You are on page 1of 20

PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN ATAS

Dr. ZULFAN, SpPD
BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

FK UNIVERSITAS YARSI

• Perdarahan yang ligamentum Treitz • Perdarahan masif :
– – – –

terjadi

proksimal

dari

membutuhkan > 4 unit darah/12 jam hematemesis, hematokesia hemodinamik tidak stabil → hipotensi, syok DD : varises esofagus, ulkus peptikum, gastritis, robekan Mallory Weiss, fistula aorta-enterik

• Perdarahan tidak masif :
– hematemesis, melena, gejala anemia – hemodinamik stabil – DD : esofagitis, gastritis, ulkus peptikum, teleangiektasis vaskuler lambung, neoplasma

Robekan Mallory Weiss . Ulkus peptikum – duodenum 3. Varises esofagus 2.ETIOLOGI 1.

VARISES ESOFAGUS    Obstruksi v porta dan tekanan balik pada v gastrika → hipertensi portal → v submukosa esofagus berdilatasi Hipertensi portal : tekanan vena porta > 30 cm NaCl Penyebab hipertensi portal : – intrahepatik : sirosis hati – ekstra hepatik : trombosis v porta. biasanya tanpa disertai nyeri perut stigmata penyakit hati kronis koagulopati. sindrom Budd Chiari  – – – Gejala klinis perdarahan. trombositopenia .

nyeri perut.ULKUS PEPTIKUM. diare • Pemeriksaan : endoskopi .DUODENUM • Riwayat penyakit ulkus sebelumnya • Mual.

alkohol • Gejala klinis : – muntah-muntah dan teregangnya abdomen – perdarahan umumnya berhenti spontan .ROBEKAN MALLORY-WEISS • Robeknya mukosa pada batas esofago-gastrik → perdarahan arteri • Berhubungan dengan hiatus hernia.

PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGIS • Tirah baring • Puasa (bila penyebabnya varises esofagus) • Pasang NGT dan bilas air es tiap 6 jam : .mengeluarkan bekuan darah .9 % atau RL atau Asering • Pengganti plasma : hemacel/gelafundin • Transfusi darah : WB atau PRC sesuai Hb dan jumlah perdarahan yang terjadi. sampai Hb 10 g% • Klisma 1-2 x/hari → mencegah ensefalopati hepatikum • Nutrisi parenteral total sampai perdarahan berhenti : DHI (cair) → DHII (bubur saring) → DHIII (bubur kasar/lunak) → DH IV (nasi tim/biasa) .memperkirakan jumlah perdarahan • Infus cairan dan elektrolit NaCl 0.menghentikan perdarahan .

pasang monitor tekanan vena sentral (CVP) . nadi dan kesadaran sampai TD sistolik > 100 mmHg • selanjutnya infus sesuai dengan kondisi pasien • pasien usia > 50 tahun atau PJK. kecepatan pemberian cairan setengahnya – Jika tanda syok tersebut ditemukan dalam posisi duduk.PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGIS • Pemberian "loading" cairan : – Jika tanda syok ditemukan pada posisi berbaring. • Jika memungkinkan. kehilangan cairan diperkirakan sekitar 30% • Pada kondisi ini guyur sampai dengan 2 kolf • Bila TD sistolik > 100 mmHg infus sesuai kondisi pasien. kehilangan cairan diperkirakan sekitar 50% • 1 jam pertama guyur cairan dan evaluasi TD.

PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGIS VARISES ESOFAGUS : • Somatostatin 250 mcg (iv) + drip 250 mcg/jam • Octreotide • Propanolol 2 x 10 mg/hr → dosis dapat ditingkatkan bila TD diastolik turun 20 mmHg atau denyut nadi turun 20% dari semula • Isosorbid mononitrat (ISMO) 2. VII.3 x 1 tablet/hr • Metoklopramid 3 x 10 mg/hari → menurunkan tekanan intra varises esophagus • Laktulosa 4 x 1 sendok makan/hari • Neomycin 4 x 500 mg/hr Bila ada gangguan hemostasis : • DIC → heparin sirosis hati : 3 x 2500 u/hr iv non sirosis hati : protokol heparinisasi • Fibrinolisis primer → asam traneksamat 3 x 1 ampul /hr iv • Defisiensi faktor II. X → vitamin K 3x 1 ampul/hari • Defisiensi faktor lain : transfusi FFP 5-10 unit . IX.

PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGIS ULKUS PEPTIKUM • Injeksi H2-RA atau PPI intra vena /hari • Sitoprotektor: Sucralfate atau misoprostol • Antasida 3-4 x10 cc/hr ROBEKAN MALLORY WEISS • Berhenti spontan → terapi (-) TINDAKAN KHUSUS VARISES ESOFAGUS • Pemasangan balon "Sengstaken-Blakemore (SB) tube": untuk diagnostik dan terapeutik (PVO) • Tindakan endoskopi • Esofagus : STE dengan etoksisklerol atu ligasi berkala 1-2 minggu sampai terjadi proses sklerotik/obliterasi • Fundus : STE + histoacryl atau ligasi + histoacryl .

koagulasi → endoskopi – vasopresin intra arterial – bedah . laser.000 peri lesi • Injeksi etoksisklerol 1-1.5% peri lesi • STE dengan "fibrin glue“ (fibrin+ trombin) • koagulasi : surgical unit/heat probe/bipolar probe/laser NON ULKUS : EROSI ATAU GASTROPATI HIPERTENSI PORTAL • Bilas lambung dengan air es • Disemprot air + adrenalin 1/20.000 • Koagulasi : laser/heat probe/bipolar probe ROBEKAN MALLORY WEISS • Perdarahan hebat : – suntikan.TINDAKAN KHUSUS ULKUS PEPTIKUM • Injeksi adrenalin 1:10.

cairan dan transfusi • Sebagai tindakan darurat atau elektif • Bedah darurat : gawat I-II – Gawat I : 8 jam pertama → perlu transfusi > 2 liter – Gawat II : 24 jam pertama → perlu transfusi > 2 liter – Gawat III : perdarahan belum juga berhenti dalam waktu 3 x 24 jam sejak pasien dirawat • Bedah darurat : – transeksi esofagus – devaskularisasi • Bedah elektif : – shunt splenorenal (Child A atau B dengan asites minimal) – dilakukan 6 minggu setelah perdarahan berhenti .OPERASI • Bila perdarahan tidak dapat terkontrol dengan obat.

ZULFAN. SpPD BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM FK UNIVERSITAS YARSI .PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH Dr.

infektif. radiasi Peradangan usus idiopatik Angiodisplasia kolon Fistula aorta enterik Vaskulitis Varises kolon Amiloidosis Diastesis perdarahan . adenokarsinoma Kolitis : iskemik.• • • • • • • • • • • • Hemoroid Divertikulitis Ulkus pada kolon dan rektum Tumor usus : polip adenomatosa.

SUMBER PERDARAHAN             Hemoroid Divertikulitis Ulkus pada kolon dan rektum Tumor usus : polip adenomatosa. radiasi Peradangan usus idiopatik Angiodisplasia kolon Fistula aorta enterik Vaskulitis Varises kolon Amiloidosis Diastesis perdarahan . adenokarsinoma Kolitis : iskemik. infektif.

laser. Hemoroid eksternal : • Inspeksi secara digital di daerah perineum • Trombosis → pembengkakan dan nyeri • Terapi : supositoria rektal. hemoroidektomi . sfingterektomi lateral. Hemoroid internal : • Pemeriksaan anuskopi • Terapi : injeksi lokal dengan sklerosan.HEMOROID Pleksus vena submukosa di rektum bagian bawah A. salep topikal • Cegah : pelunak feses B.

DIVERTIKULOSIS KOLI • • • Perbedaan tekanan pada bagian kolon yang berbeda → hipertrofi muskular → keluarnya mukosa melalui lapisan otot usus pada tempat lalunya pembuluh darah → perdarahan Lokasi : .asimptomatis .perdarahan tidak terkontrol dan banyak → operasi 25 % kasus → terjadi perdarahan berulang • • • .dapat terjadi di semua bagian kolon .perdarahan spontan.barium enema .perdarahan tidak terkontrol → vasopresin intra arterial .nyeri abdomen kanan.kolonoskopi Terapi : . perubahan pola BAB .paling sering di kolon asendens dan sigmoid Gejala : .perdarahan berhenti spontan → tidak usah diterapi . feses merah terang atau kecoklatan Pemeriksaan : .

TUMOR USUS • Dapat terjadi pada ileum sampai kolon – jinak : adenoma. feses merah atau kecoklatan – masif – Jarang disertai nyeri. limfoma • Gejala : – Asimptomatik – Perdarahan : episodik. kecuali bila terjadi torsi dari polip yang bertangkai → iskemia pada kepala polip • Diagnosis : – endoskopi usus : kolonoskopi – radiologi : CT scan abdomen. leiomioma. lipoma. arteriografi • Terapi : – Tumor jinak • asimptomatik → terapi (-) • perdarahan → reseksi usus halus • polip bertangkai → polipektomi – Tumor ganas • kolektomi : tumor ganas yang sudah masuk ke submukosa dinding usus • dilanjutkan dengan kemoterapi . angioma – ganas : adenokarsinoma.

pasca operasi kolon • Iskemia oklusif : .aritmia jantung yang menyebabkan hipotensi .trombosis arteri mesenterika inferior vdan superior .KOLITIS ISKEMIK • Aliran darah ke segmen kolon terganggu • Lokasi : fleksura splenikus dan sigmoid • Iskemia non oklusif : berkurangnya curah jantung → terganggunya aliran darah ke kolon .trombosis vena mesenterika .emboli .syok kardiogenik .

perdarahan.puasa dan pasang NGT .tanda-tanda peritonitis terlokasi • Pemeriksaan penunjang : .peritonitis → antibiotika spektrum luas .perdarahan tidak terkontrol → angiografi emergensi .KOLITIS ISKEMIK • Gejala klinis : .aritmia .curah jantung rendah .berkurangnya volume cairan → hipotensi .atasi faktor pencetus : .nyeri abdomen tiba-tiba .barium enema dan kolonoskopi : setelah perdarahan stop .angiografi : vasokontriksi persisten a/v mesenterika • Terapi : . tapi biasanya berhenti sendiri .