You are on page 1of 32

BRAIN DEATH

B2
Levina Septembera Chung

Albertus Ian
Rudy Hermawan Gusna Ridha Fredy Ferdian Pratama Intan Permata Wijaya

Franky Abryanto
Nastalia Sindy

Skenario

 

Seorang pria 76 tahun dirawat di ICU karena koma. Diketahui adanya riwayat hipertensi dan mulai pikun. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan kaku deserebrasi, pupil melebar, dan tekanan darah 50/70 mmHg. CT scan kepala menunjukkan ventrikel yang membesar dan perdarahan dalam ventrikel. Direncanakan untuk operasi tetapi ditundak karena keadaan pasien mengalami kemunduran, nafas spontan hilang sehingga harus dipasang ETT

Identifikasi Istilah

----

Rumusan masalah
   

pria 76 tahun dirawat di ICU karena koma. pemeriksaan fisik didapatkan kaku deserebrasi, pupil melebar, dan tekanan darah 50/70 mmHg CT scan kepala menunjukkan ventrikel yang membesar dan perdarahan dalam ventrikel keadaan pasien mengalami kemunduran, nafas spontan hilang sehingga harus dipasang ETT

Mind map
Diferensial Diagnosis

Pemeriksaan Fisik

Brain Death

Kriteria Brain Death

Etiologi

Hipotesis

Pasien tersebut mengalami Brain Death

Definisi Mati
 


 

Mati klinis Mati biologis / Seluler Mati serebral Mati sosial Mati otak / brain death New York State De Department of Health, 2005)  kematian otak  hilangnya semua fungsi otak secara ireversibel, termasuk batang otak. Tiga temuan penting dalam kematian otak adalah koma, hilangnya refleks batang otak, dan apnea.

Etiologi
 


 

cedera kepala traumatik, cerebrovascular accidents, cedera hipoksik iskemi setelah henti jantung. overdosis obat, tenggelam, tumor otak primer

Patofisiologi


    

TIK, Perfusi Serebral Aliran darah normal di otak: 50-60 ml/100gr/menit Penghentian total aliran 5-10 detik  Rusak sel otak Reversible Penghentian aliran ke otak selama 3 menit irreversible konsentrasi CO2 dan Hidrogen aliran ke otak konsentrasi O2  aliran ke otak Iskemia Tekanan perfusi rendah, PO2 turun, CO2 dan asam laktat tertimbun

Kriteria Brain Death


 

kriteria Minnesota: Hilangnya respirasi spontan setelah masa 4 menit pemeriksaan. Hilangnya refleks otak yang ditandai dengan: pupil dilatasi, hilangnya refleks batuk, refleks kornea, hilangnya doll’s eye movement, hilangnya respon terhadap stimulus kalori dan hilangnya refleks tonus leher. Status penderita tidak berubah sekurang-kurangnya dalam 12 jam Ada proses patologis yang berperan dan dianggap tidak dapat diperbaiki

Pemeriksaan Fisik
1. Koma Tidak ada respon pada rangsangan nyeri, dengan stimulasi nyeri pada penekanan daerah supraorbita, sternum dan dasar kuku. 2. Absen refleks batang otak

Pupil refleks cahaya
kematian otak: pupil bulat, oval, atau ireguler. Diameter 4-9mm

Pemeriksaan Fisik

Pergerakan okuler  okulosefalik dan tes kalori



Refleks okulosefalik menggerakkan kepala secara cepat dan tegas dari posisi tengah ke posisi 90 derajat kiri dan kanan orang normal  deviasi mata ke arah berlawanan dengan gerakan kepala. kematian otak tidak akan ditemukan adanya pembukaan kelopak mata dan pergerakan mata vertikal dan horizontal.

Pemeriksaan Fisik
     

Tes kalori Mendiagnosa kerusakan saraf VIII. Posisi pasien tidur terlentang, dengan kepala fleksi 30º, atau duduk dengan kepala ekstensi 60º. Tes kalori kobrak  spuit 5 atau 10 mL, ujung jarum disambung dengan kateter. Perangsangan mengalirkan air es (0ºC), sebanyak 5 mL selama 20 detik ke dalam liang telinga. Suatu cairan dingin yang dialirkan ke liang telinga kanan akan menimbulkan nistagmus dengan fase lambat ke kanan.

Pemeriksaan Fisik

Sensasi fasial dan respon motor fasial Refleks kornea negatif pada rangsangan tepi kornea mata dengan cotton bud Wajah yang mengernyit saat diberikan rangsang nyeri dapat diuji dengan memberikan tekanan dalam dengan obyek tumpul pada dasar kuku, tekanan pada daerah supraorbita, atau tekanan yang dalam pada kedua kondilus setinggi sendi temporomandibuler.

 

Pemeriksaan Fisik
 

Refleks Faring dan trakhea Respon tersedak, yang diuji dengan merangsang faring posterior dengan laringoskop, harus absen. Tidak adanya refleks batuk pada suction bronkhial juga harus tampak.

Pemeriksaan Fisik
 


   

Tes Apnea Syarat: suhu ≥ 36,5o C tekanan darah sistolik ≥ 90 mm Hg, euvolemia (atau lebih baik apabila balans cairan positif selama 6 jam sebelum pemeriksaan), eukapnea (atau apabila PCO2 arteri ≥ 40 mm Hg), dan normoksemia (atau apabila PO2 arteri ≥ 200 mm Hg).

Tes Apnea

   

Kondisi awal pasien adalah menggunakan ventilator, maka pasang oksimetri, pre-oksigenasi dan observasi hingga syarat-syarat terpenuhi Pre-oksigenasi mencapai PO2 arteri ≥ 200 mm Hg Lepas ventilator Pasang nasal kanul setinggi karina dan berikan O2 100% 6-8lpm Setelah nasal kanul 8-10 menit, pasang kembali oxymetri untuk mengukur PO2 dan PCO2. Lalu hubungkan kembali dengan ventilator.

Tes Apnea

Bila saat tes apnea tekanan darah sistolik menjadi ≤90 mm Hg, atau oksimeter pulsa menunjukkan desaturasi, atau terjadi aritmia kardia  segera ambil sampel darah, dan lakukan analisa gas darah arteri. Pasien pun segera di hubungkan kembali dengan ventilator tanpa harus menunggu 8-10 menit untuk meminimalisir terjadinya komplikasi tes apnea.

Tes Apnea
   

Interpretasi hasil tes apnea adalah: (+) tidak ada pergerakan respirasi dan kadar PCO2 arteri ≥60mmHg (-) teramati adanya gerakan respirasi. indeterminan  saat proses pemberian O2 kanul terjadi aritmia atau hipotensi dan hasil AGD menunjukkan PCO2 < 60 mm Hg, atau peningkatannya < 20 mm Hg. (PERLU TES KONFIRMASI) Bila tidak ada pergerakan respirasi, PCO2 < 60 mm Hg, dan tidak ada aritmia kardia atau hipotensi signifikan tes dapat diulang 10 menit kemudian

Komplikasi Tes Apnea
  

Asidosis (63%) Hipotensi (24%) Aritmia kardiak (3%)

Tes Konfirmasi
 

EEG Tes aliran darah ke otak angiografi serebri empat vasa, tes kedokteran nuklir aliran darah otak, Doppler transkranial, MRI, angiografi resonansi magnetik, dan pemeriksaan CT)

Angiografi pasien Normal

Brain Death

Diferensial Diagnosis
       

Status vegetative menetap (Persistent Vegetative States). Keadaan ini berbeda dengan mati otak. Fungsi batang otak masih baik. Pada PVS yang diperkirakan hilang adalah fungsi neokortikal dari otak. Pasien masih dapat bernafas spontan dan reflexreflex masih ada. Pasien tidak sadarkan diri dengan mata terbuka dan pupil melebar. Pasien PVS masih hidup secara biologis, tetapi secara intelektual dan sosial sudah mati. Kemungkinan pulih ke keadaan normal sangat sulit

Tindakan terhadap Pasien Mati Otak
  

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan pada pasien dengan mati otak. Pasien dengan mati otak adalah manusia yang sudah mati, Brain death is death. Mati adalah kematian batang otak, sekalipun elektrokardiografi masih menunjukkan ritme normal.

 

Jika semua kriteria mati otak sudah terpenuhi, maka ventilator dan alat pendukung hidup lainnya dapat dilepas. Dengan begitu, dokter dan rumah sakit tidak dituntut melakukan pembunuhan. Untuk negara dengan tindakan transpalntasi yang telah berkembang pesat, diagnosis mati otak diusahakan secepat mungkin agar organ yang ada pada pasien tersebut dapat digunakan untuk keperluan transplantasi calon resepien.

Kesimpulan
   

Kematian otak didefinisikan sebagai hilangnya semua fungsi otak secara ireversibel, termasuk batang otak. Tiga temuan penting dalam kematian otak adalah koma, hilangnya refleks batang otak, dan apnea. Pada pasien, perlu diperiksa kondisi-kondisi serta kriteria eksklusi. Karena umumnya mati otak disebabkan oleh cedera kepala berat, maka perlu ditemukan kondisi cedera otak berat yang konsisten dengan proses terjadinya kematian otak, tidak bernafas secara spontan, dan hasil yang negatif pada pemeriksaan refleks-refleks batang otak.