TUGAS PORTOFOLIO

BENIGN PROSTAT
HYPERPLASIA (BPH)

Oleh: dr. Anditta Zahrani
Pembimbing: dr. Imelda M.
PENDAHULUAN
 Hiperplasia prostat merupakan salah satu masalah kesehatan utama
bagi pria diatas usia 50 tahun dan berperan dalam penurunan
kualitas hidup seseorang.

 umur 50 tahun 20%-30% penderita akan memerlukan pengobatan
untuk prostat hiperplasia.

 Adanya hiperplasia obstruksi saluran kemih dan untuk mengatasi
obstruksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari
tindakan yang paling ringan yaitu secara konservatif (non operatif)
sampai tindakan yang paling berat yaitu operasi.

STATUS PASIEN
Identitas Pasien
 Nama : Tn. D
 Usia : 65 tahun
 Jenis kelamin : Laki-laki
 Alamat : Jl. H.Umar Maja Baru, Kel. Sumur Putri, Kec.
Teluk Betung Utara – Bandar Lampung
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Tidak bekerja
 Status pernikahan : Menikah
 Pendidikan : SMA

IDENTIFIKASI
Anamnesis diambil secara autoanamnesis dan alloanamnesis
pada tanggal 09-02-2012, jam 13.30 WIB di bangsal Mawar
RS DKT Bandar Lampung.

 Keluhan Utama
Tidak bisa BAK sejak 8hari SMRS


 Keluhan Tambahan
-

ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG



2 tahun smrs: 8 hari smrs: 7 hari smrs:



menunggu pada permulaan
buang air kecil, mengedan
pada saat buang air kecil,
alirannya terputus-putus,
tidk dipengaruhi posisi
pancaran air kencing lemah
dan menetes pada akhir
kencing. Tidak puas setelah
BAK, sering kencing terut.
malam hari, nyeri saat BAK,
nyeri BAK tidak menjalar.
BAK berdarah (-), tidak
keruh, BAK keluar pasir (-),
nyeri pinggang (-), demam
(-), penurunan BB (-).

Tidak bisa BAK
Nyeri perut
bagian bawah

Ke
Puskesmas,
dipasang
kateter, vol
urin ± ¾
urine
bag,jernih,
darah(-)

Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat darah tinggi, asma, penyakit jantung,
kencing manis disangkal.

Riwayat Penyakit keluarga
 Riwayat penyakit DM,asama, hipertensi, penyakit
jantung disangkal
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 09-03-2012, jam 13.30 WIB di bangsal
Mawar RS DKT Bandar Lampung.

Keadaan Umum
 Kesadaran : Compos Mentis
 Kesan sakit : sakit ringan
 BB : 50 kg
 TB : 160 cm
 BMI : 19,53
 Kesan gizi : cukup

Tanda Vital
 Tekanan Darah : 130/80 mmHg
 Nadi : 80 X/menit
 Pernapasan : 18 X/menit
 Suhu : 36,9 ºC

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala dan Leher
 Bentuk kepala : normocephali
 Rambut : hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut
 Wajah : simetris, tidak ditemukan benjolan
 Mata : Conjungtiva anemis -/-, Sclera ikterik -/-,
oedem palpebra -/-, Pupil isokor, 3 mm, kekeruhan pada lensa -/-

Telinga
 Tidak ditemukan kelainan pada preaurikula dextra dan sinistra,
Bentuk aurikula dextra dan sinistra normal, tidak ditemukan kelainan
kulit, tidak hiperemis, Tidak ditemukan kelainan pada retroaurikula
dextra dan sinistra
 Dinding meatus aurikularis dextra dan sinistra tidak oedem, tidak
hipremis
 Nyeri tekan tragus -/-, Nyeri tekan aurikula -/-, Nyeri tarik aurikula -/-,
Nyeri tekan retroaurikula -/-

Hidung
 Tidak terlihat deformitas
 Nares anerior: sekret -/-, darah -/-, hiperemis -/-
 Tidak ditemukan deviasi septum, Dinding concha nasalis tidak oedem,
tidak hiperemis

Mulut
 Bentuk mulut normal
 Tidak ditemukan kelainan kulit daerah perioral
 Bibir tidak pucat, tidak kering,tidak sianosis
 Lidah tidak kotor, tidak tremor, tidak hiperemis, tidak kering, tidak nampak
bercak-bercak
 Uvula terletak ditengah, tidak oedem, tidak ada pulsasi, berwarna merah
muda, Faring tidak hiperemis
 Tonsila T1-T1, tidak hiperemis

Leher
 Bentuk leher tidak tampak ada kelainan, tidak tampak pembesaran kelenjar
tiroid, tidak tampak pembesaran KGB, tidak tampak deviasi trakea
 Tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid, tidak teraba pembesaran KGB
leher, kaku kuduk (-), trakea teraba di tengah, trakeal tug (-)
 Pada auskultasi tidak terdengar bruit

Thorax
 Thorax Anterior
 Inspeksi
 bentuk thorax simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada pernapasan
yang tertinggal, pernapasan abdominotorakal
 Pada sela iga tidak terlihat adanya retraksi ataupun bulging
 Tidak ditemukan eflouresensi pada kulit dinding dada,
 Tidak terdapat kelainan tuang iga dan sternum, Tidak terlihat spider navy
 Ictus cordis terlihat pada ics 5, 1 cm medial linea midclavicularis kiri, pulsasi
abnormal (-)


Palpasi
 Pada palpasi secara umum tidak terdapat nyeri tekan dan tidak teraba benjolan pada
dinding dada, Gerak nafas simetris
 Vocal fremitus simetris pada seluruh lapangan paru, friction fremius (-), thrill (-)
 Teraba ictus cordis pada ics 5, 1 cm medial linea midclavicularis kiri , diameter 2 cm, kuat
denyut cukup
 Angulus costae 80 º

Perkusi
 Kedua hemithoraks secara umum terdengar sonor
 Batas paru-hepar pada linea midclavicularis kanan ics 6, peranjakan hepar 2 jari dibawah
ics 6
 Batas kanan bawah paru-jantung pada ics 5 linea sternalis kanan, batas kanan atas
paru-jantung pada ics 3 linea sternalis kanan
 Batas paru-lambung pada linea axilaris anterior ics 8
 Batas kiri paru-jantung pada ics 5 linea midcavicularis kiri, batas atas kiri paru-jatung
pada ics 3 linea parasternalis kiri

Auskultasi
 Suara nafas vesikuler, reguler, ronchi -/-, wheezing-/-
 BJ I, BJ II regular, kekuatan cukup, punctum maksimum pada linea midclavicula kiri ics 5,
murmur (-), gallop (-), splitting (-)


Thorax Posterior
 Inspeksi
 Bentuk simetris saat dinamis dan saat statis
 tidak terlihat eflouresensi, Tidak terlihat benjolan, Tidak
terdapat kelainan vertebra
 Palpasi
 gerak napas simetris, vokal fremitus simetis
 Tidak ditemukan nyeri tekan
 Perkusi
 tidak terdapat nyeri ketuk, Perkusi secara umum
terdengar sonor
 Batas bawah paru kanan pada ics 10, batas bawah paru
kiri pada ics 11
 Auskultasi
 suara nafas vesikuler



Abdomen
Inspeksi
 Bentuk perut rata, tidak terlihat sagging of the flanks, pinggang tampak simetris dari
anterior dan posterior
 Eflouresensi (-), Tidak terdapat pelebaran vena-vena superficial
 Tidak terdapat smilling umbilicus

Auskultasi
 Bising usus (+) normal
 Arterial bruit (-), venous hum (-)

Palpasi
 supel, defens muskular umum dan setempat (-), turgor kulit baik, tidak teraba massa
 Nyeri tekan (-) pada suprapubik
 Hepar tidak teraba, Lien tidak teraba, Vesika fellea tidak teraba, murphy sign (-)
 Ballotement -/-, Undulasi (-), NK CVA -/-

Perkusi
 Perkusi secara umum terdengar timpani
 Batas bawah hepar sejajar linea midklavikularis dextra pada ics 7 dan batas atas hepar
pada ics 5 linea midklavikularis dextra.
Ektremitas atas
Inspeksi
 Tangan kiri dan kanan simetris, tidak terlihat deformitas, tidak terdapat eflouresensi,
tidak ada ptechiae, tidak terdapat palmar eritem, distribusi rambut normal
 Kuku tidak tampak pucat, tidak sianosis, Tidak ditemukan clubbing finger
 Tidak tampak pembengkakan sendi, kedua extremitas atas dapat bergerak aktif dan
bebas, Tidak ada gerakan involunter, tidak ada tremor
Palpasi
 tidak terdapat nyeri tekan, akral hangat dan kering
 pitting oedem (-)
 kekuatan otot normal

Ekstremitas bawah
Inspeksi
 Tungkai kiri dan kanan simetris, tidak terlihat deformitas, tidak terdapat eflouresensi,
tidak ada ptechiae, distribusi rambut normal
 Kuku tidak tampak pucat, tidak sianosis, Tidak ditemukan clubbing finger
 Tidak tampak pembengkakan sendi, kedua extremitas bawah dapat bergerak aktif dan
bebas, Tidak ada gerakan involunter
Palpasi
 tidak terdapat nyeri tekan, akral hangat dan kering
 pitting oedem (-)
 kekuatan otot normal


STATUS LOKALIS

Regio Suprapubik
 Inspeksi : Datar, tidak tampak massa
 Palpasi : Nyeri tekan (-), tidak teraba massa
 Perkusi : Timpani

Regio Genitalia Eksterna
 Inspeksi : Tidak tampak massa, tidak tampak
pembesaran scrotum, terpasang cateter, produksinya ada, urin berwarna
kuning jernih
 Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, tidak teraba masa, tidak
teraba pengerasan pada bagian ventral penis.

Regio Anal
 Inspeksi : Tidak tampak massa
 Palpasi : Nyeri tekan tidak ada
 Rectal toucher : Tonus sfingter ani cukup, ampula recti tidak
kolaps, mukosa rectum licin. Prostat : teraba membesar, polus atas tidak
dapat diraba, sulcus medianus mendatar, kenyal, permukaan licin,tidak
nyeri.
 Sarung tangan : Feses tidak ada, darah tidak ada, lendir tidak ada



PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN PENUNJANG

 GDS: 112 mg/dl (< 140 mg/dl)
 SGOT : 31 u/l (< 42 u/l)
 SGPT : 14 u/l (<47 u/l)
 Ureum: 39 mg/dl (10-40 mg/dl)
 Kreatinin: 1,2 mg/dl (0,67-1,50
mg/dl)
 Hb: 15 g/dl (13-18 g/dl)
 Leukosit: 6400 /mm
3
(4500-10000
/mm
3
)
 LED : 85 mm/jam (0-10 mm/jam)


 Trombosit: 312.000 /mm
3
(150000-400000 /mm
3
)
 Ht : 18%
 Bleeding time: 2’30” (1’- 3’)
 Clotting time: 7’ (1’- 10’)
 Protein total : 6,3 g/dl ( g/dl)
 Abumin : 4,5 g/dl ( g/dl)
 Globulin : 1,8 g/dl ( g/dl)


 Warna :
kuning jernih
 pH : 6,0 (4,6-
8,0)
 Protein : -
 Glukosa : -
 Leukosit : -
 Eritrosit : - 0-
1 /LPB
 Epitel : +
 Kristal amorf : -

 Urobilinogen :
normal
 Bilirubin : -
 Ketone : -
 Silinder : -
 Nitrit : -
 Darah : -
 Berat jenis : 1015



EKG
 Normal
Rontgen thorax PA
 Normal

 DIAGNOSIS KERJA
Suspek BPH

DIAGNOSIS BANDING
 Urolithiasis
 ISK
 Ca prostat


RENCANA PEMERIKSAAN TAMBAHAN
 USG abdomen
 PSA

PENATALAKSANAAN
 IVFD RL 20 tpm
 Ganti kateter urin
 Konsul Sp.U (setelah hasil USG keluar) untuk
rencana protatektomi.

PROGNOSIS
 Ad vitam : dubia ad bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam
 Ad fungsionam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

BENIGN PROSTATE
HYPERPLASIA
DEFINISI
 kelenjar periuretral prostat
mengalami hiperplasia yang
akan mendesak jaringan
prostat yang asli ke perifer
dan menjadi simpai bedah
.



ANATOMI

 kelenjar bentuk konus terbalik
yang dilapisi oleh kapsul
fibromuskuler,yang terletak
disebelah inferior vesika
urinaria, mengelilingi uretra
pars prostatika , disebelah
anterior rektum

 zona perifer, zona sentral, zona
transisional (BPH), zona
fibromuskuler anterior, dan
zona periuretral.

4 ZONA PROSTAT

 1. zona perifer
 2. zona sentral
 3. zona transisional
 4. zona fibromuskular
anterior
ANATOMI
 menghasilkan suatu cairan (±25% dari seluruh
volume ejakulat) melalui duktus sekretorius di
keluarkan bersama cairan semen lain (saat
ejakulasi).

ANATOMI
 inervasi otonomik simpatik & parasimpatik  pleksus prostatikus
(pelvicus).

 Pleksus prostatikus ( pleksus pelvikus ) menerima masukan serabut
parasimpatik dari korda spinalis S
2-4
dan simpatik dari nervus
hipogastrikus (T
10
-L
2
).

 parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat,

 Simpatik inervasi pada otot polos prostat, kapsula prostat, leher
buli-buli tonus otot polos, (+) reseptor adrenegika >>.
 Rs.simpatis pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior
(ejakulasi),

EPIDEMIOLOGI
 >40 tahun
 50 tahun 20%-30%
 80 tahun sekitar 80%
ETIOLOGI
 Teori dihidrotestosteron (DHT)

testosteron DHT

DHT + reseptor androgen (RA) kompleks DHT-RA pada inti selsintesis
growth factor menstimulasi pertumbuhan sel prostat.

BPH, aktivitas enzim 5a-reduktase & reseptor androgen >>  sel-sel prostat
pada BPH lebih sensitif terhadap DHT  replikasi sel >> prostat N

NADPH
5α reduktase
ETIOLOGI
 Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
usia tua: testosteron ↓, estrogen relatif tetap  estrogen: testostron=
relatif meningkat.

Estrogen  ↑ sensitifitas sel prostat thd rsg.hormon androgen & ↓ jml
sel prostat (apoptosis)  proliferasi sel-sel kelenjar prostat

meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan
testosteron ↓, tapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur
lebih panjang massa prostat jadi lebih besar.

ETIOLOGI
 Interaksi stroma-epitel
Cunha (1973) : diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat
secara tidak langsung di kontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu
mediator (growth factor).

 Berkurangnya kematian sel prostat
Estrogen di duga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat,
sedangkan faktor pertumbuhan

 Teori sel stem
BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem
sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun
epitel.

PATOFISIOLOGI
Hiperplasia prostat

Penyempitan lumen uretera posterior

Tekanan intravesikal ↑

Kontraksi Buli-buli >> Ginjal & ureter
Refluks vesikoureter
Hidroureter
Hidronefrosis
Gagal ginjal
LUTS
Hipertrofi otot detrusor
Trabekula, selula
(fase kompensasi)
Resistensi uretra ↑
Otot detrusor kontraksi (-)
(dekompensasi)
Retensi urin
SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS)

 0 = Tidak pemah
 1 = Kurang dari sekali dari 5 kali kejadian
 2 = Kurang dari separuh kejadian
 3 = Kurang lebih separuh dari kejadian
 4 = Lebih dari separuh dari kejadian
 5 = Hampir selalu

 Dalam satu bulan terakhir ini berapa seringkah anda:
 Merasakan masih terdapat sisa urine sehabis kencing ?
 Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing ?
 Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan
berkali-kali?
 Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing ?
 Merasakan pancaran urine yang lemah ?
 Harus mengejan dalam memulai kencing ?





 Untuk pertanyaan nomer 7, jawablah dengan skor seperti di bawah ini:
 0 = Tidak pernah 3 = Tiga kali
 1 = Satu kali 4 = Empat kali
 2 - Dua kali 5 = Lima kali
 Dalam satu bulan terakhir ini berapa kali anda terbangun dari tidur malam
untuk kencing ?
 Total Skor (S) = ............
 Pertanyaan nomer 8 adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan
gejala di atas; jawablah dengan:
 Sangat senang 2. Senang
 3. Puas 4. Campuran antara puas dan tidak
puas
 5. Sangat tidak puas 6. Tidak bahagia
 7. Buruk sekali
 Dengan keluhan seperti ini bagaimanakah anda menikmati hidup ini?
 Kesimpulan: S__, L_I , Q_, R _ ,V_I
 (S:Skor I-PSS, L:Kualitas hidup, Q: pancara urine dalam ml/detik, R: sisa
urine, V: volume prostat)

GEJALA KLINIS
 Keluhan Saluran Kemih Bawah (LUTS)
• hesitansi
• Pancaran miksi lemah
• Intermiten (miksi terputus)
• Menetes setelah miksi
Obstruksi
• frekuensi
• Nokturi
• Urgensi
• disuri
Iritasi
GEJALA KLINIS
 Gejala pada saluran kemih bagian atas:
Nyeri pinggang, benjolan di pinggang (hidronefrosis), demam
(infeksi)

 Gejala di luar saluran kemih
Hernia inguinalis, hemoroid
PEMERIKSAAN FISIK

 Rectal Toucher (RT) :
a. Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat
konsistensinya kenyal)
b. Adakah asimetris
c. Adakah nodul pada prostate
d. Apakah batas atas dapat diraba
e. Sulcus medianus prostate
 Pielonefritisginjal dapat teraba, NK CVA
 Retensi urinVesica urinaria dapat teraba, NT (+)
suprasimfisis.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
 Urinalisa&Sedimen urin infeksi/hematuri.
 Kultur urine
 Faal ginjal, ureum kreatinin
 Pemeriksaan gula
 penanda tumor PSA.

b. Gambaran Radiologis
 BNO batu opak saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat
 USG transrektal/TRU
 USG transabdominal
 PIVfilling defect/indentasi prostat pada dasar kandung kemih
ujung distal ureter membelok keatas berbentuk seperti mata
kail (hooked fish), hidroureter, hidronefrosis


PEMERIKSAAN PENUNJANG
c. Uroflow metri
(1) pancaran urin maksimal (maximal flow rate-Qmax);
(2) volume urin yang keluar (voided volume);
(3) lama waktu miksi.
Pengukuran sisa urin yang tertinggal dalam buli-buli setelah buang air kecil
diukur dengan memasang kateter setelah buang air kecil.

 Angka normal pancaran kemih rata-rata 10-12 ml/ detik dan pancaran
maksimal sampai sekitar 20 ml/detik.

 obstruksi ringan pancaran 6-8 ml/detik, max.menjadi 15 ml/detik atau
kurang.


DIAGNOSA BANDING
 ISK
 Batu saluran kemih
 Ca prostat
 Striktur uretra
KOMPLIKASI
 Batu Kandung Kemih
 Hemoroid
 ISK
 Hidroureter
 Hidronefrosis
 Gagal Ginjal


Riwayat
Pemeriksaan fisik & DRE
Urinalisa
PSA (meningkat/tidak)
Indeks gejala
AUA
Gejala ringan
(AUA≤7)/
tdk ada
gejala
Gejala sedang
/berat
(AUA≥8)
Retensi urinaria+gejala yang
berhubungan dg BPH
Hematuria persistent
Batu buli
Infeksi saluran urinaria
berulang
Insufisiensi renal

Operasi
Tes diagnostic
Uroflow
Residu urin postvoid
Pilihan terapi
Terapi non-invasif Terapi invasif
Tes diagnostic
Pressure flow
Uretrosistoskopi
USG prostat
Watchful waiting Terapi medis
Terapi minimal invasif Operasi
Bagan Penatalaksanaan Benigna Prostat Hiperplasia
PENATALAKSANAAN
1. Watchful Waiting
 BPH dengan gejala ringan(score 0-7).
 Jangan mengkonsumsi alkohol atau rokok setelah makan malam
 Kurangi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli
 Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin
 Kurangi makanan pedas atau asin
 Jangan menahan kencing terlalu lama

PENATALAKSANAAN
2. Terapi Medis
I. Alpha Bloker
 ↓ resistensi otot polos prostat,memperbaiki miksi & laju pancaran urin
 Prazosin (2X1), terazosin, afluzosin, dan doksazosin (1X1)
 Tamsulosin (penghambat adrenegik-a
1A
) selektif. Tidak menimbulkan efek
terhadap tekanan darah maupun denyut jantung.

II. Inhibitor 5 alpha-reduktase
 Finasteridememblok perubahan hormon testosteron menjadi
dihydrotestosteron.

III. Fitofarmaka
 anti-androgen, ↓ sex hormon binding globulin (SHBG), inhibisi basic fibroblast
growth factor (BFGF) dan epidermal growth factor (EGF), mengacaukan
metabolisme prostaglandin, efek anti inflamasi, ↓ outflow resistance, ↓ volume
prostat.
 Pygeum africanum, serena repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica

PENATALAKSANAAN
3. Terapi Operasi Konvesional
TURP
 Reseksi prostat secara endoskopi yang di masukan melalui penis atau uretra
mempergunakan cairan irigasi (pembilas) agar daerah yang akan direseksi
tetap terang dan tidak tertutup oleh darah.
PENATALAKSANAAN
Transurethral Inscision Of The Prostat (TUIP)
 BPH sedang - berat serta kelenjar prostat yang kecil, sering mempunyai
hyperplasia pada komisura posterior (leher buli-buli terangkat)
 Pada cara ini melibatkan 2 potongan menggunakan pisau Colinns pada arah
jam 5 dan jam 7. kedua potongan ini dimulai dari arah distal sampai mulut
uretra dan meluas keluar sampai ke verumontirium


PENATALAKSANAAN
Open Simple Prostatektomi
 Jika ukuran prostat terlalu besar (> 100g) untuk dipindahkan secara
endoskopi.


• kronik obstruktif dengan azotemia
• obstruksi kronik dengan eksaserbasi akut
• batu buli-buli dengan obstruksi kronik
• kerusakan pada buli-buli dan traktus urinarius
bagian atas dari obstruksi
• infeksi traktus urinarius berulang dari obstruksi
• perdarahan dari hipertrofi benigna
Indikasi absolut
prostatektomi
• retensi akut
• frekuensi BAK yang mengganggu tidur atau kerja
perubahan obstruksi awal pada buli-buli serta
traktus urinarius bagian atas
• residual urin
• batu buli-buli
• prostatitis berulang
• BPH dengan komplikasi
Indikasi relatif
prostatektomi
PENATALAKSANAAN

• secara transvesical
• operasi pilihan dalam menangani masalah kelainan dalam
buli-buli.
• buli-buli dibuka dibuat satu potongan semisirkuler pada
mukosa buli-buli, distal dari trigonum.
• Pemotongan pada bidang datar harus sangat tajam,
potongan tumpul menggunakan jaripemindahan
adenoma.
• penjahitan, sebelumnya telah dipasang kateter uretra dan
suprapubik
Simple
suprapubik
prostatekto
mi
• buli-buli tidak di masuki
• insisi pada daerah kapsul prostate yang akan di operasi,
• adenomanya di enukleasi
• hanya digunakan 1 kateter.
simple retropubik
prostatektomi
PENATALAKSANAAN
Terapi Invasif Minimal
I. Terapi Laser
 4 sumber tenaga: Nd YAG, Holmium YAG, KTP YAG, & diode
1. Transurethral Laser Induced Prostatectomy (TULIP)
2. Visual Contact Ablative
3. Terapi Laser Intersitiel



PENATALAKSANAAN
II. Elektrovaporasi Prostat
 Sama dengan TURP, hanya teknik ini memakai roller ball yang spesifik
dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat, sehingga mampu membuat
vaporisasi kelenjar prostat. Hanya pada prostat yang tidak terlalu besar (<50
gram), operasi lebih lama.

III. Termoterapi
 Energi panas bersamaan gelombang mikro dipancarkan melalui kateter
transuretra. Dapat melunakkan jaringan prostat yang membuntu uretra.
Direkomendasikan bagi prostat yang ukurannya kecil.

IV. Transurethral needle ablation of the prostate (TUNA)
 memakai energi dari frekuensi radiomenimbulkan panas sampai 100
o

nekrosis jaringan prostat. Tdd kateter TUNA yang dihubungkan dengan
generator



PENATALAKSANAAN
V. High – intensity focused ultrasound (HIFU)
 USG dual fungsi,diletakkan direktum. Probenya memberikan gambaran
prostat & menghantarkan ledakan kecil dari energi USG mengakibatkan
panasnya jaringan prostat  mengakibatkan suatu nekrosis koagulasi

VI. Intrauretrhal stenting
 secara endoskopi diletakkan didalam fossa prostatika untuk menahan bentuk
dari uretrha pars prostatika.

VII.Transurethral balloon dilatation of the prostate
 suatu kateter yang mampu mendilatasi fossa prostatika saja atau fossa
prosatika dan leher buli –buli.
TERIMA KASIH