BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Epilepsi Suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermiten yang disebabkan oleh pelepasan muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron secara paroksismal, didasari oleh berbagai faktor etiologi.

Bangkitan epilepsi (epileptic seizure) Manifestasi klinik dari bangkitan serupa (stereotipik), berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak, bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked).

ETIOLOGI

Idiopatik
Penyebabnya tidak diketahui, umumnya mempunyai predisposisi genetik.

Kriptogenik
Dianggap simptomatik tetapi penyebabnya belum diketahui. e.g: - Sindrom West - Sindrom Lennox-Gastaut - Epilepsi mioklonik.

Simptomatik
Disebabkan oleh : - kelainan/ lesi pada SSP - kelainan kongenital - lesi desak ruang - GPDO - toksik (alkohol, obat) - metabolik - kelainan neurodegeneratif.

 Laki-laki lebih sering dari pada perempuan.8 juta penderita.EPIDEMIOLOGI  Di Indonesia diperkirakan ada 1-1. Usia 20 tahun kebawah + 80% Usia 21 tahun .55 tahun + 15% Usia diatas 55 tahun + 1-2%.    .

3 Otonom 1. Bangkitan Parsial 1.2 Parsial kompleks menjadi umum tonik klonik 1.2 Bangkitan parsial yang disertai gangguan kesadaran saat awal bangkitan 1.2.3.1.3.1 Motorik 1.2 Sensorik 1.1.1.1 Bangkitan parsial sederhana 1.1.3.2.4 Psikis 1.KLASIFIKASI Klasifikasi International League Against Epilepsy (ILAE) untuk jenis bangkitan epilepsi 1.2 Bangkitan parsial kompleks 1.3 Bangkitan parsial yang menjadi umum sekunder 1.1 Parsial sederhana yang menjadi umum tonik klonik 1.1 Bangkitan parsial sederhana yang diikuti dengan gangguan kesadaran 1.1 Parsial sederhana menjadi parsial kompleks kemudian menjadi umum tonik klonik .

6 Atonik 3.1 Lena (absence) 2.5 Tonik-klonik 2.3 Klonik 2. Bangkitan Umum 2.2 Mioklonik 2. 2. Tak Tergolongkan  .4 Tonik 2.

Bangkitan dimulai dari tangan.Tidak terjadi perubahan kesadaran . mengunyah.Kepala mungkin berpaling ke arah sisi tubuh yang mengalami kejang ( adversif ) .Sering diikuti oleh automatisme yang stereotipik e. kaki atau muka (unilateral/fokal) kemudian menyebar pada sisi yang sama ( Jacksonian March ) .g.GEJALA KLINIS  Bangkitan Parsial Sederhana .Bangkitan fokal disertai terganggunya kesadaran . menelan dan kegiatan motorik lainnya tanpa tujuan yang jelas .Wajah mungkin berpaling ke arah sisi tubuh yang mengalami kejang ( adversif )  Bangkitan Parsial Kompleks .

Sesudah itu pasien melanjutkan aktivitas semula  . berlangsung beberapa detik .Gangguan kesadaran secara mendadak.Selama bangkitan kegiatan motorik terhenti dan pasien diam tanpa reaksi .Berkembang dari bangkitan parsial sederhana atau kompleks yang dalam waktu singkat menjadi bangkitan umum .Bangkitan umum yang terjadi biasanya bersifat kejang tonik-klonik Bangkitan Umum Lena (Absence) .Bangkitan parsial dapat berupa aura . Bangkitan Umum Sekunder .Mungkin terdapat automatisme .Mata memandang jauh ke depan .Pemulihan kesadaran segera terjadi tanpa perasaan bingung .

Selesai bangkitan pasien menjadi lemas (fase flaksid) dan tampak bingung .Terjatuh karena kehilangan tonus otot tidak diikuti gerakan atau serangan tonik klonik. sentakan . dapat disertai mulut berbusa .tiba. Bangkitan Umum Tonik-Klonik . . kaku (fase tonik) selama 10-30 detik.Dapat didahului prodormal seperti jeritan.Pasien sering tidur setelah bangkitan  Bangkitan Umum Atonik . bisa kepala terkulai tiba. diikuti gerakan kejang kelojotan pada kedua lengan dan tungkai (fase klonik) selama 30-60 detik.Sangat jarang kesadaran menurun .Pasien kehilangan kesadaran.

Mulai gerakan halus sampai sentakan hebat. Bangkitan Umum Tonik . . Lamanya bervariasi. kadangkadang mengenai kedua sisi tubuh. seringkali ia akan jatuh.   . lengan.Bisa serangan tunggal atau berulang . . Bangkitan Umum Klonik .Gerakan menyentak pada ekstremitas atas dan bawah. .singkat . atau kaki menjadi kaku.Kesadaran biasanya tidak terganggu .Jika orang itu berdiri saat kejang dimulai.Tonus otot sangat meningkat  tubuh.Paling sering terjadi pada saat tidur dan biasanya melibatkan kedua sisi tubuh.Kontraksi kelompok otot anggota gerak.Biasanya pasien mendadak jatuh. benda yang dipegang terlontar (flying saucer syndrome). Bangkitan Umum Mioklonik .

Gejala sebelum.Pola/ bentuk bangkitan .Frekuensi bangkitan .Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga . persalinan / kelahiran dan perkembangan bayi/anak .Riwayat terapi epilepsi sebelumnya .Usia pada saat terjadinya serangan pertama .Faktor pencetus .Ada/ tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang . selama dan pascabangkitan .Lama bangkitan .Riwayat pada saat dalam kandungan.DIAGNOSIS  1. Anamnesis (auto dan allo anamnesis) .

Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan Laboratorium  EEG  MRI  CT Scan  . Pemeriksaan fisik umum dan neurologik Perlu diperiksa: tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi. misalnya:  trauma kepala  infeksi telinga atau sinus  gangguan kongenital  gangguan neurologik fokal atau difus  kecanduan alkohol atau obat-obat terlarang  kanker.

TERAPI  Tujuan Terapi :  untuk mengontrol gejala atau tanda secara adekuat dengan menggunakan obat tanpa/ dengan efek samping minimal  Prinsip Terapi:      Dilakukan bila terdapat minimum 2 kali bangkitan dalam setahun Terapi mulai diberikan bila diagnosis telah ditegakkan dan setelah pasien dan keluarga menerima penjelasan tentang tujuan pengobatan dan kemungkinan efek samping Pemilihan jenis obat sesuai dengan jenis bangkitan Sebaiknya terapi dengan monoterapi Pemberian obat dimulai dengan dosis rendah dan dinaikkan secara bertahap sehingga dosis efektif tercapai .

maka dosis obat pertama diturunkan secara bertahap dan dosis obat kedua dinaikkan secara bertahap Bila didapatkan kegagalan monoterapi maka dapat dipertimbangkan untuk diberi kombinasi OAE Bila memungkinkan dilakukan pemantauan kadar obat sesuai indikasi   . Pada prinsipnya terapi dimulai dengan obat antiepilepsi lini pertama. Bila diperlukan penggantian obat.

Pemilihan Obat Anti Epilepsi Atas Dasar Jenis Bangkitan Epilepsi Jenis Bangkitan Bangkitan umum tonik klonik OAE Lini Pertama Sodium Valproate Lamotrigine Topiramate Carbamazepine OAE Lini Kedua Clobazam Levetiracetam Oxcarbazepine Bangkitan lena Bangkitan Mioklonik Sodium Valproate Lamotrigine Sodium Valproate Topiramate Clobazam Topiramate Clobazam Topiramate Levetiracetam Lamotrigine Piracetam Clobazam Levetiracetam Topiramate Clobazam Levetiracetam Topiramate Clobazam Gabapentin Levetiracetam Phenytoin Tiagabine Bangkitan Tonik Sodium Valproate Lamotrigine Sodium valproate Lamotrigine Carbamazepine Oxcarbazepine Sodium Valproate Topiramate Lamotrigine Bangkitan Atonik Bangkitan Fokal Dengan/ Tanpa Umum Sekunder .Tabel 1.

Tabel 2. Dosis Obat Anti Epilepsi Untuk Orang Dewasa OBAT DOSIS AWAL DOSIS RUMATAN (mg/hari) (mg/hari) JUMLAH DOSIS PER HARI WAKTU PARUH PLASMA (Jam) Carbamazepine Phenytoin Valproic acid Phenobarbital Clonazepam Clobazam Oxcarbazepine Levetiracetam Topiramate 400-600 200-300 500-1000 50-100 1 10 600-900 1000-2000 100 400-1600 200-400 500-2500 50-200 4 10 30 600-3000 1000-3000 100-400 2-3x 1-2x 2-3x 1 1 atau 2 2-3x 2-3x 2x 2x 2 s/d 7 3 s/d 15 2 s/d 4 2 s/d 10 2 s/d 6 2 2 s/d 5 Gabapentin Lamotrigine 900-1800 50-100 900-3600 20-200 2-3x 1-2x 2 2 s/d 6 .

listlesness. dizziness. insomnia (pada anak). nekrosis epidermal toksik. Sindroma Steven-Johnson. muntah. ensefalopati . anemia aplastik Ethosuximide Clonazepam Kelelahan. hipertrofi gusi. anoreksia. mual. efek hepatotoksik. mengantuk. efek hepatotoksik. Ruam. agranulositosis. lupus-like syndrome. teratogenecity Jerawat. cariasis. teratogenicity Phenytoin Nistagmus. coarse facies. lethargy Ruam. anemia aplastik. exfoliation. udem perifer Ruam makulopapular. dispepsia. muntah agitasi. Sindroma Stevens-Johnson. distractability (pada anak). dizziness. mengantuk. listlessness. berat badan bertambah. libido menurun. trombositopenia. eritema multiformis. hirsutism. teratogenicity Pankreatitis akut. neutropenia. paradoxical increase in seizure. teratogenicity Mual. ruam. depresi. sedasi. Ruam. arthritic changes. kebotakan. depresi. Dupuytren’s contracture. trombositopenia. psikosis. ataxia. efek hepatotoksik. trombositopenia agresi (pada anak) hiperkinesia (pada anak) . Efek samping obat anti-epilepsi klasik DRUG Carbamazepin SIDE EFFECT TERKAIT DOSIS Diplopia. irritability (pada anak) Phenobarbital Pirimidone Kelelahan. anemia megaloblastik Valproic acid Tremor. Sindroma Stevens-Johnson. efek hepatotoksik. mengantuk. impoten lupus-like syndrome.Tabel 3. mengantuk. Dupuytren’s contracture. hiperkinesia (pada anak). depresi. lupus-like syndrome. agranulositosis. mual. hiponatremia IDIOSINKRETIK Ruam morbiliform. nyeri kepala. tetratogenicity Kelelahan. nyeri kepala. mual. agranulositosis. muntah.

ataksia. gangguan saluran cerna Ruam. diplopia. nyeri kepala. dizziness. Juga dilaporkan penurunan kecil kadar sel darah merah. diplopia. renal calculi . nyeri kepala. depresi. dan hematokrit. Somnolen. gangguan saluran cerna. kelelahan Gangguan kognitif. renal calculi Confusion. gangguan saluran cerna Gabapentin Lamotrigine Sindroma StevensJohnson Clobazam Vigabatrin Psikosis Oxcarbazepine Dizziness.Tabel 4. ataksia. dizziness. disinhibition Perubahan perilaku. ataksia. tremor. dizziness. Efek samping obat anti-epilepsi baru EFEK SAMPING YANG LEBH SERIUS NAMUN JARANG OBAT Levetiracetam EFEK SAMPING UTAMA Somnolen. dizziness. ruam. kelelahan. anoreksia. nyeri kepala. sering muncul ataksia. sedasi. nyeri kepala. ataksia. dizziness. dizziness. hiponatremia Zonisamide Tiagabine Topiramate Somnolen. depresi. ataksia. gangguan saluran cerna Sedasi. gangguan saluran cerna. berat badan bertambah. hemoglobin. irritability. tremor. kelemahan. kelelahan. asthenia. kelelahan.

 Bila bangkitan timbul kembali maka dosis terakhir dipertahankan. pada umumnya 25% dari dosis semula. setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan. kemudian di evaluasi kembali.  Bertahap.  Dimulai dari 1 OAE yang bukan utama.  Gambaran EEG normal / membaik. . tergantung bentuk bangkitan.Penghentian OAE:  Penghentian OAE dapat didiskusikan dengan pasien atau keluarganya setelah minimal 2 tahun bebas bangkitan dan sesuai indeks prognosis .

masih mendapatkan satu atau lebih bangkitan setelah memulai terapi mendapat terapi 10 tahun atau lebih. riwayat bangkitan mioklonik. dan yang selama lima tahun atau lebih 21 . penggunaan lebih dari satu OAE. riwayat bangkitan neonatal gambaran EEG masih abnormal Semakin tua usia kemungkinan timbulnya kekambuhan makin tinggi  Kemungkinan kekambuhan kecil pada pasien yang telah bebas bangkitan antara tiga sampai lima tahun. Pertimbangkan kemungkinan kekambuhan bangkitan lebih besar pada :         riwayat KUTK primer atau sekunder.

Djamil Padang pada tanggal 21 April 2011 pukul 10. kedua mata pasien melirik ke arah atas. seluruh tubuh pasien menjadi kaku selama beberapa detik. kemudian tangan dan kaki kiri pasien kelihatan bergerak seperti menyentak-nyentak. lamanya kurang lebih 4 menit.ILUSTRASI KASUS Seorang pasien perempuan berusia 16 tahun datang ke Poliklinik Neurologi RS Dr M. .00 wib dengan: Keluhan Utama: Kejang seluruh tubuh Riwayat Penyakit Sekarang:  Kejang seluruh tubuh 1 minggu yang lalu. terjadi tiba-tiba sewaktu pasien sedang bermain dengan adiknya dimana pasien tiba-tiba terjatuh. kejang sebanyak 1 kali.

Pasien sadar beberapa detik setelah kejang. lidah tergigit. Saat kejang pasien tidak sadar. kebingungan dan pusing Sebelumnya pasien berobat ke praktek dokter umum lalu dirujuk ke RS Dr M Djamil Padang   . keluar busa dari mulut dan ngompol . saat sadar pasien merasa lemas.

Kejang terjadi dengan pola yang sama. Pasien tidak pernah dibawa berobat.Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah mengalami kejang seperti ini sebelumnya sebanyak 3 kali yaitu yang pertama sewaktu berumur 7 bulan. setiap kalinya berlangsung selama kira-kira 1 menit. riwayat infeksi telinga ().  .  Riwayat trauma kepala (-). yang kedua ketika berusia 11 tahun dan yang ketiga kira-kira 1 bulan yang lalu.

cukup bulan.Riwayat Penyakit Keluarga:  Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini Riwayat Pekerjaan. Sosioekonomi. Kebiasaan dan Kejiwaan:  Pasien seorang pelajar  Pasien mempunyai kebiasaan sering tidur lewat malam untuk belajar  Riwayat kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang tidak ada  Pasien lahir secara persalinan normal. perkembangan pada masa anak-anak baik .

PEMERIKSAAN FISIK  Status Generalis :       Keadaan umum Kesadaran : Tekanan darah Nadi Nafas Suhu : CMC GCS 15 (E4M6V5) : 120/70 mmHg : 84x /menit : 20x /menit : 36. Kanan Kiri  Leher : Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada JVP 5-2 cmH2O.8 °C  Status Internus :  Mata   : : konjunctiva tidak anemis. sklera tidak ikterik : konjunctiva tidak anemis. . sklera tidak ikterik.

   KGB : tidak ada pembesaran Paru:  Inspeksi : simetris statis dan dinamis  Palpasi : fremitus ka=ki  Perkusi : sonor  Auskultasi : vesikuler. rhonki (-). kanan LSD. wheezing (-) Jantung:  Inspeksi : iktus tidak terlihat  Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V  Perkusi : batas jantung atas RIC II. bising (-) Punggung Ekstremitas : Tidak ada kelainan : Oedem tidak ada. refilling kapiler baik   . kiri 1 jari medial LMCS  Auskultasi : irama murni.

refleks cahaya +/+  N.STATUS NEUROLOGIKUS:  Tanda Rangsang Meningeal: Kaku kuduk (-)  Brudzinski I & II (-)  Kernig Sign (-)   Tanda Peningkatan Tekanan Intrakranial: (-) Nervus Kranialis: N. IV. ptosis (-). II : visus 6/6 ODS.. I : penciuman baik  N. VI : bola mata dalam posisi ortho. gerakan bola mata bebas ke segala arah   . III.

VII  N. uvula di tengah  N. plica nasolabialis ka=ki : Fungsi pendengaran baik. tremor (-). refleks kornea (+) : bisa menggerakkan dahi. X : Refleks muntah (+). bisa mengangkat bahu N. N. V : bisa membuka mulut & menggerakkan rahang ke kiri & kanan. nistagmus (-)  N.IX. XII : deviasi lidah (-). arkus faring simetris. atrofi papil lidah (-). VIII  N. XI : Bisa menoleh ke kanan & kiri. bisa menggigit & mengunyah. fasikulasi (-)  . bisa menutup mata.

• Motorik: Ekstremitas Atas Kanan Gerakan Kekuatan Tonus Tropi Aktif 555 Eutonus Eutropi Kiri Aktif 555 Eutonus Eutropi Ekstremitas Bawah Kanan Aktif 555 Eutonus Eutropi Kiri Aktif 555 Eutonus Eutropi •Sensorik •Otonom : Baik : Baik .

 Refleks: Refleks Fisiologis • Biseps • Triseps Kanan ++ ++ Kiri ++ ++ Refleks patologis • Babinsky • Hoffman Tromner Kanan Kiri - • KPR • APR ++ ++ ++ ++ • Oppenheim • Chaddock • Gordon - - .

o. kimia darah  EEG   Diagnosis: Diagnosis Klinis : Epilepsi bangkitan umum tonik klonik  Dianosis Topik : Intrakranial  Diagnosis Etiologi : Idiopatik   Prognosis: Quo ad vitam  Quo ad sanam  Quo ad fungsionam  : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam  Terapi: Carbamazepine 2x 200mg p.. Rencana Pemeriksaan Tambahan: Pemeriksaan laboratorium: darah rutin.  .  Asam Folat 2 x 5mg p.

g kelelahan   Kepada Keluarga Pasien: Beri dukungan kepada pasien  Ciptakan suasana yang nyaman bagi pasien agar pasien tidak stress  Memberikan informasi kemungkinan kejang berulang kembali  Memberikan informasi cara penanganan kejang  .PKM  Kepada Pasien: Harus patuh minum obat  Kontrol ke pelayanan kesehatan secara teratur  Hindari faktor pencetus e.

Diagnosis klinik pada pasien ini adalah epilepsi bangkitan umum tonik- klonik (grand-mal seizure). Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.Djamil Padang pada tanggal 21 April 2011. diagnosis topiknya intrakranial manakala diagnosis etiologinya adalah idiopatik. M.DISKUSI  Telah diperiksa seorang pasien perempuan berumur 16 tahun yang datang ke Poliklinik Saraf Dr. .

lamanya ± 4 menit. kedua mata pasien melirik ke arah atas. terjadi tiba-tiba sewaktu pasien sedang bermain dengan adiknya di mana pasien tiba-tiba terjatuh. seluruh tubuh pasien menjadi kaku selama beberapa detik. Pasien langsung sadar beberapa detik setelah kejang. Dari anamnesis diketahu bahwa pasien kejang seluruh tubuh 1 minggu yang lalu sebanyak 1 kali.lidah tergigit. . kebingungan dan pusing. Saat sadar pasien merasa lemas. keluar busa dari mulut dan ngompol. Saat kejang pasien tidak sadar. kemudian kedua tangan dan kaki pasien kelihatan bergerak seperti menyentaknyentak.

Dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan sebarang kelainan pada pasien ini. Kejang terjadi dengan pola yang sama. Pasien pernah mengalami kejang seperti ini sebelumnya sebanyak 3 kali yaitu yang pertama sewaktu berumur 7 bulan. yang kedua ketika berusia 11 tahun dan yang ketiga kira-kira 1 bulan yang lalu. setiap kalinya berlangsung selama kira-kira 1 menit. . Pasien tidak pernah dibawa berobat.

 Pasien telah dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan elektroensefalografi (EEG). sesuai dengan teori bahwa kurang tidur dapat mencetuskan bangkitan epilepsi. Edukasi juga diberikan kepada pasien dan keluarganya sebagai suatu bentuk penatalaksanaan non farmakologis  .  Penatalaksaan farmakologis yang diberikan pada pasien ini adalah Carbamazepine 2x 200mg dan asam folat 2 x 5mg. pasien mengalami bangkitan epilepsi mungkin karena faktor dari kebiasaannya yaitu sering tidur lewat malam untuk belajar.Pada kasus ini.

Related Interests