You are on page 1of 88

SKENARIO 4

dermatofitosis
DIFFERENTIAL
DIAGNOSIS
Definisi Etiologi
Tinea Kruris Dermafitosis pada daerah
genitokrural, sekitar anus,
bokong dan perut bagian
bawah
Tyichophyton rubrum,
Trichophyton mentagrophytes,
dan Epidermophyton
floccosum. (tersering)

Tinea Korporis Dermatofitosis pada kulit
tubuh yang tidak berambut
(glabrous skin)
Tyichophyton rubrum dan
Trichophyton mentagrophytes
Kandidosis kutis Penyakit jamur, yang
bersifat akut atau subakut
pada daerah lipatan kulit
ketiak, lipat paha,
intergluteal, lipat mammae,
glans penis & umbilikus
Candida, biasanya oleh spesies
Candida albicans.
Gejala klinis Pengobatan
Tinea kruris -Gatal,
-Effloresensi: Vesikel, papul, skuama, erosi.
-Lesi berbatas tegas, dan peradangan pada
tepi
-Pada kerokan kulit didapatkan hifa,
Griseofulvin 0,5 – 1gr
(untuk dewasa), 10 –
25mg/kgBB/Hari untuk
anak - anak
Tinea korporis -Lesi berbentuk bulat atau lonjong, berbatas
tegas.
-Effloresensi: eritema, skuama, vesikel dan
papul di tepi. Erosi dan krusta.
-Gatal
- Pada kerokan kulit didapatkan spora yang
tersusun di luar atau di dalam rambut
Griseofulvin 0,5 – 1gr
(untuk dewasa), 10 –
25mg/kgBB/Hari untuk
anak - anak

Kandidosis kutis Lesi berupa bercak yang berbatas tegas,
berskuama, basah dan eritematosa.
Effloresensi: vesikel, pustul,bula, erosi.
Kerokan kulit/usapan mukokutan: terdapat sel
ragi, blastospora/ hifa semu
Topikal: larutan ungu
gentian /2 – 1% dioleskan
2x/hari selama 3 hari
Sistemik: tablet nistatin
MISETOMA
Definisi Penyakit kronik, supuratif dan
granulomatosa

Etiologi Eumisetoma

Gejala klinis Lesi kulit yang sirkumskrip dengan
edema spt tumor jinak dan harus
disertai butir – butir.
Fistel multiple, edema, abses
Pemeriksaan Inhibitory Mould agar:
terdapat fungi

Pengobatan Itrakonazol

TINEA KRURIS TINEA KORPORIS
KANDIDOSIS KUTIS
MISETOMA
Kulit merah dan bersisik
DIAGNOSIS BANDING
NON DERMATOFITOSIS
1. DERMATITIS KONTAK
adalah kondisi peradangan pada kulit yang disebabkan oleh
faktor eksternal, substansi-substansi partikel yang berinteraksi
dengan kulit

Gejala :
1. Eritema, vesikel, bula
2. Batas tidak tegas
3. Tepi& pinggir aktif
4. Edema
5. Skuama (kronis)
6. Reaksi cepat
2. PSORIASIS
Adalah penyakit inflamasi noninfeksius yang kronik pada kulit dimana
produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan kurang-lebih
enam hingga sembilan kali lebih besar daripada kecepatan yang
normal
Gejala klinis :
1. Plak berwarna merah
2. Skuama
3. Bila dikerok skuama akan memantulkan cahaya
4. Predileksi : lutut, siku, dan dasar tulang belakang
3. ERITRASMA
Adalah infeksi bakteri Corynebacterium minutissimum pada lapisan
superfisial kulit yang ditandai oleh lesi berwarna merah kecoklatan
dengan batas tidak tegas, didapatkan pada daerah inguinal, lipatan
paha dan di daerah ketiak

Gejala klinis :
1. Lesi berskuama
2. Plak berwarna merah kecoklatan

PEMERIKSAAN
&
WORKING DIAGNOSIS
anamnesis
• Sacred seven
• Lokasi
• Onset
• Kualitas
• Kuantitas
• Modifying factor
• Kronologis
• Keluhan lain
• Tinjauan umum & sistem
• RPD
• RPK
• RKP
Pemeriksaan efloresensi
• Lesi berbentuk bulat atau
lonjong
• Batas tegas aktif
• Pada tepi terlihat
• Vesikel dan eritema
• Terdapat skuama
• Tengah lesi tenang/central
healing
• Jika dimanipulasi oleh pasien
dapat ditemukan
• Erosi dan krusta
Pemeriksaan penunjang
• Lampu wood
• Kerokan kulit
• Lampu wood
• menghasilkan sinar ultraviolet 360 nm
(atau sinar “hitam”)
• digunakan untuk membantu evaluasi
penyakit-penyakit kulit dan rambut
tertentu

• Prisip penggunaan lampu wood:
• Sinar yang dipantulkan kearah lesi akan dipantulkan oleh berat molekul
metabolit organisme penyebab sehingga memberikan indeks bias yang
berbeda perubahan warna
• Biasanya akan memperlihatkan perubahan warna biru sampai hijau
pada daerah lesi
• Pemeriksaan kerokan kulit
• Cara pengambilan spesimen yaitu dengan melakukan kerokan
menggunakan pisau tumpul steril.
• Pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan
larutan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur




ETIOLOGI
DERMATOFITOSIS
• Penyakit jamur di kulit oleh jamur dermatofita
• 3 genus:
1. Microsporum
2. Tricophyton
3. Epidermophyton


2 sifat khas:
•Keratinofilik
•Afinitas pada hospes tertentu
•Zoofilik (misalnya: M.canis)
•Geofilik (misalnya: M.gypseum)
•Antropofilik (misalnya: T. rubrum)
• Di Indonesia ada 6 species:
1. T. mentagrophytes
2. T. rubrum
3. T. concentricum
4. M.canis
5. M. gypseum
6. E. floccosum

TINEA KAPITIS
Grey Patch Ringworm Penyebab: species
Microsporum
Kerion (Celsi)

Penyebab: M.canis/
M.gypseum
Black Dot Ringworm

Penyebab:
T.tonsurans,T.violaceum
Tinea barbae Penyebab: Trichophyton sp.,
Microsporum sp.

Tinea cruris Penyebab: Trichophyton sp.,
E.floccosum

Tinea
corporis
Penyebab: Trichophyton sp.,
Microsporum sp.

DEFINISI DAN
EPIDEMIOLOGI
DERMATOFITOSIS
Definisi Dermatofitosis
• Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang
mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada
epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan golongan
jamur dermatofita.

• Dermatofita dibagi menjadi genera Microsporum,
Trichophyton dan Epidermophyton. Golongan jamur ini
mempunyai sifat mencernakan keratin.

• Hingga kini dikenal sekitar 40 spesies dermatofita, masing-
masing dua spesies Epidermophyton, 17
spesies Microsporum dan 21 spesies Trichophyton.
Epidemiologi
Berdasarkan penelitian di India yang
mengambil sampel sebanyak 121
kasus (98 pria & 23 perempuan),

Dermatofitosis 103 kasus (70,5%),
Candidiasis 30 kasus (20,5%) dan
Pityriasis versikolor 13 kasus (0,9%).
Studi di Madras selama periode 2 tahun dari januari 2001 -
desember 2002, didapatkan kasus klinis dengan
kecurigaan mikologis sebanyak
165 kasus.
Spesimen yang diambil dari kulit, rambut, akar rambut,
dan pus.
80 kasus (48,5%) dermatofitosis,
39 kasus (23,6%) pityriasis versikolor,
29 kasus (17,1%) kandidiasis, dan
12 kasus (7,1%) misetoma
Pityriasis versikolor Candidiasis
Misetoma Dermatofitosis
(Kannan P, Janaki C, Selvi GS,
2006).



Kasus dermatofitosis terbanya
k : Tinea Pedis (29,2%),
Tinea Kruris (26,2%),
Tinea Korporis (15,5%),
Tinea Manuum (13,6%),
Tinea Unguium (8,7%),
Tinea Kapitis (3,9%), dan
Tinea Faciei (2,9%).
Dermatofita terbanyak yang
diisolasi :
Trichophyton tonsurans (20.5%),
T rubrum (8.7%) , dan
M ferrugineum (5,8%).
(Grover WCS, dkk. 2003).
Tinea Versicolor Tinea Korporis
Tinea Kruris
Tinea
Unguium
Tinea Faciei
Tinea Pedis
Tinea Kapitis
Tinea Manuum
• Sebuah penelitian retrospektif yang dilakukan pada penderita
dermatomikosis , di IRNA Penyakit Kulit Dan Kelamin RSU Dr. Soetomo
Surabaya dalam kurun waktu antara 2 januari 1998 - 31 desember 2002.

• Dari pengamatan selama 5 tahun didapatkan 19 penderita
dermatomikosis.
• Kasus terbanyak terjadi pada usia antara 15-24 tahun (26,3%),
• penderita wanita hampir sebanding dengan laki-laki
(10:9).

• Dermatomikosis terbanyak : Tinea Kapitis, Aktinomisetoma, Tinea
Kruris et Korporis, Kandidiasis Oral, dan Kandidiasis Vulvovaginalis


(Riyanto Eko, Suyoso Sunarso. 2003).
• Penelitian yang dilakukan di Madras terhadap 462 pasien yang tinggal di tempat
yang kondisi sosial ekonomi yang berbeda, didapatkan infeksi dermatofita sebanyak
372 pasien (70,7%).
• Frekuensi terbanyak dari hasil isolasi dermatofita ialah Trichophyton rubrum.



35% dari penduduk yang berpendapatan sangat rendah (grup-
I),
34,2% dari penduduk yang berpendapatan rendah (grup-II),
23,3% dari penduduk yang berpendapatan menengah (grup-
III), dan
1,8% dari penduduk yang berpendapatan tinggi (grup-IV).
(Ranganathan S, dkk. 1995).
Dermatofitosis
• Dermatofita:
• fungi yg menggunakan keratin sebagai nutrien, dapat berkoloni
dengan jaringan yang mengandung keratin: str.korneum epidermis,
rambut, kuku.
• Dermatofitosis:
• Infeksi superfisial yang disebabkan oleh dermatofita
DERMATOMIKOSIS
SUPERFISIALIS
Penyakit Kulit karena jamur superfisial
Terdiri atas :
• Dermatofitosis
• Kandidosis
• Pitiriasis versikolor
Klasifikasi
• Dermatophytoses of keratinized epidermis (epidermal dermatophytosis,
epidermomikosis):
• Tinea fasialis, tinea korporis, tinea kruris, tinea manus, tinea
pedis.
• Dermatophytoses of nail apparatus (onikomikosis):
• Tinea unguium (kuku kiki, kuku tangan).
• Onikomikosis  infeksi kuku yg disebabkan oleh dermatofita,
yeast, dan mold [kapang]
• Dermatophytoses of hair and hair follicle (trikomikosis):
• Dermatophytic folliculitis, Majocchi's (trichophytic) granuloma,
tinea kapitis, tinea barbae.

• Stratum korneum
• Skuama
• Respon inflamasi  eritema,
papulasi, vesikulasi
Epidermomikosis
Sel inflamasi
dermatofita
• Batang rambut
• Destruksi dan patah rambut
• Lebih dalam  respon inflamasi
 nodul, pustulasi folikuler, and
abses
Sel inflamasi
dermatofita
Trikomikosis
Berdasarkan lokasi

• T. capitis : facialis,barbae,scalp
• T. corporis : abdominal, thoracal, cervical
• T. cruris : inguinal, gluteal, femoral
• T. manus : interdigital, dorsum, plantar
• T. pedis : interdigital,dorsum,plantar
• T. unguium : onychomycosis
Tanda khas penyakit jamur

• ada skuama dan papula
• tersusun bentuk melingkar (sirsinata)
• dengan bagian tepi aktif eritem
• di bagian tengah tampak sembuh
• terasa gatal, terutama kalau berkeringat

Dermatofitosis
Berdasarkan Lokasi
Tinea Kapitis
• Dermatofitosis pada kulit kepala
• Etiologi: Trichophyton & Microsporum
• Usia: 3-14 th

 Tipe:
A. Non Inflamasi
1. Black dot ringworm
2. Gray patch ringworm
B. Inflamasi
1. Kerion celsi
2. Tinea favosa
Infeksi jamur pada rambut
• Ektotrik: artrospora di
bagian luar batang rambut
• Endotrik: artrospora di
dalam batang rambut


Black dot ringworm
• Etiologi: >> endotrik:
T.tonsurans, T. violaceum.
• Rambut sangat rapuh & patah
pada tepat pada muara folikel
 ujung rambut yg hitam di
dalam folikel rambut terlihat
sbg bintik hitam
• Lampu Wood: fluoresensi (-)
Gray patch ringworm
• Etiologi:
M. audouinii / M.ferrugineum
• Klinis:
• papulae eritematus sekitar rambut 
melebar, bercak pucat bersisik 
rambut jadi abu-abu, tidak berkilat,
mudah patah
• Bisa terjadi alopesia
• Lampu wood: fluoresensi (+)


Kerion Celsi
• Etiologi:
• M. canis, M. gypseum, T.
mentagrophytes, T. violaceum
• Klinis:
• Lesi dimulai dari bentuk pustular
folikulitis sampai bentuk kerion
• Sebukan massa rambut yang patah
dan pus, serta dapat terjadi
limfadenopati
• Keluhan: gatal, demam & sakit
• Lampuwood: fluoresensi (+)/(-)

Tinea favosa
• Etiologi:
• T. schoenleini
• Klinis: Pembentukan skutula 
krusta yg berbentuk mangkuk
berwarna merah kuning dan
berkembang menjadi kuning
kecoklatan
• Pada pengangkatan krusta
terlihat dasar yang cekung,
merah, basah dan berbau
seperti tikus (mousy odor)

Etiologi :
• T. mentagrophytes, T. verucosum, M. canis,
T. violaceum, T. schoenleini

Klinis :
 Dikenal 3 tipe tinea barbae
1. Peradangan ≈ kerion celci
2. Tipe superfisial atau sikosis
3. Tipe menyebar sirsinata



Tinea Barbae
Tinea korporis
• Infeksi dermatofita pada badan, tungkai & lengan
• Klinis:
• Lesi bulat berbatas tegas, pada tepi lesi tampak
tanda radang lebih aktif dan bagian tengah
cenderung menyembuh (central healing)
• Lesi yang berdekatan dapat bergabung
membentuk pola gyrata atau polisiklik
• Derajat inflamasi bervariasi, dengan morfologi
dan eritem s/d vesikel dan pustul, tergantung
pada spesies dan status imun tubuh
Tinea Fasialis
Tinea kruris
• Sinonim: eksema marginatum atau jock
itch
• Infeksi dermatofita pada daerah pubis
dan sela paha
• Klinis:
• Lesi berbatas tegas, tepi meninggi
yang dapat berupa papulo vesikel
eritematosa, atau kadang terlihat
pustul
• Bagian tengah menyembuh berupa
daerah coklat kehitaman berskuama



Tinea pedis
• Athlete’s foot, ringworm of the foot
• Infeksi dermatofita pada kaki, terutama
menyerang sela jari kaki dan telapak kaki,
dapat meluas ke lateral maupun
punggung kaki
• Klinis:
Ada 3 tipe:
1. Tipe interdigitalis
– Tersering
– Maserasi di sela jari kaki ke-4 & 5
– Kulit terlihat putih, dapat terbentuk
fisura dan bau tidak enak
– Lesi dapat meluas ke bawah jari dan
telapak kaki

2. Tipe vesikuler subakut

• Beberapa vesikel, vesiko-
pustulosa, kadang-kadang
bula, di telapak kaki dan
jarang terjadi pada tumit.
• Lesi dapat timbul dari
perluasan lesi daerah
interdigital
• Dapat mulai sekitar jari,
kemudian meluas ke
punggung kaki atau telapak
kaki
• Vesikel pecah  skuama
melingkar
3. Tipe papuloskuamosa
hiperkeratotik menahun

• Sering terdapat di daerah
tumit, telapak kaki, dan kaki
bagian lateral.
• Bercak dgn skuama putih agak
mengkilat, melekat dan relatif
tidak meradang
• Lesi umumnya setempat, dpt
bergabung mengenai seluruh
telapak kaki dan sering simetris
(moccasin foot)

Tinea pedis tipe intertriginosa:

• Saling mempengaruhi:
• Dermatofit (T. rubrum, T.
Mentagrophytes)
• Bakteri (Micrococcussedentarius,
Brevibacterium epidermidis,
Corynebacterium minutissimum,
Pseudomonas, proteus)
• Candida
• Dermatofitosis simpleks  infeksi
dermatofit ringan
• Dermatofitosis komplek  infeksi
campuran dermatofit dan bakteri


Tinea Manum
• Infeksi dermatofit pada satu /dua
tangan
• Klinis:
• Biasanya unilateral, pada
tangan, dan lesi pada dorsum
manus menyerupai gambaran
tinea korporis.


Terdapat 2 bentuk lesi pada palmar:

1.Dishidrosis/ eksematoid
• Bentuk akut berupa vesikel pada tangan
sisi lateral dan palmar jari-jari atau
telapak tangan disertai gatal dan rasa
terbakar
• Fase remisi dan eksaserbasi
2.Hiperkeratotik
•Berlangsung kronik, tak pernah sembuh
spontan
•Bila kronik dapat mengenai seluruh
tangan & tjd fisura

Onikomikosis
• Onikomikosis:
• istilah umum untuk kelainan kuku akibat infeksi jamur
• Tinea unguium:
• kelainan kuku akibat infeksi dermatofita
• Etiologi:
• Dermatofita: T. rubrum, T. mentagrophytes,
epidermophyton
• Candida sp
• Non dermatofita lain: Aspergillus spp, Scytalidium
dimidiatum, Scopulariosis brevicaulis, dan Fusarium spp


Dikenal 4 tipe onikomikosis:
1. Onikomikosis subungual distal (OSD)
• Klinis: hiperkeratosis subungual dan
onikolisis, selain warna kuku
kekuningan.
Onikomikosis subungual distal
2. Onikomikosis subungual proksimal
(OSP)

• Klinis: hiperkeratosis & onikolisis
proksimal, serta destruksi
lempeng kuku proksimal.
• Paling jarang, tapi biasa ditemukan
pada penderita AIDS.
Onikomikosis subungual
proksimal
3. Onikomikosis superfisial putih (OSPT):

• Jarang dijumpai
• Jamur menginvasi langsung
lapisan superfisial lempeng kuku
• Klinis: bercak-bercak
keruhberbatas tegas yg dpt
berkonfluen. Kuku mjd kasar,
lunak dan rapuh

Onikomikosis superfisial putih
4. Onikomikosis kandida (OK)
kategori:

1. Dimulai sbg paronikia yg kemudian
menginvasi matriks  depresi transversal
kuku  kuku cekung, kasar dan akhirnya
distrofi

Onikomikosis kandida
Pada keadaan lanjut keempat tipe tersebut  gambaran distrofi total (ODT)

1. Infeksi Malassezia
• Malassezia furfur :
• Pityriasis versicolor
• Pityriasis folliculitis
• Seborrhoeic dermatitis & dandruff

• M. furfur : yeast lipofilik yang terdapat di kulit sebagai flora
normal
Pityriasis versicolor
• Etiologi: M. furfur
• Gejala klinis
• Usia: >> usia belasan
• Lokasi: bagian atas dada & meluas ke lengan
atas, leher & perut / tungkai atas/ bawah
• Keluhan: bercak berwarna putih / kecoklatan,
gatal ringan (tu saat berkeringat)
• UKK:
• Lesi baru: makula skuamosa folikular
• Lesi primer: makula dengan batas sangat tegas
tertutup skuama halus
• Kulit hitam/ coklat: berwarna putih
• Kulit putih/ terang: coklat/ kemerahan
• Skuamasi  finger nail sign


2. Kandidiasis
• Penyebab : >> Candida albicans.
• Flora normal mulut, traktus digestivus & vagina
• Bersifat semi anaerob
• Punya dua bentuk:
• mycelia (suhu kamar)  infeksi kronis
• yeast (37
o
C)  infeksi akut


Predileksi :
Daerah intertrigeneus / basah:
inguinal, infra mamma, perianal,
interdigital, axilia, sekitar mulut &
mulut, genital & sela kuku.

Faktor Risiko:
• pemakaian antibiotik & steroid yang terus-menerus
• kelembaban
• kehamilan
• penyakit sistemik a.l. DM

UKK KANDIDIASIS
Kandidiasis Oral
Pacth eritem yang ditutupi pseudomembran,
bila diangkat nampak dasar yang erosif
Kandidiasis kutan
Patch eritem yang melebar, dikelilingi lesi satelit
ditengah lesi nampak erosif, di tepi lesi terjadi
pengelupasan tanpa peninggian.
Kandidiasis kuku
Nampak eritem dan edema pada kulit sekitar kuku
& bantal kuku (nail bed) disertai gamb kelainan jamur
kuku (onikolisis, diskolorisasi, hiperkeratosis, onikodistrofi)
Kandidiasis Mukokutan
1. Oral:
• thrust,
• glositis,
• stomatitis,
• cheilitis,
• perleche

2. Vaginitis & Balanitis
3. Kandidiasis mukokutan kronik
Kandidiasis Kutan
1. Kandidiasis intertriginosa & generalisata
2. Paronikia
3. Diaper disease
4. Granuloma kandida
Kandidiasis kutis intertriginosa

• Setiap lipatan dapat terkena, & >>
pd obesitasas.
• Intertrigo >> pada lipat ketiak,
inguinal, payudara, intergluteal,
interdigital, glans penis & umbilikus.
• Tanda khas: berupa eritem dan
eksudasi yang lembab mulai dari
bagian terdalam lipatan.
Kandidiasis kutis generalisata

• Kulit glabrosa, dapat berasal dari perluasan kandidiasis
intertriginosa.
• Pasien diabetes, debil & penderita dgn berbagai defek
ektodermal, /dapat juga pada orang yang berdiam lama di
dalam air sehingga dinamakan water-bath dermatitis.
• Lesi eritem, menyerupai dermatitis, bisa terdapat vesikel atau
pustul pada daerah yang luas.
• Lesi dapat juga berupa papulopustul folikular yang purulen,
ulseratif, nekrotik, noduler, folikulitis atau pustulosis.
Kandidiasis kutis kongenital

• Bayi baru lahir dengan ibu menderita
KVV sebelum melahirkan.
• UKK: papul multipel di atas dasar
eritematosa pada wajah, leher, badan
dan anggota gerak.
Paronikia kandida

• Candida sp.  infeksi bernanah yg sangat nyeri pada lipatan kuku
& dasar kuku.
• Lipatan kuku tampak merah dan bengkak, kutikula hilang dan
lipatan kuku terlepas dari permukaan dorsal dari lempeng kuku
membentuk kantung.
• Kadang pus berwarna putih tebal dapat keluar; seringkali
dibutuhkan penekanan untuk mengeluarkannya.
Penyakit popok (kandidiasis
popok)

• Bokong & daerah perianal pada bayi,
berhubungan dengan pemakaian popok,
UKK: eritema, skuama & pustul satelit
(khas) dapat disertai skuama pada
tepinya.
• Bila kandidiasis mengenai genitalia
UKK: eritema konfluens mengenai
seluruh skrotum / labia.
• Lesi meluas ke bokong, punggung &
perut.
• Apabila kelainan tersebut menetap,
menimbulkan erosi superfisial yang nyeri
disebut sebagai erythema of Jacquet.
Granuloma kandida

• jarang, diduga berhubungan dengan
terjadinya KMK
• >> pd anak-anak. Lesi umumnya
mengenai wajah, namun dapat juga
timbul pada kulit kepala berambut
(scalp), jari tangan, badan, kaki & faring.
• UKK: papul hiperkeratotik yang ditutupi
oleh krusta tebal berwarna kuning
kecoklatan (granuloma).
Granuloma kandida
PATOFISIOLOGI
DERMAFITOSIS
Patofisiologi
Infeksi
Dermatofita
Penetrasi
melalui ataupun
diantara sel
Perlekatan ke
keratinosit
Perkembangan
respon host
Fase 1 : Perlekatan ke keratinosit
• Jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan
untuk bisa melekat pada jaringan keratin diantaranya
sinar UV, suhu, kelembaban, kompetisi dengan flora
normal dan sphingosin yang diproduksi oleh keratinosit.
• Asam lemak yang diproduksi oleh glandula sebasea juga
bersifat fungistatik.
Fase 2 : penetrasi
• Setelah terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan
menembus stratum korneum pada kecepatan yang lebih
cepat daripada proses desquamasi.
• Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase, lipase dan
enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk
jamur.
• Fungal mannan didalam dinding sel dermatofita juga bisa
menurunkan kecepatan proliferasi keratinosit.
Fase 3 : perkembangan respon host
• Reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau Delayed Type
Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat
penting dalam melawan dermatofita.
• Dihipotesakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh
sel langerhans epidermis dan dipresentasikan dalam
limfosit T di nodus limfe.
• Limfosit T melakukan proliferasi dan bermigrasi ke tempat
yang terinfeksi untuk menyerang jamur.
PENATALAKSANAA
N
DERMATOFITOSIS
Skenario 4 blok 20 Integumen
0
1
0
2
0
3
0
4
0
1
TOPIKAL
TOPIKAL BARU
ORAL
 Larutan spiritus
 Salep (mengandung bahan fungisid dan
keratinolitik) seperti sulfur dan asam salisilat
 Mengandung campuran derivat azol (mikonazol, klotrimazol,
ketokonazolm bifonazol) dan obat lain (naftilin, terbinafin,
sikloproksolamin, amorolfin)
 Dapat diberikan bersamaan obat topikal untuk mempercepat dan
menjangkau seluruh jamur.
 Lini pertama : Griseofulvin, ketokonazol, itrakonazol
0
2
PADA KELAINAN KECIL (LOKAL)
TOPIKAL
 Preparat salisil (tinktur salisil spiritus)
 Preparat derivat imidazol (salep mikonazol, isokonazol,
salep kotrimazol, ekonazol)
 Krem terbinafin 1%
 Solusio siklopiroks 0,1 %
 Shampo anti mikotik (selenium sulfid 2,5 %, ketokonazol
2%, zinc pyrithione)
PENGGUNAAN
SHAMPO
Dioleskan pada lesi selama 5-10 menit, kemudian dicuci
sampai bersih. Pemakaian shampo 1x/hari selama 2
minggu dan dapat diulang satu atau dua bulan
kemudian
0
3
PADA KELAINAN BESAR (SISTEMIK)
ketokonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari,
flukonazol 400 mg dosis tunggal, 200 mg/hari
selama 5-7 hari
ORAL
• Menjaga kesehatan tubuh -> Pencegahan infeksi ulang :
0
3
MENJAGA KESEHATAN TUBUH
MENJAGA KEBERSIHAN DIRI
PENCEGAHAN INFEKSI ULANG
MENJAGA KEADAAN KULIT
 Pola hidup sehat (gizi seimbang, cukup istirahat, cukup
olahraga)
 Membersihkan diri secukupnya
 Menggunakan pakaian dan peralatan mandi yang bersih dan
tidak bertukar pakaian dan alat mandi dengan orang lain
 Merebus baju agar spora jamur dapat mati
 Menjaga keadaan kulit agar tidak terlalu lembab, terutama di bagian
fleksor (lipatan) atau yg tertutup oleh pakaian