You are on page 1of 19

Seorang Perempuan 58 Tahun Dengan Rhinosinusitis Kronik Maksilaris Dextra Dan Rhinitis Alergi Persisten Sedang Berat

Disusun : Johan Qalaba 22010111200001

INDENTITAS PENDERITA
Nama lengkap Tempat tgl lahir Jenis kelamin Agama Warga negara Suku Alamat lengkap Pekerjaan Pendidikan tertinggi No.RM :H : semarang 16-12-1955 (58thn) : perempuan : islam : indonesia : jawa : Semarang : Guru : S1 : C077205

Keluhan utama: Bersin-bersin

RESUME
 RPS:  ±3 tahun yang lalu pasien mengeluh bersin-bersin tiap pagi

hari dan mereda saat siang hari. Bersin dirasakan >4x setiap serangan sehingga mengganggu saat tidur dan bekerja. Pilek(+) encer bening, hidung tersumbat (+/+), hidung gatal (+), mata gatal dan berair (+), demam(-), sakit kepala (-), lalu pasien berobat dan diberikan obat minum (pasien lupa), pasien membaik namun masih sering kambuh.  ±5 bulan yang lalu pasien merasakan sakit kepala (+) hilang timbul, sakit kepala dirasakan saat pilek, hidung tersumbat (+/+0 keluar cairan dari hidung (+/+), encer bening, hidung gatal(+), batuk (-), nyeri telan(-), terasa ada lendir mengalir di tenggorok (-). Lalu pasien periksa klinik THT RSDK

 RPD  Riw. Kencing manis(-)  Riw. Darah tinggi(-)

 Riw. Asma (-)
 Riwayat penyakit keluarga  Riw. Kencing manis (-)  Riw. Darah tinggi (-)  Riw. Asma (-)  Riw. Atopi (-)  Keadaan sosial ekonomi  Pasien bekerja sebagai Guru, suami tidak bekerja, memiliki 3 orang

anak yang sudah mandiri, biaya pengobatan ditanggung oleh ASKES  kesan sosial ekonomi cukup

 Pemeriksaan fisik  Tanda Vital :

 TD : 130/80 mmHg

RR : 18x/menit  N : 80x/menit Suhu : Afebris  Status Generalis : dalam batas normal
 Telinga     


: dalam batas normal Hidung dan sinus paranasal : Hidung : simetris, massa(-), nyeri tekan (-), deformitas (-) Sinus : Maksilaris : nyeri ketok (+/-) : nyeri tekan (+/-) Rinoskopi anterior : Discaj : serous (+/+) Mukosa : livid (+/+)

 Konka  Tumor

 Septum
 Tenggorok  Kepala

: hipertrofi (+/+) : (-) : simetris : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : pembesaran nnll (-)

 Gigi Mulut
 Leher  Pemeriksaan penunjang  Diafanoskopi    

: tampak kesuraman pada sinus maksilaris dextra Skin Prick Test(18 april 2013) : Inhalasi : +3 Maize pollen +3 Grass pollen Ingestan: -

 Diagnosis banding

 Rhinosinusitis kronik
 Rhinitis Alergi persisten sedang berat  Diagnosis sementara  Rhinosinusitis kronik  Rhinitis Alergi persisten sedang berat  Rencana pengelolaan

Pemeriksaan diagnostik S:O: x foto sinus paranasal Terapi Rhinos SR 1 tab/12 jam Avamys spray 2 puff/1x

 Paracetamol 500mg/8 jam  Pemantauan

Kondisi umum pasien Progesivitas penyakit
 Penyuluhan

Menjelaskan tentang penyakit yang diderita oleh pasien, mengedukasi pasien untuk menghindari dari faktor pencetus ( bunga ) Kontrol 2 minggu lagi
 Prognosis

Quo ad vitam : ad bonam Quo ad sanam : dubia ad bonam Quo ad fungsionam: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
 Definisi

Rinosinusitis didefinisikan secara klinis sebagai suatu kondisi yang merupakan manifestasi dari respon keradangan membran mukosa sinus paranasalis yang biasanya dihubungkan dengan infeksi yang dapat menyebabkan penebalan mukosa dan akumulasi sekret mukus dalam rongga sinus paranasalis

Etiologi  Berbagai faktor berperan penting dalam perkembangan rinosinusitis kronis, meskipun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Faktor tersebut meliputi faktor intrinsik (penjamu/host) yang terdiri dari faktor sistemik dan lokal serta faktor ekstrinsik (lingkungan)  Adapun faktor resiko yang paling sering berhubungan dengan rhinosinusitis kronis yaitu: - Obstruksi mekanik - Riwayat alergi - Asma - Inflamasi yang di induksi oleh superantigen bakteri dan reaksi imun terhadap jamur serta adanya polutan seperti rokok

Gambaran Klinis
Gejala lokal, regional dan sistemik Gejala lokal - Hidung tersumbat - Hidung berair - Nyeri/rasa penuh pada wajah - Nyeri kepala - Gangguan penciuman – anosmia Gejala regional - Nyeri tenggorok - Disfonia - Batuk - Halitosis - Bronkospasm - Rasa penuh/nyeri pada telinga - Nyeri gigi

 Gejala sistemik
- Kelelahan - Demam - Anoreksia

Diagnosis
 Diagnosis rinosinusitis kronis dapat ditegakkan dari - anamnesis dan pemeriksaan fisik THT dengan rinoskopi anterior dan posterior - nasoendoskopi kaku ataupun fleksibel - pemeriksaan radiologi seperti Röntgen - tomografi komputer sinus paranasal - pemeriksaan mikrobiologi untuk identifikasi kuman patogen, yang paling baik didapatkan dari aspirasi sinus maksila

 Kriteria diagnosis menurut The European Position Paper On Rhinosinusitis And Nasal Polyps (EPOS)

Rhinosinusitis kronis dengan atau tanpa polip dari muncul nya dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior) dan nyeri/tekanan wajah atau penurunan/hilangnya fungsi penciuman yang dirasakan lebih dari 12 minggu

Kriteria diganosis menurut American academy of Otolaryngology (AAO) Diagnosis di tegakkan bila terdapat dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dengan dua kriteria minor selama sekurangkurangnya 12 minggu Kriteria mayor : - Nyeri wajah - Rasa penuh pada wajah - Hidung tersumbat - Hidung berair - Sekret purulen - Hiposmia atau anosmia - Demam (kondisi akut)

 Kriteria minor :
- Nyeri kepala - Demam - Halitosis - Kelelahan - Nyeri gigi - Batuk - Nyeri/penuh pada telinga

Komplikasi
Komplikasi pada rinosinusitis kronis - Terbentuknya mukosil pada sinus dan osteomielitis (pott’s puffy tumor) - Selulitis periorbita/ preseptal - Selulitis orbita - Abses subperiosteal - Abses orbita - Trombosis sinus kavernosus - Komplikasi intrakranial

Penatalaksanaan
 Terapi medikamentosa bertujuan untuk mengurangi

inflamasi mukosa, meningkatkan drainase sinus dan mengeradikasi bakteri dan/atau jamur. Terapi ini meliputi antibiotik spektrum luas atau berdasarkan kultur dari meatus media, steroid oral (dimulai dari dosis 60 mg/hari dan tappering off selama 3 minggu), irigasi salin hipertonik, steroid semprot nasal, antihistamin oral atau semprot nasal (bila terdapat kecurigaan alergi), mukolitik dan desensitisasi aspirin (bila terdapat intoleransi aspirin). Untuk rinosinusitis kronis dapat diberikan terapi antibiotik berupa amoksisilin klavulanat, golongan quinolon (seperti levofloksasin), atau terapi kombinasi seperti klindamisin dan trimetoprimsulfametoksazol

Terima kasih