Oleh

:

 Oleh :
1.
Nency
2.
Indra
3.
Habibatin
4.
Nita
5.
Rori
6.
Elly
7.
Anik
8.
Devi
9.
Nola
10.
Yoga

 pengalaman nyata pelanggan terhadap
brand/product atau service untuk meningkatkan
penjualan dan brand image/awareness.
Experiential marketing adalah lebih dari sekedar
memberikan informasi namun juga peluang pada
pelanggan untuk memperoleh pengalaman atas
keuntungan yang didapat dari produk atau jasa
itu sendiri serta membangkitkan emosi dan
perasaan yang akan berdampak positif terhadap
pemasaran khususnya penjualan.
1. Pengalaman Pelanggan.
2. Pola Konsumsi.
3. Keputusan rasional dan emosional.
Schmitt (1999:12) membagi Experiential Marketing
menjadi empat kunci karakteristik antara lain:
1. Fokus pada pengalaman konsumen
2. Menguji situasi konsumen
3. aspek rasional dan emosional sebagai pemicu dari
konsumsi
4. Metode dan perangkat bersifat elektik
1. Sense
Merupakan tipe experiential yang bermunculan
untuk menciptaka pengalaman panca indera
melalui mata, telinga, kulit, lidah dan hidung

Ada tiga tujuan strategi panca indera (sense strategic
objective): (Schmitt,1999)
 Panca indera sebagai pendiferensiasi
 Panca indera sebagai motivator
 Panca indera sebagai penyedia nilai

2. Feel
Feel marketing ditujukan terhadap perasaan dan
emosi konsumen dengan tujuan mempengaruhi
pengalaman yang dimulai dari suasana hati yang
lembut sampai dengan emosi yang kuat terhadap
kesenangan dan kebanggaan
3. Think
Think marketing ditujukan terhadap intelektual dengan
tujuan menciptakan kesadaran (cognitive), pengalaman
untuk memecahkan masalah yang mengajak konsumen
untuk berfikir kreatif
Menurut Schmitt cara yang baik untuk membuat think
campaign berhasil adalah:
 Kejutan (surprise)
 Memikat (intrigue)
 Provokasi (provocation)
4. Act
Act bertujuan untuk mempengaruhi perilaku, gaya hidup dan
interaksi dengan konsumen. Act marketing didesain untuk
menciptakan pengalaman konsumen dalam hubungannya
dengan Physical body, lifestyle, dan interaksi dengan orang
lain
5. Relate
Relate marketing berisikan aspek – aspek dari
sense, feel, think, act marketing serta menitik
beratkan pada penciptaan persepsi positif
dimata pelanggan
Selain itu, Schmitt (1999) juga mengemukakan beberapa
cara untuk membentuk dan mengelola merek yang
experiential. Konsep ini dirangkum menjadi poin-poin
dalam Experential Branding, 10 Rules to Create and Manage
Experiential Brands.
1. Experiences don’t just happen; they need to be
planned.
2. Think about the customer experience first.
3. Be obsessive about the details of the experience.
4. Find the “duck” for your brand.

5. Think consumption situation, not product.
6. Strive for “holistic experiences”
7. Profile and track experiential impact with the
Experiential Grid.
8. Use methodologies eclectically.
9. Consider how the experience changes.
10. Add dynamism and “dionysianism” to your
company and brand.

Ada beberapa manfaat yang dapat diterima dan
dirasakan suatu badan usaha menurut pandangan
Schmitt (1999:34) apabila menerapkan Experiential
Marketing antara lain:
1. to turn araund a declining brand,
2. to be differentiate a product from competition,
3. to create an image and identity for a corporation,
4. to promote innovation,
5. to induce trial, purchase and the most important, loyal
consumption.

Dengan experiental marketing, pemasar diharapkan
dapat menggunakan berbagai pilihan strategi yang
sesuai sesuai dengan tujuan yang diharapkan, baik itu
untuk mencapai brand aware-ness, brand perception,
brand equity ataupun brand loyalty. Experiential
marketing memberikan peluang pada pelanggan untuk
memperoleh serangkaian pengalaman atas merek,
produk dan jasa yang memberikan cukup informasi
untuk melakukan keputusan pembelian. Aspek
emosional dan rasional adalah beberapa aspek yang
hendak dibidik pemasar melalui program ini dan
seringkali kedua aspek ini memberikan efek yang luar
biasa dalam pemasaran.

Seperti yang dinyatakan oleh Lippman bahwa konsep experiential
marketing bukanlah merupakan hal baru karena telah diterapkan sejak dulu
kala. Hal ini bisa dilihat dari praktek yang terjadi di pasar tradisional.
Seorang penjual mangga, misalnya, memberikan sampel atau contoh buah
mangga untuk dicicipi calon pembelinya. Calon pembeli akan melakukan
transaksi harga (tawar menawar) setelah mencicipi buah mangga yang
hendak dibelinya. Karena rasanya manis dan harganya cocok maka dia akan
membeli mangga tersebut. Di sini terlihat jelas pengalaman calon pembeli
yang meliputi ‘sense’karena tampilan buah mangga yang ranum dan segar,
‘feel’ karena rasa buahnya yang manis dan kemudian dikaitkan ‘relate’atas
harga yang sesuai dengan harapannya mampu mengarahkannya dalam
keputusan pembelian. Bahkan untuk menarik pelang-gannya, pedagang ini
tak lupa juga memberikan bonus sebuah mangga jika pelanggannya
membeli 10 buah mangga sekaligus. Praktek seperti ini sudah diterapkan
sejak dulu kala oleh masyarakat Jawa dan Madura di Indonesia.
Judul skripsi :Pengaruh Experiential Marketing
Terhadap Pembentukan Loyalitas
Pelanggan 7-Eleven
Penulis : Shartika Purnama Dewi

7-Eleven adalah jaringan toko kelontong (convenience
store) 24 jam asal Amerika Serikat yang sejak tahun
2005 kepemilikannya dipegang Seven & I Holdings
Co., sebuah perusahaan Jepang. Pada tahun 2004,
lebih dari 26.000 gerai 7-Eleven tersebar di 18
negara.antara pasar terbesarnya adalah Amerika
Serikat dan Jepang. Didirikan pada tahun 1927 di Oak
Cliff, Texas (kini masuk wilayah Dallas), nama "7-Eleven"
mulai digunakan pada tahun 1946. Sebelum toko 24 jam
pertama dibuka di Austin, Texas pada tahun 1962, 7-
Eleven buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam, dan
karenanya bernama "7-Eleven" (7-Sebelas).

1. Sense
Temuan penelitian mengindikasikan bahwa
selama berada di 7- Eleven, responden tidak
mendapatkan pengalaman yang
mengesankan berkaitan dengan indera
yang mengesankan terhadap produk yang
dikonsumsi ketika di 7-eleven
2. Feel
Selama berada di 7-Eleven, konsumen
merasakan suasana santai berada di 7-
Eleven, dilayani dengan baik oleh karyawan,
kebersihannya cukup terjaga, merasakan
suasana yang hangat dan akrab bersama
kerabat mereka, menikmati fasilitas toko
yang menambah kenyamanan, sehingga
menimbulkan loyalitas pada diri konsumen
terhadap took 7-Eleven.
3. Think
Hasil temuan menunjukkan bahwa responden cenderung
kurang mengingat 7-Eleven sebagai pilihan utamanya jika
ingin berkunjung ke convenience store, konsumen ragu
terhadap keamanan produk 7-Eleven untuk dikonsumsi,
lokasi yang mudah dijangkau kurang dipertimbangkan
oleh konsumen, serta konsumen berpikir harga yang
ditawarkan 7-Eleven kurang sesuai dengan kualitas produk
serta layanan yang diberikan, sehingga 7-Eleven belum
mampu menstimulus proses kognitif konsumen.
Akibatnya, think dalam experiential marketing 7- Eleven
tidak menimbulkan loyalitas pada konsumen 7-Eleven.

4. Act
Hasil temuan menunjukkan bahwa berkunjung
ke toko 7-Eleven belum menjadi bagian dari
gaya hidup konsumen, pengalaman membuat
hidangan minuman sendiri kurang mampu
memberikan pengalaman yang mengesankan
bagi konsumen, serta konsumen kurang
mendapatkan pengalaman interaksi dengan
toko 7-Eleven di media website, media sosial,
dll
5. Relate
Hasil temuan menunjukkan bahwa
konsumen tidak mendapatkan
pengalaman menjadi komunitas dalam 7-
Eleven, karena 7-Eleven belum membuat
komunitas bagi para pelanggannya,
sehingga pelanggan tidak mendapatkan
identitas sosial pada 7-Eleven.
6. Loyalitas pelanggan
Dalam penelitian ini hanya variabel feel
dalam experiential marketing yang
memberi pengaruh signifikan pada toko 7-
Eleven dalam pembentukan loyalitas
pelanggan.
Experiential marketing merujuk pada pengalaman nyata
pelanggan terhadap brand/product atau service untuk
meningkatkan penjualan dan brand image/awareness.
Tahap awal dari sebuah experiential marketing terfokus
pada tiga kunci pokok pengalaman pelanggan, pola
konsumsi, keputusan rasional dan emosional. Untuk
menciptakan experiential marketing yang dapat
memenangkan hati pelanggan diperlukan pendekatan Sense,
Feel, Think, Act, Relate.
Jadi dengan experiential marketing, pemasar diharapkan
dapat menggunakan berbagai pilihan yang sesuai dengan
tujuan yang diharapkan, baik itu untuk mencapai brand
awareness, brand perception, brand equity ataupun brand
loyalty.