MALARIA

Dr. Tehar Karo Karo,SpPD

SMF Penyakit Dalam
RS Abdul Moeloek

Malaria
 Masalah kesehatan yg penting
 Wabah malaria di Cirebon 1852-1845
 Studi malaria lebih lengkap dimulai di
SUMUT awal abad 20
 Sebelum 1925 Jakarta sekitarnya
endemis malaria
 Awal 1919-1927 perbaikan sanitasi
mengurangi nyamuk anopheles
 Pemberantasan terutama dg Kina

Siklus hidup
 Siklus hidup spesies parasit malaria
sama
 Siklus seksual(sporogoni)
 Siklus aseksual berlangsung pada
tubuh manusia :
Fase eritrosit( erythrocytic shizogony)
Exo erythrocytic shizogony

.

.

5-1 jam) sampai dihati dan menginfeksi sel hati  Dalam hati mengalami reproduksi aseksual disebut proses skizogoni dan menghasilkan merozoit yg .Stadium hati(exo erythrocytic)  Anopheles betina menggigit manusia dan memasukkan sporozoit dan beberapa menit (0.

Stadium darah  Siklus darah dimulai dengan keluarnya merozoit dari skizon  Parasit mendapat makanan dari sitoplasma eritrosit mencerna sitosol eritrosit tersebut dalam vakuola makanan  Parasit memakan Hb yg kemudian didegradasi oleh enzim protease dan catyhepsin G  Perkembangan parasit dalam eritrosit menyebebkan perubahan bentuk .

Some patients develop nausea. . vomiting. chills. and headache. muscle aches.Gejala klinik malaria • The symptoms characteristic of malaria include flulike illness with fever. and diarrhea. cough.

anemia dan splenomegali  Berat ringan tergantung jenis plasmodium yang menginfeksi .Gejala klinik malaria  Gambaran malaria karakteristik dengan demam periodik.

Perkembangan parasit dalam eritrosit menyebebkan perubahan pada eritrosit meliputi :  Pembesaran  Perubahan warna jadi lebih pucat(decolorization).  stippling( timbulnya bintik bintik pada pewarnaan tertentu .

000 14-16 hari 55 μm 15.000 5-7 hari 60 μm 30. Malariae P.000 . Falciparum Jumlah Diameter Lamanya metrozoit di skizon matur stadium predalam sizon preeritrositik preeritrositik eritrositik 6-8 hari 45 μm 10.1 Bentuk-bentuk plasmodium ke-4 spesies plasmodium Spesies P. Ovale P. Vivax P.000 9 hari 60 μm 15.Tabel.

Tabel. dapat lebih lama 9-14 hari Siklus eritroser 48 jam 50 jam 72 jam 48 jam . Falciparu m P.2 Periode pada siklus eksoeritrositer dan eritrositer dari spesies plasmodium manusia S Stadium preeritro sik Periode prepaten P E S I E S P. Vivax P. Ovale P. dapat lebih lama 18-40 hari. Malariae 6-8 hari 9 hari 14-16 hari 5-7 hari 15-16 hari 9-10 hari 11-13 hari 10-14 hari Periode inkubasi 12-17 hari. 6-12 bulan 16-18 hari.

Patogenese demam malaria  Pada waktu serangan terdapat perbedaan antara suhu aktual dg titik set termoregulator baru  Mendadak merasa dingin. menggigil dan suhu tubuh segera meningkat pada titik set lebih tinggi sampai tak merasa dingin lagi .

Patogenese demam malaria  Bila stimulus febril masih tetap ada penderita tidak merasa dingin lagi  Tak sadar suhu tubuh tinggi  Bila stimulus demam menurun. titik set demam kembali normal  Mendadak merasa panas dan keringat banyak .

interferon.Patogenese demam malaria  Kkwiatkowski =>toksin malaria  Bahan bahan yg dilepaskan oleh skizon yg pecah( lemak)  Bahan tersebut adalah Glicosil phosphatidyl inositol yg terikat pada protein membran parasit  Makrofag yg diaktifkan melepaskan interleukin . TNF .

chills muscle aches headache nausea vomiting cough. and diarrhea  jaundice .The symptoms of malaria :        flulike illness with fever.

or three days are typical.The symptoms of malaria : Cycles of chills. two. . fever. and sweating that repeat every one.

Gejala klinik malaria  Gambaran malaria karakteristik dengan demam periodik. anemia dan splenomegali  Berat ringan tergantung jenis plasmodium yang menginfeksi .

dapat menimbulkan sindroma nefrotik/ malaria . Vivax merupakan infeksi yg paling sering dan menyebabkan malaria tertiana/vivax (demam tiap hari 3)  P. banyak komplikasi ( demam tiap 24 – 48 jam)  P.malariae.falciparum/malaria tropika. jarang.Dikenal 4 jenis plasmodium  P.

memberikan infeksi yg ringan dan sering sembuh spontan.Dikenal 4 jenis plasmodium  P. menyebabkan malaria o vale . Indonesia dijumpai di Nusa tenggara dan irian. dijumpai didaerah Afrika dan pasifik barat. ovale.

kulit kering dan dingin. badan gemetar. Periode ini dapat berlangsung 15 – 60 menit diikuti meningkatnya suhu tubuh .Gejala umum Periode dingin: Menggigil. pucat. s ianosis.

suhu mencapai 40 ® C. kulit panas dan kering. respirasi meningkat. nyeri retro orbita . nadi cepat. sakit kepala.Gejala umum • Periode panas : Muka merah.

diikuti seluruh tubuh sampai basah  Temperatur turun  Cape dan sering tertidur  Bila bangun akan merasa sehat dan dapat bekerja .Periode berkeringat  Penderita berkeringan mulai dari temporal.

Anemia • • • • • • Sering dijumpai Pengerusakan eritrosit oleh parasit Hambatan eritropoeisis sementara Hemolisis Eritrofagositosis Penghambatan pengeluaran retikulosit .

oleh karena faktor imunitas  Sering terjadi hipoglikemi .Malaria pada kehamilan  Malaria endemik sangat berpengaruh pada kehamilan  Anemia pada ibu dan janin serta berat badan rendah  Malaria berat lebih sering pada wanita hamil trisemester II dan III.

malaria .oedem paru. anemia. alfa fetoprotein dan turunnya limfosit  Abortus  Penyulit pada persalinan (anemia dan splenomegali  BB bayi lahir rendah.Malaria pada kehamilan  Turunnya respon imun oleh karena peningkatan hormon steroid. gonadotropin. ggn fungsi ginjal.

serologi donor .Malaria karena transfusi darah Parasit hidup dalam donor darah 7 – 10 hari Cryopreserved sampai 2 tahun Pencegahan dengan deteksi donor dengan pemeriksaan tetes darah tebal.

srologis dan ditemukannya parasit  Klinis sering tak khas menyerupai penyakit lain( DHF. demam tifoid)  Infeksi parasit sering berkembang dengan cepat dan menimbulkan penyulit berat .Diagnosa malaria  Klinis.

Diagnosa malaria Mikroskopis malaria Diagnosa defenitif malaria Pemeriksaan serial Pengambilan sampel akhir periode demam menjelang berkeringat  Sampel yg cukup  Kualitas preparat yg baik  Identikasi spesies plasmodium     .

Diagnosa malaria  Semi quantitative buffy coat  Prinsip dasar : tes floresensi  Teknik pemeriksaan cepat  Tak dapat membedakan spesies plasmodium .

perubahan transmisi malaria.Diagnosa malaria  Pemeriksaan imunoserologis  Mendeteksi anti bodi dan antigen spesifik plasmodium  Kelemahan tak dapat memberi derajat parasitemia  Digunakan untuk endemisitas. menentukan fokus transmisi .

Pengobatan malaria  Terapi bila ditemukan plasmodium  Prinsip pengobatan pada malaria dengan atau tanpa komplikasi  WHO menetapkan dipakainya obat ACT( artemisini base combination therapy)  Efektif mengatasi plasmodium yg resisten .

Pengobatan malaria  Kombinasi obat dapat tetap atau kombinasi tak tetap  Kombinasi tetap memudahkan pemberian pengobatan  Contok kombinasi tetap “ CoArtem” yaitu kombinasi artemeter 20 mg + lumefantrine 120 mg.  Artekin : dihidroartemisinin 40 mg + piperakuin 320 mg .

Kombinasi ACT tak tetap Artesunat + mefloquin Artesuna + amodiaquin Artesuna + klorokuin Artesuna + sulfadoksin pirimetamin Artesuna + pyronaridine Artesuna+chlorproguanil dapsone Dihidroartemisinin + piperaquin+ trimethoprim(artecom) Artecom + primaquin Dihidroartemisinin + naphtoquine .

Pengobatan malaria non ACT  Dibeberapa daerah masih efektif  Klorokuin difosfat/sulfat 250 mg(150 mg basa)  Sulfadoksin pirimetamin 500 mg sulfadoksin dan 25 mg pirimetamin  Kina sulfat: 1 tab 250 mg  Primakuin : 1 tab 15 mg .