You are on page 1of 37

Dasar-dasar

Kemantapan Lereng
Dr.Ir. Irwandy Arif, M.Sc.
PENDAHULUAN
DI DALAM OPERASI PENAMBANGAN MASALAH
KEMANTAPAN LERENG INI AKAN DIKETEMUKAN PADA
PENGGALIAN TAMBANG TERBUKA (OPEN PIT MAUPUN
OPEN CUT), DI TEMPAT-TEMPAT PENIMBUNAN
OVERBURDEN DAN BAHAN BUANGAN (TAILING
DISPOSAL), DI JALAN-JALAN TAMBANG, PEMOTONGAN
DAN COVER TEROWONGAN, DAN DI PENIMBUNAN
BIJIH (STOCKYARD), BENDUNGAN BENDUNGAN UNTUK
CADANGAN AIR KERJA.
APABILA LERENG-LERENG YANG TERBENTUK
SEBAGAI AKIBAT DARI PROSES PENAMBANGAN
(PIT SLOPE) MAUPUN YANG MERUPAKAN SARANA
PENUNJANG OPERASI PENAMBANGAN (BENDUNGAN,
JALAN, DAN LAIN LAIN) ITU TIDAK STABIL (TIDAK
MANTAP) MAKA KEGIATAN PRODUKSI AKAN
TERGANGGU.
OLEH KARENA ITU SUATU ANALISIS KEMANTAPAN
LERENG MERUPAKAN SUATU BAGIAN YANG PENTING
UNTUK MENCEGAH TERJADINYA GANGGUAN
GANGGUAN TERHADAP KELANCARAN PRODUKSI
MAUPUN TERJADINYA BENCANA YANG FATAL.
TUJUAN ANALISIS KEMANTAPAN
LERENG
MENGERTI PERKEMBANGAN, BENTUK LERENG ALAMIAH
DAN PROSES YANG BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP
BERBAGAI CIRI ALAMIAH.
MENILAI KEMANTAPAN LERENG JANGKA PENDEK
(SERING SELAMA KONSTRUKSI) DAN JANGKA PANJANG.
MENILAI KEMUNGKINAN KELONGSORAN YANG
MELIBATKAN LERENG ALAMIAH DAN LERENG
REKAYASA.
MENGANALISIS KELONGSORAN DAN MENGERTI
MEKANISME KELONGSORAN DAN PENGARUH DARI
FAKTOR LINGKUNGAN.
MEMUNGKINKAN RANCANGAN ULANG DARI LERENG
YANG TELAH RUNTUH DAN MERENCANAKAN SERTA
MERANCANG PENGUKURAN PENGOBATAN DAN
PENCEGAHAN, JIKA DIPERLUKAN.
MEMPELAJARI AKIBAT PEMBEBANAN SEISMIC
TERHADAP LERENG DAN TIMBUNAN.
KLASIFIKASI GERAKAN MASSA
TANAH ATAU BATUAN
GERAKAN TANAH ATAU BATUAN MENURUT M.M. PURBO
HADIWIDJOYO DAN TELAH DILENGKAPI OLEH PENULIS
DAPAT DIKLASIFIKASIKAN SEBAGAI BERIKUT :
LONGSORAN (SLIDING)
RUNTUHAN (FALLING)
NENDATAN
AMBLASAN (SUBSIDENCE)
RAYAPAN (CREEP)
ALIRAN (FLOW)
GERAKAN KOMPLEKS
ISTILAH YANG PALING BANYAK DIGUNAKAN UNTUK
MERANCANG GERAKAN TANAH ATAU BATUAN YANG
TERJADI PADA LERENG-LERENG ALAMIAH ADALAH
LONGSORAN DALAM ARTI YANG LUAS.
AGAR PENGERTIAN LONGSORAN DAPAT DIPERJELAS
COATES (1977) MEMBUAT DAFTAR BEBERAPA
FAKTOR PENTING YANG TELAH DISETUJUI DI ANTARA
28 PENULIS YANG TELAH MENYUMBANGKAN
PIKIRANNYA UNTUK SUBYEK INI.
DAFTAR TERSEBUT ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
LONGSORAN MEWAKILI SATU KATEGORI DAN SUATU
FENOMENA INCLUDED UNDER THE GENERAL HEADING
OF MASS MOVEMENT.
GRAVITASI ADALAH GAYA UTAMA YANG DILIBATKAN.
GERAKAN HARUS CUKUP CEPAT, KARENA RAYAPAN
(CREEP) ADALAH BEGITU LAMBAT SEBAGAI
LONGSORAN.
GERAKAN DAPAT BERUPA KERUNTUHAN (FALLING),
LONGSORAN/LUNCURAN (SLIDING) DAN ALIRAN (FLOW).
BIDANG ATAU DAERAH GERAKAN TIDAK SAMA DENGAN
PATAHAN.
GERAKAN AKAN KE ARAH BAWAH DAN MENGHASILKAN
BIDANG BEBAS, JADI SUBSIDENCE TIDAK TERMASUK.
MATERIAL YANG TETAP DI TEMPAT MEMPUNYAI BATAS
YANG JELAS DAN BIASANYA MELIBATKAN HANYA
BAGIAN TERBATAS DARI PUNGGUNG LERENG.
MATERIAL YANG TETAP DITEMPAT DAPAT MELIPUTI
SEBAGIAN DARI REGOLITH DAN/ ATAU BEDROCK.
FENOMENA FROZEN GROUND BIASANYA TIDAK
TERMASUK KATEGORI INI.
KLASIFIKASI DARI LONGSORAN PADA UMUMNYA DAPAT
DIDASARKAN PADA FAKTOR-FAKTOR SEBAGAI BERIKUT :
JENIS DARI MATERIAL
MORFOLOGI DARI MATERIAL
KARAKTERISTIK GEOMEKANIK
KECEPATAN DAN LAMA DARI GERAKAN
BENTUK DARI PERMUKAAN LONGSORAN
(BIDANG, BAJI, BUSUR)
VOLUME YANG DILIBATKAN
UMUR DARI LONGSORAN
PENYEBAB LONGSORAN
MEKANISME LONGSORAN
1. LONGSORAN ATAU LUNCURAN DALAM ARTI
YANG SEBENARNYA
DIHASILKAN PADA UMUMNYA PADA SUATU MATERIAL
YANG KURANG RAPUH.
GERAKAN INI TERJADI SEPANJANG SATU ATAU
BEBERAPA BIDANG LUNCURAN.
GERAKAN INI BISA BERUPA ROTASI ATAU TRANSLASI
YANG TERGANTUNG PADA KEADAAN MATERIAL
SERTA STRUKTURNYA.
KALAU LUNCURANNYA MERUPAKAN ROTASI, MAKA
BIASANYA AKAN MENGHASILKAN LONGSORAN BUSUR
ATAU LINGKARAN.
TETAPI BILA GERAKAN INI MERUPAKAN TRANSLOSI,
MAKA AKAN MENGHASILKAN LONGSORAN BIDANG.
GABUNGAN KEDUA GERAKAN INI AKAN MENGHASILKAN
LONGSORAN BIDANG DAN BUSUR.

JENIS GERAKAN INI YANG PALING BANYAK TERJADI,
SEPERTI YANG DIALAMI DESA SUKASARI, BOGOR TIMUR,
PADA TANGGAL 22 NOVEMBER 1992 YANG LALU DAN
MEMINTA KORBAN SEMBILAN ORANG MENINGGAL.
JUGA DI DESA CIKALONG, TASIKMALAYA YANG TERJADI
PADA TANGGAL 11 OKTOBER 1992 DAN MEMINTA
KORBAN 56 ORANG MENINGGAL (M.M.PURBO
HADIWIDJOYO, 1992).
2. RUNTUHAN (FALLING)
RUNTUHAN INI DAPAT TERJADI DARI BIDANG-BIDANG
DISKONTINU PADA SUATU LERENG YANG TEGAK, PADA
RAYAPAN DARI LAPISAN LUNAK (MISALNYA MARL
LEMPUNG) ATAU GULINGAN BLOK SEBAGAI CONTOH
RUNTUHAN YANG TERJADI DI GUNUNG GRANIER EN
SAVOIE PADA TAHUN 1248 (HANTZ, 1988).
KERUNTUHAN DARI JURANG BATUKAPUR DENGAN
KETINGGIAN SEKITAR 1.000 M, MENGIKUTI GELINCIRAN/
LONGSORAN DARI MARL DAN MENGGERAKKAN SUATU
VOLUME YANG SANGAT BESAR YAITU SEKITAR
500.000.000 M
3
, YANG MENYEBAR SEPANJANG 7 KM
DENGAN LUAS 20 KM & MEMBUNUH RIBUAN PENDUDUK.
3. RAYAPAN (CREEP)
GERAKAN YANG KONTINU DAN RELATIF LAMBAT,
KITA TIDAK DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS BIDANG
RAYAPAN. CONTOH DAERAH PELANGGAN JENIS
GERAKAN INI ADALAH PANGADEGANG DI CIANJUR
SELATAN.
DI SANA DAERAH YANG BERGERAK MENCAKUP SEKITAR
100 KM. SELAIN ITU DI DAERAH CIAMIS UTARA, BANJAR
NEGARA DI JAWA TENGAH (M.M. PURBO HADIWIDJOYO,
1992).
4. ALIRAN
GERAKAN INI BERASOSIASI DENGAN TRANSPORTASI
MATERIAL OLEH AIR ATAU UDARA DAN DIPICU OLEH
GERAKAN LONGSORAN SEBELUMNYA. KECEPATAN
GERAKAN BISA SANGAT TINGGI.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KEMANTAPAN LERENG
LOKASI, ARAH, FREKUENSI, KEKUATAN DAN
KARAKTERISTIK DARI BIDANG-BIDANG LEMAH.
KEADAAN TEGANGAN ALAMIAH DALAM MASSA
BATUAN/TANAH.
KONSENTRASI LOKAL DARI TEGANGAN.
KARAKTERISTIK MEKANIK DARI MASSA BATUAN/TANAH.
IKLIM TERUTAMA JUMLAH HUJAN UNTUK DI DAERAH
TROPIS.
GEOMETRI LERENG.
PENYEBAB DARI LONGSORAN DAPAT
DIKATEGORIKAN DALAM TIGA FAKTOR :
GEOMETRIK
HIDRAULIK
MEKANIK
TABEL 1
PENYEBAB GERAKAN MASSA TANAH DAN BATUAN
(TERZAGHI, 1950 DAN BRUNSDEN, 1979)
Penyebab eksternal
1. Perubahan geometri lereng : pemotongan kaki lereng, erosi, perubahan
sudut kemiringan, panjang, dll.
2. Pembebasan beban : ereosi, penggalian.
3. Pembebanan : penambahan material, penambahan tinggi.
4. Shock dan vibrasi : buatan, gempa bumi, dll.
5. Penurunan permukaan air.
6. Perubahan kelakuan air : hujan, tekanan pori, dll.

Penyebab internal
1. Longsoran, progresif : mengikuti ekspansi lateral, fissuring dan erosi.
2. Pelapukan.
3. Erosi seepage : solution, pemipaan (piping).

METODE ANALISIS KEMANTAPAN
LERENG
BEBERAPA METODA ANALISIS KEMANTAPAN YANG
DAPAT DIGUNAKAN ANTARA LAIN :
METODA ANALITIK
METODA GRAFIK
METODA KESEIMBANGAN LIMIT
METODA NUMERIK (METODA ELEMEN HINGGA,
ELEMEN DISKRET, ELEMEN BATAS DAN LAIN LAIN)
TEORI BLOK DAN SISTEM PAKAR
TABEL 2
PERBANDINGAN METODA RANCANGAN LERENG
TAHAP-TAHAP PERTAMBANGAN
DAN SASARAN GEOTEKNIK
TAHAP PENDAHULUAN
GEOLOGI YANG LUAS.
MENGETAHUI GEOTEKNIK DAN AIR BAWAH TANAH
YANG MEMPENGARUHI PERTAMBANGAN.
MENGETAHUI MODEL GEOLOGI.
MEMBERI PETUNJUK PADA PEMAKAIAN SISTEM
PERTAMBANGAN YANG BERBEDA DAN
PERLENGKAPAN PADA SUATU ENDAPAN.
MEMBERI MASUKAN GEOTEKNIK PADA PROGRAM
EKSPLORASI.
MEMBERI PETUNJUK PERANCANGAN LERENG.
MENGETAHUI GEOTEKNIK DAN AIR BAWAH TANAH
YANG MEMPENGARUHI PERTAMBANGAN.
RANCANGAN DAN SUSUNAN SPESIFIK MENGENAI
GEOTEKNIK DAN PROGRAM PENELITIAN AIR BAWAH
TANAH.
PRA KELAYAKAN
GEOTEKNIK PENDAHULUAN, SAMPLING
HIDROGEOLOGI, DAN UJI.
PENYUSUNAN MODEL DASAR GEOTEKNIK UNTUK
LOKASI TERMASUK PENYELIDIKAN EKSPLORASI YANG
DIDASARKAN PADA DATA GEOTEKNIK DAN
HIDROGEOLOGI UNTUK TIAP MASSA BATUAN DAN
PERKIRAAN AWAL DARI PARAMETER PERANCANGAN.
MEMPERKIRAKAN PENGARUH AIR BAWAH TANAH
PADA PERANCANGAN LERENG UNTUK PROSES
PENGERINGAN PADA TAMBANG, SKALA PENGERINGAN
YANG POTENSIAL, PELAKSANAAN, WAKTU DAN BIAYA
DALAM BATAS WAKTU YANG DITENTUKAN.
MEMBERI PERANCANGAN LERENG SECARA DETAIL :
OPEN PIT : + 5O-10O
STRIP MINE : 10O
BERSAMA-SAMA DENGAN PERENCANAAN TAMBANG
MEMBERI PETUNJUK PEMILIHAN PERALATAN DAN
METODA PERTAMBANGAN.
MENGETAHUI FAKTOR-FAKTOR GEOTEKNIK DAN
HIDROGEOLOGI YANG MEMPENGARUHI
PERANCANGAN TAMBANG DAN YANG BELUM SESUAI.
RANCANGAN DAN BIAYA DARI AKHIR PENYELIDIKAN
YANG DIPERLUKAN UNTUK TINGKAT STUDI
KELAYAKAN.
KELAYAKAN
PENYELIDIKAN GEOTEKNIK DAN HIDROGEOLOGI
DILAKUKAN LEBIH RINCI DAN SPESIFIK YANG
DISESUAIKAN DENGAN ALAT DAN METODA
PERTAMBANGAN.
MEMBERI PENILAIAN STATISTIK PADA SEMUA
PARAMETER TEKNIK PERANCANGAN TERMASUK
RATA-RATA DAN DISTRIBUSI UNTUK SEMUA UNIT
GEOTEKNIK.
BERSAMA DENGAN PERENCANA TAMBANG
MEMASTIKAN FAKTOR-FAKTOR GEOTEKNIK YANG
BERHUBUNGAN DENGAN PERANCANGAN.
MEMBERI PERANCANGAN LERENG MENURUT
FALSAFAH YANG DISETUJUI OLEH PERENCANA
TAMBANG DAN PEMILIK PROYEK. SUDUT
PERANCANGAN LERENG TERGANTUNG PADA
PENGEMBANGAN TAMBANG, DENGAN TOLERANSI
SEBAGAI BERIKUT :
OPEN PIT : SUDUT OVERALL + 1O - 3O
STRIP MINE : SUDUT HIGHWALL + 5O
SUDUT SPOIL PILE + 1O - 3O

OPEN PIT (BATUAN KERAS)
MEMBERI PERANCANGAN LERENG SECARA DETAIL
TERMASUK TINGGI JENJANG, LEBAR BERM, SUDUT
JENJANG, INTERAMP DAN SUDUT OVERALL PIT SLOPE
MAKSIMUM PADA TIAP BAGIAN PERANCANGAN
TAMBANG.
MEMBERI PERANCANGAN DETAIL UNTUK EXTERNAL
WASTE DUMPS.
STRIP MINE (BATUBARA)
MEMBERI PERANCANGAN DETAIL LERENG TERMASUK:
SUDUT HIGHWALL, SUDUT SPOIL DUMP,
PERANCANGAN PIT WASTE DUMP, SUDUT LOW WALL,
PERANCANGAN FOOTWALL, JARAK DENGAN MESIN.
MEMPERKIRAKAN PENGERINGAN TAMBANG
TERMASUK DESAIN DETAIL, RANCANGAN, SPESIFIKASI
DAN BIAYA.
BERSAMA DENGAN PERENCANA TAMBANG DAN PARA
AHLI GEOTEKNIK MEMASTIKAN PERANCANGAN AIR
BAWAH TANAH SESUAI DAN TIDAK AKAN MERUGIKAN
OPERASI PENAMBANGAN.
BERSAMA DENGAN PERENCANA TAMBANG
MERANCANG JALAN MASUK ANGKUTAN DAN
RESIKONYA SECARA EKONOMIS.
MEMBERI PETUNJUK PADA TEKNIK PELEDAKAN AKHIR
DAN PERALATAN YANG SESUAI.
BERSAMA DENGAN PERENCANA TAMBANG MEMILIH
STAFF UNTUK MASALAH GEOTEKNIK ATAU AIR BAWAH
TANAH.
RANCANGAN DAN BIAYA PROGRAM PEMANTAUAN AIR
BAWAH TANAH.
LAPORAN YANG JELAS MENGENAI KELAYAKAN
PERTAMBANGAN YANG DIRENCANAKAN.
MERANCANG DAN MEMANTAU PERALATAN YANG
DIGUNAKAN PADA OPERASI.
OPERASI
MENILAI BAGAIMANA KONDISI GEOTEKNIK SELAMA
PENYELIDIKAN AWAL APAKAH SESUAI PERANCANGAN
PARAMETER KELAYAKAN.
MENYUSUN DAN MELAKSANAKAN SECARA TERUS
MENERUS PENGUMPULAN DATA SEBAGAI BAGIAN
DARI GEOLOGI PERTAMBANGAN DAN GEOTEKNIK.
RANCANGAN DAN MELAKSANAKAN RENCANA PADA
STUDI KELAYAKAN SEPERTI :
- PELEDAKAN AKHIR DAN PENGGALIAN
- PENYANGGA LERENG
- MENGUBAH GEOMETRI LERENG
- DEPRESSURISATION LERENG
MELAKSANAKAN PEMANTAUAN LERENG.
RANCANGAN DAN MELAKSANAKAN RENCANA
HIDROGEOLOGI, MEMANTAU DEBIT ALIRAN AIR ATAU
AIR BAWAH TANAH.
TERUS MENERUS MERUBAH PERANCANGAN LERENG
SELAMA UMUR TAMBANG SEPERTI PERUBAHAN
KONDISI GEOTEKNIS ATAU KARENA ALASAN
EKONOMI.
RANCANGAN LERENG TAMBANG
PADA PRAKTEKNYA METODA PERANCANGAN
BERPATOKAN PADA HEURISTIC'S ATAU RULES OF
THUMB (THE INSTITUTION OF ENGINEERS AUSTRALIA,
1990).
TAPI PADA GEOTEKNIK PERTAMBANGAN YANG
DIDASARKAN GEOLOGI, KONSEP PERANCANGAN
LERENG TAMBANG LEBIH RELEVAN SEPERTI
HEURISTIC'S.
HAL INI MEMBERI PANDANGAN YANG LUAS MENGENAI
AKTIVITAS ALAM. HEURISTIC'S DIDEFINISIKAN
SEBAGAI :
"SUATU METODA UNTUK MEMECAHKAN MASALAH
YANG SAMA SEKALI TIDAK TERGANTUNG PADA
ALGORITMA, TAPI TERGANTUNG PADA
PERTIMBANGAN INDUKTIF DARI PENGALAMAN PADA
MASALAH YANG SAMA (MACQUARIE DICTIONARY)".
ALGORITMA ADALAH SUATU PROSEDUR UNTUK
MEMECAHKAN MASALAH YANG TERBATAS DAN
DIGUNAKAN UNTUK PROSES MERANCANG, TETAPI
TIDAK PERNAH DIGUNAKAN UNTUK MERANCANG
LERENG TAMBANG.
DEFINISI HEURISTIC YANG LAINNYA ADALAH
PERTIMBANGAN INDUKTIF, YAITU :
"PROSES PENJ ELASAN PENEMUAN UNTUK SUATU
FAKTA YANG KHUSUS, DENGAN MEMPERKIRAKAN
BESARNYA FAKTA PENGAMATAN DIMANA
PENJ ELASAN INI MELIPUTI SELURUH FAKTA".
HAL INI TIDAK UMUM UNTUK SUATU PROSES DEDUKTIF
DIMANA KESIMPULAN DIDASARKAN PADA FAKTA
YANG DIKETAHUI ATAU PRINSIP YANG ADA.
MERANCANG LERENG TAMBANG DIDASARKAN PADA
PENGAMATAN KUANTITATIF DARI SEBAGIAN KECIL
CONTO TANAH ATAU MASSA BATUAN. OLEH KARENA
ITU PERTIMBANGAN YANG PENTING ADALAH :
"HANYA KEAHLIAN YANG TEPAT MENGELOLA SUATU
LINGKUNGAN HEURISTIC (THE INSTITUTION OF
ENGINEERS AUSTRALIA, 1990).
PADA TAMBANG BAWAH TANAH DENGAN BATUAN
YANG KERAS MASALAH TEKNIK MEKANIKA BATUAN
ADALAH PENGONTROLAN BAWAH TANAH (BRADY,
1986); PENGONTROLAN ATAS DEFORMASI DAN
DISPLACEMENT UNTUK MEMASTIKAN KESTABILAN
SECARA KESELURUHAN, MELINDUNGI JALAN MASUK,
MEMELIHARA KONDISI KERJA YANG AMAN DAN
CADANGAN BIJIH (BRADY & BROWN, 1985).
MASALAH TEKNIK DALAM MENRANCANG LERENG
TAMBANG TERBUKA ADALAH TIDAK DAPAT
MENGONTROL BAWAH TANAH DAN DENGAN ASUMSI
YANG IMPLISIT SEHINGGA LERENG DAPAT RUNTUH.
SASARAN POKOK DALAM PERANCANGAN LERENG
TAMBANG TERBUKA ADALAH :
"TERCAPAINYA DESAIN YANG OPTIMUM ADALAH
KOMPROMI ANTARA LERENG YANG EKONOMIS DAN
CUKUP AMAN" (HOEK AND BRAY, 1973).