan Tumor  pertumbuhan jaringan atau sel-sel diluar kendali.NYERI KANKER International Association for the Study of Pain (IASP): nyeri  sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan.

PENYEBAB NYERI KANKER Tumor (75-80%) Pengobatan anti kanker (15-19%) Tidak berhubungan dengan tumor ataupun pengobatannya(3-5%) .

Berdasarkan jenisnya Nyeri nosiseptif Nyeri Neuropati Nyeri idiopatik  psikologis 2. Berdasarkan timbulnya nyeri Nyeri akut Nyeri kronis 3.TIPE NYERI KANKER 1. Berdasarkan derajat nyeri nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat .

PROSES PERJALANAN NYERI .

RESPON TUBUH TERHADAP NYERI * KARDIOVASKULER HOMEOSTASIS CAIRAN & ELEKTROLIT RESPIRASI CNS & PSIKOLOGIS NYERI KANKER GIT & GINJAL IMUNITAS METABOLISME & ENDOKRIN HEMATOLOGI .

* ANAMNESIS PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS DIAGNOSIS PEMERIKSAAN FISIK PEMERIKSAAN PENUNJANG .

Numerical Rating Scale (NRSs) 3. Visual Analogue Scale (VASs) 4. McGill Poin Questionaire (MPQ) 5.PENGUKURAN INTENSITAS NYERI 1. Verbal rating Scale(VRSs) 2. Behavioral Rating Scale (BRS) .

Numerical rating Scale (NRSs) .

Visual Analogue Scale (VASs) .

10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 .Behavioral Rating Scale (BRS) * Skala nyeri berdasarkan ekpresi wajah Tidak Nyeri Nyeri Menggangu Nyeri Berat Skala nyeri numerik 0 .

PENATALAKSANAAN NYERI KANKER Sasaran  peningkatan kualitas hidup Nyeri berkurang/teratasi pada malam hari Nyeri teratasi pada siang hari Nyeri teratasi saat penderita beraktifitas .

PENATALAKSANAAN NYERI KANKER MANAJEMEN NYERI KANKER ATASI PENYEBABNYA ATASI NYERI PERBAIKI KEADAAN UMUM PENDERITA PSIKOTERAPI FISIKOTERAPI .

PENATALAKSANAAN NYERI KANKER TERAPI MULTIMODAL NEUROSURGERY KEMOTERAPI RADIASI TERAPI PALIATIF NYERI KANKER FARMAKOTERAPI BEDAH ORTOPEDI BLOK SARAF TERAPI LAIN .

PRINSIP FARMAKOTERAPI NYERI KANKER RUTE PEMBERIAN OBAT MELALUI ORAL TEPAT WAKTU SESUAI TANGGA WHO TERGANTUNG KONDISI PASIEN PERLU PERHATIAN & KONTROL DARI PETUGAS KESEHATAN .

ADJUVANT Step 3.WHO analgesic ladder PAIN PERSISTING FREEDOM FROM CANCER PAIN OR INCREASING Step 4. STRONG OPIOID +/.ADJUVANT PAIN PERSISTING OR INCREASING PAIN PERSISTING OR INCREASING PAIN PERSISTING OR INCREASING PAIN . NON OPIOID +/.NON OPIOID +/. INTERVENTIONAL PAIN MANAGEMENT +/.NON OPIOID +/. WEAK OPIOID +/.ADJUVANT Step 2.ADJUVANT Step 1.

KETOPROFEN.ANTIPIRETIK HAMBAT AKTIVASI COX TOKSISITAS HEPAR NSAID HAMBAT AKTIVASI COX CONTOH: IBUPROFEN. INDOMETASIN. PIROKSIKAM .ANALGESIA NON OPIOID ASETAMINOFEN (PARACETAMOL) ANALGETIK – ANTIPIRETIK MENINGKATKAN AMBANG BATAS NYERI TOKSISITAS HEPAR ASAM ASETISALISILAT (ASPIRIN) ANALGETIK .NAPROKSEN.

TRAMADOL KUAT – MORFIN. OKSIKODON. DEKSTROPROFOKSIFEN. HIDROMORFON. BUPRENORFIN BERIKATAN PADA RESEPTOR OPIOID DIMETABOLISME DI HEPAR & DIEKSKRESI MELALUI GINJAL . DIHIDROKODEIN. LEVORFANOL. METADON.OPIOID OPIOID : LEMAH – CODEIN. MEPERIDIN.

INTRASPINAL .SUBKUTAN .INTRAMUSKULER .INTRAVENA .OPIOID CARA PEMBERIAN : – – – – – ORAL REKTAL TRANSDERMAL SUBLINGUAL INTRACEREBROVENTRIKULER .

OPIOID EFEK SAMPING – – – – – – – – – MUAL MUNTAH KONSTIPASI MULUT KERING PRODUKSI KERINGAT BERLEBIH DELIRIUM HALUSINASI RETENSI URIN KEJANG/ MYOKLONIC JERKS DEPRESI NAPAS .

& ESO MINIMAL (TURUN 25-30%) EQUIANALGESIC DOSES CONTOH: – MORFIN 50 MG / ORAL/24 JAM = FENTANIL TRANSDERMAL 25 MCG/JAM – MORFIN IV = 1/3 MORFIN ORAL . DENGAN EFEKTIFITAS SAMA .OPIOID SWITCHING PENGGUNAAN OPIOID >>  ESO >> SWITCH KE OPIOID ALTERNATIF.

ADIKSI & TOLERANSI OPIOID ADIKSI  KETERGANTUNGAN FISIK DAN PSIKIK YG DITANDAI OLEH WITHDRAWAL SYNDROME TOLERANSI  PENINGKATAN DOSIS PADA PENGGUNAAN OBAT SECARA BERULANG UNTUK MENDAPATKAN EFEK KLINIS YANG SAMA SEPERTI SEBELUMNYA .

TEKNIK INTERVENSI PADA NYERI KANKER NEUROABLATIF PERIPHERAL NEUROLYTIC BLOCKADE GANGLIONIC BLOCKADE CORDOTOMY CINGULOTOMY AUGMENTATIF INFUSIONAL ELECTRICAL STIMULATION .

TEKNIK AUGMENTATIF INFUSIONAL – TERAPI OPIOID MELALUI INTRAVENA SUBKUTAN INTRACEREBROVENTRIKULER INTRA SPINAL (EPIDURAL / INTRATEKAL) ELECTRICAL STIMULATION AKUPUNTUR RANGSANGAN KOLUMNA DORSALIS .

PERIPHERAL NEUROLYTIC BLOCKADE .

cordotomy Melumpuhkan cabang saraf pengantar rangsang nyeri pada spinal .

cingulotomy Psychosurgical Melumpuhkan serabut supracallosal dari bundel cingulum .

PATIENT CONTROLLED ANALGESIA (PCA) Teknik pemberian opioid yang dikontrol oleh pasien Overdosis? – Dosis – Kecepatan pemberian – Seting waktu pemberian .

ADJUVANT MANFAAT: MENAMBAH EFEKTIFITAS ANALGESIA MENGATASI GEJALA YANG MENYERTAI NYERI MEMBERIKAN EFEK ANALGESIA TERSENDIRI JENIS: TRISIKLIK ANTIDEPRESAN KORTIKOSTEROID ANTIKONVULSAN AGONIS ALFA 2 ADRENERGIK ANTIPSIKOTIK BIFOSFONAT .

kesimpulan .

kesimpulan .

. * .