Penyediaan Air Bersih dan

Sanitasi pada saat Bencana
Oleh : Alam
Farinda Rahmawati Kusumaputri
(P07133113011)
Mahdalena
(P07133113021)
Nilawati Cholis
(P07133113026)
Normalita Cahyaningtyas
(P07133113027)
Nur Hasanah
(P07133113028)

PENYEDIAAN
AIR BERSIH

Pengertian air bersih
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan
Industri terdapat pengertian mengenai Air
Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk
keperluan sehari-hari dan kualitasnya
memenuhi persyaratan kesehatan air bersih
sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan dapat diminum
apabila dimasak.

Sumber Air Bersih
Sumber air baku yang perlu diolah terlebih dahulu adalah:
• Mata air yaitu sumber air yang berada di atas permukaan
tanah.
• Sumur dangkal (shallow wells) yaitu sumber air hasil
penggalian ataupun pengeboran yang kedalamannya
kurang dari 40 meter.
• Sumur dalam (deep wells) yaitu sumber air hasil penggalian
ataupun pengeboran yang kedalamannya lebih dari 40
meter.
• Sungai yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai
dari hulu di daerah pegunungan atau di daerah tinggi
sampai bermuara di laut ataupun danau.
• Danau dan Penampung Air (lake and reservoir) yaitu unit
penampung air dalam jumlah tertentu yang airnya berasal
dari aliran sungai maupun tampungan dari air hujan.

Syarat kualitas air :
Syarat fisik :
a.Air harus bersih dan tidak
keruh.
b.Tidak berwarna
c.Tidak berasa
d.Tidak berbau
o
o
e.Suhu antara 10 -25
C
(sejuk)

Syarat kimiawi :
•Tidak mengandung bahan
kimiawi yang
mengandung racun.
•Tidak mengandung zat-zat
kimiawi yang berlebihan.
•Cukup yodium.
•pH air antara 6,5 – 9,2.

Syarat bakteriologi, antara lain
tidak mengandung kuman-kuman
penyakit seperti disentri, tipus,
kolera, dan bakteri patogen
penyebab penyakit.

Penanganan
Penyediaan
Air Bersih dan
Sanitasi
pada saat Bencana

Tujuan
:
untuk mengurangi penularan penyakit-penyakit
tinja dan mengurangi penjangkitan oleh vektor
dengan melaksanakan penyuluhan praktek
kebersihan yang baik, penyediaan air minum yang
aman dan pengurangan kesehatan lingkungan
dengan mengusahakan suatu kondisi yang
memungkinkan orang-orang untuk hidup dengan
kesehatan, martabat, kenyamanan, dan kemanan
yang memadai.

Pada fase bencana hal yang sering kita temukan
seperti banyak memakan korban dengan banyak
temuan mayat-mayat dan terjadinya kerusakan
infrastruktur, salah satu kerusakan yang
ditimbulkan adalah kerusakan fasilitas air dan
sanitasi seperti : jaringan PDAM rusak, sumursumur terkubur reruntuhan atau lumpur, jalur
akses sumber air terputus, banyak puing-puing,
sampah-sampah serta kondisi drainase yang
rusak sehingga banyak air tergenang, didukung
perilaku kesehatan yang buruk dari masyarakat
korban. Akibat dari hal tersebut masyarakat
menjadi rentan terhadap penyakit.

Untuk mengurangi resiko dari bencana yang
ditimbulkan, hal yang dilakukan dalam kegiatan air dan
sanitasi adalah:
• Penyediaan air bersih
Dalam kondisi bencana penyediaan air sangat penting
karena merupakan kebutuhan dasar yang perlu
dipenuhi untuk menjaga kelangsungan hidup.
Yang perlu diperhatikan :
Kuantitas air (Jumlah air)
Kualitas Air
Pemeriksaan kualitas air

• Sarana dan piranti air
Masyarakat mempunyai sarana dan piranti yang
mencukupi untuk mengumpulkan, menyimpan, dan
menggunakan air untuk minum, memasakan, dan
kebersihan pribadi, dan memastikan air minum tetap
aman sampai pada waktu dikonsumsi. Pada bencana
hal pertama dilakukan adalah pembagian jerigen.

• Pembuangan tinja
Didalam pembuangan tinja, hal yang harus
diperhatikan adalah :
Jumlah dan akses ke jamban
Pemisahan jamban berdasarkan jenis
kelamin
Tempat buang air besar
Pemeliharaan

Vektor adalah suatu agent/penyebab pembawa penyakit, dan
salah satupenyakit yang ditimbulkan disituasi bencana adalah
melalui vektor yang tidak terkontrol.
Contoh Vektor dan Jenis penyakit yang ditimbulkan :
• Nyamuk, biasanya hidup dan berkembang biak di tempat yang
banyak terdapat genangan air, merupakan vektor penyakit
Malaria, Demam Berdarah
• Lalat atau kecoak, biasanya hidup ditempat yang banyak
menyediakan makan dan berbau (tempat sampah)
merupakan vektor penyakit diare.
• Kutu, biasanya terdapat di handuk, air yang kotor, tempat
tidur yang kotor dan ada juga yang hidup di tubuh manusia
yaitu penyebab scabies.
• Tikus, biasanya hidup di tempat sampah, merupakan vektor
penyakit Salmonella, leptospirosis.

• Manajemen Sampah
Sampah digolongkan menjadi dua :
– Sisa makanan yang mudah membusuk (Organik)
– Sisa barang yang tidak dapat membusuk (an-Organik)
Hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sampah :
 Pengumpulan :
1. Pembuatan Tempat Sampah (Tong Sampah, lubang sampah)
2. Pembuatan TPS (Tempat Pembuang Sampah Sementara)
3. Pembuatan TPA (Tempat Pembuatan Sampah Akhir)
 Pengangkutan :
1. Gerobak
2. Mobil Sampah
 Pengolahan :
1. Dibuang pada tahan galian/tempat rendah
2. Dikubur pada tanah galian
3. Dibakar

• Drainase
Perlunya drainase pada kondisi bencana:
Supaya tidak mencemari air permukaan : sumur,
sungai atau danau.
Tidak menjadi perkembangbiakan nyamuk, lalat,
kecoa, dan lipas.
Tidak mengganggu pemandangan.
Cara pemeliharaan drainase :
Periksa lubang saluran. Bila ada kotoran yang
tersangkut, ambil dan buang ketempat sampah.
Sesekali siram dengan air agar terjadi
penyumbatan oleh tanah yang terbawa air.