Spondilitis Tuberculosa

(Referat)

Oleh: IHSANUR RIDHA 0818011067

SMF RADIOLOGI RSUD DR. H. ABDOEL MOELOEK 2013

•Spondilitis TBC, juga dikenal sebagai penyakit Pott, yaitu merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia.

•Terhitung kurang lebih 3 juta kematian terjadi setiap tahunnya dikarenakan penyakit ini.

•Di negara yang sedang berkembang penyakit ini merupakan penyebab paling sering untuk kondisi paraplegia non traumatik.

•Insidensi paraplegia, terjadi lebih tinggi pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak.

Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra Th 8- L3 dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis TB biasanya mengenai korpus vertebra, sehingga jarang menyerang arkus vertebra (Mansjoer, 2000).

Mycrobacterium tuberculosis Dapat juga:
 Mycobacterium africanum  Bovine tubercle baccilus  Non-tuberculous mycobacteria (banyak ditemukan pada penderita HIV).

 

Tuberkulosa pada tulang belakang  Penyebaran hematogen  Penyebaran langsung nodus limfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari fokus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luar tulang belakang. Sumber infeksi yang paling sering adalah berasal dari sistem pulmoner dan genitourinarius Anak-anak (penyebaran dari fokus primer di paru) Dewasa (penyebaran fokus primer ekstrapulmoner: ginjal, usus, tonsil).

 

Nekrosis perkijuan mencegah pembentukan tulang baru dan pada saat yang bersamaan menyebabkan tulang menjadi avascular  tuberculous sequestra Suplai darah terganggu  tulang nekrosis Destruksi progresif tulang di bagian anterior hilangnya kekuatan mekanis tulang untuk menahan berat badan  kolaps vertebra  timbul deformitas berbentuk kifosis Bila sudah timbul deformitas ini, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa penyakit ini sudah meluas

Peridiskal / paradiskal
 Infeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area metafise di bawah ligamentum longitudinal anterior / area subkondral)  Banyak pada dewasa  kompresi, iskemia dan nekrosis diskus  Terbanyak regio lumbal

Sentral (pada sentral korpus vertebra)
     Sering disalah artikan tumor Sering pada anak2 Kolaps vertebra dini  deformitas spinal yang lebih hebat Kompresi bersifat spontan atau akibat trauma Terbanyak regio torakal

Anterior
◦ Infeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di atas dan dibawahnya ◦ Radiologis : adanya scalloped karena erosi bag anterior sejulah vertebra (berbentuk baji)

Atipikal
◦ terlalu tersebar luas dan fokus primernya tidak dapat diidentifikasikan ◦ Termasuk TB spinal dengan keterlibatan lengkung saraf saja dan granuloma yg terjadi di canalis spinalis tanpa keterlibatan tulang. ◦ lesi di pedikel, lamina, prosesus transversus dan spinosus, serta lesi artikuler yang berada di sendi intervertebral posterior

Sejumlah mekanisme yang menimbulkan defisit neurologis dapat timbul pada pasien dengan spondilitis tuberkulosa.

Kompresi syaraf sendiri dapat terjadi karena kelainan pada tulang (kifosis) atau dalam canalis spinalis (karena perluasan langsung dari infeksi granulomatosa) tanpa keterlibatan dari tulang (seperti epidural granuloma, intradural granuloma, tuberculous arachnoiditis).

Sorrel-Dejerine mengklasifikasikan Pott’s paraplegia menjadi:
◦ Early onset paresis : Terjadi kurang dari dua tahun sejak onset penyakit ◦ Late onset paresis : Terjadi setelah lebih dari dua tahun sejak onset penyakit

    

 

Gambaran adanya penyakit sistemik Adanya riwayat batuk lama (lebih dari 3 minggu) berdahak atau berdarah disertai nyeri dada. Nyeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang menjalar. Pola jalan merefleksikan rigiditas protektif dari tulang belakang. Bila infeksi melibatkan area servikal maka pasien tidak dapat menolehkan kepalanya, mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi dan duduk dalam posisi dagu disangga oleh satu tangannya, sementara tangan lainnya di oksipital. Infeksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku. Di regio lumbar : abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang terjadi di atas atau di bawah lipat paha.

Tampak adanya deformitas,: kifosis (gibbus/angulasi tulang belakang), skoliosis, bayonet deformity, subluksasi, spondilolistesis, dan dislokasi. Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang berfluktuasi dan kulit diatasnya terasa sedikit hangat (cold abcess) Spasme otot protektif disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang terkena

Laboratorium :
◦ LED meningkat (tidak spesifik), dari 20 sampai lebih dari 100mm/jam. ◦ Tuberculin skin test / Mantoux test / Tuberculine Purified Protein Derivative (PPD) positif ◦ Kultur urin pagi (bila terdapat keterlibatan ginjal), sputum, dan bilas lambung (positif) ◦ Apus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang bersifat relatif ◦ Cairan serebrospinal dapat abnormal (pada kasus dengan meningitis tuberkulosa)

Radiologis

 

Tanda radiologis di tulang belakang baru dapat terlihat setelah 3-8 minggu onset penyakit. Jarang melibatkan pedikel, lamina, prosesus transversus atau prosesus spinosus Foto rontgen dada dilakukan pada seluruh pasien untuk mencari bukti adanya tuberkulosa di paru Foto polos seluruh tulang belakang juga diperlukan untuk mencari bukti adanya tuberkulosa di tulang belakang. Jika mungkin lakukan rontgen dari arah antero-posterior dan lateral. Keterlibatan bagian lateral corpus vertebra akan menyebabkan timbulnya deformita scoliosis (jarang) Pada pasien dengan deformitas gibbus karena infeksi sekunder tuberkulosa yang sudah lama akan tampak tulang vertebra yang mempunyai rasio tinggi lebih besar dari lebarnya (vertebra yang normal mempunyai rasio lebar lebih besar terhadap tingginya). Dapat terlihat keterlibatan jaringan lunak, seperti abses paravertebral dan psoas.

 

Computed Tomography (CT Scan) Magnetic Resonance Imaging (MRI)
◦ ◦ ◦ ◦ Membedakan kompresi dan non kompresi Menentukan terapi konservatif atau operasi menilai respon terapi. Namun, dapat terlewatinya fragmen tulang kecil dan kalsifikasi di abses.


Neddle biopsi Aspirasi pus paravertebral

   

Infeksi piogenik Infeksi enterik Tumor/penyakit keganasan Scheuermann’s disease

 

 

Cedera corda spinalis (spinal cord injury) Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses paravertebral Kifosis Defisit neurologis

Tujuan terapi
◦ Mengeradikasi infeksi atau setidaknya menahan progresifitas penyakit ◦ Mencegah atau mengkoreksi deformitas atau defisit neurologis

  

Pemberian nutrisi yang bergizi Pemberian kemoterapi atau terapi anti tuberkulosa Tirah baring (resting)

Indikasi untuk pengobatan bedah penyakit Pott:
◦ ◦ ◦ ◦ ◦ defisit neurologis deformitas spinal dengan ketidakstabilan atau sakit Tidak ada respon terhadap terapi medis abses paraspinal Besar Nondiagnostic jarum biopsi percutaneous sampel

Pada penyakit Pott yang melibatkan tulang belakang leher, faktor-faktor berikut membenarkan awal intervensi bedah:
◦ tinggi frekuensi dan tingkat keparahan defisit neurologis ◦ parah abses kompresi yang dapat menyebabkan disfagia atau asfiksia ◦ Ketidakstabilan dari cervical spine

Kontraindikasi: Vertebral collapse tidak dipertimbangkan sebagai indikasi untuk operasi karena, dengan perawatan yang tepat dan kepatuhan terapi, sangat kecil kemungkinan untuk maju sampai terjadinya deformitas berat

Terima kasih

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful