MODUL BLOK 1 0 SKENARI O 3

KELOMPOK 4
Senile Atropi
Pengertian Senile Atropi
Senile atropi
 Atropi: adalah berkurangnya ukuran suatu sel atau
jaringan. Atropi merupakan suatu respon adaptif
yang dapat timbul sewaktu terjadi penurunan beban
kerja sel atau jaringan
 Senile: Senile adalah beragam perubahan pada organ
tubuh yang berkaitan dengan usia tua

Proses terjadinya Senile Atropi
pada Jaringan Lunak Rongga
Mulut
Proses penuaan jaringan lunak rongga
mulut
a. Mukosa, Terjadi perubahan pada struktur, fungsi dan
elastisitas jaringan mukosa mulut.
- Gambaran klinis jaringan mukosa mulut lansia tidak berbeda
jauh dengan individu muda, tetapi riwayat adanya trauma,
penyakit mukosa, kebiasaan merokok, dan adanya gangguan
pada kelenjar ludah dapat mengubh gambran klinis
- Gambaran histologis jaringan mukosa mulut yaitu trjadi
penipisan epitel, penurunan proliferasi seluler, hilangnya
lemak dan elastisitas submukosa, meningkatnya jaringan ikat
fibrotik yang disertai perubahan degenerati kolagen.
- Perubahan struktural tersebut disertai dengan permukan
yang halus, kering, dan tampak tipis, seta hilangnya stippling
dan elastisitas mukosa. Perubahan tersebut meningkatkan
predisposisi mukosa terhadap trauma dan infeksi

Karakteristik penuaan mukosa
mulut:
 Terlihat pucat dan kering
 hilangnya stippling
 terjadinya Oedema
 elastisitas jaringan
berkurang
 jaringan mudah mengalami
iritasi dan rapuh
 kemunduran lamina propria
 epitel mengalami penipisan
 keratinisasi berkurang
 vaskularisasi berkurang
sehingga mudah atropi
 penebalan serabut kolagen
pada lamina propia.

b. Lidah
- Tonus lidah mengalami penurunan tapi ukurannya
tidak berubah kecuali pada orang yang kehilangan
giginya
- Papilla lidah berkurang demikian juga ukurannya.
Diprediksi bahwa 65% taste bud hilang pada umur 80
tahun.
-Tampak bercelah dan beralur atau ada pula yang tampak
berambut
-Varikositas pada ventral lidah tampak jelas.
- Manifestasi yang sering terlihat adalah atrofi papil lidah
dan terjadinya fisura-fisura.

c. Kelenjar Saliva
- Kecepatan aliran saliva rendah
- Biosintesis protein menurun karena sel-sel asinus
mengalami atropi sehingga jumlah protein saliva
menurun
- Xerostomia, aliran saliva berkurang karena
menurunya jumlah jaringan asihan yang sebanding
dengan ductus dan connective tissue
d. Ligamen Periodontal
Perubahan pada ligamen periodontal yang berkaitan
dengan lanjut usia yaitu
- berkurangnya fibroblas dan strukturnya lebih
irregular,
-berkurangnya produksi matriks organik dan sisa sel
epitel serta
-meningkatnya jumlah serat elastis.

e. Gingiva
- Terjadinya penambahan papilla jaringan ikat dan
menurunnya keratinisasi epitel.
- Pergerakkan dent gingival junction ke apical meluas
ke Cemento Enamel Junction.
Proses terjadinya Senile Atropi
pada Jaringan Keras Rongga Mulut
Proses penuaan jaringan keras rongga
mulut
Penuaan jaringan keras rongga mulut terbagi 3:
1. Penuaan gigi
Berkaitan dengan proses fisiologis normal dan proses
patologis akibat tekanan fungsional dan lingkungan. Gigi
geligi mengalami diskolorasi menjadi lebih gelap dan
kehilangan email akibat abrasi, erosi, dan atrisi.
a) Email :
- Erosi : melarutnya email gigi (kalsium) oleh asam.Erosi
merupakan kelinan yang disebabkan hilangnya jaringan
keras gigi karena proses kimiawi dan tidak melibatkan
bakeri.
Penyebab utama larutnya email gigi adlah makanan atu
minuman yang mengandung asam

- Abrasi : terkikisnya lapisan email gigi sehingga
email menjadi berkurang atau hilang hingga
mencapi dentin .
- Atrisi : hilangnya suatu substansi gigi secara
bertahap (keausan) pada permukaan oklusal, incisal,
dan proksimal gigi karena proses mekanis yang
terjadi secara fisiologis akibat pengunyahan.
Erosi
Atrisi
Abrasi
b) Dentin
 Terjadinya proses pembentukan:
 Dentin sekunder : kelanjutan dentinogenesis,
reduksi jumlah odontoblas
 Dentin tersier : adanya respon ransangan,
odontoblas berdesakan, dan tubulus dentin bengkok
 Dentin skelrotik : karies terhenti/berjalan sangat
lambat, tubulus dentin menghilang, dan merupakan
system pertahanan tubuh ketika ada karies
 Dead tracks (saluran mati ) : tubulus dentin kosong

c) Pulpa
 Peningkatan kalsifikasi jaringan pulpa
 Penurunan komponen vaskuler dan seluler
 Reduksi ukuran ruang pulpa
 Pembentukan dentin yang berlanjut sejalan dengan
usia menyebabkan reduksi secara bertahap pada
ukuran kamar pulpa.
 Peningkatan jaringan kolagen pulpa

2. Penuaan tulang alveolar
 Terjadinya resorpsi dari processus alveolaris terutama
setelah pencabutan gigi sehingga tinggi wajah berkurang,
pipi dan labium oris tidak terdukung, wajah menjadi
keriput
 Terjadi resorpsi pada caput mandibula, fossa glenoidales
yang akan membatasi ruang gerak membuka dan
menutup mandibula
3. Penuaan sementum
 Penebalan sementum disepanjang seluruh permukaan
akar meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dan
penebalan ini lebih terlihat pada sepertiga apikal akar.

Faktor yang Mempengaruhi
Senile Atropi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Senile Atropi
Proses penuaan dipicu oleh laju peningkatan radikal
bebas dan sistem penawaran racun yang semakin
berubah seiring berjalannya usia. Faktor yang
mempengaruhi proses penuaan ada 3, yaitu (Barnes,
2006):
- Faktor genetik
- Faktor endogenik
- Faktor eksogenik


Faktor Genetik
 Penuaan dini
 Risiko penyakit
 Intelegensia
 Pharmakogenik
 Warna kulit
 Tipe/ kepribadian seseorang
Faktor Endogenik
 Perubahan struktural dan penurunan fungsional
 Kemampuan/ skill menurun
 Kapasitas kulit untuk sintesis vitamin D
Faktor Eksogenik
Faktor lingkungan dan gaya hidup
 Diet/asupan gizi
 Merokok
 Obat
 Penyinaran Ultraviolet
 Polusi
Efek Senile Atropi terhadap
TMJ
Pengaruh penuaan terhadap sendi TMJ
Perubahan pada sendi Temporo Madibular Junction
sering terjadi pada usia 30-50 tahun.
Maka pengaruh yang akan terjadi pada TMJ :
1. Pengaruh pengurangan jumlah gigi akibat
penuaan, terutama di gigi posterior telah
diindikasikan sebagai penyabab gangguan TMJ
2. Akibat penuaan jmengakibatkan kontraksi otot
bertambah panjang saat menutup mulut. Hal ini
menyebabkan kerja sendi lebih kompleks
3. Penuaan mengakibatkan remodeling.
Efek Senile Atropi terhadap
Rongga Mulut

Dampak penuaan jaringan mulut
terhadap rongga mulut Secara umum:

1. Fungsi pengecapan berkurang : terjadi karena taste buds
berkurang.
2. Penuaan mengakibatkan kehilangan kontak oklusal akan
menganggu kestabilan lengkung gigi sehingga
menganggu fungsi kunyah.
3. Epitel mukosa mudah terkelupas dan jaringan ikat di
bawahnya sembuh lambat.
4. Secara klinis, mukosa mulut memperlihatkan kondisi
yang menjadi lebih pucat, tipis kering, dengan proses
penyembuhan yang melambat.
5. Perubahan Ukuran Lengkung Rahang. Kebanyakan
proses penuaan disertai dengan perubahan-perubahan
osteoporosis pada tulangnya.


6. Resorbsi Linggir Alveolar, Tulang akan mengalami
resorbsi dimana atropi selalu berlebihan. Resorbsi
yang berlebihan dari tulang alveolar mandibula
menyebabkan foramen mentale mendekati puncak
linggir alveolar.
7. Berkurangnya fungsi pengecapan juga cenderung
menambah masalah pada pemakaian gigi tiruan
(Barnes).

Pencegahan Senile Atropi
Terapi dan Pengobatan
 Adapun cara-cara untuk mencegah terjadinya senile
atropi sebagai berikut:
 Estrogen, Progestoren dan Obat sintetikanya
 Estrogen dan Progestoren sitemik, merupakan terpai pengganti
hormon, untuk menggantikan kehilangan atau kekurangan
hormon, sehingga mencegah perkembangan lebih lanjut dan
gejala menopause.
 Beberapa estrogen sistemik berhubungan dengan berkembangnya
kanker rahim atau payudara. Dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan kesehatan rutin selama penggunaan obat ini.
 Obat ini harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan
riwayat kanker rahim atau payudara, kanker ovarium, pembekuan
darah di kaki, panggul atau paru-paru, hipertensi, diabetes,
penyakit kandung empedu atau uterus fibroid yang besar.

 Suplemen
Untuk suplemen sendiri yaitu suplemen,
Multivitamin dan Mineral, The Chamomile.
Gingseng, Vitamin B, C, dan E, Produk
Kedelai, Minyak Flakseed.

1. Mengurangi frekuensi pengaruh makanan/minuman
bersifat asam
 Minuman asam harus segera ditelan, jangan dibiarkan berlama-lama
dalam mulut, apalagi jika dibuat kumur. Menggunakan sedotan pd
saat minum minuman asam/softdrink akan mengurangi resiko gigi
terkena erosi.
 Apabila memiliki penyakit saluran pencernaan diharap segera
konsultasi dengan dokter.
2. Meningkatkan mekanisme pertahanan dalam rongga
mulut thd kerusakan gigi.
Air liur dapat menetralisir pengaruh
minuman/makanan yg bersifat asam. Selain itu air liur
dapat mencegah gigi berlubang karena secara alami
mengandung kalsium dan fosfor.
3 Konsumsi makanan yg dapat mengurangi potensi
kerusakan gigi akibat bahan kimia.
Memakan keju, dan tahan selama beberapa saat dalam
mulut setelah makan/minum yang bersifat asam. Keju
mengandung kalsium dan fosfor, dan baik utk gigi

4 . Mengurangi resiko abrasi gigi.
 Menggunakan sikat gigi yg seratnya lembut dan menyikat gigi
dengan gerakan yang tidak terlalu keras.
 Jangan segera menyikat gigi setelah makan/minum yg bersifat
asam, karena gigi akan mudah terkikis sesudahnya. Lebih baik
sebelumnya kumur-kumur dulu dengan air lalu diamkan
beberapa saat
5 . Meningkatkan proteksi terhadap gigi.
Melapisi gigi dengan bahan tumpatan tertentu utk
melapisi bagian gigi yg terkikis
Atrisi
Pengertian Atrisi
 Secara umum atrisi gigi adalah suatu istilah yang
dipakai untuk menyatakan hilangnya suatu
substansi gigi secara bertahap pada permukaan
oklusal dan proksimal gigi karena proses mekanis
yang terjadi secara fisiologis akibat penguyahan.
Macam Atrisi
1. Atrisi fisiologi
merupakan keausan gigi yang dialami oleh
semua individu dan hal ini dianggap normal
2. Atrisi intensif
merupakan keausan gigi yang ekstrim atau
berlebihan, oleh karena itu beberapa sebab
misalnya bruxism, kebiasaan makanan yang
keras atau keras
3. Atrisi patologis
merupakan keausan satu gigi atau sekelompok
gigi yang letaknya tidak normal.

Penyebab Atrisi
 Faktor pola makan
 Kebiasaan
 Kerasnya jaringan gigi
 Jaringan periodontal
 Kondisi tulang
penyangga
 Tonus otot pengunyahan
 Jenis kelamin
Gejala Atrisi
 Cirinya permukaan oklusal gigi molar terlihat aus,
tonjolan palatinal molar atas aus, molar bawah
tonjolan bukalnya terlihat aus, dentin terlihat dan
kalau ausnya banyak, warna dentin berubah. Ini
terlihat jelas pada gigi depan bawah berwarna
coklat seperti terbakar (Glinka, 2008).

Proses terjadinya Atrisi
Proses Atrisi
 Atrisi pada mulanya mengenai email dan jika
dibiarkan dapat mengikis dampai ke dentin
Ketika sudah melewati email, atrisi dengan cepat
dapat menghancurkan dentin
Proses atrisi berlangsung cepat ketika sudah
mencapai dentin karena perbedaan struktur
dengan email
Gambaran Klinis Atrisi
 Kerusakan yang terjadi sesuai dengan permukaan gigi
yang berkontak saat pemakaian.
 Permukaan enamel yang rata dengan dentin.
 Kemungkinan terjadinya fraktur pada tonjol gigi atau
restorasi
 Atrisi sangat sering terjadi pada permukaan atas gigi
akibat kebiasaan mengunyah yang salah dan kebiasaan
menggerakkan gigi yang berulang-ulang. Selain itu
gangguan ini dapat pula disebabkan oleh kebiasaan
menghisap tembakau, menggigit kuku, mengunyah
sirih, atau menggunakan tusuk gigi yang berlebihan.
Penyebab lainnya adalah suatu kebiasaan yang disebut
bruxism, yaitu menggeser-geser gigi atau mengerat gigi
sehingga terdengar bunyi yang mengilukan. Biasanya
hal ini dilakukan tanpa disadari misalnya pada saat
tidur (Glinka, 2008).

Pencegahan dan Perawatan
Atrisi
Rencana Perawatan :
 Untuk atrisi yang disebabkan karena bruxism, maka
dapat menggunakan bidang gigit (bite plane) pada waktu
tidur untuk mencegah terkikisnya gigi.
 Apabila atrisi yang terjadi tidak terlalu mengganggu dan
tidak mengurangi fungsi semestinya maka tidak
diperlukan perawatan khusus.
 Apabila atrisi yang terjadi sudah mengganggu estetik
serta fungsi, maka dapat dilakukan perawatan degan
bahan tambala tau pembuatan crown.

Pencegahan :
 Memperbanyak konsumsi makanan berfluoride yang
mampu memperkuat permukaan gigi (Cawson,2002)

Abrasi
Pengertian Abrasi
 Abrasi adalah hilangnya struktur gigi secara
patologis akibat dari keausan mekanis yang
abnormal.
Penyebab Abrasi
 Berbagai hal dapat menyebabkan abrasi, tetapi
bentuk yang paling umum adalah’’ abrasi sikat
gigi’’ yang membuat lekuk berbentuk’’ V’’ dibagian
servikal dari permukaan vasial suatu gigi.
Gejala Abrasi
 Daerah abrasi biasanya mengkilat dan kuning
karena dentin yang terbuka sering kali bagian yang
terdalam dari alur peka terhadap ujung sonde.
Sebagai tambahan pada kepekaan dentin, maka
komplikasi–komplikasi abrasi pada akhirnya
adalah terbukanya atau patahnya gigi (Langlais,
2000).
1 . GI GI TERASA NGI LU DAN LEBI H SENSI TI F
2 . BENTUK GI GI TAMPAK TERKI KI S
( NARLAN, 2 0 0 4 ) .
Gejala abrasi
Proses terjadinya Abrasi
PROSES TERJADINYA ABRASI
 Abrasi adalah hilangnya struktur gigi secara
patologis akibat dari keausan mekanis yang
abnormal. Berbagai hal dapat menyebabkan abrasi,
tetapi bentuk yang paling umum adalah’’ abrasi
sikat gigi’’ yang membuat lekuk berbentuk’’ V’’
dibagian servikal dari permukaan vasial suatu gigi.
Daerah abrasi biasanya mengkilat dan kuning
karena dentin yang terbuka sering kali bagian yang
terdalam dari alur peka terhadap ujung sonde.
Sebagai tambahan pada kepekaan dentin, maka
komplikasi –komplikasi abrasi pada akhirnya adalah
terbukanya atau patahnya gigi
Gambaran Klinis Abrasi
Gambaran klinis abrasi
 a. Biasanya terdapat pada
daerah servikal gigi.
 b. Lesi cenderung melebar
daripada dalam.
 c. Gigi yang sering terkena
Premolar dan Caninus.
(Narlan, 2004).


Pencegahan dan Perawatan
Abrasi
 Penderita sebaiknya dianjurkan penggunaan pasta
gigi yang daya menggosoknya sekecil mungkin.
Karena restorasi amalgam dan inlai memerlukan
retensi, dan dengan demikian akan memperbesar
kemungkinan terbukanya pulpa pada preparasi
servikal, maka sebagai bahan restorasi lebih baik
diplih komposit resin dengan dasar semen ionomer
kaca. Penanganan restoratif hanya perlu, apabila
elemen (fraktur) atau pulpa terancam, ada
hipersensitivitas, terdapat keberatan-keberatan
kosmetik atau gigi yang ada lesinya digunakan
sebagai pegangan klamer protesa sebagian
(Schuurs, 1992).

Erosi
Pengertian Erosi
• Erosi ataupun lubang gigi (akibat asam). Hal ini
bisa dipicu oleh kebersihan mulut yang buruk,
makanan atau minuman asam, penyakit atau
kelainan tertentu (GERD, Chron’s disease,
bulimia, xerostomia), tambalan ataupun
anatomi gigi yang sedemikian rupa sehingga
menyebabkan retensi atau menempelnya
plak. Erosi adalah hilangnya jaringan keras gigi
karena bahan kimia (Al-Drees AM, 2010).

Penyebab Erosi
• Aplikasi asam lemah berulang-ulang dan teratur
pada permukaan gigi akan menghilangkan
mineral yang terdapat di daerah itu. Hilangnya
gigi karena erosi dipercepat oleh atrisi dan abrasi.
Penyikatan gigi setelah aplikasi asam secara
signifikan telah meningkatkan hilangnya jaringan
gigi. Pada erosi yang berhubungan dengan diet
yang paling banyak terkena adalah permukaan
bukal gigi atas dan permukaan oklusal gigi bawah.
Pada erosi karena muntah yang paling parah
terkena adalah permukaan palatal gigi anterior
atas
Gejala Erosi
Gejala awal erosi adalah
bercak putih, yang secara
mikroanatomi terlihat
bulat, licin dan
mengkilap. Pada tahap
lanjut, enamel akan
semakin banyak hilang,
permukaan gigi semakin
licin dan mengkilap serta
permukaan yang
membulat pada elemen
gigi menjadi rata. Pada
permukaan oklusal akan
timbul cekungan sebagai
ciri khas dari dentin yang
lunak dan kurang
mineralisasi.
Proses terjadinya Erosi
• Pada tahap yang masih dini, perikimata pada
permukaan gigi menghilang dan gigi akan
terlihat datar tetapi warnanya normal bila
dibandingkan warna email karies yang
mengapur. Jika erosi berjalan terus maka
dentin akan terbuka yang sering sangat peka
karena kalsifikasi di tubulus telah
terdemineralisasi oleh asam. Akhirnya pulpa
bisa terinflamasi.
• Pada erosi yang meluas, keseluruhan mahkota
gigi mungkin terkena pengaruhnya, dengan
hilangnya ketajaman permukaan yang
menghasilkan suatu lapisan kaca, penampilan
yang tidak menarik dengan tidak tajamnya
daerah enamel seperti ini menjadi membulat.
Permukaan enamel mungkin menjadi relatif
cembung sampai dentin terlihat, kemudian
reduksi gigi bertambah cepat karena
perbedaan kelunakan pada dentin. Hal ini
menyebabkan penampilan yang berlubang
Gambaran Klinis Erosi
• Pada tahap yang masih dini, perikimata pada
permukaan gigi menghilang dan gigi akan terlihat datar
tetapi warnanya normal bila dibandingkan warna email
karies yang mengapur. Jika erosi berjalan terus maka
dentin akan terbuka yang sering sangat peka karena
kalsifikasi di tubulus telah terdemineralisasi oleh asam.
Akhirnya pulpa bisa terinflamasi. Pada erosi yang
meluas, keseluruhan mahkota gigi mungkin terkena
pengaruhnya, dengan hilangnya ketajaman permukaan
yang menghasilkan suatu lapisan kaca, penampilan
yang tidak menarik dengan tidak tajamnya daerah
enamel seperti ini menjadi membulat. Permukaan
enamel mungkin menjadi relatif cembung sampai
dentin terlihat, kemudian reduksi gigi bertambah cepat
karena perbedaan kelunakan pada dentin. Hal ini
menyebabkan penampilan yang berlubang (Al-Drees
AM, 2010).

Pencegahan Erosi
1. Berkumur mulut dengan larutan antasid atau
mengkonsumsi tablet antacid sesegera mungkin
setelah episode erosi terjadi.
2. Berkumur dengan fluoride netral sesegera
mungkin setelah mendapat paparan asam.
3. Kombinasi dari keduanya. Hal tersebut dipercaya
bahwa berkumur fluoride netral dilakukan pertama
kemudian diikuti dengan berkumur antasid. Hal ini
dapat menyebabkan fluoride berinterporasi lebih
dalam pada permukaan lunak gigi, untuk memulai
proses remineralisasi.
4. Untuk menyikat gigi dengan sikat gigi yang lembut
dengan arah vertikal dan dapat juga dengan pasta
gigi yang mengandung baking soda ( Gilleland,
1986 ).
Perawatan Erosi
• Jika erosi hanya terjadi pada bagian enamel
atau sering disebut dengan erosi ringan, dapat
dilakukan aplikasi flour atau ditambal dengan
menggunakan bahan restoratif komposit.
• Bagi erosi pada bagian labial yaitu erosi
sedang, dilakukan pemasangan veener
keramik atau overlay mahkota.
• Pada erosi berat dilakukan pemasangan
mahkota, bridge atau overdenture.
ATROFI
DEFINISI
Atrofi merupakan pengerutan ukuran sel dengan hilangnya
substansi sel. Apabila mengenai sel dalam jumlah yang
cukup banyak, seluruh jaringan atau organ berkurang
massanya, menjadi atrofi.

Atrofi menggambarkan pengurangan komponen struktur
sel, mekanisme biokimiawi yang mendasari proses tersebut
berfariasi, tetapi akhirnya memengaruhi keseimbangan
antara sintesis dan degradasi. Sintesis yang berkurang,
peningkatan katabolisme, atau keduanya akan
memyebabkan atrofi. Pada sel normal, sintesis dan
degradasi isi sel dipengaruhi sejumlah hormon, termasuk
insulin, TSH ( hormon perangsang tiroid), dan
glukokortikoid.

MACAM-MACAM ARTROFI
1. ARTOFI FISIOLOGIS
Adalah alat tubuh yang dapat mengecil atau
menghilang sama sekali selama masa
perkembangan atau kehidupan .
Mis: pengecilan kelenjar thymus, ductus
omphalomesentricus, ductus thyroglossus.


2. ARTOFI SENILIS
Adalah mengecilnya alat tubuh pada orang yang
sudah berusia lanjut (aging process). Alat tubuh
pada orang yang sudah berumur lanjut
umumnya mengecil.



3. ATROFI DESAKAN (PRESSURE ATROPHY)
Atrofi yang terjadi karena desakan yang terus-menerus
ataudesakan untuk waktu yang lama dan mengenai suatu
alat tubuh atau jaringan mis:
- Atrofi desakan fisiologis : pada gusi akibat desakan gigi
yang mau tumbuh (pada anak-anak).

- Atrofi desakan patologis :
Atrofi desakan patogik misalnya terjadi pada sternum
akibat aneurisma aorta. Pelebaran aorta di daerah
substernal biasanya terjadi akibat syphlisis. Karena
desakan yang tinggi dan terus menerus mengakibatkan
sternum menipis.

4. ATROFI ENDROKIN
Atrofi yang terjadi pada alat tubuh yang
aktifitasnya bergantung pada rangsang hormon
tertentu. Atrofi akan terjadi apabila
pembentukan hormone tersebut berkurang atau
terhenti sama sekali.Hal ini misalnya dapat
terjadi pada penyakit Simmonds.

DEGENERASI PULPA
Degenerasi pulpa merupakan kemunduran
jaringan pulpa yang bukan diakibatkan karena
suatu keradangan. Degenerasi umumnya
dijumpai pada gigi orang tua, degenerasi juga
dapat disebabkan oleh iritasi ringan yang
persisten pada gigi orang muda, seperti pada
degenerasi kalsifik pulpa.
Degenerasi kalsifik ditandai dengan perubahan sebagian
jaringan pulpa digantikan oleh bahan mengapur, yaitu
terbentuk batu pulpa (dentikel), yang biasanya disebut
sebagai pulpa stone. Kalsifikasi ini dapat terjadi baik di dalam
kamar pulpa.
Degenerasi atrofik, tidak ada diagnosis kliniknya, Terjadi
pada penderita usia lanjut.
Biasanya terlihat saluran akarnya sempit dan seringkali
menyulitkan bila dilakukan perawatan saluran akar.
Degenerasi fibrous, ditandai dengan pergantian elemen
selular oleh jaringan ikat/fibrus.
Fibrosis pulpajaringan pulpa berupa jaringanikat/fibrus yg
keras.
Resesi Gingiva
Pengertian Resesi Gingiva
Pengertian Resesi Gingiva
Resesi gingiva didefinisikan sebagai
terbentuknya permukaan akar gigi karena
migrasi tepi gingiva ke arah apikal, oleh karena
itu resesi diukur dengan berpedoman pada
posisi tepi gingiva. Penyebabnya bermacam-
macam, dapat fisiologis maupun psikologis.
Akibat resesi gingiva umumnya adalah ngilu
ataupun adanya karies serviko-fasial (Fiorelini
JP, 2001) .