PENGEMBANGAN WILAYAH: Suatu Pengantar

MATERI KULIAH

Oleh: Oswar Mungkasa

Manajemen Perkotaan Universitas Negeri Jakarta 2014

Pengertian Dasar
 Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta

segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional (UU No. 26 Tahun 2007).
 Wilayah adalah unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu di

mana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponenkomponen wilayah mencakup komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta bentuk-bentuk kelembagaan. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis tertentu.

Pengertian Dasar
 Konsep wilayah yang paling klasik (Hagget, Cliff dan Frey, 1977 dalam

Rustiadi et al., 2011) mengklasifikasikan konsep wilayah ke dalam tiga kategori, yaitu:
 (1) wilayah homogen (uniform/homogenous region);  (2) wilayah nodal (nodal region); dan  (3) wilayah perencanaan (planning region atau programming region).

Pengertian Dasar
 Glason, 1974 berdasarkan fase kemajuan perekonomian mengklasifikasikan

region/wilayah menjadi:
 fase

pertama yaitu wilayah formal yang berkenaan dengan keseragaman/homogenitas. Wilayah formal adalah suatu wilayah geografik yang seragam menurut kriteria tertentu, seperti keadaan fisik geografi, ekonomi, sosial dan politik. dan interdependensi fungsional, saling hubungan antar bagian-bagian dalam wilayah tersebut. Kadang juga disebut wilayah nodal atau polarized region dan terdiri dari satuan-satuan yang heterogen, seperti desa-kota yang secara fungsional saling berkaitan.

 fase kedua yaitu wilayah fungsional yang berkenaan dengan koherensi

 fase ketiga yaitu wilayah perencanaan yang memperlihatkan koherensi

atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi.

Pengertian Dasar
 Wilayah dapat dibedakan berdasar kategori sebagai berikut :
 Berdasar wilayah administrasi pemerintahan, seperti Kabupaten/Kota,

Kecamatan, Desa/Kelurahan dan Dusun/Lingkungan.
 Berdasarkan kesamaan kondisi, yang paling umum adalah kesamaan

kondisi fisik.
 Berdasarkan ruang lingkup pengaruh ekonomi. Perlu ditetapkan terlebih

dahulu beberapa pusat pertumbuhan yang kira-kira sama besarnya, kemudian ditetapkan batas-batas pengaruh dari setiap pusat pertumbuhan.
 Berdasarkan wilayah perencanaan/program. Dalam hal ini, ditetapkan

batas-batas wilayah ataupun daerah-daerah yang terkena suatu program atau
proyek dimana wilayah tersebut termasuk dalam suatu perencanaan untuk tujuan khusus.

Pengertian Dasar
 Pengembangan wilayah (Regional Development) adalah upaya Untuk memacu

perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan wilayah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup
 Zen dalam Alkadri (2001) menggambarkan tentang pengembangan wilayah

sebagai hubungan yang harmonis antara sumber daya alam, manusia, dan teknologi dengan memperhitungkan daya tampung lingkungan dalam memberdayakan masyarakat
 Pengembangan wilayah dalam jangka panjang lebih ditekankan pada

pengenalan potensi sumber daya alam dan potensi pengembangan lokal wilayah yang mampu mendukung (menghasilkan) pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan sosial masyarakat, termasuk pengentasan kemiskinan, serta upaya mengatasi kendala pembangunan yang ada di daerah dalam rangka mencapai tujuan pembangunan.

Pengertian Dasar
 Pengembangan wilayah sangat dipengaruhi oleh komponen- komponen

tertentu seperti (Friedman and Allonso, 2008):
 Sumber daya lokal.  Pasar.  Tenaga kerja.

 Investasi
 Kemampuan pemerintah.  Transportasi dan Komunikasi.  Teknologi.

 Perencanaan wilayah adalah penetapan langkah yang digunakan untuk

wilayah tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Langkah tersebut antara lain menetapkan tujuan, memperkirakan kondisi masa depan, memperkirakan kemungkinan masalah yang akan terjadi, menetapkan lokasi kegiatan (UU No. 26 Tahun 2007).

Pengertian Dasar
 Menurut Chaprin, perencanaan wilayah (regional planning) adalah upaya

intervensi terhadap kekuatan-kekuatan pasar yang dalam konteks pengembangan wilayah memiliki tiga tujuan pokok yakni meminimalkan konflik kepentingan antar sektor, meningkatkan kemajuan sektoral dan membawa kemajuan bagi masyarakat secara keseluruhan.
 Perencanaan Wilayah adalah suatu proses perencanaan pembangunan

yang dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah, dan lingkungannya dalam wilayah tertentu, dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber daya yang ada, dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap, tetap berpegang pada azas prioritas (Riyadi dan Bratakusumah, 2003).
 Perencanaan wilayah adalah perencanaan daerah geografis yang melewati

batas administrasi pemerintahan tetapi berbagi kesamaan karakteristik sosial, ekonomi, politik, budaya dan sumberdaya alam dan transportasi

Tujuan
 Tujuan pembangunan wilayah dapat dirangkum sebagai berikut.
 Memanfaatkan sumberdaya secara optimal sehingga dapat mewujudkan potensi

pembangunan wilayah dalam suatu jangka waktu tertentu dengan dampak minimum dalam mencapai kesetaraan ekonomi
 Menjamin perencanaan dan distribusi penduduk dan sumberdaya ekonomi yang

setara dari sebuah daerah.
 Mengatur lahan yang tersedia dalam pola ruang yang paling menguntungkan dan

produksif bagi wilayah dan negeri dalam skala luas.
 Aloksi sumberdaya tertentu untuk menghasilkan kegiatan ekonomi di wilayah

terbelakang untuk menstabilkan ekonominya melalui perencanaan sejumlah kota menengah yang memadai dan untuk menyediakan layanan, pekerjaan, dan fasilitas sosial dan budaya.
 Menghindarkan ekspansi perkotaan yang tidak sehat.

Teori Pengembangan Wilayah
 Teori pertumbuhan tak berimbang memandang bahwa suatu wilayah tidak

dapat berkembang bila ada keseimbangan, sehingga harus terjadi ketidakseimbangan. Penanaman investasi tidak mungkin dilakukan pada setiap sektor di suatu wilayah secara merata, tetapi harus dilakukan pada sektor-sektor unggulan yang diharapkan dapat menarik kemajuan sektor lainnya. Sektor yang diunggulkan tersebut dinamakan sebagai leading sektor.
 Hoover dan Giarratani (dalam Nugroho dan Dahuri, 2004), menyimpulkan

tiga pilar penting dalam proses pembangunan wilayah, yaitu:
 Keunggulan komparatif (imperfect mobility of factor). Pilar ini berhubungan

dengan keadaan dtemukannya sumber-sumber daya tertentu yang secara fisik relatif sulit atau memiliki hambatan untuk digerakkan antar wilayah.
 Aglomerasi (imperfect divisibility). Pilar aglomerasi merupakan fenomena

eksternal yang berpengaruh terhadap pelaku ekonomi berupa meningkatnya keuntungan ekonomi secara spasial.
 Biaya transpor (imperfect mobility of good and service). Pilar ini adalah yang

paling kasat mata mempengaruhi aktivitas perekonomian

Teori Pengembangan Wilayah
 Teori sektor diadopsi dari Fisher dan Clark yang mengemukakan bahwa

berkembangnya wilayah, atau perekonomian nasional, dihubungan dengan transformasi struktur ekonomi dalam tiga sektor utama, yakni sektor primer (pertanian, kehutanan dan perikanan), serta sektor tertier (perdagangan, transportasi, keuangan dan jasa). Perkembangan ini ditandai oleh penggunaan sumber daya dan manfaatnya, yang menurun di sektor primer, meningkat di sektor tertier, dan meningkat hingga pada suatu tingkat tertentu di sektor sekunder.
 Teori tahapan perkembangan dikemukakan oleh para pakar seperti Rostow,

Teori Pengembangan Wilayah
 Teori Tahapan Perkembangan, melalui lima tahapan
 Wilayah dicirikan oleh adanya industri yang dominan. Pertumbuhan wilayah

sangat bergantung pada produk hasil oleh industri tertentu,
 Tahapan ekspor kompleks. Tahapan ini menggambarkan bahwa wilayah telah

mampu mengekpsor selain komoditas dominan juga komoditas kaitannya.
 Tahapan kematangan ekonomi. Tahapan ketiga ini menunjukkan bahwa

aktivitas ekonomi wilayah telah terdiversifikasi dengan munculnya industri substitusi impor, yakni industri yang memproduksi barang dan jasa yang sebelumnya harus diimpor dari luar wilayah
 Tahapan

pembentukan metropolis (regional metropolis). Tahapan ini memperlihatkan bahwa wilayah telah menjadi pusat kegiatan ekonomi untuk mempengaruhi/melayani kebutuhan baran/jasa wilayah pinggiran. Tahapan ini memperlihatkan bahwa wilayah telah memberikan peran yang sangat nyata terhadap perekonomian nasional. Dalam wilayah berkembang produk dan proses-proses produksi yang relatif canggih, baru, efisien dan terspesialisasi.

 Tahapan kemajuan teknis dan profesional (technical professional virtuosity).

Teori Pertumbuhan Wilayah
 Teori Lokasi Terpusat (Central Place Theory)
 Teori ini adalah teori keruangan dalam geografi perkotaan yang berusaha

menjelaskan alasan dibalik pola distribusi, ukuran, dan jumlah kota di dunia.
 Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Walter Christaller pada tahun 1930,

seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman, berdasar pada studi empiris di daerah sebelah Selatan Jerman.
 Teori ini dirancang untuk menjelaskan ukuran kota yang terspesialisasi dalam

perdagangan barag dan jasa. Menurut teori ini, lokasi pusat adalah pusat perdagangan bagi pertukaran barang dan jasa oleh masyarakat yang berasal dari daerah sekitar. Sebagai konsekuensi namanya, lokasi terpusat, berarti tempatnya di tengahuntuk memaksimalkan aksesibilitas penduduk sekitar
 Teori didasarkan pada asumsi Christaller bahwa (i) tidak ada hambatan

pergerakan penduduk; (ii) distribusi penduduk merata; (iii) daya beli yang sama. Sebagai asumsi tambahan, manusia selalu membeli barang dari tempat terdekat, dan jika permintaan barang tinggi maka akan tersedia sesuai dengan permintaan tersebut.

Teori Pertumbuhan Wilayah
 Teori Pusat Pertumbuhan
 Teori Pusat Pertumbuhan (growth poles) adalah salah satu teori yang dapat

menggabungkan antara prinsip-prinsip konsentrasi dengan desentralisasi secara sekaligus (Alonso dalam Sirojuzilam dan Mahalli, 2010). Dengan demikian teori pusat pengembangan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pembangunan regional yang saling bertolak belakang, yaitu pertumbuhan dan pemerataan pembangunan keseluruh pelosok daerah.
 konsep pusat pertumbuhan diperkenalkan tahun 1949 oleh Francois Perroux

yang mendefinisikan pusat pertumbuhan sebagai “pusat dari pancaran gaya sentrifugal dan tarikan gaya sentripetal”. Menurut Rondinelli dan Unwin bahwa teori ini didasarkan pada keniscayaan bahwa pemerintah negara berkembang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan dengan melakukan investasi besar pada industri padat modal di pusat kota.
 Teori pusat pertumbuhan juga ditopang oleh kepercayaan bahwa kekuatan

pasar bebas melengkapi kondisi terjadinya trickle down effect (dampak penetesan ke bawah) dan menciptakan spread effect (dampak penyebaran) pertumbuhan ekonomi dari perkotaan ke pedesaan.

Teori Pertumbuhan Wilayah

Teori Basis SumberDaya (Resources Endowment atau Resource Base)

 Teori ini dikemukakan Harver Perloff & Lowdon Wingo, Jr. (1961) mengemukakan

perkembangan wilayah di Amerika yang berlangsung 3 tahap, yaitu (1) tahap perkembangan pertanian ( - 1840), daerah berkembang adalah wilayah pertanian dan pelabuhan (pusat); (2) tahap perkembangan pertambangan (1840- 1950), besi dan batubara, memiliki forward linkages yang lebih luas dari sektor pertanian; (3) tahap perkembangan amenity resources atau layanan.
 Pertumbuhan wilayah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya dan

kemampuannya untuk memproduksinya, untuk keperluan ekonomi nasional dan ekspor. Dengan kata lain wilayah memiliki comparative advantages terhadap wilayah lain (spesialisasi). Kegiatan ekspor akan memperluas permintaan dan efek multiplier yang berpengaruh pada dinamika wilayah.
 Sumberdaya yang baik adalah (i) mendukung produksi nasional, (ii) memiliki efek

backward and forward linkages yang luas, (iii) efek multiplier, yaitu kemampuan meningkatkan permintaan produksi barang dan jasa wilayah.

Teori Pertumbuhan Wilayah

Teori Basis Ekspor (Export Base atau Economic Base)

 Teori ini merupakan perluasan dari teori reources endowment. Teori basis ekspor

merupakan bentuk model pendapatan wilayah yang paling sederhana.
 Teori basis ekspor murni dikembangkan pertama kali oleh Tiebout. Teori ini

membagi kegiatan produksi/jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas sektor basis dan sektor non basis. Sektor basis adalah sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mempunyai keuntungan kompetitif (competitive advantage) yang cukup tinggi. Sedangkan sektor non basis adalah sektor-sektor lainnya yang kurang potensial tetapi berfungsi sebagai penunjang sektor basis atau service industries (Sjafrizal, 2008).
 Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan

ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut.
 Teori ini mengatakan bahwa sektor ekspor berperan penting dalam pertumbuhan

wilayah, karena sektor ekspor dapat memberikan kontribusi yang penting, tidak hanya kepada ekonomi wilayah tapi juga ekonomi nasional.

Teori Pertumbuhan Wilayah
 Pengembangan Agropolitan
 Konsep pengembangan agropolitan pertama kali diperkenalkan pada tahun

1974 oleh Mc.Douglass dan Friedmann sebagai strategi baru pengembangan pedesaan. Meskipun banyak makna yang terkandung di dalamnya, namun pada dasarnya pengembangan agropolitan adalah memberikan pelayanan di kawasan pedesaan atau istilah yang disebut Friedman “kota di ladang”. Dengan kata lain, masyarakat desa atau petani tidak perlu lagi pergi ke kota untuk mendapatkan pelayanan, baik pelayanan yang berhubungan dengan masalah produksi dan pemasaran, maupun masalah yang berhubungan dengan kebutuhan sosial budaya dan kehidupan sehari-hari (Syahrani, 2001).
 Konsep ini pada dasarnya merupakan rancangan pembangunan dari bawah

(development from below) sebagai reaksi dari pembangunan top down (development from above). Agropolitan merupakan distrik atau region selektif yang dirancang agar pembangunan digali dari jaringan kekuatan lokal ke dalam yang kuat baru terbuka keluar (Sugiono, 2002).

Teori Pertumbuhan Wilayah

Teori Pertumbuhan Neoklasik.

 Teori ini dikembangkan dan banyak dianut oleh ekonom regional dengan

mengembangkan asumsi Neoklasik. Tokohnya adalah Harry W. Richradson (1973) dalam bukunya Regional Economic Growth. Teori ini mengatakan bahwa pertumbuhan wilayah tergantung tiga faktor yaitu tenaga kerja, ketersediaan modal (investasi), dan kemajuan teknologi (eksogen, terlepas dari faktor investasi dan tenaga kerja). Semakin besar kemampuan wilayah dalam penyediaan 3 faktor tersebut, semakin cepat pertumbuhan wilayah.
 Selain tiga faktor di atas, teori ini menekankan pentingnya perpindahan

(mobilitas) faktor produksi, terutama tenaga kerja dan modal (investasi) antarwilayah, dan antarnegara. Pola pergerakan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan pertumbuhan antarwilayah

Teori Pertumbuhan Wilayah

Teori Baru Pertumbuhan Wilayah

 Teori ini percaya pada kekuatan teknologi (sebagai faktor endogen) dan inovasi

sebagai faktor dominan pertumbuhan wilayah (untuk meningkatkan produktivitas). Kuncinya adalah investasi dalam pengembangan sumberdaya manusia dan penelitian dan pengembangan (research and development). Teknologi tinggi dan inovasi yang didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dan riset dan pengembangan adalah syarat meningkatkan pertumbuhan wilayah. Pengalaman di negara lain (maju) menunjukkan bahwa semakin tinggi faktor di atas, maka perkembangan wilayah semakin cepat.
 Termasuk dalam lingkup teori ini adalah dimasukkannya variabel-variabel non

ekonomi dalam Model Ekonomi Makro
 Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dikelompokkan menjadi dua

bagian, yaitu faktor ekonomi meliputi (1) sumberdaya alam, (2) akumulasi modal atau investasi, (3) kemajuan teknologi dan faktor non ekonomi meliputi (1) faktor sosial, seperti pendidikan dan budaya, (2) faktor manusia (tenaga kerja), (3) faktor politik dan administrasi.

Teori Pertumbuhan Wilayah

Teori Pertumbuhan Wilayah Perspektif Geografi

 Pertumbuhan

wilayah dipengaruhi oleh faktor internal wilayah (sumberdaya) dan faktor eksternal, khususnya hubungan wilayah tersebut dengan wilayah-wilayah lain. (alam, manusia, buatan), sejarah, lokasi (letak) site and situation, agen perubahan, pengambilan keputusan.
Sementara unsur Exsternal (Interregional) ex situ, terdiri dari interrelasi dengan wilayah lain (interaksi, interdependensi), posisi wilayah tersebut terhadap wilayah lain.

 Unsur Internal (Intraregional) in situ, terdiri dari unsur sumberdaya

Konsep Perencanaan Wilayah
 Dikaitkan

dengan wilayah formal dan fungsional, dikenal dua pendekatan dalam perencanaan wilayah:
 Pendekatan teritorial. Pendekatan perencanaan ini dikenal sebagai

pendekatan bottom up, karena tujuannya adalah meningkatkan perkembangan wilayah dengan mempertimbangkan aspirasi penduduk;
 Pendekatan fungsional yang memperhitungkan lokasi dengan

berbagai kegiatan ekonomi dan pengaturan secara ruang dari sistem perkotaan mengenai berbagai pusat dan jaringan. Hal tersebut banyak berhubungan dengan berbagai model seperti grafitasi, analisis output-input dan sebagainya. Kelompok sosial yang membentuk pendekatan ini khas fungsional-terikat oleh kepentingan kelompok, seperti klas sosial, perserikatan dagang dsb. Dalam perencanaan wilayah, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan top-down.

Konsep Perencanaan Wilayah
 Dari sisi teori perencanaan antara lain (Etzioni, 1967):
 Pendekatan komprehensif (rational planning model). Merupakan suatu

kerangka pendekatan logis dan teratur, mulai dari diagnotis sampai kepada tindakan berdasarkan kepada analisis fakta yang relevan, diagnosis masalah yang dikaji melalui kerangka teori dan nilai-nilai, perumusan tujuan dan sasaran untuk memecahkan masalah, merancang alternatif cara-cara untuk mencapai tujuan, dan pengkajian efektivitas cara-cara tersebut. Pendekatan ini memerlukan survei yang komprehensif pada semua alternatif yang ada  Pendekatan inkremental (incremental planning model). Memilih diantara rentang alternatif yang terbatas yang berbeda sedikit dari kebijaksanaan yang ada. Pengambilan keputusan dalam pendekatan ini dibatasi pada kapasitas yang dimiliki oleh pengambil keputusan serta mengurangi lingkup dan biaya dalam pengumpulan informasi.  Pendekatan mixed-scanning (strategic planning model). Kombinasi dari elemen rasionalistik yang menekankan pada tugas analitik penelitian dan pengumpulan data dengan elemen inkremental yang menitikberatkan pada tugas interaksional untuk mencapai konsensus. Proses yang tercakup dalam mixed scanning ini adalah strength, weakness, opportunity dan threat (SWOT)

Konsep Perencanaan Wilayah
 Archibugi (2008) berdasarkan penerapan teori perencanaan wilayah dapat dibagi atas empat komponen
 Physical Planning (Perencanaan fisik). Perencanaan yang perlu dilakukan

untuk merencanakan secara fisik pengembangan wilayah. Muatan perencanaan ini lebih diarahkan kepada pengaturan tentang bentuk fisik kota dengan jaringan infrastruktur kota menghubungkan antara beberapa titik simpul aktivitas.
 Macro-Economic

Planning (Perencanaan Ekonomi Makro). Dalam perencanaan ini berkaitan perencanaan ekonomi wilayah. Mengingat ekonomi wilayah menggunakan teori yang digunakan sama dengan teori ekonomi makro yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan, distribusi pendapatan, tenaga kerja, produktivitas, perdagangan, konsumsi dan investasi. Bentuk produk dari perencanaan ini adalah kebijakan bidang aksesibilitas lembaga keuangan,
kesempatan kerja, tabungan).

Konsep Perencanaan Wilayah
 Social Planning (Perencanaan Sosial). Perencanaan sosial membahas

tentang pendidikan, kesehatan, integritas sosial, kondisi tempat tinggal dan tempat kerja, wanita, anak-anak dan masalah kriminal. Perencanaan sosial diarahkan untuk membuat perencanaan yang menjadi dasar program pembangunan sosial di daerah. Bentuk produk dari perencanaan ini adalah kebijakan demografis.
 Development Planning (Perencanaan Pembangunan). Perencanaan ini

berkaitan dengan perencanaan program pembangunan komprehensif guna mencapai pengembangan wilayah. pada pemikiran teoritis

secara

 Tipologi perencanaan dapat dibagi dalam 4 (empat) kategori yang didasarkan
 Traditional planning (perencanaan tradisional). Pada jenis perencanaan ini

perencana menetapkan maksud dan tujuan untuk membuat kebijakankebijakan untuk melakukan perbaikan pada sistem kota. Pada perencanaan tradisional memiliki program inovatif terhadap perbaikan lingkungan perkotaan dengan menggunakan standar dan metode yang professional.

Konsep Perencanaan Wilayah
 User-Oriented Planning (Perencanaan yang berorientasi pada pengguna).

Konsep perencanaan ini adalah membuat perencanaan yang bertujuan untuk mengakomodasi pengguna dari produk perencaan tersebut, dalam hal ini masyarakat Kota. Masyarakat yang menentukan produk perencanaan harus dilibatkan dalam setiap proses perencanaan.
 Advocacy Planning (Perencanaan Advokasi). Pada perencanaan ini berisikan

program pembelaan terhadap masyarakat yang termarjinalkan dalam proses pembangunan kota dalam hal ini adalah masyarakat miskin kota. Pada perencanaan advokasi akan memberikan perhatian khusus melalui program khusus guna meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin.
 Incremental Planning (Perencanaan dukungan). Pada perencanaan yang

bersifat dukungan terhadap sebuah proses pengambilan keputusan terhadap permasalahan- permasalahan perkotaan. Produk perencanaan ini bersifat analisis yang mendalam terhadap permasalahan dengan mempertimbangkan dampak positif dan dampak negatif sebuah kebijakan.