You are on page 1of 45

PROSEDUR BATUK EFEKTIF, NAFAS DALAM DAN POSTURAL DRAINASE

Kelompok 3

Anggota kelompok
• • • • • • • • Fitriani Fitria Ananda Putri Aziva Angreni Indah Sari Rahayu Cindy Teguh Kersana Luthvi Novita Sri Rahayu Sri Ratna Dewi 1210321020 1210322012 1210323029 1210323018 1210322013 1210323025 1210321002 1210321009

Batuk Efektif
Pengkajian – Keadaan fisik (tanda-tanda vital) – Riwayat medis dahulu dan sekarang – Sumber informasi tambahan yang diindikasikan

implementasi

Tujuan : > untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas. > mengeluarkan sekresi dari jalan nafas bagian atas dan bawah.
Mekanisme normal batuk : inhalasi dalam, penutupan glotis, konstraksi aktif oto-otot ekspirasi, dan pembukaan glotis.

atau terdengarnya bunyi nafas tambahan yang jelas saat klien di auskultasi. laporan K tentang sputum yang ditelan. • K dengan sputum yang banyak : batuk setiap jam saat terjaga dan setiap 2-3 jam saat tidur sampai fase akut produksi lendir berakhir. .Batuk yang efektif : apakah ada sputum cair (ekspektorasi sputum). • K dengan penyakit pulmonar kronik. ISPA dan ISPB : nafas dalam dan batuk sekurangkurangnya setiap 2 jam saat terjaga.

. • Prosedur batuk Huff : buka glotis dan katakan “huff” • Prosedur batuk Quad : ekspirasi maksimal. dorong keluar dan keatas pada otot-otot abd melalui diafragma.Tekhnik Batuk K pasca OP • Prosedur batuk Cascade : ambil nafas dalam tahan 2 detik sambil mengkontraksikan otototot ekspirasi. buka mulut dan batuk melalui ekshalasi.

Prosedur Nafas Dalam Pengkajian – 10 benar – Keadaan fisik (tanda-tanda vital) – Riwayat medis dahulu dan sekarang – Sumber informasi tambahan yang diindikasikan .

mobilisasi sekresi. dan demam). dan mencegah efek samping dari retensi sekresi (pneumonia. atelektasis. .impementasi Tujuan : untuk meningkatkan ekspansi paru.

menahan sedikitnya 3 detik. kemudian batuk dimulai pada inspirasi maksimum. .Nafas dalam ideal : posisi duduk tegak pada tepi tempat tidur atau kursi dengan kaki disokong. K dianjurkan untuk mengambil nafas dalam perlahan. Bila sekresi terauskultasi. dan mengeluarkannya perlahan.

bawah-trakea.POSTURAL DRAINASE → pembersihan berdasarkan gravitasi secret jalan nafas dari segmen bronchus khusus.  Tiap posisi mengalirkan secret khusus dari percabangan trakeobronkial-area paru atas. Batuk atau pengisapan kemudian dapat menghilangkan secret dari trakea. .  Menggunakan satu atau lebih dari 10 posisi tubuh yang berbeda. tengah.

 Dilakukan pada semua segmen paru kecuali pada ateletaksis pada lobus bawah : drainase hanya pada daerah yang terkena. .  Tidak boleh pada K yang tidak stabil secara medis.Pendelegasian  kepada personel asisten.  Perawatan akut oleh : ahli terapi pernafasan.  perawat : bertanggung jawab untuk menindaklanjuti. menjamin perawatan tepat dan dokumentasi yang lengkap telah dipenuhi. sedangkan pada K anak-anak yang mengalami fibrosistik : drainase pada semua segmen paru.

Peralatan – Handuk besar (pilihan) – Peralatan penghisap – Baskom emesis atau tisu dan kantong kertas – Tempat tidur RS dapat ditempatkan pada posisi trendelenburg (perawatan akut. restorative. atau lingkungan perawatan di rumah) – Papan pemiring atau pendorong (bila drainase dilakukan di rumah) – Kursi (untuk mendrainase lobus atas) – Bantal 1-4 buah – Teko air dan air minum – Sarung tangan sekali pakai .

Tujuan • Mengeluarkan sekresi pada jalan nafas • Menggunakan gravitasi untuk mendrainase dan melepaskan sekresi berlebihan • Menurunkan akumulasi sekresi pada klien tidak sadar atau lemah .

Pengkajian berfokus kepada – Bunyi nafas bilateral – Frekuensi dan karakter pernafasan – Program dokter mengenai pembatasan aktifitas/ posisi – Toleransi terhadap fisioterapi sebelumnya – Radiografi dada saat ini .

radiografi dada menunjukkan lapang paru bersih – Gas darah arteri dalam batas normal klien – Pemberi asuhan menunjukkan keterampilan akurat dan memahami program fisioterapi dada.20. .Identifikasi Hasil dan Perencanaan Sasaran kunci dan kriteria sasaran sampel : K akan : Berventilasi dengan jalan nafas bersih. yang dibuktikan dengan frekuensi pernafasan klien dalam batas normal. dan bunyi nafas pada semua lobus bersih. halus dan simetris – Bunyi nafas bersih pada area target. Hasil yang diharapkan (sample) – K dapat melakukan pernafasan dengan frekuensi 14 . kedalaman normal.

akan membuka jalan nafas sehingga memudahkan pernafasan saat makan dan malam hari. .Pertimbangan Khusus – Dihindari pada k yang tidak mampu berbaring datar (mis : k yang mengalami peningkatan tekanan intra cranial atau k dengan gawat nafas ekstern) – Lama waktu terapi atau derajat peninggian kepala harus diubah sesuai toleransi k – Terapi tidak boleh dilakukan 2 jam atau lebih setelah asupan makanan padat ( 1 jam setelah asupan diet cair ) – Terapi yang dilakukan terutama sebelum makan dan saat tidur.

jaringan lunak. tekanan perkusi atau vibrasi harus dimodefikasi untuk mencegah fraktur pada tulang lansia yang sudah rapuh. .– Jangan melakukan perkusi atau vibrasi di atas area iritasi atau kerusakan kulit. tulang belakang atau bagian manapun yang terasa nyeri – Selalu sediakan alat penghisap pada kasus aspirasi – Untuk k lansia.

contoh. Beberapa postur perlu dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan individual. posisi miring trendelenburg untuk mengalirkan lobus bawah lateral dapat dilakukan dengan k berbaring miring atau posisi miring semifowler bila ia bernafas sangat pendek.Pertimbangan Penyuluhan – K dan keluarga harus diajarkan bagaimana memilih postur di rumah. (dispnea) – Beritahu k untuk tidak menjadwalkan kegiatan utama seperti latihan fisik atau mandi. .

k tidak mampu menoleransi perubahan postur yang diperlukan. Perawat harus memodifikasi prosedur untuk memenuhi toleransi klien dan membersihkan jalan nafasnya.Pertimbangan Geriatrik – Pada pengobatan anti hipertensi. .

posisi trendelenburg dapat dicapai dengan beberapa cara :  tempat tidur RS  angkat tempat tidur pada bagian kaki setinggi 30-45 cm menggunakan papan yang ditempatkan di bawah papan tempat tidur – Dapatkan baji busa atau bantal ganda untuk posisi yang tepat .Pertimbangan Perawatan Di Rumah Dan Perawatan Jangka Panjang – Di lingkungan rumah.

Beberapa posisi untuk drainase postural .

.Bronkus Apikal Anterior lobus Atas Kanan dan Kiri • K duduk di kursi. bersandar pada bantal.

Bronkus Apikal Posterior Lobus Atas Kanan dan Kiri • K duduk di kursi. condong kedepan pada bantal atau meja. .

Bronkus Lobus Atas Anterior Kanan dan Kiri • K berbaring telentang datar dengan bantal kecil dibawah lutut. .

tempatkan bantal di belakang punggung. .Bronkus Lingual lobus Atas kiri • K berbaring miring kanan dengan lengan di atas kepala pada posisi trendelenburg. dan gulingkan k seperempat putaran ke bantal. dengan kaki tempat tidur ditinggikan 30 cm.

.

. tempatklan bantal di belakang punggung dan gulingkan klien seperempat putaran bantal.Bronkus Lobus tengah • Klien berbaring miring kiri dan tinggikan kaki tempat tidur 30 cm.

Saya ga hamil kan sus? . biarkan lutut menekuk pada bantal.Bronkus Lobus Bawah Anterior Kanan dan Kiri • Klien berbaring terlentang dengan posisi trendelenburg dengan kaki tempat tidur ditinggikan 45-50 cm.

Bronkus Lateral Lobus bawah kanan • Klien berbaring miring dengan posisi trendelenburg dengan kaki tempat tidur ditinggikan 45-50 cm .

Bronkus Lateral Lobus Bawah Kiri • Klien berbaring miring kanan dengan posisi trendelenburg dengan kaki tempat tidur ditinggikan 45-50 cm. .

.Brokus superior lobus bawah Kanan dan Kiri • Klien berbaring telungkup dengan bantal di bawah lambung.

Bronkus Basal Posterior Kanan dan Kiri • Klien berbaring telungkup pada posisi trendelenburg dengan kaki tempat tidur ditinggikan 45-50 cm. .

lakukan terapi pada dada kanan dan kiri (Gbr. 4.implementasi Untuk klien dewasa Untuk mendrainase segmen/lobus paru atas.3 A) . posisikan klien : • Duduk tegak di tempat tidur atau kursi.

lakukan terapi pada punggung (Gbr.• Membungkuk ke depan pada posisi duduk.3 B) . 4.

lakukan terapi pada dada kanan dan kiri (Gbr. 4.3 C) .• Berbaring datar.

3 D) . miring kanan atau kiri. lakukan terapi pada punggung kanan atau kiri ( Gbr.• Telungkup. 4.

miring ke kiripada posisi trendelenburg.3 E) .Untuk mendrainase lobus tengah. posisikan klien : • Telungkup. lakukan terapi pada dada kanan ( Gbr. 4.

dengan panggul ditinggikan.3 F) . lakukan terapi pada punggung kanan (Gbr 4. miring kiri.• Telungkup.

lakukan terapi pada dada kanan dan kiri (Gbr 4.3 G) .Untuk mendrainase lobus basal/ bawah. posisikan klien : • Berbaring pada posisi trendelenburg.

3 H) . lakukan terapi pada punggung kanan dan kiri (Gbr 4.• Berbaring pada posisi trendelenburg telungkup.

• Berbaring miring kanan atau kiri. lakukan terapi pada punggung (Gbr 4.3 I) . pada posisi trendelenburg .

• Berbaring telungkup disertai terapipada punggung kanan dan kiri (Gbr 4.3 J) .

Bilateral-segmen anterior Duduk di pangkuan tengah perawat. 3.Segmen 1. dengan bantal menyokong punggung anak. . sedikit membungkuk kearah depan yang fleksi pada atas bantal 2. Bilateral-segmen apeks Tindakan/posisi klien Duduk pada pangkuan perawat.Untuk anak-anak No . membungkuk kearah perawat Lobus bilateral-segmen anterior Posisi terlentang yang berbaring di pangkuan perawat.

Respon n tindakan Paroksisme Batuk • Biarkan Klien beristirahat • Laporkan ketika klien memerlukan terapi bronkodilator • Auskultasi area paru Hemoptisis • Hentikan terapi dan laporkan segera ke perawat lainnya • Ukur tanda-tanda vital • Pertahankan kepatenan jalan nafas .