You are on page 1of 32

ANALISA SPERMA

ANALIS SPERMA
KELOMPOK
2

Agita Maulidahlia
Anggi Hadi S
Aswin Nurul R
Dina Dwi A
Dhenok Eka Putri
Irnawati
Jum'ah

Nur Falakh Dwi S


Nur Halimah
Rifka Anisa
Riska Sepfiana
Sandi Oktavianus
Susi Hardiyanti
Zhainal Abidin

Apa itu sperma

??

Sperma adalah suatu yang diartikan mani atau


semen (sperma) yaitu ejakulat berasal dari
seorang pria berupa cairan kental dan keruh,
berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjarkelenjar lain dan spermatozoa.

Morfologi
Kepala (Caput)
Leher (cervix)
Bagian Tengah (corpus)
Ekor (cauda)

ekor Bagian tengah (midpiece)


ekor Bagian Utama (principle piece)
ekorBagian ujung (endpiece)

Komposisi Sperma
Sperma adalah zat setengah cair atau setengah
kental yang terdiri dari dua bagian yaitu plasma
sperma (plasma semen) dan spermatozoa.

Pada plasma sperma (semen) mengandung


beberapa zat kimia diantaranya:
1. Fruktosa
2. Asam sitrat
3. Seminin
4. Enzim phosphatase Asam, Glukoronidase, lisozim
dan Amilase
5. Prostaglandin
6. Na, K, Zn, Mg

Spermatogenesis
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Testis Produksi spermatozoa


Sel khusus sertoli nutrisi bagi sel germinal saat mitosis dan
miosis (spermatogenesis)
Spermatogenesis selesai sperma yang blum matang disimpan
di epididimis
Epididmis sperma dewasa berkembang dan memiliki flagela
disimpan hingga ejakulasi
Sperma didorong melalui duktus deferens ke ejekulatori duct
dan cairan vesikula seminalis
Cairan vesikula seminalis (60-70%) cairan semen
Cairan semen konsentrasi tinggi fruktosa
Fruktosa sebagai energi untuk flagela spermatozoa flagela
mendorong spermatozoa melalui saluran reproduksi wanita

Terminologi

Azoospermia: Dalam ejakulat tidak terdapat / ditemukan sperma

Aspermatogenesis: Tidak terjadi pembuatan spermatozoa di dalam testis.

Aspermia : Tidak terdapat ejakulat

Normospermia : Jumlah volume sperma normal 2-5 ml.

Hypospermia : Volume ejakulat kurang dari 1 ml

Hyperspermia : Volume ejakulat lebih dari 6 ml

Hypospermatogenesis : Proses pembentukan spermatozoa sangat sedikit didalam testis.

Oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah kriteria normal (di bawah 20 juta tiap
ml sperma)

Normozoospermia : Jumlah spermatozoa dalam batas normal berkisar antara 40-200


juta/ml.

Asthenospermia : Jumlah spermatozoa yang bergerak dengan baik


8yyyy888888888888uiiu di bawah 50%.
Necrospermia: Semua spermatozoa dalam keadaan mati.
Extrem oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah 1 juta untuk tiap
jhsxahxhsxshcshc 1 ml ejakulat.
Asthenozoospermia : Spermatozoa yang lemah sekali gerak majunya.
Teratozoospermia : Bentuk spermatozoa yang abnormal lebih dari
scsmckmnckskccccccmcm 40%.
Nekrozoospermia : Bila semua spermatozoa tidak ada yang
csacksckdckakckdmckckc bergerak atau hidup.
Kriptozoospermia : Bila ditemukan spermatozoa yang tersembunyi yaitu bila
ditemukan dalam sedimen sentrifugasi sperma.
Polizoospermia : Bila jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta per
scsccscscscsccdscssssssss ml sperma
Leukospermia : Warna sperma putih keruh serupa susu karena
scsacsacsacscsdwsdscscss terdapat leukosit yang banyak.
Hemospermia : Warna sperma kemerahan karena terdapat
scascsacsacdscscdcdcddcd erythrosit yang banyak.
Residual Body : Sisa sitoplasma yang melekat pada spermatozoa
dacdcdcdcdcdcdcdcscscsss yang belum matur

Kelainan Sperma
Jumlah Sperma
Kelainan bentuk (morfologi)

Pergerakan lemah
Cairan Semen terlalu kental
Saluran Tersumbat
Kerusakan Testis

Pemeriksaan Laboratorium
Rutin

Pemeriksaan Makroskopis yang meliputi :


koagulum, likuefaksi, warna, bau, volume,
viskositas, dan pH.
Pemeriksaan Mikroskopis, ada 2 macam, yaitu :
Pemeriksaan Mikroskopis pertama yang meliputi
kepadatan,motilitas, aglutinasi, round cell, dan
viabilitas.
Pemeriksaan Mikroskopis kedua yang meliputi
jumlah spermatozoa dan morfologi spermatozoa.

Pemeriksaan laboratorium
lengkap
1. Pemeriksaan Biokimia yang meliputi fruktosa, fosfatase
asam, asam sitrat, Zn dan Mg.
2. Pemeriksaan Tambahan, yang meliputi uji MAR, uji

butir imun, biakan sperma, uji kontak sperma getah


serviks, dan biopsi testis.

Pemeriksaan Menurut
WHO
Volume
Konsentrasi Sperma
Morfologi Sperma
Motilitas (pergerakan) sperma
Penghitungan sperma (sperma count)

Persiapan dan cara pengumpulan


spesimen
Persiapan dan persyaratan
Melakukan

abstinensia selam 3 5 hari, paling lama selama 7 hari.


Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan harus
dikeluarkan di laboratorium.
Ejakulat ditampung dalam wadah / botol gelas bemulut besar yang bersih dan
steril ( jangan sampai tumpah ), Kemudian botol ditutup rapat-rapat dan
diberi nama yang bersangkutan.
Pasien mencatat waktu pengeluaran mani, setelah itu langsung di serahkan
pada petugas laboraturium untuk
Sperma dikeluarkan dengan cara : rangsangan tangan (onani/masturbasi),
bila tidak mungkin dapat dengan cara rangsangan senggama terputus (koitus
interuptus) dan jangan ada yang tumpah.
Untuk menampung sperma tidak boleh menggunakan botol plastik atau
kondom.

Cara memperoleh spesimen


Masturbasi / Onani
Coitus interputus
Coitus Condomatosus
Vibrator
Reflux postcital/ refluk pasca senggama
Massage prostat

A. Pemeriksaan makroskopis
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Likuefaksi (pencairan)
Pemeriksaan Viscositas (Kepekatan)
Koagulan (gumpalan)
Warna
Bau
Volume : masukkan sperma ke dalam gelas
ukur dan amati tinggi lapisan atas, tulis volume
menunjuk angka berapa sampai satu angka di
belakang koma

B. Pemeriksaan Mikrosokpik
1. Pergerakan (motilitas) spermatozoa

Macam motilitas
Spermatozoa Motilitas Baik.
Spermatozoa bergerak lurus kedepan, lincah, cepat dengan beat ekor yang
berirama.
Spermatozoa Motilitas Kurang Baik.
Motilitas bergetar atau berputar
Motilitas tanpa arah
Motilitas karena asimetri kepala atau ekor
Motilitas spermatozoa imatur
Motilitas spermatozoa teraglutinasi
Motilitas spermatozoa terperangkap
Motilitas spermatozoa yang lemah
Spermatozoa yang tidak bergerak

Pemeriksaan motilitas
Tujuan : untuk mengetahui dan menentukan baik tidaknya
pergerakan (motilitas) spermatozoa dan jumlah prosentase yang
bergerak.
Prinsip : Sperma dengan zat tambahan atau tidak dilihat
pergerakannya dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x45
dan hasilnya dilaporkan dalam persen ( % ).
Alat : Objek Glass, Pipet tetes, Cover glass, Mikroskop

Prosedur :
1.
2.
3.
4.

Ambil 1 tetes sperma letakkan diatas objek glass.


Tutup dengan cover glass.
Periksa dibawah mikroskop perbesaran objektif 4045x.
Periksa adanya spermatozoa yang :
Bergerak aktif (%)
Bergerak tidak aktif (%)
Tidak bergerak (%)

Penilaian motilitas spermatozoa


1. Spermatozoa

yang bergerak aktif adalah


spermatozoa yang bergerak cepat ke depan, lincah
dan aktif (%)
2. Spermatozoa yang kurang aktif bergerak adalah
spermatozoa yang bergerak berputar di tempat (%)
3. Spermatozoa tidak bergerak (%).

2. vitalitas sperma

Untuk memeriksa vitalitas spermatozoa, dilakukan


pengecatan vital atau vital staining. Cara ini digunakan
untuk memastikan diagnosa nekrozoospermia.

Metode : Eosin-Nigrosin Supravital Stainning Sperma


Viability
Tujuan : Untuk membedakan dan mengetahui sperma
yang hidup dan yang mati.
Prinsip : Sampel sperma dibuat hapusan, diwarnai,
dikeringkan dan diperiksa sperma yang mati dan yang
hidup dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100.

Alat :
- Pipet tetes
- Rak dan bak pewarnaan
- Objek glass
- Tabung reaksi
- Mikroskop
- Botol semprot
Reagensia : Eosin 5 % dan Negrosin 10%
Cara Kerja :
Sampel sperma diteteskan kedalam tabung reaksi kecil
Ditambahkan 1 tetes eosin 5 % dan 1 tetes negrosin 10 %, di aduk
Diambil 1 tetes, dibuat hapusan diatas objek glass, dikeringkan.
Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x100 pada
100 lapang pandang dan hasil dinyatakan dalam persen ( % ).
Penilaian :
Spermatozoa yang mati akan berwarna merah
Spermatozoa yang hidup akan terlihat tidak berwarna
Nilai Normal : 75 % atau lebih spermatozoa yang hidup.

3. Jumlah spermatozoa
Jumlah spermatozoa dihitung menurut beberapa cara :

Jumlah Spermatozoa per ml ejakulat.

Jumlah Spermatozoa per volume ejakulat.


Tujuan : Untuk mengetahui jumlah sperma yang terdapat dalam sampel sperma
yang diperiksa.
Prinsip : Sampel sperma diencerkan dalam pipet lekosit dengan larutan
pengencer tertentu, diperiksa dalam bilik hitung.
Alat :

Kamar hitung Improved Neubauer atau Burker

Pipet Thoma leukosit atau eryhtrosit

Kertas saring / tissue


Reagensia :
Larutan Pengencer Sperma :

NaHCO3 ...............................5 gram

Formalin 5%,..............................1 ml

Larutan Eosin 2%.......................5 ml

Aquadest add.........................100 ml

Prosedur :
1. Cara Pipet Thoma :
1. Isap sperma dengan pipet leukosit sampai tanda 0,5 tepat.
2. Isap larutan Pengencer Sperma sampai tanda 11 tepat.
3. Kocok selama 2 menit, buang cairan 3-4 tetes, masukkan dalam kamar hitung
improved Neubauer dengan menempelkan ujung pipet ditepi kaca penutup.
4. Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang
5. Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml
2. Cara Tabung dengan Clinipette :
1. Masukkan 400 ul cairan pengencer sperma kedalam tabung reaksi dengan
clinipette.
2. Buang 20 ul dengan clinipette cairan tadi.
3. Pipet 20 ul sperma yang telah dihomogenkan dan campur dengan larutan
pengencer.
4. Kocok beberapa kali tabung atau letakkan diatas pengocok khusus (vibrator).
5. Masukkan dalam kamar hitung improved Neubauer dengan menempelkan ujung
clinipette ditepi kaca penutup.
6. Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang
7. Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml

Perhitungan :
Misal jumlah didapat : 200 spermatozoa
200 x 50 = 10.000/mm3= 10.000 x 1000 = 10 juta/ml
Nilai Normal : 20 70 juta / ml

4. Pemeriksaan makroskopis
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya kelainan morfologi sperma dalam sampel
yang diperiksa.

Prinsip : Sperma dibuat hapusan diwarnai dengan giemsa, dicuci, dikeringkan dan
diperiksa morfologi sperma dibawah mikroskop dengan anisol perbesaran 10 x 100.

Alat alat :
o
Pipet tetes
o
Mikroskop
o
Objek glass
o
Botol semprot
o
Rak dan Bak pewarnaan
o
Lampu spritus

Cara Kerja :
a. Cara Karbol Fuchsin
1.
Setetes sperma dibuat hapusan diatas objek glass.
2.
Difiksasi dengan nyala api 2 5 kali
3.
Diwarnai dengan carbol fuchsin 0,25% selama 5 Menit, dicuci dengan air.
4.
Dikeringkan dan diperiksa dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100
spermatozoa.

b. Cara Giemsa
1.
Sediaan hapus difiksasi dengan metanol selama 10 menit.
2.
Sisa metanol dibuang, sediaan dibiarkan kering di udara.
3.
Sediaan dicat dengan larutan Giemsa (17 tetes giemsa dicampur dengan 5
ml aquades) selama 20 menit.
4.
Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan. diperiksa dibawah
mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa
c. Cara Hematoxilin Meyer
1.
Sediaan hapus ditetesi larutan formalin 10% selama 1 menit.
2.
Sediaan dibilas dengan aquadest.
3.
Sediaan dicat dengan hematoksilin menurut Meyer selama 2 menit.
4.
Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan diudara. diperiksa
dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa

d. Cara O.Steeno
1.
Sediaan hapus dimasukkan ke dalam larutan
metanol selama 5 menit dan dikeringkan diudara.
2.
Sediaan dicelupkan kedalam larutan safranin
0,1% selama 5 menit
3.
Sediaan dibilas dalam air buffer dua kali.
4.
Sediaan dicelupkan kedalam larutan kristal violet
0,25% selama 5 menit
5.
Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan
diudara. diperiksa dibawah mikroskop perbesaran
10 x 100 dalam 100 spermatozoa

5. Aglutinasi spermatozoa
Macam-macam aglutinasi atau penggerombolan spermatozoa
tersebut yaitu :
a. Aglutinasi ekor dan ekor
b. Aglutinasi kepala dan kepala
c. Aglutinasi kepala dengan ekor
d. Spermatozoa saling menggerombol atau melekat pada
suatu sel muda spermatozoa, epitel atau lain-lain benda
pada sperma
e. Spermatozoa dapat menggerombol seperti benang pada
pinggir daerah sperma tertentu. Ini dinamakan aglutinasi
rantai (string agglutination)

c. Pemeriksaan Kimiawi
Penetapan Fruktosa

Tujuan : Untuk mengetahui dan menentukan kadar fruktosa dalam semen yang
bertalian dengan kadar testosteron.

Prinsip : Fruktosa akan berubah menjadi furfural oleh pengaruh HCl dan
pemanasan, furfural yang terjadi akan berkondensasi dengan resorsinol menyusun
senyawa yang berwarna merah.

Reagensia :
a)
Larutan Ba(OH)2 0,3 M
b)
Larutan ZnSO4 0,175
c)
Larutan resorcinol 0,1 %
d)
HCl 10 N
e)
Standar fruktosa stock 50 mg fruktosa larutkan dalam 100 ml larutan asam
benzoat 0,2 %
Standard fruktosa sebagai larutan kerja. 1 ml standard fruktosa stock diencerkan
dengan aquadest sampai 100 ml. Pada cara dicantumkan dibawah, larutan kerja
ini sesuai dengan 200 mg /dl fruktosa mani.

Prosedur Kerja :

1. Lakukan deproteinisasi mani yang akan diperiksa dengan terlebih dahulu


mengencerkan 0,1 ml mani dengan 2,9 ml air. Kemudian tambah 0,5 ml
larutan Ba(OH)2, campur, tambahkan 0,5 ml larutan ZnSO4, campur lagi
dan pusinglah kuat-kuat.
2. Sediakan 3 tabung T (test), S (standard) dan B (blanko). Tabung T diisi 2 ml
cairan atas dari langkah 1, tabung S diisi 2 ml standard fruktosa larutan
kerja dan tabung B diisi 2 ml air/ aquadest.
BLANKO
Aquadest

STANDART

SAMPEL

2 ml

Standart

2 ml

Sampel

2 ml

Resorsinol

2 ml

2 ml

2 ml

HCL

6 ml

6 ml

6 ml

3. Kepada tabung T, S dan B masing dibubuhkan 2 ml


resorsinol dan 6 ml HCl.
4. Campur isi tabung masing-masing, panasilah dalam
bejana air 90OC selama 10 menit.
5. Bacalah absorbansi T dan S terhadap B pada 490 nm.
6. Hitunglah kadar fruktosa dengan rumus AT/AS x 200 =
mg / dl fruktosa mani.

D. Interpretasi analisa sperma rutin

No

Nomenklatur

Jumlah Spermatozoa
(juta/ml)

Motil (%)

Morfologi Spermatozoa
normal (%)

Normozoospermia

> 20

> 50

> 50

Oligozoospermia

> 20

> 50

> 50

Ekstrim Oligozoospermia

<5

> 50

> 50

Astenospermia

> 20

< 50

> 50

Teratospermia

> 20

> 50

< 50

Oligo-astenozoospermia

< 20

< 50

> 50

Oligo-asteno-teratozoospermia

< 20

< 50

< 50

Oligo-teratozoospermia

< 20

> 50

< 50

Asteno-teratozoospermia

> 20

< 50

< 50

10

Polizoospermia

> 250

> 50

> 50

11

Azoospermia

12

Nekrozoospermia

Jika semua spermatozoa tan viable

13

Kriptozoospermia

Adalah spermatozoa yang tersembunyi

14

Aspermia

Apabila tidak ada sperma

TERIMA KASIH