You are on page 1of 78

Disusun Oleh

:
Qorie Fujiatma Joscarita (030.06.200)

DEMAM TIFOID
Pembimbing : Dr. Dewi iriani, Sp.A

Identitas Pasien
• Nama pasien : An. W
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Agama : Islam
• Alamat : Jl. Manggar gang 3
blok Y RT 07/08 no.16
• Umur : 8 tahun
• Tgl masuk RS Koja : 24 november 2011
• No. Rekam Medik : 00-11-XX-XX

Identitas Orang Tua
Ayah
• Nama / Umur : Tn. S
• Agama : Islam
• Alamat : Jl. Manggar gang 3
blok
Y RT 07/08 no.16
• Pekerjaan : Pelaut
• Hub. Pasien : Ayah kandung

Ibu
• Nama : Ny. S
• Agama : Islam
• Alamat : Jl. Manggar gang 3 blok
Y RT 07/08 no.16
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Hub. Pasien : Ibu kandung

ANAMNESIS
Dilakukan secara allo-auto anamnesis terhadap
pasien dan orang tua pasien pada tanggal 24
november 2011 pukul 20.00 WIB.

KELUHAN UTAMA
Demam sejak 4 hari sebelum masuk RS Koja.
ANAMNESIS
KELUHAN TAMBAHAN
Batuk
Pilek
Tenggorokan sakit
Mual
Nyeri perut
Nafsu makan menurun
sakit kepala
Lemes

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Empat hari SMRS pasien tiba-tiba demam,
suhu naik turun dan tidak diukur, tetapi
dirasakan tidak terlalu panas pada siang hari
dan mulai tinggi pada sore sampai keesokan
pagi. Batuk pilek juga dirasakan pasien. Mual,
muntah, nyeri perut, diare, nyeri otot dan
sendi, mimisan, gusi berdarah, perubahan pola
BAB/BAK tidak ada. Pasien sempat berobat
ke puskesmas dan demam hanya berkurang
sedikit setelah minum obat penurun panas.


RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Dua hari demam bertambah naik, terkadang
pasien mengigau. Batuk pilek masih dirasakan.
Sakit kepala, nyeri tenggorokan, mual dan nyeri
perut juga dirasakan pasien.Nafsu makan
menurun sehingga pasien tampak lemas. BAB 1x
sehari, encer, ampas (+). BAK pasien lancar
dengan frekwensi 5-6x sehari, warna kuning
jernih. muntah, nyeri perut, sesak nafas, pegal
seluruh tubuh, mimisan dan gusi berdarah tidak
ada. akhirnya pasien dibawa ke RSUD Koja.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Pasien belum pernah sakit seperti ini. Orang di
sekitarnya juga tidak ada yang sakit seperti ini.
Sehari-hari memang suka jajan diluar, seperti
jajan chiki, bakso, minuman es dalam plastik,
dan lain-lain. Sebelum makan jarang mencuci
tangan dengan sabun. Di sekitar rumah lalat
dan nyamuk tidak terlalu banyak, ibu mencuci
piring sendiri dengan sabun colek dan sumber
air dari sumur. Air minum dari air sumur yang
direbus.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi - Difteria - Jantung -
Cacingan - Diare + Ginjal -
Demam
Berdarah
- Kejang - Darah -
Demam
Thypoid
- Kecelakaan - Radang paru -
Otitis - Morbili - Tuberkulosis +
Parotitis - Operasi - Lainnya -
RIWAYAT KEHAMILAN/KELAHIRAN

KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Tidak ditemukan kelainan
Perawatan antenatal rutin periksa ke bidan
KELAHIRAN Tempat kelahiran Bidan
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Partus pervaginam
KELAHIRAN Masa gestasi Cukup bulan (40 minggu)
Keadaan bayi Berat lahir 3.500 gram
Panjang badan 50 cm
Langsung menangis
Kulit kemerahan
Kelainan bawaan tidak ada
RIWAYAT PERTUMBUHAN/PERKEMBANGAN

Pertumbuhan gigi I : usia 8 bulan (Normal : 5-9 bulan)
Psikomotor
 Tengkurap : usia 4 bulan (Normal : 3-4
bulan)
 Duduk : usia 7 bulan (Normal : 6 bulan)
 Berdiri : usia 9 bulan (Normal : 9-12
bulan)
 Berjalan : usia 12 bulan (Normal : 13 bulan)
 Bicara : usia 12 bulan (Normal : 9-
12 bulan)
 Baca dan Tulis: usia 4 tahun
Kesan : Riwayat tumbuh kembang pasien baik.

RIWAYAT MAKANAN

Umur
(bulan)
ASI/PASI Buah/Biskuit
Bubur
Susu
Nasi Tim
0 – 2 +
+ - -
2 – 4 +
+ - -
4 – 6 +
+ + -
6 - 8 +
+ + -
8 – 10 +
+ + -
10 – 12 + + + +
Umur di atas 1 Tahun
Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah Takaran/hari sesuai
AKG
Nasi / Pengganti 3x sehari setiap hari, 1-2centong 1-1,5 piring
Sayur 2-3x seminggu, 1-2 sendok ½ mangkuk
Daging 1-2x seminggu, 1 potong
Lauk Hewani
1-2 potong
Telur 1-2x sehari, 1 butir
Ikan 1x sehari hampir setiap hari, sepotong
Tahu 2-3x seminggu, 1 potong Lauk Nabati
1-2 potong Tempe 2-3 kali seminggu, 1 potong
Susu (merk /
takaran)
Dancow, 4 sendok makan-200cc 2x sehari 1 botol susu 500 ml
Lain - lain
Riwayat Imunisasi
Vaksin Dasar (Umur) Ulangan
(Umur)
BCG 1 bulan
DPT / DT 2 bulan 4 bulan 6 bulan
POLIO 2 bulan 4 bulan 6 bulan
CAMPAK - - 9 bulan
HEPATITIS B 0 bulan 1 bulan 6 bulan
Kesan : Imunisasi dasar pasien lengkap
RIWAYAT KELUARGA

Ayah Ibu
Nama Tn. S Ny. S
Perkawinan Ke 1 1
Umur Saat Menikah 27 tahun 27 tahun
Pendidikan Terakhir SMA Sarjana Ekonomi
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Jawa Jawa
Keadaan Kesehatan Baik Baik
No. Tahun
lahir
Jenis
kelamin
Hidu
p
Lahi
r
Mati
Abort
us
Mati
(Sebab)
Keteranga
n
kesehatan
1.
1997
Peremp
uan
(√) - - - Sehat
2.
2001 Laki (√) - - - Sehat
3 2003 laki (√) - - - Pasien
RIWAYAT
PERUMAHAN/SANITASI

 Saat ini pasien tinggal bersama kedua orang tuanya dan
saudara-saudaranya di rumahnya sendiri, terdiri dari dua
kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan ruang tengah.
Ventilasi rumah baik, penerangan cukup. pasien tinggal di
daerah pemukiman yang cukup padat. Rumah-rumah
berdempetan dan banyak terdapat warung-warung. Jalan
didepan rumah kira-kira dapat dilewati sebuah mobil.
Rumah jauh dari tempat pembuangan sampah. Sampah
diambil setiap hari. Got diluar tidak tertutup, tidak banyak
sampah. Tidak banyak lalat dan nyamuk. Sehari-hari anak
bermain di rumah dan pinggir jalan depan rumah dengan
teman sebayanya.
Kesimpulan Keadaan Lingkungan : Riwayat keadaan
lingkungan cukup baik.

PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pada tanggal 24 November 2011 pukul 20.00 WIB.
KU/ KES : tampak sakit sedang/compos mentis
Status antropometri :
 Berat Badan : 20 Kg
 Tinggi Badan : 120 cm
Kesan status gizi :
 BB/U x 100 % = 20/25 x 100 % = 91% Gizi baik (80-120
%)
 TB/U x 100 % = 120/125 x 100 % = 96% Tinggi normal
(90-110%)
 BB/TB x 100% = 20/25 x 100 % = 91%  Gizi baik
Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa status gizi
pasien baik dengan tinggi badan normal

PEMERIKSAAN FISIK

Tanda Vital
– Tekanan darah : 110/80 mmHg
– Nadi : 100x/menit, volume cukup, irama
reguler
– Suhu : 38 °C
– Pernapasan : 24 x/menit, teratur.

PEMERIKSAAN FISIK

Kepala
 Normosefali, ubun-ubun tidak cekung, rambut hitam, distribusi
merata, tidak mudah dicabut.
Mata
 Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak
langsung +/+, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik.
Hidung
 Bentuk normal, nafas cuping hidung tidak ada, sekret -/-, tidak ada
septum deviasi.
Telinga
 Normotia, serumen -/-, sekret -/-.


PEMERIKSAAN FISIK

Bibir
• Tidak ada kelainan bentuk, tidak kering, tidak
sianotik
Mulut
• Lidah kotor (+), tepi hiperemis, faring hiperemis
(+), uvula letak di tengah, tonsil tidak hiperemis,
ukuran T1-T1, kripta tidak melebar, dedritus -/-.
Leher
• KGB leher tidak teraba membesar, kelenjar tiroid
tidak teraba membesar, trakea letak normal.

PEMERIKSAAN FISIK

Thoraks :
• Bentuk : Retraksi sela iga ( - )
• Pergerakan : Simetris saat statis dan dinamis
• Buah dada : Dalam batas normal
• Efloresensi : Tidak ada, roses’ spots ( - )

Jantung : BJ I N/ BJ II N/ Reguler,
Murmur (-) Gallop (-)
Paru : Suara nafas Vesikuler, Rhonki -/-
Wheezing -/-

PEMERIKSAAN FISIK

Abdomen :
• Inspeksi : Perut datar
• Palpasi : Supel, turgor baik, hepar dan
lien tidak teraba pembesaran, nyeri tekan
epigastrium (+)
• Perkusi : Shifting dullness (-)
• Auskultasi : Bising usus (+) normal

PEMERIKSAAN FISIK

Ekstremitas
– Atas : akral hangat, sianosis (-), edema (-),
deformitas (-) petekie (-)
– Bawah: akral hangat, sianosis (-), edema (-),
deformitas(-) petekie (-)
Tulang Belakang : tidak ada kelainan
Susunan Saraf :
Tanda rangsang meningeal (-), Refleks fisiologis (+),
Refleks patologis (-).

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Imunoserologi

• Pemeriksaan widal test dilakukan pada hari ke
-1 masa perawatan menunjukan hasil positif.

RESUME

An. W, laki-laki, umur 8 tahun, masuk ke RS
Koja dengan keluhan demam sejak 4 hari
SMRS, demam semakin hari semakin
bertambah tinggi dan tidak turun dengan
pengobatan. Os batuk pilek,sakit kepala, nyeri
tenggorokan, mual, nyeri perut, nafsu makan
menurun dan lemas. BAB 1x sehari, encer,
ampas (+). Riwayat jajan dan hygiene makanan
kurang.

RESUME

Pada pemeriksaan fisik pasien tampak sakit
sedang, kesadaran compos mentis, suhu : 38° C.
didapatkan lidah kotor, faring hiperemis. Pada
pemeriksaan abdomen saat palpasi terdapat nyeri
tekan epigastrium.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin
didapatkan adanya infeksi dengan peningkatan
LED (52 mm/jam). Serologis Widal didapatkan
titer antigen S. typhosa O dan S. typhosa H
+1/320.

DIAGNOSIS BANDING

• Demam tifoid
• Demam dengue
• Influenza

Diagnosis Kerja

Demam Tifoid

ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Darah rutin
• Pemeriksaan feses
• IgG , IgM dengue

PENATALAKSANAAN

 Non-Medikamentosa
 Tirah baring
 Observasi tanda-tanda vital
 Edukasi:
-Perhatikan hygiene dalam mengolah makanan
dan minuman sehari-hari.
- Sebisa mungkin hindari. makan dan minum
diluar yang tidak terjamin kebersihannya.
-mencuci tangan sebelum makan
Medikamentosa
• IVFD RL 16 tpm
• Cefotaxim 3 x 500 mg
• PCT syr 4 x 2 Cth
• Ranitidin 2 x 25 mg IV
• Vometa syr 3 x 1 Cth

Prognosis
• Ad vitam : ad bonam
• Ad sanationam : ad bonam
• Ad fungsionam : ad bonam
Follow up 25/11/2011

S :
Demam (+), nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), sakit kepala(+), nyeri tenggorokan(+), nafsu makan menurun (+), lemas(+)
O : Ku/ks : Tampak sakit sedang/ compos mentis
S: 39,2° C RR: 22x/menit TD: 105/60 mmHg N: 96x/menit
Kepala : normocephali
Mata : CA-/-, SI -/-
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo : SN vesikuler , rh -/-, wh -/-
Abdomen: supel, BU (+), NT epigastrium (+)
Hepar tidak teraba membesar
Ekstremitas : akral hangat
A : Demam tifoid
P : IVFD RL 16 tpm
Cefotaxim 3 x 500 mg
Ranitidin 2 x 25 mg IV
Vometa syr 3 x 1 cth
Cek DPL, Urin lengkap, SGOT, SGPT
Follow up 26/11/2011
S : Demam (+),
mencret 3 x, cair, ampas (+), sebanyak ¼ gelas Aqua
sakit kepala (+)
nyeri perut (-)
mual (+) , muntah (-)
nyeri tenggorokan(+), nafsu makan menurun (+), lemas(+)
O : Ku/ks : Tampak sakit berat /compos mentis
S: 39,3° C RR: 24x/menit N: 116x/menit TD: 110/70mmHg
Kepala : normocephali
Mata : CA-/-, SI -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-
Abdomen: supel, BU (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
Hasil Lab :
SGOT: 100 U/L (10-35 U/L)
SGPT: 84 U/L (9-43 U/L)
A : Demam tifoid dengan diare akut tanpa dehidrasi
P : KAEN IB + KCl (10 meq) 16 tpm
Ceftriaxon 1 x 500 mg IV
Parasetamol syr 3 x 1 cth
Ranitidin 2 x 25 mg IV
Vometa syr 3 x 1 cth
Interzinc 1 x 1 cth
Follow up 27/11/2011
S : Demam (+),
mencret 4 x,sedikit, cair, ampas (+),
sakit kepala (-)
nyeri perut (-)
mual (-)
nyeri tenggorokan(+) berkurang, nafsu makan masih menurun,
lemas(+)
O : Ku/ks : Tampak sakit berat / compos mentis
S: 37,9° C RR: 22x/menit TD: 110/70 mmHg N: 80x/menit
Kepala : normocephali
Mata : CA-/-, SI -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-
Abdomen: supel, BU (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
A : Demam tifoid dengan diare akut tanpa dehidrasi
P : Terapi lanjut
Follow up 28/11/2011
S : Demam (+),
mencret 3 x,sedikit, cair, ampas (+),
sakit kepala (-)
nyeri perut (+)
mual (-)
nyeri tenggorokan(+) berkurang, nafsu makan masih menurun,
lemas(+)
O : Ku/ks : Tampak sakit berat / compos mentis
S: 38,4° C RR: 22x/menit N: 96x/menit TD: 110/60mmHg
Kepala : normocephali
Leher : KGB tidak teraba membesar
Mata : /-, SI -/-
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo: SN vesikuler, Rh-/- Wh -/-
Abdomen: supel, bu (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
A : Demam tifoid dengan diare akut tanpa dehidrasi
P : Terapi lanjut
Follow up 29/11/2011
S : Demam (-),
mencret (-)
sakit kepala (-)
nyeri perut (-)
mual (-)
nyeri tenggorokan(-), nafsu makan mulai membaik,
lemas(-)
O : Ku/ks : Tampak sakit ringan / compos mentis
S: 36° C RR: 22x/menit N: 86x/menit TD: 110/70mmHg
Kepala : normocephali
Leher : KGB tidak teraba membesar
Mata : /-, SI -/-
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo: SN vesikuler, Rh-/- Wh -/-
Abdomen: supel, bu (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
A : Demam tifoid
diare akut tanpa dehidrasi dengan perbaikan klinis
P : Fuzide 3 x 1 cth
Nymico 3 x 0,5 ml PO
Terapi lain dilanjutkan
Follow up 30/11/2011
S : Keluhan (-)
O : Ku/ks : Tampak sakit ringan / compos mentis
S: 36,3° C RR: 22x/menit N: 88x/menit TD: 110/60mmHg
Kepala : normocephali
Leher : KGB tidak teraba membesar
Mata : /-, SI -/-
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo: SN vesikuler, Rh-/- Wh -/-
Abdomen: supel, bu (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
A : Demam tifoid
diare akut tanpa dehidrasi dengan perbaikan klinis
P : Pasien boleh pulang
ANALISA KASUS

Pada anamnesis, didapatkan An. W, laki-laki,
umur 8 tahun, masuk ke RS Koja dengan
keluhan demam sejak 4 hari SMRS, demam
semakin hari semakin bertambah tinggi dan
tidak turun dengan pengobatan. Os batuk pilek,
sakit kepala, nyeri tenggorokan, mual, nyeri
perut, nafsu makan menurun dan lemas. BAB
1x sehari, encer, ampas (+). Riwayat jajan dan
hygiene makanan kurang.

ANALISA KASUS

• Pada pemeriksaan fisik pasien tampak sakit
sedang, kesadaran compos mentis, suhu : 38° C.
didapatkan lidah kotor, faring hiperemis. Pada
pemeriksaan abdomen saat palpasi terdapat nyeri
tekan epigastrium.
• Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin
didapatkan adanya infeksi dengan peningkatan
LED (52 mm/jam). Serologis Widal didapatkan
titer antigen S. typhosa O dan S. typhosa H
+1/320.

ANALISA KASUS

• Diagnosis demam tifoid ditegakkan
berdasarkan keluhan utama pasien yaitu
demam selama 4 hari dimana demam naik
bertahap tiap harinya dan mencapai titik
tertinggi pada akhir minggu pertama. terdapat
gejala sistemik lain yang menyertai timbulnya
demam pada pasien ini yaitu, batuk pilek,sakit
kepala, malaise, anoreksia, nausea, nyeri perut
dan nyeri tenggorok. pasien ini juga
mengalami diare.
ANALISA KASUS

Pada pemeriksaan fisik
 lidah kotor dengan putih ditengah
sedang tepi dan ujungnya kemerahan,
ini merupakan manifestasi klinis yang
sering pada kasus demam tifoid.

ANALISA KASUS

• Pada pemeriksaan penunjang
 hasil uji serologi widal yang meningkat.
 Di indonesia pengambilan angka titer O
aglutinin ≥40 dengan memakai uji widal slide
aglutination menunjukkan nilai ramal positif
96.
 beberapa pendapat menyebutkan apabila
titer O aglutinin sekali periksa ≥1/200 maka
diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan.
ANALISA KASUS

Diagnosis banding
1. Demam dengue
 Trias sindrom yaitu demam tinggi, nyeri
pada anggota badan dan timbulnya ruam
 Demam mendadak tinggi selama 2-7 hari
disertai lesu, tidak mau makan, nyeri kepala,
nyeri otot dan nyeri perut. kadang terdapat
diare.
 facial flush serta terdapat manifestasi
perdarahan yang tidak terdapat pada pasien ini.
trombositopenia dan leukopenia.


ANALISA KASUS

2. Influenza
 faringitis, konjungtivitis, batuk, hidung
tersumbat, disertai anoreksia, nyeri perut,nyeri
kepala, mual, muntah, dan demam sampai
38,9
0
C.
 Lamanya demam adalah 2-4 hari. Batuk dapat
menetap dalam waktu yang lama.
 leukopeni relatif sering ditemukan.
 Diagnosis pasti influenza bergantung kepada
isolasi virus dari sekresi saluran nafas.

ANALISA KASUS

Pemeriksaan anjuran yang dibutuhkan:
• Darah rutin untuk mengetahui perkembangan
penyakit pasien
• Pemeriksaan feses untuk mengetahui penyebab
infeksi
• IgG , IgM dengue untuk menyingkirkan
kemungkinan demam dengue

ANALISA KASUS

Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi
• Non-Medikamentosa
– Tirah baring
– Observasi tanda-tanda vital
– Edukasi:
-Perhatikan hygiene dalam mengolah makanan dan
minuman sehari-hari.
- Sebisa mungkin hindari. makan dan minum
diluar yang tidak terjamin kebersihannya.
-mencuci tangan sebelum makan

ANALISA KASUS

Medikamentosa
 IVFD RL 16 tpm
BB pasien = 20 kg
kebutuhan cairan pasien 1000 ml + (10x50ml) = 1500ml
dan setiap kenaikan suhu 1
0
C kebutuhan cairan ditambah
12 %. pada kasus ini suhu badan 38
0
C sehingga
kebutuhan cairan menjadi:
12% x 1500 = 180 ml
1500 + 180 = 1680 ml
tetesan permenit dalam makro = 1680 x 20/ 24 x 60 =
23,3  23 tetes per menit

ANALISA KASUS

Cefotaxim 3 x 500 mg
Dosis: 50-100 mg/kgbb/hari
sediaan vial 1g
20 kg x 75 mg = 1500mg/hari
PCT syr 4 x 2 Cth
dosis: anak 6- 8 tahun 10 ml
Ranitidin 2 x 25 mg IV
Vometa syr 3 x 1 Cth
dosis: 2,5- 5 mg/10 kgbb
sediaan: syr 1mg/ml x 60 ml

ANALISA KASUS

prognosis
• Ad vitam : ad bonam
• Ad sanationam : ad bonam
• Ad fungsionam : ad bonam
• prognosis pada pasien ini secara keseluruhan
ad bonam karena ditangani secara cepat dan
diberikan terapi yang tepat dan tidak
terdapatnya komplikasi.

TINJAUAN PUSTAKA


DEFINISI

Demam Tifoid adalah salah suatu penyakit
infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan
oleh Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai
ole hpanas berkepanjangan, ditopang dengan
bakteremia tanpa keterlibatan struktur
endotolial atau endokardial dan invasi bakteri
sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit
mononuklear dari hati, limfa, kelenjar limfe
usus dan Peyer’s patch.

EPIDEMIOLOGI

• Demam tifoid pada masyarakat dengan standar
hidup dan kebersihan rendah, cenderung
meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya
angka kejadian tinggi pada daerah tropik
dibandingkan daerah berhawa dingin
• Umur penderita yang terkena di Indonesia (daerah
endemis) dilaporkan antara 3-19 tahun mencapai
91% kasus. Angka yang kurang lebih sama juga
dilaporkan di Amerika Selatan.
3


EPIDEMIOLOGI

• Terjadinya penularan Salmonella typhi
sebagian besar melalui minuman/ makanan
yang tercemar oleh kuman yang berasal dari
penderita atau pembawa kuman, biasanya
keluar bersama-sama dengan tinja ( melalui
rute oral-fekal= jalur oro-fekal).
Etiologi

• Salmonella typhi sama dengan Salmonela yang
lain adalah
- bakteri Gram-negatif,
- mempunyai flagela, tidak berkapsul,
- tidak membentuk spora,
- fakulatif anaerob.
- Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri
dari oligosakarida, flagelar antigen (H) yang
terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang
terdiri dari polisakarida.

PENYEBARAN KUMAN

PATOLOGI
GAMBARAN KLINIK
Periode inkubasi demam tifoid antara 5-40 hari
dengan rata-rata antara 10-14 hari.
Pada awal penyakit keluhan dan gejala penyakit
tidaklah khas, berupa :
- Anoreksia
- Rasa malas
- Sakit kepala bagian depan
- Nyeri otot
- Lidah kotor
- Gangguan perut (perut meragam dan sakit)
1,3


Gambaran klasik demam tifoid
(Gejala Khas)
• Minggu Pertama (awal terinfeksi)
demam tinggi yang berpanjangan yaitu setinggi 39ºc
hingga 40ºc, sakit kepala, pusing, pegal-pegal,
anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan nadi antara 80-
100 kali permenit, denyut lemah, pernapasan semakin
cepat, perut kembung dan merasa tak enak,sedangkan
diare dan sembelit silih berganti.
-Pada akhir minggu pertama,diare lebih sering terjadi.
Khas lidah pada penderita adalah kotor di tengah, tepi
dan ujung merah serta bergetar atau tremor.

Gambaran klasik demam tifoid
(Gejala Khas)
Minggu Kedua
-Suhu badan yang tinggi,
-Gejala toksemia  delirium.
-Lidah tampak kering, merah mengkilat.
-Nadi semakin cepat sedangkan tekanan darah
menurun,
-Diare menjadi lebih sering
-Pembesaran hati dan limpa.
-Perut kembung dan sering berbunyi.
-Gangguan kesadaran. Mengantuk terus menerus,


Gambaran klasik demam tifoid
(Gejala Khas)
 Minggu ketiga
- Suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal
kembali
- komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk
terjadi
-delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus,
inkontinensia alvi dan inkontinensia urin.
- perforasi usus
- perdarahan
- Degenerasi miokardial toksik  kematian


Gambaran klasik demam tifoid
(Gejala Khas)
• Minggu keempat
Merupakan stadium penyembuhan


Relaps

• Pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan
dengan demikian juga hanya menghasilkan
kekebalan yang lemah, kekambuhan dapat terjadi
dan berlangsung dalam waktu yang pendek.
• Kekambuhan dapat lebih ringan dari serangan
primer tetapi dapat menimbulkan gejala lebih
berat daripada infeksi primer tersebut.
 Sepuluh persen dari demam tifoid yang tidak
diobati akan mengakibatkan timbulnya relaps.
1


DIAGNOSIS
• Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis
berupa demam, gangguan gastrointestinal dan
mungkin disertai perubahan atau gangguan
kesadaran.
• Diagnosis pasti ditegakkan dengan cara menguji
sampel darah dengan adanya Salmonella spp
dalam darah penderita, dengan membiakkan darah
pada hari 14 pertama.
• Jika terdapat leukopeni polimorfonuklear dengan
limfositosis yang relatif pada hari kesepuluh dari
demam, maka arah demam tifoid menjadi jelas.
KOMPLIKASI
 Perforasi usus halus dilaporkan dapat terjadi pada 0,5-3%
 perdarahan usus pada 1-10% kasus demam tifoid pada anak.
 gangguan kesadaran, disorientasi, delirium, obtundasi,
stupor bahkan koma.
 Hepatitis tifosa asimtomatik
 kolesistisis
 Sistitis bahkan pielonefritis
 Pneumonia
 infeksi pada tulang, otak, hati, limpa, otot, kelenjar ludah
dan persendian,
DIAGNOSIS BANDING
• Stadium dini:
1. Influenza
2. Gastroenteritis
3. Bronkitis
4. Bronkopneumonia
5. Infeksi virus lain (DBD)

DIAGNOSIS BANDING
• Stadium lanjut (demam tifoid berat):
6. Demam paratifoid
7. Malaria
8. TBC (Tuberkulosis) milier
9. Meningitis
10. Endokarditis bakterial
11. Sepsis
12. Leukemia
13. Limfoma
14. Infeksi Rickettsia (penyebab Q fever)
1,3,10


PENGOBATAN
 Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari
bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.
 Pengobatan simtomatik diberikan untuk menekan
gejala-gejala simtomatik yang dijumpai seperti demam,
diare, sembelit, mual, muntah, dan meteorismus
 Pengobatan suportif dimaksudkan untuk memperbaiki
keadaan penderita.
 pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk
pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat
kasar) dapat diberikan dengan aman pada pasien demam
tifoid.
1,2,3,10


Medikamentosa
Obat-obat antimikroba yang sering digunakan adalah :
1. Kloramfenikol:
Dosis untuk anak adalah 50-100 mg/kgBB perhari
dibagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari atau
sampai 5-7 hari setelah demam turun.
2. Tiamfenikol: Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada
demam tifoid sama dengan kloramfenikol.
3. Ko-trimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan
Sulfametoksazol) . TPM 10mg/kg/hari atau SMZ
50mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis.
3



Medikamentosa
4. Ampislin dan Amoksisilin
Dosis Ampisilin yang dianjurkan adalah
200mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 kali pemberian
secara intravena. Amoksilin dengan dosis 100
mg/kgbb/hari dibagi 4 kali pemberian per oral .
5. Sefalosporin generasi ketiga : Sefriakson 100
mg/kgbb/hari dibagi dalam 1 atau 2 dosis (maksimal 4
gram/hari) selama 5-7 hari atau sefotaksim 150-200
mg/kgbb/hari dibagi dalam 3-4 dosis.
1,3,9

6. Cefixime: 10-15 mg/kgbb/hari selama 10 hari per oral
sebagai alternatif, terutama apabila jumlah leukosit <
2000/ul atau dijumpai resisten terhadap S.typhi.
1,3,9,10


PROGNOSIS
Prognosis pasien demam tifoid tergantung
ketepatan terapi, usia, keadaan kesehatan
sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi.
Relaps dapat timbul beberapa kali. Individu
yang mengeluarkan S.Typhi > 3 bulan setelah
infeksi umumnya menjadi karier kronis.
Karier kronik terjadi pada 1-5% dari seluruh
pasien demam tifoid.
PENCEGAHAN
 Vaksin
- TAB vaccine
- Ty-21a vaccine
- komponen Vi dari Salmonella typhi

DAFTAR PUSTAKA

• Berhman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th Ed. Philadelphia: W.B
Saunders Company; 2004
• Mubin, H. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosis dan Terapi. Edisi 2. EGC. Jakarta. 2008;31-33.
• Poorwo Soedarmo, SS., dkk. (Ed.). Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Edisi Kedua. Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI). Jakarta. 2008;338-345.
• Pusponegoro, HD, dkk. (Ed.). Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ikatan DokterAnak Indonesia(
IDAI).2005;109-113.
• Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak Edisi 2. EGC. Jakarta. 2008;4;46-64.
• Rudolph A.M, Hoffman J.I.E, Rudolph C.D. Rudolph’s Pediatrics. 20
th
Ed. Appleton and Lange: Simon
AND Schuster Company; 1996
• Ranjan L.Fernando et al. Tropical Infectious Diseases Epidemiology, Investigation, Diagnosis and
Management, London, 2001;45:270-272
• Anonim. Typhoid fever and other Salmonella Infection. [online]. Diunduh dari
<http://www.worldortho.com/dev/index.php?option=com_content&task=view&id=1781&Itemid=420>
Diakses tanggal 20 desember 2011
• CDC. Typhoid and Paratyphoid fever [online]. Diunduh dari
<http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2010/chapter-2/typhoid-paratyphoid-fever.aspx>. Diakses
tanggal 20 desember 2011
• Brusch JL. Typhoid Fever dalam Emedicine Reference [online]. Diunduh dari
<http://emedicine.medscape.com/article/231135-overview>. Diakses tanggal 20 desember 2011