You are on page 1of 29

KELOMPOK C21

Novy dwi rumani
Pegy Soraya
Sri Wahyuni
Hesti Indah Suzeta
Siska Mardyanti
Aulia Taufik Akbar
Prima Suci Anggraini
Amara Ihsan
Putri Geni Amelia
TRIGGER: DISLOKASI MANDIBULA
Ibu ani berumur 39 th ke bagian THT RSI Siti Rahmah karena
tidak mampu menutup mulutnya dan kesulitan bicara dan
terasa nyeri sekali pada sendi temporo mandibular karena
kecelakaan 3 hari yang lalu. Pada pemeriksaan terlihat
mobilitas rahang berkurang dan teraba nyeri tekan. Ro foto
ada kelainan posisi mandibula.
DEFINISI
• Dislokasi Mandibula adalah suatu gangguan
yang terjadi karena pergeseran Sendi
temporomandibuler.
• Temporomandibular
joint(TMJ) adalah persendian
dari condilus mandibula
dengan fossa gleinodalis dari
tulang temporal.
• Fungsi :
- membuka dan menutup
rahang
- mengunyah
- berbicara
• Otot yang terlibat:
1. M.masetter
2. M. pterygideus
lateralis(externus)
3. M. Ptreygideus
medialis (internus)
4. M. temporalis
• Sendi temporomandibuler
merupakan sendi yang paling
kompleks, sendi ini membuka
dan menutup seperti sebuah
engsel dan bergeser ke depan,
ke belakang dan dari sisi yang
satu ke sisi yang lainnya.
Selama proses mengunyah,
sendi ini menopang sejumlah
besar tekanan.
Sendi ini memiliki sebuah
kartilago (tulang rawan)
khusus yang disebut cakram,
yang mencegah gesekan
antara tulang rahang bawah
dan tulang tengkorak.


Etiologi
• Sebahagian kasus dislokasi terjadi secara spontan,saat:
1. Membuka mulut terlalu lebar(menguap,berteriak,makan atau saat
perawatan gigi)
2. Fossa mandibula yang dangkal dan kepala kondilus tidak berkembang
dengan baik(faktor predisposisi)
3. Manipulasi airway dalam tindakan anastesi
4. Kasus trauma akibat benturan ke arah bawah dari mandibula pada saat
membuka mulut.
5. Anatomi yang abnormal serta kerusakan dari stabilitas ligament yang
akan mempunyai kecenderungan terjadi kembali
6. Kelemahan kapsuler yang dihubungkan dengan subluksasi kronis
7. Diskoordinasi otot-otot karena pemakaian obat-obatan atau gangguan
neurologis
klasifikasi
1. Dislokasi ke arah anterior
kondilus bergerak ke anterior dari eminensia artikulare
paling sering terjadi
pergerakkan sendi yg patologis
2. Dislokasi ke arah posterior
implikasi dari adanya fraktur dasar tengkorak atau dinding depan meatus
3. Dislokasi ke arah lateral
terbagi 2:
1. subluksasi lateral
2. kondilus tertekan ke lateral dan masuk ke fossa
temporal
4. Dislokasi ke arah superior merupakan dislokasi ke arah fossa kranialis
bagian tengah yg biasanya berhubungan dengan adanya fraktur pada
fossa glenoidale.

• Jika dislokasi terjadi secara bilateral
mandibula berpegang pada posisi bergantung
dan hanya gigi geligi posterior yang berkontak

• Dislokasi unilateral
terlihat gigitan terbuka tetapi garis tengah dari
dagu deviasi ke arah yg normal
Gejala klinis
• Sakit kepala terkadang sakit kepala hilang
timbul
• Nyeri saat membuka, menutup mulut, makan,
mengunyah,berbicara
• Bahkan dapat menyebabkan mulut terkuci
• Munculnya bunyi saat rahang membuka dan
menutup “clicking”yang terkadang tidak
disertai nyeri sehingga pasien tidak menyadari
adanya kelainan sendi temporomandibular
Identitas Pasien
Nama : Ny. Ani
Umur : 39 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Alamat : Jln. Raya Siteba

Anamnesa
• Keluhan utama : tidak mampu menutup
mulutnya dan kesulitan bicara
• Riwayat penyakit sekarang: terasa sangat nyeri
sendi temporo mandibular karena kecelakaan
3 hari yang lalu
• Riwayat penyakit dahulu: tidak ada


Pemeriksaan fisik
• Status generalisata
- Keadaan umum : tampak baik
- Kesadaran : compos mentis

- Tanda vital :
- Tekanan Darah : 110/80 mmHg
- Nadi : 90 x/menit
- Suhu : 36,5 ◦C
- Napas : 24 x/menit
- keadaan gizi : baik

a. Kepala : normochepal
b. Wajah : simetris
c. Rambut : T.A.K
d. Mata : T.A.K
e. mulut : mandibula bergeser
f. Telinga : T.A.K
g. Leher : T.A.K
h. Toraks :T.A.K
i. Abdomen : T.A.K
j. Ekstremitas atas : T.A.K
k. Ekstremitas bawah : T.A.K


• Pemeriksaan dapat berupa:
penekanan pada bagian samping wajah atau memasukkan
jari tangan ke dalam telinga penderita dan dengan hati-hati
menekan ke arah depan pada saat penderita membuka dan
menutup rahangnya.

Juga dilakukan perabaan pada otot-otot yang digunakan
untuk mengunyah, untuk menentukan adanya nyeri atau
nyeri tumpul dan untuk menentukan apakah rahang
menggeser ketika penderita menggigit.

• Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan.

Pemeriksaan fisik
• Tergantung:
- lama dislikasi
- terjadi bersamaan dengan fraktur
- dislokasi bilateral/unilateral

A. UNILATERAL
- mandibula miring
- bagian yang terkena lebih kebawah posisinya
disertai pembengkakan
- lunak jika ditekan
- palpasi kelainannya terjadi di sekitar sendi TMJ.
- gigi-gigi tidak dapat diokulasi baik secara pasif maupun aktif
B. BILATERAL
-pasien terlihat prognati dan terdapat
pembengkakan bilateral
-lunak jika di tekan pada kedua sisi TMJ
- gigi-gigi tidak dapat diokulasikan(aktif maupun
pasif karena adanya hambatan mekanis)
-biasanya spasme otot masseter bilateral dapat
teraba
Rontgen
- Proyeksi AP axial


Terjadi sedikit superposisi
oleh condilus pada
pemeriksaan close mouth
Proyeksi axiolateral oblique
Tampak gambaran mastoid air
cell, posisi kondilus berada di
anterior eminensia artikulare
Pemeriksaan penunjang
- Foto panormik sangat akurat mendeteksi dan
mengenali fraktur mandibula dan letak
dislokasi
- CT-scan dan MRI dapat menunjukkan dislokasi
namun tidak diindikasikan pada kasus-kasus
sederhana. MRI khusus digunakan untuk
melihat kelainan struktur TMJ pada kasus rasa
sakit yang kronis pada rahang yang
berhubungan dengan sindroma TMJ
penatalaksanaan
Dapat dilakukan dengan reposisi manual, tanpa
pembedahan dan dengan pembedahan
Terutama pada dislokasi yg bersifat rekuran
dengan kemungkinan terjadi redislokasi
sangat besar. Cara lain untuk rekuren adalah
menyuntikkan intra artikular larutan
skleroting.
• Pada keadaan akut
dapat dilakukan reposisi manual segera
mungkin sebelum spasme otot.
• Pada keadaan kronis rekuren
prosedur pembedahan dan non bedah lainnya
untuk menghindari redislokasi
Prosedur terapi manual

• Metode reduksi (Hippocrates 5 SM)
PROSESUSU CORONoideus serta penekanan pada kondilus
reduksi secara langsung melalui pembedahan pada sendi
condylotomy dan osteotomy pada dislokasi rekuren

Cara 1:
1. Operator berada didepan pasien
2. Letak ibu jari pada daerah retromolar(dibelakang gigi molar terakhir)pada
kedua sisi mandibula dan jari-jari yang lain memegang permukaan bawah
dari mandibula
3. Berikan tekanan pada gigi-gigi molar rahang untuk membebaskan kondilus
dari posisi terkunci didepan eminensia artikulare
4. Dorong mandibula ke belakang untuk mengembalikan ke posisianatominya
5. Reposisi yang berhasil di tandaidenga gigi-gigi kembali beroklusi dengan
cepat karena spasmedari otot masseter

6.Pemasangan barton head bandage, mencegah dan
membatasi pasien untuk tidak membuka mulut terlalu
lebardalam 24-48 jam.
7. Pemberian obat berupa analgetik dan pelemas otot

Cara 2:
1. Operator berada di belakang pasien
2. Ibu jari diletakkan pada retromolar dan jari-jari lain
memegang mandibula ditekan kearah caudal(bawah) dan
biasanya akan tertarik dengan berdirinya ke posterior
3. Teknik ini lebih efektif jika disertai dengan sedasi



Pada keadaan tertentu dimana reposisi terlambat
dilakukan dan spasme otot semakin kuat,di
anjurkan memberikan anasterikum lokal yang
disuntikan pada daerah sendi untuk mengurangi
spasme otot pterygoideuslateralis dan masseter
dan mengurangi sakit di sekitar kapsul sendi

Injeksi diazepam iv untuk merelaksasikan otot-otot
yang spasme.

Terapi dislokasi kronis(long standing)
• Reduksi secara manual
• Reduksi secara tidak langsung
penarikan melalui sudut sigmoid notch atau secara konservatif
dengan immobilisasi menggunakan interdental wiring selama 4-6
minggu atau menggunakan cairan skleroting yang disuntikkan intra
artikular
• Penatalaksanaan dislokasi rekuren dengan pembedahan,5 metode:
1. pengencangan mekanis dari kapsul
2. mengikat bagian sendi atau mandibula ke struktur
yang terfiksasi
3. membuat hambatan mekanisme pada jalur kondilus
4. mengurangi gangguan pada jalur kondilus
5. mengurangi tarikan dari otot
• Pembedahan dilakukan diantaranya
augmentasi eminensia, blocking hipertranslasi
kondilus, myotomy otot pterygoideus lateralis
dan eminoplasty
• Dislokasi karena trauma, maka reposisi harus
diikuti tindakan untuk penatalaksanaan
fraktur yg mengakibatkan dislokasi tersebut
Prognosa
Pasien dapat sembuh apabila ditangani
dengan baik dan semaksimal mungkin oleh
tim medis secara cepat dan tepat.
Daftar pustaka
• Newton E. Dislocation mandible, at
www.emedicine.com
• Jurnal kedokteran gigi