You are on page 1of 50

ABSES PARU

IDENTITAS PASIEN
 Nama : Tn.A
 Jenis Kelamin : Laki-Laki
 Usia : 54 tahun
 Tanggal Lahir : 14 Januari 1959
 Status Perkawinan : Sudah menikah
 Agama : Islam
 Alamat : Kp.Kundur Rt.03/02, Desa
Mekarwangi
 Tanggal Masuk RS : 17 Oktober 2013
 Nomor RM : 0201398
ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamesis
Tanggal : 17 Oktober 2013

Keluhan Utama
Batuk sejak 1 bulan SMRS

ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan batuk sejak 1
bulan SMRS. Batuk berdahak warna kuning
kehijauan dan berbau. Adanya batuk darah
disangkal. Pasien menyatakan sering merasa
sesak napas. Sesak tidak dipengaruhi oleh
aktivitas. Adanya demam kadang dirasakan
oleh pasien sejak ±1 bulan terakhir.
ANAMNESIS
Sejak 1 bulan terakhir, pasien mengakui
adanya penurunan berat badan namun
tidak mengetahui dengan pasti berapa
kg. Nafsu makan dirasakan menurun.
Pasien sudah berobat ke mantri untuk
mengobati penyakitnya, namun
dirasakan tidak ada perubahan.




ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Dahulu
Belum pernah sakit seperti ini
sebelumnya.
Tidak ada riwayat alergi, baik makanan
maupun obat-obatan.
Riwayat OAT sebelumnya disangkal.



ANAMNESIS
Riwayat Kebiasaan
Pasien adalah perokok aktif
Riwayat minum alkohol dan menggunakan
narkoba disangkal


PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan Umum
 Kesadaran : komposmentis
 Keadaan Umum : tampak sakit sedang

Tanda Vital
 Tekanan Darah : 90 /60 mmHg
 Nadi : 99 x / menit
 Suhu : 37,9º C
 Pernafasan : 24 x / menit

PEMERIKSAAN JASMANI
Kepala
 Mata : konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik,
pupil isokor, refleks cahaya langsung +/+,
refleks cahaya tidak langsung +/+
 Telinga : di kedua telinga tampak meatus akustikus
ekternus lapang, membran timpani intak,
refleks cahaya (+)
 Hidung : mukosa tidak oedem, tidak tampak sekret
 Mulut : tidak tampak sianosis, mukosa tidak
hiperemis, oral hygiene baik
 Leher : tidak tampak distensi vena, trachea teraba
lurus di tengah, KGB dan tiroid tidak teraba
membesar

PEMERIKSAAN JASMANI
Paru
 Inspeksi : tipe pernafasan abdomino-thoracal,
tampak simetris dalam keadaan statis maupun dinamis,
tidak tampak retraksi sela iga
 Palpasi : fokal fremitus simetris
 Perkusi : sonor, simetris
 Auskultasi : suara nafas vesikuler melemah di lapang
paru kanan, terdengar ronkhi dan tidak ada
wheezing.


PEMERIKSAAN JASMANI
Jantung
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : ictus cordis teraba di sela iga V garis
midclavicularis kiri, tidak ada thrill
 Perkusi
batas atas jantung : sela iga III garis sternalis kiri
batas kanan jantung: garis sternal kanan
batas kiri jantung : sela iga V, 1 cm garis
midclavicularis kiri
 Auskultasi : bunyi jantung I normal, bunyi jantung II
normal, tidak ada splitting, irama regular, tidak
ada murmur, tidak ada gallop
PEMERIKSAAN JASMANI
Abdomen
 Bentuk : simetris, datar, tidak ada benjolan
 Hepar : tidak teraba pembesaran
 Lien : tidak teraba pembesaran
 Ginjal : tidak ada nyeri ketuk costo vertebra di
kedua sisi
 Palpasi : supel, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
nyeri lepas
 Auskultasi : bising usus (+) normal

PEMERIKSAAN JASMANI
Ekstremitas
 Atas : tidak sianosis, akral hangat, tidak ada
oedem, pulsasi arteri radialis teraba
normal, tidak ada tremor halus
 Bawah : tidak sianosis, akral hangat, tidak ada
oedem di kedua tungkai, pulsasi arteri
dorsalis pedis teraba normal

Genital : tidak diperiksa
Status neurologis
 terdapat refleks bisep, trisep, patella dan achilles normal
 tidak ada refleks Babinsky dan Brudzinsky


RESUME
 Laki-laki 54 tahun, batuk berdahak sejak 1 bulan
SMRS, dahak warna kuning kehijauan dan berbau,
sesak, terdapat penurunan berat badan dan
demam.
 Pada pemeriksaan fisik didapatkan suara nafas
vesikuker melemah di lapang paru kanan dan
terdapat ronkhi.


DIAGNOSIS KERJA
Abses Paru
PENATALAKSANAAN
 O
2
nasal 2-4 liter per menit
 IVFD Asering/12 jam
 Ceftriaxon 1 x 3 gr i.v
 Metronidazole drip 3 x 500 mg
 Ranitidin 2 x 1 A i.v
 PCT 3 x 500 mg p.o.
 Ambroxol 3 x 1 tab
 Diet TKTP
 Cek DPL II, ur/cr, elektrolit, SGOT/PT, BTA 3x,
analisis sputum

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan 17 Oktober 2013
Lekosit 14.080/uL
Eritrosit 3.220.000/uL
Hb 9,50 g/dL
Hematokrit 28,4 %
MCV 88,2 fL
MCH 29,5 pg
MCHC 33,5 g/dl
Trombosit 379.000/uL
Hitung Jenis


Basofil 0
Eosinofil

1
Batang

0
Segmen 78
Limfosit 10
Monosit 11
Pemeriksaan 17 Oktober 2013
LED 120 mm
SGOT 84 U/L
SGPT 111 U/L
Protein total 5.83 g/dL
Albumin 3.77 g/dL
Globulin 2.06 g/dL
Fungsi Ginjal
Ureum

19.90 mg/dL
Kreatinin 0.93 mg/dL
Elektrolit
Natrium

126 mEq/L
Kalium 3.5 mEq/L
Chlorida 88 mEq/L
FOLLOW UP
18 Oktober 2013 19 Oktober 2013 20 Oktober 2013
S Batuk Batuk Batuk
O ronkhi +/+ ronkhi +/+ ronkhi +/+
A •Abses Paru kiri
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
P

• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• Rencana pemeriksaan
sputum mikroorganisme
PEMERIKSAAN PENUNJANG
(19/10/2013)
FOLLOW UP
21 Oktober 2013 22 Oktober 2013 23 Oktober 2013
S Batuk Batuk Batuk
O ronkhi +/+ ronkhi +/+ ronkhi +/+
A •Abses Paru kiri
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri kemungkinan TB
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri +efusi pleura dx
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
P

• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering 500cc/12
jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500 mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• BTA sputum 3x, ro
thorax lat kanan
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering 500cc/12
jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
PEMERIKSAAN PENUNJANG
(22/10/2013)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
(23/10/2013)
FOLLOW UP
24 Oktober 2013 25 Oktober 2013 26 Oktober 2013
S Batuk Batuk Batuk
O ronkhi +/+ ronkhi +/+ ronkhi +/+
A •Abses Paru kiri+efusi pleura dx
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri+efusi pleura dx
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri+efusi pleura dx
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
P

• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
PEMERIKSAAN PENUNJANG
(25/10/2013)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
(25/10/2013)
FOLLOW UP
27 Oktober 2013 28 Oktober 2013 29 Oktober 2013
S Batuk Batuk Batuk
O ronkhi +/+ ronkhi +/+ ronkhi +/+
A •Abses Paru kiri+efusi pleura dx
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri+efusi pleura dx
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
•Abses Paru kiri+efusi pleura dx
•Gangguan elektrolit
•Gangguan fungsi hati
P

• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
• O
2
2-4 liter/menit

• IVFD Asering
500cc/12 jam
• Ceftriaxon 1 x 3 gr
• Metronidazol 3 x 500
mg
• Clyndamicin 2x600mg
• Ranitidin 2 x 1 A
• PCT 3 x 500 mg
• Ambroxol 3 x 1 tab
• Curcuma 3 x 1 tab
PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
ANALISA KASUS
TEORI
Gejala awal :
1. Badan terasa lemah
2. Nafsu makan menurun
3. Penurunan berat badan
4. Batuk kering
5. Keringat malam
6. Demam intermitten disertai
mengigil


Keadaan Klinis Pada
Pasien
1. Nafsu makan menurun
2. Penurunan berat badan
3. Batuk
4. Demam

Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
TEORI

 Demam
 ditemukan suara timpani
diatas rongga dan suara
redup di pinggir rongga

Pada pasien

 Suhu 37,9
0
C
 Auskultasi: Rh +/+
PEMERIKSAAN PENUNJANG
HASIL LABORATORIUM PADA PASIEN
Leukositosis, netrofilia
Anemia
Analisis cairan pleura :
warna merah, keruh, rivalta (+),
bekuan (+), sel PMN 100%
 leukosit umumnya tinggi,
berkisar 10.000-30.000
 Hitung jenis bergeser ke kiri
dan sel polimorfonuklear
yang banyak terutama
netrofil yang imatur
 Bila abses berlangsung lama
sering ditemukan adanya
anemia

PEMERIKSAAN PENUNJANG
RADIOLOGI
PADA PASIEN
 Pada awal penyakit 
gambaran densitas homogen
yangberbentuk bulat
 Bila abses tersebut
mengalami ruptur  tampak
kavitas irregular dengan batas
cairan dan permukaan udara
(air fluid level) didalamnya
Pendahuluan
 Pengelompokan abses didasarkan pada sebab
dan lamanya serangan.
 Angka kematian pada pasien dengan status
immunocompromised atau obstruksi bronkial
yang berkembang menjadi abses paru
meningkat menjadi 75 % (Pohlson, 1985).
 Kematian banyak disebabkan oleh perpaduan
bakteri gram positif dan negatif.
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Anatomi
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Fisiologi
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Definisi
 Infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan
paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas
yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada
satu lobus atau lebih.
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Etiologi
 Infeksi saluran pernapasan
 Mikroorganisme
 Jamur
 Parasit
 Mikrobakterium
Abses Paru dan Penatalaksanaan
 Melalui :
1. Aspirasi
2. Hematogen
 Abses paru :
1. Primer
2. Sekunder (lanjutan)
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Patofisiologi
1. Right lung
2. Trakea
3. Left lung
4. Abcess
Gejala Klinis
 Gejala awal :
1. Badan terasa lemah
2. Nafsu makan menurun
3. Penurunan berat badan
4. Batuk kering
5. Keringat malam
6. Demam intermitten disertai mengigil
 Pada pemeriksaan fisik ditemukan suara
timpani diatas rongga dan suara redup di
pinggir rongga
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Diagnosis
 Gejala yang timbul bisa bermacam-macam.
Tergantung dari bakteri yang menyerangnya.
 Umumnya adalah panas tinggi.
 Yang membedakan dengan pnemoni adalah nyeri
dada uniteral yang lebih cepat dan lebih nyeri.
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan darah perifer
 Pemeriksaan bronkoskopi
 Pemeriksaan radiologi
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Differential diagnosis
 Penyebab infeksi : tuberkulosis, bulla infeksi, emboli
septik.
 Penyebab bukan infeksi : kavitas oleh karena
keganasan, Wagener’s granulomatosis, nodul
reumatoid, vaskulitis, sarkoidosis, infark paru,
kongenital (bulla, kista, belb).
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Prognosis
 Ditentukan oleh respon pengobatan, antibiotik dan
penggunaan antibiotik sedini mungkin.
 Umumnya baik tergantung dari keadaan umum pasien
dan etiologi abses.
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
 Tujuan  Eradikasi dengan pengobatan
yang cukup.
 Penyembuhan sempurna abses paru tergantung dari
pengobatan antibiotik yang adekuat.
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
 Non medikamentosa :
- Istirahat cukup.
- Posisi miring dengan paru yang terkena abses berada
di atas
- Diet lunak TKTP
 Pencegahan :
- Kebersihan mulut
- Penyakit perodontal

Abses Paru dan Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
 Medikamentosa :
- Bakteri anaerob  Klindamisin
- Staphilococus  Penicilinase /
Sefalosporin gen. I
- Septik nosokomial  Vankomisin
- Nocardia  Sulfonamide
- Amubik  Metronidazole
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
 Kombinasi amokxicilin + as. Klavulanat digunakan
pada pasien dengan sakit serius dan pasien abses paru
nosokomial.
 Perbaikan klinis ditandai dengan hilangnya demam
tercapai dalam 3-4 hari sampai dengan 7-10 hari.
 Bronkoskopi
Abses Paru dan Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
 Indikasi operasi :
- Abses paru yang tidak mengalami
perbaikan.
- Komplikasi (empyema, hemoptisis masif,
fistula bronkopleura)
- Pengobatan penyakit yang mendasari
(karsinoma obstruksi primer /
metastasis, pengeluaran benda asing,
brokiektasis, kelainan kongenital)
Abses Paru dan Penatalaksanaan
penatalaksanaan
 Pasien dengan resiko tinggi operasi, untuk sementara
dapat dilakukan drainase perkutan via kateter untuk
mencegah kebocoran isi abses ke dalam rongga pleura.
Abses Paru dan Penatalaksanaan
TERIMA KASIH