You are on page 1of 56

ª    

 
  

Fath Nasyarah Galuhningtyas
030.05.093
FK USAKTI
Þ ÞÞ
, Nama : Tn. P
, Usia : 50 tahun
, Jenis Kelamin : Laki-laki
, Status Perkawinan : Menikah
, Pekerjaan : Pensiunan
, Alamat : Gg. Paculang RT
04/010, Kebon Pedes, Bogor
, Tanggal Masuk : 23 Juli 2009
, Suku Bangsa : Sunda
, Pendidikan : S1 

, Autoanamnesa pada hari Kamis, 23 Juli
2009, pukul 10.00 WIB
, Keluhan Utama : Benjolan pada paha
kiri sejak 3 bulan SMRS
, Keluhan Tambahan : Lutut kiri kaku,
kurang bisa menekuk
    


s datang dengan keluhan terdapat benjolan pada
pertengahan paha kiri sejak 3 bulan SMRS. Benjolan dirasakan
membesar, keras, dan tidak nyeri bila dipegang. Lutut kiri juga
dirasakan kaku dan kurang bisa menekuk.
s mengaku 6 bulan SMRS mengalami patah tulang pada
paha kiri akibat KLL. Ketika itu os sedang mengendarai sepeda
motor dan tertabrak angkutan umum dari belakang saat
menghindari perbaikan jalan. s pingsan < 5 menit. Ketika
sadar os tidak dapat berdiri dan melihat paha kirinya bengkok
ke arah luar disertai nyeri hebat. s tidak ingat bagaimana
posisi os jatuh namun ia menduga paha kirinya terlindas ban
angkutan umum karena ada jejak ban mobil pada celananya.
Tidak terdapat luka dan tulang yang mencuat keluar pada paha
kirinya. Muntah (-), Mual (-), Keluar darah dari
hidung,mulut,telinga (-), BAK lancar, BAB lancar, Pusing (+).
Benturan di kepala tidak diingat os. s memakai helm.
Kemudian os dibawa ke RS PMI oleh penduduk
sekitar dan didiagnosis patah tulang pada paha
kirinya. s dianjurkan untuk operasi namun os
menolak dan memilih untuk berobat alternatif ke
Cimande. leh pengobatan alternatif kaki kiri os
dibalut dan diberi papan selama 3 bulan sehingga os
banyak menghabiskan waktunya berbaring di tempat
tidur.
Bulan ke 4 os menyadari adanya benjolan pada
paha kirinya. Benjolan dirasakan membesar, keras,
dan tidak nyeri bila dipegang. s juga mulai berjalan
dengan memakai tongkat. Sejak itu os menyadari
bahwa lutut kirinya kaku dan tidak bisa menekuk
lututnya maksimal terutama saat berjalan sehingga
aktivitasnya terbatas. Nyeri lutut saat berjalan dan
menekuk (-), bengkak (-), demam (-).
, Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat trauma (-), DM (-), TBC (-
),Jantung (-), hipertensi (-), A genu
dextra (+), asam urat (+), maag (+)
, Riwayat Penyakit Keluarga
(-)
, Riwayat Kebiasaan
Merokok 4 batang perhari
, Riwayat Alergi bat :
(-) 
  

k  k k
Tanda Vital
‡Tekanan darah : 120/80 mmHg
‡Nadi : 84 x/menit, irama reguler
‡Suhu tubuh : 36,3oC, di aksila kanan
‡Frekuensi nafas : 22 x/menit

Keadaan Umum
‡Kesadaran : sakit ringan, compos mentis
‡Postur tubuh : asthenikus
‡Status gizi : cukup
‡Cara bicara : aktif
‡Cara berbaring : aktif, tidak terpaku pada satu sisi
‡Sikap : kooperatif
‡edem : (-)
‡Dyspnoe : (-)
‡ Cianosis : (-)
‡ Dehidrasi : (-) 
  k 
 

‡ Bentuk kepala : normocephali
‡ Rambut : beruban, distribusi merata, tidak mudah dicabut
‡ Wajah : simetris, deformitas (-), sianosis (-), hematom (-),
jaringan parut (-)
‡ Mata : CA -/-, SI -/-, pupil bulat, isokor, RCL +/+, RCTL +/+,
oedem palpebra (-)
‡ Telinga : normotia, nyeri tekan tragus dan mastoid (-), oedem (-
), serumen (+) minimal
‡ Hidung : simetris, deviasi septum (-), oedem mukosa (-), sekret
(-)
‡ Bibir : simetris, sianosis (-), schizis (-)
‡ Mulut dan Tenggorokan : mukosa gusi tidak ada tanda radang,
lidah tidak kotor, hiperemis (-), lidah tidak tremor, uvula simetris,
terletak di tengah, deviasi uvula (-)
‡ Gigi : lengkap, caries (-), kalkulus (-) 

Bentuk simetris, KGB tidak teraba membesar, trakea terletak lurus di
tengah, kelenjar tiroid simetris dan tidak teraba membesar 

S1,S2 reguler
Murmur ±
Gallop - 

Suara napas vesikuler,
Rhonki -/-,
Wheezing -/- 

 
simetris, perut datar, sikatriks (-)
supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar dan lien tidak teraba
membesar, ballottement (-), defence muscular (-)
nyeri ketuk (-), shifting dullness (-), timpani
bising usus (+) normalEkstremitas : akral hangat (+), oedem (-) 


Lihat status lokalis
k  k  k 

    
  k
Look :
‡asimetris pada tungkai kanan dan kiri
‡tungkai kiri lebih pendek dari tungkai kanan
‡deformitas di femur sinistra, terlihat benjolan berukuran 15 x 5 x 3
cm
‡diameter genu kiri lebih besar dari genu kanan
‡warna kulit sama dengan sekitar
‡oedem (-)

Feel:
‡Pulsasi a.dorsalis pedis dan a.tibialis posterior teraba
‡Motorik : Mampu melawan gravitasi dan tahanan pemeriksa
‡Sensibilitas : baik
‡Suhu kulit hangat
‡Nyeri tekan ( - )
Move :
Range of motion (RM) :
a. Aktif b.Pasif
‡Fleksi panggul (+) ‡Fleksi panggul (+)
‡extensi panggul (+) ‡extensi panggul (+)
‡ abduksi panggul (+) ‡abduksi panggul (+)
‡adduksi panggul (+) ‡ adduksi panggul (+)
‡eksorotasi panggul (+) ‡eksorotasi panggul (+)
‡endorotasi panggul (+) ‡endorotasi panggul (+)
‡fleksi lutut (+) 30¶ ‡fleksi lutut (+) 40¶
‡ekstensi lutut (+) ‡ekstensi lutut (+)

Power :
Grade 5 : Dapat menggerakan
sendi, dapat melawan
pengaruh gravitasi serta dapat
melawan tahanan yang
dilakukan pemeriksa. 
    

LABRATRIUM
Pemeriksaan Hasil Normal
, Hemoglobin 11,6 g/dl 13-18 g/dl
, Hematokrit 35 % 40-54 %
, Leukosit 3880/mm3 4000-10000/mm3
, Trombosit 260000/mm3 150000-400000/mm3
, Bleeding time 2 menit 1-3 menit
, Clotting time 6 menit sp-7 menit
FT RNTGEN
Rontgen pelvis : tidak tampak adanya fraktur
Rontgen femur sinistra AP/Lateral :

Deskripsi:
terdapat garis fraktur oblik dengan displacement
angulasi 45{ dengan kalus
Kesan:
malunion pada 1/3 tengah os femur sinistra.
 
Pasien laki-laki, 50 tahun dengan keluhan
benjolan pada paha kiri yang membesar, keras, dan
tidak nyeri bila dipegang sejak 3 bulan SMRS.
Riwayat patah tulang paha kiri 6 bulan SMRS karena
Kecelakaan Lalu Lintas dan berobat ke pengobatan
alternatif. 3 bulan SMRS pasien berjalan dengan
memakai tongkat. Sejak itu os menyadari bahwa lutut
kirinya kaku dan tidak bisa menekuk lututnya
maksimal terutama saat berjalan sehingga
aktivitasnya terbatas. Lutut kiri kaku dan tidak bisa
menekuk maksimal. Nyeri lutut saat berjalan dan
menekuk (-), bengkak (-), demam (-). Aktivitas
terbatas.
k  k  k 

    
  k
Look :
‡asimetris pada tungkai kanan dan kiri
‡tungkai kiri lebih pendek dari tungkai kanan
‡deformitas di femur sinistra, terlihat benjolan berukuran 15 x 5 x 3
cm
‡diameter genu kiri lebih besar dari genu kanan
‡warna kulit sama dengan sekitar
‡oedem (-)

Feel:
‡Pulsasi a.dorsalis pedis dan a.tibialis posterior teraba
‡Motorik : Mampu melawan gravitasi dan tahanan pemeriksa
‡Sensibilitas : baik
‡Suhu kulit hangat
‡Nyeri tekan ( - )
Move :
Range of motion (RM) : FT RNTGEN
a. Aktif
‡fleksi lutut (+) 30¶
‡ekstensi lutut (+)

b.Pasif
‡fleksi lutut (+) 40¶
‡ekstensi lutut (+)

Power :
Grade 5 : Dapat menggerakan
sendi, dapat melawan Deskripsi:
pengaruh gravitasi serta dapat terdapat garis fraktur oblik dengan
melawan tahanan yang displacement angulasi dengan
kalus
dilakukan pemeriksa.
Kesan:
malunion pada 1/3 tengah os femur
sinistra.
4 

, Malunion neglected fracture 1/3 tengah
os femur sinistra, contracture genu
sinistra 
Þ 


, Pemeriksaan golongan darah dan
cross-match
, Pemeriksaan radiologi : rontgen thorax
dan rontgen femur post operasi
, EKG   

‡ bservasi keadaan umum
‡ RIF : refrakturisasi, osteotomi koreksi, dekortikasi,
fiksasi internal dengan plate and screw, bone
grafting
‡ IVFD RL
‡ Cek DPL
‡ Ceftriakson 2x1 g i.v
‡ Ketorolac 2x1 i.v
‡ Ranitidin 2x1 i.v
‡ Transfusi PRC
‡ Bed rest 24 jam pertama
‡ Fisiotherapi 
Þ

, Ad vitam : Bonam
, Ad functionam : Dubia ad bonam
, Ad sanationam : Dubia ad bonam     

, Fraktur adalah terputusnya
hubungan/kontinuitas struktur tulang
atau tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa.1
, Fraktur adalah hilangnya kontinuitas
tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis, baik yang bersifat total
maupun yang parsial.
%   % 
, Batang femur adalah region yang dimulai dari 5 cm
distal dari trochanter minor sampai dengan 9 cm di
atas sendi lutut.4
, laki-laki >>, usia 25-65 tahun, insidens sekitar 10.000
orang per tahun.
, Biasa terjadi karena trauma langsung akibat
kecelakaan lalu lintas, pejalan kaki yang tertabrak
oleh kendaraan, jatuh dari ketinggian, atau akibat
luka tembak.
, Patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan
penderita jatuh dalam shock. 3

Þ%Þ 
Þ%  

%
}  
 
, Fraktur tertutup (simple fracture)
, Fraktur terbuka (compound fracture)
- Derajat I
- Derajat II
- Derajat III
- III A fragmen tulang masih dibungkus jaringan lunak,
- III B fragmen tulang tak dibungkus jaringan lunak
terdapat pelepasan lapisan periosteum, fraktur
kominutif,
- III C trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar
bagian distal dapat dipertahankan, terjadi kerusakan
jaringan lunak hebat.
, Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) 
   


, Tipe A: fraktur extra-articular
, 1 - Avulsion fracture
, 2 - Complete fracture
, 3 - Comminuted fracture 

 ! "  # 
, Tipe B : fraktur pada intra-articular dan single condyle

, 1 - Simple
, 2 - Crush/depression
, 3 - Comminuted - split depression 

 ! "  #
, Type C: fraktur pada intra-articular dan kedua
condyle
, 1 - Simple
, 2 - Crush/depression
, 3 - Comminuted - split depression 
  4"

, Tipe 
  4"

, Derajat cominutif
Contoh: non-comminuted or mildly
comminuted or severely comminuted

, Lokasi: 1/3 proximal, 1/3 medial, 1/3
distal femur
, Displacement: displasi,distraksi,
angulasi, impaksi 
  $"
, Tipe I : kominutiv minimal <25 %
atau tidak ada kominutiv
Tipe II : fragmen berbentuk segitiga (buterfly)
50% atau kurang dari lebar tulang
, Tipe III : fraktur batang femur kominutif
dengan butterfly fragmen >
50% lebar tulang
, Tipe IV : fraktur batang femur kominutif
seluruh segmen tulang
, Tipe V : fraktur kominutif dengan
hilangnya segmen tulang  
ª
, Trauma ¥kecelakaan motor, tabrak lari,
jatuh dan luka tembak
Fraktur akibat trauma dibagi menjadi:
-Kekerasan langsung
-Kekerasan tidak langsung
-Kekerasan akibat tarikan otot
, Fraktur patologis¥ osteoporosis dan
metastasis kanker
, Fraktur stress  

4

, Fraktur spiral :jatuh dengan posisi kaki
tertambat sementara daya pemuntir
ditransmisikan ke femur
, Fraktur melintang: penekukan atau benturan
langsung
, Fraktur kominutif dan segmental: benturan
keras disertai penekukan dan penekanan
, Fraktur oblik: Kombinasi dari pemuntiran,
penekukan
, Fraktur impaksi:Tekanan sepanjang aksis
tulang
, Trauma karena tarikan pada ligament atau
tendo akan menarik sebagian tulang.  

 ª
,  6
, Riwayat cedera,ketidakmampuan
menggunakan tungkai yang mengalami
cedera, Umur pasien dan mekanisme cedera
, Nyeri, memar dan pembengkakan
, Deformitas: seluruh tungkai bawah terotasi
keluar, terlihat lebih pendek
, Penderita fraktur batang femur tidak dapat
bangun, bukan saja karena nyeri, tetapi juga
karena ketidak stabilan fraktur. 
  

,  
  
 
, Syok atau perdarahan
, Kerusakan yang berhubungan dengan
otak, medula spinalis
, Penyebab predisposisi (misalnya
penyakit paget)
 
  

, a. Look : Pembengkakan, memar dan deformitas
(penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi,
pemendekan), ada tidaknya kulit robek dan
, b. Feel : Status neurologis dan vaskuler di bagian
distalnya perlu diperiksa. Pemeriksaan meliputi
persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang
mengalami nyeri tekan setempat, efusi, dan krepitasi.
Cek pulsasi arteri di distal fraktur, warna kulit,
pengembalian cairan kaplier (Capillary refill
test) sensasi.
, c. Movement :Krepitus, nyeri dan gerakan abnormal
dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk
menanyakan apakah pasien dapat menggerakan
sendi ± sendi dibagian distal cedera. 
     

  
, darah rutin, faktor pembekuan darah,
golongan darah, " , dan urinalisa.   

   
, 2 gambaran
, 2 sendi
, 2 ekstremitas
, 2 kesempatan
, 2cedera, 

ª   

, 
 
, Recognition
, Reduction
, Retention
, Rehabilitation 

  
, skin traksi: } "  
atau
pemakaian Thomas splint, tungkai
diekstraksi dalam keadaan ekstensi.
, Setelah traksi kulit dapat dipilih
pengobatan non operatif atau operatif 

  
,  
 
, Skeletal traksi selama 12 minggu

,
 
, pen reduction and internal fixation (RIF) 3
, Indikasi RIF:
, fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi
, fraktur yang tidak stabil dan cenderung mengalami pergeseran
kembali setelah direduksi
, fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan-lahan
, fraktur patologik
, fraktur multiple
, fraktur pada pasien yang sulit perawatannya 


, Penahanan >>,gerakan >>, kecepatan
>>, keamanan <<
, Risiko infeksi tergantung dari pasien,
ahli bedah dan fasilitas yang tersedia.
, Fragmen tulang yang telah direposisi
dapat dapat difiksasi dengan screw,
plate dengan screw, dan intramedullary
nail. 

   

, Penatalaksanaan pada fraktur terbuka
dilakukan dengan cara:
, Pembersihan luka
, Eksisi jaringan yang mati dan tersangka
mati (debrideman)
, Pengobatan fraktur itu sendiri.
, Penutupan kulit
, Pemberian antibiotik
, Pencegahan tetanus 
ª 

 

 

, Syok , Delayed union
, Emboli lemak , Non union
, Cedera pembuluh , Malunion
darah , steomielitis
, tromboemboli , Kekakuan sendi
, Infeksi
% 
ª 

, Latihan fisiologis otot
, Mobilisasi sendi
, Massage
, Pemanasan dan terapi listrik
, Latihan jalan
, 1. Non Weight Bearing
, 2. Partial Weight Bearing
, 3. Full Weight Bearing 

ª 
, Fraktur yang penyambungannya
menimbulkan deformitas ¥memendek,
terputar, atau angulasi
, Penyebabnya: primer dan sekunder
, Gejalanya dapat berupa deformitas,
nyeri, pembengkakan, dan kurang
dapat menahan beban
 "    

, Reduksi terbuka untuk mengembalikan
posisi dengan cara osteotomi koreksi
atau refraktur, dan menstabilkan fraktur
menggunakan fiksasi internal
, Bone graft untuk merangsang
pertumbuhan tulang
, Pemendekan¥ sepatu yang ditinggikan    

4
‡akibat cedera pada sendi atau imobilisasi lama
‡Perlengketan peri artikuler, perlengketan
intraartikuler, perlengketan antara otot dan
tendon.
‡Pencegahan ¥ perpendek waktu imobilisasi dan
melakukan latihan aktif dan pasif pada sendi
‡Penatalaksanaan¥ terapi pemanasan dan
latihan, manipulasi sendi yang dilakukan
dengan anestesi, dan pembedahan.
‡Pemendekan menjadi masalah utama ¥ sepatu
yang ditinggikan 
Terapi pemanasan dan latihan 
Manipulasi sendi di bawah anastesi 

Pembedahan dilakukan untuk melepaskan
perlengketan, memanjangkan otot yang kontraktur
dan penggantian sendi. 
%  


, %  
, Terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang yang
disebabkan terputusnya pembuluh darah pada tulang
dan periost. Perdarahan ini akan memebentuk
hematoma disekitar dan di dalam fraktur, dan yang
tidak mendapat persediaan darah akan mati
sepanjang satu atau dua millimeter. Fase ini
berlangsung selama 2-3 minggu setelah fraktur.
,
, %  

 
   
, Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal, yang
menonjol adalah proliferasi sel-sel lapisan dalam
periosteal dekat daerah fraktur. Hematoma terdesak
dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan
aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas
sel-sel dari kanalis medularis masing-masing
fragmen.
, Proses dari periosteum dan kanalis medularis dari
masing-masing fragmen bertemu dalam satu proses
yang sama sehingga menjembatani permukaan
fraktur satu sama lain. Pada fase ini sudah terjadi
pengendapan kalsium.
, % 
  

 ¥
, Pada fase ini terbentuk kalus fibrosa dan
disini tulang menjadi osteoporotik akibat
resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel
osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler
yang segera bersatu dengan garam-garam
kalsium, membentuk tulang immature atau
young callus
, Pada akhir stadium terdapat 2 macam kalus
internal callus dan diluar disebut external
callus. 
 &  '()) *+,-
, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature)
dengan pembentukan lamela-lamela.
, Terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary
callus.
, Secara berangsur-angsur primary bone callus
diresorbsi dan diganti dengan second bone callus
yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang
normal.
Kekuatan kalus ini sama dengan tulang biasa. Fase
ini terjadi pada minggu ke 8-12 setelah fraktur.
% 
  
, union sudah lengkap, tulang baru yang
terbentuk pada umumnya berlebihan,
mengelilingi daerah fraktur.
, Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik
mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot
dan sebagainya, maka callus yang sudah
mature secara pelan-pelan terhisap kembali
dengan kecepatan yang konstan sehingga
terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya.
Fase ini terjadi 12 minggu setelah fraktur
terjadi. 
) ")

, teknik operasi untuk mengganti bagian
tulang yang hilang.
, alloplast, xenograft, allograft, auto graft.
, Mekanisme kerja :osteoconduction,
osteoinduction, dan osteogenesis. 
)!"&  "
, Neglected fraktur adalah fraktur yang
penanganannya lebih dari 72 jam.
, sering terjadi akibat penanganan fraktur pada
extremitas yang salah oleh bone setter
, Umumnya terjadi pada yang berpendidikan dan
berstatus sosioekonomi yang rendah.
, Di RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 1998-
2000 terdapat 56 penderita neglected fraktur dari
1244 kasus fraktur (4,,58 %). Kebanyakan mereka
datang setelah 1-2 bulan sejak kejadian fraktur.
Kelainan yang paling banyak dijumpai adalah
malunion (12,5%).
, Neglected fraktur dibagi menjadi
beberapa derajat, yaitu:
, Derajat 1 : fraktur yang telah terjadi
antara 3 hari -3 minggu
, Derajat 2 : fraktur yang telah terjadi
antara 3 minggu -3 bulan
, Derajat 3 : fraktur yang telah terjadi
antara 3 bulan ± 1 tahun
, Derajat 4 : fraktur yang telah terjadi
lebih dari satu tahun