You are on page 1of 31

Wha

PERTIMBANGAN DALAM MELAKUKAN
PINJAMAN LUAR NEGERI

 Adanya defisit pembiayaan yang tidak dapat diusahakan dari
sumber pembiayaan dalam negeri.
 Pinjaman tersebut memang diperlukan untuk mendukung
pembiayaan negara, misalnya dalam rangka
mempertahankan atau meningkatkan pertumbuhan.
 Pinjaman tersebut diperlukan untuk memperkuat cadangan
devisa, misal : pinjaman dari IMF.
 Masih dalam batas kemampuan negara untuk membayar
kembali beban pinjaman berkenaan.
 Bertambahnya jumlah pinjaman tidak boleh menimbulkan
kerentanan ekonomi terhadap guncangan external maupun
internal karena tingginya beban pembayaran hutang.
 Dalam peminjaman tersebut tidak boleh ada syarat atau
ikatan dalam bentuk apapun yang merugikan kepentingan
nasional atau hal-hal lain yang tidak memungkinkan untuk
dilaksanakan.
PERTIMBANGAN DALAM PENERIMAAN
HIBAH LUAR NEGERI

 Ditujukan untuk menambah penerimaan negara.
 Untuk membiayai bantuan teknis.
 Tidak boleh ada syarat atau ikatan dalam bentuk
apapun yang merugikan kepentingan nasional atau
hal-hal lain yang tidak memungkinkan untuk
dilaksanakan.
 Sedapat mungkin tidak membebani APBN, misalnya
membutuhkan penyediaan dana pendamping yang
relatif besar.
 Tidak boleh digunakan untuk tujuan mendekte atau
mengendalikan sesuatu kebijakan pemerintah.
 Hibah luar negeri kepada pemerintah harus mengikuti
prosedur administrasi APBN.
ACUAN DALAM PERENCANAAN PHLN

 Landasan hukum :
 GBHN
 Propenas
 Keppres Nomor 42 Tahun 2002
 SKB Menteri Keuangan dan Meneg PPN/Ketua
Bappenas No.185/KMK.03/1995 dan No.KEP-
031/KET/5/1995.
PROSEDUR PERENCANAAN
PHLN

 Perencanaan pinjaman luar negeri pemerintah pada
dasarnya dilakukan berdasarkan bottom-up planning,
yaitu :
 Menteri/Ketua LPND mengusulkan proyek-proyek yang
direncanakan untuk dibiayai sebagian atau seluruhnya dari
pinjaman/hibah luar negeri kepada Menteri Negara
PPN/Ketua Bappenas.
 Usulan tersebut mencakup proyek yang belum didukung oleh
sumber PHLN.
 Untuk proyek Pemda/BUMN/BUMD usulan proyek
dikoordinasikan dan diajukan oleh Menteri/Ketua LPND yang
memberikan pembinaan teknis.
 Usulan proyek tersebut harus memuat keterangan dan
penjelasan secara rinci mengenai proyek berkenaan disertai
dengan kerangka acuan kerja dan studi kelayakan.
PROSEDUR PERENCANAAN
PHLN (Lanjutan)

 Penilaian terhadap usulan proyek yang akan
dibiayai dari PHLN dilakukan dengan
memperhatikan hal-hal berikut :
 Kesesuaian antara kebijaksanaan, sasaran, dan
program nasional.
 Proyek yang diusulkan memiliki prioritas tinggi dan
layak untuk dibiayai dengan PHLN.
 Pertimbangan-pertimbangan lain yang sejalan
dengan perkembangan kebijaksanaan pembangunan
nasional.
 Terhadap proyek-proyek yang dinilai prioritas
dituangkan dalam Daftar Rencana Pinjaman
Hibah Luar Negeri (DRPHLN atau Buku Biru).
PROSES PENGUSULAN PROYEK KEPADA
CALON PEMBERI PHLN

 Sebelum diusulkan kepada calon Pemberi Pinjaman/Hibah
Luar Negeri (PPHLN), setiap proyek dibahas terlebih dahulu
dengan Departemen Keuangan dan instansi terkait yang
dikoordinasikan oleh Bappenas, serta disusun laporan
penilaian kelayakan proyek (LPKP) untuk mendukung
pengusulan ke calon PPHLN.
 LPKP tersebut mencakup aspek-aspek antara lain : lingkup
proyek, penyediaan dana pendamping, keterkaitan dengan
proyek-proyek lain, kesiapan instansi pelaksana, syarat-
syarat penerusan pinjaman (dalam hal pinjaman akan
diteruspinjamkan), kesiapan kelembagaan dan SDM.
 Pengusulan kepada calon PPHLN dilakukan dengan
persetujuan Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas dengan
tembusan kepada Menteri Keuangan.
PROSES PENGUSULAN PROYEK KEPADA
CALON PEMBERI PHLN (Lanjutan)

 Dalam hal proyek diusulkan untuk dibiayai dari Fasilitas Kredit
Ekspor (FKE), dilakukan sbb :
 Berdasarkan DRPHLN, Menteri/Ketua LPND mengajukan Alokasi
Kredit Ekspor (AKE) kepada Menko Perekonomian dengan
tembusan kepada Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas dan
Menteri Keuangan.
 Dilakukan penilaian persiapan proyek oleh Tim Penilai yang
dikoordinasikan oleh Pejabat Eselon I pada Departemen/LPND
dengan melibatkan unsur-unsur Bappenas, Departemen Keuangan,
dan instansi terkait lainnya.
 Berdasarkan dokumen hasil penilaian tersebut, Meneg PPN/Ketua
Bappenas merekomendasikan kepada Menko Perekonomian
dengan tembusan kepada Menteri Keuangan, untuk menetapkan
AKE.
 Berdasarkan AKE tersebut, Departemen/LPND/Pemda/BUMN/BUMD
dapat melakukan proses pengadaan sesuai ketentuan yang
berlaku.
 Setalah ditetapkan pemenang lelang pengadaan barang/jasa,
Menteri/ Ketua LPND instansi pelaksana mengusulkan kepada
Menteri Keuangan untuk menyelesaikan NPPHLN.
PROSES NEGOSIASI DENGAN
CALON PEMBERI PHLN

 Proses negosiasi dengan calon PPHLN dilakukan setelah
dicapai kesepakatan antar instansi terkait atas dokumen
penilaian persiapan proyek.
 Negosiasi dengan PPHLN dilakukan oleh Tim Negosiasi yang
terdiri dari Bappenas, Departemen Keuangan,
Departemen/LPND pelaksana proyek dan instansi terkait.
 Dalam hal negosiasi dilakukan di luar negeri, pembentukan
Tim negosiasi ditetapkan oleh Menteri Sekretaris Kabinet.
Sedangkan perundingan di dalam negeri, pembentukan Tim
negosiasi ditetapkan oleh Menteri Keuangan atau Meneg
PPN/Ketua Bappenas.
 Hasil perundingan dituangkan dalam laporan Tim dan
disampaikan kepada Menteri Keuangan, Meneg PPN/Ketua
Bappenas, Menteri Luar Negeri, dan Menteri/Ketua LPND
terkait.
 Khusus untuk proyek yang akan dibiayai dari Fasilitas
Kredit Ekspor (FKE) negosiasi dengan calon PPHLN
dikoordinasikan oleh Menteri Keuangan.
PROSEDUR PENCAIRAN PHLN

 TATACARA PENCAIRAN DANA PHLN PADA
DASARNYA DILAKUKAN MELALUI :
 Pembiayaan Pendahuluan (PP)
 Rekening Khusus (RK)

 Pembayaran Langsung (PL)

 Pembukaan Letter of Credit (L/C)
TATACARA PENCAIRAN PHLN MELALUI
PEMBIAYAAN PENDAHULUAN

 Pemimpin Proyek/Pejabat yang berwenang mengajukan Surat Permintaan
Pembayaran Pendahuluan (SP3) disertai Kontrak Pengadaan Barang/Jasa
(KPBJ) dan DIP/dokumen yang dipersamakan serta dokumen pendukung
lainnya kepada Direktur Jenderal Anggaran.
 Dirjen Anggaran menerbitkan SPM-PP dan dikirimkan kepada BI sebagai
dasar pemindahbukuan dari Rekening BUN ke rekening rekanan atau
rekening bendaharawan proyek.
 Dirjen. Anggaran mengajukan Aplikasi Penarikan Dana (APD) kepada PPHLN
dilampiri dengan SPM-PP dan dokumen pendukung yang dipersyaratkan
PPHLN, dengan tembusan kepada BI.
 Berdasarkan APD di atas, PPHLN melakukan penggantian (reimbursement)
untuk Rekening BUN pada BI serta mengirimkan asli debet advice kepada
Menteri Keuangan cq. Ditjen Anggaran dengan tembusan kepada BI.
 Berdasarkan debet advice, Dirjen Anggaran menerbitkan SPM dan
disampaikan kepada BI.
 Atas dasar SPM di atas, BI membuat Nota Perhitungan dan membukukan :
Debet : Rekening BI
Kredit : Rekening BUN
 Nota Perhitungan dimaksud segera disampaikan kepada Dirjen Anggaran,
Pimpro, dan dalam hal proyek dibiayai melalui SLA (NPPP), disampaikan
kepada Dirjen LK.
SKEMA PEMBIAYAAN PENDAHULUAN

1 4
DJLK DJA PPHLN
6

4A 2 7
8
10

BANK INDONESIA
6A
REKENING BUN

DEBET KREDIT 5

9

3

PROYEK REKANAN
KETERANGAN SKEMA PEMBIAYAAN
PENDAHULUAN :

1. Pimpro/pejabat yang berwenang mengajukan Surat Permintaan Pembiayaan
Pendahuluan (SP3) disertai KPBJ dan DIP/dokumen yang dipersamakan serta
dokumen pendukung lainnya kepada DJA.
2. DJA menerbitkan SPM Pembiayaan Pendahuluan (SPM-PP) dan dikirim ke BI.
3. Atas dasar SPM-PP, BI memindahbukukan dari rekening BUN ke rekening
rekanan atau ke rekening Benpro.
4. DJA mengajukan Aplikasi Penarikan Dana (APD) kepada PPHLN dilampiri SPM-PP
dan dokumen pendukung lainnya yang dipersyaratkan oleh PPHLN.
4A. DJA mengirim tembusan APD kepada BI.
5. Atas dasar APD, PPHLN melakukan reimbursement untuk Rekening BUN pada BI.
6. PPHLN mengirim asli debet advice kepada DJA.
6A. PPHLN mengirim tembusan debet advice kepada BI.
7. Atas dasar debet advice, DJA menerbitkan SPM dan dikirim ke BI.
8. Atas dasar SPM, BI membuat Nota Perhitungan Rekening BUN dan dikirim ke
DJA.
9. BI mengirim Nota Perhitungan ke Proyek.
10. Dalam hal proyek dibiayai melalui NPPP, BI mengirim Nota Perhitungan kepada
DJLK.
TATACARA PENCAIRAN PHLN MELALUI
PEMBAYARAN LANGSUNG

 Berdasarkan KPBJ, Pimpro atau Pejabat yang berwenang
menyampaikan Aplikasi Penarikan Dana (APD) kepada PPHLN melalui
Dirjen Anggaran dengan tembusan kepada BI dan melampirkan KPBJ.
 Berdasarkan APD, PPHLN melakukan pembayaran langsung kepada
rekening rekanan serta mengirimkan asli debet advise kepada Menteri
Keuangan cq. Dirjen Anggaran dan tembusannya kepada BI. Dalam hal
PHLN diteruspinjamkan melalui NPPP, Dirjen Anggaran mengirimkan
rekaman debet advice kepada Dirjen. Lembaga Keuangan.
 Atas dasar debet advice, Dirjen Anggaran menerbitkan SPM sebagai
dasar pengeluaran dan penerimaan APBN sebesar nilai ekuivalen rupiah
kepada Bank Indonesia.
 Berdasarkan SPM tersebut, BI membuat Nota Perhitungan yang
mencantumkan nomor dan tanggal SPM dan membukukan :
Debet : Rekening BUN
Kredit : Rekening BUN
 Nota Perhitungan dimaksud disampaikan kepada Dirjen Anggaran,
Pimpro atau pejabat yang berwenang, dan dalam hal PHLN
diterspinjamkan melalui NPPP disampaikan pula kepada Dirjen LK.
SKEMA PEMBAYARAN LANGSUNG

6-VALAS KORESPONDEN
REKANAN BANK “A” BANK “A”
5

6A DEPOSITORY
1
DARI PPHLN

REKENING BI 5A
BANK INDONESIA
DI LUAR NEGERI

Nota
perhitungan

4
Tembusan
debet advice
APD

SPM
2 MENKEU
PROYEK 3 PPHLN
KPKN JAKARTA VI
KPBJ APD
KETERANGAN SKEMA PEMBAYARAN
LANGSUNG:

1. Rekanan mengajukan tagihan kepada Proyek.
2. Proyek mengajukan APD ke DJA cq. KPKN Jakarta VI.
3. KPKN Jakarta VI meneruskan APD ke PPHLN.
4. PPHLN memberi perintah membayar melalui depository Bank-nya.
5. Apabila pembayaran dalam bentuk valas ditransfer ke koresponden
bank “A” (di Luar Negeri).
5A. Apabila pembayaran dalam rupiah ditransfer ke rekening BI di luar
negeri dalam bentuk valas dan pemberitahuan ke BI Pusat.
6. Bank “A” (bank-nya rekanan) menerima transfer dari ban koresponden.
6A. BI mentransfer ke rekening rekanan di Bank “A” dalam bentuk rupiah.
7. Bank “A” melakukan pembayaran ke rekanan.
TATACARA PEMBAYARAN MELALUI
REKENING KHUSUS

 Dirjen Anggaran membuka Rekening Khusus (RK) pada BI atau
Bank Pemerintah lain yang ditunjuk Menteri Keuangan, untuk
selanjutnya mengajukan initial deposit kepada PPHLN untuk
kebutuhan pembiayaan proyek selama periode tertentu atau
sejumlah yang ditentukan dalam NPPHLN untuk dibukukan ke
dalam RK.
 Pimpro/Pejabat yang berwenang mengajukan SPP dilampiri
dengan dokumen pendukung kepada Dirjen Anggaran (KPKN).
 Berdasarkan SPP dimaksud, Dirjen Anggaran (KPKN) menerbitkan
SPM-RK dan disampaikan kepada BI atau Bank Pemerintah lainnya
yang ditunjuk Menteri Keuangan.
 Atas dasar SPM-RK dimaksud, BI/Bank Pemerintah lain yang
ditunjuk MK membebani RK untuk dipindahbukukan ke Rekening
Rekanan/Bendahara Proyek. Dalam hal proyek dibiayai melalui
NPPP, BI/Bank Pemerintah lain yang ditunjuk MK menyampaikan
tembusan nota debet RK kepada Dirjen Lembaga Keuangan.
 Dirjen Anggaran mengajukan permintaan pengisian kembali RK
(replenishment) kepada PPHLN dilampiri dengan dokumen
pendukung yang dipersyaratkan masing-masing PPHLN.
TATACARA PEMBAYARAN MELALUI
REKENING KHUSUS (Lanjutan)

 Berdasarkan debet advice atas transfer Initial Deposit dan
Replenishment yang diterima dari PPHLN :
 BI membuat :

• Nota pemindahbukuan uang :
• Debet : Rekening Bank Koresponden
• Kredit : Rekening Khusus
• Berdasarkan Surat Kuasa Pembebanan (SKP) Menteri Keuangan, BI
membukukan Nota Perhitungan PHLN :
• Debet : Rekening BUN
• Kredit : Rekening BUN
Dalam nota perhitungan dicantumkan nomor dan tanggal APD.
Atau
 Bank Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan membuat :
• Nota pemindahbukuan uang :
• Debet : Rekening Bank Koresponden
• Kredit : Rekening Khusus
• Laporan Nota Perhitungan PHLN disampaikan segera kepada Dirjen
Anggaran.
TATACARA PEMBAYARAN MELALUI
REKENING KHUSUS (Lanjutan)

 Dirjen Anggaran menyampaikan Laporan Nota Perhitungan
kepada BI untuk dibukukan :
 Debet : Rekening BUN
 Kredit : Rekening BUN
 BI menyampaikan Nota Perhitungan kepada Dirjen Anggaran,
Pimpro, dan Dirjen LK dalam hal proyek dibiayai melalui NPPP.
 Berdasarkan SPM-RK dan Nota Debet, Dirjen Anggaran
membukukan seluruh realisasi SPM-RK sebagai pengeluaran dan
sekaligus penerimaan PHLN.
SKEMA PEMBAYARAN MELALUI
REKENING KHUSUS

3 15
LENDER
12
REKANAN
11
2 BPKP
BI 9 4
REK. KHUSUS 7A
PROYEK 14
11 DJA
KPKN JKT VI
6 13 FISSA
8
3A 5
10
10

7
KPKN
KCBI 3A
KCBI
7B

7

KPKN
BOI
NON KCBI

7B
KETERANGAN CHART :

1. Atas dasar NPHLN DJA cq. Dit. TUA mengajukan permintaan
pembukaan Rekening Khusus (Reksus) ke BI.
2. Setelah Reksus dibuka, sesuai ketentuan dalam NPHLN DJA (Dit. DLN)
mengajukan permintaan Initial Deposit kepada Lender.
3. PPHLN mengisi dana Initial Deposit ke Reksus di BI.
3A SE DJA disampaikan ke KPKN KCBI dan non KCBI.
4. Rekanan mengajukan tagihan ke Proyek.
5. Proyek mengajukan tagihan ke KPKN.
6. Atas dasar SPP Proyek, KPKN menerbitkan SPM-RK atas beban Reksus
atau rekening BUN dikirim ke BI.
7. Atas dasar SPP proyek, KPKN KCBI/Non KCBI menerbitkan SPM dan
dikirim ke KCBI/BO I.
7A Atas dasar SPM yang diterbitkan SPM yang diterbitkan KPKN Jkt VI, BI
melakukan pembayaran :
• Kepada Rekanan untuk SPM-LS atas beban reksus ;
• Kepada Benpro untuk SPM-GU atas beban reksus ;
• Kepada Benpro untuk SPM-DU/TU atas beban rekening BO I.
KETERANGAN CHART (lanjutan) :

7B. Atas dasar SPM yang diterbitkan KPKN, KCBI BO I melakukan pembayaran :
Kepada Rkanan untuk SMP-LS atas beban reksus ybs. di BI Pusat ;
• Kepada Benpro untuk SPM-GU atas beban reksus ybs. di BI Pusat ;
• Untuk KPKN Non KCBI yang dikirim ke KCBI adalah Surat Perintah Pembebanan (SPB).
8. KCBI mengirim Nota Debet dengan teleks (NDT) ke BI Pusat untuk perhitungan reksus
atas SPM-SPM KPKN (GU dan LS) serta atas dasar SPB dari KPKN Non KCBI.
9. BI mengirim laporan Rekening Khusus untuk masing-masing reksus dan Laporan
Rekening Antara ke DJA.
10. KPKN KCBI/Non KCBI setiap hari Senin mengirim lembar ke-4 semua SPM BLN yang telah
diterbitkan minggu sebelumnya beserta dokumen pendukungnya ke DJA.
11. DJA/Dit. DLN mengajukan aplikasi :
• Replenishment dalam jumlah valas untuk semua SPM PHLN KPKN yang telah membebani reksus beserta
dokumen pendukungnya kepada PPHLN untuk mengisi kembali dana RK.
• Reimbursement dalam jumlah Rupiah/Valas untuk semua SPM PHLN KPKN yang telah membebani Rekening
Antara (BUN) beserta dokumen pendukungnya kepada PPHLN untuk mengganti dana Rekening BUN.
8. PPHLN mentransfer dana ke reksus atau ke rekening BUN.
9. Pada setiap akhir tahun anggaran, Dit. DLN menyususn FISSA atas dasar
semua aplikasi replenishment dan reimbursement yang telah dilakukan selama
satu tahun anggaran ybs. dan atas dasar laporan Reksus selama satu tahun
anggaran.
KETERANGAN CHART (lanjutan) :

14. BPKP mengadakan audit menurut ketentuan yang berlaku terhada
Financial Statement on Special Account (FISSA) yang disusun Dit. DLN.
15. Hasil audit FISSA oleh BPKP disampaikan ke PPHLN.
TATACARA PEMBAYARAN MELALUI
PEMBUKAAN L/C

 Pimpro/Pejabat yang berwenang mengajukan Surat Permintaan
Penerbitan Surat Kuasa Pembebanan (SPP-SKP) sebesar bagian
nilai KPBJ yang memerlukan pembukaan L/C kepada Menteri
Keuangan cq. Dirjen Anggaran (KPKN Jakarta VI) dengan
melampirkan KPBJ.
 Berdasarkan SPP-SKP, Menkeu cq. Dirjen Anggaran (KPKN Jkt VI)
menerbitkan SKP dan mengirimkan kepada BI dengan tembusan
kepada Dirjen Bea dan Cukai (DJBC) – Pejabat Eselon I yang
bersangkutan dan Pimpro atau Pejabat yang berwenang.
 Berdasarkan SKP, Pimpro atau Pejabat yang berwenang
memberitahukan kepada rekanan atau importir sebagai kuasa
dari rekanan untuk membuka L/C. Selanjutnya, rekanan/importir
sebagai kuasa dari rekanan yang ditunjuk mengajukan
permintaan pembukaan L/C kepada BI dengan melampirkan daftar
barang yang akan diimpor (master list) yang dibuat dan atau
disetujui Pimpro serta KPBJ.
TATACARA PEMBAYARAN MELALUI
PEMBUKAAN L/C (Lanjutan)

 Atas dasar SKP dan permintaan pembukaan L/C dari rekanan atau
importir, BI mengajukan permintaan kepada PPHLN untuk
menerbitkan pernyataan kesediaan melakukan pembayaran
(Letter of commitment).
 BI membuka L/C kepada Bank Koresponden dan tembusan
dokumen pembukaan L/C disampaikan kepada Dirjen Anggaran.
 Berdasarkan pembukaan L/C dari BI, Letter of Commitment atau
dokumen yang disamakan dari PPHLN, dan dokumen realisasi L/C,
Bank Koresponden melakukan penagihan kepada PPHLN untuk
dibayarkan kepada rekanan atau pemasok.
 PPHLN melaksanakan pembayaran kepada Bank Koresponden dan
mengirimkan debet advice kepada BI. Selanjutnya, BI mengirimkan
rekaman debet advice kepada Dirjen Anggaran, dan dalam hal
PHLN diteruskan sebagai NPPP, rekaman debet advice dikirimkan
pula kepada Dirjen LK.
TATACARA PEMBAYARAN MELALUI
PEMBUKAAN L/C (Lanjutan)

 Berdasarkan dokumen realisasi L/C yang diterima dari
Bank Koresponden serta SKP dari Menkeu, BI membuat
Nota Disposisi L/C dan Nota Perhitungan serta
membukukan :
 Debet : Rekening BUN
 Kredit : rekening BUN
Dalam Nota Perhitungan dicantumkan nomor dan tanggal L/C
serta nomor dan tanggal SKP.
 Nota Perhitungan dan Nota Disposisi L/C, disampaikan
kepada Dirjen Anggaran dan Pimpro atau pejabat yang
berwenang. Dalam hal PHLN diteruspinjamkan melalui
NPPP, disampaikan pula kepada Dirjen LK.
 Atas dasar Nota Perhitungan, Dirjen Anggaran
menerbitkan Surat Perintah Membayar Pengesahan
(SPMP).
SKEMA PEMBAYARAN MELALUI
LETTER OF CREDIT

3

REKANAN/ 8A
PROYEK 4 SUPPLIER
IMPORTIR

14

1 8

2 BI 6A
7
REK. BUN PPHLN
DJA 6 BANK
12 L/C
KORESPONDEN
10
Debet Kredit
16 9A
13 5

13A

11

DJLK 15
KETERANGAN SKEMA PEMBUKAAN L/C :

1. Proyek mengajukan Surat Permintaan Penerbitan Surat Kuasa
Pembebanan (SPP-SKP) kepada Menteri Keuangan cq. DJA (KPKN
Khusus Jkt VI) disertai KPBJ.
2. DJA/KPKN Khusus Jakarta VI menerbitkan SKP dan mengirimkan ke BI.
3. Pimpro memberitahukan kepada rekanan/importir ybs.
4. Rekanan atau importir yang diberi kuasa oleh rekanan, atas dasar KPBJ
dan master list yang disetujui oleh Pimpro mengajukan permintaan
pembukaan L/C kepada BI.
5. BI mengajukan permintaan kepada PPHLN untuk menerbitkan
pernyataan kesediaan melakukan pembayaran (letter of commitment).
6A PPHLN menerbitkan Special of Commitment/Letter of Commitment dan
kemudian disampaikan kepada Bank Koresponden mitra BI dalam
membuka L/C.
6. Atas dasar SPKBJ dan permintaan pembukaan L/C dari
rekanan/importir disertai master list. BI melaksanakan pembukaan L/C.
7. BI menyampaikan tembusan dokumen pembukaan L/C kepada DJA
dengan diberi keterangan : (1) Nama dan Kode Proyek, (2) Tanggal,
dan (3) Tahun Anggaran.
KETERANGAN SKEMA PEMBUKAAN L/C
(lanjutan) :

8A. Rekanan/importir melaksanakan impor barang dari Supplier luar
negeri.
8. Atas dasar pembukaan L/C dari BI dan Letter of Commitment serta
dokumen realisasi L/C, Bank Koresponden melakukan pembayaran
kepada rekanan/supplier luar negeri.
9A. Bank Koresponden menyampaikan realisasi L/C.
9. Dengan telah dilakukannya pembayaran kepada rekanan, Bank
Koresponden melakukan penagihan kepada PPHLN.
10. PPHLN melaksanakan pembayaran kepada Bank Koresponden.
11. PPHLN mengirimkan debet advice atas pembayaran Bank Koresponden
kepada BI.
12. BI menyampaikan rekaman Debet Advice kepada DJA.
13A. Dalam hal proyek dibiayai melalui NPPP, rekaman debet advice
disampaikan juga kepada DJLK.
13. Atas dasar realisasi L/C dan SKP, BI membuat Nota Disposisi L/C dan
Nota Perhitungan Rekening BUN, serta mengirimkan nota perhitungan
dimaksud yang telah diberi keterangan tanggal dan nomor L/C serta
tanggal dan nomor SKP kepada DJA.
KETERANGAN SKEMA PEMBUKAAN L/C
(lanjutan) :

14. BI menyampaikan Nota Perhitungan (NP) kepada Proyek.
15. Dalam hal proyek dibiayai melalui NPPP, NP juga dikirimkan kepada
DJLK.
16. Atas dasar nota perhitungan yang diterima dari BI, DJA menerbitkan
SPM pengesahan (SPM-P) sebagai realisasi PHLN dan dikirim kepada BI.
The
The
end
end
Thank
Thank
You
You
for being patient and
kind attention