You are on page 1of 32

Analisa Sperma

Oleh:
Antani Vina Lucky Permata Adi

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN


KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TINGKAT IIIA

Pengertian Spermatogenesis
Spermatogenesis merupakan suatu proses
kompleks dimana sel germinal yang belum
berdiferensiasi, berpoliferasi dan diubah menjadi
spermatozoa yang terspesialisasi dan motil,
dimana masing-masing akan mengandung 23
pasang
kromosom
haploid.
Proses
spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus.
Pada dinding tubulus ini mengandung banyak
sel-sel germinal dan sel sertoli. Pada prose
spermatogenesis terdapat 3
fase, yaitu
spermatositogenesis, spermatidogenesis dan
spermiogenesis. Proses spermatogenesis ini
membutuhkan waktu 64 hari

Proses Spermatogenesis

Pengertian Sperma
Sperma atau mani merupakan ejakulat yang berupa

cairan kental dan keruh. Sperma ini merupakan zat


setengah cair atau setengah kental yang terdiri dari
dua bagian yaitu plasma sperma (plasma semen)
dan spermatozoa. Sperma terdiri dari 3 bagian. Yaitu
:
1. Kepala
2. Midpiece
3. Ekor

Terminologi
Normospermia : Jumlah volume sperma normal 2-5 ml.
Azoospermia : Dalam ejakulat tidak terdapat / ditemukan

sperma
Aspermia : Tidak terdapat ejakulat
Aspermatogenesis : Tidak terjadi pembuatan spermatozoa di
dalam testis.
Hypospermia : Volume ejakulat kurang dari 1 ml
Hyperspermia : Volume ejakulat lebih dari 6 ml
Hypospermatogenesis : Proses pembentukan spermatozoa
sangat sedikit didalam testis.
Oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah kriteria normal
(di bawah 20 juta tiap ml sperma)
Normozoospermia : Jumlah spermatozoa dalam batas normal
berkisar antara 40-200 juta/ml.
Asthenospermia : Jumlah spermatozoa yang bergerak dengan
baik di bawah 50%.
Necrospermia : Semua spermatozoa dalam keadaan mati

Lanjutan
Asthenozoospermia : Spermatozoa yang lemah sekali gerak

majunya
Teratozoospermia : Bentuk spermatozoa yang abnormal lebih
dari 40%.
Nekrozoospermia : Bila semua spermatozoa tidak ada yang
bergerak atau hidup.
Kriptozoospermia : Bila ditemukan spermatozoa yang
tersembunyi yaitu bila ditemukan dalam sedimen sentrifugasi
sperma.
Polizoospermia : Bila jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta
per ml sperma
Extrem oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah 1 juta
untuk tiap 1 ml ejakulat
Leukospermia : Warna sperma putih keruh serupa susu karena
terdapat lekosit yang banyak.
Hemospermia : Warna sperma kemerahan karena terdapat
erythrosit yang banyak.
Residual Body : Sisa sitoplasma yang melekat pada
spermatozoa yang belum matur.

Sperma normal
Kepala:

berbentuk
oval,
dengan batas yang teratur, tepi
akrosom menutupi > 1/3
permukaan kepala. Panjang =
3-5 U dan lebar = 2-3 U.
Mid-piece: bentuk ramping,
lurus, dan batas teratur.
Panjang = 7-8 U dan lebar < 1
U.
Ekor: berbentuk ramping (tak
tergulung),
batas
teratur,
panjang minimal 45 U

Kelainan-kelainan pada Sperma


Kelainan bentuk

Jumlah sperma
Pergerakan sperma
Cairan tidak terlalu kental
Saluran tersumbat
Kerusakan testis

Kelainan Bentuk Pada Sperma

Kelainan Defek Pada Kepala Sperma


Tapered : kepala berbentuk seperti cerutu dengan panjang

> 7 U dan lebar < 3 U


Pyriform : kepala berbentuk seperti bola lampu / tetesan
air mata dengan ukuran kepala yang normal
Pin head : kepala berbentuk seperti jarum pentul
Amorphous : kepala berbentuk aneh sehingga tidak dapat
dikelompokkan
Makro : kepala dengan ukuran yang lebih besar dari
normal dan batas tidak teratur
Mikro : kepala dengan ukuran yang lebih kecil dari normal
dan batas tidak teratur
Double : kepala berjumlah dua dengan bentuk dan ukuran
yang bermacam-macam. Bagian tengah tidak normal
(tidak lurus) sedangkan ekornya tampak kurang jelas

Kelainan Bentuk pada Sperma


Kelainan pada midpiece

Kelainan pada ekor

Bent neck

Short : ekor pendek

Asymmetrical

Bent : ekor terputus

Thick insertion

Coil

Thin

: ekor yang
berbentuk gelendong

Excess residual cytoplasm


Excess residual cytoplasm merupakan sisa cyptoplasma
yang melekat pada bagian antara kepala leher atau pada
bagian proksimal dari ekor. Ukuran lebih kurang 1/2 besar
kepala normal.

Kelainan-kelainan Bentuk pada Sperma

Kelainan Jumlah Sperma


Volume normal cairan semen yaitu sekitar 2-5 ml.

volume cairan semen dianggap rendah secara


abnormal bila volume saat dikeluarkan kurang
dari 1,5 ml. volume semen yang melebihi 5 ml
juga dianggap abnormal.
Normalnya, jumlah spermatozoa dalam cairan
semen yaitu sekitar 20 juta/ml.
Pada pria ditemukan kasus spermatozoa yang
kurang (oligozoospermia) atau bahkan tak
ditemukan
sel
sperma
sama
sekali
(azoospermia).

Kelainan pada Pergerakan Sperma


Bergerak cepat dan maju lurus

Bergerak lambat dan sulit maju lurus


Bergerak di tempat
Tidak bergerak

Asthenozoospermia
:Lemahnya
pergerakan sperma
Necrozoospermia: spermatozoa mati

Cairan yang Tidak Terlalu Kental


Cairan semen yang tidak terlalu kental akan
mengakibatkan sel sperma sulit bergerak.
Pembuahan pun jadi sulit karena sel sperma tak
berhasil mencapai sel telur. Normalnya, saat
diejakulasikan, cairan semen dalam bentuk yang
kental dan akan mencair (liquifaksi) antara 15-60
menit

Saluran yang Tersumbat


Saat ejakulasi, sperma keluar dari testis
menuju penis melalui saluran yang sangat halus.
Jika saluran-saluran itu tersumbat, maka sperma
tidak bisa keluar. Umumnya, hal ini disebabkan
trauma pada benturan. Selain itu, dapat pula
disebabkan karena kurang menjaga kebersihan
alat kelamin sehingga menyuburkan kehidupan
virus atau bakteri

Kerusakan pada Testis


Testis dapat rusak karena adanya berbagai
infeksi dan virus, seperti Gondongan, Gonorrhea,
Sifilis, dan sebagainya. Telah diketahui, bahwa
testis merupakan pabrik sperma. Dengan
demikian kesehatannya harus dijaga.Testis
sangat sensitif. Mudah sekali dipengaruhi oleh
faktor-faktor luar. Jika testis terganggu, produksi
sperma juga akan terganggu

Jenis-jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan makroskopis

Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan biokimia

Pemeriksaan makroskopis
Volume

Setelah abstinensia selama 3 hari, volume


semen berkisar antara 2 5 ml. Volume kurang dari
1 ml atau lebih dari 5 ml biasanya disertai kadar
spermatozoa yang rendah
Bau
Cairan semen yang baru keluar mempunyai bau
yang khas atau spesifik yaitu seperti bau bunga
akasia
Warna
Normalnya cairan semen berwarna putih keruh
seperti air kanji

Pemeriksaan Makroskopis
Likuifaksi dan koagulum

Likuifaksi dicheck 20 menit setelah ejakulasi. Hal


ini dapat dilihat dengan melihat koagulumnya. Bila
setelah 20 menit belum homogen, maka terdapat
gangguan pada kelenjar prostat.
waktu likuifaksi normal yaitu 15 60 menit. Jika > 60
menit masih tidak berlikuifaksi, maka dikatakan
memanjang (delayed liquefaction).
pH
Menurut WHO:2010, pH normal semen > 7,2.
pengukuran dilakukan dengan mencelupka kertas pH
ke cairan semen

Pemeriksaan Makroskopis
Kekentalan atau viskositas sperma dapat diukur setelah likuifaksi
sperma sempurna. Pemeriksaan viskositas ini dapat dilakukan dengan
dua cara:

1. Cara Subyektif
Dengan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang
pengaduk, kemudian ditarik maka akan terbentuk benang yang
panjangnya 3 5 cm. Makin panjang benang yang terjadi makin tinggi
viskositasnya.

2. Cara Pipet Elliason


Syaratnya sperma harus homogen dan pipet yang digunakan harus
kering. Prosedur pengukuran viskositas dengan pipet Elliason yaitu
cairan sperma dipipet sampai angka 0,1, kemudian atas pipet ditutup
dengan jari. Setalah itu arahkan pipet tegak lurus dan stopwath
dijalankan, jika terjadi tetesan pertama stopwacth dimatikan dan hitung
waktunya dengan detik. Vikositas sperma normal < 2 detik. Semakin
kental sperma tersebut semakin besar vikositasnya.

Pemeriksaan Mikroskopis
Motilitas
Menurut WHO, Motilitas spermatozoa dikelompokkan
menjadi sebagai berikut:
Progressive motility (PR): Spermatozoa bergerak bebas,
baik lurus maupun lingkaran besar, dalam kecepatan apapun.
Non-progressive motility (NP): semua jenis spermatozoa
yang tidak memiliki kriteria progresif, seperti berenang dalam
lingakran kecil, ekor/ flagel yang sulit menggerakkan kepala,
atau hanya ekor saja yang bergerak
Immotility (IM): tidak bergerak sama sekali
Menurut WHO 2010, sperma dikatakan Normal jika :

Progressive motility (PR) > 32%


Total motility > 40%

Pemeriksaan Mikroskopis
Aglutinasi
Macam-macam aglutinasi spermatozoa tersebut yaitu:
1. Aglutinasi ekor dan ekor. Pada keadaan ini ujung atau bagian
ekor yang lebih proksimal bersentuhan atau berlekatan satu
dengan yang lain, sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini
dinamakan tail to tail agglutination (TT).
2. Aglutinasi kepala dan kepala. Pada keadaan ini kepala
spermatozoa saling berlekatan atau bergerombol, sedangkan
kepalanya bebas bergerak. Ini dinamakan head to head
agglutination (HH).
3. Aglutinasi kepala dengan ekor. Pafa keadaan ini kepala satu
spermatozoa atau lebih berlekatan dengan ekor sebuah
spermatozoa atau lebih. Ini dinamakan head to tail
agglutination (HT).
4. Spermatozoa saling menggerombol atau melekat pada suatu
sel muda spermatozoa, epitel atau lain-lain benda pada
sperma.

Pemeriksaan Mikroskopis
Vitalitas

Vitalitas sperma menggambarkan integritas membran


sel spermatozoa agar mampu bertahan hidup.
Pemeriksaan ini dilakukan 30 menit-1 jam setelah semen
dikeluarkan.
Cara Kerja :
1. Sampel sperma diteteskan kedalam tabung reaksi kecil
2. Ditambahkan 1 tetes eosin 5 % dan 1 tetes negrosin 10
%, di aduk
3. Diambil 1 tetes, dibuat hapusan diatas objek glass,
dikeringkan.
4. Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran
10x100 pada 100 lapang pandang dan hasil dinyatakan
dalam persen ( % ).
5. WHO
Spermatozoa
yang
mati normal
akanjikaberwana
merah.
Menurut
2010: vitalitas
spermatozoa
presentasinya
> 58%
Sedangkan spermatozoa yang hidup akan terlihat tidak

Pemeriksaan Mikroskopis
Jumlah sperma

Cara Pemeriksaannya:
Diaduk sperma hingga homogen
Diambil 1 3 tetes cairan sperma

ditaruh diatas obyek


glass lalu ditutup dengan cover glass (ukuran standar)
Kemudian
dilihat dibawah mikroskop dengan
perbesaran 40 X
Dihitung berapa banyak spermatozoa pada beberapa
lapang pandang.

Misalnya dihitung pada lapang pandang:


I
=
10Spermatozoa
II
=
5 Spermatozoa
III
=
7 Spermatozoa
IV
=
8 Spermatozoa

Pemeriksaan Mikroskopis
Morfologi

pemeriksaan morfologi dapat dilakukan


dengan pembuatan hapusan dengan pewarnaan.
Pewarnaan yang dapat digunakan yaitu:
1.Karbol fuchsin
2.Giemsa
3.Hematoxilin Meyer
4.O.Steeno

Pemeriksaan Biokimia
Prosedur Kerja :
1. Lakukan deproteinisasi mani yang akan diperiksa
dengan terlebih dahulu mengencerkan 0,1 ml mani
dengan 2,9 ml air. Kemudian tambah 0,5 ml larutan
Ba(OH)2, campur, tambahkan 0,5 ml larutan ZnSO4,
campur lagi dan pusinglah kuat-kuat.
2. Sediakan 3 tabung T (test), S (standard) dan B (blanko).
Tabung T diisi 2 ml cairan atas dari langkah 1, tabung S
diisi 2 ml standard fruktosa larutan kerja dan tabung B
diisi 2 ml air/ aquadest.
3. Kepada tabung T, S dan B masing dibubuhkan 2 ml
resorsinol dan 6 ml HCl.
4. Campur isi tabung masing-masing, panasilah dalam
bejana air 90OC selama 10 menit.
5. Bacalah absorbansi T dan S terhadap B pada 490 nm.
6. Hitunglah kadar fruktosa dengan rumus AT/AS x 200 =
mg / dl fruktosa mani.

Nilai normal dari kadar fruktosa dalam semen yaitu 120-450 mg/dl

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum


pengumpulan spesimen:
1.

Melakukan abstinensia (puasa melakukan hubungan suami istri) selam 3 5 hari,


paling lama selama 7 hari.

2.

Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan harus dikeluarkan di
laboratorium. Bila tidak mungkin, harus tiba di laboraturium paling lambat 2 jam dari
saat dikeluarkan.

3.

Ejakulat ditampung dalam wadah / botol gelas bemulut besar yang bersih dan steril
(jangan sampai tumpah), Kemudian botol ditutup rapat-rapat dan diberi nama yang
bersangkutan.

4.

Pasien mencatat waktu pengeluaran mani, setelah itu langsung di serahkan pada
petugas laboraturium untuk pemeriksaan dan harus diperiksa sekurang-kurangnya
2 kali dengan jarak antara waktu 1-2 minggu. Analisis sperma sekali saja tidak
cukup karena sering didapati variasi antara produksi sperma dalam satu individu.

5.

Sperma dikeluarkan dengan cara : rangsangan tangan (onani/masturbasi), bila


tidak mungkin dapat dengan cara rangsangan senggama terputus (koitus
interuptus) dan jangan ada yang tumpah.

6.

Untuk menampung sperma tidak boleh menggunakan botol plastik atau kondom.
Karena ditakutkan bahan yang terkandung dalam botol plastic dan kondom akan

Cara Pengumpulan Spesimen:


Coitus interuptus

Coitus condomatosus
Onani/Masturbasi
Massage prostat
Vibrator
Refluks pasca senggama

Cara Penanganan Spesimen:


Wadah penampung
Mani langsung dikeluarkan ke dalam satu wadah terbuat
dari gelas atau plastik yang bermulut lebar dan yang lebih dahulu
dibersihkan dan dikeringkan. Wadah harus dapat tertutup rapat
untuk menjaga jangan sampai tertumpah. Pasien diminta
mencatat waktu pengeluaran mani tepat sampai menitnya dan
menyerahkan sampel itu secepatnya kepada laboratorium.
Laboratorium juga wajib mencatat waktu pemeriksaanpemeriksaan dijalankan.
Penyerahan sampel
Setelah mani ditampung, maka sperma harus secepatnya
diserahkan kepada petugas laboratorium. Hal tersebut perlu
dilakukan karena beberapa parameter sperma mempunyai sifat
mudah berubah oleh karena pengaruh luar. Sperma yang
dibiarkan begitu saja akan berubah pH, viskositas, motilitas dan

Cara Penanganan Spesimen:


Waktu pemeriksaan
Setelah pasien diberikan penjelasan mengenai cara-cara serta
syarat-syarat pengeluaran sperma dan lainnya, maka waktu pengeluaran
sperma dapat ditetapkan. Hal ini tergantung dari kesiapan pasien dan
kesiapan laboratorium. Kalau syarat-syarat serta semua persiapan baik
penderita maupun laboratorium telah dipenuhi, maka pengeluaran
sperma dapat dilakukan.

Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma


secepatnya diperiksa. Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar.
Contoh sperma tidak boleh didinginkan dibawah 20C atau dipanaskan
diatas 40C, oleh karena kedua hal ini dapat mempengaruhi motilitas
dan viabilitas spermatozoa
Lain-lain
Hal-hal lain yang dimaksud yaitu seperti konsumsi obat - obat apapun,
terlebih mengkonsumsi obat-obat perangsang seks, tonikum atau
semacamnya. Hal ini diperlukan agar benar-benar sperma yang
diperiksa tidak dipengaruhi oleh obat-obatan. Kalau perlu dicatat obat

Terima Kasih