You are on page 1of 140

DASAR HUKUM PPN & PPn BM

UU No 8 Th 1983  Mulai berlaku 1 Apr 1985 UU No 11 Th 1994  Mulai berlaku 1 Jan 1995 UU No 18 Th 2000  Mulai berlaku 1 Jan 2001 UU No 42 Th 2009  Mulai berlaku 1 Apr 2010

Mengatur
PPN Dikenakan atas Pertambahan Nilai yg timbul akibat dipakainya faktor produksi pada setiap jalur perusahaan PPn BM Dikenakan atas Nilai Jual pada setiap perpindahan / pertukaran barang/jasa

PPn BM merupakan pungutan tambahan disamping PPN dengan tujuan untuk : 1. Menegakkan keadilan dlm pembebanan pajak 2. Mengurangi pola konsumsi tinggi yg tidak produktif dalam masyarakat Dikenakan atas: 1. Penyerahan BKP yg tergolong mewah oleh produksen barang mewah atau 2. Impor BKP yang tergolong mewah 3. Dikenakan 1 kali waktu penyerahan BKP

• PPN dan PPn BM merupakan satu kesatuan sebagai pajak
atas konsumsi di dalam negeri • PPn BM tidak dapat dikenakan tersendiri tanpa PPN
1

KARAKTERISTIK PPN
1. Merupakan Pajak Tidak Lngsung Pembayaran pajak dapat melimpahkan beban pajaknya kepada pihak lain (pembeli) Pajak Obyektif Timbulnya kewajiban untuk membayar pajak ditentukan oleh obyek pajak, yaitu peristiwa atau perbuatan hukum yg dapat dikenakan pajak PPN adl pajak atas konsumsi dalam negeri PPN hanya dikenakan atas konsumsi BKP/JKP yg dilakukan di Dalam Negeri (daerah pabean). Oleh karena itu atas komoditi impor dikenakan PPN, sebaliknya komoditi ekspor tidak dikenakan PPN Netral terhadap perdagangan dalam negeri Terhadap komoditi impor dan barang hasil produksi DN yg dikonsumsi di DN, dikenakan beban pajak yg sama, dengan demikian maka kompetisi antara komoditi impor dng barang produksi DN tidak dipengaruhi PPN, sehingga netral dalam perdagangan DN Netral terhadap perdagangan luar negeri Barang produksi DN yg diekspor tidak dikenakan PPN. Namun supaya daya saing komoditi ekspor dng produksi domestik negara pengimpor tdk dipengaruhi PPN (Netral), maka atas komoditi ekspor Indonesia dikenakan PPN dng tarif 0%. Dng dikenakan tarif 0% , maka Pajak Masukan atas perolehan BKP/JKP dapat dikreditkan. Dikenakan secara bertingkat (multi stage) PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi, mulai dari pabrikan s/d pedagang eceran Tidak menimbulkan dampak pajak berganda PPN hanya dikenakan atas nilai tambah. Dalam perhitungan PPN pengusaha mempunyai hak untuk mengkreditkan PPN yg telah dibayar atas perolehan BKP/JKP dng PPN yg dipungut atas penyerahan BKP/JKP. Dalam mata rantai berikutnya PPN yg telah dibayar tsb tidak dikalkulasikan ke dalam harga jual

2.

3.

4.

5.

6.

7.

2

Pengenaan PPN secara bertingkat pada setiap mata rantai jalur produksi dan distribusi
Pengusaha Transaksi Nilai Tambah Harga Jual PPN (10%) Setor ke kas negara 300 Harga yg di bayar -

Industri kayu

Menyerahkan Beli kayu Jual mebel Beli mebel Jual mebel Beli mebel Jual mebel Beli mebel

3.000

3.000

300

Industri mebel

2.000 1000 500 -

5..000 6.000 6.500 -

500 600 650 -

200 100 50 -

3.300 5.500 6.600 7.150

Distributor

Ped. Eceran

Konsumen

• PPN disetor ke kas negara secara bertahap mulai dr industri kayu s/d pedagang eceran sebesar 300 + 200 + 100 + 50 = 650 • PPn sebesar 650 adl sama dengan 10% x 6500 (jumlah nilai tambah), pada akhirnya PPN dibebankan kpd konsumen, sedangkan PKP hanya memungut dan selanjutnya menyetorkan ke kas negara • Semakin panjang mata rantai jalur produksi dan distribusi, semakin bsrat beban pajak yg dipikul konsumen • Dalam PPN tidak terjadi efek pajak berganda, krn PPN yg telah dibayar atas perolehan BKP/JKP dikreditkan dengan PPN yg dipungut atas penyerahan BKP/JKP dan tidak dikalkulasikan ke dalam harga jual. • Efek ganda hanya terjadi pada PPn BM, hal ini dimaksudkan untuk menegakkan prisnsip keasdilan dalam pembebanan pajak. 3

Landas kontinen 5. mis Pulau Batam (Catatan : Lihat pengertian pasal 1) 4 .DAERAH PABEAN (Pasal 1 angka 1) Wilayah Republik Indonesia (RI) meliputi: 1. kawasan industri 4. Wilayah RI yang di dalamnya berlaku UU Pabean. mis berikat. Tempat-tempat tertentu di zona ekonomi ekslusif. Perairan dan ruang udara di atasnya 3. Darat dan ruang udara di atasnya 2.

Barang bergerak 2. Hak merk dagang 2.Barang dan Barang Kena Pajak (BKP) (Pasal 1 angka 2 UU PPN) Barang Berwujud Meliputi : 1. Hak cipta 3. Barang tdk bergerak Barang Tidak Berwujud: Penggunaan atas: 1. Hak Paten Barang yg dikenakan PPN adalah BKP Pada dasarnya semua barang adl BKP (kecuali ditentulan lain oleh UU) (Catatan : Lihat pengertian pasal 1) 5 .

Jasa dan Jasa Kena Pajak (JKP) (Pasal 1 angka 5 UU PPN) Kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan / perbuatan hukum Yang menyebabkan barang / fasilitas / kemudahan / hak tersedia untuk dipakai Jasa yg dikenakan PPN adalah JKP Pada dasarnya semua jasa adl JKP (kecuali ditentulan lain oleh UU) (Catatan : Lihat pengertian pasal 1) 6 .

Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan yang berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang. 4.Perdagangan adalah kegiatan usaha membeli dan menjual. perairan. yayasan. Penyerahan JKP adalah setiap kegiatan pemberian JKP. perkumpulan. dana pensiun. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesiayang meliputi wilayah darat. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun.Pengertian (1) Pasal 1 1.Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. tanpa mengubah bentuk dan/atau sifatnya.Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang didalamnya berlaku Undang-Undang yang mengatur mengenai kepabeanan. 7 . termasuk kegiatan tukar-menukar barang. 12. Penyerahan BKP adalah setiap kegiatan penyerahan BKP. 6. organisasi massa. 2. persekutuan. 5. Barang adalah barang berwujud. koperasi. termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan. 13. fasilitas. 10. yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak. 11. 8. perseroan lainnya. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. 7. 9. kongsi. Barang Kena Pajak (BKP) adalah barang yang dikenai pajak. dan barang tidak berwujud. Jasa Kena Pajak (JKP) adalah jasa yang dikenai pajak. 3. perseroan komanditer. organisasi sosial politik.Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud adalah setiap kegiatan mengeluarkan BKP Berwujud dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean. dan ruang udara di atasnya. kemudahan. firma. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Impor adalah setiap kegiatan memasukkan barang dari luar Daerah Pabean ke dalam Daerah Pabean. atau organisasi lainnya. atau hak tersedia untuk dipakai.

ekspor JKP. Nilai Impor. Penggantian adalah nilai berupa uang. melakukan usaha jasa termasuk mengekspor jasa. termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan JKP.Pengertian (2) Pasal 1 14. Penggantian. 15. Nilai Ekspor. Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenai pajak 16. termasuk menyuruh orang pribadi atau badan lain melakukan kegiatan tersebut. melakukan usaha perdagangan. memanfaatkan barang tidak berwujuddari luar Daerah Pabean. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual. 19. atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. tidak termasuk PPN yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak (FP). 20. tetapi tidak termasuk PPN yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam FP atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan JKP dan/atau oleh penerima manfaat BKP Tidak Berwujud karena pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. atau ekspor BKP Tidak Berwujud. mengimpor barang. 18. mengekspor barang. tidak termasuk PPN dan PPn BM 8 . Harga Jual adalah nilai berupa uang. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor BKP. Menghasilkan adalah kegiatan mengolah melalui proses mengubah bentuk dan/atau sifat suatu barang daribentuk aslinya menjadi barang baru atau mempunyai daya guna baru atau kegiatan mengolah sumber daya alam. termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan BKP. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang. 17. atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean.

badan. Ekspor JKP adalah setiap kegiatan penyerahan JKP ke luar Daerah Pabean 9 . Pajak Masukan adalah PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh PKP karena perolehan BKP dan/atau perolehan JKP dan/atau pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean dan/atau impor BKP. 23. ekspor BKPTidak Berwujud. 25. termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir. ekspor BKP Berwujud. 28. 24. 26. badan. Pembeli adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima penyerahan BKP dan yang membayar atau seharusnya membayar harga BKP tersebut. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP atau penyerahan JKP. atau instansi pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk memungut. atau instansi pemerintah tersebut. dan/atau ekspor JKP. dan melaporkan pajak yang terutang oleh PKP atas penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP kepada bendahara pemerintah. Pajak Keluaran adalah PPN terutang yang wajib dipungut oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP. menyetor. Penerima Jasa adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima penyerahan JKP dan yang membayar atau seharusnya membayar Penggantian atas JKP tersebut. penyerahan JKP. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang. 22. 27. Ekspor BKP Tidak Berwujud adalah setiap kegiatan pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari dalam Daerah Pabean di luar Daerah Pabean.Pengertian (3) Pasal 1 21. 29. Pemungut PPN adalah bendahara pemerintah.

yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan 6. dan lainnya yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang 2. Pemakaian sendiri (termasuk pengurus dan karyawan) dan/atau pemberian cumacuma atas BKP 5. meliputi jual beli. Penyerahan hak atas BKP karena suatu perjanjian. jual beli angsuran. Penyerahan BKP kepada pedagang perantara dengan balas jasa tertentu atau melalui juru lelang. 4. tukar menukar.Termasuk Pengertian Penyerahan BKP (1) Pasal 1A 1. Pengalihan BKP karena suatu perjanjian sewa beli dan/atau perjanjian sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi 3. Penyerahan BKP secara konsinyasi (dititipkan untuk dijual) 8. Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan BKP antar cabang 7. yang penyerahannya dianggap langsung dari PKP kepada pihak yang membutuhkan BKP. 10 . BKP berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. Penyerahan BKP oleh PKP dalam rangka perjanjian pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah.

BKP berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. BKP dianggap diserahkan langsung dari PKP pemasok (supplier) kepada pihak yang membutuhkan barang (lessee). Penyerahan BKP karena leasing dengan hak opsi. seperti pemberian contoh barang untuk promosi kepada relasi atau pembeli. baik barang produksi sendiri maupun bukan produksi sendiri. Pedagang perantara adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya dengan nama sendiri melakukan perjanjian atau perikatan atas dan untuk tanggungan orang lain dengan mendapat upah atau balas jasa tertentu. yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan. jual beli dengan angsuran. 3. Pengalihan BKP karena perjanjian sewa guna usaha (leasing) adalah penyerahan BKP yang disebabkan oleh perjanjian sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi. pengurus. 2. Perjanjian meliputi jual beli. Juru lelang adalah juru lelang Pemerintah atau yang ditunjuk oleh Pemerintah.Termasuk Pengertian Penyerahan BKP Penjelasan (2) Pasal 1A 1. atau perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang. Pemakaian sendiri adalah pemakaian untuk kepentingan pengusaha sendiri. 5. 4. atau karyawan. disamakan dengan pemakaian sendiri sehingga dianggap sebagai penyerahan BKP Dikecualikan dari ketentuan diatas adalah penyerahan persediaan atau aktiva tersebut yang PM tidak dapat dikreditkan 11 . tukar-menukar. misalnya komisioner. Pemberian cuma-cuma adalah pemberian yang diberikan tanpa pembayaran baik barang produksi sendiri maupun bukan produksi sendiri.

7. Sebaliknya. perwakilan. pengusaha yang menerima titipan tersebut dapat menggunakan ketentuan mengenai pengembalian BKP (retur). pemindahan BKP antar tempat tersebut merupakan penyerahan BKP. Contoh Penyerahan berdasarkan prinsip syariah: Dalam transaksi murabahah. PPN yang sudah dibayar pada waktu BKP yang bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan BKP yang dititipkan tersebut. Meskipun berdasarkan prinsip syariah. bank syariah bertindak sebagai penyedia dana untuk membeli sebuah kendaraan bermotor dari PKP A atas pesanan nasabah bank syariah (Tuan B).Termasuk Pengertian Penyerahan BKP Penjelasan (3) Pasal 1A 6. bank syariah harus membeli dahulu kendaraan bermotor tersebut dan kemudian menjualnya kepada Tuan B. 12 . jika BKP titipan tersebut tidak laku dijual dan diputuskan untuk dikembalikan kepada pemilik BKP. Pusat adalah tempat tinggal atau tempat kedudukan. dan tempat kegiatan usaha sejenisnya. unit pemasaran. 8. Cabang antara lain lokasi usaha. Dalam hal suatu perusahaan mempunyai lebih dari satu tempat pajak terutang baik sebagai pusat maupun sebagai cabang perusahaan. Dalam penyerahan secara konsinyasi. maka penyerahan kendaraan bermotor tersebut dianggap dilakukan langsung oleh PKP A kepada Tuan B.

Catatan Lihat penjelasan 13 . dan yang Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan. 2. pemekaran. dan pengambi-lalihan usaha dengan syarat pihak yang melakukan pengalihan dan yang menerima pengalihan adalah PKP 5. peleburan. Penyerahan BKP untuk jaminan utang-piutang 3. Penyerahan BKP kepada makelar sesui KUHD. Pengalihan BKP dalam rangka penggabungan.2 1. Penyerahan BKP dalam hal PKP melakukan pemusatan tempat pajak terutang 4. yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan. BKP berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. pemecahan.Tidak Termasuk Pengertian Penyerahan BKP (1) Pasal 1A.

pemindahan BKP dari satu tempat kegiatan usaha ke tempat kegiatan usaha lainnya (pusat ke cabang atau sebaliknya atau antarcabang) dianggap tidak termasuk dalam pengertian penyerahan BKP. atas amanat dan atas nama orangorang lain yang dengan mereka tidak terdapat hubungan kerja. Mereka menyelenggarakanperusahaan mereka dengan melakukan pekerjaan dengan mendapat upah atau provisi tertentu. 2. Makelar yaitu pedagang perantara yang diangkat oleh Presiden atau oleh pejabat yang oleh Presiden dinyatakan berwenang untuk itu. kecuali pemindahan BKP antar tempat pajak terutang. 4. Pemecahan usaha adalah pemisahan usaha sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai perseroan terbatas. Pengenaan PPN yang dipusatkan. yang Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan karena tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha dan/atau aktiva berupa kendaraan bermotor sedan dan station wagon yang Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan.2 1. 3.Tidak Termasuk Pengertian Penyerahan BKP Penjelasan (2) Pasal 1A. PKP tersebut telah menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak. 14 . BKP berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan.

menyetor. Pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP (kecuali Pengusaha Kecil yang memlih bukan PKP) dan dikukuhkan sebagai PKP. Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP juga wajib memungut. dan melaporkan PPN & PPn BM 3.Kewajiban PKP Pasal 3A 1. dan melaporkan PPN & PPn BM 2. wajib memungut. menyetor. dan melaporkan PPN yang terutang yang penghitungan dan tata caranya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan 15 . menyetor. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau yang memanfaatkan JKP dari luar Daerah Pabean wajib memungut.

Menyetorkan PPN yg kurang dibayar / PPn BM terutang c. PPN/PPn BM dipungut. pengusaha wajib melaporkan ke KPP kegiatan usaha yg dilakukan untuk dikukuhkan sebagai PKP Umum PKP yg menyerahkan BKP/JKP kepada bukan Pemungut: a. PKP menerbitkan faktur pajak Setelah akhir masa pajak: a. 4. 5. PKP memungut PPN/PPn BM dari pembeli/penerima jasa b.PRINSIP DASAR PEMUNGUTAN PPN/PPn BM (Pasal 3A & 16A UU PPN) 1. Menghitung PPN/PPn BM terutang dalam suatu masa b. maka yg dapat meminta kembali pajak yg salah dipungut tsb adalah“pihak yg terpungut” sepanjang belum dikreditkan / dibebankan sebagai biaya (pasal 7 & PP no 143 tahaun 2000) 16 2. . 3. Syarat administrasi Sebelum melakukan penyerahan BKP/JKP. disetor dan dilaporkan oleh pemungut b. Melaporkan perhitungan dan penyetoran PPN/PPn BM terutang dalam SPT Masa PPN Lain-lain Dalam hal terjadi kesalahan pemungutan yg mengakibatkan pajak yg dipungut lebih besar dari yang seharusnya atau yg tidak seharusnya dipungut dan pajak yg salah dipungut tsb telah disetorkan dan dilaporkan. PKP menerbitkan faktur pajak Khusus Dalam hal PKP menyerahkan BKP/JKP kepada Pemungut: a.

Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sbb: a. Atas pemanfaatan JKP tersebut terutang PPN 17 . Misal: PKP C di Surabaya memanfaatkan JKP dari Pengusaha B yang berkedudukan di Singapura. tetapi belum dikukuhkan. Barang berwujud yang diserahkan merupakan BKP b. Atas pemanfaatan merek tersebut oleh Pengusaha A di dalam Daerah Pabean terutang PPN 5. Penyerahan BKP di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi PKP maupun pengusaha yang seharusnya dikukuhkan menjadi PKP. Termasuk dalam pengertian penyerahan JKP adalah JKP yg dimanfaat kan untuk kepentingan sendiri dan/atau yang diberikan secara cuma2. tetap dikenai pajak 3. Pemungutan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.PPN dikenakan atas: (1) Pasal 4 1. jasa yang diserahkan merupakan JKP b. Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan BKP Tidak Berwujud c. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh siapa pun di dalam Daerah Pabean dikenai PPN. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean d. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh siapa pun dikenai PPN. tetapi belum dikukuhkan. Penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP maupun pengusaha yang seharusnya dikukuhkan sebagai PKP. Contoh: Pengusaha A yang berkedudukan di Jakarta memperoleh hak menggunakan merek yang dimiliki Pengusaha B yg berkedudukan di Hongkong. Dikenakan kepada siapapun yang memasukkan BKP ke dalam Daerah Pabean. Impor BKP Pajak dipungut pada saat impor BKP. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha / pekerjaannya 2. tanpa memperhatikan apakah dilakukan dalam rangka kegiatan usaha / pekerjaannya atau tidak. penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya. 4. penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean c. Penyerahan barang yang dikenai pajak harus memenuhi syarat2 sbb: a.

Pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah. komersial. untuk siaran televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit. film atau pita video untuk siaran televisi. Ekspor JKP oleh PKP Ekspor JKP adalah penyerahan JKP dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean oleh PKP yang menghasilkan dan melakukan ekspor BKP Berwujud atas dasar pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan di luar Daerah Pabean. formula atau proses rahasia. paten. desain atau model. teknikal. BKP Tidak Berwujud adalah: a. atau teknologi yang serupa 2) Penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar / rekaman suara atau keduanya. Pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial / hak-hak lainnya sebagaimana tersebut di atas. /bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya b. kesenian atau karya ilmiah. industrial. atau pita suara untuk siaran radio f. 18 . 8. Ekspor BKP Tidak Berwujud oleh PKPhanya pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi PKP.PPN dikenakan atas: (2) Pasal 4 6. atau ilmiah c. serat optik. kabel. Ekspor BKP Berwujud oleh PKP hanya pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi PKP 7. atau teknologi yang serupa 3) Penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi e. merek dagang. kabel. rencana. Penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup ( motion picture films). Penggunaan / hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan. atau komersial d. berupa: 1) Penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya. yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit. Penggunaan /hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial. serat optik. Ketentuan batasan kegiatan dan jenis JKP yang atas ekspornya dikenai PPN diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. Pemberian bantuan tambahan/pelengkap sehubungan dng penggunaan hak2 atau penggunaan/hak menggunakan peralatan / perlengkapan / pemberian pengetahuan/informasi tersebut.

susu didinginkan / dipanaskan / dikemas / tidak dikemas. telur tidak diolah / diolah / diasinkan / dikemas. 2. gas bumi. tanah liat. granit. dolomit. termasuk yg diserahkan oleh perusahaan jasa boga / catering Uang. restoran. pasir dan kerikil. nitrat. 5. panas bumi. mika. warung dan sejenisnya baik dikonsumsi di tempat maupun tidak. batu bara sebelum diproses menjadi briket. sagu. asbes. emas batangan dan surat-surat berharga Disamping ketentuan tsb diatas masih terdapat jenis barang yg dikecualikan dari pengenaan PPN karena adanya fasilitas PPN tidak dipungut / dibebaskan 19 . 3. 4. mamer. garam baik beryodium maupun tidak beryodium dan daging segar tanpa diolah atau diprroses via dikuliti / dipotong / didinginkan / dikemas / digarami / diasamkan / direbus / diawetkan. sayrsayuran segar / dicuci / dicacah / diawetkan ) Makanan dan minuman yg disajikan di hotel. kedelai. bentonit.Jenis Barang Yang Tidak dikenakan PPN (Pasal 4A jo PP No 144/2000) 1. garam batu. tawas. grafit. jagung. biji besi / timah / emas / tembaga / nikel / perak / bauksit) Barang-barang kebutuhan pokok yg sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak (Beras. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yg diambil langsung dari sumbernya (Minyak mentah. gabah. fosfat. buah-buahan segar / dicuci / dikupas / dipotong / diiris / dikemas / tdak dikemas . batu tulis /permata / kapus /apung . rumah makan.

14. 9. 4. 15. Jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai / fidusia termasuk gadai syariah. usaha kartu kredit. kecuali yang bersifat komersial) Jasa pengiriman surat dengan perangko tempel / pengganti perangko Jasa keuangan ( jasa menghimpun dana berupa giro / deposito / tabungan /bentuk lain. bidan / dukun bayi. para medis & perawat. jasa`pembiayan termasuk syariah berupa sewa guna usaha dengan hak opsi / anjak piutang. Jasa persewaan kamar dan fasilitas yg terkait untuk tamu yg menginap b. 3. 10. jasa pengobatan altrnatif.Jenis Jasa Yang Tidak Dikenakan PPN (Pasal 4A UU PPN jo PP No 144/2000) 1. jasa psikologdan psikiater. 7. termasuk paranormal) Jasa pelayanan sosial (jasa panti asuhan /jompo. terdiri: a. 6. ahli kesehatan gigi / akupuntur / gizi / fisioterapi. . pembiayaan konsumen. jasa rehabilitasi. jasa olahraga. 8. jasa rumah duka / pemakaman / krematorium. dan penyelenggaran pendidikan diluar sekolah) Jasa kesenian dan hiburan yg telah dikenakan pajak tontonan atau tidak bersifat komersial (pementasan kesenian tradisional dng cuma-cuma) Jasa penyiaran (penyiaran radio. dan jasa lain keagamaan) Jasa pendidikan (sekolah umum / kejuruan / luar biasa / kedinasan / keagamaan / akademik / profesional . pemadam kebakaran. TV pemerintah / swasta yg bukan bersifat iklan / tidak dibiayai oleh sponsor / tidak untuk tujuan komersial) Jasa angkutan umum di darat dan di air Jasa tenaga krerja (jasa penyediaan tenaga kerja dan jasa penyelenggaraan latihan tenaga kerja) Jasa dibidang perhotelan / motel / penginapan / losmen / hostel. Jasa pelayanan kesehatan medik (dokter umum / spesialis / gigi / hewan. 13. pertolongan kecelakaan. 5. jasa rumah sakit / klinik kesehatan / laboratoriun kesehatan / sabatorium. jasa menempatkan dana / meminjam / meminjamkan dengan surat / wesel / cek / sarana lain. 12. 11. 16. pemberian khotbah / dakwah . KTP. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan suatu acara / pertemuan Jasa yg disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum (pemberian IMB. jasa penjaminan) Jasa asuransi (asuransi kerugian / jiwa / reasuransi dan tidak termasuk jasa penunjang asuransi seperti agen / penialai /konsultan asuransi Jasa keagamaan ( jasa pelayanan ibadah. NPWP dsb) Jasa penyedian tempat parkir (dengan dipungut biaya/bayaran) Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam 0leh pemerintah / swasta Jasa pengiriman uang dengan wesel pos Jasa boga dan katering 20 2. 12. penyelenggaraan kegiatan keagamaan.

Pertimbangan pengenaan PPn BM Pasal 5 1. 4. 21 . 3. Perlu keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dan konsumen yang berpenghasilan tinggi Perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah Perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional Perlu untuk mengamankan penerimaan negara. 2.

d. yaitu menempatkan suatu barang ke dalam suatu benda untuk melindunginya dari kerusakan dan/atau untuk meningkatkan pemasarannya e. dan perabot rumah tangga b. yaitu memasukkan minuman atau benda cair ke dalam botol yang ditutup menurut cara tertentu f. Mencampur. yaitu mempersatukan dua atau lebih unsur (zat) untuk menghasilkan satu atau lebih barang lain. seperti merakit mobil. Barang yang bukan merupakan barang kebutuhan pokok 2. Mengemas. Kegiatan lain yang dapat dipersamakan dengan kegiatan itu atau menyuruh orang atau badan lain melakukan kegiatan tersebut 22 . barang elektronik. yaitu mengolah barang dengan cara memanaskan baik dicampur bahan lain maupun tidak c. Barang yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi 4. 3. Barang yang dikonsumsi oleh masyarakat tertentu. yaitu menggabungkan bagian-bagian lepas dari suatu barang menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Memasak.Termasuk BKP & Penghasilan yg tergolong mewah Pasal 5 Termasuk BKP yang tergolong mewah: 1. Barang yang dikonsumsi untuk menunjukkan status Pengertian menghasilkan barang mewah adalah kegiatan: a. Merakit. Membotolkan.

23 . 1.Tarif PPN & PPn BM Pasal 7 & 8 Tarif PPN adalah 10% 2. Ketentuan mengenai jenis barang yang dikenai PPn BM diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Ekspor BKP Tidak Berwujud c. Tarif PPN dapat diubah menjadi paling rendah 5% dan paling tinggi 15% dengan PP 4. Tarif PPn BM ditetapkan paling rendah 10% dan paling tinggi 200% 5. Tarif PPN sebesar 0% diterapkan atas: a. Ketentuan mengenai kelompok BKP yang tergolong mewah yang dikenai PPPn BM diatur dengan Peraturan Pemerintah. 7. Ekspor BKP yang tergolong mewah dikenai pajak dengan tarif 0% 6. Ekspor BKP Berwujud b. Ekspor JKP 3.

12 th 2001) Barang Hasil Pertanian yg dipetik langsung / diambil langsung / disadap langsung dari sumbernya.Barang Hasil Pertanian BKP Terhitung 1 Jan 2001 (PP No. termasuk hasil pemrosesannya yg dilakukan dengan cara tertentu Diserahkan oleh: • Petani atau • Kelompok tani Diserahkan oleh: • Petani berbentuk badan atau • Bukan petani / kelompok tani Termasuk kelompok BKP tertentu yg bersifat strategis Tidak termasuk kelompok BKP tertentu yg bersifat strategis Dibebaskan dari pengenaan PPN Dikenakan PPN 24 .

Bendaharawan Pemerintah (Pusat / Daerah) b. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP tidak berwujud dan atau JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean c. Pengusaha yang seharusnya dikukuhkan sebagai PKP.Subyek Pajak (PPN) 1. meliputi: a. meliputi: a. Pemungut PPN sebagaimana dimaksud dalam pasal 16A UU PPN Jo Kepmen No 563/KMK. meliputi: a. Orang pribadi / badan yang membangun sendiri bangunan yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha / pekerjaannya 3. Pengusaha kecil yang memilih menjadi PKP 2. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP atau b. Ditjen Bea dan Cukai dalam hal impor BKP b. Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) Catatan: Jadi subyek pajak adalah orang / badan yang bertanggungjawab atas pembayaran pajak ke kas negara 25 .03/2003. yang melakukan pembayaran atas penyerahan BKP/JKP oleh PKP rekanan pemerintah yang dananya berasal dari APBN/APBD. tetapi belum dikukuhkan c. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan BKP/JKP atau ekspor BKP. Bukan Pengusaha Kena Pajak.

8. 2. 7.OBYEK PPN (Pasal 4 16C dan 16D UU PPN) 1. 5. Penyerahan BKP di dalam daerah pabean oleh pengusaha Impor BKP oleh siapapun (pengusaha atau bukan pengusaha) Penyerahan JKP di dalam daerah pabean oleh pengusaha Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean (pengusaha atau bukan pengusaha) Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean (pengusaha atau bukan pengusaha) Ekspor BKP oleh PKP Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha / pekerjaannya Penyerahan aktiva yg menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan dengan syarat PPN yg dibayar pada saat perolehan dapat dikreditkan Yang dimaksud dengan pengusaha adalah PKP yaitu pengusaha (orang pribadi / badan). 6. 3. yg dalam rangka kegiatan usaha / pekerjaannya menyerahkan BKP/JKP atau Ekspor BKP 26 . 4.

4.143 th 2000 joPP No 24 th 2002) 27 .Pengertian Penyerahan BKP (Pasal 1A UU PPN jo Pasal 13 PP No 143/2000 jo PP No 24/2002) 1. jual beli secara tunai atau angsuran atau perjanjian lain yg mengakibatkan adanya penyerahan hak atas BKP) Pengalihan BKP oleh karena suatu perjanjian sewa beli perjanjian leasing (sewa guna usaha) dengan hak opsi (pembayaran dilakukan secara bertahap. 6. Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual-belikan yg masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan. 5. 7. ytetapi penguasaan atas BKP telah berpindah dari penjual/leasor kepada pembeli /lessie) Penyerahan BKP pada pedagang perantara atau melalui juru lelang Pemakaian sendiri & pemberian cuma-cuma (meliputi baik produksi sendiri maupun bukan produksi sendiri) a. 3. penyerahan hak belum dilakukan. sepanjang PPN atas perilehan aktiva tsb menurut ketentuan dapat dikreditkan Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya & penyerahan BKP antar cabang tempat terutang PPN Penyerahan BKP secara konsinyasi Penyerahan persediaan BKP dlm rangka perubahan bentuk usaha atau penggabungan usaha atau pengalihan seluruh aktiva persahaan yg diikuti dng perubahan pihak yang berhak atas BKP tsb terhitung 1 Januari 2001 terutang PPN (PPNo. 8. Persediaan BKP masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan b. tukar menukar. Penyerahan hak atas BKP kareana suatu perjanjian (jual beli. 2.

E”.C (BPKB) belum ada. yang terjadi hanya pengalihan/pemindahan penguasaan atas truk tsb dari PT.D untuk menjualkan kopi gingseng hasil produksi PT D. Apabila kopi gingseng tersebut telah laku dijual.000. E bukan PKP. Jual beli secara angsuran  Saat penyerahan BKP Ilustrasi: PT A (distributor TV) menyerahkan beberapa unit TV kepada Ardi dengan harga rp.000.B kepada PT. 25.000. Sebagai pihak penjual (yang menyerahkan tektil) adalah PT. Pada saat PT. B (dealer truk) mengadakan perjanjian sewa beli beberapa unit truk dengan PT.000.C bergerak di bidang komisioner (pedagang perantara) mengadakan perjanjian dengan PT.30.000.C. C membayar harga sewa I sebesar Rp.E melalui juru lelang dan dalam faktur pajak ditulis “Kantor lelang cc PT. Pada saat PT. C.Saat Timbulnya Penyerahan (Obyek Pajak) Yg Mengakibatkan Terutangnya Pajak 1. 4. maka atas penyerahan tersebut tidak terutang PPN. Apabila PT.250.yg pembayarannya dilakukan secara angsuran. maka dissini sudah terjadi penyerahan menurut UU PPN dan terutang PPN Penyerahan BKP melalui Kantor Lelang  Penyerahan kepada pemenang lelang Ilustrasi: PT E (Pabrik Tektil) memnjual beberapa jenis tekstil melalui kantor lelang.dan truk diserahkan kepada PT. C pada tgl 9 Juli 2005.. sehingga sudah terutang PPN atas seluruh harga TV Perjanjian sewa beli  Saat pengalihan BKP Ilustrasi: PT. sebagai imbal jasa PT. . karena bukti kepemilikan truk oleh PT.. Penyerahan baru terjadi pada saat teksti tersebut diserahkan pada pemenang lelang.dan TV diserahkan kepada Ardi. 3.C. namun berdasarkan pasal 1A UU PPN penyerahan sudah terjadi pada saat adanya pengalihan BKP (truk) Pedagang Perantara  Saat penyerahan Ilustrasi: PT. 28 2.000. Disini belum terjadi penyerahan.. Disini sudah terjadi penyerahan hak.C memperoleh bagian sebesar 5% dari harga jual . Tanggal 8 Juni 2005 dibayar angsuran I sebesar Rp. PT.D menyerahkan kopi gingseng pada PT.E menyerahkan tektil kepada juru lelang belum terjadi penyerahan.

Tidak termasuk dalam pengertian penyerahan BKP (Pasal 1A ayat 2 UU PPN) 1. Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan penyerahan antar cabang dalam hal PKP memperoleh ijin pemusatan tempat pajak terutang dari Dirjen Pajak. Penyerahan BKP untuk jaminan utang piutang 3. kecuali penyerahan BKP antar tempat pajak terutang (antar PKP) 29 . Penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam KUHD 2.

maka atas penyerahan BKP/JKP tersebut tidak terutang PPN Menentukan saat penyerahan adalah sangat penting. 3. .Penyerahan Barang / Jasa yang dikenakan PPN (Penjelasan pasal 4 UU PPN) Apabila memenuhi syarat: 1. Catatan: a. Barang/jasa yang diserahkan adalah BKP (berwujud / tidak berwujud) dan JKP Penyerahan dilakukan di dalam daerah pabean Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha / pekerjaannya (sebagai Pengusaha Kena Pajak) 2. apabila salah satu syarat tidak dipenuhi. karena hal tersebut berkaitan erat dengan saat timbulnya obyek pajak atau saat terutangnya pajak 30 b. Ketiga persyaratan tersebut bersifat komulatif.

KPP dapat melakukan pengukuhan PKP secara jabatan b. tidak perlu dikukuhkan sebagai PKP 31 . Tempat kegiatan yang semata-mata melakukan pembelian / pengumpulan bahan baku untuk pabrik dan tidak melakukan penyerahan kepada pihak lain. kecuali pengusaha kecil b. tetapi sampai dengan suatu masa pajak dalam suatu tahun buku seluruh nilai peredaran brutonya sudah melebihi batasan sebagai pengusaha kecil  pelaporan dilakukan paling lambat akhir masa pajak berikutnya 3. Apabila kewajiban wajib pajak tidak dilaksanakan. Bagi pengusaha yang memenuhi syarat sebagai PKP  sebelum melakukan penyerahkan BKP/JKP b. Bagi pengusaha kecil: 1) Yang memilih menjadi PKP  wajib mengajukan pernyataan tertulis untuk dikukuhkan sebagai PKP 2) Yang tidak memilih sebagai PKP. Pengusaha yang menyerahkan BKP/JKP di daerah pabean atau melakukan ekspor BKP.Kewajiban melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP (Pasal 3A ayat (1) UU PPN jo Kep-161/PJ/2001) 1. Pengusaha kecil yang memilih menjadi PKP 2. Tempat pelaporan yaitu KPP wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha wajib pajak Catatan: a. Saat pengusaha harus melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP: a. Yang diwajibkan melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP: a.

04/2000 jo Kepmen No 571/KMK.000.000.03/2003) 1.000.000.000. Dalam tahun 2005 jumlah seluruh peredaran brutonya Rp. Bukan PKP  tidak wajib dikukuhkan menjadi PKP  kecuali memilih menjadi PKP 2.550. Oleh karena jumlah peredaran bruto tidak melebihi Rp. Kriteria pengusaha kecil (terhitung tanggal 1 Januari 2004) yaitu pengusaha yang selama tahun buku melakukan penyerahan BKP/JKP dengan jumlah peredaran bruto / penerimaan bruto tidak lebih dari Rp.Pengusaha Kecil (Kepmen No. sehingga tidak wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP.600.600. kecuali Amri memilih menjadi PKP Catatan: Dalam hal pengusaha kecil memilih menjadi PKP.000 Contoh: Amri memiliki usaha yang bergerak di bidang usaha pabrik roti. maka segala hak dan kewajiban perpajakan bagi PKP berlaku juga terhadap pengusaha kecil tersebut 32 . maka usaha Amri untuk tahun 2006 tergolong pengusaha kecil.552/KMK.

PKP tidak melaporkan kegiatan usahanya. Maka  Saat pengukuhan sebagai PKP adalah awal bulan berikutnya “setelah” batas akhir pelaporan (tanggal 1 Agustus 2005) Catatan: 1. Pengusaha kecil yang peredaran brutonya s/d suatu masa pajak (misal Juni 2005) dalam suatu tahun buku telah melebihi batasan ketentuan sebagai pengusaha kecil (Rp. termasuk penyerahan BKP/JKP cabang 33 . Jumlah peredaran bruto.Kewajiban melapor bagi Pengusaha Kecil (SE-33/PJ.51/2003) 1. PKP melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. paling lambat pada akhir bulan berikutnya 2. bahwa peredaran brutonya s/d suatu masa pajak (misal s/d Juni 2005) telah melebihi batasan ketentuan sebagai pengusaha kecil 3. meliputi seluruh penyerahan BKP/JKP. tetapi sudah melewati batas waktu yang ditetapkan (tanggal 31 Juli 2005) b.000. Apabila: a. Kewajiban untuk memungut. wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. dan dari hasil penelitian diketahui.000).600.menyetor dan melaporkan PPN / PPn BM dimulai sejak saat pengusaha dikukuhkan sebagai PKP 2.

maka pengusaha kecil harus PKP. maka harus berstatus sebagai PKP. dengan demikian dapat menerbitkan FP. Terdapat kecenderungan dari PKP untuk membeli BKP/JKP dari pengusaha yang berstatus sebagai PKP. 2. Ketentuan ini tersirat dalam Kep-382/PJ/2002 sbb: a.Mengapa Pengusaha Kecil memilih menjadi PKP Karena ada tuntutan untuk menjadi PKP 1. Apabila pengusaha kecil melakukan penyerahan BKP/JKP kepada pengusaha yang berstatus sebagai PKP. karena bendaharawan pemerintah / KPKN hanya akan mengadakan kontrak dengan pengusaha yang sudah berstatus sebagai PKP. Apabila pengusaha kecil menjadi rekanan pemerintah. Pemungut PPN wajib memberitahukan kepada Kepala KPP apabila melakukan transaksi dengan rekanan yang bukan PKP Pemungut PPN yang melakukan transakasi dengan rekanan yang belum berstatus sebagai PKP dan diketahui telah memenuhi syarat sebagai PKP. agar dapat mengkreditkan PM-nya 34 . maka rekanan ybs diwajibkan untuk melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP sebelum melakukan transaksi b.

Dilakukan dalam hal: a.516/PJ/2000) 1. Tidak memenuhi syarat lagi sebagai PKP 2. PKP yang jumlah peredaran bruto untuk suatu tahun buku tidak melebihi batas jumlah peredaran bruto untuk pengusaha kecil Catatan : Pencabutan PKP hanya ditujukan untuk kepentingan tata usaha perpajakan. kecuali: a. Perusahaan bubar b. tanpa menghilangkan kewajiban perpajakan yang harus dilakukan oleh PKP 35 . PKP pindah alamat ke wilayah kerja KPP lain b.Pencabutan pengukuhan PKP (Kep. PKP pindah alamat (tempat kegiatan usaha) ke wilayah kerja KPP lain c. Permohonan disampaikan ke KPP setempat 3. Keputusan pencabutan diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan.

PM atas perolehan dan/atau impor barang modal dapat dikreditkan. Dikecualikan kompensasi dan pengembalian akhir tahun. Pajak Masukan (PM) dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran (PK) dalam Masa Pajak yang sama. Pengembalian kelebihan PM kepada PKP yang mempunyai kriteria sebagai PKP berisiko rendah. selisihnya merupakan PPN yang harus disetor oleh PKP. 10. dilakukan dengan pengembalian pendahuluan 9. 36 . PKP yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang PPN . jumlah kekurangan pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan. 7. PKP yang melakukan ekspor BKP Tidak Berwujud e.nya tidak dipungut d. 2. Apabila dalam suatu Masa Pajak. Atas kelebihan PM dapat diajukan permohonan pengembalian pada akhir tahun buku. Bagi PKP yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak. 5. 3. selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya. PM yang dapat dikreditkan lebih besar daripada PK. PM yang dikreditkan harus menggunakan Faktur Pajak sesuai ketentuan baik formal dan material 4. Berdasarkan hasil pemeriksaan diatas Dirjen Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. PKP dalam tahap belum berproduksi 8. PKP yang melakukan ekspor JKP f. PKP yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP kepada Pemungut PPN c. PK lebih besar daripada P M. Dirjen Pajak dapat melakukan pemeriksaan terhadap PKP berisiko rendah dan menerbitkan surat ketetapan pajak setelah melakukan pengembalian pendahuluan 11. 6.Mekanisme Pengelolaan PPN (1) Pasal 9 1. PKP yang melakukan ekspor BKP Berwujud b. Apabila dalam suatu Masa Pajak. dan atas kelebihan PM dapat diajukan permohonan pengembalian pada setiap Masa Pajak oleh: a. Ketentuan mengenai PKP berisiko rendah yang diberikan pengembalian pendahuluan diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

18. Ketentuan mengenai penentuan waktu. Apabila dalam suatu Masa Pajak PKP selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak. kecuali PKP menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM. jumlah PM yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.Mekanisme Pengelolaan PPN (2) Pasal 9 12. jumlah PM yang dapat dikreditkan adalah PM yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak. sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya. dan tata cara pembayaran kembali diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 14. 15. penghitungan. 17. Besarnya PM yang dapat dikreditkan oleh PKP yang melakukan kegiatan usaha tertentu dihitung dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM. 16. Besarnya PM yang dapat dikreditkan oleh PKP yang peredaran usahanya dalam 1 (satu) tahun tidak melebihi jumlah tertentu. 13. Apabila dalam suatu Masa Pajak PKP selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak. sedangkan PM untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti. 37 . PM yang telah dikreditkan dan telah diberikan pengembalian wajib dibayar kembali oleh PKP dalam hal PKP tersebut mengalami keadaan gagal berproduksi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak Masa Pajak pengkreditan PM dimulai. Ketentuan mengenai peredaran usaha kegiatan usaha tertentu dan pedoman penghitungan pengkreditan PM diatur Peraturan Menteri Keuangan.

tetapi belum dikreditkan dengan PK pada Masa Pajak yang sama. PM atas BKP yang dialihkan yang belum dikreditkan oleh PKP yang mengalihkan dapat dikreditkan oleh PKP yang menerima pengalihan. alamat. Dalam hal terjadi pengalihan BKP dalam rangka penggabungan. yang ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan j. sepanjang Faktur Pajaknya diterima setelah terjadinya pengalihan dan PM tersebut belum dibebankan sebagai biaya atau dikapitalisasi 38 . kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan d. Pengkreditan PM tidak dapat dikreditkan dengan PK diberlakukan bagi pengeluaran untuk: a. peleburan. Perolehan BKP atau J yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan formal dan material atau tidak mencantumkan nama. distribisi. pemecahan. Perolehan BKP atau JKP sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP b. 21. Perolehan BKP selain barang modal atau JKP sebelum PKP berproduksi 20. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP e. Perolehan BKP atau JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha yaitu produksi. pemekaran. Perolehan BKP atau JKP yang PM-nya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak i. pemasaran dan manajemen c. dan pengambilalihan usaha. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon. Ketentuan mengenai penghitungan dan tata cara pengembalian kelebihan PM diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lama 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan. 22.Mekanisme Pengelolaan PPN (3) Pasal 9 19. PM yang dapat dikreditkan. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan formal dan material h. Perolehan BKP atau JKP yang PM-nya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa PPN. dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli BKP atau penerima JKP g.

Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan / pemanfaatan BKP/JKP terutang pada saat pembayaran 2.Saat terutangnya Pajak (PPN) (Pasal 11 UU PPN jo PP no 143/2000 jo PP No 24/2002) Penyerahan BKP/JKP kepada bukan pemungut Penyerahan BKP/JKP kepada pemungut Impor BKP Saat penyerahan BKP/JKP Saat pembayaran Saat BKP dimasukkan ke dalam daerah pabean Saat BKP dikeluarkan dari daerah pabean Saat mulai dilaksanakan pembangunan fisik Saat dimulainya pemanfaatan Ekspor BKP Kegiatan membangun sendiri Pemanfaatan BKP tidak berwujud / JKP dari luar daerah pabean Saat lain Ditetapkan Dirjen Pajak Catatan: 1. Kapan pajak dibayar / dikembalikan c. Kapan penghitungan dan pembayaran dilaporkan 39 . terutangnya pajak terjadi pada saat disepakati / ditetapkan sesuai hasil RUPS 3. Pentingnya menentukan saat terutangnya pajak. karena erat kaitannya dengan penentuan: a. Penyerahan BKP dalam rangka peubahan bentuk usaha / penggabungan usaha / pemekaran usaha / pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti perubahan pihak yang berhak atas BKP tsb. Kapan pajak dihitung dan diperhitungkan b.

Ekspor BKP Tidak Berwujud h. Dirjen Pajak dapat menetapkan saat lain sebagai saat terutangnya pajak dalam hal saat terutangnya pajak sukar ditetapkan atau terjadi perubahan ketentuan yang dapat menimbulkan ketidak-adilan. 40 . Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean e. saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran. Penyerahan JKP d.Saat Terutangnya PPN Pasal 11 Saat terutangnya PPN: a. Ekspor BKP Berwujud g. Penyerahan BKP b. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean f. Impor BKP c. Ekspor JKP. Termasuk transaksi melalui electronic commerce Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan BKP atau sebelum penyerahan JKP atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean.

2.000 tersebut merupakan PK yang dipungut oleh PKP B.2.500.25. e.500.Contoh Perhitungan PPN Pasal 8A & 9 1.000.4.15.000 Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp.000 Pajak lebih dibayar tersebut dikompensasikan ke Masa Pajak Juni 2010.000.000.000.2.000 PPN terutang = 0% x Rp.2.000.500.000.2. PKP B melakukan penyerahan JKP dengan memperoleh Penggantian Rp.000 PPN yang dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai = 10% x Rp.000.10.000 Pajak lebih dibayar Masa Pajak Juni 2010 = Rp.0.1. Seseorang mengimpor BKP dari luar Daerah Pabean dengan Nilai Impor Rp.10.000 d. 2.500.000 = Rp.000 Pajak kurang dibayar = Rp.20.000 PPN sebesar Rp.25.000 PPN terutang = 10% x Rp.20.000. Masa Pajak Juni 2010 Pajak Keluaran = Rp.15.000.000 PPN terutang = 10% x Rp.000.500.000 = Rp.000.000 tersebut merupakan PK yang dipungut oleh PKP A.000 Pajak Masukan dapat dikreditkan = Rp.000 = Rp.000.000 Pajak lebih dibayar dari Masa Pajak Mei 2010 dikompensasikan ke Masa Pajak Juni 2010 = Rp.00 tersebut merupakan Pajak Keluaran.1.1. PKP D melakukan ekspor BKP dengan Nilai Ekspor Rp.3.000 = Rp.2. c.500.000 Pajak lebih dibayar tersebut dikompensasikan ke Masa Pajak Juli 2010 41 .2.000 Pajak Masukan dapat dikreditkan = Rp.000.000 Pajak lebih dibayar = Rp.000.2.500. 0 PPN sebesar Rp. Masa Pajak Mei 2010 Pajak Keluaran = Rp. PKP A menjual tunai BKP dengan Harga Jual Rp.

Besarnya PM yang dapat dikreditkan dihitung berdasarkan pedoman yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan 42 .5. Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak yang berkaitan dengan penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan PPN = Rp. PM yang dapat dikreditkan dengan PK sebesar Rp.1. PM sebesar Rp.000.000 b.500.500.500.3.1.000 c.000 hanya sebesar Rp.000 sedangkan PM yang berkaitan dengan penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti.000 Pajak Keluaran = Rp. Penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan PPN = Rp.500. BKP dan JKP berkaitan dengan penyerahan yang terutang pajak = Rp.000 Pajak Keluaran = nihil PM yang dibayar atas perolehan BKP dan JKPyang berkaitan dengan keseluruhan penyerahan sebesar Rp.000 Pajak Keluaran = nihil c.2. BKP dan JKP berkaitan dengan penyerahan yang tidak dikenai PPN = Rp.000.000.2.2.000 b.25.000 b.000 Pajak Keluaran = Rp.000. Penyerahan yang terutang pajak = Rp.000. PKP melakukan 2 (dua) macam penyerahan. yaitu: a.3.Contoh Perhitungan SPT Masa PPN Pasal 9 1.000 Pajak Keluaran = nihil Pajak Masukan yang dibayar atas perolehan: a.500.5.500.35.000 Menurut ketentuan ini.300.000 2.500.500.500.15. Penyerahan yang tidak terutang PPN = Rp. yaitu: a. Penyerahan yang tidak terutang pajak = Rp.000 tidak seluruhnya dapat dikreditkan dengan PK sebesar Rp.2. PKP melakukan beberapa macam penyerahan. Penyerahan yang terutang pajak = Rp.000.

11. tetapi tetap sebesar Rp.000.000.15.000. 8.000.8.000.000.000 Dari hasil pemeriksaan diketahui: Pajak Keluaran = Rp.15.000 Pajak Masukan = Rp.00 sesuai dengan yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa PPN.000. 5.000 Kurang Bayar menurut hasil pemeriksaan = Rp. 8.000.000.000 Masih kurang dibayar = Rp.000 Dalam hal ini.000.000.11. perhitungan hasil pemeriksaan Pajak Keluaran = Rp. PM yang dapat dikreditkan tidak sebesar Rp.000 43 .000 Pajak Masukan = Rp. 2.000 Kurang Bayar menurut Surat Pemberitahuan = Rp. 7.Contoh Perhitungan SPT Masa Pasal 9 Dalam Surat Pemberitahuan Masa PPN dilaporkan: Pajak Keluaran = Rp. Dengan demikian.10.000.000.000 Pajak Masukan = Rp.

Saat terutangnya PPn BM atas penyerahan BKP yang tergolong mewah dari pusat ke cabang atau sebaliknya oleh pabrikan barang mewah (Kep-428/PJ/2002) Pabrikan BPK yang tergolong mewah Cabang perusahaan Cabang perusahaan Terutang PPN PPN BM belum terutang Terutang PPN PPN BM belum terutang Pihak lain Terutang PPN dan PPn BM Catatan: 1. 2. DPP PPN untuk penyerahan pusat ke cabang atau sebaliknya atau antar cabang adalah harga jual dikurangi laba kotor DPP PPN & PPn BM untuk penyerahan kepada pihak lain adalah harga jual tidak termasuk PPN / PPn BM 44 .

karena berkaitan dengan di KPP mana harus menyetorkan dan melaporkan PPN / PPn BM terutang 45 .Tempat pajak (PPN) terutang (Pasal 12 UU PPN jo PP no 143/2000) Penyerahan BKP/JKP DN orang pribadi Penyerahan BKP/JKP DN badan Impor BKP Tempat kegiatan usaha Tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha Tempat BKP dimasukkan ke dalam daerah pabean Tempat pembangunan tersebut didirikan Tempat tinggal / kedudukan atau tempat kegiatan usaha Kegiatan membangun sendiri Pemanfaatan BKP tidak berwujud / JKP dari luar daerah pabean Tempat lain yang ditetapkan Dirjen Pajak Catatan: Pentingnya menentukan tempat pajak terutang.

maka terhadap PKP yang memenuhi syarat yang telah ditentukan dapat diberikan ijin pemusatan / sentralisasi tempat PPN terutang 46 . kecuali impor BKP Terutang di KPP yang bersangkutan Terutang di setiap tempat kegiatan musaha PKP memilih satu tempat usaha sebagai tempat terutangnja pajak untuk dikukuhkan sebagi PKP PKP wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP do setiap wilayah KPP ybs Untuk memberikan kemudahan bagi PKP.Tempat pajak (PPN) terutang bagi PKP yang mempunyai lebih dari satu tempat pajak terutang Pada dasarnya menganut disentralisasi.

Tanggal dimulainya pemusatan Dilampiri: Fotocopy & memperlihatkan yang asli berita acara penyampaian SPT masa PPN melalui media elektronik dari tempat yang akan dilakukan pemusatan PPN Dilampiri: Pernyataan PKP. alamat dan NPWP tempat pemusatan PPN terutang b. alamat & NPWP tempat PPN terutang yang akan dipusatkan c. bahwa sistem administrasinya telah sesuai dengan persyaratan pemusatan tempat PPN terutang 47 . Nama. Rincian. dengan cara Pemberitahuan melalui SPT PPN sejak saat dimulainya pemasukan SPT dng media elektronik Permohonan tertulis paling lambat 3 bulan sebelum dumulai pemusatan Paling sedikit memuat a.Sentralisasi tempat PPN terutang (Kep-128/PJ/2003 jo Kep-394/PJ/2003) Sentralisasi otomatis • PKP WP besar dipusatkan di KPP WP besar • PKP WP BUMN dipusatkan di KPP yg mengelola WP BUMN (terhitung tanggal 1 Januari 2004) Sentralisasi dengan pemberitahuan Sentralisasi dengan permohonan PKP yang menyampaikan SPT masa PPN dengan media elektronik (efilling) PKP selain yang terdaftar di KPP WP besar & PKP yang menggunakan media elektronik Pengajuan ijin disampaikan ke Kanwil yang membawahi KPP tempat pemusatan PPN akan dilakukan. nama.

Kantor cabang / unit yang dipusatkan hanya mengadministrasi kegiatan perolehan BKP/JKP untuk keperluan operasional kantor / unit ybs yang dananya berasal dari kas kecil (petty cash) 2. dipusatkan di tempat pemusatan PPN dimohon 48 . kecuali yang dicetak berdasarkan data yang diinput secara on line dari kantor pusat atau tempat pemusatannya e. Tempat kegiatan usaha yang dipusatkan tidak membuat FP & Faktur Penjualan. FP & Faktur Penjualan diterbitkan di tempat pemusatan PPN terutang d. PKP selain pedagang eceran & PKP dengan media elektronik a Tempat PPN terutang yang dipusatkan tidak menyelenggarakan administrasi penjualan dan pembelian b.Pemberitahuan / Permohonan pemusatan tempat PPN terutang dikabulkan apabila memenuhi syarat 1. PKP pedagang eceran Kegiatan administrasi pembelian untuk jaringan penjualan yang tersebar di berbagai tempat. Fungsi tempat kegiatan usaha yang dipusatkan hanya melakukan penyerahan BKP/JKP kepada pembeli atas perintah tempat pemusatan PPN c.

Apabila ada penambahan tempat kegiatan usaha.52/2003) PKP dng media elektronik PKP non media elektronik Paling lambat 14 hari sejak diterima pemberitahuan tanpa melalui pemeriksaan Paling lambat 3 bulan sejak permohonan diterima lengkap setelah dilakukan pemeriksaan Lewat jangka waktu . kecuali PKP yang menyampaikan SPT masa PPN/PPn BM melalui media elektronik (tidak termasuk media elektronik berupa diskette. PKP dapat mengajukan permohonan kedua setelah lewat 6 bulan sejak Keputusan penolakan 3. permohonan PKP dianggap telah berlaku dan keputusan harus diterbitkan paling lambat 1 bulan Keputusan berlaku sejak tanggal pemberitahuan. PKP dapat mengajukan pemeberitahuan . digital data storage / DDS atau digital audio type / DAT 49 dan compact disk) .Penerbitan keputusan persetujuan pemusatan tempat PPN terutang oleh Kanwil (Kep-128/Pj/2003 jo SE-25/PJ. Dalam hal permohonan (PKP non elektronik) ditolak. untuk masa 5 tahuan & dapat diperpanjang lagi dengan permohonan paling lambat 3 bulan sejak belum habis masa berlakunya Catatan 1. tidak ada keputusan pemberitauan PKP dianggap telah berlaku keputusan dan harus diterbitkan paling lambat 14 hari Lewat jangka waktu tidak ada keputusan. Permohonan pemusatan tidak dapat dilakukan untuk tempat kegiatan usaha dimana pabrik terletak. Untuk masa 5 tahun dan dapat diperpanjang lagi dengan pemberitahuan perpanjangan Keputusan berlaku sejak tanggal permohonan. Permohonan untuk pemusatan tempat PPN terutang bagi tempat kegiatan usaha tambahan 2.

Pencabutan keputusan pemusatan tempat PPN terutang 1. Ka. 2.Kanwil menerbitkan keputusan pencabutan pemusatan PPN paling lambat 14 hari setelah tanggal pemberitahuan Ka Kanwil menerbitkan Keputusan pencabutan pemusatan PPN paling lambat 14 hari setelah • Berakhirnya masa pajak diketahui terjadi perubahan fungsi tempat kegiatan usaha • Tidak lagidisampaikan SPT masa • PPN dengan media elektronik Catatan 1. PKP dapat mengajukan oermohonan pencabutan ijin pemusatan tempat PPN terutang atas seluruh atau sebagian tempat kegiatan usaha 2.Kanwil menerbitkan permohonan pencabutan ijin pemusatan tempat PPN terutang paling lambat 14 hari setelah surat permohonanditerima 50 . Terdapat perubahan fungsi tempat kegiatan usaha yang dipusatkan sehingga tidak memenuhi syarat pemusatan PKP dengan media elektronik tidak lagi menyampaikan SPT masa PPN dengan media elektronik Wajib memberitahuan kepada Kanwil Apabila PKP tidak memberitahukan kepada Kanwil Keputusan pemusatan PPN dinyatakan tidak berlaku sejak tanggal pemberitahuan Keputusan pemusatan PPN dinyatakan tidak berlaku sejak tanggal terjadinya perubahan fungsi tempat kegiatan usaha Ka.

Penyerahan BKP b. Ekspor BKP Tidak Berwujud d. tiket pesawat. Faktur Pajak harus dibuat pada: a. Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan d. 4. Penyerahan JKP c. FP harus memenuhi persyaratan formal (lengkap. antara lain kuitansi telepon. 5. 51 . FP harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan dengan FP gabungan ( termasuk untuk pembayaran lebih dulu). Ekspor JKP 2. dukumen tertentu yang digunakan dalam hal impor atau ekspot BKP berwujud. Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. surat setoran pajak (SSP) untuk penyerahan/ pemanfaatan BKP dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean.Faktur Pajak (FP) Pasal 13 1. Dikecualikan bagi PKP dapat membuat 1 (satu) FP meliputi seluruh penyerahan yang dilakukan kepada pembeli BKP atau penerima JKP yang sama selama 1 (satu) bulan kalender. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan FP dan tata cara pembetulan atau penggantian FP diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Saat penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP b. Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP c. jelas dan benar) dan material ( kenyataan sebenarnya atau sesungguhnya). misal penyerahan BKP dan atau JKP kepada bendahara pemerintah (Pemungut PPN) 3. 6. PKP wajib membuat Faktur Pajak (FP) atau Faktur Penjualan atau Dokumen lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak untuk setiap: a. Dirjen Pajak dapat menetapkan dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan FP.

Merupakan bukti pembayaran PPN / PPn BM Sebagai sarana untuk pengkreditan pajak masukan Sebagai dasar pembuatan nota retur Sebagai bukti pungutan pajak. Merupakan bukti pungutan PPN / PPn BM b. c. baik secara formal maupun materiil Catatan Orang pribadi / badan yang tidak dikukuhkan sebagai PKP dilarang membuat FP  dengan maksud untuk melindungi pembeli dari pemungutan pajak yang tidak semestinya (pasal 14 UU PPN) 52 .Arti dan Fungsi Faktur Pajak (FP) (Pasal 1(23) & Pasal 13 UU PPN jo Kep-87/PJ/2002) Arti Bukti pemungutan pajak (PPN /PPn BM) Dibuat oleh PKP karena penyerahan BKP/JKP atau ekspor BKP Fungsi Ditjen Bea dan Cukai karena impor BKP B agi PKP penjual Bagi PKP pembeli / importir a. maka FP harus benar.

paling sedikit memuat keterangan yang dimaksud dalam pasal 13(5) UU PPN 2. FP Khusus Dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai FP standar (ditetapkan oleh Dirjen Pajak) Catatan: Pada prinsipnya PKP yang menyerahkan BKP/JKP wajib membuat FP standar. sedangkan FP tersebut pada butir 3 & 4 merupakan suatu pengecualian. FP Standar FP yang bentuk dan isinya telah ditetapkan. FP Sederhana FP yang isinya lebih sederhana dan bentuknya bebas. Dalam satu masa pajak 3. yang hanya dibuat oleh PKP tertentu atau dalam hal-hal tertentu 53 . Kepada pembeli yang sama b. FP Gabungan FP standar yang dibuat untuk penyerahan BKP/JKP: a. paling sedikit memuat keterangan dimaksud pasal 13(7) UU PPN  Dihapus 4.Jenis Faktur Pajak (Pasal 13 UU PPN) 1.

c. 54 . Sejak tahun 2001 dalam FP standar tidak lagi mencantumkan: 1) Nomor pengukuhan PKP 2) Macam. alamat. NPWP. kuantum dan harga satuan 3) Tanggal penyerahan / pembayaran FP standar tidak harus dibuat khusus atau berbeda dengan faktur penjualan Faktur penjualan yang memuat keterangan dan pengisiannya sesuai ketentuan di atas dapat diperlakukan sebagai FP standar (PKP harus memberitahukan ke KPP setempat sekaligus melaporkan nomor seri FP yang akan digunakan) b. yang menyerahkan BKP/JK • Nama.Faktur Pajak Standar (Pasal 13 UU PPN) FP Standar paling sedikit mencantumkan : • Nama. alamat. jumlah harga atau penggantian & potongan harga • PPN yang dipungut • PPn BM yang dopungut • Kode. jabatan & tanda tangan yang berhak menandatangani FP Catatan: a. No seri & tanggal pembuatan FP • Nama. NPWP pembeli BKP/JKP • Jenis barang / jasa.

5. maka untuk pembayaran tersebut harus dubuat FP tersendiri Tata cara pembuatan FP gabungan.Faktur Pajak Gabungan (Pasal 13 (11) UU PPN jo SE-02/PJ. Selama satu bulan takwin b. 4. sesuai dengan ketentuan pembuatan FP standar Pembuatan FP gabungan ini dimaksudkan untuk meringankan beban administrasi bagi PKP 2. Catatan: Pembuatan FP gabungan ini dimaksudkan untuk meringankan beban administrasi bagi PKP 55 . FP Gabungan diperuntukkan terhadap PKP yang melakukan penyerahan BKP/JKP yang terjadi : a.52/1995)) 1. 3. Kepada pembeli BKP / penerima JKP yang sama Dapat menggabungkan seluruh penyerahan BKP/JKP dengan dibuatkan satu FP standar Didalam hal terdapat pembayaran sebelum penyerahan BKP/JKP atau terdapat pembayaran sebelum batas akhir FP gabungan dibuat.

faktur prnjualan. kepada: a. cash register. Konsumen akhir.425/PJ/2002) 1. Nama. Jumlah harga jual / penggantian yang sudah termasuk pajak atau besarnya pajak dicantumkan secara terpisah d. Pembeli BKP/JKP yang tidak diketahui identitasnya secara jelas 2. karcis. alamat. kuitansi FP standar yang tidak diisi selengkapnya (cacat) 56 bukan merupakan FP sederhana) . NPWP yang menyerahkan BKP/JKP b. Tanggal pembuatan FP Dapat dibuat oleh PKP untuk penyerahan BKP/JKP secara langsung.dan b. 2. Catatan: 1.Faktur Pajak Sederhana  Dihapus (Pasal 13 (7) UU PPN jo Kep-524/PJ/2000 jo Kep. FP sederhana paling sedikit mencantumkan: a. Jenis dan kuantum c. Contoh FP sederhana : bon kontan.

tagihan surat muatan udara (Air Way Bill) atau Delivery Bill untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri g. PIB (Pemberitahuan Impor Barang) dan dilampiri SSP atau bukti pungut pajak dari DJBC b. Dasar pengenaan pajak (DPP) f. sekurang-kurangnya memuat: a. NPWP dalam hal penerima dokumen sebagai WP dalam negeri d. Jenis dokumen tertentu yang diberlakuakn sebagai FP standar ( FP khusus): a. Nama. SSP untuk pembayaran PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean h. Tanda pembayaran atau kuitansi telepon f. SPPB (Surat Perintah Penyerahan Barang) dari Bulog / Dolog untuk penyaluran gula pasir & tepung terigu d. Jumlah pajak yang terutang 2. Jumlah satuan apabila ada e. Ticket. FNBP (Faktur Nota Bon Penyerahan) oleh Pertamina untuk penyerahan BBM dan atau non BBM e. Identitas yang berwenang menerbitkan dokumen b. FP khusus ditetapkan dengan keputusan Dirjen Pajak. Nota penjualan jasa pelabuhan i. alamat penerima dokumen c. Tanda pembayaran atau kuitansi listrik 57 .Faktur Pajak Khusus (Dokumen tertentu yang diberlakukan sebagi FP Standar) (PP 143/2000 jo Kep-522/PJ/2000 jo Kep-312/PJ/2001) 1. PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) yang telah difiat muat oleh DJBC dan dilampiri invoce c.

Apabila dibuat lebih dari rangkap 2. PKP wajib memungut PPN / PPn BM dari pembelinya dan untuk itu wajib membuat FP standar Untuk meringankan beban administrasi (menyimpang). PKP sebelum menerbitkan FP wajib melaporkan ke KPP setempat tentang Nomor Seri FP yang akan digunakan Setiap melakukan penyerahan BKP/JKP. 3. dapat dibuat FP sederhana  Dihapus Catatan: 1. Lembar ke-1 untuk pembeli (Pajak Masukan) b. Lembar ke-2 untuk PKP penjual (Pajak Keluaran) c. FP harus diisi secara lengkap. Bagi PKP pembeli  PPN yang tercantum didalamnya (FP standar) tidak dapat dikreditkan b. PKP diperkenankan membuat satu FP standar yang meliputi penyerahan BKP/JKP selama satu bulan takwin kepada pembeli yang sama (FP gabungan) Untuk menampung kegiatan penyerahan BKP/JKP secara langsung kepada konsumen akhir dan konsumen yang tidak diketahui identitasnya secara jelas. Bagi PKP penjual  dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% dari DPP 58 3. 2. harus dinyatakan secara jelas penggunaannya FP yang tidak diisi selengkapnya dapat mengakibatkan: a. benar dan ditandatangani FP dibuat dalam rangkap 2: a.Mekanisme pembuatan Faktur Pajak (Kep-549/PJ/2000 jo Kep-323/PJ/2001) 1. . 2. 4. jelas.

Tata cara pengisian Faktur Pajak Standar Pengisian tentang BKP/JKP yang diserahkan: 1. misalnya “ uang muka” atau “termin”” atau “angsuran” Harga jual / penggantian / uang muka / termin : harga jual atau penggantian diisi dengan harga jual atau penggantian sebelum dikurangi uang muka atau termin. Nomor urut : diisi dengan nomor urut dari BKP/JKP yang diserahkan Nama BKP/JKP : dalam hal diterima uang muka atau termin atau cicilan kolom nama BKP/JKP diisi dengan keterangan . 2. Dalam hal diterima uang muka atau termin. hanya baris “dasar pengenaan pajak” dan baris “PPN = 10% x DPP” yang harus dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dan menggunakan kurs yang berlaku menurut SK Menkeu pada saat penbuatan FP Dalam hal pemakaian sendiri identitas PKP (penjual) dan pembeli diisi sama yaitu PKP yang bersangkutan (penjual) 59 3. . maka yang menjadi DPP adalah jumlah uang muka atau termin. Dalam hal pembayaran harga jual / penggantian / uang muka / termin dilakukan dengan menggunakan mata uang asing. 4.

uang muka yang telah diterima.433/Pj/2002) PKP dapat membuat FP dengan cara Dibuatkan lebih dari satu FP Dibuatkan satu FP Masing-masing FP harus diisi dengan lengkap sesuai ketentuan dan ditanda-tangani. potongan harga.Pembuatan FP dalam hal rincian BKP/JKP yang tidak tertampung dalam satu FP (Kep-549/Pj/2000 jo Kep-323/PJ/2001 jo Kep. DPP dan PPN cukup diisi pada lembar FP terakhir 60 . 2. dengan penggunakan No seri FP yang sama Khusus 1. Diisi dengan menunjuk nomor & tanggal faktur penjualan ybs Faktur penjualan merupakan lampiran yang tidak terpisahkan Pengisian harga jual / penggantian.

Saat (batas terakhir) pembuatan FP
(Kep-549/PJ/2000 jo Kep.524/PJ/2000)

FP Standar:
1. Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP/ keseluruhan JKP, kecuali pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya, dibuat selambatlambatnya pada sat penerimaan pembayaran Pada saat pembayaran, dalam hal pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP/JKP Pada saat pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan Pada saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada pemungut PPN

2. 3. 4.

FP Sederhana:
1. 2. Pada saat penyerahan BKP/JKP Pada saat pembayaran dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan

Catatan:
Saat pembuatan FP merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami, karena berkaiatan erat dengan saat pelaporan pajak keluaran (dilaporkan dalam SPT masa PPN pada masa pajak dibuatnya FP)
61

Penerbitan FP yang tidak tepat waktu
(Kep-424/PJ/2002 & Kep-13/PJ/2010)

Sebelum

Setelah

Melewati 3 bulan sejak berakhirnya batas waktu penerbitan FP

Dianggap sebagai FP standar

Tidak dianggap sebagai FP standar (dianggap tidak menerbitkan FP)

Bagi PKP pembeli yang menerima FP

Merupakan PM yang dapat dikreditkan

Tidak dapat dikreditkan

Catatan:
PKP yang menerbitkan FP melewati batas waktu penerbitan FP dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% dari DPP
62

Tata cara pembetulan FP yang hilang
(Kep-549/PJ/2000)

PKP Pembeli

Mengajukan permohonan

PKP penjual

1. KPP tempat PKP pembeli 2. KPP tempat PKP penjual

PKP penjual membuat foto copy arsip FP ybs rangkap 2

Dilegalisir oleh KPP tempat PKP penjual: - Lb ke-1 : PKP pembeli melalui PKP penjual - Lb ke–2: Arsip KPP

Catatan:
KPP tempat PKP pembeli dan tempet PKP penjual wajib melakukan openelitan SPT masa PPN ybs untuk meyakinkan bahwa FP tsb telah dikreditkan
63

no seri. pada masa pajak yang sama dengan masa pajak dilaporkannya FP standar yang diganti Adanya kewajiban membetulkan SPT masa PPN pada masa pajak terjadinya kesalahan pembuatan FP Catatan: Pembetulan FP tidak diperkenankan dengan cara menghapus. selain dengan cara membuat FP standar penggati 64 . & tanggal FP yang diganti Mengekibatkan Dalam SPT masa PPN.Tata cara pembetulan FP rusak / cacat / salah tulis (Kep-549/PJ/2000) PKP Penjual Atas permohonan PKP pembeli atau atas kemauan sendiri Syarat Menerbitkan FP standar pengganti Caranya • Dilakukan paling lambat 2 tahun sejak tanggal FP diterbitkan • Belum dilakukan pemeriksaan Dilaporkan • • • • Dilaksanakan seterti membuat FP standar biasa Diisi berdasarkan keadaan yang sebenarnya Dilampiri FP standar yang diganti Dibubuhi cap yang mencantumkan kode. mencoret atau dengan cara lain.

atau antara lembar ke satu. nomor ijin usaha dan sebagainya. 5. Sebelum mencetak formulir FP PKP wajib memberitahu Kepala KPP terkait untuk memperoleh nomor FP yang akan digunakan Formulir FP dapat dicetak dalam warna putih untuk seluruh lembar. . 4. kedua dan ketiga dapat dicetak dalam warna yang berbeda Apabila diinginkan. namun tidak diperkenankan menambah atau mengurangi kolom yang ada Pada ruangan-ruangan yang masih kosong dalam formulir FP atau di halaman sebaliknya dapat diisi dengan logo. 3. Pengadaan formulir faktur pajak standar dilakukan oleh PKP. PKP dapat menyesuaikan ukuran kolom-kolom dari FP. sepanjang penempatannya tidak mengubah bentuk dan susunanm FP FP dapat dibuat dengan menggunakan komputer.Pengadaan formulir FP (Pasal 14 UU PPN) 1. sepanjang memenuhi syarat yang telah ditentukan 65 2.

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) (Pasal 1 angka 17) Dasar Pengenaan Pajak sering juga disebut Dasar Penghitungan Pajak adalah nilai berupa uang yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak terutang. Nilai ekspor 5. Nilai lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan 66 . yaitu: 1. Nilai penggantian 3. Nilai impor 4. Harga Jual 2.

4. premi atau balas jasa lainnya yang diberikan dalam rangka penyerahan BKP/JKP. Potongan harga seperti potongan tunai. komisi. pengepakan. tidak termasuk dalam pengertian potongan harga 2. ditambah pungutan lain yang dikenakan berdasarkan ketentuan UU Pabean Harga jual / nilai pengganti / nilai impor diatas tidak termasuk: a.Masih dalam batas adat kebiasaan pedagang yang baik Bonus.PengertianDPP (Pasal 1 angka 18. diskon & rabat dengan ketentuan: . 67 . PPN yang dipungut b.20) 1. Harga jual / nilai penggantian termasuk didalamnya semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual.19. 3. karena penyerahan BKP/JKP (Misal: biaya pengiriman.Tercantum dalam FP . premi asuransi) Nilai impor termasuk didalamnya bea masuk dan bea masuk tambahan.

000 yang diterima PT A dari Rustam adalah DPP.110.000 Nilai impor (DPP) Rp. Disamping itu PT.000 Bea Masuk 10% Rp.500.000.100. biaya administrasi sebesar Rp. 2.A (pabrik sepatu) di Bandung menyerahkan beberapa pasang sepatu kepada Rustam dengan harga Rp.000.000.30.000.000.000. Contoh 2 PT A menyerahkan beberapa pasang sepatu kepada Rusmin di Surabaya sbb: Harga sepatu Rp.000.000.000 Catatan: Biaya administrasi dan sewa gudang tidak ditambahkan dalam nilai impor.000 Jumlah sebesar Rp.000 dan sewa gudang sebesar Rp.000.600.49.000. 2.49.2.000 Jumlah Rp.000 DPP adalah sebesar Rp.100.000 Biaya pengiriman dan pengepakan Rp.000.000.Menghitung besarnya DPP Contoh 1 PT.000.000 Contoh 3 PT A mengimpor benang dari Taiwan dengan harga impor Rp. 10.50.30.000 Dibayar pembeli Rp.52. karena tidak diatur dalam UU Pabean 68 .000 Potongan harga 5% (tercantum dlm FP) Rp.000 Penghitungan DPP: Harga impor Rp.A masih harus membayar bea masuk sebesar 10%.

20% dari jumlah penyerahan seluruh penyerahan emas perhiasan • Bagi KPK yang menyerahkan BKP/JKP tersebut pada butir 6. Pedagang perantara / juru lelang 12. Pemakaian sendiri / pemberian Cuma-cuma Media rekaman/gambar Film cerita Persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran Aktiva yg menurut tujuan semula tidak untuk dijualbelikan yg masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan. Harga jual/penggantian tidak termasuk laba kotor Perkiraan harga jual rata-rata Perkiraan harga rata-rata per judul film Harga pasar wajar Obyek PPN 1. 5% dari jumlah imbalan yang diterima (service. 4.567/KMK.8. provisi. 10% dari harga jual di show room 10. 5. 6. 7. 8.7. 4.04/2000. No.03/2002.diskon) 10.83/KMK. 7.03/2002) DPP 1. Pengusaha toko emas perhiasan yang memilih menggunakan DPP dengan nilai lain 10% dari jumlah tagihan / seharusnya ditagih 8. Harga jual / penggantian dikurangi laba kotor 11. 2.DPP dengan nilai lain (KMK: No. 2.251/KMK. 3. 10% dari jumlah tagihan / seharusnya ditagih 9. Harga lelang 12. Penyerahan BKP/JKP (barang dagangan) dari pusat ke cabang atau antar cabang 11. Harga pasar wajar 6.9 dan 12 Tidak Dapat Mengkreditkan (TDK) PM-nya • Besarnya PPN 10% dari DPP 69 . sepanjang PPN atas perolehan aktiva tsb menurut ketentuan dapat dikreditkan Kendaraan bermotor bekas Jasa biro perjalanan / pariwisata Jasa pengiriman paket Jasa anjak piutang 5. 3. 9. No.

PPn BM (Pasal 5 ayat (1) Dikenakan atas: 1. Dalam daerah pabean c. Dikenakan hanya sekali. Dapat ditambahkan dalam harga jual dan dibebankan sebagai biaya /dikapitalisasi 4. Bukan merupakan PM. BKP yang tergolong mewah yang diekspor dan PPn BM yang telah dibayar pada waktu perolehan BKP tersebut dapat diminta kembali. Oleh pengusaha yang menghasilkan BKP yang tergolong mewah b. yang dilakukan: a. Impor BKP yang tergolong mewah Mekanisme pengenaan PPn BM (Pasal 5 ayat (2) jo pasal 10 ayat (2) & (3) 1. dengan syarat PPn BM ybs belum dibebankan sebagi biaya atau dikapitalisasi 70 . sehingga tidak dapat dikreditkan dengan PPN 3. Penyerahan BKP yang tergolong mewah. yaitu pada tingkat penyerahan oleh PKP yang menghasilkan BKP yang tergolong mewah atau pada waktu impor 2. Dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya 2.

500.5.000 PPN  dapat dikreditkan =Rp.5.Penghitungan PPn BM terutang (PP No 143/2000 jo PP No 24/2002) Contoh 1: Penyerahan oleh pabrikan atau atas impor barang mewah.000.000.000 terdapat didalamnya PPn BM sebesar Rp. 3.000 PPn BM terutang (tarif 20%) = Rp.37.000. 2.000 Dibayar pembeli = Rp.000.000 Contoh 2: Penyerahan selanjutnya (bukan pabrikan / importir) Harga beli = Rp.000 Harga jual (DPP) = Rp.32.000 Dibayar pembeli / importir = Rp. Harga barang / nilai impor = Rp.34. 5.Jadi terjadi pajak ganda (pajak kena pajak) sebesar 10% x Rp.000.000.400.000.000.000 =Rp 500. karena dalam DPP sebesar RP. 5.25.000.000. halini disebabkan karena hanya dikenakan sekali saja (tidak dapat dikreditkan 71 .25. 4.000 PPN terutang  dapat dikreditkan = Rp.000 Laba yang diinginkan = Rp.000.34.000 Pada contoh 2 terjadi efek pajak berganda.000.000 PPn BM (yang telah dibayar) = Rp.500.

. Hubungan keluarga sedarah atau semenda lurus satu derajat atau kesamping satu derajat dan termasuk anak tiri 72 2. Faktor kepemilikan / penyertaan baik langsung dan tidak langsung yang berupa penyertaan modal 25% atau lebih pada pengusaha lain b. Adalah dalam hal harga jual / penggatian dipengaruhi oleh hubungan istimewa yaitu adanya ketergantungan atau keterikatan satu dengan yang lain. sehingga pada saat penyerahan BKP/JKP dilakukan terdapat kecenderungan harga ditekan lebih rendah dari harga pasar. maka untuk menentukan DPP Dirjen Pajak mempunyai kewenangan melakukan penyesuaian harga jual dengan harga pasar wajar yang berlaku di pasaran bebas Ciri-ciri adanya hubungan istimewa disebabkan: a. Dua atau lebih pengusaha dibawah penguasaan pengusaha yang sama baik langsung atau tidak langsung (melalui manajemen atau penggunaan teknologi) c.Hubungan Istimewa Pasal 2 ayat (1) dan (2) 1.

500. harus dikoreksi.000 .000. PT A menyerahakan barang (BKP) kepada PT B dengan harga Rp.000 Maka: Harga jual barang oleh PT A kepada PT B sebesar Rp.000.Menentukan harga jual dalam hal dipengaruhi oleh Hubungan Istimewa Contoh: PT A memiliki 30% saham di PT.7. karena tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa Dengan demikian harga jual barang kepada PT B sebesar Rp. sehingga sama dengan harga 73 jual kepada PT C sebesar Rp.10.500.000 adalah tidak wajar karena pengaruh oleh hubungan istimewa. Pada saat yang sama PT A juga menyerahkan barang yang sama kepada PT C (tidak ada hubungan istimewa) dengan harga Rp.500.000.7.10.7.000. sedangkan harga wajar adalah harga jual kepada PT C. B .

pengurus / keluarganya & karyawan Pemberian kepada pihak lain. selain pengusaha. dengan syarat PPN dibayar pada saat perolehan menurut ketentuan dapat dikreditkan Misal Pabrik ban: a.Pemakaian sendiri & Pemberian cuma-cuma (Pasal 1A huruf d & e UU PPN jo Kep-87/PJ/2002) Pemakaian sendiri Pemberian cuma-cuma Pemakaian oleh pengusaha sendiri.Laba (= Harga Pokok) . Mengunakan ban sendiri untuk truck yang dipakai untuk pabrik  tidak terutang PPN b. Persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan dan atau b.Merupakan penyerahan BKP /JKP b. pengurus / keluarganya & karyawan tanpa pembayaran a.Terutang PPN / PPn BM Catatan: Disamakan pemakaian sendiri (terutang PPN): a.Tidak terutang PPN / BBnBM a. BKP bail produksi sendiri maupun bukan produksi sendiri dan atau b.Belum merupakan penyerahan BKP /JKP b. Pemakaian ban sendiri untuk sedan direksi  terutang PPN karena sedan termasuk konsumtif 74 DPP diatas adalah Harga Jual . Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. JKP Untuk tujuan produktif Bukan untuk tujuan produktif Khusus BKP dapat diberikan tersendiri atau menyatu dengan barang yang dijual a.

Penerbitan FP untuk transakasi diatas mulai tahun 2002 wajib diterbitkan.Laba (= Harga Pokok) 2.Mekanisme pengenaan PPN/PPn BM atas Pemakaian Sendiri & Pemberian Cuma-Cuma (KEP-87/2002 jo SE-04/PJ. DPP diatas adalah Harga Jual .51/2002 Pemakaian sendiri & bukan untuk tujuan produktif Pemberian cuma-Cuma PKP menerbitkan FP Dalam FP identitas PKP penjual dan pembeli ditulis sama (PKP penjual Dalam FP identitas PKP penjual dan pembeli ditulis masingmasing PPN / PPn BM terutang dan dibayar sendiri oleh PKP (perusahaan) PPN / PPn BM terutang dan dipungut dan disetor oleh PKP (perusahaan) PPN yang dibayar : Bagi PKP merupakan PK sekaligus PM (tidak dapat dikreditkan) PPN yang disetor : • PKP pemberi  PK • PKP penerima- PM Dapat dikreditkan Catatan: 1. sedangkan sebelum tahun 2002 tidak diterbitkan FP 3. Bilamana transaksi diatas tidak diterbitkan FP (FP cacat) dikenakan denda 2% x harga BKP/JKP (DPP) 75 .

Pemakaian sendiri BKP bukan untuk tujuan produktif a. Perusahaan telepon menggunakan saluran teleponnya untuk kegiatan operasional 3. Pabrik mie instan memberikan bantuan mie instan hasil produksinya kepada korban bencana alam atau digunakan sebagai contoh 2. Pemakaian sendiri BKP untuk tujuan produktif yang mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha a. Pemakaian sendiri BKP untuk tujuan produktif yang mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan produksi a. Dalam rangka promosi. Pabrik kayu lapis menggunakan hasil produksinya untuk pembungkus kayu lapis Contoh pemberian cuma-cuma BKP/JKP 1. Pabrik mobil (truck) menggunakan truck hasil roduksinya untuk kegiatan usaha b.Contoh Pemakaian Sendiri & Pemberian Cuma-cuma Contoh pemakaian sendiri 1. Pabrik minuman menggunakan hasil produksinya untuk konsumsi karyawan atau tamu b. Pabrik minyak kelapa sawit menggunakan limbah (kulit kelapa sawit) untuk bahan bakar boiler b. baik menjual atau diberikan cuma-cuma 76 . Pabrik shampo memberikan 1 sabun mandi untuk setiap penjualan 1 botol shampo hasil produksinya 3. Perusahaan jasa persewaan traktor memberi bantuan kepada pemerintah untuk mengatasi tanah longsor Catatan : Pada waktu membeli PM dikenakan. pabrik sepatu membeli topi yang sebagian topi tersebut diberikan kepada karyawan 2. maka saat jual harus juga dikenakan PK.

karena saat membeli sabun dapat mengkreditkan PM.12.000 = Rp.12.000 + PPN 10% = Rp.200.300.12.000 Jumlah (DPP) = Rp.500 per buah Penghitungan PPN oleh PT B: Harga shampo 600 x Rp.000 Pemakaian sendiri yang tidak terutang PPN = Rp. Penghitungan PPN waktu menjual kepada PT C: a.000.20.000 = Rp. 1.12.000 Dalam jumlah tersebut sudajh termasuk laba sebesar 20% Penghitungan PPN.000 Jumlah = Rp. . Disini pembeli hanya membayar Rp.230.20. PT B memberikan 1 buah sabun mandi secara cuma-cuma.000 PPN terutang 10% x Rp.000 2.230.600.000.13. maka penghitungan pajak seperti diatas. Sabun mandi tsb dibeli oleh PT B dari PT D (pabrik sabun) dengan harga Rp.7. Jadi disini pembeli hanya membayar Rp.9.400.2.400.000.2.000 Dibayar ke KPP = Rp. maka PK sekarang harus ditambahkan dalam menghitung PPN.400.000.600.200.000 Catatan: 1. PPN yang dipungut oleh PT C = Rp. 1.000 77 Dibayar oleh PT C = Rp.500 = Rp.000 Setiap botol shampo. 30.000 Harga sabun 600 x Rp. 1.000 = Rp.13.200. PPN 10% x Rp.Penghitungan PPN atas Pemakaian Sendiri & Pemberian Cuma-cuma Contoh penghitungan PPN atas pemakian sendiri PT A (pabrik ban mobil) memakai sendiri ban mobil hasil produksinya yang digunakan untuk: a. 200.000 = Rp.9.200.000 3. Mobil box untuk kegiatan operasional = Rp.000.000.000.000 Pemakaian sendiri yang terutang PPN = Rp.12.200.B = Rp.000 DPP: 100/120 x Rp.000 b.7. Jumlah pemakaian sendiri = Rp.000` = Rp.200. 1.000 Catatan: Ban yang digunakan untuk mobil box termasuk pemakaian sendiri untuk tujuan produktif (tidak terutang PPN) Contoh penghitungan PPN atas pemberian cuma-cuma PT B (pabrik shampo) menyerahkan 600 botol shampo hasil produksinya kepada PT C dengan harga per botol Rp. 300.2.2.000. Mobil pribadi Direktur perusahaan = Rp.2.000. Harga jual = Rp 12.000 PPN atas pemberian cuma-cuma ditanggung PT.000 b.300.12.000 PPN terutang 10 x Rp.

Bahan lain yang mempunyai kekuatan sampai 20 tahun/lebih Dilakukan oleh orang pribadi atau badan yang diperuntukkan: a. 6.03/2002 jo Kep-387/PJ/2002 jp SE-45/PJ. bukan merupakan KMS sepanjang dapat dibuktikan bahwa atas kegiatan pembangunan tsb telah dipungut PPN 78 4. Kayu tahan lama dan atau C. 2.50/2002) Syarat 1.PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri (KMS) (Pasal 16C UU PPN jo Kepmen 554/KMK. .04/2000 jo Kepmen No 320/KMK. terhitung 1 Juli 2002 (sebelumnya 400 m2) Sifat permanen. Untuk tempat usaha termasuk fasilitas yang ada c. Untuk tempat tinggal (tidak termasuk fasilitas olah raga atau fasilitas lain) b. Untuk digunakan sendiri atau pihak lain KSM yang dilakukan secara bertahap merupakan satu kegiatan sepanjang tenggang waktu antar tahapan tsb tidak lebih 2 tahun Kegiatan mendirikan bangunan yang dilakukan oleh kontraktor. Dilakukan tidak dalam kegiatan usaha / pekerjaannya Luas bangunan  luas lantai 300m2 / lebih selama 2 tahun. Tembok dan atau b. yaitu kontruksi utama terdiri: a. 5. 3.

Saat terutang adalah saat dimulainya secara phisik KMS (menggali pondasi. Tidak termasuk harga perolehan tanah PPN dibayar adalah 10% x 40% x Jumlah biaya yang dikeluarkan (termasuk PPNnya) Pajak Masukan (PM )untuk perolehan semua bahan bangunan tidak dapat dikreditkan.Saat. 6. karena: a. memasang tiang pancang dll) Tempat terutangnya adalah tempat bangunan tersebut didirikan Penghitungan PPN dilakukan setiap bulan Besarnya PPN terutang adalah 10% x DPP DPP atas KMS sebesar 40% dari jumlah biaya yang dikeluarkan : a. Tempat dan Penghitungan PPN Terutang atas KMS 1. Termasuk PPN yang dibayar atas perolehan BKP/JKP untuk KMS tsb (PPN masuk sebagai harga yang dikenakan pajak) b. Dilakukan tidak dalam rangka kegiatan usaha / penyerahan b. 5. dalam menentukan DPP sebesar 40% sudah diperhitungkan PM-nya 79 . 7. 4. 2. 3.

3.Penyetoran dan Pelaporan PPN atas KMS (Kep-387/PJ/2002) 1. KPP dapat melakukan pemeriksaan pajak untuk menetapkan besarnya PPN terutang 80 . 4. 5. Non PKP  SSP lembar ke-3 Pelaporan disampaikan ke KPP tempat bangunan didirikan dan paling lambat akhir bulan penyetoran dilakukan Apabila kewajiban penyetoran dan pelaporan tidak dilaksanakan. PKP  SPT Masa PPN b. 2. Penyetoran menggunakan SSP tersendiri dan paling lambat akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya pengeluaran Sarana penyetoran: a. maka Kepala KPP setempat dapat menerbitkan Surat Tegoran Apabila Surat Tegoran dalam jangka waktu 14 hari sejak diterbitkan belum disetor dan dilaporkan.

maka pendirian bangunan di atas tanah kaveling tsb dianggap dilakukan oleh Pengusaha Real Estate 3. Apabila kewajiban tsb pada butir a diatas tidak dilakukan. Memenuhi persyaratan KMS Pada saat dilakukan transaksi penjualan tanah kaveling.KMS di Kawasan Real Estate (Kep-387/PJ/2002) 1. 81 . Transaksi penjualan tanah kaveling dengan mengirimkan tembusan form Surat Pernyataan Kesanggupan Membayar PPN atas KMS dari pembeli b. pembeli wajib mengisi & menandatangani form Surat Pernyataan Kesanggupan Membayar PPN atas KMS Pengusaha Real Estate wajib melaporkan kepada Kepala KPP setempat atas : a. 2.

8.000 Catatan: 1.400.Harga bahan bangunan Rp.d & e) Rp.840.000 c.500. Batako Rp.000 DPP = 40% x Rp. 8.11.000 e.000 b.000 PPN yang harus dibayar 10% Rp 840. 500. Pembangunan rumah tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu 6 bulan.000 d.11. 900.000.Upah tukang Rp. 2.000.PPN 10% x (Butir a.Penghitungan PPN atas KMS tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan Contoh: Bustaman adalah seorang karyawan PT. Semen Rp.000 harus disetorkan ke Kas Negara paling lambat tgl 15 Oktober 2005 dan dilaporkan ke KPP Bandung tempat bangunan tersebut didirikan paling lambat tgl 20 Oktober 2005 2. 5.000 Jumlah biaya Rp.Prisma yang bertempat tinggal di Jakarta pada bulan September 2005 membangun sebuah rumah tinggal di Bandung dengan luas bangunan 300 m2 dan bersifat permanen. 2.000 Rp 8.000 Jumlah Rp. 1.21. Upah Tukang Rp. PPN sebesar Rp. Paku Rp. maka PPN Rp. Batu pecahan Rp. Bulan September 2005 telah dikeluarkan biaya untuk pembangunan sbb: 1. Pasir Rp. Pasir tidak kena PPN 82 .000 harus disetor dengan menggunakan SSP tersendiri 3.600.600.000 .000 .000. Dalam hal Bustaman berstatus sebagai PKP.840.500.000.600. Beli bahan bangunan dari PKP (belum termasuk PPN): a.500. b.21.000 2.000 Penghitungan PPN yang harus dibayar Jumlah biaya yang dikeluarkan (cost): .

PM yang dikreditkan. PM dalam suatu masa pajak dikreditkan dengan PK dalam masa pajak yang sama 2.Mekanisme Penghitungan PPN dalam suatu masa pajak (Pasal 9) Melalui Mekanisme kredit pajak Pajak Masukan (PM) PPN yg dibayar oleh PKP pada saat perolehan BKP/JKP atau impor BKP Dikre ditkan Pajak Keluaran (PK) PPN yg dipungut oleh PKP pada saat penyerahan BKP/JKP atau eskpor BKP Prinsip dasar 1. maka PM tetap dapat dikreditkan 6. selisihnya merupakan PPN yang lebih dibayar. yang dapat diminta kembali atau dikompensasikan ke masa pajak berikutnya 4. tetapi belum dikreditkan dengan PK pada masa pajak yang sama. Apabila PM lebih besar dari pada PK. Apabila dalam suatu masa pajak. harus memenuhi syarat pengkreditan dan FP-nya telah diterima 5. belum ada PK. dapat dikreditkan pada masa pajak berikutnya (masa pajak tidak sama ) 83 . PM yang dapat dikreditkan. Apabila PK lebih besar dari pada PM. selisihnya merupakan PPN yang harus dibayar 3.

Contoh Penghitungan PPN

Masa Pajak Mei 2005 • Penyerahan terutang pajak • PK 10% x Rp.25.000.000 • PM yang dapat dikreditkan • Lebih bayar

= Rp.25.000.000 = Rp. 2.500.000 = Rp. 4.500.000 = Rp. 2.000.000

Diminta dikompensasikan pada masa pajak Juni 2005 Masa Pajak Juni 2005 • Penyerahan terutang pajak • PK 10% x Rp.50.000.000 • PM yang dapat dikreditkan • Kurang bayar • Kompensasi PPN bulan lalu (Mei) • Kurang bayar masa pajak Juni 2005

= Rp.50.000.000 = Rp. 5.000.000 = Rp. 1.500.000 = Rp. 3.500.000 = Rp. 2.000.000 = Rp. 1.500.000

PPN kurang bayar sebesar Rp.1.500.000 harus dibayar oleh PKP paling lambat tanggal 15 Juli 2005

84

Syarat PM yang dapat dikreditkan
(Pasal 9 (5) & (8 h) jo Kep-424/PJ/2002)

1. 2. 3.

4.

Mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha (Produksi, Distribusi, Pemasaran, Manajemen) Berkaitan dengan penyerahan yang terutang PPN PM masukan yang dapat dikreditkan harus memenuhi syarat: a. Bentuk FP standar atau dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai FP standar b. Pengisian FP harus lengkap, benar dan ditandatangani (tidak cacat) c. Pembuatan FP tidak melampaui 3 bulan setelah batas akhir pembuatan FP ( 4 bulan setelah transaksi/ penyerahan) Tidak dibebankan sebagai biaya / dikapitalisasi

Tempat Pengkreditan PM
(PP No.143/2000)

1. Tempat PKP dikukuhkan 2. Tempat lain yang ditentukan oleh Dirjen Pajak baik atas permohonan tertulis dari PKP atau karena jabatan
85

PM yang dapat dikreditkan, tetapi belum dikreditkan dengan PK pada masa yang sama
(Pasal 9 (9)

Dapat dikreditkan pada masa pajak berikutnya (masa pajak tidak sama), dengan syarat: a. PM tersebut dapat dikreditkan b. Belum dibebankan sebagai biaya atau belum dikapitalisasi c. Belum dilakukan pemeriksaan d. Paling lambat 3 bulan setelah masa pajak ybs (setelah 3 bulan setelah FP harus dibuat) Apabila jangka waktu 3 bulan dilampaui, pengkreditan PM dapat dilakukan melalui pembetulan SPT masa PPN untuk masa pajak ybs, dengan syarat: a. PM tersebut dapat dikreditkan b. Belum dibebankan sebagai biaya atau belum dikapitalisasi c. Belum dilakukan pemeriksaan d. Maksimal 2 tahun setelah FP yang diperkenankan dibuat

86

000. 4.000.10.12.000.000 • Jumlah PK = Rp.000 • Masa pajak Februari 2005 = Rp.000 Pada bulan yang sama PKP A menerima FP (masukan) sbb: • Masa pajak Juni 2005 PPN = Rp.000. 4.000.000 PPN yang kurang bayar = Rp.000 • Masa pajak Maret 2005 = Rp. 2. namun masih dapat dikreditkan melalui pembetulan SPT masa PPN masa pajak Februari 2005 sepanjang belum dibebankan sebagai biaya atau diperiksa 2.000 tidak dapat dikreditkan dengan PK masa pajak Juni 2005.15.000.000 • Jumlah pajak masukan = Rp.000. 5.000 Penghitungan PPN masa pajak Juni 2005 PKP A: a. karena sudah lewat 3 bulan. Jumlah PK = Rp.000.000.Masa pajak tidak sama (Maret 2005) = Rp.15.Contoh Pengkreditkan PM dalam Masa pajak Tidak Sama (MTS) PKP A bulan Juni 2005 menerbitkan FP dengan PPN keluaran sbb: • Untuk penyerahan Mei 2005 PPN = Rp. 2. Jadi: Penyerahan Juni 2005  FP paling lambat Juli 2005 Pembayaran Juni 2005  FP paling lambat Juni 2005 Pembayaran Juli 2005  FP paling lambat Juli 2005 87 Juli 2005 belum bayar  FP paling lambat Juli 2005 .5.000. 6. 6. Jumlah PM yang dapat dikreditkan: .000.000. PM masa pajak Februari 2005 sebesar Rp.000 • Untuk penyerahan Juni 2005 PPN = Rp .10.000 Catatan: 1.000 Jumlah yang dapat dikreditkan = Rp.000 b.000.Masa pajak sama (Juni 2005) = Rp.000 .

Perolehan BKP/JKP yang FP-nya berupa FP sederhana 6. Perolehan BKP/JKP sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP (tanggal berlakunya tanggal pengukuhan) 2. Perolehan BKP/JKP yang FP-nya tidak diisi secara lengkap (cacat) 7. namun FP-nya belum / terlambat diterima. Perolehan BKP/JKP yang PM-nya diterbitkan setelah lewat 3 bulan sejak berakhirnya batas waktu penerbitan FP 9. Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP 5. Perolehan dan Pemeliharaan kendaraan bermotor sedan. kecuali atas perolehan BKP/JKP tersebut telah dicatat dalam pembukuan.PM yang tidak dapat dikreditkan (Pasal 9 ayat (8) jo PP No 24/2002 jo Kep-424/PJ/2002) PM atas pengeluaran untuk: 1. Perolehan BKP/JKP yang atas penyerahannya dibebaskan dari PPN (pasal 16 b (3) 88 . Perolehan BKP/JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha 3. Perolehan BKP/JKP yang PM-nya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak 10. van & combi. station wagon. kecuali barang dagangan / disewakan 4. dapat dikreditkan paling lambat 3 bulan (pasal 12 jo PP 24/2002) 11. Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean yang FP-nya tidak diisi secara lengkap (cacat) 8. jeep. Perolehan BKP/JKP yang PM-nya tidak dilaporkan dalam SPT masa pajak yang diketemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan.

KPP dapat menerbitkan SKP terhadap PT A. sehingga PPN terutang tidak dapat ditagih kepada PKP penjual. Untuk menagih PPN terutang tersebut. Berdasarkan pasal 33 UU KUP PT A bertanggung-jawab secara renteng atas pembayaran PPN. PM atas perolehan BKP/JKP sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP tidak dapat dikreditkan Keputusan pengukuhan PKP mulai berlaku sejak tanggal 7 September 2005. sedangkan PPN yang telah dibayar oleh PT A atas SKP tersebut tidak dapat dikreditkan 3. PM atas perolehan BKP/JKP sebelum tanggal 7 September 2005 tidak dapat dikreditkan 2. Disamping itu PT A juga tidak dapat menunjukkan identitas PKP penjual secara jelas. PT A tidak dapat menunjukkan bukti pelunasan PPN. sehingga batas waktu terakhirnya bagi PKP menerbitkan FP adalah tanggal 31 Juli 2005. Apabila PKP menerbitkan FP tanggal 2 Nopember 2005 (lewat 3 bulan).Beberapa Contoh 1. PM atas perolehan BKP/JKP yang FP-nya diterbitkan setelah lewat 3 bulan sejak berakhirnya batas waktu penerbitan FP Penyerahan BKP/JKP dilakukan tanggal 8 Juni 2005. PM atas perolehan BKP/JKP yang PM-nya ditagih dengan ketetapan pajak tidak dapat dikreditkan Dalam rangka meningkatkan usahanya PT A (PKP) membeli satu unit mesin pabrik. Maka bagi PKP (pembeli) PPN yang tercantum 89 didalamnya tidak dapat dikreditkan . Pada waktu dilakukan pemeriksaan.

000.000. Yang terutang PPN Pajak Keluaran b.000 = 5.2.000 = 3.500.Dibebaskan PPN Pajak Keluaran = 25.Penyerahan tidak kena PPN = 900.500.Pengkreditan PM oleh PKP yg melakukan penyerahan yg terutang PPN dan tidak terutang PPN (Pasal 9 ayat 5): a.000.500.000 hanya sebesar Rp 1. Untuk penyerahan yg terutang PPN dapat diketahui dengan pasti Hanya dapat mengkreditkan PM yg berkenaan dengan penyerahan yang terutang PPN CONTOH Penyerahan: a.Tidak kena PPN c.000 = NIHIL PM atas perolehan BKP/JKP: a.500.000 b.000 90 .Penyerahan bebas PPN = 600.000 PM yang dapat dikreditkan dengan PK sebesar Rp.000 = 2.000 c. Penyerahan terutang PPN = 1.

PKP melakukan penyerahan barang dan jasa yang atas penyerahannya terutang PPN dan tidak terutang PPN Misal : PKP yang bergerak di bidang usaha pabrik roti (terutang PPN) dan usaha jasa angkutan (tidak terutang PPN) 5. PKP melakukan usaha jasa yang terutang PPN dan tidak terutang PPN Misal : PKP yang bergerak di bidang perhotelan (tidak terutang PPN) juga melakukan jasa persewaan ruangan untuk tempat usaha (terutang PPN) 4. 575/KMK.Pengkreditan PM oleh PKP yg melakukan penyerahan yg terutang PPN dan tidak terutang PPN (Pasal 9 ayat 6 jo Kepmen 575/2000): b..04/2000. dimaksudkan untuk memberi kemudahan & kepastian bagi PKP CONTOH: 1. Untuk penyerahan yg terutang PPN tidak dapat diketahui dengan pasti Besarny PM yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang PPN yaitu : Dihitung berdasarkan pedoman yang diatur dengan Kepmen No. PKP menggunakan barang modal untuk kegiatan usaha yang terutang PPN dan kegiatan lain yg tidak terutang PPN / dibebaskan PPN Misal : Generator yg digunakan unt pabrik sepatu (terutang PPN) dan unt perumahan karyawan (tidak terutang PPN) 2. PKP melakukan usaha terpadu (integrated) Misal : PKP yang bergerak di bidang usaha pertanian jagung (bukan PKP) dan pabrik minyak goreng (BKP) 3. PKP melakukan kegiatan yang atas penyerahannya terutang PPN dan dibebaskan dari PPN Misal : Pengusaha yang bergerak di bidang usaha real estate yang menyerahkan rumah mewah (terutang PPN) dan 91 rumah sederhana (tidak terutang PPN) .

575/KMK. Ketentuan ini juga berlaku dlm hal terjadi perubahan penggunaan barang modal yg atas perolehannya mendapat fasilitas PPN ditangguhkan 2.04/2000): Penyerahan yg terutang PPN tidak dapat diketahui dengan pasti Pengkreditan PM dilakukan dengan cara sbb: Dikreditkan sebanding dng % penggunaan barang modal P’ : % rata-rata penggunaan barang modal dlm satu tahun buku T : Masa manfaat (standar) barang modal : Bangunan : 10 tahun Bukan bangunan : 5 tahun PM: Pajak Masukan yang telah dikreditkan Tahap awal dapat dikreditkan seluruhnya terlebih dahulu Setelah akhir tahun buku paling lambat bulan ke-3 PM unt kegiatan lain yg tidak terutang PPN / dibebaskan.Pengkreditan PM atas perolehan barang modal yang digunakan untuk kegiatan usaha yang menghasilakan BKP/JKP yang penyerahannya terutang PPN dan penyerahan lain yang tidak terutang PPN / dibebaskan PPN (Pasal 9 ayat 6 jo Kepmen No. PPN dihitung kembali dengan rumus P’ x PM T Hasil penghitungan tsb diperhitungkan dng PM yg dapat dikreditkan dalam masa pajak dilakukan penghitungan kembali melului SPT Masa PPN Catatan: 1. Sebaliknya ketentuan ini tidak berlaku bagi KPK yang baginya ditetapkan pedoman pengkreditan PM 92 .

000. ditetapkan 5 tahun ( bukan bangunan 5 th standar) • PM yang tidak dapat dikreditkan = 25% x Rp.50.000.04/2000): Pemakaian • Generator listrik untuk pabrik dibeli Januari 2003 • Harga generator =Rp. 5. maka bisa Januari atau Februari atau Maret untuk setiap tahunnya 93 .000 • PPN (Masukan) = Rp. Juli s/d Desember 2003 : : - 30% untuk rumah karyawan 70% untuk pabrik 20% untuk rumah makan 80 % untuk pabrik Setelah tahun buku berakhir paling lambat bulan ke.250. 5.000.3 PM yang telah dikreditkan untuk kegiatan yang tidak terutang PPN dihitung kembali • Rata-rata penggunaan generator diluar usaha = (30% + 20%) : 2 = 25% • Masa manfaat 8 tahun. dengan penyesuaian atas P’ sampai dengan habis masa manfaat (5 tahun) Waktu disesuaikan dengan bulan kapan diperhitungkan pembebanannya.250. Januari s/d Juni 2003 b.575/KMK.000 PM sebesar Rp.Contoh Penghitungan kembali PM atas barang modal yang digunakan untuk kegiatan yang terutang PPN dan tidak terutang PPN (Pasal 9 ayat 6 jo Kepmen No.000/5 = Rp.000 • Masa manfaat = 8 tahun PM telah dikreditkan dalam Masa Pajak Januari 2003 a.000 diperhitungkan dengan PM yang dapat dikreditkan pada SPT Masa PPN masa pajak dilakukan penghitungan kembali • • Untuk tahun-tahun selanjutnya dipakai rumus diatas.

575/KMK.04/2000): Pengkreditan PM dilakukan dengan cara sbb PM yg nyata2 digunakan unt kegiatan yg penyerahannya terutang PPN PM yg nyata2 digunakan unt kegiatan yg penyerahannya tdk terutang / dibebaskan PPN PM yg digunakan unt kegiatan yg atas penyerahannya terutang PPN dan tdk terutang / dibebaskan PPN Dapat dikreditkan Tidak dapat dikreditkan X : Jumlah peredaran / penyerahan yg tidak terutang / dibebaskan PPN dalam satu tahun buku Y : Jumlah seluruh peredaran T : Masa manfaat barang modal : Bangunan : 10 tahun Bukan bangunan : 5 tahun PM: Pajak Masukan yang telah dikreditkan seluruhnya Dikreditkan sebanding dng jumlah peredaran yg terutang PPN thd penyerahan seluruhnya Dapat dikreditkan seluruhnya lebih dahulu Setelah akhir tahun buku paling lambat bulan ke-3 dihitung kembali dengan rumus: BarangMmodal : X/Y x PM/T Bukan Barang Modal : X/Y x PM Hasil penghitungan diperhitungkan dengan PM yg dapat dikreditkan dalam masa pajak dilakukan penghitungan 94 kembali melalui SPT Masa PPN .Pengkreditan PM oleh PKP yang melakukan kegiatan usaha terpadu atau usaha campuran yang atas penyerahannya terutang PPN dan tidak terutang PPN / dibebaskan PPN (Pasal 9 ayat 6 jo Kepmen No.

000.000 • Omzet tahu 2005 : .000 Total omzet (Y) =Rp.200.000 • Masa manfaat barang modal 4 tahun  ditetapkan 5 tahun (standar) • PM atas truck yang harus dibayar kembali: 6. 60.000.000 x 50.000.000 Bukan Barang Modal PM atas perolehan solar untuk truck-truck yang digunakan untuk perkebunan jagung ( bukan PKP / di kecualiakan PPN karena merupakan bahan pokok) & pabrik minyak jagung (sebagai PKP) • PM bulanMaret 2005 (sudah dikreditkan Maret 2005) =Rp.000.000.000/5 = 4.000.000.000 95 .000. 6.000 x 200.000.Penjualan jagung (X) =Rp. 54.000.000.000.000.50.000.000. 6.000/60.000 Total omzet (Y) =Rp.000.000 • Masa manfaat barang modal 4 tahun  ditetapkan 5 tahun (standar) • PM atas truck yang harus dibayar kembali: 6.000.000. 60.000.000.000 . 54.Penjualan jagung (X) =Rp.000.000.Penjualan minyak jagung =Rp.000/60.Penjualan minyak jagung =Rp.000 .000.Contoh Penghitungan kembali PM oleh PKP yang melakukan kegiatan usaha terpadu Barang Modal PM atas perolehan truck yang digunakan untuk perkebunan jagung ( bukan PKP / di kecualikan PPN karena merupakan bahan pokok) & pabrik minyak jagung (sebagai PKP) • PM bulan Januari 2005 (sudah dikreditkan Jan 2005) =Rp.000.000 = 5.000 • Omzet tahun 2005 : .000.000.

memilih menggunakan norma penghitungan penghasilan neto PPN Memilih menjadi PKP Dalam menghitung PPN dalam suatu masa pajak Digunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM Wajib Memberitahu ke KPP setempat • Besarnya PM yang dapat dikreditkan: a. Penyerahan BKP . Maka mulai permulan tahun buku berikutnya tidak boleh lagi menggunakan pedoman pengkreditan diatas.04/2000 jo Kepmen No. apabila WP: PPh Dalam menghitung PPh.Pedagang eceran : 80% x Pajak Keluaran . maka dimasukkan sebagai selain pedagang eceran Jadi PKP yang PPh-nya dihitung dengan norma penghitungan.Pengkreditan PM bagi PKP yang PPh-nya dihitung dengan menggunakan norma penghitungan penghasilan neto (Kepmen No.252/KMK.553/KMK.03/2002) WP orang pribadi yang peredaran brutonya kurang dari Rp. maka kalau disamping menjual secara eceran juga menjual secara grosir.Selain pedagang eceran : 70% x Pajak Keluaran b. maka PPN96 nya juga harus dihitung dengan norma • • . bahkan tidak boleh menggunakan norma penghitungan untuk bulan berikutnya Pedagang eceran dimaksud adalah harus semata-mata pedagang eceran. Penyerahan JKP : 40% x Pajak Keluaran • PM atas perolehan BKP/JKP tidak dapat dikreditkan • Apabila dalam suatu masa pajak PKP tidak lagi memenuhi syarat dikenakan PPh dengan norma penghitungan penghasilan neto.600 juta setahun yaitu tergolong sebagai Pengusaha Kecil.

500.000.000.2. 40.3. Akbar telah dikukuhkan sebagai PKP oleh KPP setempat .1.000.000 = Rp.000.000 = Rp.2.000 = Rp.000 tidak dapat dikreditkan 97 .000. 4.600. Dalam bulan Agustus 2005 Akbar melakukan penyerahan sbb: • Jasa bengkel = Rp.000 PM atas perolehan BKP/JKP sebesar Rp.000 = Rp. Tahun 2005 PPh-nya dihitung dengan menggunakan norma penghasilan neto. 40. 25.000 = Rp. 2.000.000 • Suku cadang 10% x Rp.600.900.25.500. 6.000 = Rp.3.3.000.000 Jumlah PPN disetor ke Kas Negara = Rp.000 • Suku cadang = Rp.000 Jumlah Pajak Masukan yang dikreditkan: Jasa bengkel 40% x Rp.000.500.000.2.000 Suku cadang 80% x Rp.4.000 Bulan Agustus 2005 diterima FP standar atas perolehan BKP/JKP (Pajak Masukan) dengan nilai PPN sebesar Rp.Contoh Penghitungan PPN bagi yang PPh-nya dihitung dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto Akbar adalah pemilik sebuah bengkel mobil merk Berkah disamping itu ia juga menjual suku cadang mobil.000 Penghitungan PPN Masa Pajak Agustus 2005 Pajak Keluaran: • Jasa bengkel 10% x Rp.

600 juta setahun dalam menghitung PPh dapat memilih • Seluruh WP Badan • WP orang pribadi yang peredaran brutonya Rp.553/KMK.600 juta atau lebih setahun Menggunakan norma penghitungan penghasilan neto Menyelenggarakan pembukuan Dalam menghitung PPN Menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM Menggunakan mekanisme pengkreditan PM tsb psl 9 UU PPN PPN yang dibayar ke Kas Negara Pajak Keluaran dikurangi PM sebesar 80% dari PK Pajak Keluaran dikurangi PM yang dapat dikreditkan 98 .03/2002) WP orang pribadi yang peredaran brutonya kurang dari Rp.252/KMK.04/2000 jo Kepmen No.Mekanisme Penghitungan PPN atas PKP pedagang eceran (Kepmen No.

Bendaharawan pemerintah (pusat / daerah) b.03/2003) 1. PPN terutang pada saat pembayaran b. karena pembeli memungut PPN yaitu memungut PPN dari dirinya sendiri 99 . Tidak diperlukan surat keputusan khusus penunjukan sebagai pemungut PPN Kondisi ini (pemungutan PPN / PPn BM) berarti menyimpang dari ketentuan umum.Pemungut PPN / PPn BM (Pasal 16A UU PPN jo Kepmen No 563/KMK. menyetor dan melapor PPN / PPn BM yang terutang oleh PKP atas penyerahan BKP / JKP kepada pemungut PPN 3. Catatan: a. Pihak yang ditetapkan sebagai pemungut PPN (terhitung 1 Januari 2004) adalah: a. Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) (Jadi mulai 1 Januari 2004 BUMN / BUMD bukan pemungut PPN) 2. c. Bendaharawan / KPKN dalam hal melakukan pembayaran atas penyerahan BKP / JKP oleh rekanan pemerintah yang dananya berasal dari APBN /APBD Bendaharawan / KPKN wajib memungut.

Penyerahan BKP/JKP yang dilakukan oleh PKP rekanan b. Dalam jumlah pembayaran sudah termasuk PPN / PPn BM 2. . alamat. Daftar terserbut dilampirkan pada SPT masa bagi pemungut PPN Dalam hal pemungut melakukan transaksi dengan rekanan yang belum bestatus sebagai PKP. apabila terjadi transaksi dengan rekanan yang bukan PKP. nomor dan tanggal FP atau dokumen yang sejenis.03/2003 jo Kep-382/Pj/2002) 1. maka Kepala KPP dapat menerbitkan surat tagihan pajak (STP) atau surat ketetapan pajak (SKP) 100 b. maka rekanan ybs diwajibkan melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP sebelum melakukan transaksi Apabila pemungut PPN tidak melaksanakan kewajibannya. dan diketahui telah memenuhi syarat sebagai PKP. NPWP. Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean c. Jumlah pembayaran dalam bentuk uang muka. PPn BM hanya dipungut dalam hal PKP rekanan adalah pabrikan dari BKP yang tergolong mewah d. Pemungut PPN wajib memberitahukan kepada Kepala KPP. dalam bentuk daftar yang berisi nama. pembayaran sebagian atau seluruhnya yang dilakukan pemungut PPN kepada PKP rekanan b. nilai transaksi.Ruang lingkup pemungutan PPN / PPn BM oleh pemungut dan dasar pemungutan (Kepmen No 563/KMK. c. Ruang lingkup pemungutan PPn / PPn BM a. Pemungut PPN tidak perlu memungut PPN / PPn BM atas penyerahan BKP/JKP yang dilakukan oleh bukan PKP Dasar Pemungutan PPN /PPn BM a. Catatan : a.

Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp. 4. Jadi PPN masih ada dan pembeli membayar harga + PPN 10% .000. Dalam hal ini tidak dipungut PPN / PPn BM dan berlaku ketentuan umum.1. maka pembeli harus membayar ke penjual.000 dan PPn 10%. 3.000 (termasuk PPN / PPn BM). dan tidak merupakan pembayaran yang dipecah-pecah.000. 5.Pembayaran yang tidak dipungut PPN / PPn BM (Kepmen No 548/KMK. 7. 2.04/2003 jo Kepmen No 5498/KMK. kecuali pembayaran atas penyerahan tanah oleh real estate atau industrial estate Pembayaran atas penyerahan BKP/JKP. 6.000.880. yang mendapat fasilitas PPN tidak dipungut /dibebaskan Pembayaran untuk penyerahan BBM/ non BBM oleh PT Pertamina (Persero) Pembayaran atas rekening telepon kepada PT. PPN / PPn BM dipungut dan disetor oleh PKP rekanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum 101 .1.800.04/2003 jo Kep382/Pj/2002) 1. Misal harga jual Rp.000 Pembayaran untuk pembebasan tanah. Telkom maupun kepada perusahaan telekomunikasi lainnya Pembayaran untuk jasa angkutan udara yang diserahkan oleh perusahaan penerbangan Pembayaran untuk penyerahan barang / jasa yang menurut ketentuan perundanga-undangan tidak dikenakan PPN Catatan : Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp. maka Pemerintah mebayar Rp.

KPKN : setiap hari B. SSP (rangkap 5) 2. C.Bendaharawan pemerintah : 14 hari setelah bulan penagihan . penyetoran dan pelaporan PP /PPn BM oleh Pemungut PPN A.Pada setiap lembar FP dicantumkan nomor dan tanggal advis SPM . Khusus KPKN pelaporan dilakukan dengan menggunakan “ surat pengantar” dilampiri FP lembar ke-3 b. Pelaporan dilakukan setiap bulan dengan menggunakan “SPT masa Bagi Pemungut PPN” (form 1101PUT) dibuat rangkap 3. Khusus KPKN dilakukan dengan cara mencantumkan no & tanggal advis surat perintah membayar (SPM) pada SSP & FP c. Pemungutan PPn / PPn BM 1.Tata cara pemungutan. Penyetoran dilakukan dengan menggunakan SSP paling lambat 7 hari setelah bulan dilakukan pemungutan b. Pemungut PPn wajib membub uhkan cap “Disetor tanggal ……. Pelaporan disampaikan ke KPP paling lambat: .Membubuhkan cap “ telah dibukukan” pada SSP lembar ke-1 & 2 d. Khusus KPKN adalah sbb: . FP standar (rangkap 3) b. PKP rekanan menyampaikan nota tagihan kepada pemungut PPN. baik untuk sebagian maupun seluruh pembayaran dengan dilampiri: a. 102 . Pemungutan dilakukan dengan cara pemotongan langsung dari tagihan KPK rekanan Penyetoran PPN / PPn BM a. Pemungut PPN wajib mengembalikan SSP lembar ke-1 dan lembar ke-3 serta FP lembar ke-2 yang telah dibubuhi cap dimaksud kepada PKP rekanan Pelaporan PPn / PPn BM a.” pada setiap lembar FP dan menada-tangani.

Lembar ke-2 : PKP rekanan . Penyetoran PPN & PPn BM dilakukan dengan menggunakan SSP sendiri-sendiri 103 . Catatan: a. FP standar dibuat rangkap 3 masing-masing untuk: . SSP dibuat rangkap 5. karena tidak ada penyetoran PPN dan atau PPn BM b.Lembar ke-4 : Bank persepsi / Kantor pos .Lembar ke-3 : PKP rekanan (dilampirkan dalam SPT) .Lembar ke-5 : Pemungut PPN (arsip) 2.Pembuatan FP dan SSP serta peruntukannya atas penyerahan BKP/JKP kepada Pemungut PPN A. tetapi penanda-tanganan sebagai penyetor dilakukan oleh pemungut PPN atas nama PKP rekanan B.Lembar ke-1 : PKP rekanan .Lembar ke-2 : KPP melalui KPKN . SSP dibuat rangkap 4. masing-masing untuk: .Lembar ke-3 : KPP melalui pemungut PPN 2. SSP diisi dengan identitas PKP rekanan. Dalam hal pemungut PPN adalah KPKN.Lembat ke-1 : Pemungut PPN . Faktur Pajak (FP) 1. FP diterbitkan paling lambat bersamaan dengan penerbitan nota tagihan Surat Setor pajak (SSP) 1. lembar ke-4 untuk pemungut (KPKN) sedangkan untuk bank persepsi / kantor pos tidak ada.

PPN yang dipungut 10/110 x 11.000 = Rp.PPn BM yang dipungut: 20/130 x Rp.000. b. 2.10. 1.000.000 Contoh 2 : Penyerahan BKP terutang PPN dan PPn BM a.13.13. 10.000 .000. c.11.000 = Rp. PPN dipungut : (Tarif PPN) / (100% + Tarif PPN + Tarif PPn BM) x Jumlah Pembayaran PPn Bm dipungut : (Tarif PPn BM) / (100% + Tarif PPN + Tarif PPn BM) x Jumlah Pembayaran Contoh: Penyerahan BKP tergolong mewah terutang PPN dan PPn BM (20%) . PPN yang dipungut : (Tarif PPN) / (100% + Tarif PPN) x Jumlah Pembayaran Contoh: .000 = Rp. 1.000 .000.000.Dibayarkan kepada PKP rekanan = Rp.000.13.000 Catatan: Dalam pembayaran sudah termasuk disalamnya PPN / PPn BM 104 .Jumlah pembayaran = Rp.Jumlah pembayaran = Rp.Dibayarkan kepada PKP rekanan = Rp.000.000.PPN yang dipungut: 10/130 x Rp.000 .000 .000 .000. b.Penghitungan PPN / PPn BM oleh KPKN / Bendaharawan Pemerintah Contoh 1 : Penyerahan BKP/JKP hanya terutang PPN a.000.

000 PPn BM (mis 10%): 10% x Rp.1. 880.000 Perhitungan PPN: Tahap I : Jumlah pembayaran PPN : 10/110 x Rp. 1.000. 770.770. 800.000 Catatan: Meskipun jumlah pembayaran tahap I dan II masing-masing kurang dari Rp. 80.000) . = Rp.000).000 = Rp 960.880.770.000.000 dan pembayaran yang dipecah-pecah Contoh 1 : Harga jual PPN: 10% x Rp.880.000 Karena jumlah yang dibayar termasuk PPN dan PPn BM Rp. 700. 800.000 Dibayar kepada PKP rakanan = Rp. yaitu tahap I sebesar Rp.650.1.000 = Rp.000 dan tahap II sebesar Rp.000 = Rp.000. 70.000. 80.000 = Rp. Maka PPN dan PPn BM terutang harus dipungut oleh rekanan Pemerintah tidak dipungut Bendaharawan / KPKN) Contoh 2 : Harga BKP termasuk PPN Rp.000.000 Dibayar kepada PKP rakanan Tahap II : Jumlah pembayaran PPN : 10/110 x Rp.960.000.1.000 = Rp. maka PPN terutang tetap dipungut oleh Bendaharawan / KPKN 105 .000 (kurang dari Rp. 80.800.000 = Rp. tetapi karena merupakan pembayaran yang dipecah (dari jumlah seluruhnya Rp.650.000 = Rp.1.800. Pembayaran dilakukan secara bertahap.000 Jumlah yang dibayar pemungut = Rp.Penghitungan PPN / PPn BM oleh Pemungut dalam hal jumlah pembayaran kurang dari Rp.

Tata cara pembetulan FP standar oleh pemungut. bank DPP maupun PPN / PPn BM terutang dengan cara mencoret angka yang diperbaiki dan mencantumkan angka yang seharusnya dan membubuhkan paraf disamping angka yang diperbaiki ( tidak boleh dihapus / di tipp-ex) Catatan: Kurs yang digunakan adalah menurut SK Menteri Keuangan 106 . sehubungan pembayaran dalam bentuk valas (Kep-549/PJ/2000 jo Kep-323/Pj/2001) PKP rekanan membuat FP standar pada saat melakukanpenagihan Menggunakan kurs yang berlaku pada saat pembuatan FP Besarnya PPN terutang harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat dilakukan pembayaran Apabila kurs yang tercantum dalam FP berbeda dengan kurs pada saat dilakukan pembayaran Pemungut membetulkan FP dengan menyesuaikan jumlah rupiah.

pada FP wajib dibubuhi cap “PPN dan PPn BM tidak dipungut” SSP dibuat atas nama. sedangkan yang menandatangani adalah pemungut PPN sebagai penyetor atas nama PKP rekanan Penyerahan JKP kepada instansi pemerintah yang berkedudukan sebagai PKP kepada instansi pemerintah lainnya tidak dipungut PPN. 8.000 sepanjang terutang PPN tetap harus dibuatkan FP oleh PKP rekanan Bendaharawan wajib membubuhkan cap “disetor tgl …. FP dibuat saat penyampaian tagihan kepada pemungut PPN baik untuk sebagian maupun keseluruhan pembayaran Apabila pembayaran diterima sebelum penagihan atau sebelum penyerahan BKP/JKP .000. 7.Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh PKP dalam hal penyerahan BKP/JKP kepada Pemungut PPN 1. 6.” dan menandatangani pada setiap lembar FP KPKN wajib mencantumkan nomor dan tanggal advis SPM (Surat Perintah Membayar) dan cap “ telah dibukukan” pada setiap lembar FP dan SSP Apabila penyerahan BKP/JKP dilakukan dalam rangka pelaksanaan proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau pinjaman luar negeri. 2. alamat dan NPWP PKP rekanan. 3. 5.1. sepanjang instansi pemerintah yang menyerahkan JKP memasukkan pembayaran yang diterima kedalam mata anggaran penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari instansi pemerintah tersebut 107 . maka FP diterbitkan pada saat pembayaran diterima Atas pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp. 4.

Pelaporan PKP rekanan atas penyerahan BKP/JKP kepada pemungut PPN

1.

Atas penyerahan BKP/JKP kepada pemungut PPN , PKP rekanan tetap berkewajiban untuk melaporkan PPN / PPn BM yang dipungut oleh pemungut PPN Pelaporan dilakukan oleh PKP rekanan dalam SPT Masa PPN pada masa pajak diterimanya pembayaran dari pemungut PPN dengan melampirkan SSP lembar ke-3. Apabila SSP belum diterima, pelaporan tetap dilakukan pada saat diterima pembayaran (tanpa lampiran SSP). Apabila kemudian hari SSP ybs diterima, cukup mengisi form 1195-J.9 pada SPT Masa PPN, pada masa pajak diterimanya SSP tersebut Dalam hal pemungut PPN adalah KPKN, maka PPN tersebut dilaporkan dalam masa pajak sesuai dengan bulan yang tercantum dalam “cash register” KPKN

2.

3.

108

Penghitungan PPN oleh PKP rekanan pemerintah dalam suatu masa pajak
CONTOH PT.A (PKP) bulan Juli 2005 melakukan kegiatan sbb: a. Melakukan penyerahan BKP sbb: - Kepada Pemkot Bandung (Pemungut) Rp.50.000.000 - Kepada Bukan pemungut Rp.75.000.000 Atas penyerahan BKP telah diterbitkan FP b. Menerima pembayaran dari KPKN (pemungut) sebesar Rp.33.000.000 (termasuk PPN) c. PPN (masukan) yang telah diterima dan dapat dikreditkan Rp.5.000.000 Penghitungan PPN 1. Jumlah Pajak Keluaran (PK): a.Bukan pemungut 10% x 75.000.000 = 7.500.000 b.Pemungut (KPKN) 10/110 x 33.000.000 = 3.000.000 Jumlah = 10.500.000 2. PK yang dipungut oleh pemungut = 3.000.000 3. PK yang dipungut sendiri = 7.500.000 4. Pajak Masukan (PM) yg dapat dikreditkan = 5.000.000 Kurang bayar = 2.500.000 Catatan: Penyerahan kepada Pemkot Bandung sebesar Rp.50.000.000 tidak diperhitungkan, karena belum diterima pembayaran (belum terutang PPN)

109

Penghitungan PPN oleh PKP (Bukan Pedagang Eceran) rekanan pemerintah yang menghitung PPN dng menggunakan Pedoman Pengkreditan CONTOH - 1 Penyerahan kpd pemungut (Mei 2005) = 50.000.000 PPN terutang 10% x 50.000.000 = 5.000.000 PPN dipungut pemungut (SSP terlampir)= 5.000.000 PPN yang dipungut sendiri = NIHIL PM yang dapat dikreditkan: 70% x 10% x 50.000.000 = 3.500.000 PPN yang lebih dibayar = 3.500.000 CONTOH - 2 Penyerahan kpd pemungut (Juli 2005) a. SSP terlampir b. SSP belum terlampir Jumlah Penyerahan kepada bukan pemungut Jumlah seluruh penyerahan Penghitungan PPN Jumlah seluruh penyerahan PPN terutang 10% x 150.000.000 PPN yg dipungut oleh pemungut: 10% x 125.000.000 PPN yang dipungut sendiri PM yang dapat dikreditkan: 70% x 10% x 150.000.000 Kelebihan pembayaran PM

= 75.000.000 = 50.000.000 = 125.000.000 = 25.000.000 = 150.000.000

= 150.000.000 = 15.000.000 = 12.500.000 = 2.500.000 = 10.500.000 = 8.000.000
110

dengan ketentuan: a. Dalam 2 tahun pajak terakhir menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 KUP c. Apabila dalam 2 tahun terakhir WP diperiksa. Telah ada ijin mengangsur /menunda pembayaran b.Kreteria WP/PKP tertentu yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak (Kepmen No. Laporan audit harus disusun dalam bentuk panjang (long form report) c. Tidak pernah dujatuhi hukuman. Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh AP/BPKP: a. karena melakukan tindak pidana pajak dalam waktu 10 tahun terakhir 5. kecuali: a. Tidak termasuk tunggakan pajak sehubungan dengan STP yang diterbitkan untuk 2 masa pajak terakhir 4. Menyajikan rekonsiliasi laba rugi komersial dan fiskal d. Tepat waktu menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam dua tahun terakhir 2. Dilakukan oleh AP yang tidak sedang dikenakan sanksi 6. Dalam tahun terakhir menyampaikan SPT masa yang terlambat tidak lebih dari 3 masa pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut 3. maka koreksi fiskal untuk setiap jenis pajak tidak lebih dari 111 10% .544/KMK.235/KMk. Dalam hal laporan keuangan tidak diaudit oleh AP: WP mengajukan permohonan untuk ditetapkan sebagai WP kreteria tertentu paling lambat 3 bulan sebelum tahun buku berakhir.03/2003 jo Kep-550/PJ/2000) Memenuhi syarat: 1.04/2000 jo No. Harus dengan pendapat wajar tanpa pengecualian atau dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi laba/rugi fiskal b. Memenuhi persyaratan tsb pada angka 1 s/d 4 b. Tidak mempunyai tunggakan pajak.

Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau dibebaskan dari pengenaan pajak. Disini ada perlakuan khusus berupa pembebasan pengenaan PPN. 2. PM yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau perolehan JKP yang atas penyerahannya tidak dipungut PPN dapat dikreditkan. Pajak terutang tidak dipungut atau dibebaskan Pasal 16B 1.Penyetoran dan Pelaporan Pasal 15A 1. Penyerahan BKP tertentu atau penyerahan JKP tertentu c. Penyetoran PPN oleh PKPharus dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa PPN disampaikan. Surat Pemberitahuan Masa PPN disampaikan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak.Disini ada perlakuan khusus yaitu PPN tetap terutang tetapi tidak dipungut 3. 2. diatur dengan Peraturan Pemerintah. Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentudi dalam Daerah Pabean b. baik untuk sementara waktu maupun selamanya dalam arti diberikan kemudahan dengan memberikan fasilitas pepajakan untuk: a. sehingga PM yang berkaitan dengan penyerahan BKP dan /atau JKP memperoleh pembebasan pajak tidak dapat dikreditkan 112 . Impor BKP tertentu d. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean e. mengakibatkan tidak ada PK. PM yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau perolehan JKP yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN yang tidak dapat dikreditkan. Pemanfaatan JKP tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

Mendorong ekspor yang merupakan prioritas nasional di Tempat Penimbunan Berikat dalam Daerah Pabean yang dibentuk khusus b. dan buku pelajaran agama dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat g. Mendorong pengembangan armada nasional bd angkutan darat. Menjamin tersedianya peralatan TNI/POLRI yang memadai untuk melindungi wilayah RI dari ancaman eksternal maupun internal e. mendorong perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing. dan rumah susun sederhana i.Pemberian Fasilitas Perpajakan Pasal 16B Tujuan dan maksud memberikan fasilitas perpajakan untuk berhasilnya sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi dalam skala nasional. yaitu rumah sederhana. Mengakomodasi kelaziman internasional dalam importasi BKP tertentu yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk m. mendukung pertahanan nasional. Menjamin tersedianya air bersih dan listrik yang dibutuhkan masyarakat o. rumah sangat sederhana. serta kelaziman internasional lainnya c. Kemudahan (fasilitas) perpajakan ini diberikan terbatas untuk: a. Menjamin terlaksananya proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah dan/atau dana pinjaman luar negeri l. Membantu tersedianya BKP dan/atau JKP yang diperlukan dalam rangka penanganan bencana alam nasional n. konvensi internasional. Menjamin tersedianya perumahan yang harganya terjangkau masyarakat lapisan bawah. kitab suci. seperti bahan baku kerajinan perak k. Mendorong pembangunan nasional dengan membantu tersedianya barang yang bersifat strategis. Menjamin tersedianya data batas dan foto udara wilayah RI yang dilakukan oleh TNI untuk mendukung pertahanan nasional f. Menjamin tersedianya angkutan umum di udara untuk mendorong kelancaran arus barang & orang di daerah tertentu yang tidak tersedia sarana transportasi lain yg memadai 113 . Mendorong pembangunan tempat ibadah h. serta memperlancar pembangunan nasional. Menampung perjanjian dng negara lain dalam bidang perdagangan dan investasi. Mendorong peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengadaan vaksin yang diperlukan dalam rangka program imunisasi nasional d. Meningkatkan pendidikan dan kecerdasan bangsa dengan membantu tersedianya buku pelajaran umum. air & udara j.

Ketentuan mengenai tata cara pengajuan dan penyelesaian permintaan kembali PPPN & PPn BM diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Faktur Pajak memenuhi ketentuan yang berlaku. kecuali pada kolom NPWP dan alamat pembeli diisi dengan nomor paspor dan alamat lengkap di negara yang menerbitkan paspor atas penjualan kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri yang tidak mempunyai NPWP 2. dengan syarat: a. sepanjang tidak dapat menunjukkan bukti bahwa pajak telah dibayar. Permintaan kembali PPN & PPn BM dilakukan pada saat orang pribadi pemegang paspor luar negeri meninggalkan Indonesia dan disampaikan kepada Dirjen Pajak melalui Kantor Direktorat Jenderal Pajak di bandar udara yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Paspor b. 114 . Faktur Pajak 4.000 dan dapat disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah b. Nilai PPN paling sedikit Rp500. 3.PPN & PPn BM atas Pemegang Paspor LN Pasal 16E & 16F • PPN & PPn BM yang sudah dibayar atas pembelian BKP yang dibawa ke luar Daerah Pabean oleh orang pribadi pemegang paspor luar negeri dapat diminta kembali. Pembelian BKP dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sebelum keberangkatan ke luar Daerah Pabean c. Dokumen yang harus ditunjukkan pada saat meminta kembali PPN & PPn BM adalah: a. Pas naik (boarding pass) untuk keberangkatan orang pribadi ke luar Daerah Pabean c. Pembeli BKP atau penerima JKP bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran pajak.

3. 115 . Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam daerah pabean Penyerahan BKP/JKP tertentu Impor BKP tertentu Pemanfaatan BKP tidak berwujud tertentu dari luar daerah pabean Pemanfaatan JKP teretntu dari luar daerah pabean 2. terbatas untuk: 1.Fasilitas PPN dan PPn BM (Pasal 16B UU PPN) Dibebaskan dan tidak dipungut PPN / PPn BM. 5. 4.

6 &7 116 2.2. serta suku cadang yang diimpor oleh Dep Pertahanan / TNI / POLRI / pihak yang ditunjuk dan komponen / bahan yang belum dibuat di dalam negeri.3 &4 b. pondok boro. kapal pandu / tunda / tongkang / penangkap ikan dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran / manusia yang diimpor dan digunakan oleh perusahaan pelayaran niaga nasional / penangkapan ikan nasional / jasa pelabuhan nasional / angkutan sungai. amunisi. Dirjen Pajak QQ Dir PPN/PTLL untuk angka 1. dan Buku) Senjata. Dirjen Pajak QQKa. 5. kapal angkutan sungai / danau / penyeberangan. peralatan untuk perbaikan / pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh perusahaan angkutan udara niaga nasional dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan / pemeliharaan pesawat udara yang diimpor oleh pihak lain yang ditunjuk Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan / pemeliharaan. permohonan dilakukan: a. Untuk “B” tidak diperlukan SKB PPN . B.Dibebaskan dari pengenaan PPn (PP No 146/2000 jo PP No 38/2003 jp Kep-48/JP/2001) A. asrama mahasiswa / pelajar serta perumahan lain yang batasannya ditetapkan oleh MENKEU Catatan 1. Untuk “A” diperlukan Surat Keputusan Bebas (SKB). alat angkutan di air / di bawah air / di udara / di darat. Penyerahan BKP (Rumah & Asrama sederhana) Rumah sederhana / sangat sederhana / susu sederhana. yang diimpor oleh PT PINDAD yang digunakan untuk pembuatan senjata / amunisi untuk Dep Pertahanan / TNI / POLRI Vaksin volio dalam rangka program pekan imunisasi nasional (PIN) Buku pelajaran umum / agama & kitab suci Kapal laut. 1. Kesehatan. serta prasarana yang diimpor dan digunakan untuk PT KAI dan komponen / bahan yang diimpor oleh pihak yang ditunjuk Peralatan serta suku cadang yang digunakan untuk penyediaan data batas dan photo udara wilayah negara RI yang diimpor oleh Hankam / TNI / Pihak yang ditunjuk 2. Angkutan. 7. kendaraan lapis baja / patroli / khusus. Impor dan penyerahan BKP tertentu (Hankam. 6. 3. danau dan penyeberangan nasional sesuai dengan kegiatan usahanya Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan / manusia. 4.KPP tempat [emohon terdaftar untuk angka 5.

Barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik (yang tidak terpisahkan dan merupakan satu kesatuan untuk mengoperasikan pabrik) yang diperlukan secara langsung dalam proses menghasilkan BKP. ternyata digunakan tidak sesuai tujuan semula atau dipindah-tangankan sebagian / seluruhnya. B. Importir atau yang menerima penyerahan BKP tersebut pada: a.1.04/2001 jo Kepmen No 363/KMK. Butir A. 1. Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP tersebut pada butir A.03/2003) A. wajib dikukuhkan sebagai PKP. Catatan 1. kehutanan.3 & B. penangkaran atau perikanan Khusus penyerahan BKP Barang hasil pertanian yang dipetik langsung / diambil langsung / disadap langsung dari sumbernya termasuk hasil pemrosesannya yang dilakukan dengan cara tertentu yang diserahkan oleh petani atau kelompok tani Air bersih yang dialirkan melalui pipa atau dialirkan dengan cara lain baik oleh PAM milik pemerintah maupun swasta Listrik. baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas. unggas. sedangkan pada butir B tidak diwajibkan 3. Butir A. tidak termasuk suku cadang (berlaku sejak tanggal 13 Agustus 2003) Makanan ternak. 2. maka PPN yang dibebaskan tersebut harus dibayar kembali dalam jangka waktu 1 bulan 117 .03/2002 jo Kepmen No 371/KMK. kecuaai untuk perumahan dengan daya diatas 6.1. ikan atau bahan baku untuk pembuatan makanan ternak. perkebunan.1 : diwajibkan mempunyai SKB PPN yang diterbitkan Dirjen Pajak b. Impor dan penyerahan BKP 1. Apabila dalam waktu 5 tahun sejak impor / perolehan barang modal tersebut pada butir A. unggas dan ikan Bibit atau benih dari barang pertanian. 3.2.3 tidak diwajibkan mempunyai SKB PPN 2.2.BKP tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari PPN (PP No 12/2001 jo PP No 43/2002 jp PP No 46/2003 Kepmen No 155/KMK.600 watt 2. 3. peternakan.

meliputi jasa tunda. asrama mahasiswa / pelajar dan perumahan lain yang batasannya ditetapkan Menkeu b. Jasa kepelabuhan. danau dan penyeberangan nasional meliputi a. Pertahanan / TNI yang dimanfaatkan dalam rangka penyediaan data batas dan photo udara wilayah RI untuk mendukung pertahanan Catatan: Tidak diperlukan SKB PPN 118 . rumah sederhana & rumah sangat sederhana Jasa yang diterima oleh Dep. meliputi a. pembangunan tempat yang semata-mata untuk keperluan ibadah Jasa persewaan rumah susun sederhana. Jasa persewaan pesawat udara b. Rumah sederhana / sangat sederhana / susun sederhana. Jasa perawatan dan reparasi pesawat udara Jasa perawatan atau reparasi KA yang diterima oleh PT KAI Jasa yang diserahkan oleh kontraktor untuk pemborongan bangunan: a. 3 4. Jasa persewaan kapal b.Penyerahan BKP yang dibebaskan dari pengenaan PPN (PP No 146/2000 jo PP No 38/2003 1. pondok boro. 6. Jasa yang diterima oleh perusahaan angkutan laut nasional / penangkapan ikan nasional / penyelenggara jasa pelabuhan nasional / penyelenggara jasa angkutan sungai. 2. Jasa perawatan dan reparasi (docking) kapal Jasa yang diterima oleh perusahaan angkutan udara niaga nasional. tambat / labuh c. 5. pandu.

pondok boro. T-27. Rumah dengan jenis /type T-21. asrama mahasiswa / pelajar dan perumahan sejenis lainnya Penyerahan jasa kontraktor untuk pemborongan RS / RSS / sejenisnya Penyerahan RS / RSS dari pengembang kepada konsumen Syarat Pembangunan memenuhi syarat teknis sesuai Kepmen pemukiman prasarana wilayah Dibebaskan dari pengenaan PPN Catatan 1.03/2001 jo KMK No-248/KMK. Pembebasan PPN tidak berlaku dalam hal penyerahan RS / RSS melalui penjualan tunai atau melalui penyerahan cicilan bertahap yang disediakan pengembang / pihak lain 119 .03/2002 jo SE26/PJ. T-36 2.PPN atas penyerahan rumah sederhana (PP No 146/2000 jo KMK No-524/KMK. Tidak diperlukan SKB 2. Harga jual tidak melebihi batasan maksimam harga RS type 36 Termasuk Rumah susun sederhana. Dibayar melalui KPR bersubsidi maupun tidak bersubsidi 3.51/2002) 1.

Kawasan berikat dan EPTE (Enterport Produksi untuk Tujuan Ekspor). Kawasan Cimareme Kawasan Pengembang Ekonomi Terpadu (KAPET). . misal Kawasan Pulau Gadung. misal Pulau Batam Atas pelaksanaan proyek pemerintah yang dibiayai dengan dana hibah / pinjaman luar negeri Impor kantong darah Impor suku cadang pesawat VVIP TNI AU yang digunakan untuk perjalanan Presiden dan Wakil Presiden Impor BKP tertentu sebagi mana dimaksud dalam KEPMEN No. 4.Fasilitas PPN tidak dipungut atas impor / Penyerahan / pemanfaatan BKP/JKP Dilakukan : 1.231/KMK. 3. Kawasan Cikarang. 5.03/2001Melaporkan PPN & PPn BM terutang dalam SPT Masa PPN 120 2. 6.

52/2000) 1. kecuali yang bersangkutan memperoleh fasilitas pembebasan PPN / PPn BM b. penyerahan BKP/JKP. untuk menghasilkan BKP yang diekspor Penyerahan BKP dari PKP EPTE atau sebaliknya untuk menghasilkan BKP yang diekspor Impor BKP oleh pengusaha yang digunakan untuk menghasilkan BKP yang diekspor Pemanfaatan BKP tidak berwujud dan atau JKP dari luar daerah pabean untuk menghasilkan BKP yang diekspor Catatan: a. Penyerahan BKP (termasuk barang modal) dan atau JKP yang digunakan menghasilkan BKP yang diekspor Penyerahan BKP antar pengusaha di KB yang sama untuk menghasilkan BKP yang diekspor Penyerahan BKP antar pengusaha dari KB yang berbeda.Fasilitas PPN & PPn BM tidak dipungut untuk kegiatan usaha di Kawasan Berikat (KB) Tujuan Eksport (PP No 39/1998 jo PP No 40/2002 jo SE-08/PJ. 5. 4. 2. 6. 121 . pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean di KB yang tidak digunakan untuk menghasilkan BKP yang diekspor  terutang PPN / PPn BM Pengeluaran BKP dari KB kepada orang / badan di Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL) terutang PPN / PPn BM. 3. Impor BKP.

3.04/2001 jo KEP-229/PJ/2001) 1. 5.04/2000 jo KMK No 11/KMK. 8. 6. 7. 2. Impor barang modal atau peralatan untuk pembangunan / kontruksi perluasan KB dan peralatan perkantoran yang semata-mata dipakai oleh Penyelenggara Kawasan Berikat (PKB) Impor barang modal / peralatan lain yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) yang semata-mata dipakai di PDKB Impor BKP untuk diolah di PDKB Pemasukan BKP dari DPIL untuk diolah di PDKB Pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lain untuk diolah lebih lanjut Penyerahan barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka sub kontrak Penyerahan kembali BKP hasil pekerjaan sub kontrak oleh PKP di DPIL atau PDKB lainnya kepada PKP PDKB asal Peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka sub kontrak dari PDKB kepada perusahaan industri DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya kepada PDKB asal 122 .Fasilitas PPN & PPn BM tidak dipungut untuk kegiatan usaha di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) (PP No 20/2000 jo KMK No 200/KMK. 4.

Fasilitas bagi PKP EPTE (Keppres No 96/1993 jo KMK No 855/KMK.96 tahun 1993” 123 b.01/1994 jo KMK No 43/KMK.01/1996) PPN / PPn BM terutang tidak dipungut terhadap: 1.01/1993 jo KMK No 293/KMK. Oleh PKP dari KB kepada PKP EPTE atau sebaliknya 2. . Penyerahan BKP antar PKP EPTE Catatan: a. Peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dari PKP EPTE kepada perusahaan industri / sub kontrak untuk membuat barang yang dipesannya (diijinkan untuk janka waktu 12 bulan) 5. Penyerahan kembali BKP hasil pekerjaan PKP sub kontrak tersebut pada butir 2 kepada PKP EPTE 4. Penyerahan BKP oleh EPTE dalam rangka mensubkontrakkan sebagian dari kegiatan pengolahan kepda perusahan industri di KB atau di DPIL atau kepada PKP EPTE lainnya (harus selesai dalam jangka waktu 60 hari) 3. Penyerahan BKP produksen di DPIL kepada perusahaan berstatus EPTE diperlakukan sama dengan ekspor PKP yang melakukan penyerahan tersebut pada butir 2 dan 4 diatas wajib membuat FP standar (rangkap 3) dengan dibubuhi cap “tidak dipungut PPN/PPn BM eks Keppres No. Penyerahan BKP untuk diolah lebih lanjut: a. Oleh PKP dari DPIL kepada PKP EPTE b.

sedangkan penyerahan BKP/JKP oleh anggota KSO kepada KSO tetap dipungut PPN 124 b. .PPN atas proyek pemerintah yang dananya dibiayai dari hibah /pinjaman luar negeri (PP no 42/1995 jo KMK No 239/KMK. Atas perolehan BKP/JKP di Dalam Negeri oleh kontraktor utama dari sub kontraktor / pihak lain terutang PPN. Dibuatkan SSP Catatan: a.01/1996) Impor BKP Pemanfaatan BKP tidak berwujud & JKP dari luar daerah pabean Penyerahan BKP/JKP kepada pemilik proyek Oleh Kontraktor Utama Dibayar dari dana hibah / pinjaman luar negeri Dibayar dari dana pendamping (APBN/APBD/Lainnya) a. PPN / PPn BM dipungut b. maka untuk penyerahan BKP/JKP oleh KSO kepada pemilik proyek tidak dipungut PPN. SSP tidak perlu dibuat a. bagi kontraktor utama PPN yang dibayar merupakan PM yang dapat dikreditkan Dalam hal proyek pemerintah dikerjakan oleh perusahaan dengan status kerja sama operasi (KSO). PPN/PPn BM tidak dipungut b. Dibuat FP c. Dibuat FP dengan dibubuhi cap “PPN / PPn BM tidak dipungut sesuai PP 42 tahun 1995” c.

tetapi tidak dipungut (PK-nya nihil) Fasilitas ini mengakibatkan PPN menjadi tidak terutang (tidak ada PK) 125 .Perlakuan PM atas penyerahan BKP/JKP yang PPN-nya tidak dipungut / dibebaskan (Pasal 16 ayat (2) & (3) UU PPN) PPN terutang tidak dipungut PPN terutang dibebaskan Dapat dikreditkan Tidak dapat dikreditkan Dalam fasilitas ini PPN tetap terutang .

b. Termasuk PPN yang tidak dapat dikreditkan karena todak memenuhi persyaratan administrasi (FP-nya cacat) Catatan: Kata “dapat” tersebut pada pasal 16D UU PPN mengandung makna. DPP-nya dalam harga pasar wajar PPN yang terutang disetor seluruhnya dengan menggunakan SSP tersendiri Dilaporkan dalam SPT masa PPN (Kode I2) masa pajak terjadinya penyerahan (tidak dilaporkan dalam form 1195 A1) Penyerahan aktiva perusahaan yang tidak memenuhi syarat tersebut pasal 16D UU PPN. bukan faktor yg relevan Kedua persyaratan dimaksuid bersifat komulatif. d. Penyerahan dilakukan oleh PKP b. PPN yang dibayar pada saat perolehan aktiva menurut ketentuan dapat dikreditkan. bahwa apakah PPN yang dibayar atas perolehan aktiva tersebut sudah dikreditkan atau belum.Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual-belikan (Pasal 16D UU PPN jo Kepmen No 251/KMK. tidak terutang PPN. sehingga apabila salah satu syarat tidak dipenuhi.1) .2. tetapi tetap dilaporkan dalam SPT masa PPN (form 1195 kolom 126 B.03/2002) Terutang PPN Syarat a. c. maka atas penyerahan aktiva tersebut tidak dikenakan PPN a.

Harga wajar di pasaran bebas mesin tersebut adalah Rp.000.000. tetapi ini bukan harga di pasaran. karena tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa.000.000.000 adalah harga wajar.000 Penghitungan PPN: PPN terutang 10% x 100.100.400. maka harga yang diakui secara fiskal adalah harga pasar wajar yaitu Rp.100.000 Catatan: Harga yang diterima oleh PT C dari PT D sebesar Rp.000 Contoh 2 PT C menjual aktivanya berupa sebuah mesin pabrik kepada PT D dengan harga Rp.000.000.000.50.000. Harga yang diakui secara fiskal adalah harga pasar wajar yaitu Rp.000. Harga di pasaran mobil tersebut adalah Rp.000.10.Penghitungan PPN atas penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan Contoh 1 PT A menjual aktivanya berupa sebuah mobil truck kepada PT B dengan harga Rp.000 adalah harga tidak wajar.300.400.000 127 .300.000 Catatan: Harga jual kepada PT B sebesar Rp.000 Antara PT A dan PT B terjadi hubungan istimewa.40.000.000 Penghitungan PPN: PPN terutang 10% x Rp.000 = Rp.400.50.000.000. Antara PT C dan Pt D tidak ada hubungan istimewa. karena dipengaruhi oleh hubungan istimewa.000 = Rp.

Saat pelaporan  paling lambat tanggal 20 bulan penyetoran Catatan : Bukti setor PPN berupa SSP diperlakukan sebagai FP standar.PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean (Pasal 3A (4) UU PPN jo Kepmen No 568/KMK. Sarana Pelaporan: .04/2000) Pemungut Dipungut oleh orang pribadi / badan yang memanfaatkanBKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean Saat Pemungutan dilakukan pada saat dimulainya pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean Disetor Penyetoran PPN dilaksanakan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah bulan terjadinya pemungutan Pelaporan a. sehingga PPN yang tercantum didalamnya bagi PKP yang memanfaatkan BKP tidak berwujud atau JKP merupakan PM yang dapat dikreditkan 128 .Bukan PKP : Lembar Ke-3 SSP b.PKP : Melalui SPT masa PPN (form 1195 – J11) .

b. PPn BM Lembar 2 PKP pembeli Mengurangi a. baik oleh PKP penjual. tidak diperlakukan sebagai nota retur Apabila BKP yang dikembalikan diganti dengan BKP yang sama baik jumlah fisik.Retur BKP & JKP (Pasal 5A UU PPN jo Kepmen No 596/KMK. maka baik penyerahan maupun pengembalian BKP harus 129 dilaporkan dalam SPT masa PPN . atau b. Nota retur yang tidak diisi secara lengkap. Pada masa pajak yang sama dengan masa pajak dibuatnya nota retur. tidak harus dibuatkan nota retur tetapi dapat melalui pembatalan / perbaikan FP. jenis maupun harganya. c. Ada BKP & JKP yang dikembalikan a. Pada masa pajak diterimanya nota retur Syarat Pada masa pajak dibuatnya nota retur Syarat a.04/1994) PKP pembeli wajib menerbitkan retur rangkap 2 Lembar 1 PKP penjual Mengurangi a. Nota retur diisi secara lengkap c. Pajak keluaran b. apabila dibuatkan nota retur. maka tidak perlu dibuat nota retur Pengembalian BKP yang terjadi masih dalam masa pajak yang sama dengan terjadinya penyerahan. PM : PM dapat dikreditkan b. Telah dilaporkan dalam SPT masa PPN. maupun PKP Pembeli b. Biaya/harta : PM tidak dapat dikreditkan a.

04/1994) 1. NPWP. Nomor urut Nomor dan tanggal FP dari BKP yang dikembalikan Nama. sehingga PPN / PPn BM yang tercantum didalamnya tidak dapat dikurangkan Sejak tahun 2001 dalam FP tidak lagi mencantumkan: 1) Nomor pengukuhan PKP 2) Macam. kuantum dan harga satuan. sihingga bentuk dan isi nota retur oerlu disesuaikan 130 b. h. kwantum. jenis. b. a. d. tanggal pembukuan PKP yang menerbitkan FP Macam. dan NPWP pembeli Nama. c. Wajib mencantumkan keterangan: a. i. alamat. Nota retur yang tidak diisi secara lengkap bukan nota retur. g.Bentuk dan isi nota retur ( Kepmen No 596/KMK. Catatan. Bentuk nota retur dibuat sesuai dengan kebutuhan administrasi pembeli 2. . alamat. harga jual BKP yang dikembalikan PPN atas BKP yang dikembalikan PPn BM atas BKP yang tergolong mewah yang dikembalikan Tanggal pembuatan nota retur Tanda tangan pembeli f. e.

000.000.000 Penghitungan PT B yaitu dikurangkan dengan PK masa pajak Mei 2005 Pajak keluaran Dikurangi retur penjualan Dikurangi pajak masukan Kurang bayar = Rp.8. 500.000.500.000 131 .000 = Rp.000 PM yang dapat dikreditkan Lebih bayar = Rp.4.000 Rp.000 = Rp. PT A menerbitkan nota retur no 045 tanggal 30 April 2005 dengan PPN Rp.000.500. 500.Contoh penghitungan nota retur 1.500.8.500.000 Retur pembelian = Rp.000.000 atas pembelian BKP yang tercantum dalam FP ABCDE-424-0008644 tanggal 5 Januari 2005 dan PM-nya telah dikreditkan 2.7.1.7.000 = Rp.3. PT B tanggal 16 Mei 2005 menerima nota retur dari PT A Perhitungan PT A yaitu dikurangkan dengan PM masa pajak April 2005: Pajak keluaran Pajak masukan = Rp.000 = Rp.000 = Rp.9.

Dapat dilakukan lebih dahulu melalui penelitian. PM atas perolehan BKP/JKP sebelum PKP berproduksi atau melakukan penyerahan b. Catatan: Pelaksanaan restitusi: a. PKP melakukan penyerahan BKP/JKP yang memperoleh fasilitas PPN tidak dipungut Terjadi kesalahan dalam pemungutan PPN 2.Restitusi PPN yaitu terjadi kelebihan pembayaran Disebabkan: 1. sedangkan pemeriksaan dilakukan kemudian 132 . Jumlah PM yang dapat dikreditkan lebih besar dari pada jumlah PK dalam suatu masa pajak. karena: a. PKP melakukan kegiatan ekspor BKP c. PKP melakukan penyerahan BKP/JKP kepada pemungut PPN d. Dapat dilakukan setiap masa pajak b.

04/2000 jo Kepmen No 235/KMk. Kegiatan ekspor b.Pengelompokan Restitusi PPN 1. Penyerahan kepada pemungut 2. PKP dengan kreteria tertentu (pasal 17C KUP) yaitu harus memenuhi syarat tertentu yang ditetapkan dalam Kepmen No.544/KMK.03/2003 jo Kep-550/PJ/2000 3. PKP lainnya yaitu selain PKP yang melakukan kegiatan tertentu dan PKP dengan kreteria tertentu (butir 1 & 2 diatas) 133 . PKP yang melakukan kegiatan tertentu (pasal 17B KUP) : a.

SSP / Bukti pungutan pajak oleh DJBC atau c. Khusus bagi PKP kriteria ternetu kecu ali Tidak wajib dilampirkan . LPS (Laporan Pemeriksaan Surveyor a. Penyerahan dalam negeri FP (masukan) FP (Keluaran) a. B/L (Bill of Lading) / Airway Bill atau c. PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) atau b. Wesel ekspor / Bukti tranfer Kontrak / SPK dan Surat Setoran Pajak Permohonan yang meliputi kelebihan pembayaran sebagai akibat kompensasi.Tatacara Restitusi PPN Mengajukan permohonan dengan dilampiri 1. Impor BKP 3. sebelum PKP ditetapkan sebagai PKP dengan kriteria 134 tertentu 2. Penyerahan kepada pemungut 5. PIB (Pemberitahuan Impor Barang) atau b. Ekspor BKP 4.

2 bulan sejak diterima permohonan lengkap.04/2000 jo No 235/KMK.03/2003) A. permohonan restitusi dianggap diterima dan surat ketetapan pajak lebih bayar (SKBLB) harus diterbitkan paling lambat 1 bulan b. dan PKP lain. c. B. . PKP dengan kriteria terntentu (pasal 17C KUP): a.Jangka waktu penyelesaian permohonan Restitusi PPN ( Kepmen No 544/KMK. selain PKP kriteria tertentu: a. untuk penyelesaian restitusi melalui pemeriksaan semua jenis pajak Penyelesaian lewat jangka waktu. PKP yang melakukanm kegiatan tertentu (pasal 17B KUP). kecuali dilakukan pemeriksaan untuk semua jenis pajak 12 bulan sejak diterima permohonan lengkap. PKP menghendaki diterbitkan SKP PKP: 1) 1 bulan sejak diterima permohonan lengkap 2) KPP harus menerbitkan SKP PKP paling lambat 7 hari kerja setelah lewat jangka waktu butir 1) diatas 3) KPP dapat melakukan pemeriksaan kemudian dan menerbitkan SKP apabila terjadi kurang bayar diterbitkan SKBKB ditambah sanksi kenaikan sebesar 100% PKP tidak menghendaki diterbitkan SKP PKP: 1). Menyampaikan surat pernyataan tersendiri dilampirkan SPT masa PPN 2) Restitusi diproses sesuai pada butir A diatas 135 b.

SPT Masa PPN disi setiap masa pajak (setiap bulan takwin atau jangka waktu tertentu dengan persetujuan Fiskus) 5. Yang wajib menanda-tangani SPT masa adalah: a. Jumlah rupiah dihitung dalam rupiah penuh 3. maka SPT Masa PPN dapat berfungsi sebagai surat permohonan kompensasi atau restitusi dengan memberi tanda “X” pada butir II Fomulir 1107 9. Badan : Pengurus atau direksi b. Penghapusan piutang tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaian pajak yang telah dilaporkan oleh PKP penjual / pemberi jasa.Pelaporan SPT Masa PPN Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam mengisi SPT Masa PPN (Form 1107): 1. SPT masa PPN harus disampaikan dengan lengkap. Orang pribadi : PKP yang namanya tercantum dalam kartu NPWP 7. dan tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaian pajak yang telah dikreditkan 10. artinya semua unsur yang tercantum dala SPT induk dan semua lampiran yang disyaratkan telah diisi dengan lengkap dan ditanda-tangani 6. Dalam hal ditanda-tangani oleh orang lain harus dilampirkan surat kuasa khusus 8. BKP yang musnah/rusak sehingga tidak dapat digunakan. Dalam hal SPT masa PPN menunjukkan lebih bayar dan diminta untuk dikompensasikan atau dikembalikan (restitusi). tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaian pajak yang telah dikreditkan (pasal 7 PP No 143/2000) 136 . Dalam hal jumlah rupiah nihil (tidak ada) supaya diisi dengan tanda (-) atau nihil 4. ukuran dan isi sesuai 2. Form SPT masa PPN disediakan secara cuma-cuma oleh Ditjen Pajak atau dapat difotocopy atau dicetak sendiri oleh PKP sepanjang bentuk.

II (Form 1107 B) Daftar Pajak Masukan dan PPn BM 2. Lamp. Lamp.II (Form 1107 PUT 2) Daftar PPN & PPn BM yang dipungut oleh Selain Bendaharawan Pemerintah Semua Lampiran wajib dilampirkan pada SPT Masa PPN 137 . 1. Lamp.Pelaporan PPN & PPn BM terutang dalam SPT (Pasal 3 KUP jo Kep-12/PJ/1995 jo KEP-386/PJ/2002) Diwajibkan kepada Pengusaha kena pajak Sarana Pemungut PPN Sarana SPT Masa PPN (Form-1107) SPT Masa Bagi Pemungut PPN (Form-1107 PUT) Terjadi Terjadi Form 1107 : Induk SPT) Dilampiri Form-1107 PUT: Induk SPT Dilampiri 1.I (Form 1107 PUT 1) Daftar PPN & PPn BM yang dipungut oleh Bendaharawan Pemerintah 2.I (Form 1107 A) Daftar Pajak Keluaran dan PPn BM Lamp.

Ekspor dengan LC 1107 A : I (1) 2.Penyerahan aktiva (pasal 16D UU PPN) 1107 A : II (2) 1107 A : II (2) 138 .Penyerahan dng fasilitas tdk dipungut 4.Penyerahan tidak terutang PPN 11.Masa Pelaporan PK terutang dan tempat pelaporannya dalam SPT Masa PPN (Form 1107 A) Jenis ekspor /penyerahan Masa Pelaporan Sesuai bulan fiat yang dimuat pada PEB atau B/L oleh DJBC Dalam masa pajak dibuatnya FP Dalam masa pajak dibuatnya FP Dalam masa pajak diterimanya pembayaran (SSP sdh/blm diterima) Dalam masa pajak dan disertai SKB (tidak perlu SKB) Dalam masa pajak dibuatnya FP Dalam masa pajak dibuatnya FP atas nama perusahan Dalam masa pajak dibuatnya FP Dalam masa pajak diterimanya nota retur Dalam masa pajak terjadinya penyerahan Dalam masa pajak terjadinya penyerahan Tempat Pelaporan dlm SPT 1.Pemakaian sendiri / bonus kpd karyawan (konsumtif) 8.Retur penjualan 10.Pemberian cumacuma 1107 A : II (5) 1107 A : II (2) 1107 A : II (2) 1107 B : II 1107 A : II (2) 1107 A : II (2) 9.Ekspor tanpa LC 3.Penyerahan kepada bkn pemungut PPN 7.Penyerahan kepada pemungut PPN 1107 A : I (1) 1107 A : II (4) 1107 A : II (3) 5.Penyerahan yang dibebaskan pengenaan PPN & PPn BM 6.

A/B 1107 B : I .Masa Pelaporan PM dan tempat pelaporannya dalam SPT Masa PPN (Form 1107 B) Jenis PM Masa Pelaporan Sesuai bulan pembayaran / bukti pungut DJBC Sesuai bln dibuatnya FP (pl lambat 3 bln) Paling lambat bulan ke-3 setelah berakhirnya masa pajak Tempat Pelaporan dlm SPT DK : 1107 B : I .PM Impor (masa sama) 2.Kegiatan membangun sendiri (Pasal 16C UU PPN) 1107 B : I . A/B 1107 B : I . PM Impor /DN (masa tidak sama) DK : 1107 B : I . 1 . B TDK : 1107 B : II Sesuai bulan dibuatnya nota retur Sesuai dengan bulan penyerahan BKP/JKP Sesuai dng masa pajak yang diminta untuk kompensasi Sesuai dng bulan diterbitkan SK Bapeksta Keuangan Sesuai bulan dilakukan perhitungan kembali Sesuai bulan pengeluaran untuk biaya DK : 1107 B : I .PM yg enggunakan pedoman pengkreditan PM 7. 1. B TDK : 1107 B: II 1. 1 . 3 .Pemanfaatan BKP tidak berwujud / JKP dari luar daerah pabean 5.Hasil penghitungan kembali PM yg telah dikreditkan 10. 1 . A TDK : 1107 B: II DK : 1107 B : I .C 1107 B : I .Pembayaran pendahuluan dari Bapeksta Keuangan 9. 3 . 2 1107 B : I . 3. 1 . B TDK : 1107 B : II 6. C 1107 : III (PPN KMS) 1107 B : II (PPN dari Rekanan) 139 . 1 . PM dalam negeri (masa sama/tidak) 3.Retur pembelian Sesuai bulan pembayaran yang tercantum dalam SSP DK : 1107 B : I . A TDK : 1107 B : II 4.Kompensasi kelebihan / pembetulan bulan lalu 8.

Menyetorkan PPN yang kurang dibayar dan PPn BM yang terutang 6.Kewajiban PKP 1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP 3. Mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP 2. Memungut PPN & PPn BM yang terutang 4. Melaporkan PPN & PPn BM terutang dalam SPT Masa PPN 140 . Menerbitkan FP dalam hal melakukan penyerahan BKP/JKP 5.