You are on page 1of 53

Cephalopelvic Disproportion

(CPD)
adalah Suatu keadaan terhambatnya
persalinan yang timbul karena adanya
disparitas antara ukuran kepala bayi dengan
ukuran panggul ibu.
Craig mengklasifikasikan CPD menjadi :

- Absolut :
Permanen : Kesempitan panggul
Temporari : Hidrosefalus, bayi besar

- Relatif :
Malpresentasi dan malposisi

Table assignment of diagnostic criteria for
cephalopelvic disproportion (CPD) in
nulliparous women.
First author Criteria for CPD
O’Driscoll (1970)
Ireland
Caesarean section for delivery not occurring within
24 hours of admission in labour, following active
management (early amniotomy and oxytocin
augmentation)
Stewart (1979) South Africa and
Zimbabwe
Minor = assisted vaginal delivery following 6 hours
of oxytocin augmentation for poor labour progress
(cervix <1 cm/hour)
Major = caesarean section for poor progress (cervix
<1 cm/hour or head >2/5 above brim with
moulding) following 6 hours of oxytocin
augmentation for poor labour progress
Mahmood (1988) United
Kingdom
Caesarean section associated with 1) first stage >12
hours in spite of effective uterine activity or 2)
failure of the head to descend or evidence of severe
moulding or fetal distress in later first stage with
secondary arrest or prolonged second stage
First author Criteria for CPD
Tsu (1992)
Zimbabwe
Caesarean section or assisted vaginal delivery with
arrest or delay of labour, and moulding (+) or caput
(+++), with later review of clinical notes by a panel
of experienced obstetricians. Includes multiparous
women.
Impey (1998) Ireland Caesarean section at term for a normally formed
fetus with a flexed non-occipitoposterior vertex
presentation, with secondary arrest of cervical
dilatation with the cervix at least 6 cm dilated,
unresponsive to oxytocin infusion, in accordance
with a standardized protocol for active management
of labour.
Liselele (2000) Democratic
Republic of Congo
1) Caesarean section for failure to progress in
labour, or 2) vacuum or forceps delivery, or 3)
vaginal delivery with intrapartum stillbirth
Young (2002) USA Caesarean section for little or no progress over 2-4
hours with adequate uterine contractions and the
cervix at least 3 cm dilated.
- Dari kriteria-kriteria diatas tampak bahwa
syarat CPD jika sudah ada kontraksi uterus
yang adekuat

2 Aspek CPD :
1. Aspek panggul : Kesempitan panggul
2. Aspek janin : Malpresentasi, Malposisi
1. Aspek panggul
Kesempitan panggul bisa terjadi pada :
1. Pintu Atas Panggul (PAP)
2. Ruang Tengah Panggul (RTP)
3. Pintu Bawah Panggul (PBP)
1. Pintu Atas Panggul (PAP)
Menyempit bila :
- Diameter AP < 10cm
- Diameter Transversal < 12cm
Cara mengukur Ø AP dengan mengukur
CD = Jarak tepi bawah simp.-
promontorium
(N ≥ 11,5cm)
Antero posterior
Tranversal

3 Diameter Antero-Posterior
Pintu Atas Panggul

Akibat dari kesempitan PAP
- Pada nullipara desensus tidak terjadi sampai
awal persalinan
- Ketuban Pecah Dini
- Abnormalitas pada dilatasi serviks
- Terbentuk caput succedaneum
- Molase berat
- Prolaps tali pusat
2. Ruang Tengah Panggul (RTP)
Menyempit bila :
- Jumlah diameter interspinarum + diameter
sagitalis posterior panggul tengah ≤ 13,5cm
- Diameter interspinarum < 10cm
- Spina iskiadika menonjol
- Side wall konvergen
- Dinding sakrum cembung
3. Pintu bawah panggul
Menyempit bila :
- Diameter intertuberosum ≤ 8cm
- Arkus pubis < 90, arkus pubis yang sempit
dapat menyebabkan perineum lebih teregang
sehingga robekan lebih luas

“Penyempitan PBP tanpa disertai
penyempitan RTP jarang terjadi”
Meskipun diameter inter
tuberous
relatif sempit, persalinan
pervaginam dapat terjadi
oleh karena
diameter sagitalis posterior
yg cukup panjang ( 10 cm )
Bila arcus pubis sempit,
kepala janin terdorong
kebelakang sehingga
sering menyebabkan
kerusakan perineum
yang luas.
Pemeriksaan kesempitan panggul :
1. Muller- Munro Kerr
2. Osborn
3. Muller
1. Pemeriksaan Muller-Munro Kerr
Tangan kiri memegang kepala bayi, lalu dorong
masuk ke panggul ibu dan 2 jari kanan memeriksa
sudah berapa jauh kepala masuk (Dengan
pemeriksaan dalam) & Ibu jari menilai dari atas
simpisis, kepala menonjol atau tidak.
Nilai :
- Apakah kepala bisa masuk Hodge III
- Tidak Masuk : Muller Munro Kerr (+)
- Masuk : Muller Munro Kerr (-)

2. Pemeriksaan Osborn Test
Kepala didorong masuk ke rongga panggul,
lalu dinilai penonjolan kepala bayi pada
simpisis seberapa jauh
Bila tonjolan > 2 cm : Osborn test (+)
Bila tonjolan < 2 cm : Osborn test (-)

3. Muller Test
Kepala bayi didorong masuk ke spina
ischiadika lalu dilakukan pemeriksaan
dengan periksa dalam
Nilai :
Bila masuk : PD (-)
Bila tidak masuk : PD (+)

25
FETAL
MAKROSOMIA

 Berat bayi ≥ 4000 gram.
 Faktor predisposisi :
 Orang tua yang besar terutama
tubuh ibu
 Maternal diabetes
 Maternal obesities
 Dapat terjadi distosia
Hidrosefalus
 Penumpukan CSF dalam
ventrikel otak
 Lingkaran kepala dapat
melebihi 50 cm, dan kadang
mencapai 80 cm.
 Volume cairan dapat mencapai
5 liter (normal 500 – 1500 ml)
 Pada 1/3 kasus disertai dengan
presentasi bokong.
2. Aspek janin
I. Malpresentasi

Adalah Semua presentasi janin selain
presentasi belakang kepala


Presentasi puncak, dahi, muka
a. Presentasi muka :
* Faktor predisposisi : Preterm, anenchepali, bayi
besar, panggul sempit, multiparitas, bayi dengan
tumor colli
* Defleksi maksimal kepala bayi (Pada saat
engagement terjadi perubahan sikap dari fleksi tak
sempurna menjadi ekstensi sempurna)
* Bagian terendah dagu (mentum)
* Dagu anterior atau dagu posterior (dagu
posterior sulit lahir pervaginam, dagu anterior
tergantung ukuran panggul)
* Dengan diameter submentobregmatika (±
9,5cm)
b. Presentasi dahi :
* Merupakan presentasi kepala yang paling
buruk
* Faktor predisposisi : Polihidramnion,
prematuritas.
* Ekstensi sedang kepala bayi
* Bagian terendah dahi
* Dengan diameter oksipitomentalis (±
13cm)
DAHI POSTERIOR
DAHI ANTERIOR
c. Presentasi puncak :
* Defleksi ringan
* Bagian terendahnya UUB
* Dengan diameter oksipitofrontalis ±
11,5cm
* Biasanya merupakan kedudukan
sementara yang akan berubah menjadi
belakang kepala

II. Malposisi

Adalah posisi abnormal ubun-ubun kecil
terhadap panggul ibu
a. Posisi Oksiput Posterior Persisten (POPP)

* Gagal putar paksi dalam
* Adanya kesempitan Ø transversal RTP
* Persalinan berlangsung lebih lama
* 65% memerlukan intervensi bedah
* Diagnosis saat persalinan sangat informatif
dengan ditemukannya UUB di anterior
Posisio
Occipitalis
Posterior
OCCIPUT DI
KANAN BELAKANG
b. Posisi Oksiput Transverse persisten
Dapat terjadi karena kelainan his ataupun
karena kelainan bentuk panggul
(Platipeloid, android)
Platipeloid : Ø Transversa > Ø AP
Android : Ø Transversa hampir sama
dengan Ø AP tetapi Ø transversa dekat
dengan sakrum
Platipeloid
Android
TERIMA KASIH
Tanda Pelepasan Plasenta :
1. Uterus lebih globular dan biasa lebih keras,
tanda ini terlihat lebih awal
2. Sering ada pancaran mendadak
3. Uterus naik karena plasenta yang lepas
masuk ke SBR dan vagina sehingga
mendorong uterus ke atas
4. Tampak tali pusat yang keluar dari vagina
lebih panjang

Tipe pelepasan plasenta :
1. Schultze (Sentral)
2. Mathews-Duncan (Perifer)
Perasat untuk membuktikan plasenta telah
lepas dari implantasinya
1. Perasat Strassman:
Tali pusat di regangkan kemudian fundus
uteri di ketok dengan tangan yang lain. Bila
terasa getaran pada tali pusat yang
diregangkan ini berarti plasenta belum lepas
dari dinding uterus.
2. Perasat Kustner :
Tali pusat diregangkan, tangan yang lain
menekan daerah supra simpisis, bila tali
pusat masuk kembali kedalam vagina berarti
plasenta belum lepas.
3. Perasat Klein :
Ibu disuruh mengedan, tali pusat tampak
turun ke bawah, bila ibu berhenti mengedan
dan tali pusat masuk kembali kedalam
vagina berarti plasenta belum lepas.
Fase pelepasan plasenta :
1. Fase laten : Penebalan dinding uterus yang
bebas plasenta
2. Fase kontraksi : Penebalan dinding uterus
tempat insersi plasenta
3. Fase pelepasan plasenta : Plasenta lepas
pada lapisan spongiosa desidua basalis
4. Fase pengeluaran
d. Presentasi ganda
Adalah satu ekstremitas menumbung disisi bagian
terbawah janin
* Tersering kepala-tangan
* Prematur, panggul sempit
* Dapat pervaginam pada bayi yg sangat kecil,
janin mati