You are on page 1of 18

Disusun oleh

:
Jefri Kusuma
Nina Septianti
Siti Suaebatul Aslamiah
Sutisna
Yohana Bili
Yuni Friyati

Di dalam pembangunan kesehatan,
Indonesia memiliki masalah kesehatan yang
cukup kompleks, dibuktikan dengan
meningkatnya kasus penyakit menular,
banyaknya jumlah kematian yang terjadi, serta
meningkatnya penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi, didukung dengan perolehan
Indonesia dengan peringkat 4 sedunia untuk
kasus tuberculosis, selain itu Indonesia juga
memperoleh peringkat 1 untuk penularan HIV
tercepat.
Penyakit menular ialah penyakit yang
disebabkan oleh agent infeksi atau toksinnya, yang
berasal dari sumber penularan atau reservoir, yang
ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu (host)
yang rentan. Penyakit menular (Communicable
Desease) adalah penyakit yang disebabkan oleh
adanya agen penyebab yang mengakibatkan
perpindahan atau penularan penyakit dari orang
atau hewan yang terinfeksi, kepada orang atau
hewan yang rentan (potential host), baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui
perantara (vector) atau lingkungan hidup.

Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian
kesakitan atau kematian yang menarik
perhatian umum dan mungkin menimbulkan
kehebohan/ ketakutan di kalangan
masyarakat, atau menurut pengamatan
epidemiologik dianggap adanya peningkatan
yang berarti (bermakna) dari kejadian
kesakitan/ kematian tersebut kepada
kelompok penduduk dalam kurun tertentu.
 Pengobatan
 Pemutusan rantai penularan atau upaya
pencegahan
 Melakukan kegiatan pendukung yaitu
penyuluhan, pengamatan/ pemantauan
(surveinlans ketat) dan logistik.


1. Penyakit menular potensial mewabah
 Diare
 Demam berdarah dengue
 Malaria (di daerah endemik tinggi)
 Filaria (di daerah endemik tinggi)

2. Penyakit menular endemik tinggi
 Tuberkulosis paru
 Lepra (Morbus Hansen)
 Patek (Framboesia)
 Anjing gila (Rabies)
 Antraks

3. Penyakit menular penting lain:
a. Penyakit menular seksual
 Sifilis (Raja Singa)
 Gonorhoe (kencing nanah)
 HIV/ AIDS
b. Penyakit menular lain
 Hepatitis-B
 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

 Dikenal beberapa cara penularan penyakit
menular yaitu:
a. Penularan secara kontak, baik kontak langsung
maupun kontak tidak langsung (benda-benda
bekas dipakai pasien).
b. Penularan melalui vehicle seperti melalui
makanan dan minuman yang tercemar.
c. Penularan melalui vector.
d. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik,
dan tato.

1. Diare,
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan
perubahan bentuk dan konsistensi tinja (melembek
sampai mencair) dan bertambahnya frekuensi
berak lebih dari biasanya (lazimnya tiga kali atau
lebih dalam sehari).
1. Akibat peradangan usus yang disebabkan oleh
Bakteri, virus dan parasit.
2. Akibat keracunan makanan atau minuman,
baik oleh bakteri maupun bahan kimia.
3. Akibat kekurangan gizi, yaitu kekurangan
energy protein.
4. Akibat tidak tahan terhadap makanan tertentu,
misalnya intoleransi terhadap makanan (susu).
5. Akibat imunodefisiensi.
6. Oleh sebab – sebab lain


Faktor determinan untuk kekebalan dan
kerentanan seseorang adalah faktor ekonomi,
keadaan gizi, umur (balita lebih rentan),
budaya (perilaku), kepadatan penduduk,
ketersediaannya air jamban, dan sarana air
bersih. Pasien yang baru sembuh dari penyakit
diare mempunyai kekebalan yang hanya
berlangsung singkat saja, sehingga reinfeksi
mudah terjadi.

Pencegahan peristiwa diare dapat dilakukan dengan cara :
1. Penyuluhan kesehatan
2. Meningkatkan penggunaan air susu ibu (ASI)
3. Memperbaiki praktek pemberian makanan
pendamping ASI
4. Penggunaan air bersih
5. Kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah makan
6. Penggunaan jamban yang benar
7. Pembuangan tinja bayi dan anak – anak yang benar
8. Imunisasi campak

 Tatalaksana penderita diare di rumah :
1. Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga
seperti kuah sayur, air tajin, dan larutan gula
garam,bila ada berikan oralit.
2. Meneruskan pemberian makanan lunak yang
tidak merangsang selama diare serta makanan
ekstra sesudah diare.
3. Membawa pasien diare ke sarana kesehatan,
bila tidak membaik dalam 3 hari atau ada salah
satu tanda
 Tatalaksana penderita diare di sarana
kesehatan :
1. oral dengan oralit
2. Memberikan cairan intravena dengan Ringer
laktat untuk pasien dengan dehidrasi berat
atau tidak bisa minum
3. Penggunaan obat secara rasional
4. Nasihat tentang meneruskan pemberian
makanan, rujukan dan pencegahan

•Meningkatkan kewaspadaan dengan surat edaran atau
instruksi di setiap tingkatan
•Intensifikasi surveilens
•Membentuk Tim Gerak Cepat
•Mengintensifkan penyuluhan kesehatan masyarakat
•Meningkatkan kegiatan laboratorium
•Perbaikan dan evaluasi sanitasi
•Menyiapkan logistic
•Meningkatkan kegiatan lintas program dan sektoral
Pra KLB
•Pembentukan Pusat Rehidrasi misalnya dib alai desa,
sekolahan dan sebagainya asal bangunan tersebut tidak
menjadi satu dengan bangunan keluarga. Pusat
Rehidrasi ini memberikan tatalaksana kepada pasien
yang perlu dirawat serta memberikan penyuluhan
kepada keluarga pasien, mengatur logistic, mencatat
kunjungan pasien dan jumlah yang dirawat di Pusat ini.
•Meningkatkan peran Tim Gerak Cepat, setiap saat siap
bergerak ke tempat – tempat yang terjangkit sesuai
dengan data pasien dari Puskesmas atau Pusat
Rehidrasi dan data penyelidikan epidemiologi.
KLB
• Setelah KLB
mereda,
pengamat intensif
masih dilakukan
selama 2 minggu
berturut – turut
untuk menjaga
kemungkinan
timbulnya KLB
susulan
Masa
Pasca
KLB