Laporan kasus

Tumor Hidung

Pembimbing : Dr. Dian Nurul Al
Amini,SpTHT
Disusun oleh :
Fathul Yasin (2008730067)

Identitas
Pasien
Nama
: Ny. S
Umur
: 29 tahun
Alamat
: Pulo jahe
Pekerjaan : Karyawati
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama
: Islam
Tgl. Datang poli : 24 Januari 2014
No. RM
: ...

Anamnesi
s
 Keluhan Utama
Mimisan sejak 2 bulan yang lalu
 Keluhan Tambahan
Pilek hilang timbul, hidung tersumbat.
 Riwayat Penyakit Sekarang
Mimisan paling banyak setengah tutup botol, seminggu
2x – 3x, kadang sakit kepala dan leher sebelum mimisan
sejak 2 bulan yang lalu. Pilek hilang timbul dan hidung
tersumbat sejak 2 bulan lalu. Bersin ketika bertemu debu.
Demam (-), nyeri didaerah wajah (-), trauma di wajah (-),
batuk(-), sakit kepala(-), pusing(-), gatal dihidung(-), nyeri
tenggorokan (-), napas berbau (-), nyeri saat menelan (-),
sakit gigi (-), gigi berlubang (-), tidur mendengkur (-),
keluar cairan dari telinga (-), gangguan pendengaran (-),
telinga berdenging (-), sesak napas (-).

Anamnesi
s
 Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan ini pertama kali dirasakan. Tidak ada
riwayat Hipertensi, Diabetes Melitus, Asma, ataupun
operasi
 Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan ini tidak di rasakan dalam keluarga
 Riwayat Pengobatan
Jika pilek beli obat di warung
 Riwayat Alergi
Alergi, makanan, cuaca, dan obat-obatan disangkal.
 Riwayat Psikososial
Punya kebiasaan ngorek-ngorek hidung. Riwayat
merokok dan minum alkohol disangkal

Pemeriksa
an Fisik
Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah
: Tidak diperiksa
Nadi
: Tidak diperiksa
Frekuensi Napas : Tidak diperiksa
Suhu
: Tidak diperiksa

Pemeriksa
an Fisik
Status Generalis
Kepala : Normochepal
Mata: Tidak diperiksa
Mulut : Bibir kering (-), sianosis (-), pucat (-)
Thorax : Tidak diperiksa
Abdomen : Tidak diperiksa
Ekstremitas : Tidak diperiksa
Kulit : Tidak diperiksa

Status Pemeriksaan Lokalis THT
Telinga

Kelainan

Bagian
Preaurikula

Kelainan kongenital
Radang
Tumor
Trauma
Nyeri tekan
Aurikula
Kelainan kongenital
Radang
Tumor
Trauma
Nyeri tarik
Retroaurikula Edema
Hiperemis
Nyeri tekan
Radang
Tumor
Sikatriks

Auris
Dextra

Sinistra

-

-

Canalis
Acustikus
Externa

Kelainan kongenital
Kulit
Sekret
Serumen
Edema
Jaringan granulasi
Massa
Cholesteatoma

Tenang
-

Tenang
-

Membrana
Timpani

Intak
Reflek cahaya
Perforasi
Gambar

+
+
-

+
+
-

Tes Penala
Tes Rhinne
Tes Weber
Tes Schwabach

Interpretasi pada Auris
Dextra
Sinistra
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Dextra
Dalam

Sinistra
Dalam

batas

batas

normal
Hiperemi

normal
Hiperemi

Mukosa

s

s

Sekret

+

+

Concha

Eutrof
Eutrof
Hiperemis
+

Pemeriksaan Hidung
Warna,
Keadaan
bentuk dan
Luar
ukuran

Rhinosko
pi

inferior
Septum

anterior

Hiperemi

Polip/tumor

s,

Pasase

Permuka

-

Bagian

Mulut

Tonsil

Faring

Laring

Kelainan
Mukosa mulut
Lidah
Palatum molle
Gigi geligi
Uvula
Halitosis

Keterangan
Lembab
Bersih
Tenang
Caries (-)
Simetris
-

Mukosa
Besar
Kripta
Detritus
Mukosa
Granula
Post nasal drip

Hiperemis (-)
T2-T3
Tidak melebar
-/Hiperemis (-)
-

Epiglotis
Glotis
Aritenoid
Pita suara

Hiperemis
Hiperemis
Hiperemis
Hiperemis

(-)
(-)
(-)
(-)

Pemeriksaan
Penunjang
 CT Scan Nasofaring potongan aksial dan koronal tanpa media
kontras dengan jarak irisan 5mm dan tebal irisan 2mm. Hasil
sbb :
1. Lesi soft tissue hipoechoic di cavum nasi dextra region inferoanterior, dengan diameter lesi 12 - 11 mm, os nasal dan
maksila tidak terlihat destruksi
2. Septum nasi tidak deviasi
3. Mukosa cavum nasi di region tidak menebal
4. Tak tampak pneumatisasi conchae bilateral
5. Processus uncinatus kanan dan kiri baik
6. Tak tampak sel haller
7. Osteo meatal complex kanan dan kiri terbuka
8. Sinus paranasal bilateral serasi normal
9. Adenoid tidak hipertrof
10.Rongga nasofaring simetris
 
Kesan : Massa soft tissue homogeny di infero-anterior cavum nasi
dextra Curiga polip aspek benign

Test

Hasil

Unit

Nilai
Rujukan

Hematolo
gi
Darah

13.7

mg/dl

12.5-15.5

Lengkap

 78

f

82-98

Hb

 26

pg

27-33

MCV

34

g/dl

31-37

MCH

5.2

10^6/ul

4.5-5.8

MCHC

41

%

37-47

Eritrosit

 12.9

10^3/ul

5.0-10.0

Hematokrit  418

10^3/ul

150-400

Leukosit

Mm

0-20

17

Test

Hasil

Unit

Nilai
Rujukan

Hitung
Jenis

0.3

%

0.0-1.0

Basofl

1.1

%

1.0-3.0

Eosinofl

58.1

%

37.0-72.0

Netrofl

33.4

%

20.0-40.0

Limfosit

7.1

%

2.0-8.0

s

3.00

Menit

1.00-3.00

Bleeding

6.00

Menit

3.00-6.00

Monosit
Hemostasi

Time

Pemeriksaan
Patologi Anatomi
 Makroskopik
: Jaringan ukuran 1,5x1x0,5cm
warna coklat
 Mikroskopik : Sediaan berasal dari kavum nasi
menunjukkan jaringan ikat sembab berbentuk
polipoid mengandung pembuluh-pembuluh darah
yang sebagian terbentuk seperti tanduk rusa.
Stroma berserbukan ringan. Sel radang menahun.
 Kesimpulan : Gambaran histologik mengarah pada
angiofbroma. Tidak tampak tanda ganas

Resu
me
Anamnesis
Ny. S mimisan sejak 2 bulan yang lalu. Mimisan paling
banyak setengah tutup botol, seminggu 2x – 3x, kadang
sakit kepala dan leher sebelum mimisan sejak 2 bulan yang
lalu. Pilek hilang timbul dan hidung tersumbat sejak 2 bulan
lalu. Bersin ketika bertemu debu. Punya kebiasaan ngorekngorek hidung.
Pemeriksaan Fisik
Rinoskopi anterior : Mucosa : Livid. Septum : Hiperemis.
Polip/Tumor dextra, hiperemis, dan permukaan licin.
Pemeriksaan Penunjang
CT Scan : Ditemukan Lesi soft tissue hipoechoic di cavum
nasi dextra region infero-anterior
Pemeriksaan Lab : MCV  78 f, MCH  26 pg, Leukosit  12.9
10^3/ul, Trombosit  418 10^3/ul
Pemeriksaan Patologi Anatomi : Gambaran histologik
mengarah pada angiofbroma.

DIAGNOSIS
Angiofbroma dekstra
 
PENATALAKSANAAN
Non-medikamentosa
1. Edukasi ke pasien, untuk menggunakan
masker saat bekerja ataupun saat bepergian.
2. Jika menggunakan AC atau kipas angin jangan
langsung mengenai wajah pasien.
 Medikamentosa
3. Dekongestan : Efedrin 1% (lokal),
atau
Pseudoefedrin 3x60mg
4. Prednisolon oral 2 sampai 3 mg/kgBB/hari
selama 4 sampai 6 minggu

PROGNOSIS
Quo ad vitam
: ad bonam
Quo ad fungsionam
: ad bonam
Quo ad sanactionam
: ad bonam

Tinjauan Pustaka

Hidun
g
Luar

Tulan
g
Persar
afan

• Merupakan celah pada
dinding lateral hidung
• Unit fungsional
yang
merupakan
tempat
ventilasi dan drainase dari
sinus-sinus yang letaknya
di anterior (sinus maksila,
etmoid
anterior
dan
frontal)
• Unit
penting
yang
membentuknya
adalah
prosesus
unsinatus,
infundibulum
etmoid,
hiatus semilunaris, bula
etmoid, agger nasi, dan
resesus frontal

Rong
ga
Hidun
g
Sinus

M

Meatu
s
KOM

A

k

V

Vaskula
risasi

Frontal
sinus
sfenoid
sinus

Terdapat 4 buah dinding:
Ethmoid
sinus

Medial  septum nasi

Maxila sinus

Lateral  konka nasi
Frontal
Inferior
 Os. Maksilaris +
sinus
Os. Palatum
Ethmoid
sinus

Superior  Lamina
Kribriformis (anterior) + Os.
sfenoid
Nares sinus Sfenoid (posterior)
Maxila sinus

anterior

Sebagai
saluran
Pengatur
pernapasan.
Penyaring dan
Kondisi
suhu
&
debu,
Udara masuk melalui
1.Fungsi Partikel
Pelindung
 Fungsi udara
Respirasi virus, dan bakteri,
Penghidu
nares anterior
 naik
dan jamur yang
 ke
Adanya
mukosa
atas
terhirup bersama
• Refleks setinggi
Nasal
Mengatur pada atap
Resonansi
olfaktorius
udara reseptor akan
konka
media

turun

Mukosa
hidung
merupakan
kelembaban
udara
5.Refleks
2.Fungsi
disaring
oleh 1)
Suara
rongga
hidung,
refeks
yang
berhubungan
dengan
ke
bawah
ke
arah

palut
lendir
nasal
Penghidu
Rambut
(vibrissae)
saluran
cerna,
kardiovaskuler,
dan
(mucous
blanket).
konka superior dan
nasofaring.
pada
vestibulum
pernapasan.
nasi,
2) Silia 3)
1/3 • bagian
atas
Iritasi
mukosa
hidung
akan
menyebabkan
Mengatur suhu:
Palut
lendir
septum.
refeks
bersin
dan
napas
berhenti.
Banyaknya
melekat pada palut
pembuluh
darah
 Partikel bau dapat
lendir
Proses
di bawah epitel
4.Fungsi
mencapai
daerah
ini
3.Fungsi
Adanya
Statik
&
Bicara
Fonetik
permukaan
konka
mekanik
Partikel-partikel
dengan
cara
difusi
- Septumpalut
yang luas.
yang
besar
dengan
lendir
dikeluarkan
dgn
atau bila menarik
refeks bersin.

• Resonansi oleh hidung penting
untuk kualitas suara ketika
berbicara dan menyanyi.

Fisiol
ogi

1
1
2
3
5

• Hidung
membantu
proses
pembetukan kata-kata.
• Kata dibentuk oleh lidah, bibir,
dan palatum mole.
• Pada pembentukan konsonan
nasal (m,n, ng) rongga mulut
tertutup dan hidung terbua,
palatum mole turun untuk
aliran udara.

Tumor Hidung

Defnisi
Tumor hidung dan sinus paranasal adalah tumor ganas
yang dimulai dari dalam rongga hidung atau sinus
paranasal disekitar hidung

Etiologi dan
Epidemiologi
Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui,
tetapi diduga beberapa zat kimia atau bahan industry
merupakan penyebab antara lain nikel, debu, kayu,
kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropil
Insiden tertinggi keganasan sinonasal ditemukan di
Jepang, yaitu 2 sampai 3,6 per 100.000 penduduk
pertahun.
Di
Department
THT
FKUI
RS
Cipto
Mangunkusumo, keganasan ini ditemukan pada 10-15%
dari seluruh tumor ganas THT. Laki-laki ditemukan lebih
banyak dengan rasio laki-laki banding wanita sebesar 2:1.

Gejala
klinik
Tergantung dari perluasan tumor, gejala dapat dikategorikan
sebagai berikut:
 Gejala nasal. Gejala nasal berupa obstruksi hidung
unilateral dan rinorea. Sekretnya sering bercampur darah
atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak
tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada
tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung jaringan
nekrotik.
 Gejala orbital. Perluasan tumor kearah orbita menimbulkan
gejala diplopia, proptosis atau penonjolan bola mata,
oftalmoplegia, gangguan visus dan epifora.
 Gejala oral. Perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan
penonjolan di palatum atau di prosesus alveolaris. Pasien
mengeluh gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi geligi goyah.
Seringkali pasien datang ke dokter gigi karena nyeri di gigi,
tetapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut.

Gejala
klinik
 Gejala fasial. Perluasan tumor ke depan akan
menyebabkan penonjolan pipi, disertai nyeri,
anesthesia, atau parasetesia muka jika mengenai n.
trigeminus.
 Gejala intrakranial. Perluasan tumor ke intracranial
menyebabkan sakit kepala hebat, oftalmoplegia, dan
gangguan visus. Dapat disertai likuorea, yaitu cairan
otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan
sampai ke fossa kranii media, maka saraf-saraf
kranial lainnya juga terkena. Jika tumor meluas ke
belakang, terjadi trismus akibat terkenanya muskulus
pterigoideus disertai anesthesia dan parestesi daerah
yang dipersaraf n. maksilaris dan mandibularis.

Diagnosis
Inspeksi
Saat memeriksa pasien, pertama-tama perhatikan
wajah pasien apakah ada asimetri atau distrosi. Jika ada
proptosis, perhatikan arah pendorongan bola mata. Jika
mata terdorong ke atas berarti tumor berasal dari sinus
maksila, jika ke bawah dan lateral berarti tumor berasal
dari sinus frontal atau etmoid.

Rhinoskopi anterior
Deskripsi
massa
sebaik
mungkin,
apakah
permukaannya licin, merupakan pertanda tumor
jinak, atau permukaan berbenjol-benjol, rapuh, dan
mudah berdarah, merupakan pertanda tumor ganas.

Pemeriksaan
Penunjang
 Foto polos sinus paranasal kurang berfungsi dalam
mendiagnosis. Tetapi foto polos tetap berfungsi sebagai
diagnosis awal, terutama jika ada erosi tulang dan
perselubungan padat unilateral, harus dicurigai keganasan,
 CT scan merupakan sarana terbaik karena lebih jelas
memperlihatkan perluasan tumor dan destruksi tulang.
 MRI atau Magnetic Resonance Imaging dapat membedakan
jaringan tumor dari jaringan normal tetapi kurang begitu
baik dalam memperlihatkan destruksi tulang.
 Foto polos paru diperlukan untuk melihat adanya metastase
tumor di paru.

Penatalak
sanaan
 Pembedahan atau lebih sering bersama dengan
modalitas terapi lainnya seperti radiasi dan
kemoterapi sebagai ajuvan sampai saat ini masih
merupakan pengobatan utama untuk keganasan di
hidung dan sinus paranasal.
 Pada tumor jinak dilakukan ekstirpasi tumor sebersih
mungkin. Bila perlu dilakukan dengan cara pendekatan
rinotomi lateral atau degloving (peningkapan).
 Untuk tumor ganas, tindakan operasi harus seradikal
mungkin. Biasanya dilakukan maksilektomi medial, total
atau radikal

Hemangioma

Defni
si
 Haemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah,
yang berasal dari kulit, mukosa dan struktur dalam
seperti tulang, otot dan kelenjar.
 Terdiri dari dua jenis utama, kapiler dan kavernosa.
Ketika neoplasma ini jarang muncul dalam rongga
hidung, mereka sebagian besar adalah tipe kapiler
dan ditemukan melekat pada septum hidung.
Haemangiomas tipe kavernosa, lebih mungkin
ditemukan pada dinding lateral rongga hidung

Etiolo
gi
Etiologi hemangioma belum diketahui pasti, namun hal
dibawah ini mempengaruhi terjadinya hemangioma adalah :
1. Proliferasi pembuluh darah lokal dan
2. Peningkatan tekanan hidrostatik yang disebabkan oleh
stimulasi lokal berulang.
. Ini biasanya terjadi pada septum hidung anterior di
Pleksus Kiesselbach karena daerah ini memiliki distribusi
pembuluh darah yang banyak dan sebagian besar
terkena trauma berulang.

Patofsi
ologi

Fase
proflasi

 Pertumbuhan hemangioma terdiri dari sel lemak dan laju
pemisahan yang cepat dari sel endotel dan sel perisit
sehingga membentuk kanal sinusodial yang padat.
 Pada tahap awal, sel-sel endotel mengekspresikan marker
fenotip dari kematangan dan molekul adhesi sel spesifk
dan regulasi angiogenesis didokumentasikan oleh ekspresi
dari proses proliferasi antigen sel nuklear, dimediasi dan
dibagi oleh dua peptida angiogenik, vascular endothelial
growth factor (VEGF) dan basic fibroblast growth factor
(bFGF).

Patofsi
ologi

Fase
involuntin
g

 Regresi ini ditandai dengan semakin berkurangnya
aktivitas endotel dan pembesaran luminal.
 Terdapat deposisi progresif dari perivaskular dan
jaringan fbrosa interlocular/interlobular, masuknya
sebuah sel stroma (termasuk sel mast, fbroblas,
dan makrofag), dan munculnya inhibitor jaringan
metalloproteinase (TIMP)-1,
 Meskipun sel mast muncul dalam fase proliferasi
akhir, mereka lebih jelas terlihat selama fase
involusi, berinteraksi dengan makrofag, fbroblas,
dan jenis sel lainnya.

Diagno
sis
 Gejala mungkin termasuk perdarahan hidung
unilateral dan sumbatan hidung bertahap selama
periode enam bulan.
 Dengan rhinoskopi anterior dapat terlihat ukuran
hemangioma yang terbatas pada rongga hidung
dalam berkisar beberapa mm sampai lebih dari 2 cm.
 Dengan melakukan CT, ukuran tumor dan ada atau
tidaknya metastasis kedaerah sekitar dapat terlihat.
 Angiograf, sangat membantu dalam membedakan
hemangioma dari angiofbroma nasofaring dalam
kasus-kasus metastasis kedaerah sekitar.

Penatalaks
anaan
1. Pengobatan dengan antibiotik topikal setiap hari atau balutan
hidrokoloid.
2. Lidokain kental (2,5%) membantu untuk mengontrol rasa sakit.
3. Apabila lesi masih berukuran kecil, eksisi bedah sangat
dianjurkan.
4. Pengobatan lini pertama untuk hemangioma adalah terapi
kortikosteroid dapat diberikan per oral maupan intralesi, yang
sangat efektif (tingkat respon mencapai 85%). Prednisolon oral 2
sampai 3 mg/kgBB/hari selama 4 sampai 6 minggu.
5. Rekombinan interferon (IFN) α-2α atau 2b adalah sebuah agen
lini kedua untuk hemangioma yang membahayakan dan
mengancam jiwa. Indikasi penggunaannya adalah (a) kegagalan
untuk merespon kortikosteroid, (b) kontraindikasi kortikosteroid
parenteral yang berkepanjangan, (d) penolakan orang tua
terhadap terapi kortikosteroid. Kortikosteroid dan IFN tidak boleh
dipakai bersamaan dalam dosis terapi. Dosis empiris adalah 2
sampai 3 Mu/m2, disuntikkan subkutan setiap hari

Kompli
kasi
1. Sekitar 10% dari hemangioma menimbulkan komplikasi
seperti ulserasi/kerusakan besar, distorsi jaringan yang
terlibat, dan obstruksi dari struktur vital.
2. Ulserasi spontan kulit yang terlibat dapat meluas ke
jaringan yang lebih dalam, menyebabkan hilangnya
sebagian struktur, seperti hidung, kelopak mata, bibir,
atau daun telinga.
3. Mungkin 1% dari semua hemangioma menyebabkan
komplikasi yang mengancam jiwa, seperti pengalihan
aliran darah yang cukup untuk menghasilkan gagal
jantung.

Progn
osis
 Pada umumnya, prognosis kurang baik. Banyak sekali
faktor yang mempengaruhi prognosis keganasan hidung
dan sinus paranasal, cara tepat dan akurat.
 Faktor-faktor tersebut seperti, perbedaan diagnosis
histologi,
asal
tumor
primer,
perluasan
tumor,
pengobatan
yang
diberikan
sebelumnya,
status
imunologi, terapi ajuvan yang diberikan, status batas
sayatan, lamanya follow up, dan banyak lagi faktor
lainnya yang dapat berpengaruh terhadap agresiftas
penyakit
dan
hasil
pengobatan
yang
tentunya
berpengaruh terhadap prognosis penyakit ini.
 Walaupun demikian, pengobatan yang agresif secara
multimodalitas akan memberikan hasil yang terbaik
dalam mengontrol tumor primer dan akan meningkatkan
angka bertahan hidup selama 5 tahun sebesar 75% untuk
seluruh stadium tumor.

Polip Nasi

Defni
si
 Polip nasi adalah massa lunak yang mengandung
banyak cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih
keabu-abuan, yang terjadi akibat inlamasi mukosa.

Etiolo
gi
 Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi adalah rinitis alergi
atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang
mengemukakan teori dan para ahli sampai saat ini menyatakan
bahwa etiologi polip nasi belum di ketahui dengan pasti

Epidemi
ologi


Dalam populasi umum, prevalensi polip nasi sekitar 4%.
Terutama mempengaruhi orang dewasa dan biasanya hadir
pada pasien yang lebih tua dari 20 tahun.
Di sebuah rumah sakit distrik Nigeria, dilaporkan bahwa
tingkat presentasi maksimum berusia antara 31 dan 40
tahun.
Di Perancis, kejadian diperkirakan meningkat dengan usia,
mencapai puncaknya pada kelompok usia 50 sampai 59
tahun.
Polip nasi jarang pada anak di bawah 10 dan mungkin
terdapat cystic fbrosis. Dengan rasio polip nasi 2:1 pada
laki-laki dibanding perempuan

Patofsi
ologi
 Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan infamasi
kronik, disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetic.
 Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan mukosa
hidung terjadi akibat peradangan atau aliran udara yang
berturbulensi, terutama di daerah sempit di kompleks
osteomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh
reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi
peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel
epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip
 Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf
vasomotor terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan
gangguan regulasi vaskular yang berakibat dilepasnya
sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan
edema dan lama-kelamaan menyebabkan polip.

Diagno
sis

Anamn
esis

Keluhan utama penderita polip nasi adalah
Hidung rasa tersumbat dari yang ringan sampai berat,
Rinore dari yang jernih sampai yang purulen,
hiposmia atau anosmia.
Mungkin disertai bersin-bersin,
Rasa nyeri pada hidung disertai nyeri kepala didaerah
frontal.
6. Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapati post
nasal drip dan rinore purulen.
. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah
1. Bernafas melalui mulut,
2. Suara sengau,
3. Halitosis,
4. Gangguan tidur, dan
5. Penurunan kualitas hidup.

1.
2.
3.
4.
5.

Diagno
sis

Pemerikssa
an fsik

 Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas
hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena
pelebaran batang hidung.
 Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat sebagai
masssa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus
medius dan mudah digerakkan.
 Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund
(1997),
 Stadium 1 : Polip masih terbatas dimeatus medius.
 Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus medius,
tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi
rongga hidung.
 Stadium 3 : polip yang masif

Diagno
sis

Nasoendoskopi

 Adanya fasilitas endoskopi akan sangat membantu
diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 1 dan 2
kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan
rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan
naso-endoskopi.
 Pada kasus polip koanal juga dapat sering dilihat
tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus
maksila.

Diagno
sis

Pemeriksaan
Radiologi

 Foto sinus paranasal (posisi waters, AP, dan lateral)
dapat memperlihatkan penebalas mukosa dan adanya
batas udara-cairan dalam sinus, tetapi kurang
bermanfaat pada kasus polip.
 Pemeriksaan tomograf komputer (Tk, CT scan) sangat
bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di
hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang,
kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks
osteomeatal. Tk teruatama diindikasikan pada kasus
polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa,
jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan
tindakan bedah terutama bedah endoskopi.

Penatalak
sanaan
 Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah
menghilangkan keluhan-keluhan, mencegah komplikasi
dan mencegah rekurensi polip.
 Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi
disebut polipektomi medikamentosa. Dapat diberikan
topikal atau sistemik.
 Kasus polip yang tidak membaik dengan terapu
medikamentosa atau polip masif disarankan untuk terapi
bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi)
menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesi
lokal, etmodektomi intranasal atau etmoidektomi
ekstranasal untuk polip etmoid. Yang terbaik ialah bila
tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan
tindakan BSEF (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional)

Komplika
si
Komplikasi parah jarang terjadi. Komplikasi meliputi:
1. Akut sinusitis bakteri - dengan potensi komplikasi
infeksi
intrakranial
(misalnya
meningitis);.
Trombosis sinus kavernosus, komplikasi orbital
(periorbital dan selulitis orbital, abses orbital), dan
abses subperiosteal.
2. Gangguan Tidur .
3. Dapat berkontribusi untuk gejala asma.
4. Jarang, polip besar (seperti yang terjadi di cystic
fbrosis atau dengan sinusitis jamur alergi) dapat
menyebabkan kelainan struktur kraniofasial
dengan
hasil
proptosis,
hypertelorism
(peningkatan jarak interorbital) dan diplopia.

Prognosis

Tidak ada pengobatan kuratif tunggal dan kekambuhan
adalah hal umum, termasuk setelah operasi

Angiofbroma

Defnisi dan
Epidemilogi
 Angiofbroma merupakan tumor yang bersifat jinak
secara histopatologis tetapi secara klinis bersifat
destruktif.
 Angiofbroma berasal terutama di nasofaring dan
terbatas pada laki-laki remaja atau anak usia dini.
Sedangkan angiofbroma dari rongga hidung sangat
langka dan telah dilaporkan terjadi pada septum, konka
inferior, medial, dan superior. Pada septum hidung
adalah yang sangat langka dengan hanya 5 kasus yang
dilaporkan dalam literature inggris. Rasio perempuan
dan laki-laki adalah 2:1 dengan usia berkisar 8-50 tahun.

Etiologi

Penyebab dari angiofbroma belum dapat diketahui
secara pasti. Beberapa teori telah diajukan oleh
para ahli untuk mendapatkan jawaban yang pasti.
Pada dasarnya teori-teori tersebut dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu teori jaringan asal
dan teori ketidakseimbangan hormonal.

Patofsi
ologi

Teori
jaringan
asal

Pada teori jaringan asal, dinyatakan bahwa angiofbroma
nasofaring terjadi karena pertumbuhan abnormal
jaringan fbrokartilago embrional atau periosteum di
daerah oksipitalis os sfenoidalis. Diperkirakan bahwa
kartilago atau periosteum tersebut merupakan matriks
dari angiofbroma. Pada akhirnya didapatkan gambaran
lapisan sel epitelial yang mendasari ruang vaskular pada
fasia basalis dan dikemukakan bahwa angiofbroma
berasal dari jaringan tersebut. Sehingga dikatakan
bahwa tempat perlekatan spesifk angiofbroma adalah
di dinding posterolateral atap rongga hidung

Patofsi
ologi

Teori
ketidakseimban
gan hormonal

Teori ketidakseimbangan hormonal menyatakan bahwa
terjadinya angiofbroma diduga karena adanya perubahan
aktivitas pituitari. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan
hormonal yaitu adanya kekurangan hormon androgen dan
atau kelebihan hormon estrogen. Teori ini didasarkan adanya
hubungan erat antara tumor dengan jenis kelamin dan usia
penderita serta adanya hambatan pertumbuhan pada
semua penderita angiofbroma. Diduga tumor berasal dari
periosteum nasofaring dikarenakan tidak adanya kesamaan
pertumbuhan pembentukkan tulang dasar tengkorak
menyebabkan terjadinya hipertropi di bawah periosteum
sebagai reaksi terhadap hormonal

Diagnos
is
Diagnosis
angiofbroma
nasofaring
ditegakkan
berdasarkan
anamnesis,
pemeriksaan
fsik,
dan
pemeriksaan radiologis. Diagnosis pasti ditegakkan
berdasarkan pemeriksaan histopatologis jaringan tumor
pasca operasi. Tindakan biopsi sebaiknya dihindari atau
dilakukan dalam kamar operasi dengan peralatan operasi
yang telah dipersiapkan, mengingat bahaya perdarahan
yang biasanya sukar dikontrol.

Diagnos
is
Anamnesis
Gejala klinis yang tampak pada penderita angiofbroma
sangat bervariasi tergantung dari lokasi tumor serta
perluasannya.
1. Pada permulaan penyakit gejala yang paling sering
ditemukan (> 80%) adalah hidung tersumbat yang
progresif dilanjutkan dengan adanya epistaksis masif yang
berulang.
2. Adanya
obstruksi
hidung
memudahkan
terjadinya
penimbunan sekret, sehingga timbul rinorea kronis yang
diikuti oleh gangguan penciuman.
3. Sefalgia hebat yang menunjukkan bahwa tumor sudah
meluas ke intrakranial,

Diagnos
is
Anamnesis
Gejala klinis yang tampak pada penderita angiofbroma
sangat bervariasi tergantung dari lokasi tumor serta
perluasannya.
1. Pada permulaan penyakit gejala yang paling sering
ditemukan (> 80%) adalah hidung tersumbat yang
progresif dilanjutkan dengan adanya epistaksis masif yang
berulang.
2. Adanya
obstruksi
hidung
memudahkan
terjadinya
penimbunan sekret, sehingga timbul rinorea kronis yang
diikuti oleh gangguan penciuman.
3. Sefalgia hebat yang menunjukkan bahwa tumor sudah
meluas ke intrakranial,

Diagnos
is
Pemeriksaan fsik
Pada pemeriksaan fsik secara rinoskopi akan
terlihat massa tumor yang konsistensinya
kenyal, warnanya bervariasi dari abu-abu
sampai merah muda, dengan konsistensi
kenyal dan permukaan licin.

Diagnos
is
Pemeriksaan Penunjang
1. Pada CT scan dengan zat kontras akan
tampak secara tepat perluasan massa
tumor serta destruksi tulang ke jaringan
sekitarnya
2. Pemeriksaan magnetic resonansi imaging
(MRI) dilakukan untuk batas tumor
terutama yang telah meluas ke intrakranial
3. Pemeriksaan
angiograf
(arteriograf)
bertujuan
melihat
pembuluh
darah
pemasok utama (feeding vessel) untuk
tumor serta mengevaluasi besar dan
perluasan
tumor.
Pada
pemeriksaan

Penatalak
sanaan
Pengobatan angiofbroma adalah bedah
reseksi. Pendekatan bedah ditentukan oleh
ukuran, lokasi dan suplai darah tumor.
berbeda inovasi telah dijelaskan untuk eksisi
lengkap mulai dari pendekatan endoskopi
untuk alotomy dan sebelah lateral rhinotomy
untuk eksposur yang lebih baik. Kelangkaan
angiofbroma septal dan kurangnya sistem
pementasan
membuat
sulit
untuk
menetapkan pedoman standar untuk terapi.
 

Komplik
asi
Komplikasi meliputi: perdarahan yang banyak
(excessive bleeding). Transformasi keganasan
(malignant transformation).
Progno
sis
Prognosis angiofbroma
pada penderita
dimana angka kekambuhan setelah terapi
dilaporkan bervariasi antara 6 % hingga
57%.Salah satu penelitian menyebutkan
angka rekuren 2,5% dari 19-40 penderita
yang dirawat, dan satu dari penderita yang
ada mengalami kekambuhan sampai 12 kali.

Terima kasih

Pembimbing : Dr. Dian Nurul Al
Amini,SpTHT
Disusun oleh :
Fathul Yasin (2008730067)