MIKROORGANISME PENYEBAB INFEKSI KULIT

BAGIAN MIKROBIOLOGI FK UISU MEDAN 2011

PENDAHULUAN
• Mikroorganisme adalah organisme hidup yang berukuran mikroskopis sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang  bakteri, virus, jamur, protozoa • Mikroorganisme dapat berifat parasit (patogen) dan komensal pada tubuh manusia (flora normal) • Flora normal pada manusia terdapat di mukosa (selaput lendir) dan di kulit

• Flora normal dalam tubuh umumnya tidak patogen, namun dapat menyebabkan penyakit bila karena keadaan tertentu berada di tempat yang tidak semestinya atau bila ada faktor predisposisi
• Infeksi menimbulkan perubahan fisiologi normal tubuh  Penyakit

KULIT .

BAKTERI PENYEBAB INFEKSI KULIT .

fisiologis. ekologi.PENDAHULUAN • Bakteri merupakan Prokariota bersel tunggal (uniseluler) • Spesies bakteri dapat ditentukan berdasarkan sifat-sifat struktural. dan sifat genetik • Kebanyakan flora normal yang terdapat pada tubuh manusia adalah jenis bakteri • Bakteri yang mengontaminasi kulit dapat hidup dan bermultiplikasi (kolonisasi) yang kemudian dapat menimbulkan penyakit infeksi . biokimia. homologi. komposisi basa DNA.

• Frekuensi kontaminasi menimbulkan kolonisasi dan kolonisasi menimbulkan penyakit infeksi bergantung pada: 1. Pertahanan atau imunitas hospes . Besarnya inokulasi 3. Tempat masuk kuman (port d’ entree) 4. Virulensi organisme: – Daya invasi – Toksigenitas 2.

BAKTERI PENYEBAB INFEKSI KULIT • Pioderma – Staphylococcus sp. – Other bacteria . – Mycobacterium sp. – Sterptococcus sp. • Non Pioderma – Corynebacterium sp.

PIODERMA • Penyakit kulit yang purulen • Etiologi utama: Pyogenes-cocci – Staphylococcus aureus – Streptococcus B hemolyticus .

Staphylococcus sp Impetigo bulosa Streptococcus sp Impetigo Krustosa Impetigo neonatorum Staphylococcal Scalded Skin Syndrom Folikulitis Furunkel dan Karbunkel Paronikia/ Pionikia Abses multipel kelenjar keringat Hidraadenitis supuratif Ektima Erisipelas Selulitis Flegmon Scarlet Fever .

Impetigo bulosa: Staphylococcus aureus • Impegtinization  terjadinya impetigo pada area yang sebelumnya terkena penyakit kulit yang lain • General bula & deskuamasi pada infant  Impetigo Neonatorum .IMPETIGO • Pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis) • 2 bentuk klinis: 1. Impetigo krustosa: Streptococcus B hemolyticus 2.

EKTIMA • Pioderma ulceratif atau ulkus superfisial dengan krusta diatasnya • Etiologi: Streptococcus β haemolyticus grup A • Pada lokasi cedera ringan • Secara predominan mengenai tulang kering dan punggung kaki • Umumnya menyembuh dengan pembentukan jaringan parut yang bervariasi .

pustula.FOLIKULITIS • Pyoderma pada folikel rambut • Etiologi: Staphylococcus aureus • Karakteristik dengan folikular papula. erosi atau krusta pada folikular infundibulum (epidermis) • Bagian yang terlibat dpt sampai dalam hingga seluruh panjang folikel (Dermis & Subkutis) .

FURUNKEL DAN KARBUNKEL • Abses akut pd folikel rambut dan sekitarnya • Etiologi: Staphylococcus aureus • Furunculosis: lebih dari 1 folikel • Carbuncle: .

PARONIKIA/ PIONIKIA • Inflamasi akut pada lateral dan posterior lipatan kuku • Etiologi: – Staphylococcus aureus – Streptococcus B hemolyticus .

ERISIPELAS. SELULITIS & FLEGMON Peradangan akut. . penyebaran infeksi pada dermal dan jaringan subkutan Karakterisasi: merah. panas. nyeri sekitar lesi. sering pada tempat bakteri masuk Penyebab tersering: Streptococcus pyogenes dan mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan gangguan sistemik hebat.

H.ERISIPELAS • Dermis dan subkutan bagian atas • Batas nyata + lymphangitis • Etiologi: Streptococcus β hemolyticus grup A SELULITIS • Melibatkan seluruh jaringan subkutan.influenzae FLEGMON • Selulitis yang mengalami supuratif dan pecah . Staphylococcus aureus. difus • Infiltrate with raised + pembengkakan area • Etiologi: Streptococcus pyogenes .

Selulitis Erisipelas .

: – Erythrasma: C. dan Micrococcus sedentarius • Mycobacterium sp: – Lepra (Morbus Hansen): M. leprae – Tuberculosis cutis: M. M. tuberculosis (Scrofuloderma.scrofulaceum. tenuis – Pitted keratolysis: Corynebacterium spp. dll. chelonei. Minutissimum – Tichomycosis axillaris: C. fortuitum. Marinum. TBC cutis verrucosa dll. . M.NON PIODERMA • Corynebacterium spp.) – Atypical Mycobacterium Infection: M. M.

Enterobacter.• Gram (+)/(-) bacteria: – – – – Erysipeloid: Erysipelothrix rhusiopathiae Anthrax: Bacillus anthracis Pseudomonas folliculitis: Pseudomonas aeruginosa Gram negatif folliculitis: Klebsiella. Proteus sp. .

DIAGNOSA LABORATORIUM • Pemeriksaan mikroskopik: – Identifikasi bakteri dapat dilakukan Pewarnaan Gram atau Pewarnaan BTA • Kultur Perbenihan pada media padat dalam inkubator dengan suhu 37°C selama 24 jam • Uji kerentanan .

JAMUR PENYEBAB INFEKSI KULIT .

• About 300 species are presently known to be pathogenic for man. • There are between 100. .000 species depending on how they are classified.Introduction • Fungi are eukaryotic organisms that do not contain chlorophyll • but have cell walls • filamentous structures • produce spores • These organisms grow as saprophytes and decompose dead organic matter.000 to 200.

The most practical method for medical students is the clinical taxonomy which divides the fungi into: – Superficial mycoses – Subcutaneous mycoses – Systemic mycoses – Opportunistic mycose .CLINICAL CLASSIFICATION OF THE MYCOSES Fungal diseases may be discussed in a variety of ways.

imbrikata & T.MIKOSIS Superficialis Dermatofitosis Non Dermatofitosis Pitiriasis versikolor Piedra hitam Piedra putih Tinea nigra palmaris Otomikosis Intermediate Profunda Subcutis Sistemik Tinea capitis Tinea barbae Tinea corporis ( T. favosa ) Tinea manum Tinea pedis Tinea kruris Tinea unguium Kandidiasis Aspergillosis Misetoma Kromomikosis Sporotrikosis Fikomikosis subkutan Rinosporodiosis Aktinomikosis Nokardiosis Histoplasmosis Kriptokokosis Koksidioidomikosis Blastomikosis Fikomikosis sistemik .

Mikosis utama dan jamur penyebab
Tipe mikosis Permukaan Agen jamur penyebab
Malassezia furfur Hortaea werneckii Piedra hortae Spesies Trichophyton Spesies Microsporum, Spesies Trichophyton, epidermophyton floccosum Spesies Candida Sporothrix schenckii

Mikosis
Pityriasis versikolor Tinea nigra Piedra hitam Piedra putih Dermatofitosis

Kulit

Candidiasis kulit, mukosa Sporotrichosis

Subkutan

Endemis (primer,sistemik)
Oportunistik

Histoplasma capsulatum Blastomyces dermatitidis
Candida albicans Aspergillus fumigatus Penicillium marneffei

Histoplasmosis Blastomikosis
Candidiasis Aspergillosis Penicillosis

DERMATOPHYTOSIS

Trichophyton rubrum

SUPERFICIAL MYCOSES
• The superficial (cutaneous) mycoses are usually confined to the outer layers of skin, hair, and nails and do not invade living tissues. • The fungi are called dermatophytes. • Dermatophytes, or more properly, keratinophilic fungi, produce extracellular enzymes (keratinases) which are capable of hydrolyzing keratin.

.

Dermatologists use the term to refer to a variety of lesions of the skin or scalp. .CLINICAL MANIFESTATIONS Tinea means "ringworm" or "moth-like".

or “ringworm” on this patient’s arm due to the dermatophytic fungus Trichophyton rubrum. . and are some of the leading causes of hair. skin and nail infections.Tinea corporis • small lesions occurring anywhere on the body • Tinea corporis lesions. • Dermatophytic members of the genus Trichophyton inhabit the soil. humans or animals. or dermatophytosis in their human hosts.

• The genus Trichophyton inhabits the soil. humans or animals. or dermatophytosis in humans. skin and nail infections. .• Patient with ringworm on the arm. or tinea corporis due to Trichophyton mentagrophytes. and is one of the leading causes of hair.

This patient. or dermatophyte on man and animals. the genus Trichophyton is characterized by colorless spores that can cause ringworm on the body. a native of New Guinea. This condition is called Tinea corporis. has ringworm on the skin of the right axilla and flank due to Trichophyton rubrum. Usually occurring as a skin parasite. CDC/Lucille K. Georg .

Infection of toe webs and soles of feet.Tinea pedis • "athlete's foot". • Trichophyton rubrum. Epidermophyton floccosum .

Tinea unguium • Trichophyton rubrum • Epidermophyton floccosum .

Microsporum canis) Microsporum canis .Tinea capitis (Trichophyton mentagrophytes.

Epidermophyton floccosum . • Trichophyton rubrum. • Infection of the groin. perineum or perianal area.Tinea cruris • "jock itch".

known as “tinea barbae”. or as a cutaneous granulomatous lesion. a chronic inflammatory reaction. i. • .Tinea barbae • Ringworm of the bearded areas of the face and neck. or “barber’s itch”. • Generally.e. • Tinea barbae is due to a dermatophytic infection around the bearded area of men. the infection occurs as a follicular inflammation.

DIAGNOSA 1. Lampu wood (wood light) – Beberapa spesies dermatofita seperti M.distortum.kadang M.audolnii.scheeleinii memberikan floresensi putih kebiru-biruan . M.ferrugineum dan kadang. M.canis. M.

pembesaran 10-40 x . Direct smear: Pemeriksaan langsung dengan larutan NaOH atau KOH 10-20% dan LPCB Cara kerja : 1.2. lalu letakkan spesimen yang akan diperiksa kemudian tutup dengan deck glass 3. Lihat dibawah mikroskop. lalu letakkan spesimen yang akan diperiksa dan tutup dengan deck glass 2. Ambil sebuah object glass tetesi dengan NaOH atau KOH 10-20%. Ambil sebuah object glass tetesi dengan Lacto Phenol Cotton Blue (LPCB).

Kultur • Dengan menggunakan media: – Sabouraoud Desxtrose Agar – Potato Dextrose Agar – Corn Meal Agar • Pertumbuhan jamur umumnya dapat terlihat dalam waktu 7-10 hari pada suhu 37°C .3.

Mikosis Superfisialis Non dermatophytosis .

C.NON DERMATOPHYTOSIS A. B. D. Pityriasis versicolor Tinea nigra Piedra hitam Piedra putih .

Pityriasis Versicolor Etiologi  Malassezia furfur (Pityrosporum • • • • • orbiculare) Bag tubuh >> kel.keringat Flora normal kulit Lipofilik Perlu media dengan suplementasi asam lemak untuk tumbuh Ragi bertunas .

Gejala Klinik
• Lesi bagian atas kaki, tangan, perut

• lesi makular hipopigmentasi /hiperpigmentasi yang diskret • Sisik, gambaran kering seperti kapur • Bentuk papula jarang • Pd bbrp kasus dimana fol.rambut terkena folikulitis

Pityriasis folliculitis

Diagnosis • Kerokan kulit pada lesi + KOH 10% “Spaghetti & meatballs appereance” • Lampu wood fluoresensi berwarna kuning keemasan pada lesi yang bersisik • Kultur tidak rutin dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis

Tinea Nigra Etiologi Exophiala werneckii • Menghasilkan melanin  coklat-hitam • Pd isolasi primer pertumbuhan dlm bentuk ragi dgn byk sel dlm berbagai tahap pembelahankarakteristik strukt 2 sel oval .

Gejala Klinik • Asimptomatik • Lesi makular. batas jelas. meluas ke perifer • Lesi coklat s/d hitam  daerah tangan dan kaki • Sering muncul di daerah tubuh lain .

struktur seperti ragi dan fragmen hifa (dgn KOH) • Harus dikonfirmasi dgn pemeriksaan kultur .Diagnosis • gambaran khas pigmentasi gelap • Pemeriksaan mikroskopik: .

Piedra Hitam Etiologi Piedraia hortae • Ditemukan dalam bentuk teleomorfik ketika berkoloni pd rambut • Kultur ditemukan hanya stadium aseksual dari jamur yang terdiri dari: – miselium tumbuh lambat – warna coklat samapai dengan hitam kemerahan .

berisi askus Diagnosis • Infeksi mudah didiagnosis dengan pemeriksaan mikroskopik pada rambut yang terinfeksi .Gambaran Klinik • Nodul sepanjang rambut yang terinfeksi • Nodul : konsistensi keras. mengandung karbon.

Etiologi Trichosporon beigelii • Tumbuh pada semua media lab. konsistensi seperti bubur • Kultur dewasa: koloni semakin masuk kedalam media. kecuali media dengan sikloheksimid • Kultur muda: wrn putih. menyebarwarna kuning seperti krim • Pem. mikroskopis adanya hifa bersepta & fragmen-fragmen yang dengan cepatarthrokonidia Piedra Putih .

.Gejala Klinik • Mengenai rambut kepala.kumis dan jenggot • Perkembangan koloni seperti krim yang lembut sepanjang rambut.

pedikulosis .Diagnosis • Identifikasi: Berbagai tes biokimia & kemampuan untuk asimilasi KH • Pemeriksaan mikroskopis rambut yg terinfeksi & konfirmasi melalui kultur organisme. • DD/: trichomycosis axillaris .

PENGOBATAN • Respon pengobatan baik • Pendekatan umum perawatan pityriasis versicolor dan tinea nigra menghilangkan organisme dari kulit penggunaan secara topikal agen keratolitik .

. hortae dan T. beigelii • mencukur rambut yang terinfeksi sampai dengan mengerok kulit pada daerah tersebut.• Th/ yang efektif dari infeksi jamur pada rambut akibat P. • Infeksi ini tidak akan muncul kembali jika pasien memperhatikan higienis perorangan.

VIRUS PENYEBAB INFEKSI KULIT .

DNA VIRUSES .

RNA VIRUSES .

• Skin as port d’ entree of viral infection in human • The pathogenesis of infections causing mucocutaneus lesion • Viruses causing mucocutaneus lesions: 1. 4. 3. 2. Herpes simplex virus Herpes zoster virus Papilloma virus Poxvirus .

.

.

.

.

– They are capable of causing overt disease or remaining silent for many years only to be reactivated. comes from the Greek word herpein which means to creep.HERPES VIRUS • INTRODUCTION – Herpes viruses are a leading cause of human viral disease. – The name herpes comes from the Latin herpes which. – There are at least 25 viruses in the family Herpesviridae (currently divided into three sub-families). for example as shingles. – Eight or more herpes virus types are known to infect man frequently . in turn. – This reflects the creeping or spreading nature of the skin lesions caused by many herpes virus types. second only to influenza and cold viruses.

HERPES VIRUS .

enveloped icosahedral capsids containing doublestranded DNA genome • Between the nucleocapsid and the membrane is the illdefined tegument .Herpes Virus structure. • Herpesviruse have a large.

.

HSV-1 and HSV-2 with very similar characteristics . • There are two types.HERPES SIMPLEX VIRUS (HSV) • These are very large viruses and their genome encodes at least 80 proteins. Many of these proteins (about half) are not directly involved in the virus structure or controlling its replication but function in the interaction with the host cell or the immune response of the host.

Site at which HSV-1 and HSV-2 cause disease in humans .

• A clear vesicle containing infectious virus with a base of red (erythomatous) lesion at the base of the vesicle. From this puscontaining (pustular). This if often referred to as a 'dewdrop on a rose petal'. the initial lesion looks the same.Diseases caused by Herpes Simplex Viruses • Herpes simplex 1 and 2 are frequently benign but can also cause severe disease. encrusted lesions and ulcers may develop. • In each case. .

Herpes whitlow • This disease of persons who come in manual contact with herpes-infected body secretions can be caused by either type of HSV and enters the body via small wounds on the hands or wrists. • It can also be caused by transfer of HSV-2 from genitals to the hands (figure 10) .

preexisting atopic dermatitis. . and can spread over the skin at the site of eczema lesions • The virus can spread to other organs such as the liver and adrenals • A similar disease may also be caused by vaccinia (eczema vaccinatum).Eczema herpeticum • This is found in children with active eczema.

.

.

VARICELLA-ZOSTER VIRUS Diseases caused by Varicella-Zoster virus: – chicken-pox (Varicella). – Shingles (Zoster) is a reactivation of an earlier varicella infection . later in life. and shingles. usually in childhood.

.

CHICKENPOX • Each spot starts as a 2-4 mm diameter red papule which develops an irregular outline (rose petal) as a small vesicle appears on the surface. • This 'dew drop on a rose petal' appearance is very characteristic of chickenpox. .

being restricted to small areas of the skin. They are maculopapular with an erythematous base and usually heal in about two weeks .SHINGLES The skin lesions are somewhat different from those in chicken pox. usually in the thorax They are small and close together.

DIAGNOSIS • Both chicken pox and shingles are diagnosed by their characteristic appearance but a definitive diagnosis can be made by culture of the virus from the lesions (a difficult procedure) followed by detection of specific antigens. • The characteristic appearance of cells in biopsy specimens of skin lesions can also be used .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TERIMA KASIH .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful